Can I Love You (Part 7)

Can I Love You

[Freelance] CAN I LOVE YOU?? [Part 7]

Title : Can I Love You?? [Part 7]

Author :  Monfish86

Main cast : Kim Chaeryl (OC), Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Jang Yunhi (OC)

Support cast : Kim Heechul, Lee Soora, Shin Hyorin (OC), Lee sungmin and other cast

Genre : Romance, marriage life

Length : On writing

Rating : PG-15

Author POV

Cuaca di pagi ini membuat suhu udara sedikit menghangat ditengah-tengah musim salju yang hampir menyelimuti seluruh isi kota di Seoul. Salju-salju mulai mencair bersamaan dengan datangnya sinar matahari yang mungkin sedikit terlambat memunculkan bias sinar kuningnya. Meskipun suhu udara masih tergolong rendah, namun tidak membekukan seorang pria yang sudah 27 menit berada disekitar taman kota daerah Gangnam. Disanalah ia duduk tak bergeming, pandangannya lurus menghadap lalu lintas jalan yang mulai padat. Sesekali ia menyisingkan lengan jasnya, pukul 08.00 pagi.

“Apa kau sudah lama menunggu? Maaf, seharusnya 20 menit yang lalu aku sudah sampai” Seseorang datang menghampirinya, seseorang yang ia tunggu, seseorang yang akan menjawab semua hal yang ia tak ketahui selama 15 tahun ini.

“Hyung…Heechul hyung orrimaneyo” Ia berdiri dan memberi salam pada Heechul yang kini tengah tersenyum ke arahnya.

“Kau Lee Donghae, namja cengeng yang dulu…..ah.. lihatlah dirimu sekarang..bahkan aku hampir tak mengenalimu” Pria cantik itu meninju pelan dada Donghae, ia Kim Heechul seseorang yang Donghae kenal sejak kecil, bahkan sudah seperti Hyung nya sendiri.

Donghae hanya terkekeh menanggapinya, tak lama kemudian Heechul memeluk sebentar seseorang yang sudah lama ia rindukan, seperti dongsaengnya sendiri.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba menyuruhku kesini, bahkan kudengar kau sudah berada di Seoul sejak sebulan yang lalu” Heechul memulai pembicaraan saat setelah mereka duduk kembali di kursi taman itu.

“Kau tahu Hyung apa yang aku butuhkan saat ini, semua…..semua tentangnya yang aku tak tahu” Heechul mengerti apa yang Donghae inginkan saat ini, Kim Chaeryl.

“Kau sudah melihatnya? “ Kedua namja tersebut berbicara tanpa memandang satu sama lain, pandangannya lurus menghadap hiruk pikuk padatnya lalu lintas kota, namun keduanya sama-sama fokus dengan apa yang dibicarakannya

Donghae hanya mengangguk pelan, Heechul hanya melihat dari sudut matanya, ia tahu Donghae membutuhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan yeodongsangnya  (adik perempuan), ia berjanji akan menceritakan semuanya.

“Dia tumbuh dengan baik, aku harus mengakuinya ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik”

“Ya, aku tahu pasti akan begitu” Donghae tersenyum saat mengingat wajah Chaeryl yang dulu dan sekarang, sorot mata itu tak pernah berubah, cantik.

“Kau juga tahu kalau dia sangat cerewet, suka mengomel dan menyebalkan” Kini giliran Heechul yang terkekeh jika mengingat semua sifat yeodongsaengnya itu.

“Donghae~ya saat kau pergi waktu itu, saat Chaeryl tak mengingat apapun tentang dirinya bahkan semua orang yang ada disekitarnya, termasuk dirimu. Itu semua sangat berat bagi kami, trauma itu sampai saat ini masih membekas dalam dirinya.”

Mendengar itu, Dongahae hanya memejamkan mata, membiarkan telinganya mencerna semua yang ia butuhkan, mengingat bagaimana saat ia mengunjungi Chaeryl kecil di rumah sakit saat itu, menyakitkan mendapati Chaeryl yang tak mengingat dirinya lagi, tak mau bertemu dengannya, bahkan ia masih ingat betul bagaimana histerisnya ketakutan  Chaeryl saat melihat orang lain selain Kim ahjumma (Orang tua Heechul). Orang asing, seketika Dongahe menjadi orang asing di mata gadis kecil itu.

Kini Donghae menyadari bahwa kepergiannya saat itu benar-benar keputusan terburuk dalam hidupnya. Harusnya ia tetap tinggal bersama dengan gadis kecilnya. Bisakah ia dan Chaeryl kembali lagi seperti semula? Itu pertanyaan yang ada dikepala Donghae saat ini.

“Setiap malam ia selalu terbangun dan berteriak, lalu menangis hingga tertidur lagi. Bahkan psikiater pun rasanya benar-benar tak berguna, ia akan histeris dan ketakutan jika melihat orang lain, termasuk diriku” Heechul mengingat bagaimana buruknya kondisi Chaeryl saat itu, gadis malang yang kehilangan ke dua orang tuanya tepat di depan matanya.

“Sejak saat itu, eomma lebih protective padanya, merawatnya dengan sangat hati- hati dan memeperlakukannya seperti putri kandungnya sendiri…luar biasa..hingga perlahan Chaeryl bisa memandangku, setidaknya ia tak akan histeris jika melihatku.”

“Mianhae Donghae~ya, saat itu kami tak bisa menceritakan apapun tentang dirimu pada Chaeryl, saat kau memutuskan untuk pegi dan saat kakekmu mengatakan bahwa kau akan selamanya menetap di Belanda. Sejak itu kami tak pernah menyinggung segala sesuatu tentang dirimu, aku dan eomma takut Chaeryl akan kembali seperti saat itu, hingga saat ini ingatanya tentang masa lalunya masih sangat sulit.”

“Aku tahu hyung, kecelakaan itu…siapapun yang berada didalamnya mungkin tak akan pernah menduganya..itu tak mudah…dan kepergianku saat itu sungguh diluar dugaanku, aku merasa Chaeryl tak akan pernah lagi mau melihatku, kau juga tahu seberapa panjang pikiran seorang bocah berusia 11 tahun. Aku kira dengan aku pergi maka perlahan otakku akan membiarkan semuanya berlalu, namun aku salah” Suara Donghae begitu pelan saat ikut mengingat kecelakaan dan masa kecilnya, bahkan Heechul harus menengok ke arahnya agar ia bisa menangkap suara namja ini.

