No Other Part 9 – End

no other part 9

Annyeooong yeorobeun……#kedip kedip mata

Author yang imut nan cakep balik lagi….. wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk (gak ada yang nanya)

okeeee, aku gak bakalan berbasa basi lagi…. aku gak tahu masih pada inget sama nih FF atau nggak, yang jelas aku masih hutang sama reader n berniat meng endingkannya sekarang…… (udah dari jaman kapan juga nih ff gak ending – ending)

aku gak tahu yaaa nih FF jadinya gimana. menurutku amburadul banget, n gak banget pokoknya. jadi aku gak tanggung jawab kalo kalian kecewa ama nih FF #nyengir kuda…..

oh ya, kalo mood lagi baik kemungkinan bakalan ada epilognya (semoga aja ada mood)… wkwkwkwkwkwkwwk

oke deh happy reading semuanya……

Kyuhyun’s POV

Kurengkuh tubuhnya yang sedang terduduk dilantai ke dalam pelukanku. Gadis ku sedang menangis. Dia menangis sambil membawa sebuah kertas berwarna merah jambu yang aku yakini sebagai undangan pernikahan Donghae Hyung dan Hyun Hee. Tentu saja aku tahu. Kami semua juga mendapatkan undangan tersebut hari ini.

“Jangan seperti itu, kumohon. Aku tidak bisa melihatmu mengeluarkan air mata, apalagi sampai seperti ini.” Aku sedikit merunduk dan kini wajah kami saling berhadapan. Aku melihatnya dengan sangat jelas sekarang. Raut mukanya, matanya yang sendu, bibirnya yang mungil dan air mata nya yang tanpa henti mengalir. Semua terekam jelas oleh penglihatanku. Matanya menyiratkan kalau dia sudah lelah untuk terus menerus mengeluarkan cairan bening itu, namun otaknya terus memberi komando agar cairan bening tersebut selalu diproduksi, bahkan dalam jumlah yang lebih banyak sehingga membuat kedua matanya semakin membengkak dan kemerahan.

Akupun menggendongnya ke kamar tanpa ada penolakan sedikitpun dari Hye ri. Ya Tuhan, apakah ini bisa disebut tubuh manusia normal? Begitu kurus dan ringan. Apa yang dia makan sebenarnya? Apakah dia tidak makan dengan baik akhir – akhir ini?

“Baiklah kau tunggu disini sebentar, aku akan kembali secepat mungkin. Jangan kemana – mana dan kumohon jangan berbuat hal yang macam – macam. Arrasseo!”

***

Dia masih saja sesenggukan begitu aku kembali ke kediamannya. Ini sudah 1 jam lebih dan dia masih saja belum berhenti menangis. Akhirnya kuurungkan niatku untuk langsung ke kamarnya dan menunggunya dari luar pintu.

Setelah Hye ri sedikit tenang dan tidak ada lagi suara tangis, aku mulai berdiri dan masuk ke kamarnya, kembali mendekatinya dan duduk disampingnya. Kugenggam tangannya erat sembari memperhatikan raut mukanya yang begitu sayu. Pandangannya kosong, menatap lurus kedepan. Aku bahkan yakin, kalau dia tidak menyadari keberadaanku meskipun aku sedang didekatnya dan menggenggam tangannya seperti ini.

“Kajja, kita makan dulu. Aku sudah membeli sushi kesukaanmu.” Ucapku pelan sambil menarik lengannya. Dia berdiri dan mengikuti langkah kakiku untuk berjalan ke ruang makan. Masih tetap dengan pandangan kosongnya. Dia sama sekali tidak memperhatikan langkah kakinya sehingga mau tidak mau, dia harus tersandung barang – barang yang tertata disana. Kalau saja aku tidak memeganginya, aku yakin, dia tidak hanya akan tersandung. Dia pasti akan langsung terjatuh begitu saja.

“Sudahlah, kau duduk disini saja. Aku akan menyuapimu.” Ujarku pada akhirnya karena aku sudah jengkel melihat kelakuannya yang sudah seperti mayat itu. Aku menyuapinya secara perlahan dan dengan kesabaran yang ekstra karena aku harus menunggu membuatnya mau menelan semua sushi yang ada dimulutnya. Ya Tuhan, Hye ri. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu seperti dulu? Apakah jatuh cinta kepadamu membuatmu terluka sampai seperti ini? Apakah mencintaimu itu sebuah dosa? Apakah jatuh cinta padamu itu sebuah karma? Apakah aku salah kalau aku terlalu mencintaimu?

“Apa aku memang sudah tidak punya kesempatan lagi untuk kembali padamu? Apa sama sekali tidak ada perasaan cinta untukku walalupun itu hanya setitik?” Kataku pelan yang mungkin hanya cukup untuk ku dengar sendiri. Namun, seolah bisa membaca fikiranku, Hye ri tiba – tiba saja menoleh kearahku dan memandangku dengan iba. Yakk, apa dia benar – benar bisa membaca fikiran? Pandangan macam apa itu?

“Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Sangat mencintaimu.” Aku kembali menatapnya, tertegun dengan ucapannya. “Namun itu dulu, sebelum aku mengenal Lee Donghae. Lee Donghae sudah merenggut semua cintaku padamu sampai – sampai tidak ada perasaan cinta lagi untuk yang lain. Bahkan untuk mencintai diriku sendiripun aku sudah tidak sanggup. Semua rasa cintaku telah terfokus untuknya.” Tambahnya. Cukup untuk membuatku kembali menutupkan mulutku yang hampir terbuka mengenai ucapannya yang sempat terpotong tadi. Ciihh, apakah itu berarti sebuah penolakan? Aku, seorang Cho Kyuhyun, magnae Super Junior yang tertampan telah ditolak oleh seorang gadis biasa bernama Choi Hye ri. Ironis sekali.

Jujur, itu terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Orang yang sangat kau cintai dan benar – benar ingin kau jadikan milikmu sepenuhnya sedang menolakmu. Anni, sepertinya ini bukan penolakan. Ini deklarasi. Dia sedang berdeklarasi tentang perasaannya pada hyungku. Yah, walaupun dengan bahasa yang halus, tetap saja artinya adalah sebuah penolakan kan?

“Bisakah kau meninggalkanku sendiri Cho Kyuhyun? Aku sedang ingin sendirian saat ini.” Tambahnya lagi. Aku mengangguk pelan, meletakkan piring sushi tersebut di meja dan berdiri dari dudukku.

“Arrasseo. Aku akan meninggalkanmu untuk menenangkan diri. Tapi, aku harus memastikan sesuatu kalau kau tidak akan berbuat nekat dengan bertindak konyol seperti memotong nadimu sendiri atau bahkan gantung diri. Aku memang sudah cukup mengenalmu dan mungkin saja tidak terbersit di otakmu tentang hal ini. Hanya saja, dengan keadaanmu yang seperti ini, bisa saja ide gila itu muncul di otakmu.”

Sebelum kuraih gagang pintu dan meninggalkan rumah ini, kembali kutolehkan kepalaku ke belakang untuk melihat sosoknya. Bukan yang terakhir karena aku yakin aku masih bisa bertemu dengannya. Kuurungkan niatku untuk beranjak dari tempat ini dan kembali menghampirinya. “Kalau kau tahu, sebenarnya aku bukan pria yang akan menyerah begitu saja. Apalagi masalah cinta seperti ini. Aku sangat mencintaimu Choi Hye ri. Bahkan aku yakin kalau cintaku melebihi rasa cintamu pada hyung ataupun sebaliknya. Dan akan aku pastikan kalau perasaanku padamu akan tetap seperti ini.”

Author’s POV

“Yakk,yakk ada apa dengan kalian hah? Kenapa semakin hari kalian semakin tidak bersemangat? Aigoooo, sebentar lagi adalah comeback Super Junior dan kenapa muka kalian malah kusut semua? Kita harus bersemangat! Ingat para ELF sedang menunggu kita.” Teriak sang leader pada dongsaeng-dongsaeng nya. Besok adalah performance super junior untuk comeback mereka dengan album terbarunya. Namun hari ini, bukannya bersemangat, semua member malah terlihat lesu. Mungkin mereka sudah terlalu letih karena keringat mereka sudah diperas habis-habis an selama beberapa minggu terakhir.

“Yakk, Cho Kyuhyun kau mau kemana? Kita latihan sekali lagi?” Celetuk Leteeuk saat tahu Magnae nya berdiri dan ingin meninggalkan ruang latihan.

“Yakk Hyung, jangan marah – marah terus. Kau bisa terkena penyakit darah tinggi dan kau bisa menjomblo seumur hidupmu karena tidak ada wanita yang mau denganmu. Apa kau mau menjadi perjaka tua?” Bukannya menjawab, Kyuhyun malah mengajak leadernya perang mulut. Sebagian member yang memang sedang tidak ingin melihat keributan langsung berdiri dan menarik Leeteuk untuk menjauh dari Kyuhyun.

Dengan santainya Kyuhyun berjalan kearah Donghae dan menghampirinya, menarik paksa tangannya dan mengajaknya ke pojok untuk berbicara berdua. Yesung yang sudah tahu tentang konflik diantara mereka sedikit terganggu dengan pemandangan tersebut. Hal itu membuatnya cemas dan sedikit was – was.

“Yesung~ah, wae geurae?” Sang leader menyadari kecemasan Yesung untuk yang pertama kali dan membuat member lain yang tadinya tenang ikut menyadarinya.

“Anniyo hyung, wae?” Yesung berusaha menyembunyikan. Leeteuk dan beberapa member lain langsung mengerubungi Yesung dan memandangnya penuh selidik. Yesung tidak pintar menyembunyikan sesuatu, apalagi kecemasan yang tergambar diwajahnya begitu jelas dan membuat semua member tidak mempercayai ucapannya.

“Kau jangan berbohong pada kami Hyung.” Timpal Ryeowook.

