When You Come to My Life 16/16 {END}

when you come to my life poster

Tittle:: When You Come to My Life 16/16

Author:: ideafina a.k.a Jung Yuuri

Maincast:: Lily Jung, Park Yoochun, Jung Yunho

Support cast:: Kim Jaejoong, Kim Junsu, Shim Changmin DBSK, Lee Ang Hyeon, Jung Jihye, Ahn Jaemin

Genre:: Romance, Angst, Drama

Rate:: PG-15

Previous Chapter:  1  2  3   5   7  8  9  10  11  12 13  14  15

Background song:: DBSK – The story has just began

Disclaimer:: This story and DBSK member especially JUNG YUNHO & KIM JAEJOONG is MINE MINE MINE MINE MINE! #kabur dari Cassies

~Happy Reading~

“Semuda itu sudah berpikiran untuk menikah? Hebat sekali.”komentar Changmin saat menonton pemberitaan di tivi mengenai pernikahan Lily tujuh tahun lalu.

“Dan punya anak. Sangat jarang lho ada yang mau menikah muda dan punya anak.”ucap Junsu kagum.

Yunho mengernyit mendengar komentar Changmin dan junsu.

“Tapi sepertinya Yunho tidak menyukai hal itu.”kata Jaejoong saat memperhatikan ekspresi Yunho.

“Dulu aku menentangnya habis-habisan karena ia masih terlalu muda. Tapi saat bertemu namja itu, aku tidak bisa tidak setuju.”ucap Yunho sebal ketika mengingat Joo Won dan Lily.

“Kenapa?”tanya Junsu.

“Eyyy~ hyung! sudah pasti karena ia namja yang sangat baik dan hebat. Kalau tidak mana mungkin Yunho hyung yang sangat protektif pada adiknya bisa setuju! ”kata Changmin, “Aww!” yang langsung mendapat pukulan di bahunya dari Jaejoong. “Apaan sih hyung?!”

Jaejoong melirik ke Yoochun yang masih diam, lalu yang lain juga melirik ke Yoochun dan mengerti maksud Jaejoong. Yoochun semakin pendiam semenjak tahu mengenai masa lalu Lily.

Yunho menghela napas. “Jika melihat mereka berdua berinteraksi, kalian pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangan. Mereka terlihat begitu bahagia dan… sempurna. Dan aku bisa melihat betapa namja itu mencintai adikku, begitu juga sebaliknya. Aku yakin ia masih mencintai namja itu sampai sekarang.”jelas Yunho.

Ucapan Yunho itu membuat hati Yoochun terasa pedih.

“Tapi bukan berarti tidak akan ada seseorang yang bisa masuk lagi ke hatinya. Yoochun-ah…”

Yoochun terkejut mendengar panggilan Yunho, ia menatap hyungnya yang duduk di sebelahnya.

“Aku tahu perasaanmu sangat besar padanya, dan aku juga bisa melihat jika adikku mempunyai perasaan khusus padamu. Walaupun ia tidak mau mengakuinya.”Yunho berdecak. “Sekarang kau sudah tahu mengenai masa lalunya, dan aku tidak tahu jika kau bisa menerimanya atau tidak. Jika kau tidak bisa menerima masa lalunya dan juga Youngri, kusarankan kau mencari yeoja lain yang lebih cocok untukmu.”

Yoochun tersenyum kecil. “Aku sudah tahu sejak lama tentang Youngri, bahkan sebelum pers mengetahuinya. Berkali-kali aku mengatakan itu bukan urusanku. Tapi tetap saja aku tidak bisa tidak peduli, dan hal itu membuat perasaanku semakin dalam padanya…”jelas Yoochun, membuat Yunho tersenyum lega. Kemudian Yoochun cemberut. “Tapi ia berkali-kali menolakku.”

“Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?”tanya Junsu kaget.

“Aku berkali-kali mendekatinya tapi ia selalu menolakku dengan ketus. Dan waktu aku menyatakan perasaanku secara langsung ia menolakku lagi. Tapi…”

“Tapi apa?”tanya Yunho.

“Aku mengatakan padanya kalau aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.”ucap Yoochun nyengir. “Hyung bilang kalau dia mempunyai perasaan khusus padaku. Jadi aku tidak akan pernah menyerah.”

“Lalu Youngri?”

“Aku menyukai anak-anak kok hyung.”jawab Yoochun santai.

Yunho menghela napas lega dan tersenyum. “Dan kalau begitu aku tidak mungkin tidak mendukungmu.”

***

“Oh, Oppa.”kata Lily saat membuka pintu apartemennya dan melihat mantan managernya. “Ayo masuk.”

“Mana Youngri?”tanya manager oppa ketika mengikuti Lily masuk ke ruang tamu apartemennya.

“Ada di kamar bersama adikku. Sebentar kupanggilkan.”kata Lily lalu berjalan ke kamar Youngri. Ia tersenyum ketika melihat Youngri bermain playstation bersama Jihye. Youngri tertawa ketika untuk yang ke sekian kalinya Jihye kalah darinya.

“Jihye Imo kalah lagi! yeeeyyyy~”ucap Youngri gembira.

“Tentu saja. Imo kan tidak biasa main game! Kalau Yunho samchon pasti bisa!”ucap Jihye membela diri. Lily tertawa kecil melihat obrolan mereka berdua, membuat keduanya menoleh padanya.

“Eomma! Mau main game?”tanya Youngri dengan senyum cerianya.

Lily menggeleng. “Ada manager ahjusshi diluar mau ketemu Youngie.”kata Lily.

“Jinjja?”Youngri langsung bangun dan berlari keluar.

“Youngie, jangan lari!”omel Lily, yang membuat Youngri berhenti berlari dan berjalan pelan dengan cemberut. Lily dan Jihye hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak itu. Sejak keluar dari rumah sakit Youngri memang jadi suka sekali berlari. Padahal ia belum selesai menjalani pengobatan pasca operasi. Makanya Lily suka memarahinya jika ia berlari.

“Manager ahjusshi!”ucap Youngri senang lalu memeluk mantan manager Lily itu.

Manager Oppa mengangkat Youngri ke pangkuannya. “Apa kabar jagoan kecil? Sudah sembuh?”

“Sudah! Dada Youngie udah nggak sering sakit lagi kayak dulu!”jawabnya riang, kemudian cemberut. “Tapi  Eomma masih sering ngelarang Youngie lari.”

Manager Oppa tertawa. “Tentu saja, kan Youngie belum sembuh benar. Nanti kalau pengobatan pasca operasi udah selesai, Youngie bisa lari sepuasnya.”

Youngri mengangguk senang. “Oh ya, ahjusshi, gomapta udah ngasih Eomma libur syuting. Eomma sekarang bisa sama-sama Youngie setiap hari.”

Lily langsung salah tingkah ketika mantan managernya itu memandangnya. “Youngie, sekarang ahjusshi mau bicara sama Eomma dulu ya.”katanya.

“Pasti mau ngomongin kerjaan Eomma deh. Oke, Youngie ke kamar lagi ya. Dadah ahjusshi!”kata Youngri lalu mengecup pipi manager oppa dan kembali lagi ke kamarnya.

Lily duduk di sebelah sofa yang diduduki mantan managernya itu.

“Kau belum cerita pada Youngri jika kau berhenti akting?”

Lily mengangkat bahu. “Jujur saja aku tidak terpikir untuk memberitahunya. Entah mengapa aku malah mengatakan aku dapat libur.”

“Itu pasti karena kau masih ingin berakting, Lil.”

Lily menggeleng ragu. “Sejak awal aku jadi aktris hanya karena ingin mengumpulkan banyak uang untuk pengobatan Youngri. Aku bersyukur ketika saat itu aku membutuhkan pekerjaan Oppa masih mau menerimaku. Gomapta Oppa.”ucap Lily tersenyum.

“Akulah yang merasa beruntung saat itu. Sebelumnya saat aku melihat aktingmu di drama kampus, aku yakin kau akan jadi aktris yang hebat. Tapi kau selalu menolak tawaranku dan bilang tidak tertarik. Jadi saat kau datang padaku dan bilang bersedia bekerja sama denganku, aku senang sekali. Feelingku memang benar. Kau akan jadi aktris terkenal.”

Lily tersenyum. Saat ia masih kuliah, ia memang aktif di teater kampus dan sering berakting di teater. Saat itulah ia bertemu Lee Ji Hoo, yang berkali-kali menawarkan untuk mengorbitkannya sebagai aktris. Tapi karena Lily sudah berencana untuk menikah dengan Joo Won, ia menolak tawaran itu. Kemudian semua rencana hidupnya berubah. Ketika Joo Won meninggal dan ia kabur dari rumah, Lily tidak punya cara lain untuk memenuhi biaya pengobatan Youngri yang mahal selain mengikuti tawaran Lee Ji hoo menjadi aktris. Dan ternyata memang managernya itu bisa membuatnya seterkenal sekarang.

“Aku harap kau membatalkan rencanamu untuk berhenti berakting. Kau sangat berbakat, dan karirmu sedang berada di puncak. Akan sangat sayang sekali jika berhenti.”bujuk Manager Lee.

Lily menghela napas. “Aku tidak tahu. Aku sangat suka berakting, dan aku tidak peduli dengan skandal yang terjadi padaku. Tapi sekarang semua orang sudah tahu mengenai Youngri dan aku tidak ingin jika pers terus ingin mengetahui tentang Youngri. Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang nyaman untuknya, tanpa ada gangguan.”

“Sekarang tidak ada lagi berita miring tentang Youngri, seharusnya kau tidak usah khawatir lagi.”

“Tetap saja aku masih merasa khawatir.”

“Aku harap kau tidak berhenti Lil.”

“Oppa, kau manager yang hebat. Artis manapun yang memperkerjakanmu pasti akan bisa sukses.”

“Aku tidak peduli pada artis yang lain. Aku masih ingin kau yang jadi artisku.”

“Tapi…”

“Bagaimana jika begini, kita lihat dulu keadaannya. Kau akan kembali lagi jadi artis setelah keadaan sudah tenang dan Youngri sudah benar-benar sembuh. Ya?”

Lily tidak enak menolak managernya yang sudah sangat memohon itu. Tapi ia masih ragu untuk kembali berakting. “Aku pikirkan dulu ya Oppa.”

