TWILIGHTS, ASTER(?) AND BENCH IN THE PARK

TWILIGHTS, ASTER(?) AND

BENCH IN THE PARK

Author :

Arleen Han

Cast :

Cho Kyuhyun

Han Jira  (OC)

 

KYUHYUN’S POV

Aku masih mengingat dengan jelas ukiran bunga mawar yang terbelit sulur-sulur, dingin yang terasa hingga ke sum-sum tulangku saat duduk di bangku besi taman kota itu, kemudian terlupa kalau aku bertambah tua, aku tenggelam dalam ceritanya yang seperti tiada akhir. Dia yang bercerita dan aku yang akan mendengarkan. Dari sekian banyak ceritanya, adalah tentang bunga ***** yang dia tanam dalam pot kecil di teras rumah yang paling sering dia ceritakan. Tentang warnanya, wanginya dan keluhannya pada kumbang-kumbang yang terkadang merontokkan mahkota bunga **** miliknya.

 

Aku tersenyum setiap kali dia beristirahat di antara ceritanya, tapi aku tersenyum bukan karena ceritanya. Bukan, bukan itu, tapi karena sorot matanya, yang juga menjadi sebab kenapa aku betah mendengarkan ceritanya di bangku besi taman kota itu setiap senja, setiap matahari akan kembali ke peraduannya, tak peduli musim. Dari apa yang dia ceritakan, sepertinya dia dan bunga **** nya itu tidak bisa dipisahkan. Bahkan jika bunganya itu bisa bercerita seperti layaknya manusia, kukira akan muncul cerita bagaimana cara gadis itu merawatnya. Menurutku, dia merawat bunganya itu dengan penuh cinta, karena hanya dari rasa yang tumbuh di hati saja akan tumbuh keindahan. Meskipun waktu itu aku belum pernah melihat bunga **** miliknya, tapi aku bisa merasakan bunga itu pasti indah, seperti dirinya, seperti cerita-ceritanya.

 

Seperti dia dan bunga *** mu, begitu pula bangku besi taman kota itu. Walaupun di masa depan kami akan lupa menceritakan keberadaannya, tapi bangku besi itu pasti akan mengingat kami, sepasang manusia yang setiap senja akan duduk disana dan menyebabkan hidupnya jadi penuh cerita. Ya, hanya dengan bercerita. Tapi bukan hanya sekedar cerita, tapi setidaknya bangku itu tidak akan kesepian menjadi bangku besi yang hanya akan berkarat seiring berjalannya waktu. Isi cerita itu pasti tentang kami. Sebab kami berdualah yang melahirkan cerita untuk bangku besi itu.

 

Tapi cerita kita ternyata tidak berhenti disitu. Cerita kami berlanjut. Ternyata benar perkataan kalau cinta itu muncul karena biasa. Aku terbiasa dengan kehadirannya, terbiasa dengan cerita-ceritanya, terbiasa dengan sorot matanya, terbiasa dengan senyuman yang dia ulas saat mengambil jeda di antara ceritanya. Kami masih sering bertemu walaupun tidak setiap hari, tentu saja di bangku itu. Tapi perlahan ceritanya berubah, tidak hanya tentang bunga **** nya itu. Ada cerita tentang impian. Asa. Harapan tentang kehidupan esok hari. Keinginannya bagaimana hari esok akan berjalan. Terus seperti itu hingga waktu sudah berjalan setahun. Aku pernah membaca satu novel bagus, ada satu kalimat yang sangat aku sukai dan aku ingat hingga saat ini. Kita akan menemui kebahagiaan karena kita berani punya mimpi dan harapan, kemudian berjuang untuk mewujudkannya.

 

Sederhana bukan? Ya, bahagia itu sederhana. Untukku, bersamanya adalah bahagia. Hanya sesederhana itu. Ada matahari yang akan kembali ke peraduannya, langit kemerahan, bangku besi taman kota, dan aku serta dirinya. Ah, dan jangan lupakan cerita tentang bunga **** nya itu. Semuanya mempunyai kenyataan yang melahirkan cerita yang berbeda walaupun berkutat pada hal yang sama. Lalu bagaimana ceritaku tentang dirinya? Aku juga punya cerita tentangnya.

