Wedding Planner [Chap II] – FREELANCE

Author: Lee Reina

Casts:  Lee Reina

            Zhang YiXing (Lay EXO-M)

Genre: Romance

Rate: All

970169_608729682480426_1560051140_n

***

            Satu bulan kemudian

Reina merentangkan tangannya begitu orang-orang yang ada di ruang meeting keluar semua. Ia menguap lebar tanpa rasa malu.

“Ya Tuhan Lee Reina. Bersikaplah sopan.” Ia langsung membenarkan duduknya begitu mendengar suara Shane. Ia hanya tersenyum bersalah melihat Shane masuk dan duduk di sebelahnya.

“Shane, aku sudah menyelesaikan jadwal hari ini kan? Bisakah aku istirahat sekarang?”

“oh maafkan aku Rei… Pengusaha terkenal tadi menelpon untuk membuatkan jadwal secepatnya. Aku sudah mengatakan kepadanya aku akan menghubunginya. Tapi ia memaksa untuk bertemu sekarang. Karena ia juga sangat sibuk. Jadi, 30menit lagi ia akan datang.”

“siapa orang itu? Keterlaluan merusak jadwalku, ck. Mengesalkan!” Reina mengumpat kesal dan mengerucutkan bibirnya.

“namanya Tuan Zhang. Jadi lebih baik kau kembali ke ruangan dan bersiap-siap. Ia sangat terkenal. Kita harus melayaninya dengan benar-benar baik.” Reina melihat ke arah Shane bingung dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.

Reina memasangkan headset dan memutar kursinya menghadap jendela. Ia memejamkan matanya dan merasakan alunan hiphop mengalun di telinganya dengan semangat membuatnya mengikuti hentakan lagunya. Tanpa ia sadar pintu dibelakangnya terbuka lebar dan memunculkan sosok pria tinggi dan tampan.

“permisi,” pria itu hanya melihat ruangan bingung dan tersenyum kecil begitu melihat seseorang yang ia cari membelakanginya. Ia berjalan menuju Reina dan berdiri disampingnya dengan tenang sambil ikut menikmati pemandangan gedung pencakar langit di seberang ruangan.

Reina mengetukkan jarinya mengikuti alunan musik dan tetap tidak tersadar bahwa seseorang menunggunya. Saat musik berganti, ia membuka mata dan mengganti ke lagu berikutnya. Ia menatap pemandangan seberang dan menangkap bayangan pria yang berdiri di sebelahnya.

“OH MY GOSH!!” ia langsung berdiri kaget dan tidak sengaja menjatuhkan Ipad dari pangkuannya. Ia menatap tidak percaya ke pria yang berdiri di sampingnya. Beberapa detik kemudian ia melepaskan headset dan tersadar akan sesuatu.

“Ya Tuhan! Pacarku!” Reina langsung membungkuk dan mengambil Ipadnya. Ia meneliti keseluruhan benda kesayangannya itu dan menghela nafas lega begitu tahu benda itu masih bersamanya.

“apa kau baik-baik saja?” Reina melihat pria yang sudah duduk di hadapannya dan menopangkan kakinya santai.

“astaga, apakah kau maling? Tidak bisakah kau mengetukkan pintu?” pria itu hanya tertawa geli mendengar ucapan Reina.

“kau saja yang terlalu asyik dengan duniamu Rei. Jadi, apa kabarmu Lee Reina-ssi?” Reina menghela nafas dan duduk kembali di kursinya. Ia menyandarkan badannya dan menatap pria tersebut tidak percaya.

“sampai sekarang kabarku baik karena pacarku selamat dari bantingan. Tunggu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kau terlihat familiar. Dan mengapa kau memanggilku dnegan santai begitu? Rei?” cerocos Reina kepada pria dihadapannya sambil mencoba mengingat siapa pria dihadapannya. Pria itu hanya tertawa keras membuat lesung pipinya muncul dengan sempurna. Mata Reina langsung membulat begitu mengingat siapa pria dihadapannya.

“Lee Reina, ternyata kau mempunyai ingatan yang jelek sekali ya?”

“a-aku mengingatmu sekarang.” Reina langsung menyembunyikan kegugupannya begitu mengingat siapa pria dihadapannya. Pria itu terus tersenyum lembut menatap kegugupan Reina. Seolah menikmati apa yang ada dilihatnya.

“Zhang Yi-Xing-ssi, ada apa tiba-tiba kemari?” belum selesai dengan keterkejutannya, di kepala Reina terngiang ucapan Shane di ruang rapat tadi.

