Hidden Memories

unduhan

Nama : @yennDK

Judul Cerita : Hidden Memories

Tag (tokoh) :

 

  • Cho Kyuhyun

  • Shim Minah (OC)

  • Max Changmin / DBSK

 

Genre : Romantic, PG-13

Length : Oneshot

Catatan Author : Ini ff ke empat yang aku posting disini. Ini link ff-ku yang lainnya. Mohon dibaca yaaaaa^^

‘Nado Saranghe, Max Changmin’ https://obizienka.wordpress.com/2012/07/05/nado-saranghae-max-changmin-freelance/

‘Nado Saranghae, Kim Jaejoong’ https://obizienka.wordpress.com/2012/12/03/nado-saranghae-kim-jaejoong/

‘Aeroplane & Destiny’ https://obizienka.wordpress.com/2013/01/21/aeroplane-destiny/

Terima kasih :]x

Aku terbangun dari tidurku, mencoba mencerna apa yang terjadi dalam tidurku. Mimpi buruk ini lagi, mimpi buruk yang mengingatkanku lagi pada semuanya. Mengingatkanku pada kenangan 3 tahun yang lalu.

“kyu….”, gumamku. Tanpa sadar air mata mulai mengalir di pipiku. Aku menangis, lagi. Kutarik selimut hingga bibirku, lalu aku mulai menangis lagi. Menangis hingga aku tertidur kembali.

 

————————

 

Sinar matahari mulai mengintip dari jendelaku, aku menggeliat sejenak diatas kasur. Kuambil ponselku dibawah bantal, kulihat jam di layar handphone ku menunjukkan pukul 7 pagi. Aku segera beranjak dari kasur dan bergegas menuju kamar mandi.

Kulihat pantulan bayanganku di cermin, kurapikan rambut serta bajuku. Selanjutnya, kuraih tas ku diatas meja dan segera berangkat ke kampus. Oh iya, sejak dua tahun lalu aku kuliah di Korea University jurusan Medical. Mungkin karena jurusan inilah yang membuatku terlihat kurang menarik, hanya dengan kacamata, rambut di kuncir ekor kuda, kaos, jeans, sneakers dan bare faced. Aku tak peduli dengan penampilanku, yah karena memang tidak penting. Selain itu aku tidak ada ketertarikan untuk cari muka di depan namja lain, aku hanya berkonsentrasi untuk segera lulus kuliah dan berkerja.

 

“MinAh~”, kudengar teriakkan dari sahabatku, Lee Jin. Aku segera menoleh lalu tersenyum kearahnya.

“Kau sudah siap dengan kuis hari ini?”, tanyaku.

“Siap! Dan aku yakin akan mendapatkan nilai B+ di kuis kali ini”, jawabnya dengan tatapan mata yang tegas.

“Baiklah, setelah kuis hari ini bagaimana kalau kita ke cafe depan kampus? Ada menu ice cream baru!”

“Kau yang traktir? Iya kan? Jebaaal~”, pintanya dengan puppy eyes-nya itu.

“arra arra, dasar pelit”, jawabku sewot sambil berjalan ke arah kelas.

 

——————————————————————

 

“Sial! Kenapa ujian hari ini susah sekali, aku bahkan tidak yakin akan bisa mendapatkan nilai C”, aku menoleh ke arah Lee Jin. Kulihat dia menarik-narik rambutnya karena frustasi.

“Sudahlah, kau sudah berusaha bukan? Tak ada yang perlu dipikirkan lagi. Ngomong-ngomong, Kau masih ingin aku traktir tidak? Kalau kau tidak mau, aku akan mentraktir orang lain”, kataku sambil berlenggang pergi menjauhinya.

“Yak! Jangan begitu, kau tega meninggalkan sahabatmu yang frustasi saat ini?!”, teriaknya lalu segera berlari mengikutiku.

 

Sesampainya di cafe, aku segera membeli menu ice cream baru di cafe ini. Kulirik jam yang tertera di layar handphoneku, masih sore ternyata. Akhirnya, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di cafe ini. Setelah kita berceloteh cukup lama akhirnya keheningan mulai bergabung pada pembicaraan kami. Karena bosan, Lee Jin mengeluarkan majalah dari dalam tasnya.

“Tumben kau membawa majalah ke kampus?”, tanyaku sambil memasukkan sesendok ice cream ke mulutku.

