Stay With One Love (Part 2)

Yes-YulTITLE             : Stay With One Love part II (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Siwon Super Junior, Yoona SNSD, Victoria f(x)

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, mix, temukan sendiri!!!!!

LENGHT        : Series

 

Halo. Ini author bawain part selanjutnya. Gak usah banyak cingcong. Langsung aja cek it dott…mian kalo alurnya aku ubah…#bow

Bagi yang belum baca ini part satunya….tringgg…..

 

https://obizienka.wordpress.com/2012/07/05/stay-with-one-love-part-1-forever-love-w-you-sequel-freelance/

 

Makasih banget yang ngasih comment kemarin. Aku harap comment di part ini jauh lebih banyak. Silahkan membaca gratis……..

 

###############################

 

YURI POV

 

Ku telusuri lorong rumah sakit tempatku bekerja sekarang ini. Ku langkahkan kakiku begitu cepat karena jam menunjukkan pukul 09.00 KST, seharusnya aku sudah tiba sekitar 30 menit yanglalu. Ini semua karena Jong Woon yang telat bangun, aku jadi ikut – ikutan telat. Aku segera masuk ruanganku dan mengganti pakaianku dengan seragam perawat dirumah sakit ini.

Kuketuk pelan – pelan pintu ruanganorang yang menjadi rekan kerja sekaligus atasanku selama sebulan ini. Aku mencoba menjadi orang yang professional dan melupakan masalahku dengan Siwon dalam hal lain selain pekerjaan. Aku bersikap seolah – olah tidak terjadi apa – apa diantara kami.

“Annyeong Siwon – sshi. Mianhe.. aku terlambat bekerja.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

“kenapa kau bisa terlambat hari ini?.” Tanyanya tanpa melihatku dan masih sibuk dengan laporannya.

“ada masalah mendadak tadi. Jadi aku sedikit terlambat.” Bohongku.

“gwenchana, untuk hari kau ku maafkan tapi untuk lain kali jangan harap mendapat maaf dari ku!.” Ucapnya menatapku tajam.

“ne. Kamshamida Siwon – sshi.”

“cepat carikan aku laporan yang kemarin dan kau kerjakan!.Aku minta laporan  pasienku hari ini juga selesai.” Perintahnya dengan nada sedikit meninggi.

 

***************

 

Sudah 3 jam lebih aku berkutat dengan laporan yang diberikan oleh Siwon . Tak terasa sudah jam makan siang. Perutku berbunyi menandakan bahwa butuh asupan energi. Aku beranjak dari pekerjaanku dan menuju kantin sejenak. Baru berjalan beberapa langkah ponselku bergetar.

Drtt….drttt…..drtt….

“Yeoboseo. . Wae kau menelponku?. . tapi pekerjaanku belum selesai. .Jong Woon!. . ne, baiklah.”

Jong Woon!!!!!!!!!!, geramku. Jong Woon seenaknya meneleponku begitu saja. Dia tidak tahu apa aku hari ini sedang sibuk total, ditambah lagi dia mengajakku makan siang di luar rumah sakit dan sekarang dia sudah menungguku didepan rumah sakit.

Kulihat mobil Jong Woon memang sudah terparkir dan menunggu didepan rumah sakit. Ia bersender pada pintu mobil sambil menyilangkan tangannya. Aku pun berjalan menghampirinya dan segera memasuki mobil.

“kajja, kita makan siang. Aku tahu kau sudah lapar karena kita berdua tidak sarapan tadi pagi.”

Aku hanya bisa mengikuti Jong Woon yang mengajakku makan siang. Seperti biasa ia mengajakku makan siang ditempat favoritnya.

 

@ RESTAURANT

“apa kau sibuk hari ini?.” Tanya Jong Woon sambil menyupitkan daging pada mangkoknya.

“ne, wae kau mengajakku makan siang?. Apa pasienmu tidak sedang menunggumu?.” Tanyaku balik.

“karena hari ini aku tak sibuk jadi aku ingin mengajak istriku tercinta makan siang diluar.”

“gurae?.” Selidikku.

Ia hanya mengangguk pelan. Itu berarti menandakan bahwa hari ini ia sedang mempunyai waktukosong yang banyak. Sambil sesekali ia mengambil daging yang ada dimangkokku. Kutatap tajam dia, seolah – olah ia tak melihatku dan memandang pemandangan yang ada disekitar.

“wae?.” Tanyanya kembali.

“mungkin laporanku akan selesai nanti  malam dan kemungkinan besar aku lembur untuk hari ini. Jadi kau jemput Jae Woon dan Nam Young nanti setelah kau pulang kerja dan jangan lupa, mereka berdua harus minum susu sebelum mereka tidur.”

“ne, aku tahu dan jangan lupa juga sebelum mereka tidur peluklah mereka dulu.” Tebak Jong Woon yang masih melanjutkan acara makannya.

Aku pun hanya mengangguk pelan. Ponselku bergetar kembali menandakan suatu panggilan masuk. Kulihat dilayar ponselku ternyata Siwon – sshi yang menelpon. Omo, apa jadinya jika Jong Woon tahu jika Siwon menelponku. Ku beranikan diriku untuk mengangkat telepon dari Siwon meskipun aku tahu raut muka Jong Woon pasti akan berubah setelah ia tahu bahwa yang menelpon ku adalah mantan kekasihku sendiri.

Drrtt…..drrtt…….

“yeoboseo. . Ne . . Aku akan segera menyelesaikannya dan hari ini akan ku serahkan pada anda. .”

“pasti Siwon ya?.” Tebak Jong Woon.

“euhmm. Ne, ia memintaku menyerahkan laporan pasien hari ini juga.” Ucapku pelan agar tak membuat Jong Woon marah lagi.

Kulihat Jong Woon masih berkonsentrasi dengan makanannya. Ia hanya tersenyum dengan jawabanku.

“jangan memasang muka seperti itu. Kau pikir aku cemburu dengan hubungan antara kau dan Siwon – sshi?. Sudahlah, kejadian malam itu kita lupakan saja. Anggap saja itu kerikil yang menambah kekuatan cinta kita.”

“Oppa.. Kau tidak mencemburuiku?” tanyaku pelan – pelan.

“atas dasar alasan apa aku mencemburuimu?. Kau kan asistennya jadi sudah sewajibnya kau membantu menyelesaikan tugasnya. Cepat selesaikan makanmu katanya kau ada tugas yang menunggu.” Ucapnya enteng tanpa beban.

 

***************

 

AUTHOR POV

 

Mobil audy hitam itu kini berhenti tepat didepan rumah sakit. Jong Woon pun langsung membukakan pintu untuk Yuri.

“Gomawo oppa.”

Yuri segera keluar dan melenggangkan kakinya menuju tempat kerjanya semula. Tapi sebuah pergelangan tangan mengulur dan berhasil membalikkan tubuhnya. Sebuah kecupan lembut menyentuh bibirnya.

“fighting for my lovely wife.” Tangannya mengepal sambil menyeringai jahil memandang Yuri.

Yuri terpaku menatap Jong Woon dan hanya bisa mengangguk kaku melihat kelakuan Jong Woon itu. Ini GILA. Jong Woon menciumnya didepan umum. Yuri siap memakinya saat ini juga. Tapi dia berusaha meredam amarahnya karena efeknya akan mengurangi tenaganya untuk bekerja dan ditambah lagi ini ditempat umum.

“baiklah, aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku nyonya Kim.” Ucap Jong Woon memasuki mobil dan menjalankan mobilnya menjauh dari Yuri.

 

***************

 

Yuri kembali melanjutkan pekerjaanya, dilihatnya wajah beberapa suster yang ada diruangan melihatnya dengan tanda tanya. Yuri segera berjalan menuju meja kerjanya dan mendapati sebuket bunga mawar putih beserta sekaleng cola. Dipikirannya hanya terpikir sejak kapan Jong Woon sempat menaruh bunga dan minuman kesukaannya itu.

“Kau ini sulit ditebak pikiranmu. Gomawo oppa.” Gumamnya lirih sambil tersenyum sendiri melihat dua benda itu.

“Yuri – sshi. Apa tadi kau pergi dengan seseorang?.” tanya seorang suster yang memecah lamunannya.

“euhmm. . . ne. Waeyo?”

“apakau mengenal salah seorang dokter dari Seoul Hospital itu?. Dan apa kau menjalin hubungan dengannya?.” Selidik suster yang menjadi senior dua tahun lebih tua darinya.

“mengapa tiba – tiba anda bertanya seperti itu?.” Tanyaku balik.

“sepertinya kau baru saja menjalin hubungan khusus dengan Kim Jong Woon, salah satu dokter termuda di Seoul hospital itu. Aku melihat cara dia memperlakukanmu tadi saat kau keluar dari mobilnya. Apa kau sudah menjadi kekasihnya?.

“anda melihatku turun dari mobilnya?.”

“ne. Apa kau menjalin hubungan serius dengannya?. Seperti kekasih begitu?.” Selidiknya.

“euumm. Hubunganku dengan dia bahkan lebih dari seorang kekasih. Dan darimana anda mengetahui  namja itu adalah Kim Jong Woon.?”