“Akhir – akhir ini aku juga melihat Donghae begitu buruk dan omo aku baru ingat kalau hubungannya dengan Kyuhyun juga tidak begitu baik. Kau pasti tahu sesuatu tentang mereka kan  hyung. Ppaliwa, ceritakan pada kami.” Eunhyuk memaksa Yesung untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya. Member lain pun memberi tatapan intimidasi pada Yesung. Yesung bingung, apakah member lain perlu tahu tentang masalah ini atau tidak.

“Yesung~ah, kita sudah seperti keluarga bukan? Kami ingin semuanya terbuka. Kami tidak ingin ada perpecahan diantara semua member. Apa kau tak percaya pada kami? Kami janji akan membantu mencarikan jalan keluar terbaik semampunya.” Yesung berfikir sejenak dan membenarkan perkataan Leeteuk barusan. Kita semua memang keluarga dan Yesung pun tidak mau sampai ada perpecahan diantara keluarganya. Yesung mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Mungkin dengan bantuan member lain masalah antara Kyuhyun dan Donghae ada jalan tengahnya, fikirnya.

“Keuriego, sebenarnya…………..”

Donghae’s POV

“Hyung, aku ingin bicara empat mata denganmu.” Kyuhyun menghampiriku sesaat sebelum aku berniat keluar ruangan koreografi. Aku hanya melihatnya sekilas dan tak mempedulikannya.

“Hyung, dengarkan aku.” Teriaknya lagi sambil menarik lenganku untuk tidak pergi meninggalkan ruangan. “Aku ingin membicarakan masalah Hye ri.” Tambahnya. Apa lagi yang ingin dia bicarakan? Dia ingin melamarnya? Ingin bertunangan dan menikah dengannya? Apakah dia ingin memamerkan kalau dia sudah menang dariku?

“Aku tidak peduli. Bukankah kau juga sudah mendapat undangannya?” Ucapku berbohong. Bagaimana mungkin aku sudah tidak mempedulikannya kalau dalam keadaan bagaimanapun aku selalu mengingatnya. Tidak akan mungkin melupakan sosok cinta pertamaku dalam waktu yang singkat.

“Jinjjayo? Apakah kau yakin dengan ucapanmu hyung? Aku bukan orang yang mudah menyerah hyung. Apalgi masalah hati. Aku tahu kau sudah mengetahui masa laluku dengan Hye ri dan sampai sekarang akupun masih mencintainya.” Kutatap mata Kyuhyun tajam dan Kyuhyun pun membalas dengan menatap tajam mataku. Apakah dia begitu mencintai Hye ri? Apakah ini memang saatnya aku melepas gadis ku untuk orang lain? Apakah Hye ri akan lebih bahagia dengan dongsaengku? “Apapun jawabanku tidak akan mengubah semuanya Kyu. Kau sudah mengetahuinya dengan jelas. Dia lebih memilihmu. Aku menyerah. Aku yakin kau akan membahagiakannya lebih daripada aku nantinya.” Tatapanku melemah. Tidak mudah untuk mengucapkan itu semua. Aku menepuk pundaknya pelan dan berlalu meninggalkannya.

Aku mendengar Kyuhyun berteriak dan menyuruhku untuk kembali. Namun aku sedang malas berhadapan dengannya. Masalah tempo hari masih membuatku kalut dan aku butuh waktu untuk kembali memperbaiki hubunganku dengan Kyuhyun seperti semula.

Begitu aku keluar dari ruang koreografi, Hyun Hee langsung menyambutku. Aku rasa dia sudah ada diluar dari tadi. Dia melihatku dan melemparkan senyuman kecil untukku. Mau tak mau aku pun tersenyum kearahnya dan berjalan pelan menghampirinya.

“Oppa, annyeong.” Sapanya padaku.

“Annyeong Hyun Hee~ya. Mian, aku terlalu lama di dalam. Apa kau sudah lama disini?” Kataku sambil berbasa – basi. Seingatku, aku tidak ada janji untuk bertemu dengannya hari ini.

“Anniyo Oppa. Aku baru disini 5 menit yang lalu. Ehmmm Oppa, apa kau ada waktu? Aku ingin berbicara empat mata denganmu.”

Aku berfikir sejenak sambil menoleh ke ruang koreo. Aku memang sedang tidak bersemangat untuk latihan. Lagipula aku juga butuh udara segar untuk kembali menjernihkan otakku.

“Oppa, eottokae? Kalau kau sedang sibuk, kita bisa berbicara setelah kau selesai berlatih. Aku akan menunggumu.”

“Anni, aku tidak sedang sibuk. Ah, kita bicara diluar. Kau juga belum makan siang kan? Kajja, hari ini aku yang traktir.” Aku berjalan mendahuluinya dan tanpa dikomandopun Hyun Hee berjalan mengikutiku. Mungkin sikap kami berdua terlihat aneh dimata orang – orang. Meskipun minggu depan kita akan menikah, tapi aku masih belum bisa menerima dia seutuhnya dan sepertinya hal ini akan berlangsung lama sekali. Atau mungkin selamanya? Entahlah..

***

“Sekarang bicaralah, apakah ada hal yang serius?” Tanyaku pada akhirnya karena dari tadi Hyun Hee tidak juga mau membuka mulutnya untuk berbicara.

“Ehmmm……. Oppa, beberapa hari yang lalu……. aku……….” Hyun Hee terlihat gugup dan bingung. Aku meliriknya sekilas dan kembali sibuk dengan makananku. Oke aku sudah mempunyai firasat buruk dengan ini semua. Gelagat Hyun Hee yang gelisah membuatku semakin yakin dengan firasatku.

Aku tetap diam dan menunggu dia melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung. Aku tidak mau memotong kalimatnya sebelum dia menyelesaikan perkataannya.

“Hye ri……….. Ehmmm…….. Aku kerumahnya.” Hyun Hee melihat ke arahku, lebih tepatnya menunggu reaksiku.

Aku masih terdiam, sibuk dengan fikiranku sembari memainkan steak yang ada dipiringku. Hye ri? Lagi? Ya Tuhan, kenapa sepertinya hari ini semua orang disekitarku selalu membicarakan gadis itu? Tidak adakah yang mengerti perasaanku kalau aku sedang tidak ingin mengingatnya?

“Apa dia sudah tahu?”

“Mbusun? Ehmmmmm……….. Kalau masalah undangan itu, aku………..” Hyun Hee kembali menggantung kalimatnya, namun aku sudah bisa menebaknya dengan jelas kalau undangan itu pasti sudah sampai ditangannya.

“Mianhae Oppa. Sebenarnya aku tidak mau melakukan itu semua. Aku emosi sesaat dan tiba – tiba saja undangan itu …………”

“Hyun Hee~ya…….” Potongku cepat. Dia pun diam. Sedikit ada penyesalan di sorotan matanya.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu dan akan menguburnya dalam – dalam. Tapi aku tidak ingin jadi pecundang dan terus menerus membohongimu. Sebelum terlambat aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku tidak ingin ada kesalah fahaman dan aku ingin jujur padamu.” Hyun Hee terlihat mematung dan menatapku dengan seksama. Kupandangi matanya sejenak sembari mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Baiklah, aku rasa aku memang harus mengatakan semuanya.

“Hye ri adalah cinta pertamaku dan aku sangat sangat mencintainya. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak aku masih berusia 10 tahun. Bahkan sampai detik ini pun aku masih sangat mencintai Hye ri. Mungkin ini terdengar sedikit gila, namun aku berani menjamin kalau hal ini akan berlangsung lama. Aku sudah jatuh cinta terlalu jauh padanya. Aku bahkan tidak mampu lagi mencintai diriku sendiri, apalagi untuk mecintai gadis lain. Dia satu – satunya yoeja yang sudah berhasil mengambil seluruh rasa cinta yang aku miliki.” Aku kembali mengarahkan pandanganku kearah Hyun Hee. Dia menundukan kepalanya kebawah dan aku yakin dia pasti terpukul setelah mendengar ucapanku barusan.

“Hyun Hee~ya, mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tahu kau pasti sakit hati mendengarnya. Tapi aku tidak mau berbohong padamu terus – menerus dan menutupi semua ini. Aku………”

“Gwenchanayo Oppa. Aku sudah tahu semuanya.” Timpalnya memotong ucapanku.

“Mwo? Kau sudah tahu?” Aku sedikit terkejut mendengarnya. Apakah member – member yang lain sudah menceritakan masalah ku dengan Hye ri padanya? Padahal mereka sudah berjanji untuk tidak menceritakannya pada Hyun Hee karena ingin menjaga perasaannya. Aiiiisssshhhh jinjja.

“Ne. Kyuhyun sudah menceritakannya padaku.” Ucapnya lagi. Dia tersenyum meskipun aku tahu itu adalah senyum paksaan yang ia buat. Sebentar, apakah dia menyebut nama Kyuhyun? Apakah aku tidak salah dengar?

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?” Kataku setengah tak percaya. Dia mengangguk dengan yakin dan itu membuatku sedikit bingung. Buat apa Kyuhyun menceritakan hal itu pada Hyun Hee? Apakah dia sedang merencanakan sesuatu?

“Kyuhyun mendatangiku dan menceritakan semuanya padaku. Di hari yang sama setelah undangan tersebut sampai di tangan Hye ri. Dia menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Bahkan yang kau tidak tahu Oppa.” Dia mengambil jeda untuk bernafas dan kembali melanjutkan kata – katanya. “Aku tahu persis apa yang kau alami sekarang Oppa. Mencintai sosok cinta pertama yang memang sulit untuk dilupakan dan ironisnya, cinta pertama yang kau agung – agungkan itu sama sekali tak memandangmu. Anni, ini tidak sama. Setidaknya cinta pertamamu masih membalas perasaanmu.” Tatapan Hyun Hee kembali sendu. Ini memang kebodohanku dulu yang membuatnya salah faham sehingga berakhir seperti ini.

“Mianhae Shin Hyun Hee, aku tidak bermaksud seperti itu.” Rasa bersalah kembali menyelimutiku. Selain kata maaf, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan padanya meskipun maaf saja tidak cukup untuk membayarnya.

“Gwenchanayo Oppa. Sepertinya pepatah cinta tidak harus memiliki memang benar – benar ada. Setidaknya aku bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati padaku dengan mengenalkanku cinta dan menanamnya di hatiku.”