“Super Junior akan comeback dengan album barunya! Bagaimana bisa aku tidak membeli semua majalah yang menulis artikel mereka?!”, jawabnya dengan mata berbinar-binar.

“Gurae..”, aku kembali memakan ice cream di depanku. Kulihat dengan seksama gambar Super Junior di cover majalah yang dibawa Lee Jin. Sesosok wajah tampan yang menarik perhatian kedua bola mataku.

“Kyunnie..”, gumamku. Dia sudah berubah, menjadi namja yang sangat tampan. Suaranya yang merdu, senyum yang sangat memikat, benar-benar berubah menjadi seorang Namja sesungguhnya.

Kurasakan mataku mulai berair lagi, segera kuhapus air mataku sebelum Lee Jin menyadarinya.

“Lee Jin-ah, aku pergi dulu. Aku harus membereskan apartemenku”, kataku.

“ya! Ice cream—“, aku tidak meghiraukan teriakan Lee Jin. Aku berlari menuju halte bus terdekat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku benci hal ini, aku masih tidak berani menghadapi Kyuhyun meskipun hanya menatap fotonya di sebuah majalah. Sesakit inikah aku?

“Kyu…..”, dan lagi-lagi aku menggumamkan namanya.

 

—————————————

 

Tingtong—-Tingtong~

 

“Ya! MinAh, keluarlah. Ayo malam ini kita pergi”, teriak LeeJin dari luar apartemenku. Tak lama kemudian pintu depan kubuka sebelum dia berteriak kembali.

“Yaa! Kau apa-apaan berteriak seperti itu? Malu didengar tetangga”, cibirku.

“Keke~ Mianhae, ganti pakaianmu sekarang juga. Ayo sebelum terlambat”, ucap LeeJin sambil mendorong badanku ke dalam kamar.

“Kita mau kemana?”, teriakku dari dalam kamar sedangkan LeeJin berada di ruang tengah.

“Melihat Super Junior di Inkigayo, yah sebagai balas budi kau sudah sering mentraktirku. Sekarang kau kuajak melihat Namja yang tampan.”, jawabnya.

DEG!

Super Junior? Berarti Kyuhyun akan tampil kan? Apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap untuk melihatnya. Apa aku harus berpura-pura pingsan, agar aku tak pergi kesana?

Aku melihat bayangan diriku dicermin, lalu aku berpikir sekali lagi. Tidak MinAh, kali ini kau harus menghadapinya. Ya benar, hadapi Kyuhyun kali ini. Jika dia memang telah menguburmu didalam ingatannya, maka memang ini saatnya kau melepaskan dia pergi. Melepaskan dia dari ingatanmu. Kurias wajahku dengan beberapa make up tipis dan kupakai dress floral favoritku.

“Ayo pergi LeeJin-ah”, kataku seraya keluar dari kamar tidur.

Kukunci pintu apartemenku dan aku siap menghadapimu………. Kyu.

MinAh’s POV end

 

————————————

 

KyuHyun’s POV

 

“Hyung, kapan kita akan tampil?”, tanyaku.

Leeteuk Hyung menoleh kearahku dan berkata ,”Sebentar lagi, sekitar 10 menit lagi. Kau keluar saja duluan”

Aku mengangguk lalu keluar dari ruang tunggu Super Junior. Aku berjalan menuju stage dimana kami akan tampil. Beberapa saat kemudian kami dipanggil untuk keatas stage.

Musikpun dimulai, kami bersama mulai menari dan menyanyikan lagu terbaru kami ‘Sexy, Free & Single’. Dengan tatapan mata yang intens, kami bernyanyi menatap penonton. Ketika giliranku menyanyikan bagianku, tiba-tiba aku melihat yeoja itu. Dia berada di bangku penonton. Dia tidak memegang lightstick atau banner seperti fangirl yang lain. Dia tidak beteriak meneriakkan nama kami seperti yang lain. Dia hanya duduk melihat kami dengan intens, tidak, melihatku dengan intens. Aku menemukannya. Aku menemukanmu MinAh-ah.

 

Ketika aku selesai menyanyikan laguku, aku melihat kearah bangku penonton lagi. Lebih tepatnya kearah MinAh, mata kami beradu. Seakan banyak sekali dari pikiran kami yang kami sampaikan lewat tatapan mata kami.