“Hyung…saat itu aku pun melihat sendiri eomma dan appa Chaeryl serta eomma ku…mereka tak bergerak di hadapan kami…dan Chaeryl..aku ingat bagaimana saat itu ia berpegangan erat padaku bahkan aku masih ingat bagaiman raut wajah takutnya saat itu. Hingga akhirnya mobil itu terbakar. Semuanya masih tergambar jelas di otakku”

Heechul menepuk pelan bahu Donghae, ia bersyukur namja ini tak mengalami trauma seperti Chaeryl. Meskipun begitu ia tahu itu sangat tidak mudah dilalui oleh anak berusia 11 tahun.

“Kau tahu setelah kondisinya membaik dan ia mulai bisa berinteraksi kembali kami pindah ke Seoul, dan itu semakin membuat kondisinya berkali-kali lipat lebih baik, meskipun terkadang traumanya masih belum hilang total.”

Heechul melanjutkan kembali cerita mengenai Chaeryl, semua tentang gadis kecil itu tak sedikitpun ia lupa apa saja yang terjadi selama Donghae pergi.

“Dan kini Chaeryl kami tumbuh menjadi gadis yang luar biasa, dia seorang gadis yang kuat jika melihat masa lalunya dulu aku benar-benar tak percaya.” Sekilas Heechul menatap Donghae yang menyimak dengan seksama apa yang di ucapkannya, tersenyum mendapati namja ini masih sangat peduli apapun tentang Chaeryl, sama seperti dulu.

“Aku sudah menceritakan semua tentang adik ‘babi’ ku, sekarang giliranmu”

Donghae hanya menghela nafas panjang, tidak…Kim Heechul tak menceritakan semuanya tetang Chaeryl, mengenai status Chaeryl yang sudah menjadi milik orang lain.

“Kau bohong hyung, gadis kecilku yang dulu tak sama lagi..dia…dia sudah menjadi milik orang lain, kenapa hyung? Kenapa bisa seperti itu?” Pertanyaan itu muncul bersamaan dengan luka yang masih basah di dadanya.

Untuk beberapa detik Heechul cukup terkejut dengan ucapan Donghae, namun ia tahu cepat atau lambat namja ini akan mengetahui status Chaeryl yang sudah menjadi istri orang lain.

“Donghae~ya gadis kecilmu yang dulu sama sekali tak berubah, namun yang berubah adalah saat kau memutuskan untuk pergi meninggalkannya” Sejenak Heechul menatap Donghae yang sedang menunggu jawaban darinya

“Maaf bukan maksudku untuk mengungkit masa lalu, saat itu baik kau dan aku masihlah seorang bocah yang belum memiliki hak untuk mengambil keputusan. Aku tahu ikatan antara Chaeryl dan dirimu sudah ada sejak orang tua Chaeryl dan orang tua mu memutuskan untuk menyatukan kalian kelak saat sudah dewasa, tapi …tapi inilah kenyataan yang ada saat ini Donghae~ya. Entah kau percaya atau tidak tapi inilah yang mungkin dinamakan sebuah takdir”

Rasanya ia tak sanggup mendengar penuturan Heechul, namun mau tak mau inilah yang ia dengar.

“Liontin itu, kenapa jika ia sudah bukan gadis kecilku kenapa ia masih memilikinya?”

“Seharusnya aku mengatakan bahwa liontin itu adalah ikatan yang dibuat untuk kalian, tapi aku mengatakan bahwa itu adalah pemberian eomma nya saat ia berulang tahun…jika saja ia menemukan benda itu sebelum ia menikah, percayalah padaku aku mengatakan yang sejujurnya”

Donghae meremas kuat rambutnya, kepalanya tertuduk tak berdaya, perasaan yang ia simpan hanya untuk Chaeryl seakan-akan menusuknya tepat di jantungnya bersamaan dengan kenyataan bahwa ikatan itu telah tiada.

“Hingga saat ini ia pun tak tahu apa arti liontin itu, termasuk tentang dirimu”

Kenyataan yang diterima Donghae memanglah sangat getir, tapi ia tahu ia tak bisa melakukan sesuatu, saat ini sudah ada seseorang yang akan bertanggung jawab tentang hidup Chaeryl, gadis yang tak akan pernah bisa terhapus baik dari hati maupun di otaknya.

“Kau tahu Hyung, sebelum mobil kami terbakar, eomma Chaeryl memintaku untuk membawa Chaeryl bersama ku kelak nantinya, dan aku berjanji akan melakukannya, namun jika sudah seperti ini mungkinkah janji itu sudah tidak berlaku lagi?” Ucapan Donghae hanya tertahan dalam bibirnya yang tertutup rapat.

Author POV End

Kim Chaeryl POV

Huahhhh….aigoo  lelah sekali, sudah lama juga aku tidak pernah lari pagi, biasanya aku dan Heechul oppa sering melakukan ini jika ada waktu senggang dan sekarang aku melakukannya sendiri di waktu liburan semester kuliah, sebenarnya sedikit membosankan melakukan ini sendiri.

Setelah lari pagi mengitari taman disekitar appartement ini aku berjalan menuju ujung taman untuk istirahat sebentar, aku duduk di bangku ujung taman ini dan mengamati beberapa orang yang sedang berlalu lalang, beberapa diantaranya melakukan hal yang sama denganku, lalu di bangku sebelah tempatku duduk terlihat seorang namja dan yeoja sedang berbicara lalu tertawa beberapa saat dan perhatianku teralih saat aku melihat seorang gadis kecil dan bocah laki-laki yang sedang bermain air mancur , keduanya tertawa lepas saat bocah laki-laki itu memercikkan air diantara mereka.

Lalu gadis kecil itu melakukan hal yang sama, mereka terus tertawa dan berlari-larian sambil terus melakukan hal itu, sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman melihat tingkah mereka, dan senyuman itu lenyap saat kulihat gadis kecil itu menangis  sambil menangkupkan tangan mungilnya diwajahnya lalu bocah laki-laki tadi sepertinya berusaha  membujuknya untuk berhenti menangis, dan beberapa saat kemudian mereka tertawa bersama-sama.

Aneh rasanya aku pernah berada dalam posisi seperti itu, sebagai  seorang gadis kecil, ah tentu saja semua yeoja dulunya adalah seorang gadis kecil. Tapi tingkah kedua bocah tadi benar-benar mengingatkanku pada sesuatu, tapi aku benar-benar tidak tahu apa itu.

Seperti ada yang terlupa olehku, dan secara tidak sengaja kenapa aku malah teringat foto seorang gadis kecil dan bocah laki-laki. Tentu saja gadis kecil yang difoto itu adalah aku, tapi siapa bocah laki-laki itu?  Aku melihatnya di studio milik Lee Donghae  beberapa hari yang lalu. Pertanyaanku masih sama, kenapa foto itu bisa sama persis dengan foto yang ada di liontinku ini?

