The Wächter

Dark-Angel-37616-524501

Bagian 1 : Rivendell

Kami sekeluarga berkendara semakin menjauh dari kota London. Aku melongok ke belakang, menatap sedih dengan rasa haru untuk melihat kota London terakhir kalinya. London kota tempat aku menghabiskan 16 tahun masa hidupku disana. Meskipun ini pertengahan Agustus, jelas ini bukan perjalanan wisata musim panas yang menyenangkan. Kami akan pindah ke suatu  kota kecil bermil-mil jaraknya dari Kota London. Kota yang bahkan aku tidak begitu ingat namanya ( atau mungkin aku tidak mau mengingatnya) yang pasti aku yakin kota ini tidak bisa dibandingkan dengan London. Di kota baru itu tidak akan ada tempat hangout terbaik, BigBen, geng 5 sekawan ( yang terdiri dari orang-orang paling keren di London termasuk aku), Istana Buckingham dan Jake. Mengingat nama itu membuat aku merindukannya, kami bahkan belum 5 menit meninggalkan London. Pokoknya aku merelakan kehidupanku yang asik disana untuk tinggal di kota kecil demi memuaskan ambisi Dad. Dad bersiul- siul riang yang membuat kumisnya yang begitu lebat bergetar. Dia mengemudikan mobilnya, sebuah mini van bewarna putih. Dad adalah laki-laki yang gemuk dan pendek, nyaris tanpa leher. Matanya mengedip- ngedip dari balik kaca spion. Pekerjaan Mr. Riddle (nama Dad) adalah kontraktor. Dia pindah ke kota asing itu karena menerima proyek besar yang katanya mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Tanpa berunding sama sekali dengan keputusan sepihak dia memutuskan untuk pindah. Egois sekali bukan?

“ Sudah lama kita tidak berkendara bersama kan Claire. Sayang sekali Percy tidak ikut bersama kita. Dia sibuk dengan persiapan ujiannya.”

“ Yeah….menyenangkan. Dan akan lebih menyenangkan jika lebih baik aku pindah ke flat Percy.” Aku memutar bola mataku dan terdengar ayahku mendengus keras. Aku sudah mengatakan hal yang sama sedikitnya 7 kali selama sehari ini. Percy kakak laki-lakiku sangat beruntung untuk tidak mengikuti kami sekeluarga pindah. Dia tinggal di flat kecil dekat kampusnya.

“ Jangan mimpi. Percy sudah pusing dengan kuliahnya, dia tidak perlu untuk kau tambahi bebannya.” Ucap Mom tajam.

“ Aku bukan beban. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”Jawabku keras dengan mata menyala. Beban…? menghina sekali kata-kata itu.

“ Aku akan percaya perkataanmu jika saja aku tidak menemukan puntung rokok di kantong jeansmu.”

“ Itu bukan punyaku itu punya Rowena.”

“ Terserah, keputusan sudah diambil. Jadi berhentilah mengeluh dan nikmati saja pemandangan ini. Kau beruntung tidak kucoret dari nama keluarga.”

Aku menghempaskan tubuhku dengan kuping memerah. Puntung rokok itu memang punyaku, sebaiknya aku berhenti berdebat dengan Mom sebelum mengucapkan kebohongan- kebohongan yang malah berakibat fatal. Mom adalah orang yang terlihat lembut tetapi sebenarnya sangat keras, bahkan Dad pun terkadang takut padanya. Mom berwajah oval dengan garis rahang yang keras, rambutnya yang dulu cokelat kini terlihat uban dimana-mana. Dan itu malah membuat aura menyeramkannya meningkat. Jika keluarga kami disamakan dengan siklus rantai makanan, maka Mom- lah berada di puncak rantai makanan.

Setelah 10 jam perjalanan yang melelahkan dan begitu menjemukan ( karena Dad dan Mom selalu menyetel tembang- tembang lawas daripada memutar CD musikku hanya karena alasan terlalu berisik) akhirnya kami sampai di Rivendell ( yang baru aku tahu namanya dari papan selamat datang).

Aku menganga menatap rumah baruku yang terlihat sama tuanya dengan kakek Josh (Kakek buyutku itu sekarang berumur hampir 100 tahun). Rumah itu besar dan gelap. Pohon- pohon rimbun mengelilingi rumah itu begitu ketat, dan hanya membiarkan sedikit sinar matahari menerobosnya. Rumah tua yang terdiri dari 2 lantai dengan dinding bewarna merah bata dengan atap hitam miring dan deretan jendela dibingkai kusen bewarna cokelat pekat. Satu- satunya yang tampak bagus dari rumah ini mungkin adalah balkonnya yang melengkung bercat putih bersih.