“KyuHyun-ah, ayo pergi.”, panggil LeeTeuk Hyung. Aku menoleh dan mengangguk kearahnya. Ketika aku menoleh lagi kearah bangku penonton, gadis itu sudah tidak ada. Sial, kemana perginya gadis itu?

“Ya, KyuHyun-ah. Cepat!”, sahut Siwon Hyung.

“Ah ne, aku akan turun dan pergi ke toilet, Hyung”, jawabku sambil berjalan pergi.

Ketika aku berjalan menuju ke toilet, aku melihat gadis itu. Benar, itu benar-benar dia. Rasa penasaranku sudah semakin memuncak, sehingga aku tak sadar telah berjalan mendekati gadis itu. Aku ingin segera memeluknya, aku ingin memiliki dirinya lagi. Kugenggam erat pergelangan tanggannya, lalu kutarik dia ke ruangan yang kosong.

“Kau, bagaimana bisa kemari?”, tanyaku singkat yang diikuti dengan sorotan mata tajam dari gadis didepanku kini.

 

KyuHyun’s POV end

MinAh’s POV

 

“Kau, bagaimana bisa kemari?”, tanyanya tiba-tiba. Sontak aku mendongak kearahnya. Dia benar-benar Kyuhyun. Aku tidak percaya dia adalah KyuHyun. KyuHyun, namja yang selama ini memenuhi hati dan pikiranku.

“Ka— Kau, ba—Bagaimana bisa menemukanku?”, tanyaku terbata-bata padanya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Untuk apa?”, kataku sambil mencoba melepaskan genggamannya pada lenganku.

“Kau pikir bisa lari dariku?”, cibirnya. Kedua tangannya berpindah ke kedua pipiku. Kedua bola matanya yang kecoklatan itu memperhatikan wajahku.

“Kau tahu, bagaimana aku merindukanmu selama ini, MinAh-ah?”, mataku terbelalak kaget mendengar ucapannya barusan.

Tiba-tiba dia sudah mendekatkan wajahnya ke wajahku, 5cm, 2cm dan…. Chu~ Dia telah menciumku. Aku yang kaget dengan perlakuannya hanya bisa terdiam tanpa melakukan perlawanan. Kakiku melemas, tanganku mulai gemetar, mataku mulai berair. Kyu… Jangan lakukan ini kepadaku, lagi.

“Kenapa… Kenapa kau menangis?”, tanyanya dengan suara yang lembut. Kedua ibu jari-nya menyeka pelan air mata yang turun di pipiku.

“Kyu, jangan lakukan ini padaku. Kumohon, Kyu”, jawabku di sela isak tangisku.

“Aku tak ingin kau pergi lagi”, tegasnya.

“Kau yang membuatku pergi”, terangku.

“KyuHyun-ah, kau dimana?”, teriak seseorang di ruangan lain. KyuHyun tersentak sejenak. Tak kusia-sia kan kesempatan ini, aku segera melepaskan genggaman tangannya di pipiku. Lalu segera berlari keluar dari ruangan ini. Kudengar suara KyuHyun yang meneriaki namaku. Tapi, aku yakin dia tidak akan mengejarku. Aku yakin sekali.

 

Aku berlari keluar gedung ini sekencang mungkin. Dengan nafas yang tersengal-sengal, aku menoleh ke belakang. Ya, benar. Dia tidak akan pernah mengejarku, tak akan.

Lalu, apa maksudmu dengan ciuman tadi Kyu? Seketika itu juga air mataku sudah mengalir deras di pipiku.

 

MinAh’s POV end.

 

KyuHyun’s POV

 

Sial! Gara-gara LeeTeuk Hyung memanggilku, dia kabur. Hal ini membuatku sangat kesal, benar-benar sial. MinAh kabur dan jelas aku tak bisa mengejarnya karena banyak staff yang berkeliaran di sekitar sini. Aish! Bagaimana aku bisa menemukannya kali ini?

‘MinAh-ah, bisakah kau mempercayaiku sekali lagi?’, tanyaku dalam pikiranku.

“Hah~”, Dengan berat, aku menghela nafasku.

“Kau kenapa, Kyu?”, tanya Sungmin hyung tiba-tiba.

“Ani Hyung, apa semua sudah selesai? Kita akan pulang ke dorm kan?”, elak ku.

“Eo.. Semua sudah selesai kok. Ayo kita turun. Aku ngantuk sekali”, ajak Sungmin Hyung sambil mendorong punggungku.