‘Drrt….drrrttt..drrttt’

Aku tersadar dari lamunanku saat ponselku bergetar di dalam saku hoodie ku. Shin Hyorin

Dia mengingatkanku bahwa siang ini ia akan mengunjungi appartemen kami. Kami??isshhh sejak kapan aku menggunakan kata  ‘kami’? menyebalkan. Aku beranjak dari temapat duduk dan berjalan kembali menuju appartement, apa dia sudah berangkat ke kantor? Hhhh..mudah-mudahan jawabannya adalah iya. Chakkaman, apa dia nanti menyentuh sarapan pagi yang telah kubuat? Ah aku tidak peduli ia menyentuhnya atau membuangnya, itu semua aku lakukan karena perintah ahjumma dan eomeonim

“Chaeryl  sekarang kau sudah hidup berumah tangga, kau harus mengurus suamimu dengan benar”

“Eomeonim sepertinya tidak perlu kuatir, karena ada kau yang akan mengurus Hyukki, hhh sebelum menikah dia sangat mandiri dan omonim sering kuatir karena dia memilih hidup sendiri dan mengurus semuanya sendiri, tapi sekarang ada dirimu sebagai istrinya, itu membuat Eomeonim tenang”

“Menikah di usia muda sepertimu mungkin tidak mudah, tapi eomeonim dan ahjumma mu yakin bahwa kalian dapat berpikir secara dewasa untuk mejalaninya”

“Apalagi jika nanti kalian memiliki seorang bayi yang hadir ditengah-tengah kalian, aigoo eomeonim benar-benar bahagia jika membayangkan hal itu.”

Aku tersedak saat mengingat penuturan eomeonim dan ahjumma beberapa hari yang lalu, terutama mengenai seorang bayi, jika mendengar hal itu entah kenapa rasanya jantungku serasa berpacu dengan cepat.

Jika saja eomeonim dan ahjumma tahu bagaimana keadaan pernikahan kami yang sebenarnya, mungkin aku tidak akan berada dalam posisi seperti ini.

Lee Hyukjae POV

“Heeii…kau beruang raksasa apa yang kau lihat? Tatapanmu benar-benar mirip sekali dengannya.” Mungkin aku sudah gila bicara sendiri dengan benda raksasa di atas ranjang itu, siapa lagi pemilik boneka raksasa seperti itu kalau bukan yeoja aneh dan labil, entah kemana saat ini dia berada. Aku tak peduli.

Apa yeoja gila itu tak memiliki boneka yang sedikit langsing? Dan sudah 3 hari ini raksasa itu memakan hampir setengah ranjang tidurku.

“Ini adalah zona wilayahku, dan kau dilarang melewatinya” Hampir setiap malam selalu kalimat itu yang aku dengar, sial.

Pukul 07.30 pagi, lebih baik aku berangkat ke kantor sekarang. Setelah berpakaian rapi aku berjalan menuju keluar kamar, dan  mengambil tas kerjaku yang terletak di atas nakas sudut kamar ini.

Sepi sekali, kemana perginya yeoja labil itu? Saat bangun tadi aku tidak melihatnya sama sekali, lalu apa pedulimu Lee Hyukjae? Bukankah dia istri yang menyebalkan.

Dahiku  berkerut saat melihat sesuatu diatas meja makan, nasi goreng kimchi dan segelas susu? Apa dia yang membuat sarapan ini? Untukku? Dan kulihat secarik kertas disampingnya

‘Terserah kau mau makan atau membuangnya’

Jadi benar dia yang membuatkan ini semua? Aku meletakkan tas kerjaku diatas meja lalu menarik kursi meja makan, namun saat aku hendak duduk kudengar ponselku berbunyi. Aku tersenyum melihat nama yang menari-nari dilayar ponselku, Yunhi.

“Oppa, kau ada dimana?” Belum sempat aku menjawab ia sudah mendahuluinya seperti ini, aku hanya tertawa kecil mendengar kelakuannya

“Aku masih di appar… ahni dirumah, wae?” Hampir saja aku menyebut kata appartement, bodoh.

“Oppa sebelum berangkat ke kantor temani aku breakfast dulu ya?” Untung saja dia tidak menyadarinya, lalu aku melihat sarapan pagiku diatas meja makan, Yunhi mengajakku makan pagi, lalu bagaimana dengan ini?

“Sekarang?”

“Wae?oppa tida bisa?padahal aku sudah berada di caffe tempat biasa kita, dan aku sudah memesankan makanan kesukaanmu” Nadanya seperti terdengar kecewa, aku beranjak dari kursi lalu menyambar kunci mobil dan berjalan keluar.

“Anniyo, aku akan datang, tunggu disitu”

“Ne, aku tunggu…cepat datang dan hati-hati dijalan”

‘KLIKK’

Aku matikan sambungan telephon dan bergegas menuju caffe tempat biasa kita bertemu, aku berdiri didepan pintu lift sembari melihat jam ditangan kananku.

Pada saat pintu lift terbuka dan hendak memasukinya langkahku terhenti saat melihatnya, siapa lagi kalau bukan yeoja labil satu itu. Ia berjalan dari sudut lorong lantai appartement ini, dan nafasnya sedikit terengah-engah, sepertinya dia baru berolahraga, tapi tunggu sebentar… apa dia menggunakan tangga untuk menuju kesini? Apa dia sudah gila menuju lantai empat dengan menggunakan tangga? Dia benar-benar aneh.

“Kau..kau sudah mau berangkat?”  Ia terlihat terkejut saat melihatku

“Menurutmu?” Aku tak menghiraukan pertanyaannya, lalu dia mengangkat kedua bahunya dan berjalan melewatiku

“Hei kau, selama aku pergi jangan melakukan hal-hal aneh di appartementku dan jangan lupa membersihkannya, kau tahu aku tidak suka melihat sesuatu yang tidak rapi” Aku menahannya dengan ucapanku saat ia hendak masuk ke dalam appartement

“Mwoorago?? Yak kau pikir aku disini sebagai pembantu huh? Kalau aku tidak mau melakukannya kau mau apa?”

“Itu sudah tugasmu disini, kau tinggal disini dan sebagai timbal baliknya kau harus melakukan itu, dan kau tahu sebelumnya kita sudah sepakat untuk menolak tawaran eomma untuk memiliki pelayan disini” Itu sangat tidak mungkin jika dirumah ini nanti ada pelayan, bisa-bisa sandiwara pernikahan kami akan terbongkar, sebenarnya itu lebih bagus jika terbongkar, tapi aku terlalu takut membayangkan reaksi eomma dan appa jika hal itu terjadi, apalagi kejadiannya sudah sejauh ini….arrhhh menyebakan sekali terjebak dalam situasi seperti ini.

“Kau…ishhhh ..kau tidak usah menyuruhku, aku..aku akan melakukannya jika aku sedang tidak malas” Wajahnya terlihat sangat kesal dan tanpa menunggu lagi ia sudah masuk dan menghilang dibalik pintu.