Kami berdua diam. Tak ada yang memulai pembicaraan sampai beberapa menit. Kami berdua kembali sibuk dengan fikiran masing – masing, atau mungkin tidak tahu harus berbicara apa lagi karena sepertinya sudah tidak ada yang bisa dibahas.

“Ehm…. Oppa, aku rasa aku sudah bisa memutuskan sekarang. Aku tidak ingin egois karena aku tahu, keegoisanku akan membuat banyak hati yang tersakiti. Mianhae karena aku sedikit terlambat dalam mengambil keputusan. Sekarang kau bebas Oppa. Kau tidak perlu lagi terikat padaku. Pergilah dan pertahankan cinta pertamamu. Kau tidak perlu lagi merasa bersalah padaku. Ini memang salahku sendiri yang tidak bisa mengartikan perhatianmu padaku. Aku terlalu polos saat itu hingga membuatku salah faham dan mengartikan ini semua sebagai cinta.” Hyun Hee memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya dan sesaat kemudian melepas cincin tersebut lalu melemparnya ke taman di samping tempat duduk kami.

Perasaan bersalah kembali melandaku. Aku benar – benar merasa menjadi orang yang paling jahat sekarang.

“Kau tenang saja Oppa. Nan gwenchana. Semuanya pasti akan berakhir dengan baik.” Hyun Hee menggenggam tanganku untuk menenangkanku. Apakah dia bisa membaca fikiranku? Atau sudah tergambar jelas di wajahku? Sepertinya dia baru saja menghiburku dari rasa bersalahku.

“Ah, kau tahu Oppa. Tunanganmu ternyata benar – benar keras kepala. Awalnya aku mengira kalau Eunhyuk hanya berlebihan saja saat menggambarkan sosok Hye ri padaku. Tapi, dugaanku salah. Dia selalu saja memotong perkataanku sebelum aku selesai berbicara. Padahal saat itu aku hanya ingin berbicara baik – baik dengannya mengenai hubungan rumit yang sedang terjadi dengan kalian. Namun belum sempat menjelaskannya aku sudah diusir terang – terangan olehnya.”  Lanjutnya. Aku tersenyum simpul sambil membayangkan sosoknya yang sedang beradu mulut. Dia memang gadis yang keras kepala sekarang dan itulah yang membuatku semakin tertarik dengannya. Dia berbeda.

Suasana hatiku kembali memburuk begitu kami mulai membahas Hye ri. Mungkin bebanku memang sedikit berkurang dengan batalnya pernikahanku dengan Hyun Hee, tapi itu sepertinya tidak mengubah apa – apa. Hye ri sulit ditebak. Aku tidak bisa membaca gelagatnya apakah dia mencintaiku atau mencintai Kyuhyun. Atau malah tidak mencintai kami berdua?

“Oppa, wae geurae?”

“Anniyo Hee~ya, hanya saja……… Aku rasa aku tidak bisa lagi mempertahankan cinta pertamaku. Dia sudah mengatakannya padaku kalau dia mencintai Kyuhyun. Aku tidak mungkin lagi bersamanya.” Flashback kejadian tempo hari kembali terputar di otakku. Aku seperti sedang menonton film drama yang menyedihkan dan disitu akulah pemeran utamanya.

Hyun Hee tersenyum kearahku, lagi – lagi menenangkan fikiran ku yang semakin kacau. “Hye ri hanya mencintaimu Oppa, bukan Kyuhyun. Yang ada di hatinya hanya namamu seorang. Jadi kau tenang saja. Hanya saja………….” Hyun Hee kembali menggantung kalimatnya. Ini membuatku penasaran. Hanya saja apa? Kenapa tidak dilanjutkan? Aiiiisssshhhh, kenapa dia suka sekali menggantung kalimat – kalimatnya?

“Hanya saja apa Hee~ya?” Tanyaku tidak sabaran. Ku tatap mata Hyun Hee tajam, meminta penjelasan dari setiap kata – katanya. Ini semakin membingungkan, kau tahu? Kalau Hye ri mencintaiku, kenapa dia tidak mengatakannya padaku waktu itu? Malah memilih berbohong dengan mengatakan kalau dia lebih mencintai Kyuhyun, padahal dia tahu aku begitu mencintainya. Aku akan memaafkan sebesar apapun kesalahannya. Apa karena gengsinya? Aku tahu gengsi yang dimiliki Hye ri memang sangat besar, tapi aku rasa ada alasan yang lebih masuk akal daripada hanya sekedar gengsinya saja.

“Shin Hyun Hee jebal, katakan padaku. Aku ingin semuanya jelas.” Tambahku.

“Ehm….. Mianhae Oppa, jeongmal mianhae. Ini bukan porsiku untuk memberitahukannya padamu.” Hyun Hee menatapku, memohon untuk tidak kembali memaksanya. Akupun menyerah dan tidak lagi memaksa Hyun Hee untuk buka mulut. Dia benar, tidak seharusnya aku mengintimidasi Hyun Hee seperti itu. Lantas, siapa yang harus aku temui? Siapa orang yang bisa memberikan penjelasan penuh padaku?

“Hyun Hee~ya, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu. Kau bilang kalau Kyuhyun sudah menceritakan semuanya padamu, bahkan yang aku tidak tahu. Kalau aku menemui Kyuhyun, apa menurutmu dia tahu apa alasan Hye ri yang sebenarnya?”

Hye ri’s POV

Aku kembali mencoret – coret kalender dikamarku. Menorehkan tanda silang ditanggal – tanggal yang tertera disana, menunggu sampai akhirnya aku memberi tanda silang di hari dan tanggal dimana ada lingkaran merah disana. Ya, itu adalah hari pernikahan. Bukan pernikahanku, melainkan pernikahan tunanganku dengan tunangannya yang baru. Aku sedang menghitung hari dimana aku akan kehilangan Lee Donghae untuk selamanya.

“Lima hari lagi.” Ucapku lirih. Aku meletakkan spidol yang ada di genggamanku di meja dan kembali ke tempat tidurku. Ini memang kegiatan rutinku akhir – akhir ini. Aku tidak pernah keluar rumah sekalipun. Jangankan keluar rumah, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku keluar dari kamarku.

Semangat hidupku tiba – tiba saja menghilang dan membuatku tidak berselera melakukan aktivitas apapun. Aku merasa kalau hidupku ini sudah tak ada gunanya. Baiklah, ini memang keinginanku untuk menjauhinya. Tapi bukan begini. Aku….. Masih belum siap.

Drrrrtttttt dddrrrrrrtttttttttt

Ponselku bergetar. Pandanganku kini beralih ke ponselku, lebih tepatnya di layar ponselku. Yunha? Apakah aku tidak salah lihat? Aku melihat nama Yunha tertera di layar ponselku dan itu berarti dia sedang menelponku. Aku segera menyambar ponsel tersebut dan memencet tombol received. Ini adalah pertama kalinya Yunha kembali menghubungiku setelah pertemuan terakhir kita beberapa bulan yang lalu.

“Yeoboseyo? Yunha~ya? Kau kah itu?”

“Hye ri~ya, bisakah kau membuka pintumu? Aku kedinginan diluar. Aku sudah memencet tombol bel berkali – kali tapi……….”

“Aku akan segera turun kebawah. Chakkamanyeo.” Aku langsung memotong perkataannya dan berlari kebawah. Yunha sudah ada di depan? Aku sedang tidak bermimpi kan? Sahabatku yang sudah lama menjauhiku kini sedang ada di depan rumahku.

Saking semangatnya, aku tidak sadar kalau aku masih saja berlari saat menuruni tangga, hingga akhirnya aku tersandung kakiku sendiri dan terjatuh. “Aaaawwwwww.” Pekikku pelan. Namun aku tidak mempedulikannya dan tetap memaksakan kakiku untuk berlari secepat mungkin agar segera mencapai gagang pintu.

“Yunha~ya…” Sapaku riang begitu aku melihat sosok Yunha dibalik pintu. Dia tidak membalas sapaanku dan hanya menatapku intens. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki secara bergantian. Aku menyunggingkan senyumku untuk menyambutnya, namun yang kudapatkan hanyalah tatapan iba darinya.

“Masuklah, aku akan membuatkan minum untukmu.” Ajakku. Akupun berjalan mendahuluinya dan lagi – lagi aku lupa kalau kakiku masih sakit karena kecelakaan kecil barusan.

“Yakk, kau ini. Tidak bisakah kau mengurangi sikap cerobohmu? Kau ini semakin bodoh saja.” Teriak Yunha dan langsung menggapit lengan kananku untuk membantuku berjalan. Jujur saja, untuk sesaat aku bisa melupakan kesedihanku yang selama ini ku pendam hanya karena perubahan sikap Yunha yang tiba – tiba padaku.

“Gwenchana. Aku hanya tersandung dan aku rasa beberapa menit lagi sakitnya akan hilang.” Aku menarik lengannya untuk duduk di Sofa. Setelah itu, aku berjalan menuju lemari es dan mengamati apa yang bisa aku suguhkan untuk Yunha. Tapi………. Aiiissshhh sejak kapan lemari es ku kosong begini? Hanya ada dua buah jeruk yang hampir kusut dan satu kaleng kecil susu kental manis.

“Kau benar – benar parah nona Choi, bahkan lemari es yang selalu penuh pun sampai kosong begini. Apa Han ahjumma tidak pernah membelanjakanmu? Atau kau tak pernah membiarkannya masuk rumah ini sekalipun?” Yunha tiba – tiba saja sudah berdiri dibelakangku sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali. Aku hanya mampu menghembuskan nafas tanda setuju. Aku memang tidak pernah membukakan pintu untuk semua orang yang datang kemari. Termasuk bibi Han yang biasanya mengurusi rumah ini. Hari ini adalah kali pertama aku membiarkan seseorang masuk kerumahku setelah aku mengurung diri dikamar selama beberapa hari.