Manager oppa menghela napas. “Baiklah. Aku seharusnya tidak memaksamu. Kau pikirkan dulu saja.”Lalu ia melihat ke sekeliling rumah. “Kok sepi? Yang lain belum datang?”

“Kakek-nenek Youngri tidak bisa datang. Tinggal Yunho Oppa saja yang belum datang. Ini memang sudah hampir jam makan siang. Tapi tadi aku berpikir harus banyak memasak makanan. Jadi tadi aku dan Ang Hyeon masak lagi, dan belum matang.”

“Padahal aku sudah mulai lapar.”

Kemudian suara bel pintu apartemen Lily berbunyi. Ketika Lily akan berdiri untuk membuka pintu, Youngri keluar dari kamar dengan berlari. “Youngie yang buka!”serunya riang lalu berlari ke pintu.

“Youngie!”omel Lily karena lagi-lagi Youngri berlari. Ia mengikuti Youngri ke pintu apartemennya dan melihat Youngri membuka pintu.

“Yunho samchon!”ucap Youngri senang saat melihat Yunho dan langsung memeluk pamannya itu.

“Bogoshippo, Youngie!”ucap Yunho senang. “Apa kabar jagoan kecil?”

“Jal jinasseoyo, samchon!”jawab Youngri gembira.

“Karena sekarang pesta kepulangan Youngie ke rumah, samchon bawa yang lain.”

“Yang lain?”tanya Lily bingung. Kemudian ketika Yunho menggendong Youngri masuk ke dalam apartemennya barulah Lily mengerti maksud Yunho. Di belakang Yunho ternyata ada keempat member DBSK yang lain.

“Annyeong, Lily Noona!”sapa Changmin ceria. “Makanan sudah siap?”

“Yak! Tidak sopan langsung minta makan!”omel Junsu. “Maaf, dia memang tidak sopan, Lily-ssi.”

“Siapa yang tidak sopan?!”seru Changmin pada Junsu. Pertengkaran mereka membuat Lily terkikik kecil.

“Yak! Jangan bertengkar di rumah orang!”omel Jaejoong sambil memukul kepala kedua dongsaengnya itu. “Annyeong, Lily.”sapanya pada Lily.

“Annyeong. Lebih baik kalian semua masuk.”kata Lily lalu mempersilahkan ketiga namja itu masuk. Kemudian ia tertegun ketika melihat namja terakhir yang akan masuk.

Yoochun tersenyum lembut saat melihatnya. “Hai.”

“Hai,”jawab Lily canggung melihat senyuman itu. Ia kembali teringat pada ucapan Yoochun saat mereka terakhir bertemu tiga bulan yang lalu. Dan itu membuatnya merasa sangat malu dan canggung ketika melihat Yoochun.

Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya tertarik dan Yoochun mendekapnya erat. “Bogoshippo…”

Tubuh Lily membeku dalam pelukan hangat Yoochun. Sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan namja itu, dan ia merindukannya. Tiba-tiba pikiran itu menyadarkannya.

“Yak! Jangan memelukku sembarangan!”omel Lily lalu mendorong tubuh Yoochun sampai menabrak dinding.

“Aww!”ringis Yoochun.

“Eomma kenapa bertengkar dengan Yoochun samchon?”

Lily terkejut mendengar suara Youngri. Ia berbalik dan melihat anak itu sedang digendong Jaejoong. Jaejoong tersenyum menggoda pada Lily dan Yoochun.

“Kita tidak bertengkar kok.”bantah Lily lalu cepat-cepat menutup pintu dan buru-buru pergi ke dalam meninggalkan Yoochun, Jaejoong dan Youngri. Dari sana ia bisa mendengar Yoochun yang menyapa Youngri dengan ramah.

“Annyeong Youngie. Kita belum berkenalan kan? Park Yoochun imnida.”ucap Yoochun mengulurkan tangan pada Youngri.

Youngri membalas uluran tangan Yoochun. “Choneun Moon Youngri imnida! Youngie tahu kok siapa samchon. Micky Yoochun DBSK!”ucapnya senang.

“Yoochun samchon ini main drama bersama Eomma Youngie.”jelas Jaejoong sambil membawa Youngri di gendongannya untuk ke ruang tengah ke tempat yang lain berkumpul.

“Mm. Youngie tahu kok! Eomma udah cerita!”kata Youngri lalu melihat ke arah Lily yang sedang meletakkan minum di atas meja untuk tamu-tamunya. Jaejoong mendudukkan Youngri di sofa di sebelahnya, dan Yoochun duduk di sisi Youngri yang satunya, sehingga anak itu duduk diapit di tengah.

“Tapi pasti Youngie belum tahu kalau samchon fans berat Eomma Youngie?”tanya Yoochun.

“Jeongmal? Eomma Youngie kan memang banyak fansnya!”ucap Youngri bangga.

“Bukan hanya fans! Yoochun samchon suka sama Eomma Youngie!”kata Changmin tiba-tiba membuat Lily terkejut dan hampir saja menjatuhkan nampan yang dipegangnya jika saja Jaemin tidak buru-buru memegang nampan yang hampir jatuh itu.

Jaejoong dan Yunho langsung memelototi Changmin yang hanya nyengir tanpa merasa bersalah. Junsu yang berada di samping Changmin langsung memukul kepala Changmin menghilangkan cengiran di wajah evil magnae itu. Sementara Yoochun memperhatikan reaksi Youngri dengan seksama, merasa cemas akan reaksi anak itu. Youngri yang tadinya diam karena terkejut lalu tersenyum.

“Yoochun samchon suka sama Eomma?”tanya Youngri pada Yoochun. Yoochun melirik Lily yang memelototinya lalu mengangguk ragu.

“Trus yang lain, Jaejoong samchon, Junsu samchon dan Changmin samchon suka juga sama Eomma?”tanya Youngri.

“Hah?”ketiga namja yang disebutkan itu kebingungan.

“Jadi nggak suka?”tanya Youngri dengan nada kecewa karena ketiganya tidak menjawab pertanyaannya.

“Bukan begitu Youngie!”jawab Jaejoong buru-buru. “Samchon suka kok sama Eomma Youngie!”

“Samchon juga!”jawab Junsu dan Changmin berbarengan.

Youngri tersenyum lebar. “Yeeeeyy~ Eomma banyak yang suka! Fans Eomma tambah banyak!”ucap Youngri gembira.

“Kurasa kita tidak sepaham,”kata Changmin nyengir.

Kemudian Lily tertawa, membuat yang lain terkejut karena ini pertama kalinya mereka melihat Lily tertawa lepas seperti itu, kecuali Yunho tentunya. Tapi ia juga sudah sangat lama tidak melihat tawa lepas adiknya. Tawa lepas yang menular, membuat yang lain ikut tertawa.

Lily lalu menghampiri Youngri yang duduk di sebelah Yoochun lalu menggendongnya. Ia membawa Youngri untuk duduk di pangkuannya, di sofa di sebelah Yoochun. “Nah sekarang Youngie minum obat sebelum makan dulu ya.”kata Lily dengan mengambil obat-obatan yang berada di meja di hadapannya.

Youngri mendesah.“Lagi?”tanyanya tidak bersemangat. Lily tidak menjawab dan menuangkan obat sirup di sendok dan mendekatkannya pada mulut Youngri. Mau tidak mau Youngri membuka mulutnya dan menelan obat itu.

“Wek! Nggak enak!”kata Youngri setelah Lily memberinya air putih. “Pokoknya setelah ini Youngie nggak akan sakit lagi!”

Lily tersenyum lalu mencium kening Youngri. “Iya. Makanya minum obat ya biar cepat sehat.”

“Mm. Demi Eomma, Youngie akan terus minum obat biar cepat sehat.”kata Youngri lalu mencium pipi Lily. Yoochun tersenyum melihat pemandangan yang menghangatkan hati itu. Dan ia merasakan jantungnya semakin berdebar dengan keras ketika melihat senyum lembut Lily pada Youngri.

Tidak lama kemudian Jihye dan Ang Hyeon muncul dari dapur. “Ayo semuanya, makanan sudah siap!”kata Jihye riang.

***

Lily memperhatikan tamu-tamunya bermain dengan Youngri. Mereka bermain berbagai game, mulai dari playstation, ular tangga, monopoli, scrabble, dan berbagai macam permainan lain yang sangat disukai Youngri. Sudah lama Lily tidak pernah merasa sebahagia ini. Melihat Youngri tertawa gembira saat bermain bersama yang lain, dan tahu jika anak itu akan baik-baik saja, membuat hatinya merasa sangat lega.

Setelah jam makan malam dan mereka kembali bermain, Youngri sudah mulai mengantuk. Ia berkali-kali menguap.

“Youngie ngantuk?”tanya Yoochun pada Youngri di pangkuannya.

“Mm.”Youngri mengangguk sambil mengucek-ucek matanya.

“Sini Youngie, kita ke kamar.”ajak Lily. Ia mengulurkan tangannya pada Youngri ingin mengajaknya ke kamar.

“Biar aku saja,”kata Yoochun lalu bangkit dan menggendong Youngri yang sudah setengah tertidur ke kamarnya. Youngri melambai pada yang lain, lalu memeluk leher Yoochun dan memejamkan matanya. Lily mengikuti mereka dari belakang.

Yoochun meletakkan Youngri dengan perlahan di tempat tidur lalu mengusap lembut wajah anak itu. Lily memperhatikan sikap Yoochun pada Youngri dan mau tidak mau tersenyum melihat perhatian dari Yoochun untuk anak itu.

“Anak yang pintar.”ucap Yoochun.

“Gomapta.”jawab Lily tersenyum. Ia duduk di tepi tempat tidur lalu menundukkan wajahnya untuk mencium kening Youngri.

Yoochun memperhatikan keduanya lalu pandangannya teralihkan oleh frame foto di meja di samping tempat tidur Youngri. Ia mengambil frame itu lalu memandang seksama ketiga sosok di foto itu.

“Ini ayah Youngri?”tanya Yoochun pada sosok berjas putih yang tengah merangkul Lily yang sedang menggendong Youngri di foto itu.

“Ne.”

“Dokter?”

Lily memutar bola matanya. “Dokter anak. Hal itu kan disebutkan di berita. Kurasa semua orang pasti sudah tahu.”

“Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu.”jawab Yoochun tersenyum lembut, membuat Lily lagi-lagi merasa salah tingkah dan memalingkan muka.