“tu-tunggu, kau tuan Zhang? Yang membuat janji denganku?”

“Bingo!” ucap Lay senang sambil menjentikkan jarinya. Senyumnya melebar melihat Reina yang mencoba memecahkan puzzla-puzzle dikepalanya.

“kau, kemari, mau apa?” tanya Reina pelan-pelan seolah-olah tidak ingin mendengar jawaban dari mulut Lay.

“tentu saja aku ingin memakai jasamu sebagai Wedding Planner. Aku akan menikah.” Reina menelan ludah susah begitu mendengar semua ucapan Lay. Ia memaksakan senyum keluar dari bibirnya. Dan mulai menginjakkan kakinya lagi di dunia.

“ah, begitu. Ba-baiklah, kita selesaikan dengan cepat tuan Zhang.” Ucap Reina sopan lalu memencet tombol 2 pada telepon wirelessnya yang menyambungkannya kepada Shane. Ia meminta beberapa berkas yang diperlukan saat ini. Tidak lama Shane masuk dan menaruhnya di atas meja.

“kau tidak perlu begitu formal Rei. Kita sudah berkenalan sebelumnya. Kau bisa memanggilku Lay.” Ia merubah posisinya menjadi lebih santai dan terus tersenyum membuat Reina semakin mencelos.

“aku hanya ingin bersikap profesional tuan Zhang.” Reina menyerahkan beberapa lembar kertas-kertas yang harus dilengkapi oleh Lay. Lay melihat Reina bingung dan mengambil lembaran-lembaran tersebut. Ia mulai mengisinya tanpa menatap Reina.

“apakah kau kecewa aku kemari untuk meminta bantuanmu dalam pernikahanku, Rei?” pertanyaan yang sudah pasti jawabannya ya itu hanya dijawab tawa oleh Reina. Lay melihat Reina dengan senyum kecil.

“kalau begitu aku sudah tahu jawabannya. Jadi, seluruh kebutuhan pernikahan ini aku yang menentukkan. Karena calon istriku masih sibuk di Paris. Jadi aku butuh bantuanmu. Seluruh bantuanmu Rei. Maka dari itu, mari kita berteman.” Lay menaruh pennya dan mengulurkan tangan ke arah Reina. Reina hanya menggigit bibir dalamnya berpikir. Dengan ragu-ragu ia menyambut uluran tangan Lay yang hangat.

“y-ya, aku sudah pasti akan membantumu. Aku akan menjadi penanggung jawab untuk pernikahanmu.” Ia melepaskan genggaman tangannya dan semakin mencelos begitu melihat tanggal pernikahan Lay. 22 Desember. Tepat pada hari ulang tahunnya.

“pemilihan tanggal yang bagus, Lay” Reina mulai menyibukkan diri pada laptopnya sambil sesekali melihat ke arah Lay yang sibuk dengan ponselnya.

“ya, itu tanggal favoritku.”

“ya aku juga begitu” gumam Reina pelan sekali sehingga Lay tidak mendengarnya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan Lay yang juga sibuk sendiri.

“Shane! Shane!!!” teriak Reina dari dalam kantor begitu Lay sudah memasuki lift untuk keluar dari tempat kerjanya. Tidak lama setelah Reina berteriak, Shane masuk dengan panik dan melihat Reina dengan bingung.

“ada apa Rei?! Kebakaran? Kau sakit? Butuh dokter?” serentetan pertanyaan panik keluar dari mulut Shane tidak terkendali dan langsung terdiam begitu melihat Reina berjalan mondar-mandir di hadapannya.

“ada apa sih Rei?” Shane berpindah duduk di sofa ruangan Reina membuat Reina berhenti bergerak untuk melihat Shane dengan dahi berkerut.

“begini, tolong carikan data-data tentang Lay, maksudku tuan Zhang, lalu laporkan padaku secepatnya.”

“sebelum kau minta aku sudah mempersiapkan, darling.” Reina melihat Shane dengan mata melebar dan langsung duduk diam di hadapan Shane.

“dengarkan baik-baik, Rei. Zhang Yi-Xing merupakan pengusaha dalam segala bidang di China. Kakeknya seorang chef ternama di China dan mempunyai cabang yang tersebar di dunia. Ayahnya seorang pialang saham yang berpengaruh untuk ekonomi China. Ibunya seorang pengusaha properti. Ia seorang anak laki-laki satunya yang diwarisi semua saham dan kekayaan orang tuanya. Ku dengar tantenya baru saja membuka butik di Seoul.” Reina hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar dan mendengarkan cerita Shane dengan takjub.