Kalau saja bukan karena rasa bertanggung jawab, aku tidak akan mau menyia-nyiakan hidupku bersamanya.

@caffe

“Oppa, kemarin sore aku bertemu dengan eonni…Soora eonni”

Sejenak aku berhenti mengunyah sarapan pagiku saat mendengar ucapan Yunhi. Dari keraguan suaranya dapat terlihat jelas bahwa pertemuannya dengan eonniku pasti berhubungan dengan pernikahanku.

“Lalu? Apa yang membuatmu cemas? Apa eonniku melakukan sesuatu padamu?” Serentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku saat melihat kecemasan di raut wajahnya

“Aniyo, eonni tidak bicara banyak denganku…hanya saja….” Ia menggantungkan kalimatnya, sorot matanya berlari menghindar dari tatapanku

“Yunhi~ya katakan padaku”

“Soora eonni sepertinya sangat menyukai Chaeryl, itu yang membuatku takut oppa…”

“Yunhi~ya aku berdiri didepanmu, jadi tak perlu ada yang kau takutkan, sekalipun itu nuna atau siapapun” Aku meraih pergelangan tangannya dan menggengamnya dengan kuat, meyakinkannya bahwa tak ada satupun yang harus ditakutinya selama ia dalam jangkauanku.

“Yah…aku percaya padamu, kau selalu bisa melindungiku, saranghae” Detik itu juga senyumannya kembali lagi diraut wajahnya.

“Oppa, apakah akan baik-baik saja jika ada karyawanmu yang melihat kita sedang berdua seperti ini?”

Yunhi sedikit mencondongkan kepalanya untuk berbisik kepadaku, aku tak tahu apa yang dibicarakannya, lalu detik kemudian ia mengisyaratkan ku untuk menoleh kebelakang.

“Bukankah sudah aku bilang, tak perlu ada yang kau takutkan Jang Yunhi~ku” Aku melihat dua orang karyawanku duduk berada dibelakang kami, sekali lagi akupun meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.

Kepanikan yang muncul didalam diriku mungkin hanya 0.01 prosen saat ada yang mengetahui hubungan kami, tapi aku yakin mereka bukanlah orang yang akan ikut-ikut dalam urusan pribadi atasannya. Mungkin jika statusku masih seorang namja single akan mudah bagiku dan Yunhi untuk melakukan hal lain ditempat umum yang lebih daripada sarapan pagi bersama.

Author POV

“Yakkk Kim Chaeryl apa susahnya untuk mencoba, ini hanya untuk memastikan”

“Shireooo!! Kau saja yang mencobanya” Chaeryl meletakkan kembali benda persegi panjang itu dideretan rak, ini sudah ke 3 kalinya benda putih tersebut berpindah dari keranjang belanja ke rak.

“Yakkk..yang berkemungkinan hamil kan kau, paboya”

Hyorin melempar kembali test pack tersebut kedalam keranjang, dan menahan tangan Chaeryl yang akan mengembalikan benda tersebut

“Chaeryl~ah, percayalah padaku semuanya akan baik-baik saja, tak perlu ada yang kau takutkan. Omo…apa kau sakit? Kenapa wajahmu terlihat pucat??” Chaeryl hanya diam dan menarik tangannya dari Hyorin

“Jadi ini alasanmu mengajakku belanja? Hanya untuk membeli test pack di supermarket” Chaeryl mencibir Hyorin dan berjalan meninggalkannya

“Ini cara tercepat dan termudah untuk memastikannya, ini langsung terfikirkan olehku saat melihatmu mual-mual lagi tadi di appartement” Hyorin mengikuti langkah Chaeryl dari belakang sambil menenteng keranjang belanjaan yang hanya berisi benda kecil tersebut.

“Awww..Yakkk..” Tubuh Hyorin membentur Chaeryl saat gadis itu tiba-tiba berhenti berjalan, Hyorin mengurungkan niatnya untuk mengomel saat dilihatnya Chaeryl berdiri teerdiam didepannya.

“Donghae~ssi…” Hyorin mengikuti arah mata Chaeryl, dilihatnya seorang namja berkemeja putih yang berdiri tak jauh dari mereka, namja itupun cukup terkejut saat melihat Chaeryl, lagi.

Dia Lee Donghae, berjalan menghampiri Chaeryl yang masih berdiri diam ditempatnya, ia tak yakin apa dirinya akan baik-baik saja jika bertemu dengan gadis itu, mengingat kenyataan pahit yang sudah menyelimutinya.

Tapi sorot mata, wajah dan senyum Chaeryl membuat Donghae melupakan apa yang sudah menjadi kenyataannya, gadis itu tersenyum kearahnya dan memberinya salam

“Anyeonghaseo, Donghae~ssi” Chaeryl sedikit gugup saat melihat namja itu dan ini bukan pertamakalinya mereka bertemu.

“Kita bertemu lagi, Chaeryl…Ehmm bagaimana kabarmu?” Sama seperti Chaeryl, Dongahe pun gugup dan bingung ketika harus berbicara dengannya. Terakhir kali saat melihat gadis ini bibirnya terasa kaku setelah mengetahui status gadis yang ingin dimilikinya selama ini.

“Aku baik….enggg”

“Uhukkk..Aigooo..uhukkkk” Belum selesai Chaeryl menjawab, ia dikagetkan dengan suara berisik yang disengaja oleh sahabatnya, Hyorin.

Chaeryl yang tau hal itu, segera menyadari bahawa sahabatnya tersebut merasa diabaikan.

“Eungg..Donghae~ssi ini sahabatku, Hyorin”

“Lee Donghae imnida” Hyorin membalas jabatan tangan Donghae, keduanya memperkenalkan diri masing-masing, sedangkan Chaeryl hanya melihat mereka berdua dan tiba-tiba pandangannya  sedikit kabur.

Gadis itu berpegangan pada ujung rak, saat dirasa kepalanya sedikit berputar, namun ia masih bisa mendengar jelas percakapan Hyorin dan Donghae

“Ya kami sudah berteman sejak SMP, Donghae~ssi kau juga temannya Chaeryl?”

“Ah..n..ne, aku mengenalnya dari Lee Soora” Dada Donghae terasa sesak saat ia menjawab pertanyaan Hyorin,terkesan ia dituntut untuk berbohong, ingin rasanya ia mengatakan bahwa Chaeryl adalah gadis kecilnya, agar ada yang mengetahui bahwa Chaeryl adalah miliknya, dulu.

Tapi lidahnya tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, saat kedua matanya menangkap sebuah cincin yang melingkari jemari tangan kanan Chaeryl.