“Ibuku adalah salah satu pasiennya, jadi aku sering bertemu dengannya jika ibuku sedang check up kesehatan. Maksudmu hubungan lebih dari seorang kekasih?. Jangan – jangan…..”

“ne, aku istri dari dokter termuda di Seoul Hospital itu ‘Kim Jong Woon’.” Ucapnya jujur.

“mwo??.” Seketika itu mata suster Lee langsung membulat sempurna mendengar perkataaan Yuri. Seolah tak percaya dengan apa yang Yuri katakan.

“jjj…adi, kau adalah istri dokter Kim. Sejak kapan kau menikah dengannya?.” Masih dengan raut muka kagetnya.

“lebih dari dua tahun lalu.” Jawab Yuri sembari melanjutkan pekerjaannya tadi.

“dan apa kau juga sudah memiliki seorang…?.” pertanyaan Suster Lee terputus ketika Yuri memotongnya.

“ne, aku juga sudah memiliki dua orang anak seorang namja dan seorang yeoja yang usianya 1 tahun. Kim Jae Woon dan Kim Nam Young, mereka adalah anakku dan Kim Jong Woon. Aku masih banyak pekerjaan Suster Lee. Mianhada tidak bisa menemanimu bicara.”

Seketika itu wajah tidak percaya dengan ucapan Yuri bersarang diwajah Suster Lee. Suster Lee masih berdiri ditempatnya, ia berusaha mencerna kata – kata dari Yuri barusan.

 

***************

 

JONG WOON POV

 

Jam menunjukkan pukul 9 malam, tidak biasanya Yuri lembur melebihi jam setengah 9. Ditambah lagi Jae Woon dan Nam Young belum tidur. Aku dibuat pusing oleh mereka berdua karena kesana kemari  merangkak tak tentu. Apa laporan yang dikerjakannya belum selesai?. Tanyaku dalam hati. Segera kuraih ponsel dan menghubunginya.

“yeoboseo. Chagiya kau minta jemput jam berapa?.”

“mianhae, oppa. Aku hari ini kemungkinan tidak pulang karena semua laporan pasien yang kukerjakan belum selesai.”

“tapi Jae Woon dan Nam Young belum mau tidur. Mereka merindukanmu, apa tidak bisa bila pekerjaanmu ditinggal sebentar?.”

“Mianhae oppa. Jeongmal mianhae. Tapi aku tidak bisa. Aku janji, setelah pekerjaanku selesai aku mendapat libur 2 hari.”

“Chagiya…..”

“bisakah ponselmu kau loudspeaker kan. Aku ingin berbicara dengan mereka berdua.” Perintah Yuri.

Aku pun segera me – loudspeakernya dihadapan mereka. Dan dengan antusiasnya mereka berdua menghampirinya.

“Jae Woon – ah, Nam Young – ah. Kalian jangan susahkan appa ya, Umma tahu jika kalian itu anak yang baik. Umma minta maaf jika umma tidak bisa pulang malam ini. Nah, sekarang kalian tidur, Umma janji besok kita akan jalan – jalan. Good night chagi, bersenang – senanglah dengan appa malam ini.”

“gomawo chagiya, kau sudah menjadi umma yang baik untuk mereka.”

“have a nice dreams oppa.” Ucap Yuri mengakhiri pembicaraan.

Klik…

Aku mematikan ponselku. Kulirik mereka berdua, seakan dikomando Yuri untuk tidur mereka mulai mengucek – ngucekkan matanya serta sesekali menguap tanda – tanda bayi akan tertidur.

“apa kalian sudah mulai mengantuk?.”

Mereka menguap lagi dan itu membuatku gemas sendiri. Segera kugendong mereka berdua dan kutidurkan diatas ranjang. Seperti biasa, sebelum tidur mereka selalu harus dipeluk.

Beberapa menit kemudian mereka tertidur pulas. Kulihat wajah polos khas bayi begitu lucu. Kucium dahi mereka masing – masing dan tak lupa mengucapkan selamat malam.

“Gomawo Kim Yuri, kau sudah memberikan mereka berdua dan menjadi umma yang baik bagi mereka. Saranghae…..”Gumamku dan langsung tertidur disebelah mereka.

 

***************

 

Keesokan harinya…..

 

YURI POV

 

Aku menyerahkan semua laporan pasien yang kukerjakan semalaman hingga tak tidur. Kutaruh dan kususun serapi mungkin diatas meja Siwon sebelum ia datang.

Ckrekkk…….

“Annenyeong Siwon – sshi. Semuanya sudah selesai. Apa sekarang aku boleh pulang?.” Tanyaku pelan – pelan.

“kau kelihatannya lelah pulanglah,yang penting semuanya sudah beres kan?.”

“tentu saja. Kalau begitu aku pulang dulu. Annyeong…”

“Yuri –sshi.” Panggilnya.

“ya, apa ada yang kurang dengan laporanku?.”

“apa kau sudah…”

“ne. Sudah apa Siwon –sshi?.”

“aniyo. Lupakan saja.”

Huh..akhirnya selesai juga. Kenapa Siwon jadi bertingkah aneh seperti itu?. Ya sudahlah aku tak mau memikirkannya. Jae Woon, Nam Young umma rindu pada kalian. Apa kalian tidur nyenyak tadi malam bersama appa?. Kuraih ponsel dan segera menghubungi Jong Woon dimana ia menitipkan mereka berdua.

 

12.00 KST @ BOUTIQUE

 

Aku berjalan memasuki boutique karena Jong Woon oppa memberitahuku kalau hari ini mereka tidak dititipkan pada Taeyeon eonni tapi umma menjemput mereka berdua tadi pagi. Umma bilang jika ingin bertemu dengan mereka berdua.

Aku tak sengaja menabrak seorang yeoja yang baru saja keluar dari boutique eomma. Kulihat sekilas dia adalah Im Yoona. Ya Tuhan ternyata Yoona. Yoona  yeoja yang Siwon benci dan sekarang berdiri dihadapanku. Apa yang harus kukatakan tentang kejadian waktu itu.

“agasshi..jeongmal mianhae..aku tak sengaja menjatuhkannya.”

“Yoona – sshi…” ucapku terbata karena yeoja yaang didepanku adalah Im Yoona.

“Kau mengetahui namaku?.” Tanya Yoona menatapku heran.

“Siwon – sshi yang menceritakan tentangmu kepadaku, karena aku yang menabrakmu bolehkah kita bicara sebentar sambil makan di cafe seberang sebagai permintaan  maaf ku padamu.” Tawarku.

“baiklah.” Ia tersenyum menyetujuinya.

 

@ CAFE

 

“mianhae, aku minta  maaf atas kejadian malam itu.” Ucapku memecah keheningan.

“gwenchana. Memang itulah sikap Siwon kepadaku sejak pertama kali menikah dengannya, kalau boleh tahu ada apa antara kau dengan Siwon?…euhmm, mianhae mengganngu privasimu.”

“Siwon – sshi adalah sunbaeku sewaktu SMA. Sekaligus cinta pertamaku waktu itu. Aku dan Siwon sempat menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Sejak itu aku menganggap Siwon adalah cinta pertamaku yang tak akan pernah kulupakan. Saat itu Siwon berjanji untuk menonton pertunjukkan Violinku. Tapi  dia meninggalkanku begitu saja dan pergi ke Paris, ia hanya meninggalkan sebuket bunga mawar putih sebagai hadiah atas keberhasilan pertunjukkan violinku dan sepucuk surat bahwa aku harus melepas dan melupakannya. Mulai  saat itu aku menganggap hubunganku dan Siwon berakhir cukup sampai disana.”

Tak terasa air mataku jatuh lagi, tapi aku segera mengusapnya. Aku mengingat kejadian 6 tahun lalu saat Siwon meninggalkanku dan aku menyusulnya hingga ke Bandara. Ia mengakhiri begitu saja hubungan diantara kita.

“mianhae, aku merebut Siwon darimu.” Sesal Yoona sambil menundukkan kepalanya. Yoona pun tak kalah menangis.

“hey, kau jangan bicara seperti itu!. Aku dan Siwon memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh, kau tak perlu takut aku akan akan mengambilnya. Siwon adalah masa laluku, dan sekarang aku sudah bahagia bersama orang yang  mencintaiku. Yoona – sshi, suatu saat Siwon akan mencintaimu. Dia hanya belum melihat ketulusan dirimu yang sesungguhnya. ”

“tapi Siwon membenciku, dia mencintaimu. Selamanya dia tidak bisa melupakanmu!.” Tegas Yoona.

Sebuah panggilan masuk menyadarkanku dari pembicarran dengan Yoona. Yoona mencoba untuk tidak menangis tapi apa daya Yoona pun tak kuasa mengeluarkan airmatanya itu.

“yeoboseo Umma . .Ne, aku akan segera kesana.”

Beberapa menit kemudian……..

“Aku pamit dulu. Ada tiga orang yang menungguku diboutique sana. Bersabarlah karena Siwon pasti akan mencintaimu. Annenyeong….” pamitku pada Yoona.

