The WachteR

William

Chapter 2: Sang Pemegang Kunci

Suara lolongan anjing menggema di seluruh ruangan. Tidak ada yang bergerak sesaat. Aku sendiri membeku dalam keterkejutanku. Beberapa jam yang lalu aku masih melihatnya sebagai lelaki menarik yang selalu bosan dan muram, sekarang sosok yang di depanku berbeda. Aku mulai menganggapnya maniak gila. Tidak ada yang bisa keluar dari mulutku, dia sendiri hanya diam dengan satu tangan dimasukkan jinsnya dan satu tangan menggaruk dagunya. Anjing Terrier yang kutemukan meringkuk ketakutan di balik punggungku.

“ Claire…Claire kau dimana?” Dad…itu suara Dad. Langkah kaki Dad saat menaiki tangga menimbulkan suara berdebam- debam. Aku bangkit dan hendak berlari tapi William secara refleks menarik pergelangan tanganku, mengucapkan sesuatu yang aku tidak tahu artinya. Aku merasakan seperti ada di jet coaster berkecepatan tinggi, perutku seperti ditinju begitu keras hingga membuat mataku berkunang- kunang.

“ Tidur di kasurmu sekarang. Ayahmu akan segera datang.” Dia mendorong tubuhku ke atas kasur dengan begitu lembut. Aku memejamkan mata tepat saat Dad membuka pintu.

“ Sudah tidur rupanya.” Begitu bergumam seperti itu, Dad menutup pintu dan berlalu.

Aku membuka mata dan William sudah berbaring di sebelahku. Dia mengedip nakal.

“ Hanya memastikan kau tidak bermimpi buruk .”

Aku mendorong tubuhnya dan melompat turun dari kasur.

“ Siapa kau? A..apa yang kau lakukan padaku. Tadi kita ada di ruang aneh yang gelap dan sekarang kita ada di kamarku dalam waktu singkat. “ Aku merapat ke dinding, dan menemukan lampu belajarku. Kugunakan sebagai senjata dengan mengacungkannya.

“ Oh itu..itu hanya teleportasi. Jangan bersikap tidak sopan jika kau ingin tahu siapa aku. Itu bukan tata krama yang baik.”

“ Jangan mengkuliahiku soal tata krama. Kau hanya orang aneh yang melakukan hal aneh!!” Aku menggeram, menahan suaraku agar tidak keluar menjadi teriakkan. Dad bisa langsung lari kesini jika mendengar teriakkanku.

“ Tunggu sebentar. Ficenditium.” Dia menjentikkan jarinya. Anjing Terrier tadi tiba- tiba muncul sambil menggaruk telinganya.

“ Morphorilio.” Tubuh anjing itu terangkat sekitar 30 cm dari atas tanah. Kilat cahaya hijau berpendar dari tubuhnya. Sekarang aku tidak bisa menahan jeritanku. Aku terpekik kaget saat mahkluk aneh berhidung bengkok muncul alih- alih anjing terrier tadi.

“ Oh…”

Mahkluk itu bertubuh pendek dengan telinga lebar, di salah satunya ada tindik yang tadinya kukenali milik anjing itu. Dia mengenakan jas yang tidak muat dengan perutnya. Dia terlihat begitu bingung dan saat melihat William, dia bersimpuh sambil berlinangan airmata.

“ M….master…Kreacher benar- benar minta maaf. Ini..ini kesalahan.” Dia merayap kearah William, memegangi kakinya. William melepaskannya dengan rasa jijik.

“ Karena itu kau mencoba melarikan diri dariku.”

Mahkluk berhidung bengkok yang kurasa bernama Kreacher itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Membenturkan kepalanya berulang kali.

“ T…tidak master. Kreacher hanya menjauh hingga kemarahan master mereda. Kreacher benar- benar tidak berniat melarikan diri.”

“ Dasar mahkluk licik. Karena kau!! pemegang kunci sekarang bukan aku. Harusnya aku mengubahmu menjadi semut dan kulindas hingga gepeng. Masalah sekarang menjadi begitu rumit. Pergilah…Aiden akan mengurusmu, sementara aku membereskan masalah disini.”

Mata Kreacher yang tadi berlinangan airmata mendadak tubuhnya menggigil, wajahnya menonjolkan ketakutan.