“Ohh..kau mengenalnya dari kakak ipar Chaeryl, Soora eonni”

“Ne..”

“Chaeryl~ah…gwaenchana?” Hyorin sedikit terkejut saat melihat sahabatnya itu menggenggam lengan kirinya dengan kuat

“Hyorin~ah..kenapa kepalaku seperti ber..berputar?” Chaeryl memegang keningnya yang terasa pusing dan..

“OMO…” Pekikkan Hyorin membuat Donghae melakukan gerakan reflek, saat mengetahui kondisi Chaeryl yang tak berdaya.

Dengan sekali gerakan tangan Donghae menarik Chaeryl yang hampir jatuh membentur lantai, ya ..gadis itu tak sadarkan diri.

*****

@Hospital

Donghae meremas kuat udara kosong digenggaman tangannya, rasa sakit yang masih membasahi dadanya kini semakin perih dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.  . Amarahnya memuncak saat ia tak sengaja medengar pembicaraan Hyorin dengan Chaeryl, gadis kecilnya yang telah melupakannya. Namun yang membuatnya marah saat ini bukan karena ingatan Chaeryl yang lupa tentang dirinya.

Entah mengapa ia merasa telah dibohongi oleh Heechul, namja itu tak menceritakan semuanya dengan jelas mengenai pernikahan Chaeryl yang terjadi karena sebuah ‘kecelakaan’. Namun disisi lain ia sadar akan posisinya saat ini, ia bukan siapa-siapa bagi Kim Chaeryl. Donghae hanya terdiam kaku didepan salah satu pintu kamar rumah sakit saat mendengar semuanya.

“Chaeryl~ah, aku…aku tak tahu harus senang atau tidak mendengar berita ini..” Hyorin beranjak mendekati Chaeryl yang masih terdiam sejak dokter meninggalkan kamar 202, ia melesak duduk diatas ranjang bersama dengan sahabatnya itu. Sebelah tangannya menggenggam tangan Chaeryl yang dirasanya sedikit dingin.

“Tapi bagaimanapun juga ini adalah kabar baik, maksudku kau sudah menjadi wanita sempurna dengan adanya…”

“Ini tidak nyatakan?” Hyorin berhenti bicara saat sahabatnya itu tiba-tiba membuka mulut

“Hyorin~ah, tolong tampar aku katakan ini hanya mimpi..atau..atau mungkin dokter itu salah, ah..bukankah tadi kita membeli test pack, aku yakin alat itu pasti lebih akurat, dimana kau menaruhnya? Aku..”

“Chaeryl~ah, dokter tadi tidak mungkin salah, ia sudah memastikan bahwa kau benar-benar hamil dan itu sudah memasuki bulan ke 2, kau tidak bisa menyangkalnya lagi”

Hyorin memegang bahu sahabatnya itu, meyakinkan bahwa semua ini adalah kenyataan yang tak bisa disangkalnya, ia tahu ini pasti berat bagi Chaeryl mengingat bagaimana kondisinya.

“Hyorin~ah..aku takut..aku tak tahu harus bagaimana, bagaimana jika dia tahu kalau aku sedang hamil? Dia pasti akan sangat marah dan semakin membenciku” Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sejenak bendungan air mata yang akan jatuh, ia tak bisa membayangkan bagaimana tanggapan Hyukjae tentang hal ini. Mungkin namja itu akan membenci juga bayi yang ada didalam kandungannya.

“Kau tahu kan bagaimana kondisi pernikahanku, semua ini hanya sandiwara. Jika saja ‘kecelakaan’ konyol malam itu tak terjadi, mungkin aku tidak akan seperti ini. Dia maupun aku tak menginginkan pernikahan ini apalagi dengan adanya….” Chaeryl tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya, namun air mata yang menetes dari kedua matanya cukup sudah menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.

“Tolong jangan berfikiran seperti itu, ini semakin menambah buruknya kondisimu, kau ingatkan dokter berpesan apa, kau tidak boleh stress dan tekanan darahmu sangat rendah itu sangat tidak baik bagi kondisimu maupun kondisinya” Hyorin menyentuh perut Chaeryl yang masih terlihat rata tersebut.

“Kim Chaeryl disini ada aku, sahabatmu. Jika aku boleh berbicara, aku hanya akan mengatakan,  berjuanglah demi calon bayimu, dia tak salah dalam hal ini, dan..a..aku yakin bahwa Hyukjae tidak akan membenci bayi itu, bagaimanapun juga itukan hasil kerja kerasnya” Hyorin sedikit menahan tawa saat melihat ekspresi bodoh Chaeryl tentang kalimatnya yang terakhir

“Shin Hyorin..!!” Chaeryl meninju lengan sahabatnya itu

“Arraseo…tapi benarkan…yak Chaeryl jangan memukulku terus…”

Aksi Chaeryl yang mendaratkan pukulan-pukulan di lengan Hyorin terhenti saat di lihatnya seorang namja yang tengah berdiri di hadapan mereka, Lee Donghae. Namja tersebut berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih menggores dadanya sesaat mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Chaeryl.

“Donghae~ssi” Donghae yang mendengar Chaeryl menyebut namanya melengkungkan senyuman dari bibirnya

“Selamat untukmu, Kim Chaeryl” Ucapan selamat tersebut sesungguhnya sangat menyakitkan bagi Donghae, namun disisi lain ia cukup merasa tenang bahwa gadis kecilnya dulu kini dalam keadaan yang baik-baik saja dan terlebih lagi ia bisa melihat Chaeryl kembali, meskipun bukan untuk memilikinya.

Mendengar hal itu Chaeryl hanya menatap Donghae dengan senyum yang sedikit ia paksakan, aneh baginya ketika seseorang memberinya ucapan selamat untuk hal yang baru pertama kalinya ia alami.

“Chaeryl~ah tadi Donghae~ssi yang membantuku membawamu kemari, jika tak ada dia aku tak tahu harus ku apakan dirimu yang pingsan di supermarket”

Mendengar hal itu dari Hyorin, Chaeryl sedikit kecewa entah kenapa ia malah memikirkan seseorang yang seharusnya membawanya ke rumah sakit. Tapi hal itu sangat tidak mungkin, seseorang tersebut tak mungkin peduli padanya.

“Ghamsahamnida, Lee Donghae~ssi” Sedangkan Donghae hanya membalasnya dengan lengkungan senyum dari bibirnya

“Donghae~ssi, bisakah aku minta tolong sekali lagi?”  Chaeryl hanya memandang sahabatnya tersebut dengan raut wajah ‘bingung’ saat Hyorin mengacungkan jari telunjuknya di depan Donghae.

***

“Apa masih mual? Atau mungkin kau ingin sesuatu untuk menghilangkan rasa mual?”