 

——————————-

 

“KyuHyun-ah, kenapa kau melamun dari tadi? Bahkan laptopmu kau biarkan menyala terus? Kau sakit?”, tanya RyeoWook sambil menempelkan telapak tangannya pada dahiku.

“Ani.”, jawabku sambil menepis tangannya dari dahiku.

“Kau yakin? Kau tak ingin kubuatkan makanan?”, tanyanya lagi.

Aku menoleh kepadanya, lalu menggelengkan kepalaku. Aku merebahkan tubuhku di kasur menatap langit-langit kamarku, “Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menemukan dia?”

“Apa yang kau katakan? Dia? Dia siapa?”, tanya RyeoWook. Sepertinya dia mendengarkan gumamanku.

“Ani. Tinggalkan aku, aku ingin tidur. Aku lelah”, jawabku sambil menarik selimut hingga menutupi wajahku.

“Ne….”, selanjutnya kudengar pintu kamar dorm ku yang ditutup secara perlahan.

Aku menutup kedua mataku dan mencoba untuk tidur. Tetapi, pikiranku masih terbangun memikirkan gadisku. Iya, gadisku.

 

Flashback

 

“Kyu, apa yang harus kulakukan? Mereka.. Mereka membenciku. Mereka menjauhiku.”, sahut MinAh di ganggang telefon.

“Tenanglah, kita akan melewati situasi ini. Managerku menjadwalkan besok adalah press conference-ku untuk menjelaskan semuanya. Aku akan mengatakan pada semuanya. Bertahanlah, hanya sampai besok”, ucapku untuk menenangkan pikirannya.

“Tapi Kyu–“

“Tenanglah MinAh-ah, aku akan membereskan semuanya. Aku harus pergi. Saranghae.”, lanjutku yang langsung menutup telfon.

Aku harus menjelaskan pada semuanya besok, bahwa aku telah menjalin hubungan khusus dengan seorang yeoja; Shim MinAh.

 

————————–

 

“Saya, Cho KyuHyun Super Junior menjelaskan bahwa foto yang tersebar di beberapa media televisi maupun social network tidak benar. Saya tidak pernah merasa menjalin hubungan istimewa dengan siapapun. Maka dari itu, saya mohon untuk menghentikan rumor ini. Kamsamnida”, kataku sambil berjalan pergi dari ruang press conference-ku. Aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku untuk menenangkan pikiranku.

Seketika itu juga aku langsung pulang menuju dormku dan membanting pintu yang ada dibelakangku, “Kau puas, Hyung?!”

Kulihat managerku hanya menatapku dengan tatapan bersalahnya. Aku hanya bisa membalas dengan tatapan marah, kesal, kecewa dan dikhianati.

“KyuHyun-ah, aku tidak menginginkan hal ini juga. Hanya saja Presiden Lee SooMan tidak menginginkan untuk mengumumkan hubunganmu dengannya. Kau harus ingat dengan kontrak-mu. Maafkan aku KyuHyun-ah”, jawabnya dengan kepala menunduk.

Aku hanya bisa diam dan pergi ke kamarku. Dan aku sudah mengerti bahwa hubunganku dengan MinAh telah berakhir.

 

Flashback end

 

MinAh’s POV

 

Aku memasuki apartemenku dan berjalan menuju tempat tidur. Kurebahkan tubuhku dan kupejamkan mataku sejenak. Tiba-tiba, semua memori yang telah kukubur mulai muncul. Semua memori tentang namja itu, Cho KyuHyun. Tak kuasa kubendung semua rasa kepedihanku, semua rasa rinduku, semua air mataku.

 

————————————-

 

Flashback

 

Air mataku terjatuh ketika aku mendengar semua perkataan KyuHyun di televisi. Kyu, aku tau kau seorang idol. Keputusanmu untuk tidak mengumumkan hubungan kita memang yang terbaik, untukmu, group-mu, dan agency-mu. Aku tau inu adalah resiko menjadi yeojachingu mu. Tetapi, ini terlalu berat untukku…… Kyu.

 

Seketika itu juga, aku mematikan televisi beserta handphoneku. Aku sudah muak, sudah lelah menjalani semua ini. Tetapi, entah kenapa dalam hatiku aku masih saja berharap ‘Kyu, tolong kejarlah aku’.

 

Flashback end.

