Aeroplane & Destiny

aeroplane & destiny [oneshot]

 

Tittle: Aeroplane & Destiny

 

Author: @yennDK

 

Maincast:

–          Jung Yunho

–          Choi Minah

 

Support cast:

–          Shim Changmin

 

Genre: Romance, Oneshot

 

Rate: PG

 

 

Sial! Aku akan ketinggalan pesawat jika seperti ini terus. Kutarik koperku dengan cukup kasar. Berlari, iya berlari karena 5 menit lagi pesawat akan take off menuju Seoul, Korea Selatan.

‘Gawat, ini semua terjadi karena alarm bodoh yang tidak mau menyala di saat penting seperti ini’, umpatku dalam hati.

Tepat satu menit sebelum pesawat take off, aku masuk ke pesawat. Aku segera bergegas menuju seat yang telah ditunjukkan oleh pramugari. Tanpa banyak bicara aku segera duduk dan memasang sabuk pengaman. Haah~ benar-benar pagi yang sangat sibuk.

 

Satu jam berlalu sejak pesawat lepas landas, aku mengeluarkan i-pad dari dalam tasku. Kupasang earphone yang terhubung dengan i-pad milikku. Kudengarkan beberapa lagu sambil membuka beberapa website secara random. Pilihan pertamaku jatuh kepada twitter, kemudian beralih ke situs youtube. Kulihat beberapa music video yang release minggu ini. Hm, TVXQ! Comeback dengan single baru? Humanoids. Secepat kilat aku membuka link video tersebut dan melihatnya.

“Daebak!” Itulah satu-satunya kata yang aku ucapkan. Koreografer dan lagu selaras satu sama lain. Inilah kenapa aku tetap menjadi fans mereka, baik HOMIN atau JYJ. Tanpa sadar aku menggumam beberapa part dari lagu humanoids. Aku terus bergumam dan memutar video itu berkali-kali tanpa memperdulikan kondisi di sekelilingku.

 

MinAh’s POV end

 

Jung Yunho’s POV

 

Kudengarkan beberapa lagu melalui headphone-ku sambil memperhatikan beberapa rekanku yang juga ikut menaiki pesawat ini; Super Junior, f(x), dan EXO. Sepertinya mereka semua kelelahan karena konser SM Town di Singapura. Aku dan Changmin juga merasa sangat lelah, kulihat memberku ini sudah tertidur pulas disampingku. Cish, anak ini, pesawat belum lepas landas dia sudah tertidur. Kuperhatikan kursi disampingku yang masih kosong, apakah tidak ada orang yang menempatinya? Hm, masa bodoh ada atau tidak, aku lelah sekali.

Beberapa saat kemudian, seorang yeoja menduduki kursi disebelahku. Oh? Dia terlihat kelelahan karena berlari. Tak sampai satu menit setelah yeoja ini duduk dan memasang sabuk pengamannya, pesawat ini mulai lepas landas. Baiklah, aku sudah mengerti alasan dia berlari. Ceroboh sekali.

Satu jam setelah pesawat lepas landas, kulihat Changmin mulai bangun dari tidurnya.

“Hyung…. Air”, katanya dengan suara serak akibat tidurnya. Segera kuambilkan air dari dalam tasku dan menyerahkan kepadanya.

“Gomawo, Hyung”, segera dia membuka botol itu dan langsung meminumnya hingga habis.

“Apa aku sudah lama tertidur, Hyung?”, lanjutnya.

“Ani, mungkin hanya satu jam. Waktu kita masih lama menuju Seoul, kau tidur lagi saja”, balasku.

“Tidak usah, Hyung. Aku ingin mengerjai Kyuhyun yang sedang tertidur”, aku memutar kedua mataku karena perkataannya. Benar-benar, apakah dia sudah memikirkan mengerjai Kyuhyun sejak dia bangun tidur?

“Terserah padamu, jangan sampai semua jadi terbangun akibat kelakuanmu ini”, sahutku.

Sebelum dia menjawab pernyataanku, kami berdua mendengarkan seseorang bergumam menyanyikan lagu baru kami ‘Humanoids’. Aku dan Changmin saling menatap satu sama lain, lalu segera menoleh kearah suara tersebut. Gadis yang sedari tadi ada disampingku, sedang membuka ipadnya yang tersambung dengan earphone. Aku bisa melihat bahwa dia memutar music video kami.

“Daebak… Mereka benar-benar keren”, kudengarkan ucapannya yang lebih tepatnya gumamannya tentang music video kami.