 

Aku bertemu denganmu secara tidak sengaja, seperti hal-hal tak terduga lainnya yang terjadi di muka bumi ini. Pertama kali aku bertemu denganmu di bangku besi di taman kota, saat langit berwarna kemerahan, saat matahari akan tenggelam. Entah apa yang mendorongku sehingga aku melangkahkan kakiku ke arahmu saat itu. Semuanya berjalan cepat, hingga tiba-tiba saja aku sudah mendapati diriku berdiri di hadapanmu dengan tangan terulur, mengajakmu berkenalan. Menggenggam tanganmu dan menyebutkan nama. “Jira, Han Jira”, begitu katamu waktu itu. Kau tersenyum kemudian menunduk, walaupun samar, aku bisa melihat rona merah yang menjalari wajahmu. Semalu itukah? Kemudian waktu senja itu menandai peristiwa tak terduga lainnya yang muncul dalam hidupku. Kita bertemu lagi beberapa hari kemudian. Waktu berjalan dan kita menjadi sering bertemu. Dan aku mulai merasa ada hal aneh yang terjadi padaku. Aku betah menunggu kedatanganmu di bangku besi itu setiap senja. Tanpa peduli hujan, salju, panas atau bahkan badai sekalipun.

 

Aku memang tidak pintar menceritakan betapa kau indah di mataku. Aku hanya bisa menyatakan bahwa kaulah satu-satunya gadis yang memikatku hanya melalui cerita, bahkan tentang bunga sekalipun. Dari bunga *** mu itulah aku mempunyai jalan. Dari rasa penasaranku, aku bisa tahu dimana rumahmu dan bertemu dengan keluargamu. Dari kedekatan kita waktu itu, sepulang dari rumahmu, aku mengatakan pada Ayah dan Ibu jika ada gadis yang menarik perhatianku, membuatku betah menunggu di bangku besi taman kota hanya untuk mendengar ceritanya. Saat duduk di hadapan orang tuamu untuk melamarmu, sistem tubuhku sama sekali tidak bisa menjalankan tugasnya dengan normal. Sekujur tubuhku terasa bergetar. Ayahmu mengajukan syarat kalau aku harus mengambil spesialisasi –aku masih seorang dokter muda waktu itu- sebelum aku bisa menikahimu. Dan tentu saja aku menyetujuinya. Kemudian, tiga tahun terasa sangat membosankan tanpa kau dan cerita-ceritamu. Aku belajar keras di negeri yang membuatmu menghilang dari jarak pandangku, dengan harapan aku bisa segera lulus dan menyatakan kalau kau adalah milikku. Itu juga adalah satu-satunya syarat kau mau menikah denganku, bahwa aku harus lulus dengan nilai terbaik. Dan semuanya terbayar lunas saat aku melihat pengumuman yang menyatakan kalau aku lulus dengan nilai terbaik. Summa cumlaude.

 

Musim semi 3 tahun lalu, tepatnya 29 Maret 2012, hari tak terlupakan dalam hidup ku, atau mungkin hidup kita. Saat aku memastikan seluruh bunga di seluruh penjuru dunia mekar sempurna untukmu. Saat kita mengikat janji di antara dua pohon sakura yang dahannya diikat hingga terlihat seperti kanopi, dan jangan lupakan bunga sakura yang jatuh berguguran mengenai rambutmu yang dijalin rapi di samping kanan, membuatmu tampak semakin memikat bahkan saat wajahmu memerah menahan malu setelah aku mencium puncak kepalamu. Indah kan? Ya, untukku itu sangat indah. Keindahan itu hanya butuh kesederhaan dan rasa tulus yang timbul dari hati. Hari-hari selanjutnya, cerita tentang **** mu berganti dengan suara dentingan piring dan sendok yang beradu setiap pagi. Menghadapkan kita pada kenyataan bahwa dari yang hanya berawal dari suatu senja di bangku besi taman kota menjadi sesuatu yang akan tetap ada, akan aku jaga selamanya, dan menjadikanmu seseorang yang menemaniku hingga akhir hayat. Kenyataan banyak berubah kan? Tapi ada satu yang tidak berubah, kebiasaan kita duduk di bangku besi taman kota itu dan menghabiskan waktu dengan memandang langit kemerahan dan bercerita, walaupun tidak sesering dulu. Semuanya terasa lengkap, aku tidak bernah berhenti mengucapkan syukur pada Tuhan karena sudah menjamah doa-doa yang aku panjatkan setiap malam.

