Must I Call You ‘Hyung’?

Title : Must I call you ‘Hyung’?

Author : Shen Rui

Cast : Kim Kibum,Kim Jonghyun

Support Cast : Lee Taemin,Kim Minji,Kim Jaejoong (OC)

Length : Oneshot

Genre : Brothership,Family,Frienship,Lil bit Angst

Rating : General

 

Disclaimer : Cerita ini punya aku dan semua Cast punya Tuhan 

 

Summary : Ketika sahabat yang kau anggap benar-benar dekat justru membohongimu hal besar,apa yang kau rasakan? Ingin membuatnya lenyap dari muka bumi?

Sama.

Must I Call You ‘Hyung’

Kibum P.O.V

“Kim Kibum! Sampai kapan kau akan seperti ini ?”

 

“Apa yang kau maksud seperti ini eoh?”

 

“Kibum-ah~ jebal “

“Jangan pernah memanggilku seperti itu Bastard!!!”

BUGH!!!

 

Mungkin rasanya  sakit,entahlah aku tidak peduli. Aku juga tidak tahu kenapa, yang jelas aku selalu ingin memukul jika melihat dia.

“Kau Kim Jonghyun! Tidak lebih dari seorang penjilat bodoh!!!”

 

Apa kalian bertanya kenapa aku sangat membenci namja yang bernama Jonghyun itu? Sure , akan ku jawab.  Dia!! Sudah merebut semua yang ku miliki,harta,saudara bahkan orang tua. Kim Jaejoong, ayahku –setidaknya dulu – orang menyebutnya begitu. Dia memiliki hubungan khusus dengan ibu Jonghyun. Dan kalian tahu? Bahkan Jaejoong bodoh itu sudah lebih dulu menghamili ibu Jonghyun sebelum dia menikahi ibuku. Dan yang paling aku benci,ibuku tidak sedikitpun marah ketika Sungmin bodoh itu mengakui perbuatan jalangnya! Ibuku justru meminta ibu Jonghyun tinggal bersamanya ,yah walaupun ibu Jonghyun menolak waktu itu.

 

“Aku wanita  .dia juga wanita. Aku juga sedang hamil sama sepertinya. Aku mengerti keadaannya.” Itu yang ibu ceritakan padaku. Andai saat itu aku tidak dalam kandungan,sudah pasti aku akan memaki Jaejoong bodoh itu dan memintanya untuk meninggalkan ibu Jonghyun. Hei,bukankah sebenarnya hanya ibuku yang ingin dinikahi Jaejoong? Bukan ibu Jonghyun.Dan kenapa aku membenci ayahku sendiri? Karena pada akhirnya dia memilih hidup bersama Jonghyun  dan ibunya,dengan alasan materi. Padahal dia sudah tinggal bersama kami selama 5 Tahun. Kakek menulis di surat wasiatnnya bahwa beliau hanya akan memberikan semua hartanya pada cucu laki-laki pertamanya,  dan sialnya Jonghyun lahir beberapa bulan lebih dulu dariku. Dan kalian tahu? Jaejoong bodoh itu meninggalkan kami pada saat ibuku mengandung Minji –adik perempuanku-. Tapi aku Lega karena 7 Tahun setelah itu Jaejoong bodoh sudah tak ada di dunia lagi. Huh~ itu kejadian 20 tahun lalu.

 

***

 

Author P.O.V

 

Ponsel Kibum berdering, tertera hangul yang barbacakan NAE MINJI.

 

“Yoboseyo”

 

“Oppa, Umma sakit. Dia memanggil namamu terus menerus”

 

“Jinjja? Di rumah sakit mana?”

 

“ A a anni ! Umma dirawat di rumah”

 

Kibum mengankat sebelah alisnya “ Arra,aku akan segera tiba.”

 

Tidak butuh waktu yang lama bagi Kibum dan motor – hasil jerih payah – nya untuk sampai di rumah Ibu dan adiknya. Ah ralat . Rumah Jonghyun lebih tepatnya. Kibum sedikit ragu. Kalau saja bukan karena ibunya sakit,tidak akan pernah Kibum mau menginjakkan kakinya di rumah Jonghyun. Muncul seorang Ahjumma setelah Ia menekan bel.

“ Ah, Tuan Muda Kibum” Ahjumma itu membungkuk member salam.