Kutinggalkan Yoona sendiri didalam cafe. Dia masih ingin mencari ketenangan agar ia tak bertemu Siwon lagi. Aku berjalan menuju boutique, dan ternyata Eomma sudah menungguku didepan boutique dengan kereta bayi yang berisi mereka berdua. Eomma mengajakku naik mobil menuju kerumahnya katanya ada hal yang harus dibicarakan penting antara appa denganku. Aku hanya bisa menurut  dan mengikutinya saja. Sekalian aku ingin bertemu dengan Appa karena sudah kangen dengannya.

 

********************

 

@ RUMAH KELUARGA KWON

 

Aku berjalan memasuki rumah yang dikategorikan super mewah ini. Aku tak heran jika orang tua kandung ku sanggup membeli rumah sebagus ini. Bisa dibilang Appa adalah seorang pengusaha yang sukses dikorea karena jaringan hotel yang didirikannya sudah menyebar dibanyak negara asia timur. Appa duduk di sofa ruang tamu dan membaca koran. Aku langsung menghampirinya serta memeluknya, karena hampir seminggu lebih aku tak bertemu dengannya.

“Yuri – ya, ada yang akan appa bicarakan sesuatu yang penting denganmu.” Ucapnya tegas sambil melipat korannya.

“wae, appa ingin tiba – tiba ingin bicara penting denganku, aku tak ada masalah dengan Jong Woon oppa. Kenapa appa tiba – tiba memanggilku?.”

“ini bukan masalah antara kau dan Jong Woon, tapi masalah siapa penerus perusahaan hotel Appa.”

Mwo?. Penerus Perusahaan?. Apa hubungannya denganku. Aku berpikir sejenak tentang apa yang dikatakan oleh Appa.

“maksud Appa?.” Tanyaku masih bingung.

“kau tahu, kau adalah satu – satunya putri Appa yang menghilang selama ini. Appa pada waktu itu sudah berkata pada adik tiri Appa, jika Appa tidak menemukanmu, maka semua aset milik Appa setelah meninggal akan jatuh ke tangan adik Appa. Appa tak mau itu terjadi, kaulah pewaris tunggal semua aset milik Appa bukan dia. ”

“j..ja..di, maksud Appa aku adalah penerus tunggal Kwon Hotel’s Coorperation Group?.” Tanyaku mencoba menerka isi pikiran Appa.

“ne.. Kau mau kan menjadi penerus Appa?. Appa tahu jika kau bukan lulusan dari ekonomi dan keuangan, tapi setidaknya usiamu masih muda dan masih bisa belajar lagi. Appa mohon jadilah penerus Kwon Hotel’s Coorperation Group?.”

“lalu bagaimana dengan pekerjaanku appa?.”

“appa beri waktu kamu dua hari untuk keluar dari rumah sakit itu!. Kau belum bekerja cukup lama, jadi mudah untuk mengundurkan diri. Kau harapan satu – satunya Appa, tolong jangan kecewakan Appa.” Wajah Appa semakin memelas, memohon padaku agar aku keluar dari rumah sakit itu dan menjadi penerus perusahaannya.

 

********************

 

Klik..klik..

Aku menekan pasword yang ada diapartemenku dan secara otomatis pintu apartemen pun terbuka. Kulihat jam ternyata menunjukkan pukul 4 sore. Aku segera mendorong kereta mereka berdua dan menuju kamar. Ku dudukkan mereka berdua diatas ranjang dan membuka pakaian mereka berdua.

“waktunya mandi!. Miahae chagi umma tidak menemani kalian tidur tadi malam.”

Aku segera menyiapkan keperluan mandi mereka berdua. Pikiranku tertuju pada perkataan appa tadi. Aku bingung harus memutuskanuntuk memilih antara pekerjaanku atau kelanjutan nasib perusahaan keluargaku.

Aku tersadar dari lamunanku karena sebuah cipratan air yang mendarat dimukaku diikuti oleh sebuah suara.

“kiss…seu.”. ucap Nam Young menyadarkan dari lamunanku.

Mwo?. Kisseu. Sejak kapan bayi usia satu tahun mengenal kata – kata kisseu?. Ini semua pasti gara – gara Jong Woon oppa yang selalu menciumku dihadapan mereka berdua.

“ini pasti gara – gara appamu itu.” Gerutuku.

 

Beberapa saat kemudian…………….

 

“nah, sudah bersih dan wangi. Ini untuk kalian.” Aku menyodorkan dua buah dot yang berisi penuh susu dan mereka berdua pun menerimanya dengan senang hati.

“Mungkin aku akan mencobanya terlebih dahulu.” Gumamku pelan.

Aku berjalan untuk mengambil laptop dan mengetik sebuah tulisan. Setidaknya aku harus mencobanya terlebih dahulu. Mungkin benar perkataan appa aku harus mengelola perusahaannya. Aku akan belajar semua tentang hal – hal keuangan. Aku tak mau membuat appa kecewa denganku. Aku harus menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Selama 20 tahun mereka disimpang siurkan oleh berita tentang kematianku saat hilang dalam kecelakaan waktu itu. Tapi disisi lain hatiku mengatakan bahwa aku juga tak mau mengecewakan Umma Kang Rae Young  yang merawatku selama ini, ia ingin melihatku menjadi seorang suster sebelum ia meninggal. Tuhan apa ang harus kulakukan sekarang aku bingung dengan pilihan yang diberikan oleh kedua orang tuaku.

Aku pun mengakhiri tulisan itu dengan menutup laptop. Aku lelah dengan hari ini. Aku ingin tidur sebentar sebelum oppa pulang. Badanku sakit semua karena tadi malam aku tidak tidur sama sekali dan terus menulis.

“kalian berdua jangan kemana – mana ya. Umma tidur sebentar chagi. Umma lelah hari ini. Dan ini mainan untuk kalian.” Pesanku sambil menyerahkan mainan kesukaan mereka berdua. Mereka berdua pun mengangguk menandakan bahwa mereka mengerti.

 

 

********************

 

JONG WOON POV

 

Kulangkahkan kakiku memasuki apartemen. Kulihat susasana apartemen begitu sepi. Sepertinya Yuri belum pulang. Tapi Yuri bilang jika hari ini ia pulang siang. Aku pun berjalan memasuki kamar dan kudengar sayup – sayup suara balita tertawa. Kubuka pintu kamar dan mendapati mereka berdua tengah asyik bermain dengan mainannya. Dan kulihat lagi seorang Yeoja yang kucintai tidur diantaranya.

Aku pun segera menghampiri mereka serta menggendong mereka berdua. Tak lupa memberi kecupan dipipi mereka berdua.

“apa Umma kalian lelah hingga ia tertidur jam segini?.” Tanyaku pada mereka berdua.

“Um..ma.” Suara Jae Woon seolah menjawab pertanyaanku.

“Ap..pa.” Suara Nam Young juga tak kalah menjawabnya.

“kalian berdua diamlah, Appa akan membangunkan Umma..Arraseo.” ucapku menurunkan mereka berdua didalam box-nya dan menaruh jari telunjukku didepan bibir.

Aku pun segera merebahkan diriku dikasur dan memandang sekilas wajahnya. Cantik, gumamku pelan. Kudekap dirinya dan mengecup dahinya lembut, ia menggeliat pelan. Aku tertawa kecil saat ia mengeliat pelan. Secara tak sadar ia membalas pelukanku. Perlahan – lahan kucium bibirnya dan melumatnya lembut serta merasakannya. 1 menit, 2 menit, 3 menit ia masih belum bangun juga, kupeluk semakin erat tubuhnya. Kulepaskan ciumanku dan ia pun mengerang pelan. Kulihat dia mulai membuka matanya. Tapi kemudian langsung ditutup kembali. Aku tersenyum geli melihatnya merasa jika Yuri sudah terbangun dan pura tidur kembali. Dengan gemas kulumat bibir merah mudanya itu. Hingga sebuah suara mengagetkan acaraku (?) dengan Yuri, dan Yuri yang kaget pun langsung mendorongku untuk melepas ciuman kami.

“kis…sseu….” suara Jae Woon mengagetkan Yuri yang masih terbuai oleh sensasi ciumanku. Yuri pun segera memelototkan matanya dan mendorongku hingga ciuman kami terlepas.

“kau ini sudah kubilang jangan melakukan itu dihadapan mereka berdua!.” Gerutu Yuri.

“tapi kau suka kan chagi?.” Gumamku sambil mengangkat satu alisku sambil mengeluarkan smirk.

“isshh….kau  ini. Kau mau makan tidak malam ini?. Jebal, lepaskan tanganmu yang memelukku ini.”

“tapi ada satu syarat jika kau ingin aku lepaskan.” Aku mengetuk – ngetukkan bibirku menghadapnya dan masih memeluknya.

“Mwo?. Shirreo.. kau sudah mengambilnya tadi dan sekarang masih mau lagi?. Lihatlah mereka akibat sifatmu itu mereka bisa berkata seperti itu.”

Aku masih menggeleng – gelengkan kepala dan masih mengetuk – ngetukkan bibirku.

“Oppa – ya aku tidak mau kelaparan untuk malam ini yeobo.” Ucapnya sambil memasang aegyo dan puppy eyes-nya.”

“tidak.Sekali tidak tetap tidak. Sebelum kau melakukannya.”