 

Aku melihatnya duduk di tepi ranjang, dimana aku tidur sambil memeluknya setiap malam. Kedua tangannya memegang buku berwarna kecoklatan dan aku bisa melihat kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. Aku melihat jam tangan yang dia berikan saat aku ke bandara akan berangkat sekolah spesialisasi lima tahun lalu, sebentar lagi akan senja. Perlahan aku mendorong pintu kamar kami agar terbuka lebih lebar, tidak seperti sebelumnya saat hanya menyisakan celah kecil untuk mengintipnya membaca bukuku. Dia menyadari langkahku dan dengan gerakan cepat menghapus air mata yang mengalir dari sudut-sudut matanya. Dia mengulas senyum kemudian berdiri dan merih tanganku begitu aku berdiri di hadapanmu.

 

“Buku itu, kapan kau menulisnya?  Kenapa aku baru tahu?”

 

“Aku sengaja, aku hanya ingin buku ini menjadi tanda aku menjadi milikmu” jawabku ringan, kemudian mengelus helaian rambutnya yang hitam. “Kita berangkat? Sebentar lagi akan senja”

 

“Ya, tunggu sebentar, aku ambilkan mantel musim panasmu” katanya kemudian berbalik dan menghilang di balik dinding yang membatasi kamar dan ruang ganti yang berisi lemari-lemari besar yang menempel di dinding dan beberapa lemari kecil.

 

Aku melihatnya keluar dari sana dengan mantel berwarna navy blue, mantel pertama yang dia pilihkan untukku. Tangannya bergerak akan meraih tas tangan berwarna sama dengan mantelku, tapi tidak jadi karena tangan kananku mendahuluimu.

 

“Naik bus saja, jadi kita bisa berjalan” katanya.

 

“Tentu saja”

JIRA’S POV

Aku sering membayangkan hal seperti ini dulu, bahkan hingga memimpikannya. Bertemu dengan pria yang mencintaiku, membuat diriku menjadi miliknya, dan hidup bahagia dengan menua bersama. Aku masih tidak percaya tentang apa yang terjadi di senja tiga setengah tahun yang lalu adalah awal dari cerita kita. Cerita bahwa perlahan satu-persatu harapanku terpenuhi dan ini merupakan awal cerita kami tentang menua bersama. Kami masih punya banyak senja dan cerita serta bangku besi taman kota ini untuk seumur hidup. Aku masih ingat betapa terkejutnya aku saat tanganku seperti mendapat kejutan-kejutan elektrik kecil saat menjabat tangan Kyuhyun untuk yang pertama kali. Aku ingat bagaimana Kyuhyun selalu mendengarkan cerita yang keluar dari mulutku dengan penuh minat, seakan dia ingin merekamnya dan menyimpannya dalam memorinya. Aku ingat betapa aku menderita karena tidak bisa melihatnya selama tiga tahun. Aku ingat bagaimana gugupnya aku saat mengucapkan janji suci kita di bawah kanopi bunga sakura, gaun pengantinku menyentuh bunga-bunga sakura yang sudah gugur. Aku ingat tentang pagi pertama kami sesudah menikah. Aku ingat semuanya, hingga ke detail terkecil.

 

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Kyuhyun, membuatku tersadar kalau aku menatapnya terang-terangan dalam jangka waktu yang bisa dikategorikan tidak sebentar. Kami kembali duduk berdampingan di bangku besi taman kota, seperti sebelum-sebelumnya.  Kyuhyun menggenggam tanganku dengan cara favoritnya, telapak tangan menempel dan jari-jari saling mengait.

 

“Tidak, hanya ingin tahu saja apakah kau masih mau mendengar ceritaku tentang bunga ***** milikku atau tidak”

 

“Astaga, kita sudah tinggal serumah setahun lebih, sayang. Aku yang membantumu memindahkan bunga *****mu ke pot yang lebih besar empat hari setelah menikah dan melihatmu merawatnya sepenuh hati setiap hari”

 

“Kau tidak merasa cemburu karena terkadang aku lebih asyik dengan bunga itu daripada kau?” tanyaku penasaran. Kyuhyun memang tidak pernah protes tentang hal ini. Tapi aku sedikit merasa bersalah dan ingin tahu apakah dia merasa terabaikan. Lama dia diam, kemudian mengulas senyumnya yang menenangkan.

