Scent

SCENT

 

Author :

Arleen Han

 

Cast :

Cho Kyuhyun

Choi Jirim (OC)

 

—oo00oo—

 

Your subtle fragrant comes in the wind

I’m falling for you as if a magnet is pulling me

I like this time too, why am I falling for you

My heart’s racing as if it’s been shocked

Every minute, every second, everyday I’m attracted to you

Your fragrance in the room drive me insane from the tip of my nose

(Yang Yoseob & Cube Girls “Perfume” )

 

—oo00oo—

 

Gadis itu keluar dari arrival gate dengan wajah cerah. Skinny jeans gelap membuat kakinya tampak jenjang, blus biru mudanya terlihat cocok dengan warna kulit putihnya yang tidak terlalu pucat, rambutnya tergerai indah membingkai wajah manisnya. dia menghirup nafas dalam-dalam, kemudian berbisik, “Seoul… aku pulang…”

 

Dia merogoh tasnya untuk mendapatkan ponsel dan menghidupkannya. “Hallo, Onni, aku sudah sampai. Aku tunggu di café bandara, ok?” katanya agak cepat kemudian memutuskan sambungan telfonnya. Senyumnya terkembang, membuat wajahnya menjadi kian manis. Tangan kanannya bergerak meraih kopernya dan melangkah masuk ke dalam café.

 

—oo00oo—

 

“Jangan berbuat yang aneh-aneh selama Eomma dan Nuna tidak ada di rumah, jangan lupa makan dan istirahat. Jangan sampai sakit” tutur seorang wanita paruh baya sambil terus berjalan masuk. Lelaki muda yang mengikutinya hanya diam dengan terus menarik dua koper besar di masing-masing tangannya. “Cho Kyuhyun, kau mendengarkan Eomma atau tidak?”

“Aku dengar Eomma, aku janji aku akan baik-baik saja dan sering menelfon kalian” katanya kemudian mengulas senyum untuk meyakinkan ibunya. “Katakan pada Appa untuk cepat menyelesaikan pekerjaannya disana, agar aku bisa mengajak kalian liburan”

 

“Kau seperti anak kecil” sahut perempuan muda yang lebih tua tiga tahunan dari pria yang dipanggil Cho Kyuhyun.

 

“Nuna, katanya kau mau aku memberikan hadiah ulang tahun pernikahan Eomma dan Appa”  sergah Kyuhyun.

 

“Baiklah, kami berangkat. Jaga dirimu” wanita paruh baya itu mengusap pipi putranya sebentar sebelum menuju ke boarding pass.

 

“Jaga dirimu, Kyunnie. Aku akan menelfonmu begitu sampai disana”

 

“Nuna, jangan memanggilku seperti itu!” protesnya, menghasilkan kakak perempuannya terkekeh saat berjalan mengikuti ibu mereka. Setelah melihat kedua perempuan paling berarti dalam hidupnya berdiri berhadapan dengan petugas bandara, dia berbalik dan melangkah keluar.

 

Saat dia berjalan melewati café bandara, indra penciumannya mencium aroma nikmat kopi. Membuatnya merasa ingin mampir dan menikmati secangkir kopi panas. Pasti akan nikmat sekali menikmati kopi panas di hari sedingin ini, begitu pikirnya. Saat ini adalah akhir musim gugur, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam dan memesan hot crème. Dia duduk di tengah café dan mengeluarkan ponselnya, mulai untuk memeriksa jadwal kerjanya.

 

Dia sedang konsentrasi dengan ponselnya saat pesanannya datang. Dia mendongak kemudian tersenyum singkat pada pelayan. Saat ia sedang menyesap crèmenya pelan-pelan, dia merasakan seseorang lewat di samping tempat duduknya. Mungkin hanya seorang pengunjung, pikirnya. Dia tidak begitu terlalu memusingkannya, hingga sesuatu merasuk ke dalam indra penciumannya. Wangi yang kuat, mengalahkan pekatnya wangi kopi dalam café itu. Wangi bunga Fressia, bau nektar, bau bunga Wisteria, bau apapun terasa kalah wangi. Wangi itu sangat lembut dan manis.

