Promise Me and I’ll Be Back

Promise Me And I'll Be Back

Promise Me And I’ll Be Back

Author: HeeEunNa

Genre: Romance, Sad.

Length: Oneshoot

Cast: Kim Jong Woon (Super Junior), Sung Ji Yoo (OC)

Disclaimer: All the casts are Gods, but the story is truly mine.

***

May 20th, 2013

Cuaca Seoul saat ini begitu cerah. Suara mesin dan klakson mobil menghiasi tiap sudut jalan kota Seoul yang dipadati banyak orang. Seorang gadis melintasi tepi jalan raya yang ramai dengan mendekap beberapa buku tebal. Sesekali ia membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.

Langkah gadis itu berhenti di sebuah taman dan ia duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu. Gadis itu meletakkan tumpukan buku di sampingnya dan melepaskan kacamatanya. Ia menatap sejenak kacamata yang ia kenakan. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman samar. Ia merindukan seseorang, seseorang yang memberikan kacamata itu padanya.

Ia memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya ke atas. Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya untuk merilekskan otot-otot lehernya yang kaku setelah hampir beberapa jam berkutat dengan materi kuliah yang ia ikuti.

Drrtt…Drrtt…

Gadis itu merogoh saku coat-nya dan meraih ponselnya yang berdering. Ia menaikkan sebelah alisnya setelah melihat sederet nomor telepon yang tidak ia kenal. Dengan ragu ia menggeser tombol ponselnya.

“Yeobseyo?”

“Yeobseyo, apakah benar ini nomor telpon Nona Sung Ji Yoo?”

“Ne, ini dengan Sung Ji Yoo. Nuguseyo?”

“Ah, begini Nona Ji Yoo, bisakah kita bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda mengenai makalah yang sedang anda kerjakan.”

“Makalah? Ah, algaeseumnida, dimana kita bisa bertemu?”

“Bagaimana jika di café dekat kampus anda?”

“Baiklah, saya segera ke sana.”

Sung Ji Yoo mengakhiri sambungan teleponnya. Sejenak ia berpikir, bukankah makalah yang ia kerjakan sudah selesai? Bahkan Kim sonsaengnim sendiri yang mengatakan padanya bahwa makalahnya sudah diterima. Ji Yoo kemudian menggedikkan bahunya tanda ia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu.

Ji Yoo meraih beberapa bukunya dan kembali mengenakan kacamata biru sapphire-nya. Ia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju café yang tidak begitu jauh dari kampusnya.

Setelah sampai di depan café, Ji Yoo masuk dan mengedarkan pandangannya ke penjuru café yang terlihat tidak begitu ramai. Ia mencari-cari sosok orang yang tadi menghubunginya. Ia mengerenyitkan alisnya ketika ia tidak menemukan orang itu.

“Kebiasaanmu yang terlalu mudah percaya dengan orang lain tidak pernah berubah ya Sung Ji Yoo.”

Ji Yoo terkejut saat sebuah suara terdengar dari balik tubuhnya. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang di belakangnya. Dan detik selanjutnya kedua matanya membulat sempurna dan jantungnya berdegup dengan kencang. Orang yang sangat ia rindukan saat ini berdiri tepat di hadapannya.

“Jo–Jong Woon Oppa?”

“Do you miss me Sung Ji Yoo-ssi?”

Jong Woon tersenyum lembut menatap gadis yang tengah terkejut di depannya kemudian ia merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk gadisnya.

Ji Yoo menghambur ke dalam pelukan Jong Woon. Orang yang sudah dua minggu tidak ditemuinya saat ini tengah memeluknya erat. Bulir air mata menumpuk di kedua sudut matanya. Ji Yoo memeluk tubuh Jong Woon dengan erat untuk memastikan jika ini bukan mimpi.

“Ini benar kau kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?”

Jong Woon melepaskan pelukannya dan kembali menatap kedua mata Ji Yoo kemudian tersenyum.

“Kau tidak sedang bermimpi chagiya.”

“Bogoshipeo Oppa…”

“Nado bogoshipeo, Ji Yoo-ah.”