 

“Aku tidak mau jawab” katanya kemudian kembali menunduk, melihat jari-jari kami yang bertaut.  Dia mengangkat wajahnya saat seorang wanita seusianya mendatangi kami sambil menyebutkan nama Kyuhyun keras-keras. Kata Kyuhyun dia adalah teman sekolahnya. Setelah bercakap kurang lebih sebelas menit, dia pamit.

 

“Jadi dia mantan pacarmu yang ke berapa?” tanyaku spontan, Kyuhyun dan aku memang belum pernah saling bercerita tentang hal ini.

 

“Apa? Kau meributkan posisimu di hidupku ya? Sejak kapan?”

 

“Sudahlah jawab saja” sergahku tak sabar.

 

“Dengar aku baik-baik. Sebetulnya bisa saja aku memberi tahumu tentang ini setiap hari, tapi aku tidak mau. Kau bukan yang pertama, yang kesekian ataupun yang terakhir….” Kyuhyun menarik nafas dan menatapku dalam-dalam, “….karena kau adalah satu-satunya” lanjutnya sebelum mengecup keningku. Kyuhyun memang bukan orang yang akan melontarkan kalimat seperti itu. Untuk sementara aku kesulitan mengambil nafas.

 

“Aku…” aku membuka mulut setelah menemukan kembali suaraku.

 

“Ya?”

 

“Terima kasih sudah membuatku menyandang nama Cho Jira” ucapku pelan, sangat pelan hampir tak terdengar. Dengan cepat aku menunduk, tangan kananku berada di dada bagian kiri, berusaha meredam suara detak jantungku yang terlalu keras. “Dan juga.. aku punya hadiah untukmu”

 

Kyuhyun menengadahkan kedua tangannya, kebiasaan kami berdua. Aku terkikik geli walaupun sebenarnya gugup sekali. Kuraih kedua tangannya dan kuletakkan di perutku. “Disini. Hadiahmu disini, kau bisa merasakannya?”

 

Kyuhyun menatapku tidak percaya kemudian memelukku seerat yang dia bisa, “Itu….hadiah terbaik kedua untukku”

 

“Yang pertama?”

 

“Tentu saja kau” tukas Kyuhyun dengan enteng, aku merasakan Kyuhyun hendak melepaskan pelukannya, tapi aku menahannya.

 

“Tunggu sebentar” aku menarik nafas dalam-dalam. Demi Tuhan, kenapa aku gugup sekali? “Aku mencintaimu” ucapku pelan, perlahan aku merasa tubuh Kyuhyun menegang. “Untuk setiap detik, aku mencintaimu”

 

“Aku tahu.. Aku tahu..” balasnya pelan, dia melepaskan pelukannya dan menatapku lagi. “Akhirnya aku bisa mendengarnya juga”

 

E N D

Oke, ini kacau! Gara-gara cerpen di majalah, tanganku gatel buat ngetik ide yang dari tadi muncul sampai berdesak-desakan di otakku. Dan akhirnya setelah dua jam setengah selesai juga, fiuhh *lap keringat*. Oh ya, maaf ini sama sekali nggak ada kosakata Koreanya ya? Hihihi

 

Terus buat Choi Jirim, kayaknya ff ini bakal bikin kamu ketawa puas seumur hidup. Ceritamu masih macet nih, udah ada ide sih tapi ilang begitu aja waktu denger kata “AYAM BAKAAAR, KAKAK AYO MAKAAN!” hihihi. Oke, udah dulu cuap-cuapnya. Makasih udah baca ceritanya, dan karena aku masih pemula, aku tunggu kritik dan saran. Ah lupa, kalian bisa berimajinasi kalau Jira disini itu kalian. Kamsahamnida.. Saranghae❤ ^^

 

2 thoughts on “TWILIGHTS, ASTER(?) AND BENCH IN THE PARK”

  1. keren marriage life story yg didambakan semua org. Next, buat yg chapter dong trus genre marriage life dgn complicated story. Jebal thor

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s