“ Jangan Master jangan Tuan Aiden.” Dia merintih seperti baru saja mendengar vonis kematian dirinya yang sebentar lagi akan diberikan untuknya. Aiden pasti orang yang sangat menakutkan untuknya

“ Dia tidak akan melakukannya. Sudahlah, jangan membantah. Sana pergi!!” William membentak. Kreacher menjauh darinya, membungkuk sambil menggigiti jari- jarinya yang kotor. Dia mundur dengan muka pias dan kemudian terdengar suara letusan  dan menghilang.

Aku bengong. Kejadian ini benar- benar begitu tidak masuk akal. Apakah ini mimpi? Tiba- tiba aku merasa ingin tertawa begitu kencang.

“ Ini mimpi ya kan? Kau tidak nyata…mahkluk tadi juga tidak nyata. Ini hanya ilusi yang ditimbulkan oleh alam bawah sadarku. Ya…ya.. pasti begitu.” Aku bertepuk tangan merasa gembira sudah menemukan jawaban untuk kejadian mustahil ini

“ Wah, sayang sekali ini bukan mimpi. Aku tahu kau pasti terkejut. Sejak awal aku tahu kau tidak akan semudah itu menerimanya. Sekarang kumohon berhentilah untuk mengabaikannya dan dengarkan penjelasanku. Duduklah, ini cerita yang sangat panjang.” William mendekatiku dan mengambil lampu baca yang aku pegang. Dia meletakkannya dengan hati- hati ke tempat semula. Dia melingkarkan tangannya diatas bahuku, menuntunku untuk duduk di atas tempat tidur.

Anehnya aku sama sekali tidak menolak sebaliknya aku merasa begitu nyaman mendapat perlakuan seperti itu. Aku berhenti tertawa saat melihat tampang William yang begitu serius.

Dia membuka ceritanya.

“ Mahkluk yang bernama Kreacher itu adalah goblin. Mereka adalah mahkluk licik yang gemar berjudi dan suka mengumpulkan kekayaan. Kreacher adalah pengawas rumah ini selama aku tidak ada.”

“ Rumah ini. Maksudnya rumah tua ini?” Potongku tidak percaya. Aku tahu sejak semula rumah ini memang tidak beres.

“ Oh ya…rumah ini bukan sekedar rumah tua. Di dalam rumah ini ada salah satu gerbang menuju Underworld, dunia bawah.”

“ Dunia bawah? Jadi ada dunia lain di bumi ini?”

“ Bukan di bumi tepatnya, tapi anggaplah seperti itu. Dunia bawah ini memiliki banyak penghuni selain goblin beberapa diantaranya sangat menakutkan. Mereka suka naik ke bumi dan melakukan kejahatan terhadap manusia. Karena itu dibutuhkan seorang penjaga untuk mencegah mereka naik. Aku adalah pemegang kunci sekaligus penjaga gerbang ini. The Wachter, julukanku. Ada 6 gerbang lagi selain disini yang tersebar di seluruh dunia, itu berarti ada 6 Wachter lain selain aku. “

“ Dan siapa penghuni Underworld itu? Apa mereka begitu menakutkan.”

“ Sangat, ada Vampir, Werewolf, Orc, Troll, penyihir hitam dan lainnya. Tapi ada juga yang ada di sisi baik seperti penyihir putih, para pemberontak di kalangan mereka dan peri tapi jumlah mereka kalah jauh. “

“ Jadi apa hubungan dunia bawah denganku?” Tanyaku mencoba bersikap biasa meskipun aku merasa ketakutan setengah mati.

“ Yeah sangat berhubungan. Berterimakasihlah pada mahkluk idiot itu. Karena rumah ini sudah dijual olehnya saat dia berjudi dengan teman- teman manusianya yang baru dia temui di Bar.”

Dia berhenti sejenak, Bibirnya mengatup membentuk ekspresi hati- hati. Sebelum aku mencoba menyelanya, dia menjawab dengan tenang. Seolah dia tahu apa yang akan aku tanyakan.

“ Tidak ada manusia. Goblin itu sudah hidup di dunia kalian begitu lama, dia pintar melakukan penyamaran. Dan seperti yang dia ceritakan padaku dia menjual rumah ini saat kalah berjudi. Rumah itu dijual oleh teman Kreacher dan dibeli oleh ayahmu. Singkat kata rumah itu bukan atas kepemilikkanku lagi dia sudah menjadi milik Ayahmu.”

“T..tapi…William”

William menempelkan jarinya di bibirku. Dia memandangku dengan matanya yang bewarna cokelat hazel. Aku bergidik dan terpesona sekaligus.  Tatapannya yang begitu intens membuatku pikiranku blank.