Kulihat Mom juga sama terkejutnya denganku, aku sedikit gembira melihat bagaimana Dad tidak mengikutsertakan Mom dalam pembelian rumah ini. Itu berarti aku tidak sendirian dalam hal ini.

“ Lokasinya bagus dekat pusat kota dan tidak begitu jauh dari pantai. Kubeli dengan harga yang sangat murah. Aku sudah membereskan yang lain- lain sebelum kepindahan. Ayo, lihatlah kalian pasti suka.” Dad menggandeng tanganku dan tangan Mom. Mom pintar sekali memasang ekspresi muka. Wajahnya yang berkerut- kerut bingung kini tampak tersenyum pada Dad dan melangkah pasrah.

Dalamnya tidak begitu buruk. Bersih hingga aku bisa berkaca di lantainya dan dinding- dinding sudah dicat ulang. Perabot kami yang lama bersanding dengan perabot asing yang tampak jauh lebih tua. Dad menepuk jam tua yang tampak kokoh.

“ Aku menemukannya di gudang bersama perabot lainnya. Lebih hemat daripada kita membeli perabot baru lagi. Well, hanya dengan perabot kita kurasa ruangan ini nampak begitu kosong.”

Dad benar perabot kami tidak banyak dan ruangan ini terlalu besar. Aku naik ke lantai dua meninggalkan kehebohan Dad dalam membanggakan perabot- perabot tua lainnya. Berbeda dengan lantai 1, di lantai atas ini lantai terbuat seluruhnya dari kayu. Kayu itu nampak kokoh dan kuat sungguh aneh jika mengingat usia rumah ini. Kayunya sudah dipelitur ulang hingga menimbulkan bau yang menyengat. Ada 3 kamar di lantai 2. Perabot kamarku ternyata dipindah Dad di kamar tengah, kamar satu- satunya yang memiliki balkon. Aku senang Dad mengerti seleraku. Sama kejadiannya dengan di lantai 1, ternyata kamar ini juga terlalu kosong hanya diisi dengan perabot- perabot lamaku: 1 ranjang besar, 2 nakas di sisi ranjang, , lemari pakaian, meja belajar dan tambahan 1 lemari tua yang ditemukan Dad dari ruang bawah tanah. Kutahan keinginanku untuk mendekorasi ulang dan memilih merebahkan badanku di atas ranjang. Sungguh aneh berbaring di ruangan yang begitu asing dan sunyi. Tidak ada suara kendaraan, suara teriakkan orang mabuk atau suara sirene polisi yang sering terdengar di malam hari. Satu- satunya suara mungkin hanya berasal dari hembusan napasku. Aku menatap langit- langit kamar. Dan selanjutnya tanpa kusadari aku sudah terjatuh dalam tidur.

Aku berdiri di tengah hutan, begitu gelap hanya semburat cahaya dari bulan yang memberi sedikit cahaya. Hutan ini tampak asing sekaligus familiar, entahlah. Waktu seolah berhenti disini. Tidak ada hembusan angin maupun suara pohon bergemerisik seperti yang biasa terjadi. Aku bisa mencium aroma tanah basah dan aroma pohon pinus yang menenangkan. Aku mendadak dicengkeram rasa ketakutan yang amat sangat saat mataku menangkap dua mata bewarna merah dari balik semak. Terdengar suara geraman rendah.

“ Ha..halo..siapa disana?” Aku memicingkan mata. Siap untuk hal terburuk sekalipun. Meski tubuhku bergetar hebat, aku yakin kedua kakiku akan segera berlari jika aku menyuruhnya. Mata merah itu berkedip dua kali dan kemudian hilang. Hembusan Angin dingin menerpa wajahku begitu lembut.

Aku tersentak bangun. Aku masih ada di tempat tidurku yang hangat dan lampu kamar yang benderang. Apa yang terjadi? Apa itu mimpi? Tapi mimpi itu begitu nyata, aku bahkan masih mengingat aroma menyenangkan yang berasal dari mimpiku tadi.

“ Ini hanya mimpi…ya…mimpi bodoh yang setiap kali datang. Tenanglah Claire. Tenanglah.” Aku mencoba kembali tidur, tapi mataku ini tidak bisa dipejamkan hingga pagi.