“Yak. Kau ini. Lihatlah mereka melihat kita. Baiklah kalau tidak mau kau harus terima hukuman dariku. Bersiap – siaplah Kim Jong Woon.

 

********************

 

YURI POV

 

Aku  menggelitiki badan Jong Woon, karena ia masih tetap tak mau melepas pelukannya. Ia merasa kegelian dan masih juga memelukku. Aku menambah tempo gelitikan hingga ia benar – benar melepaskanku. Aku menarik tangannya agar ia tidak terjatuh dari ranjang. Dan kini aku berada diatasnya akibat aku menarik tangannya. Cups…aku mengecup bibirnya singkat serta meletakkan kepalaku tepat di dada kirinya.

“sudah kulakukan seperti keinginanmu.. sekarang lepaskan aku dan segera mandilah. Aku tak suka kemeja yang kau pakai berbau obat seperti ini.”

“ne, aku tahu. Tapi bukakan dulu pakaianku. Baru setelah itu aku mau mandi.” Ucapnya manja.

“DASAR PERVERT …….NAMJA MESUMMMM……..” teriakku keluar dari kamar.

 

********************

 

Aku kini tengah berkutat didapur seperti orang – orang biasanya menyiapkan makanan untuk  suamiku dan ditemani oleh kedua malaikat kecilku yang sedang duduk diatas meja berkonsentrasi dengan mainannya masing – masing. Aku memikirkan matang – matang tawaran appa. Tiba – tiba ponselku bergetar menandakan sebuah pesan pendek masuk.

 

From : Siwon Choi

Kau suka dengan bunga mawar putih dan

Sekaleng Cola itu.

Aku selalu mengingatnya!!

 

Siwon!. Siwon mengirimiku pesan pendek. Apa maksudnya ini? Mawar putih, cola. Aku coba mengingat – ingat kedua benda itu. Jadi itu bukan pemberian Jong Woon melainkan Siwon. Hatiku mencelos sesaat mengetahui jika Siwon yang memberikan benda itu padaku.

 

FLASHBACK

 

Spring, May 25 2006

“Yuri –sshi. Apakah kau pulang sendirian hari ini.”

“Euhmm..aku pulang sendirian, tapi aku harus pergi ke toko buku dulu. Ada buku yang harus ku beli.”

“bolehkah aku ikut denganmu dan pulang bersama. Gwenchana, jika kau tidak mau pulang bersamaku aku pulang duluan. Anneyeong.” Ucap Siwon malu – malu yang  salah tingkah.

Baru beberapa langkah kemudian aku memanggil Siwon kembali.

“Siwon – sshi. Apa aku berkata kalau kau tidak boleh pulang denganku. Kajja kita segera ke toko buku.” Ajakku seraya menggandeng tangannya.

 

********************

 

 “kau mau cari apa Yuri – sshi.” Tanyanya hati – hati.

“aku mau mencari buku tentang sejarah istana di Joeseon. Entah mengapa akhir – akhir ini aku tertarik dengan sejarah dan kebudayan istana itu. Apa kau tak ingin membeli buku juga.” Ucapku tersenyum memandangnya.

“anii.. kemarin aku baru saja membeli buku banyak, jadi sekarang aku hanya menemanimu saja.”

“aku sudah mendapaatkan bukunya. Kajja kita bayar dan pulang.” Ajakku.

Aku dan Siwon kini tengah berjalan pulang. Memang sejak masuk ke sekolah ini aku sudah menyukai Siwon, tapi aku sedikit terkejut dengan perlakuannya akhir – akhir ini. Ia selalu menyapaku didepan gerbang pintu masuk sekolah setiap aku pulang. Apa jangan – jangan Siwon sunbae menyukaiku. Yuri..Yuri jangan berpikir yang tidak – tidak, setidaknya kau berkacalah. Kau ini siapa dan Siwon sunbae adalah pangeran tampan disekolah. Banyak yeoja – yeoja cantik yang selalu mengantri untuk menjadi yeojachingunya. Kau ini hanyalah seorang yeoja kutu buku, sadarlah Yuri. Sadarlah.

Aku menepuk – nepuk pipiku pelan tak percaya jika Siwon –sshi mau mengantarkanku membeli buku dan pulang.

“Yuri –sshi. Maukah kau pergi ke taman menikmati mekarnya bunga dipuncak musim semi tahun ini.”

Siwon mendada – dadakan tangannya didepan mukaku. Aku masih terdiam memikirkan sikap Siwon akhir – akhir ini.

“Ne. Ne. Aku mau pergi ke taman.” Ucapku seadanya karena tak dapat berpikir. Apakah ini yang dinamakan CINTA?.

 

********************

 

“Ini untukmu. Sekaleng cola dingin seperti yang biasa kau beli disekolah.”

“ka…uu taa..huu kebiasaanku?.” Tanyaku terbata – bata.

“Tentu saja, kau itu selalu membeli sekaleng cola sebelum  kau pergi ke perpustakaan hari Jumat sehabis jam keempat pelajaran selesai.”

Mwo???. Jadi Siwon sunbae mengetahui kebiasaanku setiap hari jumat. Apa dia  selalu mengikutiku dan mengamatiku terus?. Apa dia menyukaiku?. Omo. Yuri sadarlah dari mimpimu sekarang ini. Pikiranku berkecamuk kacau tak tentu memikirkan rasa ini.

“dan kau selalu membeli roti isi keju ditoko Seung’s Bakery setiap hari sabtu dengan memakai topi hitam dan jacket putih. Iya kan?.”

Bingo. Dia tahu betul kebiasaanku. Apa yang kulakukan disekolah dan kebiasaanku setiap minggunya. Apa jangan – jangan dia selalu menguntitku?.

“Siwon – sshi. Apa kau…”. tanyaku dengan mulut yang masih menganga dan tak percaya.

“ne. Aku diam – diam suka mempehatikanmu dan mengikuti kebiasaanmu. Karena aku….?. Ia tak dapat melanjutkan perkataanya.

“ya. Kau kenapa?.” Heranku.

“Yuri – sshi. Apa aku boleh bertanya sesuatu denganmu?. Ada apa antara kau dengan Sungmin?.”

“Aku dan Sungmin oppa. Oh, maksudku Sungmin subae adalah tetangga dekat, ia sudah kuanggap sebagai kakak laki – lakiku sendiri. Jadi aku sudah terbiasa dekat dengannya. Wae kau tiba – tiba bertanya seperti itu.”

“karena aku. Aku. Aku….” Siwon membuka tas sekolahnya dan mencari – cari sesuatu. 

“ya. Kenapa?.” Ulangku.

“Saranghae Kang Yuri. Maukah kau menjadi yeojachinguku?.”

Deg…

Seketika aku bagai tersengat arus listrik, tubuhku kaku. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku ini. Karena tak mempercayai apa yang terjadi saat ini. Siwon menginginkan aku menjadi yeojachingunya. Tuhan, sadarkan aku dari mimpi ini. Aku menepuk – menepuk pelan pipiku. Masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

“kk..a..uu mem..mintaku menjadi yeojachingumu. Kau tidak sedang mabuk kan hari ini?.”

“tidak. Jadi apakah kau menjdi yeojachinguku?” Ucapnya seraya memberikan sebuket bunga mawar putih. Yaitu bunga kesukaanku.

Aku mengangguk pelan. Tubuhku masih kaku tak mempercayainya. Jadi selama ini Siwon –sshi menyukaiku.

“bukankah banyak yeoja cantik yang ada disekolah, kenapa mesti aku?.” Tanyaku masih dengan tampang tidak percaya.

“karena aku hanya menyukaimu. Saranghae Yuri.” Ucapnya lancar sambil berlutut memberikan sebuket bunga mawar putih itu.

CINTA?. Apakah seindah ini?. Inikah yang disebut dengan cinta pertama?. Entahlah. Yang ku rasakan rasa apa ini. Aku menerima bunga pemberian Siwon itu.

“na..d..do saranghae Siwon –sshi.” Ucapku pelan tapi dapat didengar oleh Siwon.

Cups. Ia mencium pipiku sekilas. Dan blusss…wajahku memerah dan bahkan menampakkan warna semerah tomat.

“jangan memanggilku se-formal itu. Sekarang kau boleh memanggilku oppa.

“gomawo Siwon-sshi. Eh, oppa.”

 

FLASHBACK END

 

Ya Tuhan sekarang tanggal berapa?. Aku melirik kalender yang ada di ponselku. Tanggal 26 Mei. Jadi tepat kemarin Siwon menyatakan cintanya padaku 6 tahun lalu. Jadi dia masih mengingatnya saat ia memintaku menjadi yeojachingunya. Aku memijat dahiku sejenak yang tidak sakit dan masih tidak berkonsetrasi untuk memasak.

Kress….

“auww.” Tanpa sadar aku mengiris jari telunjuk tanganku dan menjatuhkan sebuah piring. Darah mengalir dari jari telunjukku dan aku segera membereskan semua pecahan piring itu.

“Yuri ya!.”

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku secepat mungkin. Mencoba sadar dari lamunanku.