“Er… Hyung, apa kita pindah tempat duduk saja?”, tanya Changmin dengan wajah khawatir. Mungkin saja dia saesang fans, kan? Tapi, jika ia salah satu dari mereka harusnya dia segera menyerangku yang dari tadi duduk disebelahnya kan?

“Tak usah, dia tidak mengganggu kita kan. Lagipula, sepertinya ia tidak sadar bahwa -Dong Bang Shin Ki- telah duduk disampingnya”, jawabku untuk menenangkan Changmin.

“Benarkah? Dia tidak sadar? Apa perlu aku yang menyadarkannya, Hyung? Aku ingin melihat reaksinya”, tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.

“Kau gila ya? Sudahlah, jangan buat orang lain menderita. Jika kau menyadarkannya, orang pertama yang akan dia serang adalah aku. Aku tepat disebelah kanannya, sedangkan kau juga berada disebelah kanan kursiku kan”, elakku. Changmin tidak mendengarkan perkataanku barusan, tiba-tiba tangannya -yang melewati wajahku- medekati lengan gadis itu dan menyentuhnya beberapa kali.

Gadis itu segera melepas earphone yang ia kenakan dan menoleh ke arah kami. Ya, menoleh ke arah kami. Untuk beberapa saat aku bisa melihat wajahnya yang shock ketika melihat kami. Selanjutnya dia menoleh ke layar ipadnya, melihat video kami, lalu kembali menoleh kearah kami.

“Kau… Kalian… Ke-kenapa bisa ada disini?”, tanyanya gugup. Lucu sekali reaksinya. Lihatlah kedua bola mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.

“Kami menaiki pesawat ini, sepertimu, ke Seoul”, jawab Changmin santai.

Oh my God! Jadi, kalian dari tadi disini? Disampingku? Mendengarkanku bernyanyi lagu kalian? Melihatku bermain ipad sambil memutar music video kalian? Melihatku ber-fangirling tentang schedule kalian? Oh… tidak… aku harus keluar dari pesawat ini sekarang juga”, dia terus berbicara tanpa henti tentang apa yang ia lakukan sejak masuk ke pesawat, selanjutnya dia menutupi wajahnya dengan bantal kecil sambil menggelengkan kepala beberapa kali. Kulihat Changmin yang menahan tawanya karena reaksi gadis ini yang cukup menarik.

“Tenanglah, kami merasa senang karena kau telah menghargai lagu kami”, kataku unutk menenangkan dirinya. Ketika ia mendengarkan perkataanku, dia mengintip kearah kami dari bawah bantal.

“Jeongmal? Ani! Perbuatanku memalukan sekali, bagaimana bisa aku tidak menyadari kalian di sebelahku?”, kulihat dia mulai sedikit depresi akibat kebodohannya, ia mulai menggigit bantalnya berkali-kali.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Kau bisa melihat wajah kami untuk beberapa jam selanjutnya kan. Jadi, bersenang-senanglah”, sela Changmin lalu meninggalkan tempat duduknya untuk mengerjai Kyuhyun.

“Sebentar, bukankah itu Kyuhyun?”, kulihat kepalanya mulai menoleh kearah kanan-kiri-depan-belakang untuk melihat situasi yang ia hadapi saat ini.

“Itu EXO kan? F(x) dan Super Junior? Omona! Kenapa aku tak menyadarinya sama sekali…….”, kudengar dia menghela nafas akibat kebodohannya, lagi.

“Sebegitu tampannya aku hingga kau tak menyadari keberadaan kami semua?”, tanyaku.

“Bukan begitu… Hanya saja, aku memang ceroboh… bukan! Aku memang bodoh karena tidak peka terhadap lingkungan sekitarku. Maafkan aku, jika aku mengganggumu akibat perbuatanku barusan”, ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Gawat, dia akan menangis karena perkataanku?

“Maafkan aku, Jung Yunho-ssi”, sambungnya.

“Jangan menangis, aku tidak marah sama sekali. Aku tidak merasa terganggu, kau jangan menangis seperti itu. Aku hanya ingin mengerjaimu sedikit”, jawabku bingung.

“Benarkah? Kau tidak marah? Kamsamnida, Yunho-ssi”, seketika itu juga wajahnya berubah menjadi lebih cerah, kedua bola matanya yang besar yang memancarkan betapa cantiknya gadis ini.

Tunggu, apa yang barusan kukatakan?