“Kau… mencintainya?”tanya Yoochun ragu.

“Sangat.”jawab Lily lembut ketika menatap sosok Joo Won di foto yang dipegang Yoochun. Yoochun merasakan kecemburuan yang besar saat Lily mengatakan hal itu, tapi ia tahu ia tidak berhak merasa cemburu.

“Tapi ia sudah tidak ada. Apa kau tidak bisa mencintaiku?”

Lily terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. “Ka… kau kenapa menanyakan hal seperti itu?”

“Dulu aku berpikir jika rivalku adalah Yunho hyung, makanya aku pikir aku harus menyerah. Tapi ketika mengetahui siapa rivalku sebenarnya, dan keberadaannya sekarang, aku tidak bisa menyerah. Aku tahu kau sangat mencintainya, dan aku juga tidak berharap kau akan mencintaiku sebesar kau mencintai dia. Tapi aku ingin kau tahu kalau aku bersedia menggantikannya untuk menjagamu.”

Kalimat Yoochun yang tiba-tiba dan panjang itu memang membuat Lily bingung dan ia merasa tersentuh. Setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang ingin menjaganya, dan seharusnya ia merasa senang. Tapi ternyata malah tidak. Lily malah merasa cemas.

Karena kenyataan yang selama ini dihadapinya membuatnya tersadar.

“Aku tidak memerlukan siapapun untuk menjagaku.”hanya kalimat itu yang terpikir oleh Lily ketika ia terdiam cukup lama.

Yoochun meletakkan frame foto itu lalu meraih kedua tangan Lily. “Kumohon, izinkan aku untuk dekat denganmu ya? Aku ingin menjagamu dan juga Youngri.”

Dengan perlahan Lily melepaskan tangannya dari genggaman Yoochun. Ia bisa melihat kekecewaan di mata Yoochun. Tapi ia tidak bisa menerima Yoochun, ia takut. Sangat takut.

“I’m sorry, I can’t…”ucapnya lalu keluar kamar meninggalkan Yoochun.

***

“Yoochun samchon! Youngie pernah kesini sebelumnya bersama Eomma!”ucap Youngri gembira saat Yoochun membawanya masuk ke toko es krimnya ‘TimeOut Gelato’.

Yoochun tersenyum pada anak di gendongannya itu. “Samchon tahu. Dan samchon juga tahu kalau Youngie sangat suka es krim disini, makanya samchon bawa Youngie kesini.”katanya lalu membawa Youngri ke konter es krim.

“Youngri boleh pesan es krim apapun yang Youngri suka.”kata Yoochun lalu ia memberi isyarat pada pegawainya yang menjaga konter untuk memberikan es krim apapun yang dipilih Youngri.

“Jinjjayo?”ucap Youngri dengan mata berbinar-binar, membuat Yoochun tertawa.

“Dangyunhaji! Youngie boleh pesan sebanyak apapun!”

Youngri cemberut. “Andwaeyo. Eomma nanti marah kalo Youngie makan es krim terlalu banyak, soalnya Youngie bisa sakit perut. Padahal Youngie suka sekali es krim.”

“Ya jangan dimakan semuanya langsung. Kan bisa dimakan besok-besok.”

Youngri mengangguk gembira. “Kalo begitu Youngie mau yang itu. Trus yang itu, itu, itu, buat dibawa pulang.”kata anak itu dengan menunjuk es krim yang disukainya di etalase.

Setelah memesan es krim, Yoochun membawa Youngri untuk duduk di sudut ruangan. Ia menyadari jika sudah banyak fans yang memperhatikannya tapi ia tahu jika mereka tidak akan mengganggunya dan Youngri, jadi ia hanya membalas lambaian mereka dengan tersenyum.

“Samchon pasti terkenal sekali ya,”kata Youngri ketika melihat sekelilingnya yang ramai karena cassiopeia.

Yoochun tersenyum. “Eomma Youngie juga terkenal.”kata Yoochun lalu mengusap sayang kepala Youngri.

Youngri menyuap es krimnya dan mengemutnya pelan lalu berbicara. “Di rumah sakit di Gwangju semua dokter dan orang-orang rumah sakit kenal Eomma, trus bilang kalo akting Eomma bagus sekali. Tapi Youngie nggak tahu di luar rumah sakit fans Eomma banyak atau nggak.”

“Ini fans Eomma Youngri.”kata Yoochun sambil menepuk dadanya, menunjuk dirinya sendiri.

Youngri tersenyum lebar. “Berarti Eomma keren sekali ya soalnya DBSK aja jadi fansnya Eomma!”ucap Youngri gembira.

Yoochun tertawa, lalu menyuap es krimnya.

“Keundae… Yoochun samchon…”

“Hmm?”

“Yoochun samchon mirip lho sama Appa Youngie.”

Yoochun tersedak karena terkejut mendengar ucapan Youngri. “Mirip?”Yoochun merasa bingung. Ia pernah melihat foto Joo Won dan mereka sama sekali tidak mirip.

“Pandangan samchon saat melihat Eomma, sama seperti pandangan Appa saat melihat Eomma. Kata Hyeon Imo waktu Youngie melihat foto Appa sama Eomma, pandangan itu berarti Appa cinta sama Eomma.”jelas Youngri. Matanya menatap Yoochun penasaran. “Yoochun samchon… cinta sama Eomma?”

Yoochun tidak bisa menjawab apapun. Pertanyaan Youngri begitu polos dan tidak mungkin Yoochun berbohong. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

Youngri tersenyum lebar. “Kalo gitu, Yoochun samchon mau jadi Appa Youngie?”

Mata Yoochun melebar kaget saat mendengar pertanyaan itu. “M…mwo?”

“Chingu-deul Youngie di rumah sakit semuanya punya Appa. Malahan ada yang Appa-nya dua, tapi Appa-nya Youngie nggak ada. Eomma selalu menemani Youngie sendiri. Emang sih ada Hyeon Imo dan Jaemin samchon, tapi kan beda…”ucap Youngri sedih.

“Appa Youngie sekarang dimana?”tanya Yoochun. Ia sebenarnya tahu kalau Joo Won sudah meninggal, tapi ia ingin tahu seperti apa Lily memberitahu Youngri mengenai ayahnya.

“Kata Eomma, Appa Youngie orang yang sangat baik dan Tuhan sangat sayang pada Appa. Jadi Tuhan manggil Appa ke surga. Makanya Eomma selalu bilang kalo Youngie harus jadi anak yang baik, karena kalau melakukan hal baik, itu berarti Appa akan terus ada di sisi Youngri. Appa sekarang jadi malaikat penjaga Youngri.” jelas Youngri dengan tersenyum.

Yyochun tersenyum. Lily sangat pintar memberi penjelasan yang baik pada anaknya.“Appa Youngie orangnya seperti apa?”

“Appa Youngie sangat tampan dan baik hati, terutama pada anak-anak. Makanya Eomma jatuh cinta sama Appa, trus Appa cinta banget sama Eomma, begitu kata Eomma.”ucap Youngri bersemangat, kemudian wajahnya berubah murung. “Keundae… Youngie cuma tahu tentang Appa dari cerita-cerita Eomma. Eomma bilang Appa selalu ada di hati dan pikiran Eomma, tapi tetap saja Eomma sendirian dan pasti kesepian…”

Kemudian Youngri memandang Yoochun penuh harap. “Makanya Youngie mau samchon jadi Appa-nya Youngie, biar Eomma nggak kesepian…”

Yoochun tersenyum mendengar permintaan polos Youngri padanya. Tidak diragukan lagi, Yoochun merasa sangat senang jika Youngri menyukainya dan merestui hubungannya dengan Lily. Tapi ‘merestui’ bukanlah kata yang tepat. Karena saat ini status Yoochun masih bertepuk sebelah tangan.

Yoochun tersenyum lebar. “Samchon mau kok jadi Appa-nya Youngie.”

***

Lily membuka-buka album foto yang berisi kenangannya bersama Joo Won. Senyuman tersungging di bibirnya saat melihat berbagai foto Joo Won yang ia potret secara diam-diam. Ekspresinya berbeda-beda, tentu saja, karena semuanya diambil tanpa sepengetahuan orangnya. Saat Joo Won memeriksa pasiennya dan dahinya mengernyit karena ada masalah pada pasien kecilnya. Saat Joo Won memperlihatkan ekspresi lucu karena ingin menghibur pasien-pasien kecilnya. Saat namja itu tertawa ketika bercanda dengan anak-anak sakit itu. Bahkan ada saat Joo Won memaksa Lily untuk foto bersamanya, dan ia yang mengambil alih kamera untuk menekan shutter button di kamera kesayangan Lily. Foto itu hasilnya tidak sebagus jepretan Lily yang seorang shutterbug, malah foto itu sedikit blur. Sehingga tidak memperlihatkan dengan jelas ekspresi ceria Joo Won dan ekspresi kaget Lily saat blitz kamera mengenai matanya. Tapi Lily tetap menyimpan foto itu. Karena itu pertama kalinya Joo Won memotretnya. (shutterbug= orang yang hobi memotret)

Ada lagi foto-foto selain di rumah sakit. Saat mereka berdua merayakan ulang tahun Joo Won dengan memasak sendiri di apartemen Joo Won. Ada foto Lily yang mengenakan celemek dan terlihat serius memasak. Kemudian foto yang lain menunjukkan Lily yang tersenyum lebar ketika menyadari kamera sedang fokus padanya. Dan lagi-lagi foto itu tidak sebagus foto-foto yang lain, karena Joo Won yang memotretnya, tapi tetap saja Lily menyukai foto itu. Karena di foto itu ia terlihat bahagia. Bahagia bersama namja yang dicintainya.

Begitupun foto-foto saat merayakan ulang tahun Lily. Lalu ada juga saat mereka berfoto selca dan Joo Won mencium pipi Lily. Ada lagi saat mereka berdua berfoto tetapi saat itu Joo Won tidak sedang menatap ke kamera, tapi malah tersenyum dan menatap Lily penuh cinta. Foto itu dulu Jaemin yang memotretkan, dan teman baiknya itu jadi sering menggoda Lily. Karena di foto itu terlihat sekali bagaimana perasaan Joo Won pada Lily. Namja itu sangat mencintainya.