 

Kedua alisnya bertaut heran, dia kembali mendekatkan cangkirnya dan menghirup aroma crème yang khas, tapi tetap saja wangi itu jauh lebih kuat. Dia mengedarkan padangannya ke seluruh café. Café itu tidak terlalu ramai, hanya ada sekelompok pria seusianya yang duduk di sudut kanan sambil tertawa-tawa, dua orang seusia ayahnya berpakian setelan kantor, dirinya sendiri dan seorang gadis yang duduk sendirian.

 

Dia menghirup aroma wangi pekat itu dalam-dalam, berusaha mengisi penuh pikirannya dengan kenyamanan yang tercipta. Dia bangkit berdiri, meninggalkan beberapa lembar uang won dan keluar. Dia tetap berjalan hingga sampai di mobilnya. Dia sedang mengencangkan seatbeltnya saat satu pikiran menyerbunya. Aroma wangi tadi adalah wangi yang membuatnya bergelimpangan rasa nyaman.

 

—oo00oo—

 

Headset yang menyumpal kedua telinganya membuat keramaian di sekitarnya terdengar tidak begitu jelas. Dia sedang membiasakan mendengarkan lagu-lagu Korea yang dia download di malam sebelum dia meninggalkan Vancouver untuk melanjutkan cerita hidupnya di Seoul. Kemudian spontan menebak-nebak jam berapa sekarang di Vancouver yang memiliki perbedaan waktu 16 jam dengan Seoul.

 

Ada sesuatu yang mengusiknya dari tadi, aroma sejuk yang merasuki hidungnya sejak dia masuk di café ini. Aroma yang membuatnya merasa seperti berdiri di jalan basah setelah hujan diantara deretan pohon-pohon pinus, pemandangan yang akrab saat dia tinggal di New Zealand tiga tahun yang lalu. Aroma ini begitu sejuk, menenangkan.

 

Tapi sesaat kemudian dia tersadar dimana dia sekarang. Walaupun sekarang sedang akhir musim gugur di Seoul, tapi seharusnya aromanya tidak sesejuk ini, apalagi di luar café terlihat kendaraan yang berseliweran. Setelah coklat panasnya datang, dia sadar aroma sejuk ini bahkan lebih kuat daripada aroma kopi yang merambah seluruh sudut café.

 

“Hai, kau menunggu lama ya? Maaf, tadi macet” suara itu membuyarkan lamunannya. Matanya yang sedari tadi tertutup karena memilih untuk menikmati aroma penuh kenyamann itu, terbuka dan mendapati seorang wanita muda dengan syal berwarna midnight blue melilit lehernya ringan. Kemudian indra penciumannya bekerja lagi. Aroma sejuk itu perlahan-lahan berkurang kepekatannya, tapi anehnya tidak benar-benar hilang.

 

“Yeosoo Onni, apa kau mencium bau sejuk?” tanya gadis itu spontan tanpa menjawab sapaan wanita muda di hadapannya.

 

“Apa? Kau sakit ya, Jirim-ah? Disini hanya ada wangi kopi. Hmm, wangi sekali” balas wanita muda tadi.  “Dan juga bau asap kendaraan yang masih betah berada di hidungku karena aku baru sampai” imbuhnya.

 

“Aku tidak bercanda. Sungguh”

 

“Sudahlah, mungkin kau kena jetlag. Jadi sebaiknya kita cepat pulang agar kau bisa istirahat”

 

—oo00oo—

 

“Heh Cho Kyuhyun, kau kenapa? Terjadi sesuatu?” suara itu mengagetkannya, membuatnya sedikit berjingkat dari duduknya.

 

“Oh, hyung, ada apa ke ruanganku?” balasnya ringan. Pria yang merupakan rekan kerja Cho Kyuhyun itu berjalan mendekat ke tempat Kyuhyun duduk, di belakang meja kerjanya menghadap ke jendela.

 

“Apa ada wanita cantik di sana? Kau melamun ya?”

 

“Tidak, aku hanya sedang berpikir saja, hyung” Kyuhyun berhenti sebentar, membuat rekan kerjanya menyipitkan matanya penasaran, “Hyung, apa kau mencium wangi disini? Seperti bau nectar atau sejenisnya”

 

“Pengharum ruanganmu saja beraroma mint Cho Kyuhyun” sela pria itu tak sabar.

 

“Jangan potong dulu ucapanku, hyung. Aku sudah membauinya sejak tiga hari yang lalu, saat aku mengantar ibu dan kakakku ke bandara” Kyuhyun berdiri di samping pria itu, membenamkan tangannya ke dalam saku celana kerjanya. “Baunya manis, legit, membuatku nyaman. Bukankah ini aneh, Hyukjae hyung?”