.

Jong Woon dan Ji Yoo menikmati es krim di sebuah kedai yang berada di sudut jalan. Jong Woon tak henti-hentinya menatap wajah Ji Yoo yang begitu menikmati es krim vanilla favoritnya. Jong Woon tersenyum dan tangannya bergerak untuk mengelus puncak kepala Ji Yoo.

Ji Yoo mendongakkan kepalanya menatap Jong Woon yang tengah tersenyum padanya. Semburat merah terlukis di kedua pipi Ji Yoo dan debuman jantungnya terasa begitu cepat. Meskipun mereka telah menjadi sepasang kekasih sejak 3 tahun yang lalu, hal itu sama sekali tidak menyurutkan degupan jantung Ji Yoo setiap kali melihat senyuman dari seorang Kim Jong Woon.

“Kau cantik dengan rona merah di pipimu.”

BLUSH!

Ucapan Jong Woon sukses membuat wajah Ji Yoo semakin memerah. Detak jantungnya pun semakin tidak terkendali.

“Be–berhenti menggodaku Oppa.”

Jong Woon terkekeh mendengar ucapan dari gadisnya. Ia begitu menyukai ekspresi Ji Yoo ketika ia sedang tersipu malu seperti yang baru saja di lihatnya. Jong Woon menyadari betapa ia merindukan gadis di hadapannya ini.

“Oh iya, kenapa Oppa bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau berada di camp?”

“Wae? Apa aku tidak boleh berada di sini?”

“Ani, bukan begitu maksudku. Tapi kau kan sedang menjalani pelatihan dasar di Jeonju.”

“Aku sudah meminta izin pada Sunbae-ku untuk keluar sebentar. Aku ingin bertemu denganmu.”

Ji Yoo tersenyum mendengar penjelasan dari Jong Woon. Ia sangat senang mendapati kenyataan bahwa lelaki yang sudah mengisi seluruh hatinya tengah merindukannya dan berusaha menemuinya di saat ia harus mengemban kewajibannya sebagai warga Negara Korea.

“Kau terlihat lebih kurus Oppa. Apa kau makan dengan benar selama di camp? Bagaimana dengan tidurmu? Apakah nyenyak?

“Kau ini tetap saja cerewet.”

“Mwoya?”

“Hahaha. Kau tenang saja Ji Yoo-ah. Aku makan dengan baik di sana dan tidurku juga nyenyak. Mungkin karena pelatihan itu begitu ketat sampai tubuhku menyusut seperti ini.”

“Jangan terlalu memaksakan diri Oppa, aku takut kau sakit.”

“Arasseo Chagiya.”

.

Saat ini Jong Woon dan Ji Yoo melangkahkan kakinya menuju sebuah taman yang tidak jauh dari kedai es krim. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain dan tidak ada keinginan untuk melepaskannya sedetikpun.

Mereka menduduki salah satu kursi panjang yang berada di bawah sebuah pohon yang rindang. Ji Yoo menyandarkan kepalanya pada bahu Jong Woon sambil memainkan jari-jari mungil Jong Woon yang ada di genggamannya. Mereka begitu menikmati waktu yang ada untuk melepaskan rasa rindu yang sudah bertumpuk di dalam hati mereka.

“Oppa, aku senang kau datang menemuiku. Aku sangat merindukanmu.”

Jong Woon tersenyum mendengar ucapan Ji Yoo yang tengah mendekap sebelah tangannya. Jong Woon mengecup puncak kepala Ji Yoo singkat kemudian menggenggam tangan Ji Yoo yang bebas.

“Aku juga sangat merindukanmu Ji Yoo-ah. Rasanya aku hampir gila tidak bisa bertemu denganmu selama di camp. Dan lagi aku tidak diperbolehkan untuk menggunakan ponsel.”

“Jika kau diperbolehkan menggunakan ponsel aku yakin ponselmu akan penuh dengan selca-selca-mu.”

“Aish, kau ini. Jika aku diperbolehkan menggunakan ponsel sudah sangat ku pastikan aku akan selalu menghubungin setiap pagi, siang dan malam.”