Joo Won memang sudah tidak ada, tetapi Lily akan merasa baik-baik saja jika ia melihat foto-foto Joo Won. Bisa melihat ekspresi penuh cinta yang dirindukannya itu sudah cukup membuat semua perasaan tidak menyenangkan yang saat itu dirasakan Lily menghilang. Sama seperti perasaan Joo Won pada Lily. Dulu Joo Won sering mengatakan hal itu, tapi dengan cara yang berbeda dan juga lucu menurut Lily.

“Honey, thanks to be my aspirin today.”

“Hah? Aspirin?”

“Karena hanya dengan melihat dirimu rasa capek dan sakit kepalaku hilang.”

Dan Lily hanya bisa tertawa karena lagi-lagi Joo Won mengeluarkan kata-kata romantis yang berhubungan dengan obat atau medis.

Lily tersenyum sedih mengingat hal itu. Dulu ia memang tidak mengatakannya, tapi Joo Won juga bagaikan aspirin untuknya. Mungkin itulah penyebabnya penyakit stress-nya jadi sering kambuh dan makin parah. Karena tidak ada lagi aspirin-nya, obat penenang hati dan pikirannya.

Kemudian Lily membuka halaman selanjutnya lalu melihat fotonya bersama Joo Won dan Youngri. Hari itu adalah hari dimana Lily bisa menggendong Youngri. Sebelumnya Youngri harus diinkubator karena lahir prematur.

Lily masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ia bisa jatuh cinta pada bayi mungil itu.

“Yuu, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.”kata Joo Won saat Lily mendatanginya pada jam istirahatnya.

“Nugu?”tanya Lily, tapi Joo Won hanya tersenyum dan menarik tangan Lily lembut, membawanya ke tempat yang tidak disangkanya. Ruang bayi.

Joo Won membawanya untuk mensterilkan tangan dan tubuhnya lalu memakai baju hijau rumah sakit dan masuk ke ruang inkubasi bayi. Disana Joo Won mengajaknya menghampiri salah satu inkubator bayi.

“Bayi ini baru lahir kemarin, ia pasienku.”kata Joo Won pada Lily. Lily menatap bayi kecil itu penasaran. “Ia tampan kan?”

Saat itu Lily tidak bisa mengiyakan kata-kata Joo Won, karena perhatiannya sudah sepenuhnya teralihkan oleh bayi mungil itu. Mungkin bagi orang lain bayi ini terlihat sama saja dengan bayi-bayi lain di ruangan ini. Tapi tidak bagi Lily. Saat melihat bayi itu, Lily tiba-tiba merasakan keinginan yang besar untuk menyentuhnya dengan lembut dan memeluknya dengan sayang. Ia ingin melindungi bayi itu. Hal yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

“Si tampan ini kecil sekali…”gumam Lily tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi di inkubator itu.

“Ia lahir prematur, usianya baru 30 minggu saat kemarin ibunya melahirkannya.”

Lily menatap Joo Won kaget. “Tujuh bulan?”

Joo Won mengangguk. “Dan ia juga punya kelainan jantung,”tambah Joo Won dengan nada muram.

“Jantung?”lagi-lagi Lily kaget. “Tapi ia bisa disembuhkan kan? Ia bisa bertahan kan?”tanyanya cemas.

Joo Won tersenyum. “Itulah yang sedang kuusahakan. Aku yakin bayi ini akan bisa bertahan di meja operasi. Ia bayi yang kuat.”

Lily meletakkan tangannya di kaca inkubator, menahan keinginan untuk menyentuh bayi itu. “Kau dengar itu Aegi? Calon suamiku akan menyembuhkanmu.  Dia dokter yang hebat. Jadi kau harus kuat dan bertahan, oke?”

Joo Won tersenyum lalu mengambil tangan Lily dan mengecup lembut punggung tangannya. “Kau mau menyentuh bayi ini?”

“Boleh?”tanya Lily dengan mata berbinar-binar.

“Tentu saja boleh.”kata Joo Won. Joo Won lalu memasukkan tangan Lily ke salah satu dari dua lubang di dinding inkubator itu. Lubang itu biasanya untuk memasukkan tangan dokter yang ingin memeriksa bayi tanpa membiarkan inkubator terbuka. Bisa juga untuk orangtua bayi yang ingin menyentuh bayi mereka yang di inkubasi. Dan Lily sekarang memasukkan satu tangannya ke salah satu lubang.

Lily menyentuh tangan mungil bayi itu dan merasakan tangan mungil itu menggenggam lemah jari telunjukknya. Perasaan Lily menghangat, ia belum pernah sebahagia ini. Ia bertanya-tanya dalam hati, seperti apa rasanya mempunyai bayi sendiri? Matanya berkaca-kaca.

“Ia lembut dan kecil sekali…”ucap Lily terharu.

“Ne.”jawab Joo Won pelan sambil terus memperhatikan ekspresi Lily saat memandang bayi itu. Ekspresi yang sama yang selalu dilihat Joo Won pada Lily saat Lily memandangnya. Dan saat itu Joo Won yakin, Lily jatuh cinta pada bayi itu. Sama seperti yang dirasakan Joo Won saat pertama kali melihat bayi itu.

“Kau tahu, aku jadi ingin cepat-cepat menikah dan punya bayi.”kata Joo Won setelah Lily mengeluarkan tangannya dari inkubator. Joo Won memeluk pinggang Lily dan mereka bersama-sama memperhatikan bayi mungil itu.

Lily tersenyum. “Na do. Tapi karena kita masih harus menunggu umurku 21 untuk menikah, dan nggak tahu kapan aku bisa hamil, bagaimana jika kita anggap bayi ini sebagai bayi kita?”

“Eiyyy~ ini kan bayi orang.”

“Aku tahu ini bayi orang lain. Tapi maksudku, kita kan bisa belajar jadi orangtua dengan bayi ini.”

Tapi ternyata keesokan harinya ibu bayi itu kabur dari rumah sakit dan sama sekali tidak kembali demi bayi itu. Sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang patut disyukuri. Tapi yang jelas, saat Lily dan Joo Won menikah secara hukum dan mendapatkan hak asuh bayi mungil itu, mereka merasa sangat bahagia. Mereka bersyukur bisa memiliki bayi yang kemudian mereka namai Moon Youngri.

Lily memandang Youngri yang terlelap di tempat tidurnya. Saat ini ia memang melihat-lihat album foto itu dengan duduk di sofa berkarpet di kamar anak itu. Ia tidak ingin meninggalkan Youngri sedikitpun. Sekarang, ketika ia punya waktu lebih banyak untuk bersama anak itu, ia tidak akan menyia-nyiakannya.

Saat Joo Won meninggal, Lily mengalami serangan trauma yang cukup parah. Pertamanya ia histeris lalu setelah capek menangis dan histeris, Lily diam berhari-hari di kamar Joo Won, tidak mau makan dan minum bahkan ketika Jaemin dan Ang Hyeon membujuknya untuk makan. Lily diam tak bergeming, seolah-olah jiwanya sudah terlepas dari tubuhnya. Tapi memang, saat itu jiwanya sudah terlepas sebagian. Joo Won adalah separuh jiwanya. Lily bahkan berpikir ingin  mengakhiri hidupnya.

Sampai suatu hari Jaemin berkata. “Yuu, kau akan terus seperti ini sampai kapan? Youngri… kau tidak melupakannya kan? Tadi ia masuk ICU lagi. Hyung… Ayahnya…. sudah tidak ada, apa kau juga akan meninggalkannya?”tanya Jaemin dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Dan ketika mendengar nama Youngri disebut, mendadak pikiran logis Lily muncul. Ia tidak mungkin meninggalkan anaknya dan juga Joo Won. Ia tidak mungkin meninggalkan anak yang dicintai sepenuh hati olehnya dan juga Joo Won.

Youngri adalah anaknya dan juga Joo Won. Ayah Youngri hanya Joo Won. Dan karena itu Lily tidak yakin bisa membiarkan namja manapun datang ke kehidupannya dan menjadi ayah Youngri.

***

Tanggal 4 Juni, hari ulang tahun Youngri. Lily tersenyum melihat cake yang dibelinya kemarin malam. Cake itu berbentuk tokoh kartun kesukaan Youngri, Pororo, dengan lilin berbentuk angka 6 yang menyala di atasnya. Lily meletakkan kue di meja belajar Youngri, lalu dengan lembut membangunkan anak itu.

“Youngie, kajja ireona.”ucap Lily lembut dengan mengusap lembut pipi Youngri.

“Nghh… Eomma?”gumam Youngri mengantuk dengan mata setengah terpejam. “Sebentar lagi ya…”

Lily tersenyum melihat anaknya yang kembali memejamkan mata. “Youngie. Hari ini tanggal 4 Juni lho.”

Mendengar hal itu Youngri langsung membuka mata lebar-lebar. “Ulang tahun!”ucapnya gembira.

Lily mengambil kembali kue ulang tahun Youngri lalu bernyanyi. “Saengilchuka hamnida… saengilchuka hamnida…. saranghaneun uri adeul…. saengilchuka hamnida…”

Youngri menatap kue itu dengan berbinar-binar. “Make a wish dong chagi.”kata Lily.

Youngri memejamkan matanya untuk berdoa, lalu meniup lilin-lilin kecil yang berjumlah enam di atas kue ulang tahun itu. “Saengilchuka hamnida Youngri!”ucap Lily gembira. Ia meletakkan kue itu di atas kasur Youngri lalu memeluk anak itu dan mencium seluruh wajahnya membuat Youngri terkikik geli.

“Gamsahamnida, Eomma.”ucap Youngri senang. “Nanti ada  pesta ulang tahun Youngri tidak?”

Lily tersenyum. “Tentu saja ada. Youngie mau dirayakan seperti apa?”

“Youngie maunya merayakannya bersama chingu-deul di rumah sakit seperti biasanya.”

“Chingu-deul?”Lily mengernyit. Gwangju cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang, dan Youngri masih belum bisa jalan jauh. Ia tidak bisa terlalu capek.

“Tidak bisa ya Eomma?”tanya Youngri kecewa.

Lily mengubah eskpresi wajahnya. “Bisa kok. Tapi tidak hari ini ya. Gwangju sangat jauh dari sini, Youngri belum boleh kecapekan di jalan.”katanya dengan mengusap lembut pipi Youngri.

Tiba-tiba ekspresi Youngri berubah gembira. “Eomma, Youngri hari ini boleh jalan-jalan sama Yoochun samchon?”

