Semua tulisan dari specialshin

Tika, 95liner. Lee Sungmin's not-so-aegyo future wife with overloaded and sometimes useless imagination so i need some media like ms word and wordpress to share it ^^ cho kyuhyun is my great rival though, but unbeliveablely, i'm a KYUMIN's hard die shipper.

[RATW Sungji After Story] On the Edge of Happiness

Miami, Florida. Southeastern America.

Seorang gadis sedang duduk dengan tenang memainkan pianonya. Wajah santai dan relaksnya membuat sekilas ia terlihat sedang bermain dengan pianonya di ruang tamu rumah. Tetapi kenyataannya ia berada di stadion besar dengan mata ribuan penonton terpancang padanya.

Ia menyelesaikan Piano Concertonya dengan mulus, berdiri dari kursinya dan memberikan hormat dengan membungkuk 90 derajat. Tepuk tangan riuh menyambutnya seketika dan masih terus berlanjut saat ia berjalan kembali ke balik panggung.

Dua orang dengan walkie talkie langsung mengapit Yoonji di kanan dan kiri. “Nice piece, miss,” komentar pria pertama membuat Yoonji mengangguk. “Thanks,” jawabnya singkat. “Mr. Lee wants us to bring you to him,” lapornya lagi.

Well… isn’t he busy?” tanya Yoonji mengerucutkan bibirnya. Mereka baru pindah ke Florida bulan lalu dan Sungmin hari ini memasuki kantor FBI untuk pertama kalinya. Pastilah banyak kerjaan yang harus ia lakukan tetapi ia masih sempat datang dan menonton pertunjukan pianonya.

Agent itu menggeleng. “No. He’s got two months off because of the injury,” ujarnya dan Yoonji mengangguk paham. Sungmin memiliki luka di dadanya dan ia mendapatkan kompensasi untuk itu. Lanjutkan membaca [RATW Sungji After Story] On the Edge of Happiness

[TEASER] Roses Along the War FINAL

                                                                    

Hara mengernyitkan dahinya membaca itu, dan menoleh pada Donghae yang sepertinya sudah paham maksudnya. “Dan… tujuan dari teka teki ini?” ujar Hara lambat lambat.

Donghae menghembuskan nafasnya pasrah. “Bukankah jelas? Salah satu dari kita harus meminum racun itu dan yang lainnya akan masuk dalam ruangan selanjutnya,”

Mendengar nama Shin Yoonji membuat senyum merekah di bibir pria cantik itu.Terlihat guratan sinis dibibir Heechul. “Aset… benar benar aset… kita akan pergunakan dia. dapatkan kembali uang yang sekarang ditahan Crazioneer,” jawabnya menautkan jemari rampingnya.

“Tapi Lee Sungmin… sangat melindunginya Heenim,” ujar Henry hati hati. Membawa kabar buruk pada Kim Heechul memang pilihan yang kurang baik.

Heechul mengibaskan tangannya tidak mau tahu.”Setidaknya masih ada kemungkinan untuk menjatuhkannya. Kalau kita berhasil membawanya, Lee Sungmin, Lee Donghae dan Cho Hara pasti terlibat. Tiga dalam sekali tangkap, bukan?” ujarnya membuat Henry mengangguk perlahan

“Dan kalau kita beruntung… kita dapatkan Hackernya juga,”

Mereka masih saling berhadapan dengan tatapan sinis. Sungmin menancapkan matanya tepat ke manik mata Henry dan pria itu menatapnya balik menantang.

“Jadi permainannya kira kira seperti ini. Seperti yang kau lihat, kita sama sama memiliki satu semi-otomatis. Posisi adil. Tipenya sama. Kita akan bertanding satu lawan satu, dan hanya ada satu pemenangnya,”

………“Satu satunya cara agar kau bisa menyelamatkan dia hanyalah….. kau harus keluar hidup hidup dari pertarungan ini. Dan aku yang mati,” ujar Henry sinis.

So… This is the end of the long journey. Keep your eyes starring, guys. And wish me luck~ warm Kisses -Specialshin

Stop The Falling Rain

disclaimer : also published on my blog, specialshin.wordpress.com

 

“You will always have a special place in my heart….”

Sunghee POV

This is legato. You have to play it smoothly,” kataku lembut pada muridku yang sedang memainkan tuts tuts di hadapannya dengan lincah. Jari jarinya menari bebas diatas black and white buttons itu. Menari. Dance. Kata itu selalu mengingatkanku pada sesuatu.

Alice-begitu aku memanggilnya- menyelesaikan permainan dengan memuaskan, menurutku. Alicia Ventresca adalah murid pianoku. Aku mengajar di salah satu sekolah seni di San Diego. Negara ini berbatasan dengan Mexico. Tidak heran Alice adalah seorang gadis berdarah campuran Mexican-American. Umurnya baru menginjak 8 tahun tetapi dia adalah anak kecil tercerdas yang pernah kutemui.

Aku tersenyum dan mengelus rambut emasnya. “You played it perfect sweetie. I don’t think there’s anyone better than you,” kataku memuji membuatnya tersenyum senang,

Aku mengambil tasku, dan mengeluarkan sebatang lolipop yang biasa ku berikan padanya bila berhasil melancarkan suatu lagu dalam waktu kurang dari dua minggu. Alice senang menerimanya. “Thaaanks Autumn,” katanya memanggilku dengan nama inggrisku. Mengapa aku memilih Autumn sebagai nama Englishku? Ada sejarah sendiri untuk itu.

Aku hanya tersenyum, lagi lagi. “You deserve it, for sure.” Kataku membuatnya tersenyum kegirangan. Senyum yang selalu kulihat pada diri seseorang yang seharusnya sudah kulupakan. Senyumnya yang seperti ini kerap kali membuatku teringat padanya.

Aku hendak mengancingkan kembali tasku ketika sebuah benda jatuh menghempas lantai dengan suara kecil. Ah benda itu. Tiba tiba muncul di depan pintu rumahku dan memporak porandakan sebagian dari akal sehatku.

Alice menunduk dan mengambilnya. “Wedding? Hey… this is your  dancer, right?” kata Alice. Gadis hebat. Betapa ia berbicara kepadaku seolah olah dia adalah gadis di usia awal 20. Siapa yang menyangka gadis cerewet ini hanyalah berusia delapan tahun?

So… he is getting married in three days?” katanya lagi. Membuatku menelan ludahku. Aku menunjukkan senyum termanisku kepadanya. “I guess…. He is,”jawabku tercekat enggan mengumbar kelemahanku di depan gadis cilik ini.

“Lee Hyukjae… Noh Eyoung?” lafalnya aneh. Ya, gadis ini memang lucu bila melafalkan nama korea. “You are so funny when you said that,” kataku tersenyum memainkan poninya. “Yeah that’s why I never call you with your real name, Autumn,” jawabnya cerdas, dan wajahnya seperti mengingat ingat sesuatu. “Lee… Sunghee?” katanya membuatku tertawa lagi.

 

“Pelafalanmu salah. Seharusnya itu terdengar seperti  ‘song-hi’” koreksiku. Ia hanya menggeleng menyerah. “Autumn is better,” katanya dan aku tertawa lagi.

Alice memandang lagi foto di tangannya dengan serius seakan akan memikirkan sesuatu yang sangat jauh, lebih jauh dari yang bisa kujangkau. “Do you think he is happy?” tanyanya. Aku hanya tersenyum kecil. “He is… I guess,” jawabku lagi lagi tidak yakin.

Lanjutkan membaca Stop The Falling Rain