Aku turun ke bawah dan melihat Dad dan Mom sudah bangun dan memulai sarapan. Dad sudah berpakaian rapi, hari ini dia akan memulai pekerjaan barunya. Mom masih mengenakan baju tidurnya tapi rambutnya sudah tergelung sempurna.

“ Pagi Dad..Mom. “

“Pagi sayang. Mau telur dadar atau telur mata sapi.”

“ Telur mata sapi saja. Thanks Mom.” Aku mengambil tempat duduk di sebelah Dad. Menggosok kedua mataku, rasanya malam pertama yang kulalui di rumah ini begitu berat.

“ Apa kau tidur nyenyak?  Wajahmu terlihat pucat Claire, kau pasti begitu gugup untuk bertemu dengan teman- teman barumu.” Dad menatapku dengan mata kecilnya, tampak cemas melihatku.

“ Aku oke Dad tapi bukankah sekolah baru mulai awal September? Ini masih libur musim panas.”

“Aku pasti lupa memberitahumu. Disini sekolah dimulai satu minggu lebih awal dari sekolah di London.Jadi sebaiknya kau berkemas sekarang, aku akan mengantarkanmu ke Sekolah.”

“ Dad ini informasi penting. Kenapa Dad bisa lupa? Arrghh…sebaiknya aku mandi.” Aku berlari meninggalkan telur yang baru saja diletakkan Mom di piringku.

“ Anda terlambat 15 menit Miss Riddle.”

“ Panggil saja Claire.” Ujarku pelan, tapi dia tidak mengindahkannya. Dia menatapku dari balik kacamata persegi. Aku berdiri di ruang kepala Sekolah, ruangan ini nampak kaku seperti mencerminkan penghuninya. Di lemari sebelah kananku banyak piala- piala berbagai bentuk dan rupa. Dan diatas jam dinding terdapat emblem sekolah ini. Rivendell High School.

“ Kami biasanya tidak menetolerir keterlambatan tapi karena kau murid baru dan mungkin belum tahu peraturan- peraturan di sekolah ini aku memaafkanmu.” Kepala Sekolahku, Professor Brown adalah yang wanita jangkung dengan kedua mata seperti mata kucing. Rambutnya sudah dipenuhi uban dan digelung lebih ketat daripada gelungan  rambut Ibuku. Dia membalik- balik kertas- kertas yang berisi informasiku dan surat rekomendasi dari sekolahku.

“ Semuanya Oke. Kau bisa menemui Miss Greg di Tata Usaha. Kau bisa memilih mata pelajaran selama dua semester ini.”

Dia menyerahkan Mapku, tatapannya sangat tidak suka terutama rambutku. Rambutku kupotong layer dan kuberi highlight jingga menyala. Potongan rambut ini lagi sangat populer di sekolahku.

“ Kuharap besok kau sudah mengembalikan warna rambutmu yang semula. Kami tidak mengijinkan murid- murid mewarnai rambut, memakai tindik dan memakai tato.”

“ Baiklah Profesor. “ Aku memotongnya dan buru-buru keluar dari ruangannya. Ini sekolah atau barak militer? Tidak boleh mewarnai rambut, memakai tindik dan memakai tato, bleh…

Aku mengetuk pintu kelas dengan cukup percaya diri. Terdengar suara melengking tinggi yang menyuruhku masuk. Suara yang menyuruhku masuk ternyata milik pria pendek berambut jarang-jarang. Senyumnya sangat bersahabat. Aku menyerahkan surat dari ruang tata usaha. Saat dia meneliti suratku, aku mengedarkan pandangan dan menatap wajah- wajah asing yang kesemuanya menunjukkan minat padaku. Beberapa gumaman yang bisa kutangkap adalah tentang rambutku yang keren.

“ Well Claire Riddle dari WestMinister High School, London. Kukira kau tidak akan kesulitan mengikuti pelajaran di Sekolah ini. Aku Profesor Sinatria. ” Dia mengulurkan tangannya yang gembil ke arahku. Aku menyambutnya dengan senyum cukup sopan.

“ Nah kukira kita cukup beruntung kedatangan 2 murid baru di kelas kita.” Dia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke kelas. Aku baru menyadari seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Seorang laki-laki dengan rambut hitam pekat. Dia berdiri dengan sikap bosan, matanya menatap kosong ke arah jendela.

Dia baru beranjak dari kesenangannya saat profesor Sinatria menyuruh kami mencari tempat duduk.