 

‘ Apa kau bilang? Tuan muda? Shiroh! Jangan samakan aku dengan Jonghyun.’

“Ahjumma, apakah ibuku sudah baikan?” Kibum mencoba bersikap seramah mungkin.

 

Ahjumma dengan wajah lesu itu sedikit memiringkan kepalanya. Bingung. “ Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tuan Muda. Nyonya besar baik-baik saja.”

 

“Apa Kau yakin? Bukankah ibuku penyakitnya sedang kambuh saat ini?”

 

“ Ah rupanya Tuan Muda Jonghyun belum memberi tahu Anda. Nyonya besar sudah berobat ke Amerika,dan penyakitnya tidak mungkin kambuh lagi.”

 

Tiba-tiba saja rahang Kibum mengeras,tangannya mengepal kasar,nafasnya menderu dan gigi-giginya saling bertaut,menimbulkan gemertak kecil.

 

“ Silahkan masuk Tuan Muda”

 

“ Tidak perlu!” Kibum berbalik,ingin rasanya dia berlari sekencang-kencangnya. Berteriak sekeras-kerasnya. Ia merasa begitu bodoh! Bagaimana mungkin dengan mudahnya dia dibohongi dengan sangat mudah. Dan ironisnya adik – yang sangat dicintai – nya lah yang melakukan itu.

 

“ Kim Kibum!!” Terdengar suara Jonghyun di telinga Kibum. Ia acuhkan.

 

“ Kibum Oppa!!” Minji,juga Ia acuhkan.

 

Hingga didengarnya suara yang begitu Ia rindukan. Suara ibunya.

 

“Kibum-ah~.” Kibum mematung. Membiarkan ibu,adik dan – mungkin- kakaknya mendekat.

 

“ Kibum-ah~. Umma mohon,masuklah. Kali ini saja, Jebal.”

 

***

 

Seorang wanita paruh baya,seorang yeoja dan dua namja seumuran tenggelam dalam hening. Bahkan coklat panas di depan mereka sudah tak bisa disebut panas lagi.

 

“Jadi sekarang kau senang eoh? Melihatku dengan bodohnya menginjakkan kaki di rumahmu?” Nada bicara Kibum terdengar begitu meremehkan.

 

“Kibum~ ,tidak seperti itu” Jonghyun frustasi. Sebenarnya dia juga sama sekali tidak mau menggunakan cara pengecut seperti ini. Tapi,salah Kibum sendiri,Ia begitu sulit ditemui.

 

“Huhh! Busuk!!”

 

“Kim Kibum! Siapa yang kau sebut busuk eoh? Jonghyun? Kau tidak tahu apa saja yang dilakukannya! Berhentilah membenci apa yang sebenarnya tidak patut untuk kau benci! Buka matamu Kibum! Kemana Kibum ibu yang dulu?!” Mata Kibum membelalak,Ia tak habis pikir. Kenapa ibu yang selama ini begitu lembut padanya sekarang  justru membentaknya. Ia menggeleng tak percaya. Sejurus kemudian matanya menatap Jonghyun tajam.” Selamat Kim Jonghyun! Selamat! Kau berhasil mengubah ibu dan adikku. Kau! Benar-benar hebat.”

 

***

 

Seperti biasa Kibum menjalani rutinitasnya sebagai pelayan di sebuah kafe. Entah apa sebabnya,Kibum kembali terngiang apa yang dikatakan ibunya saat di rumah Jonghyun.

“Berhentilah membenci apa yang sebenarnya tidak patut untuk kau benci! Buka matamu Kibum! Kemana Kibum ibu yang dulu?!”

 

Kibum mengacak rambutnya kasar. Bagaimana bisa? Ibunya mengatakan itu? Apa Jonghyun tidak patut dibenci? Yang seperti itu tidak patut dibenci? Sebenarnya orang macam apa Jonghyun itu? Apa yang dikatakannya pada ibunya sampai ibunya bisa berkata seperti itu?

 

“Aaaargh!!!”

 

“Hyung? Kau kenapa? “ Taemin – teman kerja Kibum – merasa agak aneh dengan rekan kerjanya ini.