Lily mengernyit. “Yoochun samchon?”

“Ne. Yoochun samchon kan hari ini juga ulang tahun. Ia berjanji akan membawa Youngri ke taman bermain untuk merayakan ulang tahun kami.”

Lily merasa tidak nyaman mendengar Youngri mengucapkan nama Yoochun dengan gembira. Yoochun adalah namja yang baik, tapi tetap saja Lily tidak nyaman membiarkan Youngri dekat dengan Yoochun. Karena ia tahu perasaan Yoochun padanya. Karena perasaannya pun… Lily langsung menggeleng pelan, berusaha menghapus pikiran yang tiba-tiba muncul itu.

“Tidak boleh Eomma?”tanya Youngri kecewa.

“Ah, anhi.”jawab Lily cepat-cepat. “Boleh kok.”

Lily menghela napas dan tersenyum ketika melihat wajah gembira Youngri. Apapun yang terjadi antara dirinya dan Yoochun, ia tidak akan bisa melarang Youngri dekat dengan namja itu. Lily berharap jika ia bisa menghindari Yoochun tanpa perlu melibatkan Youngri. Tapi sepertinya akan sangat sulit.

***

“Samchon! Eomma! Kita naik yang itu yuk!”ucap Youngri gembira dengan menarik tangan Yoochun dan Lily.

Lily hanya mengikuti kemana Youngri menariknya. Setelah berbulan-bulan tidak pergi ke tempat ramai membuat Lily merasa sangat khawatir. Ia berkali-kali memandang ke sekelilingnya, takut ada orang di taman bermain ini yang mengenalinya, walaupun ia sudah berdandan dengan penampilan yang sangat berbeda dari penampilannya saat menjadi artis. Rambut panjangnya diikat ekor kuda lalu memakai topi dan wajahnya ditutupi kacamata. Baju yang dipakainya juga sangat kasual dan santai, baju kaus dengan hoodie dan celana jeans pendek.

Mereka mengantri di permainan carousel dan Youngri berceloteh gembira. Tapi Lily tidak bisa menanggapinya dengan biasa. Yoochun tersenyum melihat Lily yang sangat gugup. “Tenang saja, tidak akan ada yang mengenali kita.”bisik Yoochun menenangkan. Namja itu juga memakai baju yang kasual. Lily memperhatikannya. Yoochun memakai jeans berwarna biru tua, kaus biru dilapisi jaket jeans biru belel. Ia juga memakai topi dan kacamata. Yoochun terlihat sangat seksi memakai baju itu, bahkan pakaian apapun yang dipakai Yoochun, Lily yakin akan membuatnya tetap terlihat seksi. Lily mengutuk dalam hati dirinya sendiri saat berpikir seperti itu. Ini karena Ang Hyeon yang meledeknya terus sejak sebelum ia pergi dengan Yoochun.

“He’s hot,”kata Ang Hyeon.

“Who?”

“Park Yoochun.”

“Are you sure you are not talking about my brother?”tanya Lily menggoda, membuat wajah Ang Hyeon memerah.

“Yunho-ssi is hot too.”Ang Hyeon mengakui malu-malu.

“Oh ya? Itu kan dulu. Bagaimana setelah ia menciummu kemarin malam? Itu pengalaman luar biasa kan. Akhirnya setelah bertahun-tahun Lee Ang Hyeon dan Jung Yunho…”

“Oke! Ia jauh lebih seksi dari sebelumnya!”ucap Ang Hyeon sebal dengan wajah memerah malu, membuat Lily tertawa. “Tapi bagimu Park Yoochun pasti lebih seksi.”

Lily memutar bola matanya. “Lee Ang Hyeon, kau tahu kalau aku sudah banyak bertemu namja yang lebih seksi daripada dia.”

“Yeah, I know. But only him who can capture your heart.”

“I don’t know what you’re talking about.”elak Lily.

“Jangan mengelak dari perasaanmu, Yuu. Menghindar tidak akan membuat semuanya lebih mudah. Kau menginginkannya sama dengan dulu kau menginginkan Joo Won Oppa.”

“Lily? Lily?”Yoochun menyentuh lengannya pelan membuat Lily tersadar dari lamunannya mengenai pembicaraannya bersama Ang Hyeon.

“Ah ne?”tanya Lily yang terkejut ketika merasakan sentuhan lembut Yoochun di lengannya.

“Kau diam saja sejak tadi, membuat Youngri cemas.”kata Yoochun. Lily menunduk untuk melihat wajah cemas Youngri.

“Eomma kenapa?”tanya Youngri cemas.

“Eomma gwenchana. Hanya sedang memikirkan sesuatu.”kata Lily lalu menggendong Youngri. Untuk anak berumur enam tahun Youngri memang cukup ringan karena sakit. Tapi sekarang tubuh anak itu tidak sekurus dulu, dan Lily mengernyit menyadari jika anak itu lebih berat dari biasanya. Yoochun menyadari hal itu.

“Biar aku saja.”kata Yoochun dengan mengambil Youngri dari gendongan Lily. Gestur simpel yang membuat Lily tersentuh. Joo Won dulu juga sering melakukannya. Tapi sekarang tidak ada Joo Won disini…

Yoochun benar. Tidak ada yang mengenali mereka. Dan mereka bertiga bersenang-senang bersama naik berbagai macam permainan. Lily merasa senang karena ia melihat wajah gembira Youngri. Untuk sementara ketidaknyamanannya akan Yoochun terlupakan.

Saat makan siang, lagi-lagi Yoochun melakukan gestur yang menunjukkan sisi perhatiannya. Ketika Lily sibuk menyuapi Youngri makan dan tidak juga menyentuh makanannya, Yoochun menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Lily.

“Apa?”tanya Lily bingung.

“Makan.”ucap Yoochun.

“Aku bisa sendiri.”elak Lily tidak nyaman.

“Kalau kau baru makan setelah selesai menyuapi Youngri, makananmu akan dingin dan tidak akan enak lagi.”kata Yoochun tersenyum.

Lily mengernyit dan baru akan memprotes. “Eomma, ayo mau ya disuapi Yoochun samchon.”kata Youngri memaksa.

“Youngie…”

“Nanti makanan Eomma dingin dan nggak enak lagi.”kata Youngri meniru Yoochun. Akhirnya karena tahu ia tidak akan bisa membantah Youngri, Lily mau disuapi Yoochun. Dan Lily berani bersumpah ia melihat sekilas Yoochun mengedip pada Youngri yang dibalas dengan kedipan yang sama oleh Youngri.

Beberapa kali Yoochun mengelap sisa-sisa makanan yang menempel di sudut bibir Lily dengan tisu, sama seperti yang dilakukan Lily pada Youngri. Youngri pun tersenyum lebar lalu ikut-ikutan mengelap sudut bibir Yoochun dengan tisu, membuat Yoochun tertawa.

Dan saat itu semuanya terasa sempurna. Ini gambaran keluarga yang dulu sangat diinginkan Lily. Tapi bukan Joo Won yang ada disini.

Bukan Joo Won.

***

Yoochun meletakkan Youngri yang tertidur ke ranjang kecil anak itu lalu mengecup lembut keningnya.

“Aku belum pernah melihat Youngri sesenang ini. Gomapta, Park Yoochun-ssi.”ucap Lily.

“Cheonma.”jawab Yoochun dengan tersenyum lembut, membuat Lily salah tingkah.

“Kau tidak mau mengucapkan yang lain padaku?”tanya Yoochun berharap.

“Apa?”

“Kau tahu kan sekarang tanggal 4.”

Lily mengerti maksud Yoochun, tapi ia sengaja pura-pura tidak mengerti. “Lalu?”

Yoochun menatap kecewa Lily, kemudian menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku akan pulang sekarang.”kata Yoochun dan berjalan keluar dari kamar. Entah kenapa Lily merasa bersalah dan sedih ketika melihat wajah kecewa Yoochun. Kemudian sebelum Yoochun mencapai pintu depan apartemen, Lily memanggilnya.

“Yoochun-ssi.”

Yoochun berbalik. “Ne?”

“Saengilchuka hamnida.”ucap Lily dengan tersenyum kecil.

Kalimat sederhana itu ternyata membuat efek yang sangat besar pada Yoochun. Ia tersenyum sangat lebar membuat pipinya naik dan semakin chubby lalu memperlihatkan lesung pipi yang terlihat imut.

“Aku pikir kau tidak akan mengucapkannya.”ucap Yoochun gembira.

Lily tersenyum. Melihat Yoochun segembira ini anehnya membuatnya merasa gembira juga. “Aku memang tidak ingin mengucapkannya. Tapi aku merasa berterima kasih padamu karena kau mengajak Youngri jalan-jalan.”

“Aku melakukannya karena aku menyukai Youngri. He’s so adorable.”

Lily tersenyum. “I know.”

“Kalau kau merasa berterima kasih, kau harus memberiku hadiah.”

“Kau ingin apa dariku?”

Tiba-tiba tanpa diduga Lily, bibir Yoochun yang lembut dan hangat sudah menempel di bibirnya. Lily terkejut untuk beberapa saat, tapi ketika bibir Yoochun mulai melumat lembut bibirnya, ia pun perlahan membalas ciuman itu.

Ciuman mereka semakin panas. Lily merangkulkan tangannya di leher Yoochun, dan Yoochun memeluk erat tubuh Lily menempelkan tubuh mereka yang semakin bergairah. Ketika merasa sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi, Yoochun mengangkat tubuh Lily yang otomatis langsung melingkarkan kakinya di pinggang Yoochun. Kemudian Yoochun membawa Lily masuk ke kamar Lily dan merebahkan diri mereka di atas kasur empuk itu.

Lily tahu ia harus berhenti. Tapi ketika Yoochun terus- menerus menciumi wajahnya dan mengucapkan betapa ia mencintai Lily, Lily tidak bisa berhenti. Kalau orang lain yang melakukan ini, mungkin ia akan memukul namja itu. Tapi ini Yoochun. Lily tidak pernah tahu jika perasaannya sedalam ini pada namja itu. Ia menginginkan Yoochun, sangat menginginkan Yoochun, membuatnya membalas ciuman Yoochun dengan semakin bergairah.

Mungkin nanti ia akan menyesali malam ini, tapi Lily tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah ia ingin merasakan lebih dari apa yang diberikan Yoochun padanya saat ini.