“Kau duduklah, kita makan jjajjangmyun. Untung saja aku mempunyai firasat untuk membeli dua mangkuk jjajjangmyun.” Ajaknya. Dia berjalan mendahuluiku ke ruang tengah, mengambil plastik hitam yang ada di sofa dan mengeluarkan mangkuk – mangkuk jjajjangmyun dari dalam. Aku masih saja berdiri mematung dan memilih memperhatikan Yunha dari posisiku. Kalau aku memang sedang bermimpi, aku ingin mimpi ini terus berlangsung. Aku tidak ingin bangun dari tidurku dan mendapati kembali kalau ini memang hanya mimpi.

“Yaakk, babo. Jangan hanya berdiri mematung disitu. Ppali mbogo. Lihat badanmu, apakah badan seperti itu bisa disebut badan manusia? Aigooo.. Sudah berapa hari kau tidak makan hah? Kau lebih mirip mayat hidup daripada manusia normal. Segeralah kau menelpon Han ahjumma untuk kembali mengurusi rumah ini.” Yunha terus – menerus menceramahiku dan itu membuatku geli melihatnya. Lihat, sifat cerewetnya sudah kembali lagi.

Tanpa menghiraukan kakiku yang luka, aku berlari kearahnya dan memotong ocehannya. Memeluknya erat – erat dan tanpa sadar air mataku menetes. Bukan, bukan. Ini bukan air mata yang aku keluarkan akhir – akhir ini. Ini berbeda. Aku menangis karena aku gembira sahabatku kembali lagi padaku. Untuk pertama kalinya, aku tidak membenci air mata yang keluar dari kedua mataku.

“Yakk yakk, lepaskan aku babo. Aiisssshhh jinjja.” Teriak Yunha. Dia meronta dan berusaha melepas pelukanku, namun aku memeluknya semakin erat.

“Mianhae Yunha~ya. Jeongmall mianhaeyo.”

Minho’s POV

“Minho~ya, eoddieseyo?” Jonghyun Hyung tiba – tiba muncul di belakangku dan mengagetkanku. Aiiiissshhh, bocah ini. Tidak bisakah dia muncul secara normal tanpa membuatku jantungan hah?

“Aiiiisshhh hyung, jangan selalu muncul tiba – tiba seperti itu. Setidaknya berilah kode kalau kau mau muncul di hadapanku.” Omelku.

“Yakk, kau ini tidak sopan padaku. Kau fikir aku hantu hah? Seenaknya saja. Kau mau kemana? Bukankan hari ini kita ada jadwal?”

“Ehmmmmm……….” Aiiissshhh apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya kalau aku ingin pergi menemui Hye ri? Jonghyun hyung pasti tidak akan mengijinkanku, apalagi ditengah – tengah jadwal padat seperti ini.

“Yakk, kau mendengarku tidak? Kau ini. Apa kau sedang kesambet hantu di belakang gedung SM-Ent hah?” Jonghyun hyung lagi – lagi berteriak dan membuatku harus menutup kedua telingaku kalau aku tidak mau tuli ditempat. Dasar tukang teriak. Yakk, aku hanya berjarak 5 meter dari posisinya dan tanpa dia berteriak pun aku masih bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas.

“Aku hanya keluar sebentar hyung, annyeong.” Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung kabur dan melesatkan mobilku keluar kawasan SM-Ent. Sebenarnya aku mendengar teriakannya yang memintaku untuk berhenti tapi aku tidak peduli. Aku sudah hampir satu minggu tidak mendapat kabar sama sekali dari Hye ri dan itu membuatku khawatir. Sampai – sampai, aku tidak bisa fokus dengan persiapan konser – konser kami dan itu membuatku frustasi.

Aku sudah menghubungi ke ponsel nya berkali – kali namun hasilnya selalu nihil. Pesan singkat yang aku kirimkan untuknya pun tak pernah ada balasan satu pun. Aku tahu, dia pasti masih sangat terpukul atas kejadian beberapa waktu lalu di vilanya, dan sifat Hye ri saat sedang ada masalah adalah memendamnya seorang diri. Dasar gadis bodoh. Kenapa dia tidak mau berbagi masalahnya denganku? Apakah dia masih marah padaku tentang ungkapan perasaanku beberapa bulan yang lalu?

“Aaarrrggghhh, kau memang babo Choi Minho. Tidak seharusnya kau terang – terangan seperti itu.” Umpatku.

Kurang lebih satu jam kemudian aku sudah memarkirkan mobilku di halaman rumah milik Hye ri. Tapi, sepertinya bukan hanya aku tamu yang berkunjung hari ini. Aku melihat ada sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya sebelum aku.

Aku keluar dari mobil dan berjalan pelan ke arah pintu masuk. Melewati mobil yang ada di depanku tentunya, dan aku baru sadar kalau mobil tersebut sangat familiar di mataku.

“Bukankah mobil ini……………..” Aku sedikit menerawang dan mengingat – ingat kembali mobil tersebut. Begitu aku melihat plat nomernya aku baru sadar kalau itu adalah mobil milik Yunha. Ya, tidak salah lagi. Hanya Yunha yang memiliki plat nomer seperti itu.

Aku berdiri mematung, seakan enggan untuk kembali melangkahkan kakiku. Tidak hanya Hye ri, dengan Yunha pun aku lupa kapan terakhir kali aku bertemu dan berbincang – bincang dengannya. Semenjak kejadian Hye ri kabur waktu itu, sepertinya aku sudah tidak pernah berhubungan dengan dia lagi. Ah tidak, saat kejadian disini beberapa hari yang lalu aku sebenarnya melihatnya bersama Yesung hyung, tapi kami tidak saling menyapa satu sama lain. Menurutku, dia masih sakit hati padaku. Aiiiissshhh, ottokhae? Aku belum siap bertemu dengan Yunha. Aku tidak tahu, apa yang harus aku bicarakan saat nanti aku bertatap muka dengannya?

Aiiissshhh aku bukan seorang pengecut. Appa tidak pernah mengajariku seperti itu. Cepat atau lambat aku pasti harus bertemu dengan Yunha dan kami harus menyelesaikan masalah kami berdua.

“Baiklah Choi Minho, kau pasti bisa.” Aku kembali melangkahkan kedua kakiku, berjalan lebih dekat dan mendapati pintu rumah Hye ri sedang terbuka. Ah, gadis ceroboh, selalu lupa untuk kembali menutup pintu. Aku berjalan lebih dekat dan hendak mengetuk pintu, tapi lagi – lagi aku mengurungkan niatku tersebut.

Hye ri dan Yunha terlihat sedang berpelukan dan selang beberapa menit, mereka kembali duduk ditempat masing – masing. Hye ri juga terlihat lebih sumringah. Yah, meskipun tubuhnya terlihat semakin kurus dari terakhir kali aku melihatnya tempo hari. Walaupun begitu, dia tetap terlihat menggoda dimataku.

“Aiiiisssshhhh Minho~ya, hapus fikiran – fikiranmu itu mulai dari sekarang.” Aku memukul – mukul kepalaku pelan dan sepertinya teriakanku barusan membuat kedua orang yang ada di ruang tengah menoleh kearahku. Apakah teriakanku begitu keras?

“Hehehehehe, yeorobeun annyeong.” Sapaku pada akhirnya. Tanpa dikomandopun aku langsung berjalan ke ruang tengah, sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan mengambil duduk di kursi kosong yang menghadap langsung kearah mereka berdua. Baiklah, aku sudah selangkah lebih maju sekarang. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menyelesaikan masalah kami bertiga. Ya, masalah ini harus segera berakhir dan aku ingin hubungan kami bertiga kembali seperti sedia kala.

Author’s POV

Minho, Yunha dan Hye ri terlihat sedang berbicara serius di ruang tengah. Saling melemparkan penjelasan dan meminta maaf satu sama lain. Setelah selesai dengan musyawarah tersebut, mereka kembali diam, sibuk dengan kegiatan masing – masing. Semuanya hening. Tak ada satupun suara yang terdengar kecuali suara titik air hujan yang jatuh menimpa rerumputan di halaman luar.

Yunha pura – pura sibuk dengan Ipodnya, Minho sibuk dengan fikirannya sendiri sementara Hye ri sibuk mengagumi air yang jatuh dari langit tersebut.

“Lihat, hujannya bagus sekali.”

Minho dan Yunha hanya melihat sekilas ke arah pintu keluar untuk melihat titik titik air tersebut, namun sedetik kemudian mereka kembali pada aktifitas masing – masing.

“Apakah kalian tahukenapa aku begitu tergila – gila dengan air hujan?” Celetuk Hye ri lagi karena tak ada seorangpun yang membalas ucapannya. Semuanya kini beralih memandang ke arah Hye ri. “Karena kau suka hujan – hujanan saat kecil.” Yunha menjawab secara asal karena saat memperhatikan air yang jatuh dari langit tadi, dia sama sekali tidak menemukan adanya ketertarikan dengan air tersebut. Itu hanya air, dia sering melihat nya dikamar mandi. Fikir Yunha.

Hye ri hanya tersenyum mendengar jawaban Yunha yang asal itu. “Kau ini. Tidak bisakah kau berfikir secara realistis? Babo.” Ejek Hye ri. Yunha langsung melempar tatapan geram ke arah Hye ri. Namun bukannya takut Hye ri malah semakin mengejeknya sambil menjulurkan lidahnya. Yunha hendak berlari kearahnya namun Hye ri dengan secepat kilat beralih dari posisinya dan kini dia sudah berada di luar, berkecamuk dengan hujan yang semakin deras mengguyur kota Seoul.

Yunha pun menyusul dan ikut bermain air bersama Hye ri. Mereka seperti kembali menjadi anak kecil yang tak ada satupun beban di pundaknya. Minho hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat kedua gadis di hadapannya. Perasaannya pun kini sudah terbilang lebih baik. Jauh lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya hubungan mereka sudah bisa kembali normal. Yah, meskipun masih ada sedikit kecanggungan, namun lambat laun kecanggungan tersebut pasti akan segera menghilang.