 

“ Mollayo Taemin”

 

“ Molla? Hei, come on Hyung. Kau tidak akan mengatakan ‘molla’ jika kau tak sedang dalam masalah” Taemin menarik kursi ,mendekati Kibum di depan mesin kasir. Kibum terkekeh kacil. Bukan,bukan Karena Taemin menarik kursi. Tapi karena pengucapan Taemin dalam bahasa inggris begitu buruk. Harusnya berbunyi ‘kemon’ malah justru terdengar mejadi ‘komon’ .

 

“Ya! Hyung! Apa kau gila? Tadi tampangmu frustasi,sekarang tertawa. Hyung berhentilah menakutiku.” Taemin memasang ekspresi wajah takut. Kibum memutari meja kasir,menghampiri Taemin dan memeluknya. Ia tahu Taemin mencoba menghiburnya saat ini. Taemin tersenyum miris,balas memeluk Kibum.

 

“Hyung.Kau kenapa lagi? Haruskah kau sedih hanya karna hal yang sama.”

 

“Kau anak kecil tidak tahu apa-apa Taemin.”

 

“Ne ne ne, Aku hanya anak kecil. Yah setidaknya anak kecil sepertiku sanggup menjadi sandaran untuk orang DEWASA sepertimu” Taemin memberi penekanan di setiap katanya .

 

“ Ya!! Kau!!”

 

Taemin beranjak dari duduknya,menuju pintu. Kemudian membalik papan yang bertuliskan ‘OPEN’ menjadi ‘CLOSE’ .

 

“ Kenapa kau menutup kafe ini Taemin?”

 

“Aku tidak mau bekerja jika keadaanmu masih seperti ini.”

 

“Kau mau dipecat? Mau kehil;angan pekerjaan eoh?”

 

“ Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan teman sekaligus saudara Hyung”

 

Sekali lagi  Kibum kagum dengan anak ini. Ia tak habis pikir,dari mana anak ini belajar berbicara?

 

“Tidak usah heran seperti itu”

 

Kibum tersenyum lagi. Taemin menaruh dua cup cappuccino latte di meja. Satu untuknya dan tentu saja satu untuk Kibum.

 

“ Minumlah Hyung”

Hening sesaat.

 

“ Taemin,aku ingin sepertimu.Bebas. Tak merasakan kesedihan apapun.”

 

Taemin tersenyum gamang. “ Jangan Hyung,jangan jadi sepertiku.”

Taemin menyesap kambali lattenya.

“Kau tahu Hyung beberapa tahun lalu aku tidakklah seperti ini. Aku adalah Taemin yang kasar ,Taemin yang tidak tahu terima kasih.”

“Aku sempat membenci orang tuaku karena mereka miskin,tidak punya pekerjaan tetap. Dan aku juga malu mempunyai noona yang bahkan tidak tamat SMA. Aku mulai menjadi berandalan”

 

“Apa kau sedang membual Taemin?”

 

“Anni Hyung, Hingga saat itu aku bertemu dengan seorang namja kaya.Dia berkata seperti ini”

 

Taemin berdehem dan kemudian menirukan suara namja yang ditemuinya saat itu.“Bersyukurlah Taemin kau masih punya orang tua yang utuh dan juga noona,kalau kau jadi aku maka kau akan mengubah persepsi bodohmu itu. Harta tak akan pernah berarti bagimu. Kau akan berpikir yang terpenting adalah keluarga.”

 

“ Hah~ kurasa namja itu benar,rasanya sakit sekali Taemin. Jonghyun meninggalkan rasa sakit itu padaku. Dia,merebut keluargaku”

 

“Tidak Hyung, bukan Jonghyun Hyung yang merebut keluargamu. Tetapi kau yang membiarkan keluargamu pergi bersama Jonghyun Hyung.”

 

“Apa kau sedang menyuruhku untuk tinggal  bersama Jonghyun?”

 

Taemin mengambil sesuatu dari tasnya. Rubik. “Kau lihat ini Hyung,rubik ini membuat kepalamu sakit jika tetap dengan warna yang terpisah. Tapi jika kau membuatnya seperti ini . . .” Taemin membenahi susunan rubik,sehingga setiap sisi memiliki warna yang senada. “ Maka rubik ini terlihat indah. Kau hanya tinggal mengubah warna hidupmu menjadi senada,setelah itu keluargamu akan utuh lagi Hyung.I’m right?”