Kelas sudah usai, dan mejaku dikelilingi teman- teman kelasku.

“ Jadi apa yang membawamu ke sini Claire?” Tanya seorang  gadis berambut cokelat berombak dengan tatapan ingin tahu. 4-6 orang yang mengitariku juga menampakkan raut muka yang sama.

“ Karena pekerjaan ayahku, kami pindah kesini. Tapi kakakku Percy tetap di London menyelesaikan kuliahnya.”

“ Pasti berbeda sekali disini dengan sekolahmu yang dulu. Aku iri melihat rambutmu, kau tahu aku benci dengan warna alami rambutku.” Satu orang lagi yang berambut merah kusam mengeluh sambil mengelus rambutnya.

“ Yah…tapi hanya tinggal hitungan waktu untuk memiliki rambutku yang sekarang. Profesor Brown memperingatiku tadi pagi.”

Mereka memekik dan menampakkan rasa kasihan.

“ Pelikan Tua itu kurasa tidak pernah mengalami masa remaja yang menyenangkan.” Seseorang mengatakan itu dan kemudian kami tertawa bersama. Memang benar profesor Brown sedikit mirip dengan burung pelikan.

Aku menikmati cara mereka mengagumiku, tampaknya aura kepopuleranku masih terbawa hingga ke kota kecil ini. Cukup bagus untuk permulaan. Di tengah- tengah pembicaraan seru itu aku menangkap laki-laki itu duduk sendiri. Dia bertopang dagu dan berwajah muram. Meskipun kami sama- sama anak baru tidak ada yang tertarik padanya ( atau mungkin tidak berani mendekatinya). Namanya William Rues. Dia sebenarnya sangat tampan bahkan jika dia memasang wajah muram dan bosan. Postur tubuhnya jangkung dan style pakaiannya cukup oke ( Dia mengenakan jins bewarna hitam dan  kaos oblong putih dengan blazer denim)

Dia menoleh dan jelas dia mengangkap basah saat aku sedang asyik menilainya. Dia tersenyum muram sekilas dan kembali melamun. Kurasakan wajahku merah padam, aku terlalu malu untuk membalas senyumnya.

Kota Rivendell terletak di South Yokshire, Inggris dengan jumlah penduduk 3424 Jiwa. Kota ini terletak 80 mil sebelah barat kota Barnsley dan 170 mil timur laut Glossop. Dikelilingi pantai dan Hutan membuatnya sedikit terpencil.

Aku menelan informasi tentang kota kecil itu dari Hanna, Gadis berambut merah yang baru aku tahu namanya saat dia menawarkan diri untuk mengajakku Tur berkeliling menyusuri sekolah.

“ Apa kau pernah bertemu dengan pangeran William atau Pangeran Charles di London?”

“ Ya aku hanya pernah melihat mereka saat perayaan pernikahan William dengan Kate.”

“ Pasti menyenangkan tinggal di kota besar. Aku dulu fans pangeran William sebelum dia menikah dan mulai botak.” Hanna terkekeh.

Mendengar nama William mengingatkanku pada William yang terakhir kulihat masih duduk bengong di kelas Aljabar. Apa yang dia lakukan sekarang? Oh…Claire. Sekarang kau merasa penasaran dengan pria asing yang menangkap basah sedang kau pandangi. Bagaimana dengan Jake? Ya…benar…kau masih punya Jake. Diam- Diam aku merasa bersalah, bagaimana perasaannya jika dia tahu aku sudah main mata di sini.

Kami menyusuri lorong- lorong sekolah yang panjang. Melewati studio lukis, singgah sebentar di kafetaria dan melihat anak- anak bermain basket di stadion olahraga. Sekolah yang baru ini kurasa cukup asik juga. Aku melambai pada beberapa teman yang kukenal di kelas aljabar.

Di kelas Bahasa Inggris yang membahas tentang William Shakespeare dan Sandiwara tragedinya yang berjudul Hamlet.( Lagi- lagi William, Aku baru sadar banyak sekali nama William di Inggris. ) Aku mencari sosoknya, orang jangkung seperti itu pasti cepat terlihat. Tapi aku kecewa dia sama sekali tidak ada. Aku mendengarkan profesor Binns menerangkan kisah Hamlet. Aku sama sekali tidak tertarik, aku sudah pernah mempelajarinya di sekolahku yang lama, dan sama sekali tidak menyukainya. Hamlet berkisah tentang pangeran Denmark yang bersumpah untuk balas dendam terhadap kematian Ayahnya yang dibunuh pamannya yang kemudian diangkat menjadi raja. Pedang Hamlet pun membunuh penasihat setia pamannya Polonius. Polonius meninggal dan kedua anaknya Laertes dan Ophelia berkabung. Ophelia sebenarnya telah jatuh cinta pada Hamlet, namun karena hal ini ia menjadi gila dan tenggelam di sungai.