“Hihi, kau benar Oppa.”

Drrtt…Drrtt…

Jong Woon meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku jaketnya. Jong Woon kemudian terdiam saat melihat nama seseorang yang menghubunginya. Ji Yoo mendongakkan kepalanya menatap Jong Woon yang diam dengan ekspresi datar.

“Oppa, nuguya? Kenapa tidak di angkat?”

Jong Woon tersentak dan mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. Perlahan Jong Woon menggeser tombol ponselnya dan mendekatkan pada telinganya.

“Yeobseyo?”

“…”

“Ah, Ne.”

“…”

“Arasseo Hyung. Kamsahamnida.”

Jong Woon mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali terdiam. Kemudian ia menatap Ji Yoo yang tengah menatapnya bingung.

“Chagiya, aku minta maaf. Aku–aku sudah harus kembali ke camp.”

Seketika Ji Yoo terdiam. Secepat itukah? Bukankah ia baru saja bertemu dengan Jong Woon. Melihat ekspresi Ji Yoo, Jong Won kemudian menggenggam kedua tangan Ji Yoo erat.

“Maafkan aku Ji Yoo-ah.”

“G–Gwaenchana Oppa. Bukankah kau memang diizinkan keluar hanya sebentar.”

“Maafkan aku.”

“Sudahlah Oppa, aku tidak apa-apa. Bisa bertemu denganmu seperti ini sudah cukup untukku.”

Ji Yoo menundukkan kepalanya. Ia berbohong jika mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak ingin Jong Woon pergi. Tanpa sadar kedua sudut matanya sudah di penuhi butiran air yang siap mengalir melewati kedua pipinya. Jong Woon yang menyadari guncangan kedua bahu Ji Yoo segera menarik tubuh mungil Ji Yoo ke dalam pelukannya. Dan kemudian tangis Ji Yoo pecah. Jong Woon membiarkan kaos-nya basah oleh air mata Ji Yoo.

.

Saat ini Jong Woon dan Ji Yoo sudah berada di sebuah stasiun. Jong Woon akan kembali ke Jeonju menggunakan kereta dan Ji Yoo ingin mengantarnya pergi.

Mereka duduk di sebuah kursi sambil menunggu datangnya kereta yang akan membawa Jong Woon kembali ke Jeonju. Keheningan menyelimuti Jong Woon dan Ji Yoo. Saat ini Ji Yoo hanya ingin menikmati saat-saatnya bersama Jong Woon sebelum kekasihnya itu kembali menghilang dari pandangannya.

“Ji Yoo-ah, kau baik-baik saja kan?”

“Eum, aku–aku baik-baik saja Oppa.”

Ji Yoo menghapus air matanya yang tanpa sadar mengalir dari matanya. Jong Woon terus menggenggam tangan Ji Yoo erat untuk menenangkannya.

Tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan jika kereta menuju Jeonju akan segera tiba. Ji Yoo semakin menggenggam erat tangan Jong Woon yang masih menggenggam tangannya. Air matanya kian memaksa untuk keluar.

Jong Woon menggeser duduknya menghadap Ji Yoo. Ia menghapus jejak air mata yang mengalir di kedua pipi Ji Yoo.

“Chagiya, berjanjilah padaku bahwa kau akan tetap menungguku. Aku janji aku akan kembali padamu. Kau sudah melewati dua minggu tanpaku dan aku membutuhkan kesabaranmu sedikit lagi sampai aku menyelesaikan pelatihanku. Setelah itu aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu berada di sampingmu kapanpun kau mau. Ku mohon bersabarlah dan tunggu aku pulang.”

Ji Yoo menatap kedua mata Jong Woon dan menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya tercekat untuk sekedar mengeluarkan suara. Ia hanya bisa mengangguk pasrah. Rasa kehilangan yang ia rasakan dua minggu yang lalu kini kembali ia rasakan. Perasaannya tidak rela untuk melepaskan kekasihnya kembali ke camp.