 

“Ya, ini akan jadi semakin aneh kalau kau menyebutkan namaku seperti itu” dengus Hyukjae tidak percaya mendengar cerita yang baru saja terlontar dari mulut Cho Kyuhyun. “Sudahlah, aku bawa dokumen yang harus kau tanda tangani”

 

“Oh ya” gumam Kyuhyun kemudian mengambil map biru di meja kerjanya dan membubuhkan tanda tangannya disana.

 

“Tapi hyung, bau itu tidak benar-benar hilang, hanya berkurang kepekatannya. Sungguh, aku bahkan masih bisa membauinya saat aku di café dengan aroma kopi harum yang menyeruak ke seluruh penjuru ruangan”

 

“Hah” Hyukjae menghembuskan nafasnya kasar, “Terima saja, mungkin itu takdirmu. Aku kembali ke ruanganku dulu” tukasnya kemudian mengambil alih dokumen di tangan Kyuhyun dan melangkah keluar.

 

“Takdir?” gumamnya pelan setelah mendengar pintu ruangannya tertutup. Kemudian matanya tertutup, hidungnya menghirup aroma manis itu sebanyak-banyaknya. Bersamaan dengan rasa lega yang menyusup ke setiap jengkal tubuhnya, sebuah senyuman terulas di bibirnya.

 

—oo00oo—

 

“Demi Tuhan, aku ini sedang memanggang kue, Choi Jirim” seru Yeosoo setengah kesal sambil melepaskan apronnya dan mendekati Jirim yang duduk di depan TV yang sedang menayangkan acara musik. Telinga gadis itu memang sedang menikmati musiknya, tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Dari mana datangnya wangi ini?

 

“Harusnya yang kau cium itu wangi dari kue yang sedang kupanggang, kan baunya kuat sekali” lanjut Yeosoo sambil mencari posisi duduk paling nyaman di samping Jirim.

 

“Entahlah, tapi sungguh, sepertinya aroma ini mengikutiku kemanapun. Kau lupa saat kau mengantarku keliling Seoul kemarin aku tetap bisa mencium aroma ini?”

 

“Tentu saja aku ingat. Hah, sepertinya kau harus ke dokter. Mungkin saja ada yang salah dengan hidungmu itu”

 

“Tapi sebenarnya aroma ini membuatku sangat nyaman. Sepertinya ini adalah aroma paling familiar dalam hidupku”

 

“Tentu saja, kau pernah tinggal di New Zealand, gadis bodoh!”

“Bukan begitu maksudku, aissh” katanya frustasi kemudian berdiri dengan cepat. “Aku mau pergi sebentar”

 

“Jangan pulang telat! Kau harus menemaniku ke pesta ulang tahun temanku! Kau dengar aku?!”

 

—oo00oo—

 

Kyuhyun berusaha mempercepat langkahnya diantara orang-orang yang sama sedang berjalan sepertinya di pinggir jalanan Apgujeong. Dia sedang melepas penat dan memutuskan untuk mampir ke café saat Hyukjae menelfonnya, mengatakan kalau dia harus segera kembali ke kantor karena klien yang mereka tunggu sudah datang. Bau wangi itu masih mengikutinya kemanapun. Sekarang dia berdiri dengan sabar hendak menyeberang jalan.

 

Lampu berubah merah, saatnya untuk menyeberang. Saat Kyuhyun akan mengambil langkah keduanya, dia berhenti seketika. Wangi itu bertambah kuat dan seperti berasal dari belakangnya. Ia dengan cepat berbalik. Tidak ada, tidak ada penjual bunga atau toko parfum di belakangnya. Hanya ada butik, toko sepatu, toko buku dan stan es krim di belakangnya.

 

Tak lama, wangi itu perlahan-lahan mereda, tanpa menunjukkan tanda-tanda akan hilang. Kyuhyun mendesah frustasi, sampai kapan wangi ini akan selalu mengusiknya?

 

“Hey, anak muda, kau mau menyebarang tidak? Lampunya sebentar lagi akan berubah” tegur seorang laki-laki tua sambil menepuk bahunya, membuatnya kembali mendapatkan kesadarannya.