 

Yunho’s POV end

 

Minah’s POV

“Mungkin aku tak pernah menanyakan hal ini kepada fansku, tapi music video mana yang paling kau suka?”, tanyanya sedikit ragu. Apa yang ada dipikiran orang ini tiba-tiba menanyakan hal ini?

“Err… Aku? Hug, aku menyukai lagu dan music videonya”, jawabku singkat.

“Oh..”, balasnya. Hanya itu? Ketus sekali. Benar, dia idol, pasti melelahkan jika dia melayani fans yang kebetulan duduk disampingnya sepertiku.

“Siapa namamu?”, aku menoleh kearah Yunho dengan wajah tak percaya. Barusan dia menyanyakan namaku, bukan?

“Iya benar, aku menanyakan siapa namamu”, lanjutnya tersenyum. Gawat, apa dia bisa membaca pikiran orang lain?

“Tidak, aku tidak bisa membaca pikiran orang lain. Tapi, wajahmu sangat mudah untuk dibaca”, jelasnya tetap dengan senyumnya yang menawan.

“Sangat mudah dibaca?”, tanyaku heran.

“Sudahlah, kau belum menjawab pertanyaanku daritadi”, tukasnya tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya.

“Annyeong haseyo, Choi Minah imnida”, jawabku singkat. Lalu mataku kembali kearah ipad yang sedari tadi ada dipangkuanku.

“Minah-ssi”, panggilnya.

“Eo?”, jawabku tanpa menoleh kearahnya.

“Apa yang kau sukai dari music video hug?”, tanyanya. Aku langsung menoleh kearahnya, akan tetapi ia juga tak menoleh kearahku sama sekali. Tatapan matanya menghadap kearah handphone yang ia pegang.

“Hug? Hm… Kalau dipikir-pikir lagunya sangat imut, selain itu wajah kalian yang masih cerah dan muda menjadi ciri khas kalian. Apalagi wajah Hero Jaejoong, terlalu cantik untuk dijelaskan. Sedangkan wajah Micky Yoochun, terlalu imut untuk tidak dilihat”, jawabku spontan. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang memalukan dihadapannya? Bodoh.

“Sampai saat ini, Joongie merasa bahwa dia makin cantik daripada sebelumnya”, tukasnya sambil tertawa.

“Joongie? Kau masih berhubungan dengan mereka, Yunho-ssi?”, tanyaku cukup heran. Bukankah semua rumor mengatakan bahwa mereka tidak bisa menghubungi satu sama lain? Kenapa banyak sekali pertanyaan di kepalaku dari tadi? Aish.

“Tentu saja. Mereka sahabatku. Bagaimana bisa aku tidak menghubungi mereka”, katanya.

“Bukankah kalian sudah ber…pisah?”, tanyaku ragu-ragu.

“Benar. Kami memang berpisah. Tetapi jika kami bisa tampil berlima dengan nama yang sama TVXQ!, tak ada hal yang lebih menyenangkan dari hal itu. Kami tetap berhubungan satu sama lain. Kami tetap mendukung kegiatan masing-masing. Kami tetap melihat red ocean & cassiopeia di depan mata kami. Kami yakin, kami dapat melalui semua ini”, jelasnya dengan tatapan mata yang tajam yang seolah-olah mengatakan -aku-dan-mereka-tetap-keluarga-. Entahlah, tapi ucapannya barusan membuatku semakin bangga telah mendukung JYJ & TVXQ.

“Kau…. Hebat, Yunho-ssi”, gumamku.

“Terima kasih, Minah-ssi”, lanjutnya.

 

Minah’s POV end

 

Author POV

 

Jung Yunho mulai penasaran tentang pemikiran gadis yang berada disampingnya. Gadis itu, tak banyak bicara, tidak seperti fans yang lainnya yang akan berteriak dan menarik-narik pakaiannya. Gadis ini hanya diam, bergumam, tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Seakan-akan tak ada yang boleh masuk melewati dinding pemikirannya.

Minah, mulai memainkan ipadnya lagi. Memutar beberapa video, mendengarkan lagu, bermain temple run.

“Kau melihat apa?”, tanya Yunho sambil mencoba melirik kearah ipadnya.

“Videomu, sewaktu kau menyanyikan live ‘Dont say Goodbye’. Aku sangat menyukai lagu itu”, jawabnya tanpa menoleh kearah suara yang bertanya kepadanya.