Pada akhirnya aku kasihan pada Ophelia bagaimana nyawa ayahnya lepas di tangan pria yang ia cintai. Memikirnya saja terasa mengerikan

Sekolah selesai lebih awal, mungkin karena hari pertama. Tapi itu bagus, aku sangat lelah. Semalaman aku tidak bisa tidur gara- gara mimpi buruk. Aku menyusuri jalan bersama Hanna dan Davis. Davis adalah pria kocak yang berkenalan denganku di kelas Bahasa Inggris.Dia terkejut saat tahu sekarang aku tinggal di Rumah yang ia juluki sebagai Dead House.

“ Serius, apa kau tidak pernah melihat penampakkan atau apapun?.”

“ Kurasa tidak.” Dia kecewa mendengar jawabanku. Hanna mengejek dan mengatakan bahwa Davis benar- benar konyol.

“ Sudah kubilang kan. Tidak ada yang namanya hantu. Itu cuma rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Hantu- hantu itu cuma rumor.”

“ Tapi dengan mata kepalaku sendiri aku pernah melihat bola api di jendela lantai 2.”

“ Pasti kau berhalusinasi. Jangan terlalu  banyak menonton film horor.”

Mereka bertengkar mempertahankan pendapat mereka masing- masing. Aku hanya menjadi pendengar dan menikmati rimbunan pohon yang rindang di selusur jalan. Aku suka cuaca disini, begitu bersahabat.

Kami berpisah jalan. Hanna dan Davis melambaikan tangan padaku dan kemudian mulai mendebatkan hal konyol lainnya. Senang rasanya tidak perlu mendengarkan ocehan mereka lagi.

Aku lihat di beranda ada taksi yang menunggu diluar. Ibuku tampak buru- buru dengan tas laptopnya, mengunci pintu rumah. Dia terlihat senewen sekali.

“ Mom…ada apa?”

“ Oh Claire, untunglah kau sudah pulang. Aku bisa menitipkan kunci rumah ini. Tadinya aku takut tidak bertemu kau sebelum aku pergi. Kau tahu kan aku belum bisa menitipkan kunci itu kepada tetangga yang belum kukenal.” Dia bicara begitu buru- buru. Aku mencoba tidak menyelanya. Ibu mengambil napas dalam- dalam.

“Aku harus menemui penerbit di London, buku pertamaku akan terbit.” Ibu melebarkan senyumnya.

“ Mom itu kabar baik.” Aku memeluk Mom yang diliputi rasa bahagia. Akhirnya setelah bertahun- tahun menjadi penulis lepas Ibuku akhirnya menerbitkan bukunya sendiri. Aku sangat tahu perjuangan Mom untuk menerbitkan buku itu.

“ Apa kau tidak apa- apa kutinggal sendiri Claire. Rumah ini pasti masih terasa asing untukmu.”

“ Tidak apa- apa Mom jangan cemas. Sebagai gantinya Mom harus membelikanku baju yang mahal dengan royalti Mom.”

“ Tentu saja. Aku sudah menelepon Ayahmu. Dia akan pulang secepat yang dia bisa. Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu, hangatkan dengan Microwave.”

“ Aku tahu Mom.”

“ Baiklah sampai jumpa besok sayang.” Mom mencium kedua pipiku dan berlalu pergi. Aku memandang rumah tua itu dengan perasaan kalut. Bohong, jika aku tidak merasa takut ditinggal sendiri terlebih setelah mendengar julukan Davis kepada rumah ini ditambah dengan mimpi buruk semalam.

Aku menghabiskan soreku dengan tidur. Aku terbangun ketika senja berpendar di sebelah barat. Matahari sudah bersemburat jingga. Aku menelepon jake dan sahabatku  di London. Kami mengobrol berjam- jam hingga alarm perutku berbunyi.. Aku lupa, aku belum menyentuh makan siangku sama sekali. Hari sudah gelap di luar sana

Aku menghangatkan sup iga sapi dan menghabiskannya dalam sekejap. Makan sendirian di ruang makan sebesar ini membuatku merasa kesepian. Dad belum pulang, kurasa aku akan menghabiskan malam ini dengan menonton serial tv.