 

“Ah ya, terima kasih, Tuan”

 

—oo00oo—

 

Taksinya masih terus berjalan saat mata Jirim tertuju pada sebuah cocktail dress yang ada di etalase salah satu butik ternama. Tiba-tiba dia ingat lengkingan Onni nya sebelum dia benar-benar pergi tadi. Kemudian ingatannya tertuju saat dia menata baju-bajunya ke dalam lemari tadi malam. Tidak ada dress yang pantas, mungkin ada, tapi Yeosoo bilang dia butuh sesuatu yang lebih.

 

“Tuan, berhenti disini” katanya. Dia lekas merogoh tasnya, membayar argo taksinya kemudian turun. Uuugghh, bau mint itu menyerbu dirinya lagi, kali ini lebih kuat dari beberapa detik yang lalu. Dia menoleh ke sekitarnya. Tidak ada yang aneh. Dia tidak menghiraukan kekuatan wangi itu, dan dengan cueknya berjalan masuk.

 

“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Nona?” sapa salah satu pegawai butik itu sopan sambil menunduk sesaat padanya.

 

“Ah, aku ingin melihat gaun itu, bisa?” kata Jirim sambil menunjuk cocktail dress berwarna midnight blue di etalase yang tadi mencuri perhatiannya.

 

“Tentu, tunggu sebentar, Nona” Jirim mengangguk sekilas kemudian mengedarkan padangannya ke rak-rak sepatu hak tinggi tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia mencoba menghirup nafas dalam-dalam, aroma mint menyegarkan itu masih ada, tapi perlahan menjadi tidak sepekat tadi.

 

“Ini gaunnya, Nona”

 

—oo00oo—

 

“Jangan lupa untuk memperkenalkan dirimu. Tidak perlu canggung”

 

“Jangan katakan itu untuk yang ketujuh belas kalinya, Onni. Aku sudah mengingatnya di luar kepala” dengus Jirim mendengar Yeosoo mengucapkan kalimat yang sama selama 1 jam terakhir. “Ngomong-ngomong mana temanmu?”

 

Yeosoo menegakkan tubuhnya, matanya bergerak menyapu ruangan luas yang sudah ditata dengan apik. “Oh, itu dia disana. Ayo” serunya sambil menunjuk ke suatu arah. Yeosoo bergegas menghampiri si empunya pesta dengan menarik-narik tangan Jirim agar mengikutinya.

 

“Hai, Jihyun-ah, selamat ulang tahun” kata Yeosoo ceria kemudian mengecup kedua pipi wanita muda yang dipanggilnya Jihyun.

 

“Terima kasih. Senang sekali kau datang, Yeosoo-ya” Jihyun mengarahkan padangannya pada Jirim yang berdiri canggung di samping Yeosoo.

 

“Oh, kenalkan, dia adik sepupuku” tiba-tiba Jirim mencium bau mint itu lagi. Begitu kuat, sehingga dia merasa sedang melintasi jalan basah karena hujan dengan pohon-pohon pinus di kedua sisinya. Seperti orang kalap, dia menoleh kesana kemari, hampir saja melangkah menjauhi kakak sepupunya kalau saja Yeosoo tak memegangi tangannya.

 

“Ah, maaf. Perkenalkan, aku Choi Jirim. Senang mengenalmu” katanya dengan senyum. Perlahan tapi pasti, bau itu makin menguat. Membuat nafasnya tak beraturan. Tiba-tiba tangannya berubah dingin, kakinya sedikit bergetar, dan detak jantungnya begitu keras dan tak beraturan sampai dia merasa sakit. Keringat dingin mulai menyerbunya.

 

“Hai, Jihyun-ah” dia mendengar suara rendah itu dari belakang. Spontan, dia dan Yeosoo membalikkan badan dan ternyata keputusannya salah. Dia tidak seharusnya membalikkan badannya, karena sekarang bau embun bercampur aroma mint itu merasuki indra penciumannya. Seorang lelaki muda yang tampak sedang berjalan ke arah mereka dan melambaikan langkahnya pada tuan rumah menghentikan langkahnya.

 

—oo00oo—

 

Kyuhyun memberikan kunci mobilnya pada pegawai hotel dan langsung masuk ke lobby. Tujuannya adalah lantai 7. Dia menunggu lift dengan sabar, kemudian dia menahan nafasnya. Wangi legit itu lagi. Wangi itu perlahan-lahan menguat, dia merasakan seluruh tubuhnya merasa ringan. Pintu lift terbuka dan dia mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia harus konsentrasi pada pesta ulang tahun temannya.