 

Kibum terkekeh lagi “ Dari mana kau belajar kata-kata bodoh itu eoh? Haha dan pengucapan mu begitu jelek Taemin.”

 

“Yah setidaknya itu bisa membuatmu tertawa Hyung”

 

“Andai saja Taemin. Andai saja yang menjadi  saudaraku  adalah kau,bukan Jonghyun pasti aku akan senang sekali.”

 

“Jinjja? Apa itu artinya kau memberiku ijin untuk menjadi pacar Minji?”

 

“Ya!! Lee Taemin!!”

 

***

 

Kibum menimang-nimang ponselnya.Apakah Ia harus menuruti perintah pesan di ponselnya atau tidak. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang – bisa dibilang – tidak nyaman. Pikirannya kembali ke beberapa  tahun lalu.

 

-Flashback-

 

Kibum nampak kesulitan menata kotak besar –berisi susu- yang harus diantarnya pagi ini. Susah payah Ia mengangkat,tapi sia-sia.

“Butuh bantuan?”

 

“Ya” Jawab Kibum tanpa menatap ke sumber suara.

 

“ Ah kamsahamnida” Kibum membungkuk ke arah orang tadi setelah kotak besarnya sudah terduduk manis di tempatnya.

 

“Jangan pikirkan. Ah ya aku Kim Jonghyun. Kau?” Jonghyun mengulurkan tangannya

 

“Kibum. Kim Kibum.”

 

“Apa kau yakin bisa mengantarnya sendiri? Apa itu tidak berat?”

 

“Anni,aku sudah biasa.”

 

“ Tunggu sebentar.” Jonghyun masuk ke toko sepeda yang kebetulan memang tidak jauh dari tempat mereka.

 

Jonghyun kembali dengan sepeda di tangannya. “Aku akan membantumu.”

 

Kibum terkejut. “Kauu membelinya? Astaga?!”

 

“Ah sudahlah kau akan ku bantu.”

 

“Aku tidak percaya kau bekerja seperti ini setiap hari Kibum”

 

“Inilah yang dilakukan orang miskin di Seoul Jonghyun.”

 

“Eung apa kau masih sekolah?”

 

“Kalau aku tidak sekolah aku tidak akan susah payah bekerja seperti ini Jonghyun.”

 

Jonghyun menggeleng tak percaya.

 

“Dan kau, apa kau punya saudara di Seoul?”

 

Jonghyun menggeleng.

 

“Lalu mau apa kau kemari?”

 

“Molla. Aku hanya penasaran dengan apa yang dibilang orang-orang tentang Seoul. Mereka bilang Seoul indah,tetapi juga kejam.”

 

“Ah iya. Seoul memang kejam. Untuk orang-orang sepertiku tentunya.Eung bagaimana kalau kau tinggal dirumahku saja?”

 

“Apa keluargamu tidak akan keberatan?”

 

“Tentu saja tidak. Kajja!”

 

“Kibum namja itu adalah aku,namja yang kau benci itu adalah aku. Umma dan Minji sudah kubawa ke rumahku.”

 

“Katakan itu bohong Jonghyun!! Katakan!”

 

“Sayangnya itu benar Kibum. Ikutlah denganku”

 

“Shiroh!! Tidak akan pernah”

 

-Flashback End-

Kau Harus datang Kibum. Kau tahu dimana tempatnya.Aku akan menunggumu.

 

Jonghyun membaca kembali pesan yang dikirimnya pada Kibum entah berapa jam yang lalu.

 

“Sebenci itu kah kau padaku Kibum? Benarkah?”

“Kau harus datang Kibum,” Mungkin sudah ratusan kalimat itu keluar dari mulut Jonghyun.

 

“Apa lagi yang kau inginkan dariku ?”

 

Jonghyun reflek menoleh “Kibum, kau datang”  Senyum terukir di wajah Jonghyun.

 

“Apa lagi yang kau inginkan eoh?”

Jonghyun tak kunjung member i jawaban.

 

“Harta? Ibu? Adik? Atau apa? Katakan padaku,Bastard!!”

“Kau sudah memiliki apa yang ku miliki dulu,rakus! Benar-benar rakus.”

Kibum tersenyum miris, “Apa semua itu tidak cukup? Kau benar-benar brengsek Jonghyun. Kau brengsek.”