***

Yoochun memandangi wajah Lily yang masih tertidur lelap. Tidak puas-puasnya ia memandangi wajah cantik yeoja yang ia cintai. Lily terlihat tenang dan imut saat sedang tidur dan itu membuat Yoochun tidak bisa menahan dirinya lagi lalu mencium lembut bibir Lily.

Semalam merupakan hal yang luar biasa bagi Yoochun. Lily memang tidak membalas kata-kata cinta Yoochun. Tapi Yoochun bisa merasakan itu semua dari gerakan tubuh Lily. Ia tahu Lily mempunyai perasaan yang sama padanya.

Dan ada hal yang membuat Yoochun terkejut. Lily masih perawan tadi malam. Berarti Yoochun adalah namja pertama yang menyentuhnya, dan itu membuat Yoochun merasa sangat senang, merasa sangat spesial.

Karena merasa terganggu dengan kecupan-kecupan Yoochun, kelopak mata yang masih terpejam itu kemudian bergerak perlahan lalu membuka. Lily terkejut melihat wajah Yoochun begitu dekat dengannya. Langsung saja ia mendorong Yoochun dan bangun duduk. Lily meringis ketika merasakan bagian bawah tubuhnya terasa sakit.

“Pelan-pelan saja.”kata Yoochun lembut dengan menyentuh lengannya yang polos, membuat Lily berjengit merasakan tangan hangat itu menyentuh kulitnya.

Lily melihat tubuh Yoochun dan terkejut ketika menyadari jika namja itu tidak memakai baju dan ia menyadari jika dirinya pun tidak memakai apapun, sehingga ia menarik selimut untuk menutupi dadanya. Lily merasa bingung dengan posisi mereka sekarang. Kemudian ingatan tadi malam muncul di pikirannya.

Dan Yoochun berharap pikirannya salah saat melihat ekspresi ketakutan Lily.

“Apa… apa yang kau lakukan padaku?”tanya Lily dengan suara gemetar. Ia mulai ketakutan. Kenapa ia bisa melakukan hal ini dengan Yoochun?

“Lily…”ucap Yoochun pelan, berusaha menyentuhnya. Tapi Lily menepisnya kasar.

“Don’t touch me!”serunya.

Yoochun merasakan hatinya perih mendengar penolakan bernada tajam dari Lily itu. Ia pikir pagi ini semuanya akan baik-baik saja. Hubungan mereka akan mengalami kemajuan. Tapi melihat ekspresi di wajah Lily membuat harapan Yoochun langsung musnah saat itu juga.

Mereka hanya terdiam beberapa saat. Lily memeluk erat selimut yang menutupi dadanya dan hanya menatap kosong ke depan, sementara Yoochun menatapnya dengan sedih dan bingung.

“Pakai bajumu,”kata Lily memecahkan keheningan di antara mereka. “Kau harus segera pergi dari sini sebelum Youngri bangun.”

Perasaan Yoochun semakin perih mendengar hal itu. “Lily…”

“Jebal… Park Yoochun-ssi. Aku tidak ingin berbicara denganmu sekarang.”

Yoochun menghela napas lalu bangkit dari tempat tidur. Segera saja Lily memalingkan muka agar tidak melihat tubuh Yoochun yang polos tanpa sehelai benang. Yoochun memungut satu persatu pakaiannya di lantai dan memakainya.

“Sudah selesai.”kata Yoochun setelah selesai memakai pakaiannya. Walaupun begitu Lily tetap tidak mau melihat ke arahnya.

“Aku pergi sekarang. Tapi nanti kita harus membicarakan ini Lily.”kata Yoochun. Ia menunggu jawaban Lily, tapi yeoja itu hanya diam. Yoochun menghela napas lalu pergi keluar dari kamar Lily.

Entah bagaimana hubungan mereka nanti setelah hari ini. Yoochun sudah mulai merasa cemas memikirkannya.

***

“Sebenarnya kalian kenapa?”tanya Ang Hyeon bingung. “Yunho Oppa bilang Yoochun-ssi akhir-akhir ini jadi terlihat murung. Dan aku yakin pasti ada masalah di antara kalian berdua.”

“Tidak ada masalah apa-apa.”jawab Lily pelan. Matanya tidak lepas dari tivi yang ditontonnya. Walaupun begitu Ang Hyeon yakin Lily sama sekali tidak memperhatikan apa yang ditayangkan di tivi itu. Pikirannya pasti menerawang ke hal-hal lain. Dalam hal ini mungkin Park Yoochun.

“Kalau begitu kenapa kau selalu menolak bertemu atau mengangkat telponnya selama hampir dua minggu ini?”

Lily memalingkan wajahnya dari buku dan memandang Ang Hyeon kesal.“Sejak awal aku tidak pernah dekat dengannya. Jadi untuk apa aku bertemu dan telpon-telponan dengannya.”

Ang Hyeon menghela napas. “Ia mencintaimu Yuu.”

“Tidak. Ia tidak mencintaiku.”

“Kenapa kau bisa yakin ia tidak mencintaimu?”

“Kau sendiri, kenapa bisa yakin ia mencintaiku?”

“I could see that in his eyes when he saw you.”

“Really? I’m sure you couldn’t see that in my brother eyes.”ucap Lily dengan nada mengejek. “Kalau tidak bagaimana mungkin kalian baru bersama sekarang.”

Ang Hyeon terdiam sejenak dan balas memandang Lily yang menatapnya tajam. “Aku tahu sejak dulu kalau Yunho Oppa punya perasaan spesial padaku. Aku hanya tidak percaya diri untuk bersamanya. Dan aku yakin saat ini pun kau merasa begitu pada Yoochun-ssi.”

“Aku? Tidak percaya diri? Jangan ngaco, Lee Ang Hyeon.”ucap Lily tajam.

“Kau tidak percaya jika dirimu bisa bahagia selain dengan Joo Won Oppa.”

“Bukannya aku tidak percaya diri. Tapi aku memang tidak bisa mencintai orang lain selain Joo Won Oppa. Lagipula aku dan Yoochun sama sekali tidak cocok.”

“Kenapa? Karena dia bukan dokter ahli bedah anak? Karena dia tidak menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menolong anak-anak di rumah sakit? Karena dia bukan ayah Youngri? Atau karena…”

“Karena dia bukan Joo Won Oppa!”seru Lily marah. Yoochun memang sangat berbeda dengan Joo Won. Lily sudah sering membanding-bandingkan mereka berdua dalam pikirannya. Mereka berdua mempunyai sifat yang berkebalikan.

“Mereka dua orang yang berbeda, Yuu. Kau tidak bisa membandingkan mereka.”

“Justru karena mereka berbeda, aku tidak bisa bersamanya. Aku hanya mencintai Joo Won Oppa. Harus dia orangnya.”

“Jadi begitu?”

Lily dan Ang Hyeon terkejut mendengar suara itu. Mereka menoleh ke asal suara dan melihat Yunho dengan Yoochun yang sedang menggendong Youngri yang tertidur. Hati kecil Lily berharap jika Yoochun tidak mendengar ucapannya tadi. Tapi melihat ekspresi sedih namja itu sudah membuktikan hal yang sebaliknya dari harapan Lily.

“Aku akan mengantar Youngri ke kamar,”kata Yunho mengambil Youngri yang tertidur di gendongan Yoochun. Ia melirik Ang Hyeon dan dengan isyarat mata Ang Hyeon mengikutinya meninggalkan Lily dan Yoochun berdua.

“Sudah berapa lama kau disini?”tanya Lily memulai pembicaraan tanpa menatap Yoochun.

“Cukup lama untuk bisa mendengar bagaimana perasaanmu.”kata Yoochun muram.

“Kalau begitu kau seharusnya mengerti kan kalau…”

“Dia seperti apa?”

“Hah?”

“Seperti apa Joo Won itu? Bagaimana sifatnya? Bagaimana cara ia memperlakukanmu? Apa yang dia miliki yang harus aku miliki agar kau bisa mencintaiku?”tanya Yoochun, merasa putus asa.

Lily terdiam memandang Yoochun. Ia terkejut dengan ucapan Yoochun itu. Apakah Yoochun sebegitu menyukainya sampai-sampai berpikiran seperti itu?

Yoochun maju dan mendekati Lily, lalu ia memegang kedua lengan Lily dengan lembut.

“Aku akan melakukan apapun untukmu. Katakan, aku harus seperti apa agar kau mau bersamaku?”

Lily menggeleng, tanpa berani memandang balik mata sedih Yoochun. “Kalaupun kau tahu, kau tetap tidak akan bisa menyamainya. Aku tetap tidak bisa bersamamu.”

Yoochun melepaskan kedua tangannya dari lengan Lily dan menghela napas. “Tapi kau tahu kalau aku tidak akan menyerah kan?”

“Park Yoochun! Bukankah sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak bisa?!”

“Dan bukankah aku sudah bilang berkali-kali kalau aku mencintaimu? Kau milik Joo Won sampai beberapa tahun lalu. Ia sudah pergi bertahun-tahun yang lalu. Kau tidak boleh terus menangisi kematiannya. Seharusnya kau sadar dan…”

PLAAK.

Mata Yoochun melebar kaget saat merasakan tamparan di pipi kirinya.

“Berani-beraninya kau mengatakan hal itu! Kau bukan siapa-siapaku! Bagaimana mungkin kau merasa dirimu berhak pada diriku! Joo Won Oppa memang sudah pergi. Tapi aku tetap mencintainya apapun yang terjadi! Dan kau tidak akan pernah bisa menggantikannya!”seru Lily dengan mata berkaca-kaca.

Tamparan di pipi itu tidak berarti apa-apa bagi Yoochun dibandingkan sakitnya hatinya saat ini. Ia tahu sejak awal jika Lily tidak akan pernah bisa melupakan Joo Won, dan seharusnya ia bisa mengantisipasi rasa sakit ini. Tapi ternyata sakitnya tetap saja tak tertahankan.

“Jangan salah paham, aku memang mencintaimu, tapi aku tidak ingin menggantikannya atau menyuruhmu melupakannya.”ucap Yoochun pelan, suaranya bergetar karena perasaan marah dan sedih yang melingkupinya. “Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Tapi jika ternyata itu tidak cukup baik untukmu memandangku, aku akan menyerah.”