“Hye ri~ya, apakah kau tahu kalau kau terlihat semakin cantik dengan senyum seperti itu? Jadi aku mohon, teruslah tersenyum dan jangan lagi menampakkan raut muka kesedihan seperti sebelum – sebelumnya.” Minho bergumam pada dirinya sendiri sementara tatapannya masih terfokus pada sepupunya. Dia sedang menikmati momen – momen dimana dia bisa begitu bebas memperhatikan setiap detil sepupunya itu. “Mianhae Hye ri~ya, jeongmal mianhae. Ijinkan aku melakukan hal ini untuk terakhir kalinya. Setelah hari ini aku janji aku akan membuang perasaanku padamu jauh – jauh.” Ungkapnya berjanji pada dirinya sendiri.

Sementara itu, tak ada seorangpun yang menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka, tidak begitu jauh dari posisi mereka. Setidaknya, cukup jelas untuk melihat mereka bertiga meskipun hujan mengguyur sangat deras. Dia adalah Cho Kyuhyun.

Sebenarnya Kyuhyun sudah berada di sana beberapa jam yang lalu, jauh sebelum Minho dan Yunha datang. Dia ingin sekali pergi menemui Hye ri namun dia takut. Takut kalau – kalau dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Apalagi ketika Yunha dan Minho ada disana, membuat Kyuhyun hanya bisa berdiam diri di dalam mobil sembari memperhatikan mereka dari kejauhan.

“Kau semakin cantik saat tersenyum, Choi Hye ri.” Fikirnya. Sama seperti Minho, kini dia juga sedang menikmati momen – momen bebasnya. Dia bisa bebas memperhatikan gadis yang dicintainya tanpa perlu rasa takut karena hanya ada dia disana.

“Mianhae telah membuatmu berada pada pilihan yang sulit. Aku janji, aku akan berusaha mengembalikannya seperti semula. Mengembalikan senyum malaikatmu dan mengembalikan kehidupanmu yang sempat porak poranda karena sikap egoisku.” Kyuhyun tersenyum pahit. Dia tidak menyangka bahwa pada akhirnya dia harus tetap merelakan gadisnya untuk orang lain.

Ponsel yang ada di genggamannya bergetar. Kini dia memfokuskan arah pandangnya ke ponsel tersebut. Dia menekan tombol hijau di sebelah kiri dan terlihat berbicara sangat serius dengan seseorang di seberang.

“Arrasseo, aku tidak marah padamu. Ne, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Annyeong.” Kyuhyun menutup sambungan telpon dan kembali fokus memandang gadisnya secara intens, yah meskipun tidak secara blak – blak an tapi Kyuhyun sudah merasa puas.

Setelah Hye ri dan Yunha mengakhiri adegan hujan – hujanan mereka, Kyuhyun langsung melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Hye ri. Sebelum perasaannya kembali meluap – luap, mengalahkan pertahanannya untuk tidak berlari ke arah Hye ri dan memeluknya erat – erat. Jika hal itu terjadi, mungkin Kyuhyun tidak akan mau melepaskannya lagi.

***

Hari ini adalah konferensi pers super junior mengenai album terbaru mereka. Para member menunjukan mimik bahagia karena pada akhirnya mereka bisa berhasil dengan baik untuk album ke lima mereka. Namun tanpa disadari oleh yang lain, Donghae terlihat tidak begitu bersemangat seperti anggotanya yang lain. Dia lebih banyak melamun dan tidak terlalu fokus pada konferensi pers yang mereka gelar.

Foto – foto pun menyebar dengan cepat di dunia maya, tanpa terkecuali. Netizen pun membahas foto – foto yang beredar tersebut dan mengira bahwa Lee Donghae hanya sedang letih karena persiapan album barunya memang menyita banyak tenaga. Jadi, mereka tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Mereka malah memberi semangat dengan menulis di twitter dan me mentionnya ke akun Lee Donghae.

“Hye ri~ya, lihat. Fishy sepertinya tidak begitu bersemangat dengan konferensi pers nya.” Yunha menunjuk foto di laptopnya dimana ada gambar Donghae yang tampak sedang melamun terpampang disana.

Hye ri pun beranjak dari posisinya dan berjalan kearah Yunha, ikut memperhatikan dengan seksama foto tersebut. Yunha benar, Donghae terlihat kurang bersemangat. Padahal dia tahu kalau pada awalnya dia sangat bersemangat dengan album ke lima mereka.

“Kau benar Yunha~ya. Lihat, dia juga terlihat begitu kurus dan……………” Hye ri tidak meneruskan kalimatnya. Rasa rindu tiba – tiba menghampirinya, membuat dadanya sesak dan tanpa ia sadari, ada air yang mulai menetes membasahi kedua pipinya.

“Hye ri~ya, gwenchana?” Yunha langsung berbalik badan begitu menyadari bahwa Hye ri sedang menangis.

Yunha menghembuskan nafas perlahan dan memapah Hye ri untuk duduk. “Aku masih tidak faham dengan cara berfikirmu Hye ri~ya. Aku tahu kau begitu mencintai Lee Donghae, bukan namja evil itu. Tapi kenapa kau masih saja menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Bukankah ini mudah saja? Kalau kau mau, kau hanya tinggal mengatakannya pada Donghae dan aku yakin masalah kalian akan segera berakhir. Aku tahu kalau Donghae juga masih sangat mencintaimu.”

Hye ri’s POV

“Aku masih tidak faham dengan cara berfikirmu Hye ri~ya. Aku tahu kau begitu mencintai Lee Donghae, bukan namja evil itu. Tapi kenapa kau masih saja menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Bukankah ini mudah saja? Kalau kau mau, kau hanya tinggal mengatakannya pada Donghae dan aku yakin masalah kalian akan segera berakhir. Aku tahu kalau Donghae juga masih sangat mencintaimu.”

Tangisku semakin pecah begitu mendengar ucapan Yunha. Flashback kejadian – kejadian sebelumnya terputar secara random di otakku. Apakah aku masih pantas untuk bersanding dengan Donghae? Lagipula semuanya sudah terlambat. Dia akan menikah. Dalam hitungan hari, dia akan menjadi milik orang lain. Apapun keputusanku sekarang tidak akan mengubah kenyataan, karena pada akhirnya aku akan tetap kehilangan dia.

“Hey, aku sahabatmu kan? Kau tahu kalau aku pasti akan membantumu menyelesaikan semua masalahmu. Aku memang salah kemarin, dan aku janji aku tidak akan menghujatmu. Baiklah, sebenarnya Yesung Oppa sudah menceritakan masalah kalian berdua padaku. Tapi menurutku alasanmu itu tidak masuk akal Hye ri~ya. Kau memilih untuk mengorbankan perasaanmu dan kabur hanya karena kau tak ingin melihat salah satu diantara mereka bertiga patah hati. Itu konyol dan sama sekali tidak masuk akal. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan menambah masalah dan kesalah fahaman seperti kejadian tempo hari. Kau berbuat seperti itu hanya akan menambah banyak hati yang tersakiti. Donghae,Kyuhyun, kau sendiri dan aku rasa Minho juga akan sakit hati karena dia juga pasti merasa ikut andil dalam masalah ini. Kalau kau memang jatuh cinta pada Donghae dan Kyuhyun juga mencintaimu, seharusnya Kyuhyun bisa melepaskanmu. Minho juga pasti akan mendukung keputusanmu karena aku yakin, asalkan kau bahagia Minho akan turut berbahagia untukmu. Dan sekarang aku mulai tidak yakin, kalau masalahmu hanya sekedar Kyuhyun, Donghae dan Minho. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami semua. Benar kan?” Yunha mulai mengintimidasiku. Tatapannya mengatakan kalau aku harus menceritakan semuanya padanya.

Aku hanya bisa membisu di balik tangisku yang sepertinya akan kembali pecah. Aku memeluk Yunha untuk sedikit meredam suara tangisku

“Kau masih belum bisa mempercayaiku?” Tanyanya lagi. Ucapannya semakin melembut dan kini Yunha membalas pelukanku untuk sedikit menenangkanku.

“Semuanya sudah terlambat Yunha~ya. Ini hanya akan sia – sia saja.“

“Tidak ada kata terlambat, kau tahu. Sekarang tenanglah dan ceritakan semuanya padaku. Kita cari jalan keluarnya sama – sama. Bagaimana?“

“Aku……… Aku……….” Ucapku terbata – bata. Aku tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat. Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk mulai menceritakan semuanya pada Yunha.

Minho’s POV

Aku bersiul pelan sambil memainkan Ipod ditanganku, melewati koridor panjang dan kemudian berlari – lari kecil menaiki anak tangga gedung SM- Ent. Aku sedikit datang terlambat hari ini dan aku yakin Jonghyun hyung pasti akan memarahi karena keterlambatanku ini. Ah, ini semua karena jalanan tengah kota Seoul yang macet total pagi ini. Padahal aku sudah berangkat lebih pagi dari biasanya. Entahlah, sepertinya hari ini semua orang sedang terburu – buru, jadi mereka keluar rumah secara serentak pagi – pagi buta.

Mulai hari ini sepertinya jadwal Shinee akan selalu padat dibandingkan hari – hari sebelumnya. Aku rasa jadwal ini akan berlangsung sampai beberapa bulan kedepan. Kami harus fokus untuk persiapan promosi album kami di Jepang. Aiiissshhh, aku pasti tidak akan mempunyai waktu untuk bertemu dengan sepupuku.

Kalian jangan salah faham dulu. Aku tidak bermaksud apa – apa. Aku ingin bertemu dengannya karena aku ingin menemaninya. Itu saja. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menghapus perasaan tidak wajar ini dan aku selalu berkomitmen pada janjiku.

Ku edarkan pandanganku untuk mencari ruangan dimana kami akan berlatih hari ini. Tidak mudah karena banyak ruangan di gedung ini dan aku lupa untuk bertanya sebelumnya pada Managerku. “Aiissshhhh, kenapa menurutku ruangan di gedung ini semakin bertambah?.” Umpatku.

Aku kembali berjalan sambil terus memainkan Ipod ditanganku. Aku tahu aku sedang terlambat, tapi aku masih saja berjalan santai. Terlambat sehari sepertinya tidak apa – apa.