“eh?. Ne?. Auuww.” Jong Woon pun menghampiriku dan segera menarik tanganku dan memasukkannya kedalam mulutnya. Aku menatap Jong Woon yang memperlakukanku seperti itu. Kenangan itu harus aku lupakan. Sekarang aku hidupku hanya untuk Jong Woon tidak lagi untuk kembali kemasa lalu. Tanpa sadar aku memeluk Jong Woon.

“saranghae…” lirihku yang mungkin tak dapat didengar oleh Jong Woon.

 

********************

 

JONG WOON POV

 

PRANGGG.

Terdengar suara benda yang jatuh dari arah dapur. Aku pun segera menghampiri ke dapur melihat apa yang terjadi.

“Yuri- ya!.” Tanyaku panik.

“eh?. Ne?. Auuww.”

“Chagiya. Gwenchana?.” Tanyaku cemas.

“gwenchana. Aku tak apa – apa. Hanya kaget saja.” Jawabnya masih dengan muka bingung.

“yak, kau ini. Tanganmu berdarah seperti ini kau bilang tidak apa – apa!”

Aku menarik tangan Yuri yang masih berkutat dengan pecahan piring. Segera kumasukkan kedalam mulutku dan mencoba menghisapnya agar darahnya berhenti mengalir. Setelah itu  segera berjalan mengambil kotak obat yang terletak dilemari dapur bagian atas.

Aku mengambil kotak obat itu dan segera membersihkan luka Yuri dari infeksi. Karena sebelum terkena pecahan piring itu jari tangan Yuri sudah terkena sayatan pisau. Segera akumembersihkan lukanya, memberi alkohol dan iodin setelah itu tangannya kuberi plester agar  menutup luka itu.

Tangan Yuri tiba – tiba memelukku. Aku hanya bisa memeluknya kembali. Aku membelai rambut panjangnya. Yuri mengangkat wajahnya dan  tersenyum lembut memandangku.

“Yuri –ya lain kali hati – hati. Apa kau sedang ada masalah yang dipikirkan?.” Ucapku sambil melekatkan plester dijarinya.

“anii, aku hanya lelah saja.”

“su…su.” Sebuah dot terbanting sempurna dan jatuh dari meja makan. Akibat ulah seorang bayi namja berumur 1 tahun.

“Jae Woon kau mau minum susu lagi?.” Tanyaku  memastikan.

“sebentar chagi umma buatkan.” Ujar Yuri beranjak dari hadapanku.

Yuri segera beranjak membuatkan susu untuk mereka berdua. Dan aku segera membersihkan pecahan piring yang tersisa.

Yuri menepuk kepalanya pelan. “chagi, umma lupa jika harus membeli susu kalian berdua. Oppa, kau bisa menjaga mereka berdua sebentar sementara aku membeli bahan makanan kita dan susu untuk mereka berdua.”

“biar aku saja yang membelinya. Kau dirumah sajalah, kau bilang jika kau lelah bukan.” Tawarku.

“aniyo. Apa tak merepotkan oppa?.”

“issh. Kau ini. Tunggu dan duduklah diam dirumah sementara aku pergi ke supermarket.” Aku segera mengambil jaket dan keluar menuju supermaket.

 

********************

 

Brukk…

Sebuah benda terjatuh dari atas rak barang. Aku tak sengaja menjatuhkan barang tersebut karena ada seseorang yang berlawanan arah denganku yang sama – sama memperebutkan barang itu.

“ah, mianhae agasshi. Aku tak sengaja merebutnya. Gwenchana. Lady’s first.” Ucapku mengalah.

Yeoja itu juga berjongkok mengambil barang itu. Aku menatapnya sekilas. Ku amati wajahnya itu. Sepertinya yeoja itu tak asing bagiku. Ia menyelipkan rambut ke telinga dan perlahan – lahan menampakkan wajahnya.

“Victoria!!. Ucapku terkaget.

Ia mengangkat wajahnya karena aku memanggilnya. “Jong Woon –ya.” Ia pun tak kalah kaget. Aku segera berdiri dan mensejajarkan diriku dengannya.

“lama tak bertemu Victoria. Bagaimana keadaanmu?.”

“ne, aku baik – baik saja. Bagaimana juga keadaanmu?”

“aku baik – baik saja. Kau sedang apa berada di Korea saat ini?.

“euhm. Aku sekarang sudah bekerja dikorea dan menetap disini.”

Victoria Song. Ya, seorang yeoja yang kukenal pada saat kuliah di Jepang. Sekarang ia tampak berbeda. Ia sekarang tampak seperti wanita karir yang dewasa  dan semakin cantik.

“Sepertinya aku  harus pulang dulu. Lain kali kita sambung pertemuan kita ini. Annyeong.” Ucapku mengakhiri pertemuan.

“Jong Woon-ya. Gomawo untuk barang ini.” Ia memanggilku dan aku pun menoleh tersenyum padanya.

 

********************

 

AUTHOR POV

 

Jong Woon berjalan memasuki apartemen menenteng dua buah kantong belanjaan. Ia mendapati Yuri tengah menggendong dan mendekap erat putri mereka diruang tengah. Kim Nam Young.

“Yuri-ya, mianhae aku terlalu lama.”

Yuri hanya mendekatkan jari telunjuknya didekat bibirnya. Menandakan bahwa jangan ada suara selama ia menidurkan putri kecilnya itu.

Pelan – pelan Yuri memasuki kamar dan meletakkannya secara hati – hati didalam box bayi yang sudah terisi oleh seorang pangeran tampan. Perlahan – lahan ditutupnya knop pintu dikamarnya agar tidak menimbukan suara yang dapat membangunkan malaikatnya itu.

“oppa, kajja kita makan. Euhm. Mianhae, hanya ini yang dapat ku buat. Karena aku belum berbelanja kebutuhan kita.”

“Gwenchana, chagiya. Aku tahu jika makanan yang kau masak pasti enak.”

 

(Skipp….acara makannya. Author kagak bisa nulis panjang – panjang. Langsung aja chekit dott. Beberapa saat setelah makan.)

 

Jong Woon dan Yuri kini tengah berada diruang tengah menikmati acara televisi. Yuri menyenderkan kepalanya di pundak Jong Woon sambil sesekali Jong Woon mencium puncak kepala Yuri dengan lembut.

“Oppa. Apa boleh aku bertanya seseuatu?.”

“waeyo chagi?. Kau ingin menanyakan apa?.”

“Apa kau tak mencemburuiku karena hubunganku dengan Siwon.” TanyaYuri pelan – pelan memastikan.

Jong Woon tersenyum kecil. “untuk apa aku mencemburuimu?. Aku hanya milikmu. Ku yakin pasti hanya ada aku disini.” Ucap Jong Woon sambil menunjuk dada sebelah kiri Yuri. Yuri menatap mata Jong Woon memastikan bahwa Jong Woon adalah satu – satunya orang yang mencintainya dan ia cintai.

“saranghae oppa.”

“nado chagi.” Yuri memberanikan diri mencium bibir Jong Woon. Jong Woon tak segan – segan membalas ciuman Yuri. Lama – lama ciuman mereka makin memanas mengeksplor lidah mereka untuk saling bertautan. Ciuman Jong Woon segera turun di leher jenjang Yuri. Yuri pun merasa kegelian dan mencoba menggigit bibir bawahnya menahan sensasi gelinya.

“saranghae Kim Yuri. Maukah kau malam ini…” belum sempat Jong Woon melanjutkannya Yuri sudah memotongnya.

“ne, oppa malam ini aku milikmu.”

Jong Woon segera menggendong Yuri ala bridal style menuju kamar dan memulai melakukan aktivitasnya bersama. Tapi tidak kamar mereka melainkan kamar yang lain. Apa jadinya jika saat Jong Woon bergulat (?) dengan Yuri didalam kamar mereka sendiri sementara kedua anak mereka terbangun dan melihat adegan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Perlahan lahan mereka memulai aktivitasnya dengan saling membukakan pakaian yang dikenakan  mereka masing – masing dan menjelajahi setiap inci lekuk tubuh keduanya.

 

Skippp………..author kagak kuat jika bikin NC. Readers bayangin sendiri aja yach. (#Plakk…^_^ author mimisan bayanginya.)

 

********************

 

YURI POV

 

“Oppa. Apa boleh aku bertanya seseuatu?.” Tanyaku mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap televisi.

“waeyo chagi?. Kau ingin menanyakan apa?.”

Aku berpikir sejenak. Apa aku harus menceritakan jika Siwon mengirimiku bunga. Tapi tidak, aku tak ingin mengingatnya kembali. Keputusanku sudah bulat. Aku akan keluar dari rumah sakit itu. Jika aku tidak keluar dari rumah sakit itu. Aku takut jika nanti Siwon akan semakin mencintaiku dan dia tak dapat melupakanku.

“Apa kau tak mencemburuiku karena hubunganku dengan Siwon.” Tanyaku  pelan – pelan.

Ia tersenyum kecil dan mengelus kepalaku pelan.

“untuk apa aku mencemburuimu?. Aku hanya milikmu. Ku yakin pasti hanya ada aku disini.” Ucap Jong Woon sambil menunjuk dada sebelah kiriku. Menandakan bahwa ia hidup dijantungku.