 

“Apa kau yakin Kibum? Apa kau yakin aku yang brengsek? Baiklah aku brengsek,tapi kau. Kau jauh lebih brengsek dariku Kibum.”

 

Kibum menarik napas. Mencoba untuk tidak emosi. Ia sadar betul ini tidak akan selesai jika dihadapi dengan emosi.

“ Aku hidup dengan ibu juga adikku selama hampir dua puluh tahun. Tanpa bantuan siapapun.Tanpa pekerjaan tetap dan tanpa ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga. Dan bahkan aku harus bekerja ketika baru berumur sepuluh tahun. Menggantikan ayah yang direbut oleh orang lain “ Kibum melirik Jonghyun. ”Merawat ibuku yang sakit-sakitan. Bahkan aku sudah terbiasa tidak makan demi membelikan obat untuk ibu. Membiayai sekolahku juga adikku. Dilecehkan orang,dihina,diremehkan? Apakah bertahan hidup demi keluarga pantas disebut brengsek? Apa yang seperti itru namanya brengsek Jonghyun? Lalu kau ini apa ?!!”

 

Jonghyun masih diam.

 

“Lalu kau dengan mudahnya mengambil keluargaku,membuat ibuku membenciku,membuat adikku berani berbohong padaku. Apa yang seperti itu tidak brengsek? Apa yang seperti itu adalah malaikat eoh?”

 

“Tidak seperti itu Kibum…”

 

“Cih, Penipu”

 

“Kau masih menganggapku penipu? “

 

“Bukan aku yang menganggapmu penipu Jonghyun,Tapi kau yang meyakinkanku bahwa kau adalah penipu ulung”

 

“Heuh~ Tidakkah kau pikir hidupku juga menderita Kibum?”

 

“Tentu tidak. Penipu tidak akan menderita jika Ia mendapatkan apa yang Ia ingin.”

 

“”Kau tetap belum mengerti Kibum? Kau salah Kibum,kau salah jika kau menganggapku bahagia.”

 

“Omong kosong”

 

“Terlahir menjadi yang tidak di inginkan bukanlah mudah Kibum. Apalagi jika yang tidak nenginginkanmu adalah orang tuamu sendiri. Ibu dan ayahmu. Setiap hari ibuku memakiku,memukuliku,meludahiku dan bahkan  hampir membunuhku. Ayahku,heuh bahkan aku baru melihat ayahku saat aku berumur  lima tahun. Itupun dia tak pernah menganggapku sebagai anak. Dia selalu memanggilku dengan namamu. Dan setiap aku mengingatkannya bahwa namaku adalah Jonghyun. Maka dia akan memukuliku. Karena ulahnya aku sempat tak sadarkan diri selama sebulan.”

 

Kibum tak menyangka. Jonghyun mempunyai kisah hidup seperti itu. Bagaimanapun juga Ia pernah bersahabat dengan Jonghyun. Tidak sebentar. Tiga tahun. Dan Ia tahu Jonghyun memanglah namja yang baik. Hanya saja perbuatan Jonghyun saat itu benar-benar membuat Kibum benci.

 

“Kakek. Dia tidak pernah menganggapku seperti manusia. Dia menyekolahkanku kemudian menjadikanku mesin uangnya. Entahlah aku juga tidak tahu saat itu aku sudah mendapat gelar sarjana diumur  enam belas tahun. Dan kau,kau harus bersyukur tidak mendapatkan warisan dari kakek. Aku . . .,Aku iri padamu Kibum aku iri” Kibum melihat jelas Jonghyun menangis.

 

“Kau punya ibu dan adik yang menyayangimu,kau punya tempat untuk bersandar .Punya seoarang yang membuatmu melupakan kesedihanmu. Sedangkan aku? Bahkan untuk menangis pun aku sudah tak bisa. Air mataku telah kering sebelum berhasil keluar. Apakah aku brengsek mengambil sedikit saja kebahagiaanmu Kibum? “

 

Kibum meneguk ludah “Tapi tidak dengan membohongiku seperti ini Jonghyun. Tidak denagn menipuku.Tidak dengan pura-pura menjadi sahabatku.”