“Aniyo..kata dokter  ini sangat wajar, gwaenchana”

‘Uhkkkk…’

Sudah sekitar 5 menit Donghae memarkirkan mobilnya di ujung jalan saat tiba-tiba Chaeryl memintanya untuk berhenti. Rasa mual karena kehamilannya membuat Chaeryl merasa merepotkan namja sebaik Donghae

‘Uhkkkkk…uhkkk’

Namun dengan sabar namja tersebut menunggu Chaeryl, ia memberanikan tangannya menyuntuh punggung gadis itu. Diusapnya perlahan punggung Chaeryl, bermaksud untuk mengurangi rasa mual gadis itu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

“Donghae~ssi, mianhae…karena Hyorin harus mengambil mobilnya, maka kau yang sial harus mengantarku”

“Mwo? Sial? Bagaimana mungkin aku bisa sial jika mengantar ibu hamil yang cantik?” Donghae sedikit bercanda dengan Chaeryl, sedangkan Chaeryl hanya terkekeh mendengar jawaban Donghae

“Ehmm…Bisa kita pulang sekarang?”

“Apa sudah tidak mual lagi?” Chaeryl hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Arraseo, kajja”

Baik Donghae maupun Chaeryl sama-sama terdiam saat mobil kembali melaju menuju appartemen Chaeryl. Sesungguhnya dikepala Donghae banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada gadis itu, namun lagi-lagi bibirnya tercekat saat mengingat status Chaeryl saat ini.

Sedangkan Chaeryl saat ini entah kenapa ia malah memikirkan seseorang yang mungkin tak akan pernah perduli padanya, rasanya ia ingin sekali membenturkan kepalanya di jendela mobil. Ia teringat perlakuan Donghae saat menghadapinya yang sedang mual-mual tadi, beda sekali dengan seseorang yang malah terganggu dengan suara mualnya tersebut.

“Keluargamu pasti sangat bahagia jika mendengar kau sedang mengandung” Ia memutuskan untuk memulai percakapan dengan Chaeryl, namun Chaeryl yang mendengar hal itu tanpa sengaja meneteskan air mata. Dengan segera ia menghapusnya, namun usaha Chaeryl tertangkap oleh Donghae

“Oo…mianhae, apa aku salah bicara? Mianhae Chaeryl, tolong jangan menangis” Donghae terlihat sedikit panik saat melihat Chaeryl yang terus mengeluarkan air mata tanpa isakan tangis

“Aniyo…kenapa harus minta maaf ? aku hanya bingung harus sedih atau bahagia” Chaeryl menyentuh perutnya yang masih rata tersebut, senyumnya sedikit tersungging di bibir mungilnya.

“Jika tak keberatan….k..kau bisa berbagi denganku” Kalimat tersebut bagaikan duri di lidah Donghae, meskipun ia tahu apa alasan Chaeryl menangis. Namun ia membiarkan gadis itu yang akan menceritakan dengan sendirinya, tentunya jika ia bersedia.

Namun Chaeryl hanya diam, ia tak mampu mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan pada orang lain, kekacauan rumah tangganya dengan Hyukjae rasanya tak pantas jika harus dibagi dengan orang lain.

“Tidak apa Chaeryl, aku bisa mengerti jika kau tidak bisa bercerita, mungkin kau sulit untuk mengungkapkan masalahmu pada orang yang baru beberapa hari kau kenal” Donghae spertinya bisa menebak apa isi kepala Chaeryl, sedangkan Chaeryl hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae

“Gomawo Donghae~ssi”

“Ehmmm…Chaeryl~ah bisakah kau tidak memanggilku seformal itu?”

“Ne???” Chaeryl menatap Donghae bingung, sedangkan Donghae hanya tersenyum melihat ekspressi wajah Chaeryl

“Oppa..panggil aku seperti itu…apa kau bisa?” Entah kenapa jantung Donghae seakan bekerja lebih cepat, hingga ia bisa merasakan degub jantungnya saat menunggu jawaban Chaeryl, sesungguhnya ia ingin mendengar Chaeryl memanggil namanya seperti dulu, Donghae oppa.

“Donghae oppa, arraseo aku akan memanggilmu seperti itu..oppa.” Tak butuh waktu lama bagi Chaeryl untuk menjawab permintaan Donghae, namun detik itu juga Chaeryl seperti mengalami dejavu, ia merasa pernah memanggil nama itu berulang-ulang kali, namun tetap saja ia tak bisa mengingatnya lebih jauh

“Oppa…kau tahu,  rasanya aku pernah memanggil nama sepertimu, Donghae oppa..tapi aku tidak tahu siapa yang pernah kupanggil seperti itu”

“Orang itu adalah aku Kim Chaeryl, Donghae oppa yang dulu selalu bersamamu, apa kau lupa??” Ingin sekali Donghae mengatakan hal itu pada gadis ‘kecilnya’ yang dulu, namun ucapanya hanya tertahan di bibir.

“Donghae oppa….bolehkah aku bertanya sesuatu?”  Chaeryl sedikit menggigit bibir bawahnya saat tiba-tiba ia teringat satu hal pertanyaan yang sudah tertanam dikepalanya beberapa hari yang lalu

“Tentu, apa itu?”

“Boleh aku tahu, kenapa di studi foto milikmu terdapat foto yang sama persis dengan di liontinku ini? Aku sangat ingin tahu, oppa. ”

“Kenapa kau sangat ingin tahu?” Donghae sedikit membenarkan posisi duduknya, mencoba mencari kenyamanan dari pertanyaan Chaeryl yang membuatnya gugup seketika.

“Entahlah, jika kau tidak menjawabnya maka kau kejam sekali. Memiliki rasa penasaran itu sangat menyebalkan, kau tahu”

“Foto itu….”

Chaeryl dengan seksama memperhatikan Donghae yng sedang  berbicara, namun namja itu hanya fokus melihat ke arah jalan

“Aku mendapatkannya dari Heechul Hyung”

“Heechul? Apa yang kau maksud Kim Heechul? Oppaku?” Chaeryl sedikit terkejut saat nama Kim Feechul dibawa dalam hal ini, bagaimana mungkin?

Donghae menganggukan kepalanya, ia tak bisa melihat wajah Chaeryl, ia takut itu akan membuatnya tak bisa mengendalikan perasaan masa lalunya.

“Bagaimana kau bisa mengenal oppaku?”

“Dulu, Hyung adalah temanku saat masih kecil. Setelah orang tuaku meninggal aku ikut kakek ke Belanda dan Hyung memberikan foto itu, sebagai hadiah perpisahan” Setenang mungkin Donghae berusaha merangkai cerita, ia tahu itu semua palsu. Donghae berharap Chaeryl bisa menilai kalau itu adalah bohong, sesungguhnya ia inginChaeryl mendapatkan kembali ingatannya yang dulu.