“Benarkah? Mengapa kau menyukai lagu itu?”, tanyanya. Yunho seperti terhipnotis akan kehadiran gadis itu. Dia semakin penasaran terhadap pemikiran gadis ini.

“Tidak tau, aku…. hanya senang mendengarnya sebelum tidur”, jawabnya sambil melirik kearahku. Malu.

“Kau ingin aku menyanyikan untukmu? Agar kau bisa tertidur? Kau belum tidur sejak pesawat lepas landas”, kutatap wajahnya yang semakin memerah seperti kepiting rebus.

“Ne?! Kau… ingin bernyanyi? Untukku?”, tanyanya kaget. Kali ini, kedua bola matanya benar-benar ingin melompat kearahku.

“Benar. Matikan ipadmu, lalu posisikan badanmu dengan baik supaya tidurmu nyenyak”, lanjutku sambil mengambil ipad di tangannya dan memasukkannya kedalam tas. Kuambil bantal kecil dari pangkuannya dan dengan hati-hati aku memposisikan bantal tersebut di belakang kepalanya. Akibat perlakuanku barusan, Minah hanya bisa menunduk dan terdiam.

“Bersandarlah, Minah-ssi”, lanjutku. Dia hanya mengangguk lalu bersandar di kursinya.

“Pejamkan matamu, aku akan menyanyikan lagu untukmu”, rayuku.

“Tidak perlu, Yunho-ssi. Aku memang tak pernah tidur dipesawat”, jelasnya sambil tersenyum.

“Pejamkan matamu. Kau tak punya alasan untuk menolak tawaranku. Pejamkan”, kataku. Singkat dan jelas tapi cukup mengintimidasi dia saat ini.

“Arraseo…”, jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya. Sial, imut sekali. Aku tak bisa menahannya lagi. Gadis ini, harus menjadi milikku.

Kali ini, dia sudah memejamkan matanya, menunggu aku bernyanyi. Tak lama kemudian aku menyanyikan lagu favoritnya, lagu kami berlima ‘Dont Say Goodbye’

 

I can easily read you, who is unable to meet my gaze.

But because I’m like a child who has lost it’s way home, I can only wait.

Truthfully, I know what you’re about to say.

But I know that you’re only lying; your tears give it all away.

Don’t say goodbye,

I can hear your heart pleading that I don’t let go of your hand…I can hear it.

You still want only me – you cannot hide it, you cannot lie.

I can’t allow it, your lies of wanting to seperate.
Look at my eyes and say it – see, it isn’t the truth.

 

Don’t say goodbye,

I can hear your heart pleading that I don’t let go of your hand…I can hear it.

Even if the world turns their backs on us, even if this love is painful

you are my love, you are my soul.
Don’t say goodbye
, don’t leave me now, oh yeah.

The promises we’ve shared are everything to me…

Don’t say goodbye, you are my everything to me.

After an everyday I’ve already tired of, I will always look for you.

Like a pond that refuses to go dry

 I will love you. You are my love, you are my soul
Don’t say goodbye, you are the only one for me.

Like it never happened, after this day passes…

Never letting go of each other, we can fight through any struggle

Cause you are my everything to me.
Cause you are my everything to me

Kulirik kearahnya sekilas, dia mulai memejamkan matanya. Tak lama kemudian aku merasa sesuatu mendarat di bahuku. Aku tersenyum melihat dia dengan nyamannya tertidur dibahuku, dia sangan manis ketika tidur. Rambutnya yang lembut, bibir yang merah merona, dan kulit wajahnya yang cerah. Meskipun saat ini ia tak memakai make-up apapun, menurutku saat inilah dia terlihat paling menawan.

 

Yunho’s POV end

 

Minah’s POV

 

Aku membuka mataku secara perlahan-lahan, menggapai semua kesadaranku karena tidurku yang sangat pulas barusan. Kuusap kedua mataku dan sedikit meregangkan punggungku.

“Kau sudah bangun?”, Tanya seseorang disebelahku. Benar! Uknow Yunho menyanyikan lagu sebelum aku tidur, bagaimana bisa aku lua kehadirannya. Bodoh.

“Ne… Apakah kau tidak tidur Yunho-ssi?”, tanyaku balik sambil menoleh kearahnya perlahan. Gugup.

“Oppa..”, sahutnya.

“Ne?”

“Panggil aku Oppa, aku lebih tua darimu kan?”, tanyanya kembali.