Aku menatap wajah Jong Woon yang serius, tidak ada kebohongan disana.  Jong Woon jika kau mencintaiku, aku jauh lebih mencintaimu. Karena di dirimu ketemukan semuanya. Aku bahagia jika bersamamu. Gumamku dalam hati.

“saranghae Oppa.” Ucapku begitu saja keluar dari mulutku.

“nado chagi.”

Aku memberanikan diri mengecup bibirnya sekilas dan ia pun membalasnya. Tengkukku ditahannya agar aku bisa membalas perlakuannya. Ia menggigit bibir bawahku berusaha agar lidahnya bisa masuk dan bertukar saliva denganku. Perlahan – lahan ciumannya turun ke leherku dan aku merasa kegelian. Lama – lama ciumannya memanas dan membuatku mendesah tidak karuan.

“saranghae Kim Yuri. Maukah kau malam ini…” belum sempat Jong Woon melanjutkannya aku sudah memotongnya.

“ne, oppa malam ini aku milikmu.”

Jong Woon segera menggendongku menuju kamar. Bukan kamar kami melainkan kamar yang lain. Aku tak mau jika Jong Woon melakukan ‘itu’ dikamar kami. Bisa – bisa mereka berdua melihat adegan kami ( bisa jadi Lee Hyuk Jae generasi selanjutnya #plakk… ^abaikan^*author digampar bininya Eunhyuk*). Segera ia membaringkanku dan mulai melakukan aktivitasnya dengan membuka baju yang aku kenakan.

#SKIPPP….(kagak kuat bayanginnya…lol. *author keserang gejala yadong* ABAIKAN)

 

********************

 

“Pagi chagiya.” Aku mengerjap – ngerjapkan mataku dan baru saja membuka mataku dan ia pun  sudah mengecup bibirku sekilas.

“euhm. Pagi oppa.” Aku meregangkan tanganku dan mencoba bangun. Tapi sebuah tangan masih memeluk erat tubuhku. Aku mencoba bangun dan melepaskan pelukannya. Serta menarik selimut hingga menutupi dadaku.

Aku melirik jam diatas nakas. Tepat jam 6 pagi. Setengah jam lagi Jae Woon dan Nam Young pasti bangun. Aku segera mengambil pakaianku yang teronggok dan berserakan dilantai. Kupunguti pakaianku dan memakainya asal dan segera menuju kamar mandi.

“chagi, mau kemana?. kenapa kau memakainya lagi.” Ujarnya yang tiba – tiba melepas pelukkannya.

“kau ini!. Apa belum puas kau sudah melihat dan menyentuh seluruhnya semalam. Sekarang aku mau mandi dulu. Kau mandilah dikamar kita.”

“Kau tak mau kita mandi bersama?.”

“MESUUUMMMM!!!.” Teriakku membanting pintu kamar mandi.

 

********************

 

JONG WOON POV

 

Aku berjalan menuju ruang makan. Yuri sudah sibuk didapur dan aku segera menghampirinya serta menggendong mereka berdua. Seperti biasa kebiasaanku dan Yuri ketika kami sedang ada dirumah. Sarapan bersama sambil menyuapi mereka berdua. Ini adalah kegiatan rutin kami berdua.

“chagi.. Apa kau tidak kerja hari ini?.” Tanyaku seraya memeluknya dan melingkarkan tanganku di perutnya dari belakang.

“anii. Aku sedang libur hari ini. Jadi aku seharian dirumah mengurus mereka berdua. Kau tidak bekerja hari ini?.”

“aku kerja hari ini. Tapi agak siang karena ada beberapa pasienku yang mengadakan janji untuk check up.”

“kiss..seu.” Suara Nam Young mengagetkanku dan Yuri. Yuri pun segera berbalik tapi aku masih memegangi perut rampingnya itu dan

cup…..

Yuri tak sengaja menempelkan bibirnya dibibirku karena ia membalikkan tubuhnya secara mendadak. Dan secara cepat melepasnya.

“yak oppa. Jangan seenaknya mencari – cari kesempatan untuk menciumku.” Gerutunya dengan kesal.

“aku tidak mencari kesempatan. Hanya mereka berdua saja yang memberikan kita kesempatan.” Jawabku masih dengan memeluknya dengan tampang tak berdosa. Yuri menggembungkan pipinya masih dengan wajah kesalnya. Sambil mengomel sendiri.

“jangan melakukan itu dihadapan mereka. Lihatlah akibat kau sering melakukan itu, mereka bisa berkata seperti itu. Padahal seharusnya mereka belum boleh tahu tentang hal itu!.”

Cups…Omongan Yuri terhenti seketika saat aku mengunci bibirnya lembut walau hanya beberapa detik.

“Ne. Ne. Aku tahu nyonya Kim. Kalau kau masih mengerucutkan bibirmu seperti itu dan masih mengomel, jangan tanya jika aku akan menguncinya lagi. Arraseo?.” Ucapku seraya melepas pelukanku dan terkekeh pelan lalu duduk dengan santai di ruang makan.

 

********************

 

@SEOUL HOSPITAL

Aku berangkat sedikit lebih siang daripada biasanya karena aku hanyamempunyai janji dengan beberapa pasienku. Setelah memeriksa beberapa pasien aku memutuskan untuk kembali keruanganku. Tepat dikoridor rumah sakit aku menabrak seorang yeoja yang tergesa – gesa keluar dari rumah sakit. Dan aku pun menjatuhkan beberapa obat yang sedang dibawanya.

Brukk…

Yeoja itu kemudian mengambil sekantong plastik berisi beberapa obat yang terjatuh akibat aku bertabrakan dengannya.

“mianhae agasshi aku tak sengaja menabrakmu. Gwenchana?.” Ucapku sambil mengambil obat itu dan membereskannya.

“Jong Woon!!. Ucapnya terkaget

Aku seketika itu menoleh melihatnya. “Victoria!.” Ucapku terkaget karena tak menyangka bertemu dengannya lagi disini. Aku segera membantu membereskan beberapa obat yang terjatuh tadi.

“mianhae. Aku terburu – buru jadi tak  melihatmu dan menabrakmu tadi.” Ucap Victoria menyesal.

“gwenchana. Kau sedang apa dirumah sakit ini?.”

“aku sedang berobat. Kebetulan  akhir – akhir iniaku terlalu sibuk dengan pekerjaanku jadi aku lupa jika aku sakit.”

“oouh. Lama tak berjumpa Victoria –sshi. Kapan kau pulang dari Jepang?.”

“lebih tepatnya 4 tahun lalu?. Kau bekerja dirumah sakit ini?” tanyanya berdiri mensejajarkan dirinya.

“ne. Sebagai pemintaan maafku dan pertemuan kita kembali. Maukah kau makan siang bersama denganku?.” Tawarku.

“mianhae Jong Woon. 1 jam lagi aku ada meeting dengan CEO perusahaan. Lain kali kita pasti akan makan siang bersama. Aku janji.” Jawab Victoria sambil membentuk huruf V dengan  jari tangannya.

“tapi lain kali kau harus pegang janji itu. Arraseo. Boleh aku meminta nomor ponselmu?!.”

“tentu saja. Aku pergi dulu. Annyeong.”

“gomawo.”

 

********************

 

Victoria. Lama kita tidak bertemu. Kau masih saja  tetap seperti itu, selalu saja menolak ajakanku untuk makan berdua. Sama seperti waktu kita masih kuliah sama – sama di Jepang. Aku tersenyum sendiri mengingat kebersamaanku dengan Victoria semasa kuliah dulu.

Secara tak sadar aku membuka laci meja kerjaku dan menemukan sebuah foto. Aku memandangi dan melihatnya tersenyum. Foto itu diambil satu bulan lalu saat Jae Woon dan Nam Young genap berusia satu tahun. Dimana kami berempat hanya merayakannya pada saat tengah malam dan Yuri tengah tersenyum bahagia saat kami merayakanya bersama. Kim Yuri, Victoria. Kenapa aku malah memikirkan mereka berdua?.

Ckreeekk…

“annyeong Jong Woon –sshi. Mianhae mengganggu. Anda mempunyai jadwal untuk memeriksa dan mengontrol pasien dikamar 304.”

Seketika itu lamunanku buyar dan kembali berkonsentrasi dengan pekerjaanku.”Ne, aku akan segera kesana.”

 

********************

 

AUTHOR POV

 

Yuri kini masih berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Mencuci, membersihkan rumah, serta mengajak bermain malaikat kecilnya. Ia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah sakit tempat kerjanya sekarang.

Setelah menyelesaikan pekerjaanya sekarang ia berencana membawa berkas – berkas pengunduran dirinya. Ia tahu ini memang keputuan yang berat untuk diambilnya dan mungkin mengecewakan ibu yang selama ini merawatnya dan suami tercintanya.

“sekarang waktunya seharian bersama umma. Kajja kita pergi!.” Ajak Yuri.

Ting….Tong…

Ckrekk….

“umma.” Pekik Yuri kaget akan kehadiran umma Jong Woon yang tiba – tiba.

“Yuri –ya. Aku tidak menggangu kan?. Apa kau tidak kerja hari ini?.” Tanya umma balik.