“Lalu, siapa bocah laki-laki yang ada di foto bersamaku?”

“Bocah itu…”

“Bocah laki-laki itu adalah kau, Donghae oppa. Apa itu benar?” Chaeryl tak tahu bagaiman ia dengan reflek menyebut bahwa bocah laki-laki itu adalah Lee Donghae, tapi itulah yang ada dipikirannya

Donghae mencekram kuat roda kemudinya, ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Namun disisi lain terselip perasaan yang membuat hatinya merasa bahagia, Chaeryl bisa mengetahui siapa bocah laki-laki tersebut. Mungkin

“Oppa…bocah laki-laki itu adalah kau bukan?” Chaeryl yang mengetahui Donghae hanya membisu, mengulang kembali pertanyaanya, dan hal itu semakin membuatnya yakin, bahwa apa yang ia duga adalah benar.

“Bagaimana kau bisa mengira kalau itu aku?”

“Kalau aku mengira itu adalah Heechul oppa sangat tidak mungkin, karena aku tahu bagaimana wajahnya saat masih kecil yang aku lihat di dompetnya. Aku mengira foto bocah itu adalah kau saat aku pertama kali melihat foto yang sama di studio milikmu, dan….aku merasa saat melihat kau seakan-akan aku melihat bocah laki-laki itu. “

“Dan…satu hal lagi yang membuatku menebak itu adalah kau, adalah inisial di liontin ini” Chaeryl mengangkat kembali bandul liontin tersebut, dan disana Donghae dapat melihat ukiran dua buah huruf yang sesungguhnya melambangkan inisial Chaeryl dan dirinya, C&D.

“Ahjumma bilang ini adalah inisial nama appa, tapi aku merasa ini bukan lambang nama appa dan aku….ah pabo…mianhae oppa jika aku lancang menyangkutkan dirimu dalam rasa penasaranku. Tidak mungkin kan itu dirimu, anggap saja aku hanya melantur tadi. Mianhae oppa, hanya saja aku merasa ada yang hilang diingatanku, dan bodohnya aku tidak bisa mengingatnya. Dan aku tak tahu harus mulai mengingatnya darimana”

Mendengar ucapan Chaeryl semakin membuat Donghae tak tahu harus bagaimana, ingin sekali rasanya ia membenarkan dugaan gadis itu, namun apa boleh jika melihat keadaan Chaeryl yang sudah menikah saat ini? Donghae takut sekali jika nantinya ia berharap Chaeryl dapat kembali padanya. Tapi bukankah hingga saat ini ia masih mengharapkan gadis itu? Hanya satu penyesalannya, andai saja ia datang lebih awal.

“Aku sudah berusaha mengingat tentang masa kecilku, tapi ahjumma bilang yang mengetahui itu semua adalah diriku sendiri jadi aku harus berusaha mengingatnya secara perlahan. Dan sedikit demi sedikit aku memiliki bayangan tentang orang tuaku meskipun tak semuanya, aku hanya ingin tahu seperti apa saat aku masih kecil.”

“Aku yakin, ada waktunya nanti ingatanmu pasti akan kembali, Kim Chaeryl. Jangan terlalu memaksakan semuanya, ingat kau tak boleh stress” Donghae memilih untuk tak menjawab semua rasa penasaran gadis itu, ini bukan waktu yang tepat menurutnya. Jika memang Chaeryl nantinya tak bisa mengingat tentang dirinya, ia tak akan menyalahkan keadaan baginya yang penting adalah Chaeryl dalam keadaan yang baik-baik saja.

Sedangkan Chaeryl masih saja terkurung dalam rasa keingintahuannya, untuk saat ini ia akan membiarkan hal itu. Mungkin benar bukan Donghae yang ada difoto itu, tapi entahah ia merasa ada yang aneh dengan sikap Donghae, itu yang ada dipikiran Chaeyl saat ini.

 

Author POV End

Chaeryl POV

Aku terus memandangi benda putih kecil itu diatas meja makan, test pack dengan dua garis merah dia atasnya, positif. Apa harus aku beritahu dia? Tapi bagaimana caranya? Jika nanti dia tahu dan marah, bagaimana? Tapi inikan juga karena dia…Arhhhhh…..ahjumaa aku harus bagaiman???

‘Omo…aishhhh…’ hampir saja aku menjatuhkan piring saat hendak meletakkannya di atas meja. Sesegera mungkin aku memasukkan test pack tadi kedalam saku baju saat melihat dia keluar dari kamar,  siapa lagi kalau bukan namja idiot dan menyebalkan itu.

“Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” Ishhh kenapa pagi-pagi harus melihat mukanya yang selalu dingin dihadapanku.

“Yaa…aku lebih baik melihat tembok dari pada harus melihat wajahmu yang menyebalkan setiap hari” Aku kembali melanjutkan kesibukkanku menata sarapan pagi dimeja makan, sesungguhnya ini sangat melelahkan jika harus membuatkan sarapan pagi untuknya.

“Lalu untuk apa kau masih disini? Jika kau malas melihat mukaku”

“Hoohhh…kau pikir aku suka tinggal di appartementmu ini, jika aku bisa aku akan pergi kalau saja bukan karena eomeonim, aboenim dan Soora nuna, dengan senang hati tn.Lee Hyukjae aku akan lari dari tempat ini.” Dia benar-benar menyebalkan, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu saja membuatku naik darah.

Kulihat dia hanya membuang muka, lalu berjalan lima langkah kearahku

“Kau jangan membawa-bawa nama keluargaku dalam pernikahan palsu ini, baik kau maupun aku sama-sama tak menginginkan hal ini terjadi. Jadi semua apapun masalah yang terjadi antara kau dan aku jangan pernah berlindung dibalik keluargaku” Ucapannya sungguh sangat perih jika didengar, apa ia sengaja menyiksaku dengan setiap perkataannya yang tajam.

“Lee Hyukjae~ssi kau salah jika kau menuduhku dengan pernyataan bodohmu itu..dan satu hal yang perlu kau ingat….” Aku menarik nafasku, mencoba meredam emosi dan airmata yang ingin keluar bersama, aku tidak mau menumpahkan airmataku di depan namja seperti dia.

“Jika nanti kau memiliki keberanian untuk mengatakan pada orang tuamu mengenai hubungan kita yang sebenarnya, segera kau tinggalkan aku dan aku tak akan menuntut apapun dari dirimu.”

Aku rasa aku tak sanggup lagi jika terus berdebat dengannya, aku berjalan menuju kamar belajarku dan meninggalkan dia yang hanya diam mematung melihatku dengan  acuh tak acuh. Aku memutar kunci pintu lalu membuangnya kesembarang tempat. Disanalah aku merasakan rasa panas di kedua mataku, dan cairan bening itu terjatuh lagi melewati garis pipiku, tak ada suara dalam tangisku. Ini menyakitkan, sungguh.