 

Kyuhyun memandang takjub jumlah orang yang diundang temannya. Dia tidak akan mengundang orang sebanyak ini kalau dia yang punya pesta. Merepotkan, begitu pikirnya. Tiba-tiba wangi itu tercium sangat kuat, lebih kuat dari yang pernah dihirupnya di café bandara. Dengan cepat dia melangkah menyusuri ruangan itu, mencari tahu darimana wangi itu berasal, tapi pikiran warasnya kembali. Dia harus mengucapkan selamat pada temannya dulu.

 

Kyuhyun mengerang dan berusaha menutup hidungnya dengan sebelah tangannya. Wangi ini membuatnya tersiksa karena penasaran. Dari kejauhan dia melihat temannya, Jihyun, sedang mengobrol dengan dua orang gadis. Kyuhyun memutuskan untuk mendekatinya, mengucapkan selamat dan kemudian dia bisa bebas mencari sumber wangi yang sudah mengganggunya selama dua minggu terakhir.

 

“Hai, Jihyun-ah” dia berusaha berseru di sela nafasnya yang menjadi semakin cepat dan pendek-pendek. Wangi  itu menyerangnya tanpa ampun. Semakin dia mendekat ke arah temannya, semakin kuat pula wangi itu tercium olehnya.

 

Langkahnya terhenti begitu saja saat kedua gadis yang sepertinya teman Jihyun berbalik menghadapnya. Matanya terbelalak. Wangi itu, asal wangi itu ada di dekatnya. Dengan susah payah, dia mendekati temannya. “Se-sela-mat u-ulang tahun, Ji-ji-jihyun-ah” katanya terbata-bata. Wangi itu menyerangnya habis-habisan, nyaris saja dia membungkuk karena tak kuat menahan betapa kuatnya wangi itu. Dia sadar wangi itu berasal dari sisi kanannya. Dengan cepat dia menoleh, kemudian matanya terbelalak.

 

Tidak, tidak hanya dia yang terkejut. Gadis di hadapannya ini juga tampak sangat terkejut, matanya terbelalak lebar. Dan saat itu juga dia merasakan kepalanya pusing dan perutnya terlilit nyeri.

 

“Wangi itu…” desis Kyuhyun susah payah.

 

“Aroma itu…” bisik Jirim tak percaya. Kenyataan memukulnya bagai godam saat menyadari bahwa aroma embun bercampur mint yang menyegarkan itu menguar dari pria di hadapannya. Kesadarannya belum kembali sepenuhnya saat tangan pria itu meraih pinggangnya, mengurungnya dalam satu pelukan posesif. Perlahan Jirim merasakan ujung hidung pria itu menyentuh kulit lehernya dan menghirup nafas dalam-dalam disana.

 

Dia juga berusaha menghirup aroma menyenangkan itu sedalam-dalamnya. Tapi, perlahan wangi itu menghilang. Dan sepertinya pria itu juga mengalaminya.

 

“Baunya…” kata Jirim pelan.

 

“Menghilang” lanjut Kyuhyun menyelesaikan kalimat Jirim. Tanpa melepas pelukannya, dia berbisik, “Aku menemukanmu..”

 

END

 

Kkeut! Akhirnya selesai juga setelah 5 jam, hahaha. Aneh ya? Kecepetan ya? Bingung nggak? Maaf ya, ini fanfiction pertama saya, jadi kalau banyak kurangnya harap maklum. Makasih buat admin yang udah ngijinin fanfiction saya nongol disini. Makasih juga buat yang udah mau baca. Komennya ditunggu, biar fanfiction selanjutnya tambah bagus. Okeh, saya udah banyak cincong. Happy reading ^^ saranghae❤ *cium jauh fuhh*

 

5 thoughts on “Scent”

  1. if this really happened, then everything will be easy. easy for us to find who is our mr right, isnt it???? Like it vey muchh….

  2. satu kata bwt ur first fanfic eonni >>>>> Daebak a.k.a Keren
    aku suka bgt penggunaan kalimat kamu yang ringan tpi kuat #apalah itu hhehe, boleh request??coba deh publish ff yang genrenya angst, tpi tetep castnya pke si epilKYU hheheh
    dtunggu cerita lainnya ya🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s