“Kau, kenapa kau tega berbuat hal itu pada Hye ri hah? Apakah itu yang kau sebut – sebut dengan cinta? Apakah cintamu hanya sebatas nafsu?” Aku berhenti melangkahkan kakiku ketika teriakan seseorang terdengar di telingaku, mengabaikan kenyataan kalau aku sudah terlambat dan malah mencari sumber suara.

Baiklah, mungkin ini memang salah. Tidak seharusnya aku mendengarkan pembicaraan orang lain. Namun saat mendengar kata Hye ri keingin tahuanku jadi terusik. Aku ini sepupunya dan aku rasa aku perlu tahu apa – apa yang berhubungan dengan sepupuku. Tidak salah kan?

“Yunha~ya, mworago? Aku tidak faham dengan kata – katamu barusan.” Kali ini suara namja yang terdengar di telingaku. Dan menyebut nama Yunha. Baiklah, aku semakin bertambah penasaran sekarang. Suara tadi, sepertinya juga tidak asing lagi di telingaku.

Aku semakin mempercepat langkah kakiku, dan bingo ternyata dugaanku tepat. Aku melihat Kyuhyun hyung dan Yunha ada dipojok gedung sebelah taman. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku melihat tatapan Yunha seakan – akan ingin memakan namja dihadapannya hidup – hidup. “Aku harus segera kesana atau kalau tidak, akan ada keributan besar disini.” Fikirku.

“Kau benar – benar tak tahu malu Cho Kyuhyun. Kau pergi seenaknya dari kehidupan Hye ri dan begitu kembali kau seharusnya meminta maaf padanya, bukanya merusak kehidupannya dengan merampas sesuatu yang berharga darinya. Kau ini manusia bukan, hah?” Yunha berteriak semakin kencang. Dia semakin beringas. Tunggu, merusak kehidupan Hye ri dengan merampas sesuatu yang berharga darinya? Apakah yang dimaksud Yunha dengan sesuatu yang berharga itu? Dia merampok Hye ri? Atau membobol akun bank milik Hye ri? atau………..

“Aiiissshh sial, jangan sampai apa yang dimaksud Yunha adalah apa yang sedang aku fikirkan sekarang.” Aku berlari sekencang mungkin dan menahan tangan Yunha sebelum tangannya mendarat di pipi Cho Kyuhyun. Mereka berdua langsung melihat kearahku. Tentu saja karena kemunculanku yang tiba – tiba ditengah kemelut perang tersebut.

“Minho~ya…….” Sapa Kyuhyun hyung, sedikit terkejut.

Yunha meronta untuk kulepaskan tangannya namun aku masih menahannya. “Yakk, lepaskan aku Choi Minho. Aku harus memberi namja brengsek ini pelajaran.”

“Hyung, aku ingin kau menjawab jujur pertanyaanku. Aku tahu kau bukan tipe orang yang suka berbohong jadi aku mohon, kalau kau masih menganggap aku dongsaengmu kau harus menjawab jujur pertanyaanku. Apa yang dimaksud Yunha dengan kau merampas sesuatu yang sangat berharga dari Hye ri? Apa kau telah………….” Aku menggantungkan kalimatku, tidak sanggup melanjutkannya.

Aku menunggu respon dari hyungku, masih tetap menahan tangan Yunha yang meronta untuk kulepaskan. Namun laki – laki di depanku hanya diam, tak menjawab pertanyaanku dan hanya menunjukan mimik rasa bersalahnya. Ini membuatku semakin geram dan tanpa sadar emosiku sudah mencuah begitu saja.

“HYUNG, JAWAB AKU!!” Teriakku. Aku melepaskan tangan Yunha yang tadi ku genggam, mencengkram kerah baju Kyuhyun hyung dengan tangan kiriku dan mengepalkan tangan kananku, siap untuk mendaratkan satu pukulan keras di wajahnya.

“Mianhae Minho~ya, saat itu aku sedang hilang kendali dan entah bagaimana, semuanya terjadi begitu saja. Aku juga menyesal melakukannya.” Jelasnya. Emosiku semakin bertambah dan sedetik kemudian tangan kananku sudah berhasil mendarat di pipi kanannya. Aku hendak mendaratkan lagi pukulanku namun kini Yunha menahanku. Kekuatanku tentu lebih besar daripada Yunha, apalagi saat emosi seperti ini. Aku menghentakkan tangannya yang menahanku dan kembali mendaratkan satu pukulan di pipi kirinya.

Tidak ada perlawanan dari Kyuhyun hyung sama sekali. Dia hanya pasrah dan sesekali mengusap pojok bibir kanannya yang mengeluarkan sedikit darah. Aku tidak lagi memukulnya, namun mencengkram kerahnya dengan keras dan menariknya secara paksa untuk mengikutiku ke dorm super junior. Aku tahu siapa yang seharusnya mengadili laki – laki. Ya, aku rasa Donghae Hyung lah yang harus mengadilinya.

Donghae’s POV

Aku sedang bersantai menikmati waktu bebasku yang hanya sementara ini. Sebenarnya bukan hanya aku, tapi semuanya. Namun mereka lebih memilih tidur untuk me recover kembali energi yang telah terbuang dan mempersiapkan diri untuk konser – konser comeback kami yang padat.

Sebenarnya aku juga ingin tidur seperti mereka, meskipun hanya beberapa jam namun aku yakin itu akan sangat membantu. Namun otakku tidak bisa diajak untuk beristirahat sejenak. Dia memaksaku untuk terus menerus berfikir. Kalian sudah pasti tahu apa yang aku fikirkan. Ya, Hye ri. Aku memikirkannya. Lagi – lagi memikirkannya.

Kata – kata Hyun Hee kembali terngiang di benakku. Lebih tepatnya aku masih penasaran dengan kalimatnya yang belum selesai itu.

“Hae~ya, apa kau lihat Kyuhyun? Sepertinya aku tidak melihatnya dari tadi pagi setelah aku bangun tidur.” Sungmin hyung muncul secara tiba – tiba dibelakangku dan mengejutkanku. Hmmm…. Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Benar, aku harus berbicara serius dengannya. Firasatku mengatakan kalau dia mengetahui sesuatu hal.

“Gomawoo hyung, kau memang jenius.” Aku beranjak dari dudukku dan pergi meninggalkan Sungmin hyung yang masih menatapku bingung. Aku baru saja akan membuka pintu dan tiba – tiba saja Yunha sudah muncul dihadapanku, disusul dengan Minho yang menyeret Kyuhyun secara paksa.

“Yakk, wae geurae? Apa kalian sedang bertengkar?” Tanyaku bingung. Sungmin hyung langsung menyusul ke depan dan sama sepertiku, menatap mereka berdua dengan tatapan bingung.

“Hyung, katakan yang sebenarnya atau aku akan memukulmu lagi.” Minho menyeret Kyuhyun masuk dan mendorongnya di hadapanku. Baiklah ini semakin membuatku bingung. Apakah akan ada reality show dadakan disini? Tapi dimana kameranya? Aku juga tidak melihat kru – kru yang bertugas di sekitar sini.

“YAKK HYUNG, KAU TIDAK TULI KAN?” Bentakan Minho semakin keras. Member yang kebetulan ada disana pun langsung menyerbu ruang tengah. Sepertinya mereka terbangun saat mendengar keributan disini.

Kini kualihkan pandanganku dari mereka berdua ke arah Yunha. Dia terlihat cemas sambil terus memegangi tas slempangnya, meremas – remas lebih tepatnya. “Yunha~ya, apa yang sebenarnya terjadi?” Yunha terlihat diam sesaat. Dia hendak membuka mulutnya namun Minho memotongnya dengan cepat, tak membiarkan Yunha membuka mulut sedikitpun.

“Biarkan Cho Kyuhyun yang menjawabnya Park Yunha.” Potong Minho. Yunha hanya diam dan tak berkutik. Menuruti perintah Minho. Baiklah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Tidak adakah seseorang yang memberitahuku ada apa sebenarnya?

“Aku………….” Kyuhyun mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Minho masih berada di belakangnya dengan kedua tangan yang masih mengepal, seperti menahan emosi. Yunha hanya tertunduk lesu sambil terus meremas – remas tas slempangnya dan member yang lain diam. Tak ada pergerakan maupun suara.

***

Aku tidak peduli dengan kendaraan yang ramai berlalu lalang di jalanan tengah kota. Yang ada di otakku sekarang adalah Hye ri. Aku harus secepatnya sampai disana dan…………. Sial, aku benar – benar mulai gila sekarang.

Aku sudah berulang kali memukul setir dan mengacak rambutku frustasi. Aku menambah kecepatan mobilku. Aku ingin secepatnya berada disana. Berada di rumah Hye ri. Memeluknya dan mengatakan kalau aku sangat mencintainya. Aku mau menerima dia apapun keadaannya. Aku sudah tak peduli dengan semuanya. Yang aku inginkan hanyalah bersamanya. Bersama cinta pertamaku.

FLASHBACK

Kyuhyun menceritakannya secara blak – blak an pada kami semua. Oksigen yang ada di ruangan pun terasa semakin menipis dan membuat dadaku sesak seketika.

Aku hanya diam dan menatap tajam kearah matanya. Sejenak aku memang hanya bisa berdiri mematung, berusaha untuk kembali mencerna kalimat – kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun. Semuanya terlihat bersiaga di belakangku, takut kalau – kalau aku menghabisi nyawa Kyuhyun saat itu juga.

Ide itu sebenarnya sudah terlintas di benakku namun aku bisa menguasai diriku dengan baik. Aku sudah melihat bengkak di kedua pipi dan mulutnya. Aku rasa pukulan – pukulan Minho sudah bisa membayar sedikit kemarahanku. Lagipula aku sadar kalau memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah. Yang aku perlukan adalah Hye ri. Benar, aku harus berbicara dengannya sebelum terlambat. Sebelum aku akan kehilangan dia untuk selamanya.