“ Jangan memotong pembicaraanku lagi oke? Jika kau terus memotongnya kita bisa selesai sampai subuh.”

Aku mengangguk, tapi peluang untuk bersamanya sampai subuh bukan pemikiran yang buruk setidaknya untukku.

“ Dan panggil aku Will saja.”

“ The Wachter memiliki banyak kelebihan daripada mahkluk yang ada di dunia bawah. Kami memiliki kekuatan seperti Troll, bisa melakukan sihir seperti penyihir, Kami juga pandai melakukan penyamaran seperti goblin, pintar seperti penyihir dan kami juga berwajah rupawan seperti vampire. “ Aku memutar bola mataku, dia terkekeh melihat reaksiku. Bagaimana bisa dia memuji dirinya seperti itu. Tapi aku tidak menyangkalnya, well dia memang tampan.

“ Untungnya kami tidak bau seperti Orc.” Dia menambahkan, mencoba bercanda. Tapi hidungnya sendiri mengernyit menampilkan ekspresi jijik yang tidak bisa ia sembunyikan.

Will bangkit dari kursinya dan menuju lemari tua yang terletak di sudut sebelah jendela.

“ Apa kau sudah pernah membuka lemari ini?”

Aku menggeleng.

“ Sebaiknya jangan kau buka. Karena lemari inilah sebenarnya gerbang ini berada.”  Aku tidak bisa menahan pekikan ketakutanku saat dia mengatakan itu.

“Tenang saja lemari ini kusegel dengan banyak mantra. Tapi kadang ada manusia yang bisa menembus mantraku seperti kau Claire.”

“Hah? Apa maksudmu?” Alisku bertaut bingung.

“ Kurasa kau istimewa bagi kaum kami. Contohnya kau bisa menembus ruang rahasia tempat aku mengurung Kreacher. Ruang itu sudah kumantrai dengan mantra pelindung, seharusnya tidak ada manusia atau mahkluk lain yang memasukinya.Dan kau juga tahu sosok asliku. Aku tahu dari cara kau memperhatikanku dan mencariku sepanjang siang ini.” Will memandangku dengan senyum jailnya, sambil menggosokkan dagunya.

“Aku tidak…” Aku mencoba berdalih tapi kata- kataku sendiri berakhir mengambang.

“ Eits…sudahlah. Kau tidak pintar berbohong lagipula aku sudah menangkapmu. Kau pasti merasa heran kenapa aku yang murid baru dan juga sangat tampan ini sama sekali tidak diperhatikan oleh anak-anak lainnya. Karena aku yang mereka lihat bukan aku melainkan laki-laki bernama Fred. Dia tinggal di Boston. Aku bertransformasi menjadi dirinya.Tampangnya memang tidak menarik dan berjerawat sangat parah. Tapi itulah yang kuinginkan, TheWeachters memang tidak boleh menarik perhatian. “ Will terkekeh tapi dari suaranya terdengar sedikit miris. Dia memandang jalan dari jendela kamar,memberiku waktu untuk berpikir. Aku mencoba berkonsentrasi dengan memasukkan informasi itu ke dalam otakku. Pemegang kunci…rumah tua ini….gerbang…dunia bawah…

“ Lalu apa pemegang kunci itu sekarang adalah Dad?” Aku memecah keheningan, dan kulihat Will tersenyum gembira. Sepertinya dia memang sengaja menungguku untuk menanyakan hal itu.

“ Ayahmu memang yang membeli rumah ini tapi lemari ini sejak dulu sudah ada disini dan karena kamar ini adalah kamarmu, dan secara tidak langsung lemari itu menjadi milikmu. Jadi  kaulah pemegang kunci itu Claire.”

Aku melompat dari kasur, rasanya mengerikan mendengar aku pemegang kunci itu. Aku mencoba menggeret lemari itu keluar dari kamarku. Tapi bergerak sedikitpun dia tidak mau. Will mencoba menahan tawanya dengan mengalihkan perhatiannya ke langit- langit kamar. Aku roboh dan menyerah. Tersungkur begitu saja. Lemari itu tidak mau bergeser sedikit pun

“ Tidak usah susah- susah. Aku sudah mencoba memindahkan lemari itu jutaan kali hasilnya tetap sama saja. “ Dia mengatakannya dengan enteng.