Duk…Duk…Dukk…Sret..Sret…Suara bunyi berdebam dan sesuatu yang diseret tiba- tiba tertangkap oleh indera pendengaranku. Suaranya begitu dekat, aku mengecilkan volume televisi. Suara itu semakin kencang dan membuat bulu kudukku berdiri.

Dukk….Dukk…Dukk…Srett..Sret

“Ya Tuhan cepat pulang Dad.”Suara itu sepertinya berasal dari lantai 2. Aku mengambil pemukul bisbol milik Dad dan mendaki tangga perlahan. Masih bersandar di pegangan tangga, aku mendengarkan dan aku masih bisa mendengar suara itu.Jangan- jangan pencuri itu masuk saat aku tertidur.. bodohnya aku. Harusnya aku mengunci pintu tadi. Mom benar…aku belum bisa menjaga diri.

Kutajamkan telingaku di masing- masing pintu kamar. Kurasa suara itu tidak berasal dari salah satu kamar ini. Lalu dimana?

Suara gedebuk dan sekarang ditambah lolongan anjing. Aku merasakan tengkukku mengalir keringat dingin, perutku terasa diaduk- aduk. Aku teringat perkataan Davis tadi siang. Tidak….hantu itu tidak ada.

“ Ada orang disini?” Panggilku, Suaraku seperti tercekik. Tanganku bergetar, tapi aku meneguhkan niatku dengan mengeratkan peganganku pada pemukul Bisbol.  Aku melangkah perlahan ke lorong panjang dan sempit, di sudut kamar ketiga ada pintu hitam dengan cat mengelupas disana- sini. Kurasa Dad melupakan ruangan ini saat renovasi. Aku memutar kenop pintu.  Ruangan itu gelap dan berdebu, cahaya bulan disaring dari sebuah jendela kecil di ujung lain. Satu kilatan petir membuatku meloncat mundur. Guntur yang diikuti suara gemuruh jauh memudar. Perlahan hati- hati aku melangkah ke dalam ruangan. Tak ada tanda- tanda siapapun.Aku mengambil napas dalam- dalam dengan sisa keberanian Aku menghalau sarang laba- laba dan melangkah masuk sambil menendang kardus- kardus kosong yang bertebaran di sana- sini. Aku mencari saklar lampu tapi tidak berhasil kutemukan.

“ Kaing….kaing…kaing…” Suara anjing di sudut ruangan itu nampak ketakutan. Anjing? Apa dia terkunci disini.

Aku menemukan anjing jenis terrier berbulu cokelat muda dia meringkuk ketakutan menutup kedua matanya dengan kakinya yang berbulu.

“ Anjing manis…apa kau terkunci disini.” Aku membungkuk dan mengulurkan tanganku untuk membelai bulunya yang lembut. Dia menatapku beberapa lama dan kemudian membiarkan aku membelai tengkuknya..

“ Kau pasti sangat ketakutan ya?” Dia menggonggong seolah menjawab pertanyaanku. Di kupingnya ada semacam tindik yang aneh.

“ Anjing manis kau tidak layak di ruangan pengap seperti ini.”

“ Oh yeah…dia lebih sangat layak untuk ada disini.” Suara rendah dan tajam dari arah belakang membuatku memekik ketakutan. Bayangan gelap itu berdiri tidak jauh dari tempatku berada sekarang. Aku tak bisa bernapas, jantungku seolah berhenti. Dengan nekat, upaya ketakutan, aku berbalik memutar.

“S…siapa Kau. A..apa kau tahu masuk ke properti orang lain bisa dikenai sanksi berupa penjara.” Aku menggertak tapi suaraku yang keluar lebih seperti mencicit.

Dia mendengus dan tertawa, tawa bernada rendah meremehkan bergema di ruangan gelap ini. Aku sudah kehabisan nyaliku. Aku melempar tongkat bisbol tapi dengan gerakan cepat dia berhasil menghindarinya.

“ Properti milik orang lain? Lucu sekali. Kau benar- benar menarik Claire Riddle.”

Aku terkejut bukan main saat bayangan itu kemudian berjalan ke depan cahaya rembulan. Bayangan itu semakin jelas, pertama kaki, badan dan kemudian wajah yang kukenal. Tapi dia sungguh berbeda, tidak ada raut bosan dan muram, hanya ada seringai nakal menghias wajahnya.

“ William Rues.”

“ Yeah…..ini aku.”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s