 

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi ini lagi? Ah… Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan dirinya akhir-akhir ini. Sudahlah MinAh, bagaimanapun tidak ada yang bisa diperbaiki dari hubungan kalian berdua. Menjauhlah darinya, bukankah itu yang terbaik untukku dan dia?

 

MinAh’s POV end.

 

—————————-

 

KyuHyun’s POV

 

Bagaimana caraku menemukan gadis itu? Sudah seminggu aku tidak melihatnya lagi, apa dia benar-benar tidak akan muncul dihadapan ku lagi? Aku bisa gila karena gadis itu.

~Trrr trrr trrr~

Tiba-tiba handphone ku berdering, kulihat ID yang tertera di layar touchscreenku ‘Choikang ChangMin Tampan’. Segera kuambil ponselku dan mengangkatnya.

“Mworago?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“Ya! Aku menelfonmu baik-baik dan begini reaksimu padaku? Aish..”, cibirnya.

“Aish, sudahlah. Apa urusanmu menelfonku hah? Tumben sekali.”, lanjutku.

“Temani aku makan eo? Aku menemukan restoran baru yang enak!”, ajaknya.

“Traktir?”

“Call!”, sahutnya.

“30menit lagi aku akan menjemputmu di dorm. Annyeong~”, lanjutnya lalu segera memutuskan sambungan telefon kami.

 

———————————-

“Ya! Kenapa kau tampak fashionista seperti itu? Kita kan hanya makan siang biasa”, cibirku.

“Mwo?! Kau cemburu aku lebih tampan darimu, Kyunnie? Ah, kau memang jelek. Aku tau itu”, elakknya. Aish, benar-benar ChangMin. Mulutnya seperti setan, benar-benar setan dari neraka terdalam.

“Terserah apa katamu. Sekarang, kita akan kemana?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Dia menoleh kearahku, lalu menaikkan salah satu alisnya dan berkata, “Diam dan masuk ke mobil.”

 

————————

 

“Wah! Ini kedai ramen? Wah, aku sudah lama tidak pergi ke kedai ramen”, sahutku antusias.

“Jangan norak begitu, Kyu. Menjijikan.”, aku hanya menoleh sebentar dan mengacuhkannya. Rasanya aku ingin sekali menjitak kepala orang ini.

“Sudahlah, cepat pesan. Aku lapar sekali”, pintanya.

“Perutmu itu ganas sekali hah? Selalu saja begitu”, ejekku.

“Daripada kau yang kurus seperti itu. Lihatlah tubuhku yang sudah berbentuk ini, Kyu”, pamernya sambil memperbaiki posisi duduknya. Aku hanya memutar kedua bola mataku keatas, sudah cukup aku mendengarkan ocehan temanku satu ini.

“Kalau kau merekomendasikan tempat ini padaku, ramen apa yang enak disini?”, tanyaku sambil membolak-balik menu yang kupegang.

“Aku belum pernah mencobanya hmm… Kata JaeJoong Hyung menu nomer 5 yang paling enak”, jelasnya.

“Jaejoong Hyung?! Arraseo, aku akan mengikuti saran Hyungmu itu”, kataku seraya menutup menu ditanganku.

“Baiklah, aku akan memesankannya untukmu”, ucapnya sambil menoleh ke kanan-kiri untuk mencari pelayan.

“Jogiyo.. Kami ingin memesan.”,

Glek!

Pelayan itu menoleh ke arah kami dan seketika itu juga mata kami bertiga saling beradu. Gadis itu, MinAh, dia bekerja sebagai pelayan di restoran ini. Kami berdua hanya terdiam menatap satu sama lain. Tak lama kemudian, dengan langkah yang ragu-ragu dia berjalan kearah meja kami lalu berbicara kepada kami.

“Anda… Anda ingin memesan apa, Tuan?”, tanyanya. Aku dan ChangMin hanya bisa melongo apa yang kami lihat. ChangMin menoleh kepadaku lalu memberikan tatapan ‘Cepat bicara! Kau tak ingin dia pergi kan?!’.

“Ramen nomer 5 ya, dua porsi”, lanjutku. MinAh hanya menganggukan kepalanya lalu pergi kearah dapur. Seketika itu juga aku langsung menoleh kearah ChangMin.

“Ottokhae? Haruskah aku menemuinya sekarang?”, tanyaku bingung.