“ Hhh…seharusnya …hhh…kau mengatakannya tadi.” Aku terperosok ke lantai dan kehilangan tenagaku. Keringat bercucuran deras dan napasku hampir habis.

“ Karena jika kau tidak mencobanya kau tidak akan percaya padaku. Nah, sekarang katakan apa kau pernah bermimpi aneh?” Dia berlutut dan kembali memandangku dengan tajam, seolah dia mencoba membaca pikiranku. Aku merasakan pipiku memanas, tapi aku mencoba mengabaikannya dan kemudian teringat mimpi aneh itu semalam.

“Yah…tadi malam aku bermimpi berdiri hutan yang sangat gelap. Anehnya hutan itu terasa asing sekaligus familiar, aku bisa mencium bau yang menyenangkan sampai aku melihat sepasang mata bewarna merah.” Selesai menceritakan mimpiku, Wajah Will menegang. Kilat matanya berubah menjadi menakutkan.

“ Apa itu pertanda buruk.” Aku merasa tidak beres melihat perubahan sikapnya.

“ Oh yeah….kurasa ada vampire yang lolos dari gerbang. Terkadang ada mahkluk yang bisa keluar dari mantra- mantra ini. Pemegang kunci selalu memiliki alarm yang berbeda-beda saat mahkluk- mahkluk dari dunia bawah melarikan diri.”

“ Dia harusnya tidak jauh dari sini. Aku akan mencarinya. Tenanglah mahkluk itu tidak bisa menyentuhmu maupun keluargamu. Mantra pelindung rumah ini juga bekerja kepada para penghuninya.” Dia membelai tanganku yang sudah menggigil ketakutan.

“ Aku akan pergi. Sebaiknya kau tidurlah, aku sudah mengambil waktumu begitu banyak. Kita akan berjumpa besok di sekolah.” Will tersenyum lembut, dan sedetik kemudian dia menghilang bagai dibawa angin malam.

Keesokan paginya, sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin semalam adalah mimpi. Vampir…werewolf…penyihir semua yang dulu kuanggap bagian cerita dongeng kini adalah mahkluk nyata yang hidup di dunia yang aku tidak tahu tempatnya. Underwold- Dunia bawah. Seperti apakah dunia bawah itu. Mungkinkah seperti Film The Hobbit? Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh.

Di luar jendela mendung bergelayut. Rintik- rintik hujan membuat barisan anak sungai di jendela. Will menghilang sebelum aku mengatakan berhati- hatilah. Dia penjaga gerbang, mempunyai kekuatan super yang melebihi superman, spiderman atau hero manapun. Tapi memikirkan dia melawan vampire bermata merah itu terasa sangat menakutkan. Aku takut dia terluka atau paling buruk terbunuh.

“ Tidak….itu tidak mungkin terjadi. Dia pasti baik- baik saja.” Aku mencoba mengenyahkan pikiran burukku.

Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. Ketika aku tiba di bawah, Dad sudah menungguku di meja makan. Aku tidak melihat Mom pagi ini.

“ Selamat pagi Dad.”

“ Selamat pagi sayang. Tidurmu nyenyak sekali tadi malam, kukira kau pingsan saking tenangnya.” Dad mengulurkan sandwich ke arahku. Aku hanya menggumam dan tersenyum. Pasti Will yang melakukannya, semalam keributan yang ada di kamarku bukan main tapi Dad ajaibnya sama sekali tidak mendengarnya.

“ Ibumu masih terjebak di London karena beberapa urusan dengan pihak penerbit kurasa dia akan kembali kesini sore nanti. Ayo selesaikan makanmu. Aku akan mengantarkanmu ke sekolah. Pastikan kau membawa payung, hari ini ramalan cuaca mengatakan hujan akan turun terus hingga malam.”

Hujan masih setia turun saat Dad menurunkanku di gerbang Sekolah. Cuaca di luar lebih berkabut dari biasanya, Pandanganku sampai terhalang oleh kabut. Aku berlari- lari kecil menghindari hujan. Memegang payung tuaku untuk menghindari hujan.

“ Cuaca sangat buruk ya? Aku sampai kebasahan seperti ini.” Pemilik suara renyah itu tiba-tiba kini berdiri sangat dekat denganku. Dia memegang payungku dan tersenyum. Hatiku begitu berbunga- bunga, baru tadi malam kami bertemu tapi rinduku sudah begitu kuat.

“ Err..yeah…ramalan cuaca bilang akan turun hujan hingga malam nanti.” Claire….bodoh. Kenapa malah bicara tentang ramalan cuaca?