“anii. Aku akan keluar dari pekerjaanku yang sekarang umma. Masuklah umma kita bicara didalam. ”

“mwo?. Yuri- ya apa kau serius?. Kau baru 1 bulan bekerja chagiya. Apa Jong Woon tahu?.”Yuri menggeleng pelan. Menandakan bahwa Jong Woon tidak tahu menahu tentang rencana pengunduran dirinya itu.

“Mengapa kau mengundurkan diri?. Apa kau tidak suka dengan pekerjaanmu yang sekarang?.”

“bukan begitu umma.” Ucap Yuri lesu.

“lalu?.”

“aku akan memimpin perusahaan appa!.” Ucapku pelan dan membuat kaget umma mertuaku ini.

“mwo?. Kau penerus tunggal Kwon Hotel’s Coorperation Group?.” Umma Jong Woon terkaget dan menutup mulutnya.

“ne umma. Dan rencananya hari ini aku akan mengundurkan secara resmi dari rumah sakit itu hari ini juga.”

 

********************

 

Urusanku sudah selesai dengan acara pengunduran diri. Setidaknya hari – hariku tidak akan  melihat Siwon lagi. Yuri berjalan gontai dengan pikiran bingung. Apa benar keputusannya ini?.

Dialihkannya pandaangan Yuri dari bawah yang sedari tadi menendang – nendang benda kecil tak jelas dan tanpa sengaja melihat Yoona yang sedang keluar dari toko bunga dan langsung saja berjalan menegurnya.

“Yoona –sshi.” Tegurnya dari belakang.

Yoona pun secara reflek pun menoleh. “ hey. Yuri –sshi.”

“apa kau baru saja membeli bunga?. Lily putih?. Bunganya sangat indah.”

“ne. Mau jalan bersama?.” Tawarnya mengajak Yuri.

“tentu saja.”

Cuaca cerah diperalihan dari musim dingin ke musim semi. Taman kota sedang ramai oleh para pengunjung. Aku dan Yoona kini tengah duduk di bangku taman yang letaknya tak  jauh dari air mancur.

“Yuri –sshi. Apa aku boleh bertanya sesuatu?.” Ucap Yoona memulai pembicaraan.

“ne. Tentu saja.” Jawabnya ringan

“kau tahu apa yang disukai oleh Siwon oppa. Misalnya makanan, minuman atau kegiatan yang ia sukai begitu.”

“kau menanyakan apa yang disukai Siwon padaku?.Seharusnya kau lebih tahu daripadaku. Kenapa kau menanyakan hal ini?.”

“aku ingin belajar mengenal hatinya serta mencintainya.” Helanya pelan.

“aku tak tahu betul apa kesukaan Siwon. Tapi yang aku ketahui  bahwa ia pandai bermain piano dan violin atau biola.”

“jinja?. Kalau begitu bisakah kau mengajariku tentang cara bermain piano ataupun biola?. Kau pasti tahu lagu yang Siwon oppa sukai karena kaulah orang yang dicintainya.

Ekspresi muka Yuri seketika berubah saat Yoona mengatakan  bahwa ia adalah orang dicintai oleh Siwon. Tapi Yoona seolah tak ada beban ketika mengatakannya.

Tak jauh dari bangku taman yang mereka  berdua duduki terdengar sebuah nyanyian merdu  dengan bunyi alunan violin yang begitu indah. Yoona secara spontan menarik tangan Yuri dan mengajaknya untuk melihat lagu yang dinyanyikan oleh pengamen jalanan  itu.

Sarangi iruhke kkeutmuhril buyohdo

(tampaknya cinta  harus diakhiri)

Ibyuhri uhneusae naege dagawa

( sebelum aku mengetahui tentang perpisahan kita)

Annyeong insal guhnnedo

(kau berkata selamat tinggal)

Ajik naegen nuhl

(tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi)

Naeryuhnohneun ge uhryuhwoonguhl

(karena itu sulit)

Jogeumman shiganeul jwuh

(tolong beri aku waktu lebih lama)

I can’t live without you

(aku tak dapat hidup tanpamu)

My all is in you…………….

(semuanya adalah kau)

 

Prokk…prokk…prokkk..

Suara riuh tepuk tangan menepuki pengamen jalanan yang memainkan biola itu. Yoona tiba – tiba saja menghampiri orang yang memainkan violin itu.

“agasshi. Bolehkah temanku mencoba memainkan Violinmu itu. Aku akan membayamu bila kau bersedia meminjamkan Violinmu itu pada temanku.”

Yuri kaget dan tidak percaya dengan hal yang dilakukan oleh Yoona. Ia menolaknya namun tangan Yoona secara cekatan menariknya dan memberikan violin itu padanya. Violin kini tengah dipegang Yuri. Ia memejamkan mata dan menghela napas pelan dan segera memainkannya, melanjutkan lagunya karena lagu ini adalah lagu penuh kenangan antara dirinya dan Siwon.

Hoksi naega muhnjuh ibyuhreul marhaejoogil

(jika aku berkata pergi untuk pertama kalinya)

Muhnjuh nuhl nohajoogil gidarineun guhnji

(kemudian kau akan berharap aku membiarkanmu untuk pergi)

Yejuhngwa dallajin nuhui noonbichen

(walaupun tatapanmu sama seperti itu)

Ije duh isang sarangi uhbsuhdo naneun gwenchana

(aku tak dapat hidup tanpamu)

Jeom jeom shiganeun gago ibeun mareugo

(waktu seakan diperlambat dan mulutku harus mengatakannya)

Nuhreul bogo inneun naui nooneun booranhae

(aku melihatmu cemas)

Anjuhl boojuhl mothago na suhsuhngijanha

(aku gugup dan melangkah tak tentu)

Geudaega ibyuhreul marhalkka bwa

(aku takut jika kau akan berkata pergi)

Sarangi iruhke kkeutmuhril buyohdo

(tampaknya cinta  harus diakhiri)

Ibyuhri uhneusae naege dagawa

( sebelum aku mengetahui tentang perpisahan kita)

Annyeong insal guhnnedo

 (kau berkata selamat tinggal)

Ajik naegen nuhl

 (tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi)

Naeryuhnohneun ge uhryuhwoonguhl

(karena itu sulit)

Jogeumman shiganeul jwuh

(tolong beri aku waktu lebih lama)

I can’t live without you

(aku tak dapat hidup tanpamu)

My all is in you…………….

(semuanya adalah kau)

 

My All Is In You (Super Junior  K.R.Y + Sungmin & Donghae)

 

Yuri menghentikan permainannya secara tiba – tiba dan mengembalikan Violin itu pada pemiliknya. Hatinya terlalu sakit jika harus mengenang masa itu.  Ia kemudian berlari dari kerumunan orang yang menikmati pertunjukkannya. Yoona yang mengetahui itu langsung saja mengejarnya.

“Yuri –sshi.” Teriak Yoona yang berlari mengejarnya.

Yuri berhenti sejenak dan  menoleh pada Yoona.” Jebal, jangan kau membuatku seperti itu. Itu lagu sebelum Siwon mengakhiri hubungan kami begitu saja. Jangan kau ingatkan aku pada lagu itu.” Ucapnya sedikit meninggi dan pergi meninggalkan Yoona, tanpa ia sadar ia telah menangis didepan Yoona.

 

********************

 

@ KWON HOTEL COORPERATION’S – Seoul, Gyeonggi Province

“Baiklah, rapat hari kita cukupkan sampai disini.” Ujar seorang pimpinan rapat yang mengakhiri rapat hari ini yang diketahui adalah presiden direktur diperusahaan itu.

Direktur itu mulai berjalan menuju ruangannya ditemani sekretaris kepercayaannya di belakang langkahnya. Kembali ia duduk di kursi kerjanya sambil sesekali memeriksa beberapa berkas hasil rapat tadi.

“sajangmin, saya permisi dulu.” Ucap yeoja itu seraya membungkukkan badan.

“euhm. Nona Song bisakah besok kau mengajari dan memperkenalkan putriku tentang hotel ini.”

“apa anda tidak salah menunjuk saya sajangmin?.” Herannya menunjuk dirinya.

“kau sekretarisku jadi sudah sewajarnya aku mempercayaimu.”

Gadis itu keluar dari ruangan atasannya dan kembali menuju ruangan kerjanya. Saat membuka ruangannya terlihat seorang pria berkaca mata tengah duduk membelakanginya dan perlahan – lahan memutar kursi kerja yeoja itu serta memulai pemberbicaraan.

“kau sudah dengar nona Song jika Jiyoung –hyung akan mengalihkan jabatannya kepada putri tunggalnya?.”

“kau tahu darimana Seunghyun agasshi?.” Tanyanya seraya mendekat.

“sejak putri tunggal kebanggaanya yang hilang ditemukan 3 tahun lalu.” Ucapnya seraya berdiri mendekati yeoja itu.

Yeoja itu bergidik ngeri mendapati tatapan dari atasannya tersebut. “kau harus membantuku jika kau ingin membayar balas budi denganku. Bisiknya di telinga yeoja itu yang masih mematung dengan perkataan laki – laki itu.