Jangan. Ucap Lily dalam hati. Jangan menyerah padaku. Tapi kenapa Lily tidak bisa mengatakannya dengan keras?

Yoochun berjalan pergi menuju pintu apartemen Lily. Kemudian ia berhenti sesaat dan kembali memandang Lily yang masih terpaku di ruang tamu apartemen. “Lily.”panggilnya.

Lily balas menatapnya. “Gomawo. Karena kau sudah membuatku merasakan mencintai seseorang sebesar ini. Kurasa ini pelajaran berharga untukku agar jangan pernah lagi jatuh cinta pada orang yang salah.”ucap Yoochun dingin lalu keluar dari apartemen, meninggalkan Lily yang masih terpaku dengan ucapan dingin Yoochun.

“Aku kecewa padamu dongsaeng.”ucap Yunho yang tiba-tiba muncul dari kamar.

“Aku tidak mau membicarakan ini denganmu Oppa.”

“Tidak. Kau harus mendengarkanku. Aku tidak tahu jika mencintai Joo Won bisa membuatmu menjadi orang yang egois seperti ini. Kau terus-menerus berusaha melindungi perasaanmu sendiri tanpa memikirkan perasaan Yoochun.”

“Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku! Kau tidak mengalaminya!”

“Mungkin aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku tahu apa yang membuatmu seperti itu. Kau takut.”ucap Yunho tajam.

“Takut? Takut apa?”

“Takut jatuh cinta lagi. Takut kehilangan lagi. Takut terluka lagi.”ucap Yunho sedih.

Lily terdiam. Ia tahu perkataan Yunho benar. Yunho, sampai kapanpun, selalu bisa mengerti isi hatinya.

“Mungkin kau berpikir akan mengkhianati Joo Won jika kau mencintai Yoochun. Tapi seharusnya kau tahu pasti jika orang yang sudah mati––”

“Hentikan!”Lily tidak mau dengar lagi. ia tidak mau berkali-kali diingatkan jika Joo Won sudah mati.

Tapi Yunho tidak menghiraukannya. “ –perasaannya tidak akan lebih penting dibandingkan orang yang masih hidup dan bernapas. Jika dengan melindungi perasaan Joo Won atau perasaanmu sendiri, kau harus melukai perasaan Yoochun, aku tidak bisa menerima hal itu, Yuu. ”

Yunho baru akan memulai perkataan lain, tapi ia berhenti ketika melihat Lily sudah mulai menangis, bahkan terisak-isak. Yunho menghela napas lalu menghampiri adiknya itu dan memeluknya, berusaha menenangkannya.

“Apa yang sudah kulakukan Oppa…?”

Semua yang diucapkan Yunho sangat mengena di hati Lily, dan sekarang ia merasa menyesal. Ia menyesal sudah menyakiti hati Yoochun. Dan ia takut ia tidak bisa mengembalikan semuanya kembali seperti semula.

***

Lily sudah banyak mengalami masalah dalam hidupnya yang membuat kalimat ‘penyesalan selalu datang terlambat’ menjadi sangat benar. Ia sudah pernah mengalaminya berkali-kali dan ia selalu bersumpah untuk tidak akan pernah mengalami hal itu lagi. Tapi tetap saja ia mengalaminya lagi. Dan ia rasa ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Lily sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Yoochun selama tiga bulan ini. Ia ingin bertemu langsung dengan Yoochun dan meminta maaf. Tapi namja itu sama sekali tidak pernah mengangkat telponnya atau mau bertemu dengannya. Seringkali Lily meminta Yunho menyampaikan pesannya pada Yoochun. Dan balasan yang dititipkan Yoochun pada Yunho adalah hanya selembar kertas bertuliskan ‘aku sudah memaafkanmu’.

Tapi bukan itu yang Lily inginkan.

Lily mencintai Yoochun. Ia hanya ingin mengakui hal itu sekarang. Ia tahu jika Yoochun mungkin tidak akan mau menerimanya lagi setelah malam itu ia menolak Yoochun. Tapi ia hanya ingin mengatakan perasaannya itu. Lily tidak ingin Yoochun berpikir bahwa dirinya tidak berarti sama sekali untuk Lily. Lily ingin Yoochun tahu jika namja itu, walaupun mereka tidak saling mengenal lama, sangat berarti di dalam hidup Lily.

“Ah! Park Yoochun!”

Lily menoleh ke asal suara ketika mendengar nama Yoochun disebut. Ia melihat ke arah karyawan cafe-nya yang sedang berkerumun melihat ponsel salah satu pelayan yeoja yang memperlihatkan foto-foto terbaru Yoochun.

“Tampan sekali ya. Tapi sayang sekali, dari kelima member DBSK, hanya dia yang belum pernah datang ke cafe kita.”

“Iya. Padahal dia kan partner sajangnim dalam drama. Seharusnya ia yang paling sering datang selain Yunho-ssi.”

Penyebabnya adalah aku. Jawab Lily pedih dalam hati.

Dalam tiga bulan terakhir semenjak ia bertengkar dengan Yoochun malam itu, ada banyak hal yang berubah dalam hidup Lily. Ia memutuskan untuk tidak berkarir sebagai aktris lagi dan mulai membuka usaha cafe di daerah Gangnam-gu. Awalnya pelanggan cafe itu hanya fansnya, tapi seiring berjalannya waktu, cafe itu mulai banyak pengunjung karena tempatnya yang nyaman dan makanannya yang enak. Selain itu, Lily terkadang melayani pengunjung sendiri, dan orang-orang akan terkesima pada sikapnya yang ramah yang jarang diperlihatkan pada orang. Bahkan dengan tidak berakting pun Lily berhasil menambah jumlah fansnya. J

Yunho dan member DBSK lain sering datang kesana, hanya Yoochun yang tidak pernah, membuat Lily sangat sedih. Apa kau begitu membenciku sekarang, Park Yoochun?

“Hye Jin-ah, aku akan menjemput Youngri ke sekolah. Kau urus semuanya ya.”kata Lily pada salah satu karyawannya.

“Ne, sajangnim.”

Lily pergi dari cafenya dan menyetir mobilnya menuju sekolah Youngri. Sekarang Youngri sudah mulai bersekolah dan Lily merasa sangat bahagia melihat putranya bisa bermain sesuka hati di sekolah dan tidak perlu kembali ke rumah sakit lagi.

Lily mengetuk-ngetukkan jarinya ke setir mobil, merasa tidak sabaran dengan macetnya jalan yang dilaluinya. Ia sudah terlambat seperempat jam dari waktunya menjemput Youngri. Ia merasa cemas. Walaupun ada guru sekolah yang menemani anak itu, tapi ia tetap saja tidak mau Youngri menunggu lama.

Ketika sampai di sekolah Youngri, Lily sudah sangat terlambat. Ia terlambat setengah jam dan sekolah sudah terlihat sepi. Lily berjalan dengan panik ke dalam sekolah dan mencari Youngri ke kelasnya. Tapi tidak ada siapapun disana. Bahkan tidak ada guru sama sekali. Membuatnya semakin panik.

Kemudian Lily berlari ke halaman belakang sekolah, dan disana ia melihat Youngri bersama seseorang yang tidak disangka-sangkanya. Namja yang sangat dirindukan Lily saat ini.

“Samchon sangat mencintai Eomma ya?”tanya Youngri pada namja itu.

Namja itu tersenyum. “Sangat.”

Jantung Lily berdegup kencang.

***

Yoochun merasa dirinya pengecut sekali dengan melakukan hal ini. Dalam tiga bulan terakhir ini ia tidak mau menemui Lily satu kalipun dan hanya melihat yeoja yang dicintainya diam-diam dari kejauhan. Walaupun ia ingin menemui Lily, ia tidak siap untuk tersakiti lagi. lily mungkin merasa menyesal dan meminta maaf karena sudah menyakiti hati Yoochun, tapi tetap saja bukan hal itu yang Yoochun inginkan.

Apakah Yoochun egois jika ia menginginkan Lily balas mencintainya? Tidak, Yoochun yakin jika Lily juga mencintainya. Lily hanya tidak mau mengakuinya.

Yoochun mengamati dari kejauhan Youngri yang sedang menunggu Lily menjemputnya di depan sekolah. Inilah yang sering dilakukan Yoochun selama beberapa bulan belakangan ini. Menemui Youngri di sekolah saat istirahat makan dan makan bersama dengan anak itu. Lalu setelah itu kembali lagi saat jam pulang sekolah hanya untuk melihat Lily dari jauh.

Tapi saat ini sudah setengah jam Youngri menunggu dan Lily tidak juga datang. Sebenarnya yeoja itu kemana?

Karena merasa kasihan melihat Youngri menunggu disana ditemani guru sekolahnya, akhirnya Yoochun turun dari mobilnya dan menghampiri Youngri.

“Yoochun samchon!”ucap Youngri gembira dan memeluk Yoochun. Yoochun tersenyum lalu menggendong Youngri.

“Mana Eomma?”tanya Yoochun.

“Eomma Youngri menelpon dan mengatakan ia sedang terjebak macet sekarang, jadi akan terlambat menjemput.”jelas guru sekolah Youngri yang sudah mengenal Yoochun karena seringnya Yoochun mengunjungi Youngri.

“Kalau begitu saya akan menemani Youngri sampai ibunya datang.”kata Yoochun, lalu guru sekolah Youngri meninggalkan mereka berdua.

“Yoochun samchon kenapa datang lagi?”tanya Youngri gembira saat Yoochun membawanya ke halaman belakang sekolah itu. Ia mendudukkan Youngri di kursi dan duduk di sebelahnya.

“Memangnya samchon tidak boleh bertemu lagi dengan Youngri?”tanya Yoochun dengan nada merajuk, membuat Youngri terkikik geli.

“Samchon boleh kok datang. Tapi nanti ketemu Eomma lho.”

“Lho? Memangnya kenapa kalau bertemu Eomma?”

“Eyyy~ samchon! Memangnya Youngie nggak tahu kalo samchon lagi menghindari Eomma.”

Yoochun terkejut dengan ucapan Youngri itu. Bagaimana mungkin anak ini tahu?

“Benar kan?”tebak Youngri. “Youngie tahu kalo Eomma sama samchon lagi bertengkar. Makanya samchon nggak pernah lagi main ke rumah. Padahal dulu samchon selalu datang, malah maksa-maksa masuk ke rumah walaupun Eomma nggak suka.”