Baby~ah, mianhae kau harus mendengar semuanya tadi. Aku harap kau bisa sekuat diriku, kita berdua harus kuat. Sekarang hanya kau yang bisa membuatku sekuat ini. Mianhae saat itu aku sempat berfikir tak meninginkan kau ada dalam perutku, tapi sekarang dan selamanya aku rasa…aku menyayangimu.

Chaeryl POV End

Lee Hyukjae POV

“Lee Hyukjae~ssi, kau salah jika kau menuduhku dengan pernyataan bodohmu itu..dan satu hal yang perlu kau ingat……jika nanti kau memiliki keberanian untuk mengatakan pada orang tuamu mengenai hubungan kita yang sebenarnya, segera kau tinggalkan aku dan aku tak akan menuntut apapun dari dirimu.” Ucapannya sungguh seperti lemparan batu yang tepat mengenai kepalaku, apa yang diucapkannya sungguh menggambarkan kondisiku saat ini.

Jika saja aku mampu mengatakannya dari awal pada orang tuaku, mungkin kekacauan hidupku tak akan sejauh ini. Tapi aku bukan pengecut, jika aku pengecut aku tak akan mau menikahinya. Sebagai laki-laki inilah tanggung jawabku, tak lebih.

Aku melihatnya yang menahan emosi dan airmata saat bicara denganku, apa itu senjatanya agar aku bisa berhenti bicara? Kenapa para yeoja sungguh menyebalkan saat menangis.

Tak lama setelah itu ia berjalan ke ruang belajarnya lalu membanting pintunya, sedangkan aku hanya tetap berdiri diposisiku. Hanya sekilas aku melihat sarapan pagi dimeja makan, jika perdebatan tadi tak ada,  mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memakannya. Dia benar-benar yeoja labil yang sangat menyebalkan, kenapa harus merusak mood~ku di pagi hari.

Tapi siapa laki-laki yang mengantarnya pulang semalam? Apa dia kekasihnya??? Bagaimana jika ada yang tahu kalau dia pulang diantar oleh namja lain? Bukan apa-apa, itu akan merusak reputasiku. Bagaimanapun juga semua orang tahu kalau dia adalah istriku. Bodoh kau Lee Hyukjae, apa hal ini penting bagimu?? Tidak.

Tapi kenapa akhir-akhir ini dia sedikit berbeda? Sensitive sekali jika bicara denganku, ahh bukankah dari dulu yeoja labil itu sudah bersikap seperti itu padaku? Tapi sungguh seperti ada yang disembunyikan dariku..yaaa kenapa aku malah repot memikirkan dia? Ini tidak benar Lee Hyukjae!!.

TBC

41 thoughts on “Can I Love You (Part 7)”

  1. ==” hyuk sadarlah. jgn sama yunhi lagi aigoo istrimu itu lagi hamil. sadarrrrrrrr!!
    brrrrr gak terima kalau dia gituin istrinya terus. jadi kesel berat sma hyuk . TSK!

  2. Waw Chaeryl nya hamil dan dia msh takut u bilang ke Eunhyuk oppa, rasa2nya Chaeryl itu lebih cocok sama Donghae oppa krn baik banget apalagi mrk sebetulnya sdh terikat dari masa kecil hanya krn Chaeryl hilang ingatan dia tdk bs mengingat Donghae oppa.. Ditunggu kelanjutannya chingu

  3. Huaaah .
    Story nya Keren Thor !
    FEEL nya pun dapet banget , aku sampe mau netesin Air Mata😥
    Lanjut !
    Penasaran sama Hyuk Jae and Cheryl selanjutnya🙂
    FIGHTING !!!

    1. huwahhh gomawo ya chingu ud mw myempetin baca & ksi reviewnya..klo ntr moeg nagis ak g tnggung jwb ya…hhehe…gomawo🙂

  4. ternyata chaeril punya trauma ms kcl ya, kasian bgt T_T.. chaeril akhirnya bnrn hml anak eunhyuk oppa pdhl hubungan mrk jg sm sekali blm membaik.. unyuk oppa, neo pabo namja :-C.. q ksl bgt sm eunhyuk oppa, pdhl mrk nkh kan bkn slh cheril sepenuhnya tp jg slh eunhyuk oppa yg mabuk gr2 cemburu ngeliat yunhi pcr kesayangannya itu kepergok selingkuh untuk kesekian kalinya.. mending chaeril sm donghae oppa z *___*..

  5. Aish… Lee HyukJae babo, nappeun!!! nyebelin! ngeselin!! tapi dia hebat juga, baru 1x langsung jadi. Wkwkwkwkwk…..

    aku suka makin suka cerita n konfliknya, menarik^^

  6. Huuuuaaaaaaa asah golok penjual daging, aduhhh si hyuk jahat banget, aduh thor bikin hyuk sadar dong kan kasian istrinya… Klo bang ikan biar sama saya saja hehehehehe

  7. Ah iya lupa maaf makasi ya thor ffnya saya suka, saya tunggu part slanjutnya smangaaaattttt hehehehe salam kenal ya thor:)

  8. Huaaaaaaaah!!!aku kaget bukan main! Kan part 8 udah keluar. Aku mau review kan. Aku kaget akunya blm coment -,- mianhae
    Part ini aku sadar sesuatu. Bahwa hyuk jae tuh udah mulai peduli,tp dia gengsi
    Aku boleh pinjem dia sebentar tak? Mau aku jedotin spy saraf malunya putus

  9. hyukjae mulut y tajem bgt sih,,, ngak sadar dia klo tingkah dia yg buat nama keluarga y teecoreng sama gosip2 selingkuh terang2an n malah khawatirin chaeryl yg bakal bikin nama y jelek…sebel…ma hyukjae….
    Donghae kenapa ngak ngaku aja biar bisa makin tambah deket sama chaeryl n chaeryl y juga dah tau klo lg hamil..

  10. Tuhkan, part ini jd emosional bgt deh ;((
    Kan, ternyata si Cheryl beneran hamil kan… untung ada Donghae sama Hyorin yg nolongin…
    Duuhh itu beneran Donghae, Cher, cuma kamu lupa aja ;(( nanti kalo inget malah keadaannya makin ngedrop lagi ;((
    Hyuk, liat dong Cheryl, jangan cuek aja, kasian tau! Dia tuh lagi hamil ;(( gk mau ngerti dikit apa? /emosi/
    Heheh, biasa, kebawa feel pas baca jadinya aku suka gt kak, suka marah2 sendiri, wkwk :3
    Daebak! Next next~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s