 

“Lalu jika aku tidak menggunakan cara seperti ini apa kau akan menerimaku? Jika aku berterus terang apa kau mau menerimaku? Tidak Kibum”

 

“Ini sangat sakit Jonghyun, tiga tahun kita bersahabat . Aku dengan jujur memberi tahu siapa aku sebenarnya. Dan bahkan memberikanmu tempat tinggal. Dan kau,apa balasanmu? Tiba-tiba saja kau mengaku bahwa kau adalah anak dari si Jaejoong bodoh itu?Bukankah sama saja aku terlihat begitu menyedihkan selama ini?”

 

“Aku hanya ingin memiliki keluarga Kibum. Itu saja.”

 

“Tapi”

Jonghyun sudah tidak peduli apa yang terjadi selanjutnya. Ia sudah tidak tahan. Dipeluknya Kibum, Sahabat sekaligus saudara tirinya itu.

“Aku hanya ingin sepertimu Kibum. Aku juga ingin memiliki seseorang yang kupanggil dengan sebutan Umma. Aku hanya ingin Minji memanggilku Oppa dan kau,kau memanggilku Hyung Kibum.” Tubuh Kibum mulai bergetar ,tangannya dengan sendirinya mulai mendekap tubuh kekar Jonghyun. Ditenggelamkannya kepalanya di bahu Jonghyun.

“Maafkan aku Hyung,maafkan aku”

 

Jonghyun balas memeluk Kibum erat. “ Hanya itu? Apa hanya itu?”

 

“Jeongmal mianhaeyo Hyung,maafkan aku yang selalu berpikir bahwa kau egois. Maafkan aku yang berpura-pura tidak merindukanmu.Maafkan aku yang . . . “

 

“Sudahlah Kibum,asal kau mau menerimaku menjadi kakakmu,itu sudah cukup”

Kibum terkesiap saat Ia melihat Minji berdiri menangis di belakang Jonghyun.

 

“Dan sekarang jadilah oppa yang baik untuk Minji,Kau tau ? Dia sangat ingin memelukmu”.

 

Kibum melepas pelukannya dan berlari menghampiri Minji. Mereka Berpelukan.

 

Seseorang menyenggol lengan Jonghyun.

 

“Ah kau Taemin”

 

“Terlahir menjadi yang tidak diinginkan bukan berarti tidak boleh mendapatkan apa yang ingin diinginkan Hyung.”

 

“Kau benar . Dan terima kasih selama ini kau telah mengurus Kibum”

 

“Hei,berhentilah berkata seolah-olah aku ini seumuran denganmu. Aku jauh lebih muda darimu hahah”

 

Kibum dan Minji kembali dari acara berpelukannya. Kibum sedikit heran melihat Taemin ada di sini. Ia  bolos kerja?

 

“Tidak usah memasang wajah seperti itu Hyung.”

 

“Ya! Taemin apa maksudmu! Kau mengenal Jonghyun?”

 

“Kau pikir siapa Hyung namja yang mengubahku menjadi Taemin yang sekarang?”

 

Mata Kibum membelalak.”A apa itu Jonghyun? Kim Jonghyun?”

 

“Tidak Kibum,Jonghyun hyung” Jonghyun meralat.

 

Taemin menggangguk tipis.”Dan tentang kau ingin menjadi saudaraku. Eung apa itu masih berlaku? Apa aku boleh menjadi pacar Minji?”

 

“ya Lee Taemin !! Apa kau sedang menyatakan cintamu? Kenapa kau tidak romantis eoh?” Minji mencak-mencak tidak karuan.

 

“H Hyung sepertinya aku ada masalah, aaa” Taemin menjauh,berlari.

 

“Yaa! Lee Taemin! Mau kemana kau!~!”

“Apa kau mengijinkan Taemin menjadi adikmu Hyung?”

 

“Tentu saja Kibum. Minji mernyukainya sejak dulu,”

 

“Ternyata Eomma benar,kau memang tidak patut untuk dibenci”

Mereka bertatap salama beberapa detik lepas setelah itu mereka tertawa lepas bersama. Entah karena apa,hanya mereka yang tahu. Mungkin.

 

Ada kalanya apa yang terlihat begitu buruk sebenarnya adalah mulia atau yang terlihat begitu menyenangkan sebenarnya adalah penderitaan. Bahagia ataupun tidak tergantung dari kita menyikapinya.

 

2 thoughts on “Must I Call You ‘Hyung’?”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s