“ Kalau begitu aku akan mengandalkanmu sampai ke kelas. Hujan membuatku pilek.” Will mengerling kearahku. Aku hanya bergumam, mencoba tidak menatap langsung padanya.

Beberapa orang yang melihat kami berdua berbisik- bisik heran. Hanna dan Davis ada diantaranya, mereka melongo melihat kami berdua berbagi satu payung.

Hanna dan Davis menyerobot anak- anak dan menghampiriku. Will sudah menghilang diantara kerumunan anak- anak.

“ Kau berpacaran dengan William?” Tanya Davis tanpa basa- basi. Aku sedang mengusap wajahku yang terkena hujan, mencoba tidak mendengarkan pertanyaannya.

“ Jadi benar kau pacaran dengan William menyedihkan itu?”

“ Menyedihkan?” Davis tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membuatnya menerima perhatian penuh dariku.

“ Oh yeah itu julukan anak- anak di kelas aljabar. Ya, kan Hanna?”

“ Aku tidak ikut- ikutan. Sudah kubilang itu sedikit keterlaluan.”

“ Sedikit? Itu sangat keterlaluan!!” Aku membentak dengan kuping memerah. Hanna dan Davis sama- sama terlonjak. Mereka sama- sama terkejut melihat reaksiku. Aku tidak mengucapkan apa- apa dan meninggalkan mereka yang terdiam.

Jika mereka tahu sosok Will mereka pasti mati karena Shock.

Selama di kelas aljabar aku duduk di bangku dekat jendela. Menepi dari keramaian dan menjadi pusat perhatian seperti yang biasa kulakukan di sekolahku yang lama.

Aku melihat Hanna dan Davis masuk kelas. Mereka berbisik- bisik sendiri tapi begitu menyadari aku mengawasi mereka, mereka langsung terdiam  dan duduk di bangku yang jauh dariku.

Will menyusul dan mengambil tempat di sebelahku. Will tidak mengucapkan sepatah katapun, aku juga tidak. Prof. Sinatria datang dan memberi penjelasan mengenai trigono. Alih- alih mencatat aku malah mencorat- coret di kertas catatanku.

“ Harusnya kau biarkan saja mereka?” Aku menoleh dari kegiatanku dan menatap Will bertopang dagu.

“ Memberi julukan menyedihkan padaku.” Lanjut Will saat aku berpura- pura tidak mengerti.

“ Tapi itu kejam. Dan kau sama sekali tidak menyedihkan. Seandainya mereka tahu sosok aslimu.” Aku menggumam, berbicara kepada diriku sendiri. Pulpenku bergerak sangat cepat dan meninggalkan robekan di kertas.

“ Semua remaja melakukannya. Kau pasti pernah melakukannya. Memberi julukan pada orang- orang aneh atau sekedar mereka tidak sukai.”

Pulpenku berhenti bergerak. Ucapan Will menonjok ulu hatiku. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku yang dulu memang sering melakukannya, bahkan mungkin lebih parah.

Aku menyisipkan rambut ke telingaku dan tidak menghiraukan Will lagi.

Will berdehem.

“ Apa kau benar- benar ingin tahu bagaimana reaksi mereka jika melihat sosok asliku?”

Aku masih menghiraukannya. Will mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aku bisa merasakan hembusan napas yang hangat merayap lembut di kulit pipiku.

“ Sebagai gantinya apa kau mau berkencan denganku?”

Aku melotot kaget, pulpenku kini terjatuh dari peganganku. Kelas masih sunyi seakan tidak menghiraukan kami. Saat itulah aku sadar. Prof. Sinatria dan murid- murid lainnya berhenti bergerak.

“ Kau tidak mau?” Tanyanya ringan.

Aku memandangnya mencoba melihat apa ini sejenis lelucon baginya? Jika iya, lelucon ini sangat kejam. Tapi Will memandangku dengan intens, begitu dalam. Dia bahkan tidak berkedip, melihat aku dengan senyumnya yang lembut.

“ Er…well…baiklah.” Aku mencoba tidak tertarik dengan penawarannya tapi usahaku tidak terlalu berhasil, yang ada bibirku bergetar saking gugupnya.

Setelah mendengar jawabanku kelas kembali hidup. Ocehan- ocehan prof. Sinatria saat mencoba melucu dan tawa- tawa sopan dari murid- murid kembali terdengar. Will memandang papan tulis dan bibirnya melengkung ke sudut.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s