Aku pun berlari menuju pintu namun aku berbalik dan kembali menatap kearah Kyuhyun. “Jangan terlalu dekat denganku untuk beberapa hari ini atau kalau bisa jangan terlalu sering menampakkan diri dihadapanku. Setidaknya sampai emosi dan kemarahanku padamu sedikit berkurang.” Ucapku singkat lalu pergi meninggalkan semuanya.

FLASHBACK END

“Annyeong.” Sapaku ramah pada pria berkemeja kotak – kotak yang sedang mengamati vila milik Hye ri. Beberapa orang lainnya terlihat sibuk mengeluarkan barang – barang dari dalam rumah Hye ri keluar.

“Oh, annyeong. Apa ada yang bisa saya bantu?” Jawab pria tadi sambil menatap bingung kearahku.

“Joesoahamnida ahjussi, ehm………….” Aku bingung apa yang harus aku katakan. Otakku mendadak kacau. Aku sama sekali tidak bisa berfikir secara logis sekarang. Apalagi melihat pemandangan aneh ini.

“Oh, kau teman dari putri keluarga Choi?” Tanya pria itu. Dia sepertinya tahu bahwa dari tadi aku hanya menatap cemas ke arah pekerja – pekerja yang sibuk mengeluarkan perabotan milik Hye ri.

Aku hanya mengangguk. Pasrah dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi kalau aku sampai kehilangan Hye ri lagi.

“Nona ada di Airport. Sudah dari satu jam yang lalu.”

“Mwo?? Airport? Satu jam yang lalu?” Potongku cepat. Aiiiissshhhh, sepertinya firasatku benar. Dia pasti berniat meninggalkanku lagi.

Aku buru – buru berlari menuju mobilku, dan segera melesatkannya menuju Incheon tanpa mempedulikan pria tadi yang mematung melihatku. Aiiiisssshhh, gadis ini. Tidak bisakah dia menghapus ide – ide gila yang muncul di otaknya? Apa dia fikir kabur akan menyelesaikan masalah?

Aku lagi – lagi mengabaikan kemampuan menyetirku yang pas – pas an dan mengebut di jalanan. Aku harus sampai di Incheon secepatnya. Aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Kali ini aku harus bisa menahannya.

***

Aku berlarian dari ujung ke ujung memutari terminal keberangkatan. Sudah hampir dua jam namun aku sama sekali tidak menemukan sosoknya. Aku duduk di kursi kosong, menundukkan kepalaku kebawah dan tanpa sadar air mataku menetes dari pelupuk mataku.

“Aku terlambat.” Ucapku pelan. Sangat pelan yang bahkan aku sendiri tidak akan mampu mendengarnya di tengah keramaian Incheon. Kejadian beberapa bulan yang lalu tiba – tiba terputar kembali di memori otakku. Seperti sedang me replay sebuah film dokumentasi dan aku menyadari bahwa pipiku semakin basah dengan air mataku. Demi Tuhan, aku tidak sanggup kehilangan Hye ri untuk yang kedua kalinya.

Setelah aku merasa cukup baik untuk bisa kembali ke dorm, aku memaksa melangkahkan kakiku keluar. Berjalan linglung menyusuri koridor yang menghubungkan terminal keberangkatan dengan terminal kedatangan. Padahal aku sama sekali tidak dalam penyamaran sekarang. Aku hanya memakai topi yang aku rasa tidak cukup untuk menyembunyikan identitasku.

“Ha ra~ya, jangan jauh – jauh dariku atau kau akan tersesat.” Aku mendongak, menatap gadis bergaun krem selutut dengan motif bunga – bunga yang baru saja keluar dari terminal kedatangan. Baiklah, mungkin aku sedang berhalusinasi sekarang. Kenapa sepertinya aku melihat Hye ri?

“Hye ri~ya?” Ucapku setengah tak percaya. Gadis tersebut menoleh dan sepertinya kaget melihatku ada di depannya.

Hye ri’s POV

Hari ini, kakek menyuruhku untuk menjemput seorang gadis bernama Park Hara di bandara. Dia adalah cucu dari rekan bisnisnya yang sama – sama meniti karir mereka di Inggris. Kakek bahkan menyuruhku untuk mengganti semua perabotan yang ada di Villa dengan yang baru hanya agar dia bisa betah tinggal disana. Untuk sementara, sebelum dia menemukan apartemen yang cocok untuknya.

Sebenarnya aku enggan, namun aku tidak pernah bisa menolak perintah kakek. Apapun itu. Lagipula aku akan beralasan apa supaya aku tidak menjemputnya? Patah hati karena tunanganku akan menikah dengan orang lain? Bahkan kakeku saja tidak tahu menahu mengenai hubungan kami yang berantakan.

Aku menunggu kurang lebih empat jam di bandara. Sengaja datang lebih awal karena aku rasa aku butuh penyegaran. Aku butuh oksigen yang lebih segar. Dan………. Aku butuh pengalihan. Setidaknya aku ingin me refresh otakku agar tidak selalu memikirkan Lee Donghae, Lee Donghae dan Lee Donghae.

Tidak susah menemukan sosok Park Hara di antara ratusan atau bahkan ribuan orang yang baru saja tiba di bandara Incheon. Aku sudah mengenalnya dari dulu. Dia adalah tetangga kami saat kami di Inggris dan dia lebih muda dua tahun dariku. Lima tahun lebih tidak membuatku lantas langsung melupakannya dan melupakan bentuk wajahnya.

“Hara~ya, bisakah kita langsung pulang?” Ajakku. Hara mengangguk cepat dan langsung menyeret koper merahnya keluar, mendahuluiku lebih tepatnya. Aiiissshhhh, pasti sifat ke kanak – kanakannya akan kambuh lagi.

“Hara~ya, jangan jauh – jauh atau kau akan tersesat.” Teriakku, berusaha menghentikannya yang terlalu bersemangat.

Aku baru saja melintasi pintu keluar dan tiba – tiba saja aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kenal. “Hye ri~ya?” Terdengar suara tersebut menyebut namaku. Aku pun berbalik dan tepat seperti dugaanku. Suara ini terlalu familiar di telingaku.

Lee Donghae, apa yang dia lakukan di bandara? Sepagi ini? Baiklah, aku hanya perlu menguasai diriku untuk tidak berlari ke pelukannya. Tapi sepertinya ini mustahil. Rasa rinduku terlalu mendalam, mengalahkan pertahananku.

“Eonni, waeire?” Hara mendekatiku, khawatir dengan keadaanku yang tiba – tiba hanya bisa mematung.

Tidak bisa. Aku harus segera pergi dari sini sebelum cairan bening dimataku akan diproduksi lagi. Aku pun menarik lengan Hara dan mengajaknya untuk berjalan cepat, lebih cepat dan setengah berlari karena aku tahu kalau Donghae mengejarku. Demi Tuhan, apalagi yang diinginkan namja itu?

“Hye ri~ya chakkaman? Aku ingin berbicara serius denganmu.” Donghae berhasil menggapai tanganku dan mencengkramnya kuat – kuat. Membiarkanku meronta – ronta kesakitan karena ingin lepas dari cengkramannya itu.

“Appo.” Ringisku pelan. Dia menyadari dan sedikit melonggarkan cengkramannya. Aku sebenarnya ingin memanfaatkan itu untuk melepaskan tanganku dan lari secepat mungkin namun sia – sia saja. Belum sempat aku kabur dia sudah menyeretku untuk masuk ke mobilnya, membuat Hara bingung dengan adegan yang sedang terjadi di hadapannya.

“Yakk, wae geurae? Kau ini kenapa hah?” Teriakku. Berusaha menyembunyikan raut wajahku yang semakin pucat karena gugup. Sementara Donghae hanya diam, tak menggubrisku sama sekali.

Aku menatap sekilas, dan berniat untuk membuka pintu mobil dan lagi – lagi usahaku gagal. Dia kembali mencengkram tanganku, lebih kuat dari sebelumnya dan sedetik kemudian dia meraupku ke dalam pelukannya. “Aku merindukanmu. Ternyata begini rasanya memelukmu. Begitu tenang.”

Lagi – lagi aku hanya mampu mematung. Aku sama sekali tidak bertenaga untuk melakukan perlawanan. Bukan, bukannya aku tidak bertenaga. Tapi isi hatiku yang terlalu menguasaiku, mengalahkan kinerja otakku yang ingin menepis semuanya. Aku juga merindukannya. Merindukan pelukannya yang hangat seperti ini.

“Hae~ya, jangan seperti itu. Lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari sini.” Ucapku setengah memohon, masih dengan posisi yang sama dan tanpa sedikitpun melakukan perlawanan.

Donghae masih diam, lebih mengeratkan pelukannya padaku. “Aku mencintaimu Hye ri~ya, sangat mencintaimu. Bisakah kita kembali seperti semula?” Pintanya.

“Kumohon Hae, jangan membuatku semakin sulit. Jebal.” Pertahananku benar – benar runtuh sekarang. Cairan tak berwarna itu mulai menetes, sedikit membasahi pipiku dan kaos bagian punggungnya.

Pelukannya melonggar. Kini kami saling berhadap – hadapan. Saling melempar tatapan satu sama lain. Lihat, dia begitu tampan. Lebih tampan dari sebelumnya. Bahkan dibalik air yang menggenang di kedua mataku ini dia masih terlihat mempesona.

“Mianhae, aku tidak tahu kalau posisimu sesulit itu. Kyuhyun sudah menceritakan yang sebenarnya pada kami semua tadi pagi

“Hae~ya………” Ucapanku tertahan, digantikan oleh cairan tak berwarna yang semakin banyak diproduksi. Jadi dia sudah tahu? Semuanya? Termasuk hal itu?

“Gwenchanayo.” Donghae menghapus air mataku dan sedikit menenangkanku. ” Aku akui kalau aku memang kecewa, tapi itu hanya sedikit. Lagipula aku sudah tidak peduli lagi akan hal itu. Kebutuhan untuk terus bersamamu dan ada didekatmu jauh lebih besar daripada rasa kecewaku. Asal bisa bersamamu aku rasa itu sudah cukup. Cukup untuk membuatku bisa bertahan hidup.”