“Bodoh! Jika seperti itu, kemungkinan dia akan pindah bekerja dari sini. Kau tunggu saja sampai tempat ini tutup dan menunggunya keluar. Lagipula, jika sekarang kau melakukannya terlalu mencolok. Semua orang tahu jika aku adalah Dong Bang Shin Ki dan kau adalah Super Junior”, aku hanya mengangguk-angguk terhadap saran yang diucapkannya. Nah, inilah mengapa dia menjadi sahabatku sampai saat ini.

 

KyuHyun’s POV end

 

MinAh’s POV

 

Hari ini sungguh melelahkan, aku benar-benar tak menyangka akan bertemu KyuHyun di tempat kerja part time ku. Untung saja dia tidak berbicara apapun kepadaku.

“Terima kasih sudah bekerja keras~”, sahutku sambil keluar dari restoran tempatku bekerja.

Aku berjalan menuju halte bis terdekat, tiba-tiba pergelangan tangan kiriku ditarik oleh seorang namja yang memakai jas tebal, hoody dan masker. Aku terbelalak kaget dan ketakutan hingga aku tidak bisa bersuara. Namja itu membuka pintu mobil dan memaksaku masuk bersamanya. Aku sempat meronta, tapi kekuatanku tak sepadan dengan kekuatan namja ini.

“Ka.. Kau! Ige mwoya?!”, sentakku seraya melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku.

Dia melepas jas, topi hoody dan maskernya. Tidak mungkin, namja ini adalah Cho KyuHyun!

“Kau? KyuHyun-ssi! Apa yang kau lakukan kepadaku? Kau ingin aku melaporkanmu ke polisi, hah?!”, bentakku tak percaya. Apa dia sudah gila melakukan hal seperti ini?

“Diamlah, lagipula aku tak akan menurunkanmu sebelum sampai ke tempat yang akan kita tuju”, jawabnya santai.

“Kita? Maaf KyuHyun-ssi, aku tak bisa ikut denganmu. Aku masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan”, dia hanya menoleh sejenak kearahku lalu tersenyum jahil kepadaku.

“Turunlah, jika kau ingin terluka”, ejeknya. Sial, kali ini dia benar. Mobil ini telah melaju kencang, turunpun tidak akan menyelamatkan nyawaku.

Tak lama kemudian mobil ini sudah berhenti di sebuah gedung apartement. KyuHyun menarik pergelangan tanganku untuk memaksaku mengikuti dirinya lagi. Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Genggamannya sangat kuat, lagipula ini sudah tengah malam. Tak ada orang yang bangun saat ini.

Dia membuka pintu sebuah apartement dan mendorongku masuk. Selanjutnya dia mengunci pintunya kembali lalu menoleh kearahku.

“Duduklah”, katanya. Aku hanya bisa diam dan menurut perkataannya. Apa ini apartement Kyu? Besar sekali, design-nya juga terlihat mewah. Ah, Cho KyuHyun adalah anggota dari Super Junior, pantas saja dia bisa memiliki apartement semewah ini. Mataku berkeliling untuk menjelejahi ruangan ini. Ruangan ini terkesan minimalis tetapi sangat nyaman.

“Kau.. Ada perlu apa mengajakku kesini?”, tanyaku memulai pembicaraan. Aku benar-benar takut terhadapnya kali ini. Tatapan matanya kepadaku sangat tajam, aku hanya bisa mengalihkan pandanganku untuk tidak bertemu dengan matanya.

“Perlukah aku mengatakan alasannya kepadamu? Kau -masih- menjadi gadisku”, terangnya dengan penekanan di setiap katanya.

“Mwo?! Cho KyuHyun-SSI sepertinya perkataanmu kurang tepat. Sebaiknya aku segera pergi dari tempat ini”, tegasku sambil beranjak pergi menuju pintu.

 

MinHyo’s POV end

 

KyuHyun’s POV

 

Aku menarik tangannya cukup keras hingga dia terduduk kembali di sofa ku. Aku bisa gila karena gadis ini, keras kepala sekali dia. Kutatap matanya tajam, kulihat dari pandangan matanya yang ketakutan atas kelakuanku tadi.

Kulepaskan genggamanku di pergelangan tangannya dan duduk disampingnya.

“Mianhae..”, ucapku lirih.

“Aku memang bukan seorang namja yang baik untukmu, yang bisa membahagiakanmu seperti lelaki pada umumnya. Maafkan aku”, lanjutku yanpa menunggu balasan ucapan darinya.