Tak lama kereta yang di tunggu tiba di stasiun. Tangisan Ji Yoo semakin pecah. Air matanya seakan tidak bisa berhenti untuk mengalir.

Jong Woon menarik Ji Yoo untuk ikut berdiri. Pandangan Ji Yoo kabur akibat air matanya yang sudah menumpuk di sudut matanya. Perlahan Jong Woon mengusap air mata yang siap jatuh dari kedua mata Ji Yoo.

“Chagiya, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

“Apa itu?”

“Aku ingin kau menciumku.”

“Eh?”

“Ayolaaah, aku ingin kau menciumku untuk menyemangatiku.”

Jong Woon memberikan ‘puppy-eyes’ pada Ji Yoo agar Ji Yoo mau menuruti permintaannya. Ji Yoo tersenyum melihat sikap kekanakan Jong Woon yang terkadang membuatnya gemas.

Kedua mata Jong Woon berbinar saat Ji Yoo menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Dengan tidak sabar Jong Woon mendekatkan wajahnya pada Ji Yoo agar ia bisa mencium pipinya. Saat Ji Yoo akan mengecup pipinya tiba-tiba Jong Woon memutar kepalanya sehingga bibir Ji Yoo bersentuhan dengan bibir Jong Woon. Ji Yoo membelalakkan matanya. Kedua tangan Jong Woon terangkat dan menangkup wajah Ji Yoo untuk memperdalam ciumannya.

Jong Woon kemudian melepaskan ciumannya dan tersenyum menatap Ji Yoo yang masih terkejut dengan wajah yang memerah.

“O–Oppa, neo–“

“Hehehe, mianhae Ji Yoo-ah.”

“Eish jinjja.”

“Gomawo Chagiya. Ingat pesanku sebelumnya. Kau harus jaga kesehatanmu, jangan sampai telat makan dan tidurlah yang nyenyak.”

“Eum, arasseo Oppa. Kau juga harus menjaga kesehatanmu. Jangan paksakan tubuhmu jika sudah lelah. Makanlah yang benar dan tidur yang cukup. Aku pasti akan merindukanmu.”

“Arasseo Ji Yoo-ah. Aku berangkat. Tunggu aku.”

“Ne Op–pa.”

“Saranghae Sung Ji Yoo-ku.”

“Nado sa–ranghae Kim Jong Woon Op–pa.”

Ji Yoo tidak bisa mengartikulasikan kata-kata dengan benar akibat isakan tangisnya yang kembali pecah. Genggaman tangannya dengan Jong Woon perlahan terlepas seiring dengan langkah Jong Woon memasuki kereta.

Jong Woon tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ji Yoo yang semakin terisak saat pintu kereta mulai tertutup. Ia menutup mulutnya untuk menahan isakan tangisnya yang semakin membesar ketika kereta yang ditumpangi Jong Woon perlahan bergerak dan meninggalkan stasiun.

“Aku akan menunggumu Oppa, aku janji.”

-END-

FAILED! FF apa ini yang keluar dari hasil ketikan kesepuluh jari tanganku! *jedotin kepala* Maafkan aku, FF ini bener-bener gagal! Aku tau kok kl alurnya kecepetan, ga nyambung, ga jelas, atau apalah itu. Huhu.

Sebenarnya FF ini aku tulis berdasarkan mimpi aku semalam. Pas lagi ga enak badan begitu tidur eeh malah mimpiin Kim Jong Woon, sedih pula mimpinya. Heish! Tapi di mimpi aku kok sedih banget ya? Begitu aku tulis dalam bentuk cerita kok ga ada sedih-sedihnya gini? Heran! .__.

Ya sudahlah yah sudah terlanjur jadi hahahaha *masukin karung* Terima kasih sudah baca FF-ku, jangan lupa menyempatkan waktu untuk komennya hihi. Paipaaaii~ *tebar Jong Woon

2 thoughts on “Promise Me and I’ll Be Back”

  1. Annyeong… sya reader bru ^^
    FFx bgus… romantis kok dan jga nysek knpa yesung oppa cpet pkangx… #knpaakuygpusing.
    Buat FF brkutx hwaiting…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s