“Ne… Kau berumur 28 tahun, sedangkan aku berumur 20 tahun”, jawabku malu. Sungguh seperti mimpi, seorang idol yang kau sukai dari dulu menyuruhmu memanggil dengan sebutan ‘Oppa’. God, you know me the best!

“Wah! Bukankah kau harus kuliah sekarang?”, tanyanya, lagi. Ada apa dengan orang ini? Kenapa memberiku banyak pertanyaan.

“Ne, O—oppa, maka dari itu aku menuju ke Seoul untuk kuliah. Aku pergi ke Singapura hanya untuk menemui saudaraku disana”, jelasku yang disertai anggukan kepala dari Yunho.

“Kau kuliah dimana? Seoul University?”, tanyanya kembali tanpa menoleh kearahku.

“Wah, kau bisa meramal Oppa? Bagaimana kau bisa tau aku kuliah di Seoul University?”, tanyaku kaget.

“Wajahmu cukup pintar untuk kuliah di universitas yang terkenal itu”, jawabnya sambil tertawa. Cukup pintar? Jadi, awajahku juga cukup bodoh?

“Aish, kau tak punya hak menertawai wajahku yang –cukup pintar- ini Oppa”, elakku.

Kali ini dia tidak membalas perkataanku, karena Changmin yang sedari aku tidur berada ditempat Super Junior saat ini kembali ke tempat duduknya.

“Eo, sepertinya Hyung dan gadis ini sudah semakin akrab. Kau tertarik padanya, Hyung?”, ejeknya yang hanya dibalas tatapan tajam Yunho.

“Jangan dengarkan perkataan anak ini, Minah-ah. Oppa idak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan orang ini”, sahutnya yang lalu menoleh kearahku sejenak.

“Oppa? Daebak! Kau benar-benar tertarik adanya Hyung!”, kali ini ucapannya diikuti dengan tepukan tangannya.

“Segeralah kau minta nomer telefonnya, Hyung. Di Seoul kau tidak akan bisa menemuinya lagi.”, sahutnya.

Kemudian Changmin menoleh kearahku, “Minah-ssi, sebaiknya kau meminta nomernya sekarang.”

Tak lama kemudian seorang pramugari datang ke kursi kami memberitahukan sesuatu, “Maaf, bisakan anda memakai sabuk pengaman? 15 menit lagi pesawat akan mendarat di Seoul”

“Eo, terima kasih”, jawab Changmin lalu pramugari pergi meninggalkan kami.

 

Minah’s POV end

 

Yunho’s POV

 

“Hyung, cepatlah bertanya nomer telefonnya. Jangan sampai kau menyesal”, bisik Changmin ke telingaku.

“Ya! Kau ingin Jaejoong Hyung memarahiku karena membiarkan gadis yang kau suka pergi begitu saja? Mintalah nomernya, Hyung~”, lanjutnya membisikkan perkataanya ditelingaku. Aku mendorong kepalanya sekilas, lalu menoleh kearah gadis disebelahku.

“Minah-ah, mungkin ini terdengar aneh atau bagaimana aku tak tahu. Hanya saja, aku ingin mengenalmu lebih jauh dan aku tidak ingin membuang kesempatanku kali ini. Bolehkan aku meminta noemr telefonmu? Aku tidak akan berbuat aneh-aneh terhadap nomermu.”

Kudengar dia tertawa akibat perkataanku barusan, “Yunho Oppa, bukankah seharusnya aku yang kau takuti karena mempunyai nomermu? Kau lucu sekali Oppa”

“Baiklah, aku akan memberikan nomerku. Nomerku 10xx-xxxx-xxxx. Aku senang sekali karena aku bisa menjadi temanmu, Oppa”, lanjutnya. Dengan sigap aku mengambil hanphone dari kantongku dan mengetik nomernya.

Gadis ini sudah mulai membereskan barangnya untuk turun dari pesawat. Sebelum kehilangan kesempatanku, kutarik pergelangan tangannya agar ia menoleh kearahku lalu kucium kening kepalanya. Perlahan dengan penuh perasaan, seakan aku tak mau pesawat ini mendarat di Seoul. Aku melepaskan ciumanku erlahan lalu melihat kewajahnya, lebih tepatnya menatap kedua bola matanya. Kulihat dia hanya tersenyum malu akan kelakuanku barusan.

 

Aku tahu bahwa pertemuanku dipesawat dengannya adalah sebuah takdir.

 

END

7 thoughts on “Aeroplane & Destiny”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s