Yoochun tertawa mendengar tebakan Youngri. “Pintar sekali!”

“Trus? Yoochun samchon mau ketemu Eomma sekarang?”

Yoochun menghela napas. “Mollayo. Samchon cuma mau menemani Youngri sekarang.”jawab Yoochun pelan. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan Lily sekarang, tapi perasaan kangennya pada Lily sudah semakin menumpuk. Dan Yoochun merasa ia bisa gila karena itu.

“Samchon sangat mencintai Eomma ya?”tanya Youngri.

Yoochun tersenyum lembut pada anak itu. “Sangat.”

“Lalu kenapa samchon terus menghindari Eomma?”

“Karena samchon nggak bisa bikin Eomma Youngie bahagia.”

“Kenapa?”tanya Youngri kecewa.

“Karena samchon bukan appa Youngie.”jawab Yoochun pedih.

“Tapi samchon bisa kok jadi appa Youngie. Youngie mau samchon jadi appa Youngie yang kedua.”

Yoochun tersenyum sedih. Seandainya Lily juga berpikir seperti itu, ia pasti bahagia. “Waeyo? Apa alasannya?”

“Soalnya samchon cinta Eomma dan juga Youngri. Itu sudah cukup membuat Youngie bahagia. Youngie yakin Eomma juga akan bahagia jika samchon mencintai Eomma.”

Yoochun tersenyum sedih lalu menggeleng pelan. “Tidak akan bisa, Youngie-ya.”

“Kenapa tidak bisa?”

Yoochun terkejut mendengar suara itu. Suara yang sangat dirindukannya. Ia menoleh ke asal suara dan melihat Lily yang sekarang matanya sudah berkaca-kaca. Yoochun memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Lily.

“Mianhe, seharusnya aku tidak datang.”kata Yoochun lalu pergi melewati Lily. Tapi ia tidak bisa pergi, karena Lily tiba-tiba memeluknya erat dari belakang.

“Maafkan aku.”ucap Lily pelan.

Yoochun menghela napas. “Aku sudah memaafkanmu.”kata Yoochun. Tangannya berusaha melepaskan pelukan Lily di pinggangnya, tapi Lily tetap bersikeras memeluknya erat.

“Lalu kenapa kau tidak mau menemuiku lagi?”

Kali ini Yoochun memaksa melepas tangan Lily. “Jangan dilepas––”Ternyata Yoochun hanya mengubah posisi pelukan Lily. ia berbalik sehingga sekarang Lily memeluk Yoochun dengan menghadapnya.

“Kalau aku menemuimu lagi, aku tidak akan berhenti. Apa kau tidak akan keberatan?”tanya Yoochun.

Lily menggeleng. “Aku tidak akan keberatan.”

“Kalau aku menemuimu lagi, aku akan memaksamu untuk menyukaiku.”

“Aku tidak akan keberatan.”

Yoochun terkejut mendengar jawaban yang tidak disangkanya itu.

“Kalau aku menemuimu lagi, kau harus balas mencintaiku.”ucap Yoochun serius. Ia ingin menguji perasaan Lily padanya, dan ia harap jawaban Lily tidak akan menyakitinya lagi.

Lily terdiam lama, membuat Yoochun merasa sangat cemas. Apa kali ini ia akan merasakan patah hati lagi?

Yoochun benar-benar kecewa dengan sikap diam Lily. “Lupakan sa––”

Mata Yoochun melebar kaget saat merasakan bibir lembut Lily mengecup bibirnya.

“Aku tidak akan keberatan.”kata Lily, tersenyum lebar memandangnya.

“M..Mwo?”tanya Yoochun kaget.

“Saranghae, Park Yoochun.”ucap Lily sepenuh hati dengan memandang Yoochun dalam-dalam.

Yoochun tersenyum sangat lebar. “Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan keberatan kan untuk menikah denganku?”tanya Yoochun. Tangannya kini sudah berada di pinggang Lily dan menarik tubuh Lily untuk semakin menempel pada tubuhnya.

“Mwo?”ucap Lily kaget. Belum apa-apa namja ini langsung melamarnya?

Yoochun menoleh pada Youngri yang sedang terkikik melihat ekspresi ibunya. “Youngie-ya, menurutmu kapan kami bisa menikah?”

“Secepatnya Yoochun Appa!”ucap Youngri gembira.

“Mwo? Appa?”ucap Lily lebih kaget dengan sebutan itu.

Yoochun tersenyum licik.“See? Our son want us to marry soon. You don’t have another choice, Mrs. Park to-be.”

Lily tersenyum mendengar kata terakhir yang diucapkan Yoochun. Ny. Park. Lily Park. Ia rasa ia menyukai nama itu.

“Up to you, Mr. Park.”jawab Lily.

Yoochun tersenyum lebar lalu mencium bibir Lily sekali lagi. Ia menghampiri Youngri dan menggendongnya. Dan setelahnya menggandeng tangan Lily. Mereka berjalan bergandengan pergi dari sekolah Youngri.

“Sekarang kita mau kemana?”tanya Youngri.

“Pulang dan makan.”kata Lily.

“Makan dan jalan-jalan.”kata Yoochun.

Lily dan Yoochun mengatakannya dengan berbarengan. Mereka berdua berpandang-pandangan dan sama-sama mengernyit tidak setuju.

“Jalan-jalan kemana?”tanya Lily.

“Berenang.”jawab Yoochun, “Youngie mau kan?”tanyanya pada Youngri.

Youngri tersenyum lebar lalu mengangguk senang.

“Tidak boleh. Sekarang hari sudah mendung.”jawab Lily tegas.

“Lho? Kan bukan hujan.”protes Yoochun. “Lagipula kalau nanti hujan kita kan bisa berteduh.”

Lily menggeleng. “Tetap tidak boleh. Udaranya tidak bagus untuk bermain di tempat terbuka. Aku tidak mau kalian sakit, dan kau, Park Yoochun, bisa terkena asma. Lebih baik kita pulang dan beristirahat saja.”

Yoochun tersenyum lebar mendengar perhatian Lily padanya. Ia menunduk sedikit lalu mengecup lagi bibir Lily.

“Kurasa aku tidak akan menolak jika definisi beristirahat itu dengan tidur memelukmu.”bisik Yoochun menggoda, membuat Lily menepuk lengannya.

“Yak! Youngri bisa mendengarmu!”omel Lily dengan wajah memerah malu karena ucapan nakal Yoochun.

“Youngie juga mau tidur memeluk Eomma.”kata Youngri dengan tersenyum senang, membuat Yoochun tertawa.

Lily tersenyum dan mengangguk, lalu kembali mengaitkan tangannya erat di lengan Yoochun. Inilah keluarga yang diimpikannya. Dulu ia berharap untuk membentuk keluarga yang sempurna. Walaupun bukan dengan orang yang dulu diinginkannya, tapi sekarang lah yang terpenting.

Joo Won tidak akan pernah ia lupakan. Jika sebelumnya ia akan selalu menangis ketika mengingat Joo Won, kali ini hal itu tidak akan terjadi lagi. Karena ia yakin Yoochun akan selalu berada di sisinya dan akan selalu membuatnya tertawa. Yoochun akan menjadi hidupnya saat ini dan di masa yang akan datang.

Dia, Yoochun dan Youngri akan jadi keluarga yang sempurna. Keluarga yang bahagia.

~END~

Such a long story, right?

Haha~ aq juga jd mabok bikin cerita kepanjangan gini. Mian ya gak jd publish 2 hari setelah chapter 15. Abisnya belum ada yg komen (=,=)

Mudah-mudah endingnya sesuai harapan kalian, trus jangan tuntut aq karena rated scene-nya gak komplit, aq gak bisa bkn scene begituuuu!! *histeris* Tapi pengen bkn adegan yg mesra, jdnya dibikin lah ChunLi lg making out. hehe~

Gamsahmanida bwd readers yg setia ngikutin cerita ini trus komen, you always made my day and made me enthusiasm, guys! 

Silent readers juga, aq makassihhh banget. walopun kalian gak komen tp aq tau dr site stats byk yg suka baca FF ini. gamsahamnidaaa!^^

Aq sih berharapnya banyak yg komen trus ngasih masukan bwd FFku ke depannya. So, mind to tell me what you think about this story?😉

Sampe ketemu di FF yang lain!😄

11 thoughts on “When You Come to My Life 16/16 {END}”

  1. Akhirnya happy ending juga ,,
    Wowwww ,,, ceritanya seru , sorry baru koment di akhir part ,,,
    Smoga ada sequel nya , after married gitu ….
    Hehehehheeee …

  2. uwaaaaaaaaaaa..
    Kakak aku bahagia…. :’))))
    sekian lama ga buka obi dan begitu buka ternyata udah langsung dua part diupdate sampai tamat :’)) /itu mah akunya yang kudet/ /slap/
    ini komen nya aku rapel di sini aja ya Kak? hehe /bilang aja males bolak balik/
    ih suka suka sukaaaa bgt baca dua part terakhir ini Kak..
    angst nya dapet happy nya dapet bahagia nya dapet pokoknya campur aduk. :’))
    udah ga bisa mempertanyakan apa2 secara udah dijelasin sejelas jelas nya soal masa lalu Youngri dan kejelasan status pernikahan Yuuri (yang ternyata kata Yoochun masih perawan :p)
    selamat berbahagia ya Kak sama abang Micky.. om Yeye buat aku aja kalau begitu. :’p

    sudah tamattttt.. Youngri bahagiaaaaa aku juga ikut bahagiaaa..😀
    dan aku menunggu entah sekuel atau side story atau apapun ttg FoN nya. xD
    yah siapa tau ga muncul berbulan2 ternyata Kyu udah punya adek baru gitu. hihihi.
    makasih Kakk..😀

  3. sdah habiss?? huftt….. An expected ending but in unexpected way. (halah ngomong apa ini) Ending yg aq inginkan (yayy) tpi jalannya ke ending yg g terprediksi. Sekalinya ngikuti story di blog ini sampek selesai. Tpi komenq entahlah terpost ato nggak.. Tpi intense ngikut nih story dah di middle sih. part 7 bru nmu story nih. So maafkan readermu ini yg “silent” in the early stage of the story. Love this story so much hihihi! Keep writing. I’ll look forward to read you next story. Hopefully you do it soon hihi! Love love love ♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥🙂😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s