Aku menoleh kearahnya, kulihat ekspresi wajahnya yang kebingungan. Tak tau apa yang harus diucapkan. Entah apa yang mendorongku untuk melakukan ini, kubelai rambutnya. Kumainkan beberapa helai rambutnya di sela-sela jemariku.

“Kau tau, inilah yang kurindukan. Memandangmu sedekat ini”, ucapku.

“Kyu…”, kali ini dia membuka mulutnya.

“Aku… Aku tak yakin dengan yang kau lakukan saat ini”, lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.

“Ani, aku yakin sekali. Kau tak akan bisa melupakanku”, ejekku.

“Yak! Kau percaya diri sekali. Kau tidak tau apa-apa, Kyu”, erangnya. Aku sengaja mendekatkan wajahku kepadanya, sangat dekat hingga aku merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Seketika itu juga, wajahnya menjadi merah padam.

“Ah.. Inikah yang kau bilang melupakanku? Arraseo”, ucapku sambil mengecup singkat hidungnya.

“Yak! Sial..”, aku hanya terkekeh pelan karena reaksinya. Benar-benar mudah ditebak.

“Kyu, kau tau ini tidak akan berhasil”, ucapnya lirih.

Aku menariknya hingga kepalanya bersandar di dadaku, lalu kubelai rambutnya pelan.

“Bukankah kita sudah membuktikannya? Selama 3 tahun ini perasaan kita tak berubah sama sekali”, jelasku.

“Lalu?”

“Sudah jelas, kau tak akan bisa lepas dariku”, jawabku sedikit mengejek.

“Yak! Apa-apaan kau”, umpatnya sambil melepaskan pelukanku.

“Kau jangan terlalu percaya diri, aku tau kau juga tak akan bisa tanpaku”, lanjutnya. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya padaku dan gadis ini menciumku! Meskipun hanya sesaat, seketika itu juga wajahku terasa sangat panas.

“Kau tersipu! Mukamu merah sekali”, ejeknya karena reaksiku yang kekanakan ini.

“Aish!”, aku menarik tangannya lalu menggenggap kedua pipinya dan kucium dia kembali.

“Yak! Untuk apa kau menciumku lagi?”, gerutunya.

“Kenapa kau melakukan hal ini, Kyu? Bukankah kau sudah meninggalkanku? Aish! Dan kenapa aku mengikutimu bermain ciuman seperti ini!”, sahutnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Ini membuatku makin merindukanmu….”, gumamnya

“Kau tak bisa melupakanku dan aku juga begitu. Mengapa kau membuatnya menjadi rumit, Minah-ah? Bukankah alas an ini cukup untuk membuatmu kembali padaku?”, tanyaku.

 

KyuHyun’s POV end

 

MinAh’s POV

 

“Kau tak bisa melupakanku dan aku juga begitu. Mengapa kau membuatnya menjadi rumit, Minah-ah? Bukankah alas an ini cukup untuk membuatmu kembali padaku?”, tanyanya

“Aku hanya takut….. Bagaimana jika kejadian itu terulang? Kau tak tau rasanya, Kyu. Ketika semua temanku menjauhi diriku karena aku berada disampingmu”, balasku sambil menundukkan kepalaku.

“Maafkan aku, Minah-ah. Sampai saat ini, aku tak bisa menjalin hubungan secara terbuka. Aku hanya bisa menjalani hubungan secara diam-diam, kita mungkin tak bisa menonton film di bioskop atau makan berdua di restoran favorit kita seperti dahulu. Tapi, rasa sayangku dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah. Aku membutuhkanmu Minah-ah, sangat.”, ucapnya mencoba meyakinkanku. Aku hanya diam, hanya mendongak dan menatap kedua bola matanya. Aku merindukannya, sangat.

“Kyu, aku tak mengerti hanya dengan perlakuanmu seperti ini cukup membuatku untuk membutuhkanmu kembali. Aku juga membutuhkanmu, Kyu.”, ucapku tersipu.

Perpisahanku dengan Kyu selama tiga tahun ini semakin meyakinkan diriku bahwa aku mampu menghadapi apa yang ada didepan mataku, hanya Kyu. Cukup untuk membuatku mampu berdiri tegak di dunia ini.

Aku menatap kedua matanya, tatapan ini seakan berbicara satu sama lain betapa senangnya hati kami dengan keputusan yang kami buat.

“Aku mencintaimu….”, ucapnya lirih.

 

end

3 thoughts on “Hidden Memories”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s