“apakah sudah selesai? Lalu bagaimana dengan Lay?”

“belum selesai, darl. Ayahnya baru saja membuka toko perhiasan di China. Dan itu toko perhiasan paling besar di China. Zhang Yi-Xing sendiri diberikan semua kekuasaan penuh untuk meneruskan dan memperluas kekayaan orang tuanya. Lay sudah lama di Korea Selatan untuk mencoba peruntungan dalam bidang tanah. Ia juga baru meloloskan saham pada perminyakan dan pertambangan. Ku rasa ia bukan seorang manusia Rei. Dia seorang dewa!” Shane menyelesaikan ceritanya dengan menggebu-gebu dan semangat sedangkan wanita di hadapannya hanya mengangguk dan tercengang dengan cerita Shane.

“dia memang dewa Shane. Dewa tampan.” Gumam Reina pelan yang membuat Shane menjitak kepalanya. Dengan teriakan tertahan Reina langsung mengelus kepalanya yang terjitak oleh Shane.

“masalah pernikahannya, sampai sekarang belum diketahui oleh publik. Kalau sampai publik tahu, kau tahu, ini peruntungan besar untuk kita! Namamu akan langsung melejit! Begitu juga dengan butik ibumu dan toko roti ayahmu. Jadi kita tidak boleh membuat kesalahan kecil sekalipun!” Reina menjetikkan jarinya dan mengangguk setuju.

“benar-benar ladang kemewahan. Aku harus berterimakasih kepada Barbara sudah mengenalkan dewa sepertinya.”

“Barbara mengenalnya? Dan, ah, aku baru menyadarinya. Apakah kau teman dekatnya?”

“tidak tidak. Kami bertemu di pernikahan Barbara. Lalu tiba-tiba saja ia sudah muncul disini. Apakah kau tahu tentang siapa calon istrinya?”

“sulit kemungkinan Rei mendapatkan datanya.” Reina memasang muka sedih begitu tahu ia tidak akan tahu siapa calon istri pria tampan yang ia senangi itu. Shane hanya dapat tertawa kecil melihat wajah sedih dan kecewa milik Reina.

“bukan Shane kalau tidak ahli, Rei. Calon istrinya seorang putri konglomerat juga. Tapi ia tinggal di Paris. Perjodohan kaum elite. Seorang pialang saham juga. Hanya itu yang aku dapat Rei.” Reina mengangguk paham mendengar semua ucapan Shane. Ia berdiri dan bersedekap sambil berpikir.

“kalau begitu Shane. Karena ini project besar kita, ku putuskan untuk mengosongkan jadwal Desemberku. Aku ingin fokus untuk proyek ini. Bagaimana?”

“apakah itu tidak terlalu berlebihan Rei?” Reina menggelengkan kepalanya sambil berdecak kecil. Ia kembali duduk di hadapan Shane dengan semangat di matanya.

“tidak Shane. Ini akan benar-benar ladang usaha. Kita harus memanfaatkan segalanya. Publik, desain, dan lainnya. Kau pasti paham apa yang ku inginkan. Perfect!” Shane hanya menghela nafas lalu mengangguk mengiyakan. Lalu ia langsung membulatkan matanya seolah teringat sesuatu.

“Rei! Bahkan ini sudah akhir bulan!” Reina tertawa dan menjetikkan jarinya lagi.

“Bingo sayang! Liburaaan!!” Reina merentangkan tangannya ke udara dan tertawa bahagia. Shane hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dan menahan keinginan untuk menjitak Reina lagi.

Next chapter ~

“Ya Tuhan Lay! Kau benar-benar malapetaka!”

“Diamlah, aku harus melakukannya!”

“oh tidak! Jangan paksa aku! Astaga! Lay kau idiot!!!”

~~~

-to be continued-

He he he, maaf ya hasilnya menggantung sekali u-u anin belum cari inspirasi wkwk. Sabar nunggu chapter III nya ya ^^ itu teasernya dinikmati ya ~

7 thoughts on “Wedding Planner [Chap II] – FREELANCE”

  1. Woah~pengen deh jd istrinya s Tn Zhang
    Udh tampan, kaya lagii
    Uuhhhh…siapa sih yg bisa nolak

    Eeehhhh…apa yg dilakukan lay??

    Lanjut…lanjut…😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s