Author ‘s POV

Super Junior sedang disibukkan dengan rekaman Dream Team yang diikuti oleh Leeteuk, Donghae, Eunhyuk, Yesung, Sungmin dan Shindong. Semua begitu antusias dan semakin terlihat bersemangat saat rekaman hampir selesai.

Namun sepertinya semua berakhir dengan tidak baik. Saat rekaman berlangsung ELF terpaksa mendapat kabar buruk karena beberapa idolanya harus mengalami cedera yang cukup serius. Di jam – jam terakhir sebelum rekaman berakhir Donghae dan Yesung terpaksa harus menerima perawatan yang intens akibat kecelakaan yang menimpa mereka. Yesung mengalami cedera punggung sementara Donghae mengalami cedera di kakinya.

Sebenarnya dokter menyuruh Donghae untuk istirahat sejenak dari aktivitasnya. Ini untuk membantu mempercepat pemulihan kakinya. Managernya pun sependapat dengan dokter yang menanganinya. Namun Donghae menolak. Dia masih tetap ingin melakukan performance dengan member – member lainnya. Dia bilang, dia tidak ingin mengecewakan ELF yang sudah menunggunya.

Akhirnya semua pun setuju. Donghae diperbolehkan ikut performance namun dia tidak boleh melakukan dance karena dirasa kakinya belum cukup pulih. Donghae hanya boleh ikut bernyanyi bersama mereka, tanpa ikut menari.

Donghae terpaksa menyetujuinya karena dia juga sadar bahwa kakinya tidak akan cukup mampu menopang berat tubuhnya saat dia melakukan gerakan – gerakan dalam ritme yang cukup cepat. Itu membuatnya sedikit terpukul. Semua orang tahu bahwa hobinya sejak kecil adalah dance. Dan kejadian ini membuatnya tidak bisa melakukan hal yang paling ia sukai.

Hampir setiap hari Hye ri berkunjung ke Dorm untuk menemani kekasihnya tersebut. Hye ri tahu kalau Donghae sedang butuh perhatian yang khusus saat ini. Jadi, dia selalu datang ke Dorm saat pulang dari kampus ataupun hari libur.

Hubungan Hye ri dan Donghae sudah kembali membaik sejak dua bulan silam. Mereka sadar bahwa mereka saling meencintai satu sama lain. Kalian pasti bisa membayangkan bagaimana keadaan Donghae setelahnya? Dia lebih bersemangat dan mendadak kekesalannya terhadap Kyuhyun mereda. Hal ini membuat member yang lain lebih tenang. Setidaknya tidak akan ada perang dingin di grup mereka.

***

Ini sudah minggu ketiga dan keadaan Donghae sudah sedikit membaik. Dia sudah mulai melatih kembali kakinya untuk menari namun masih dalam ritme yang lambat. Setidaknya kakinya mulai berfungsi seperti sedia kala.

“Hae~ya, sudah – sudah. Istirahatkan kakimu sejenak.“ Teriak Hye ri. Hye ri sedikit khawatir karena sudah dua jam ini Donghae masih saja berlatih gerakan – gerakan dance di album terbaru mereka. Padahal dia sengaja mengajak Donghae ke Jeju untuk membuatnya lebih rileks dan sedikit bersantai dari jadwal keartisannya, bukannya untuk berlatih dance seperti ini.

“Yakk ikan Mokpo. Kau mendengarkanku tidak? Kita hanya punya liburan dua hari disini jadi kau harus memanfaatkannya untuk istirahat, babo.“ Teriaknya lagi. Kini lebih keras karena Donghae masih saja sibuk dengan ritme – ritme di album Mr. Simple nya.

“Arra arra.“ Ucap Donghae terpaksa. Dia berjalan maju dan mematikan video playernya. “Kau semakin cerewet saja Jaggi.“ Tambahnya lagi. Dia menyusul Hye ri di balkon dan duduk disampingnya. Hye ri hanya membalasnya dengan senyuman tanpa menoleh ke arah Donghae yang sudah ada di dekatnya, menggamit pinggangnya mesra.

“Kau suka sekali pantai ya?“ Donghae mulai membuka pembicaraan.

Hye ri mengangguk sembari terus memanjakan matanya dengan keindahan pantai yang bisa ia nikmati secara gratis dari balkon kamarnya. Maklum, dia juga sepertinya butuh ketenangan dari hiruk – pikuk kehidupan ibu kota yang membuatnya sedikit lelah.

“Aiiiisssshhhh, jaggi~ya. Jangan menatap pantai itu terus?“ Donghae mulai merajuk. Kedua mulutnya sedikit maju kedepan dan kedua tangannya ia silangkan di dadanya.

“Hahahahahahahahahha.“ Hye ri mulai tertawa, membuat Donghae semakin memajukan mulutnya. “Kau cemburu Hae? Dengan pantai ini?“ Lanjutnya.

“Ne, aku cemburu. Jadi jangan tatap pantai itu lagi dengan tatapan kagum seperti itu. Apa aku tidak membuatmu terkagum – kagum eh?“ Donghae mengencangkan pelukannya. Ia memegang dagu milik Hye ri dan memutarnya, membuat tatapan mereka saling bertemu.

Donghae mulai mendekatnya wajahnya, membuat jantung Hye ri berdetak lebih kencang dari biasanya. “Ehm…. Hae~ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu.“ Ucap Hye ri gugup. Ia mulai menjauhkan wajahnya dari Donghae dan sedikit melonggarkan pelukannya.

Donghae tersenyum tipis. Sepertinya usahanya untuk sedikit mengerjai kekasihya berhasil. Dia berhasil membuat seorang Choi Hye ri gugup sampai seperti itu. “Kau ingin bertanya apa Jaggi?“

“Saat itu. Saat kakekku tiba – tiba datang kesini. Kenapa tiba – tiba ada pertunangan antara kau dan aku? Dan kenapa kau langsung mengatakan iya? Apakah tidak ada gadis yang sedang kau sukai? Kita belum pernah bertemu sebelumnya, jadi aku rasa ini sedikit aneh.“

Donghae terdiam, menerawang lebih tepatnya. Ternyata gadis yang sedang duduk di sampingnya ini memang sudah lupa.

“Kau benar – benar tidak mengingatku Jaggi?“ Tanyanya.

“Aiiissshhh, kau ini. Aku ini sedang bertanya padamu. Kenapa kau malah balik bertanya padaku?“

“Apa kau tahu kenapa aku suka sekali dance?“ Donghae kembali bertanya. Tanpa menghiraukan Hye ri yang sedang jengkel padanya.

“Mollayo. Karena mendiang ayahmu mungkin? Aiiisssshhhh, yaakkk kenapa malah bermain teka – teki padaku? Sekarang jawab pertanyaanku. Ini membuatku penasaran, babo.“ Hye ri mendongak dan menatap ke arah Donghae.

Donghae membenarkan posisi duduknya, melingkarkan tangannya kembali di pinggang kekasihnya. Donghae mulai mengambil nafas sejenak, sebelum akhirnya membuka mulutnya. “Lima belas tahun silam. Aku sudah terpikat pada sosok gadis yang lemah lembut, penyayang dan pemalu. Senyumnya sangat indah. Benar – benar indah dimataku.“

Hye ri menrenyitkan keningnya. “Apakah dia secantik itu?“ Tanyanya. Seperti sedang cemburu.

“Hmm, dia sangat cantik. Bahkan sampai detik ini pun dia masih yang tercantik di penglihatanku.“ Hye ri mengangguk tak peduli. Donghae tersenyum karena dia sadar bahwa gadisnya sedang cemburu sekarang.

“Hari itu kakiku sedang terkilir setelah aku menunjukan dance terbaruku pada teman – teman di depan rumahku. Aku menangis dan gadis itu menolongku. Membantuku untuk berjalan ke dalam rumah dan dia merawatku saat tak ada seorangpun disana, kecuali aku dan dia. Dia tersenyum begitu Disitulah sepertinya aku mulai sadar kalau aku sudah jatuh cinta padanya.“ Donghae terdiam sejenak. Kembali menerawang kejadian silam yang masih tersimpan begitu rapi di otaknya.

“Tarianmu bagus sekali. Aku suka melihatmu menari. Kau terlihat berbeda saat menari seperti tadi.“ Lanjutnya. Hye ri ikut terdiam. Gambaran – gambaran masa lalunya tiba – tiba muncul dan bersliweran di otaknya.

“Karena ucapan gadis itu lah aku suka sekali dengan dance. Aku ingin dia selalu melihat kagum ke arahku dengan gerakan dance – dance ku. Aku ingin dia juga jatuh hati padaku melalui gerakan dance – dance ku. Aku ingin dia hanya akan melihat kearahku.“

“Hae~ya, sepertinya……… Aku…….“ Potongnya. Hye ri sepertinya mulai sedikit mengingat sepenggal kisah masa lalunya.

“Ya. Gadis itu Choi Hye ri. Choi Hye ri yang menjadi tunanganku, calon istrik, calon ibu dari anak – anakku kelak dan Choi Hye ri yang sekarang sedang duduk disampingku.“

END

5 thoughts on “No Other Part 9 – End”

  1. duuuhhhh thor,asli aq lupa bgt sm ff ini karena saking lamanya ga nongol-nongol. setelah berusaha keras mengingat sambil ditemenin Kyuhyun,hehehe…akhirnya aq ingat juga tp blm aq baca ya,ga sabar mau komen dan ngeluarin uneg-uneg dulu😀
    pasti aq baca krn aku dah.terlanjur cinta hahahha

    1. wkwkwkwkwkwkkw….. jeongmal mianhae….
      baru sadar klo ternyata ni FF udah terbengkalai sejak jaman baabullah…..
      okkeeee happy reading yaaakkk……
      p.s. : gak tanggung jawab kalo hasilnya mengecewakan😛

  2. yeeeeeeee!!!!!!!!!!!
    akhirnya lanjut jugaaaaaaaaa!!!!!!!!
    wehh g nyangka ternyata ad kejadian sperti itu wkt kyu ma hyeri…
    happy ending bwt hae ma hyeri….
    tp kasian kyu-nya…
    ayooo epilog!!!!!!!!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s