 

********************

 

YURI POV

 

Huh.. Helaku saat semua pekerjaan rumahku selesai satu persatu setelah menyerahkan surat pengunduran diriku tadi siang. Kejadian ditaman kota tadi siang membuat pikiranku tambah kacau. Bagaimana mungkin Yoona bertanya sesuatu yang disukai Siwon padaku dan anehnya lagi ia menyebutku yeoja yang dicintai Siwon. Aku akan berrencana menceritakan dan memberitahukan semuanya pada Jong Woon setelah ia pulang nanti. Aku tahu mungkin Jong Woon akan sedikit kecewa terhadapku. Dengan perlahan seseorang membuka pintu kamarku.

“Yuri-ya.” Sebuah suara mengagetkanku dari ambang pintu. Aku segera tersadar dari apa yang kupikirkan.

“kau sudah pulang?.”

“apa Youngie sedang tidur?.”tanyanya sambil menuju box bayi dan mengusap kepala Nam Young pelan.

“ne. Badan Youngie sedikit demam tadi siang tapi sekarang sudah turun karena sudah kuberi parasetamol.”

“kenapa kau tak memberitahuku?.” Tanya Jong Woon yang mengangkat tubuh Jae Woon yang sedang mengutak atik balok kesayangannya diatas ranjang. Jong Woon duduk disebelahku yang sedang melipat pakaian dan memangku Jae Woon.

“sudahlah, dia hanya sedikit demam. Yang penting demamnya sudah turun kan. Jangan terlalu mengkhawatirkannya!!.”Aku harus segera memberitahukannya. Mianhae oppa, aku mengecewakanmu.

“oppa.” Ucapku pelan.

“ne.”

“hari ini aku mengundurkan diri dari pekerjaanku!.” Ucapku pelan dan membuatnya menatapku heran.

“kau bilang apa tadi?. Kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu?. Kenapa tiba – tiba kau melakukan itu?.” Tanyanya terkaget sekaligus tidak percaya.

“mianhae oppa aku mengecewakanmu. Tapi aku mengundurkan diri karena….” Belum sempat aku melanjutkan kalimatku Jong Woon sudah memotongnya.

“Karena apa?. Kau takut jika aku mencemburuimu dengan Siwon?. Kita sudah bicarakan hal ini beberapa kali.”

“anii. Ini bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Siwon.”

“lalu?.” Tanyanya memastikan.

“Appa memintaku untuk melanjutkan perusahaannya!.”

“mwo?. Kau akan menjadi penerus perusahaan?.”

“ne. Dan minggu depan rencananya aku akan bekerja.”

“Yuri-ya….”

“ini sudah keputusanku. Aku akan menjadi penerus perusahaan appa. Aku akan belajar tentang hal – hal yang belum kuketahui.”

Jong Woon merengkuh dan memelukku erat serta menumpukkan dagunya dipuncak kepalaku. “mianhae, aku mengecewakanmu”. Ucapku menengelamkan kepalaku didadanya. Ia mengusap pelan kepalaku.

Aku tak tahu jika yang kupikirkan ini benar  ataupun salah. Entahlah, mungkin ada hikmah dibalik keputusanku ini.

“chagiya. Aku tahu ini keputusanmu, tapi apa kau yakin dengan keputusanmu itu?.”

“entahlah oppa. Aku mohon oppa menyetujuinya. Bantulah aku oppa menjalaninya.”

“Kalau itu keputusanmu aku hanya bisa mendukungmu.” Aku hanya bisa memeluk Jong Woon erat untuk menghilangkan rasa  bimbangku.

“meok..da (makan).” Aku tersentak kaget dan segera melepaskan pelukanku karena Jae Woon minta makan lagi.”

“Mwo?. Makan lagi??. Satu jam lalu kau sudah makan chagi?.”

Drrttt…….drrt…………

Getaran ponselku menandakan sebuah panggilan masuk dan menyadarkanku dari pelukan Jong Woon. Aku pun segera mengambil ponselku yang terletak di atas nakas kamar kami.

“yeoboseo. . Ne, Appa aku akan segera kesana.”

“Kau mau pergi kerumah appamu?.”

“ne, appa bilang ia ingin bertemu membahas perusahaannya denganku. Kau bisa jaga mereka berdua selama aku tinggal sebentar?.”

“baiklah, aku akan menyuapi Jae Woon makan dulu. Kau tak mau menggunakan mobil?.”

“anii. Aku naik bus saja sekalian aku mau pergi ke toko buku. Kau jagalah mereka sebentar!.”

 

********************

 

Appa mengajakku bertemu untuk membahas masalah perusahaannya. Aku hanya menurut saja ketika besok akan diperkenalkan dengan seluk beluk perusahaannya.

Baiklah Kwon Yuri!, kau ini seorang calon direktur. Jadi bersikaplah dewasa selayaknya calon direktur. Aku menggembungkan pipiku mengetuk – ngetuk kepalaku dengan jari – jari telunjukku hingga aku tersadar jika aku sudah sampai di depan toko buku. Yup, aku akan mencari buku tentang administrasi keuangan. Belajar hal baru dengan semangat yang baru.

Aku memilih beberapa buku yang berkaitan dengan keuangan. Tidak terlalu sulit bagiku untuk menemukan buku itu. Segera ku menuju kasir untuk membayarnya dan bergegas pulang.

Aku keluar dari toko tersebut dan melihat sekilas seorang namja yang tak asing bagiku sedang berjalan disekitar jalan didepan toko yang berderet ini. Aku melihatnya dengan seksama ternyata benar. Choi Siwon. Ia semakin berjalan mendekat ke arahku. Aku otomatis segera berbalik badan agar ia tak melihatku. Tapi caraku itu tidak tepat ia malah memanggilku dari belakang.

“Yuri –sshi.” Teriaknya.

Aku masih berjalan dan pura – pura tak melihatnya. Tapi sebuah tangan menepuk bahuku pelan. Reflek aku menoleh kebelakang. Dan mendapati Choi Siwon berdiri dihadapanku.

“….” Aku membalikkan diriku dan memaksakan senyum padanya.

“kita bertemu lagi. Kau dari mana?.” Tanyanya menghampiriku.

“ak…ku dari to..ko buku.” Ucapku terbata – bata.

“dari toko buku?. Gurae?. Kau masih suka membaca buku seperti saat kita bertemu dulu.” Ucapnya mengulum senyum sambil mengacak – acak rambutku pelan.

“Siwon-sshi. Ak..ku harus pu..”

Siwon segera menggandeng tanganku dan menarikku pelan. “nanti ku antar pulang. Ikutlah denganku dulu.”

Siwon menarikku pelan tapi tangannya memegang erat jemari tanganku. Ia menggandengku dan mensejajarkan dirinya layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Siwon mengajakku ke sebuah taman yang terletak dipusat kota.

“tunggulah aku dulu disini.” Ucapnya seraya pergi.

“Siwon –sshi aku harus…”

“kubilang tunggu aku disini!.” Perintahnya.

Beberapa saat kemudian…….

“ini untukmu.” Ucap seseorang dari belakang sambil menyerahkan sekaleng cola dingin.

Aku menoleh kebelakang. Kudapati Siwon tersenyum sambil memberikan sekaleng Cola tersebut. Tanganku dengan kaku menerimanya karena otakku seakan – akan melarang untuk menerimanya. Siwon duduk disampingku, tiba – tiba dari balik tangannya terdapat sebuket bunga mawar putih yang langsung diberikan oleh Siwon.

“Kau masih ingat dengan kejadian 6 tahun lalu. Saat aku menyatakan perasaanku dihadapan yeoja yang aku sukai?.” Ujar Siwon sambil menatap langit dan meneguk cola.

“saranghae Yuri.” Lanjutnya. Dan seketika itu membuat tubuhku membeku tak dapat berpikir.

 

********************

 

AUTHOR POV

 

Yuri terkesima kaget saat Siwon memberinya sebuket bunga mawar dan sekaleng cola itu. Ada sedikit perasaan yang tak dapat dijelaskan dalam benak Yuri. Disaat hatinya telah memiliki Jong Woon secara utuh, Siwon datang memberikan sebuah masa lalu yang tak dapat dihilangkan dari memorinya tersebut.

“Siwon-sshi aku mohon jangan bersikap seperti ini. Kita sudah mempunyai dunia masing – masing. Aku sudah menikah dan mencintai orang yang menikahiku. Aku mohon jangan pernah kau mencintaiku lagi. Lupakan aku Siwon –sshi!!.”

“aku tidak peduli!. Karena sampai detik ini aku masih mencintaimu.”  Tegas  Siwon yang menatap mata Yuri dalam – dalam.

“Siwon –sshi. Aku sudah mempunyai kehidupan sendiri dan kau sudah memiliki Yoona. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama jadi aku mohon lupakan aku.”

Yuri berjalan meninggalkan Siwon yang masih terduduk meresapi kata – kata Yuri baru saja. Sebuah tangan berhasil menarik tangannya kembali dan reflek Yuri pun membalikkan badannya.

“lepaskan aku Siwon –sshi. Aku mau pulang!.” Suara Yuri sedikit meninggi dan melepas tangan Siwon.

“ijinkan aku mengantarmu pulang.”

Yuri masih saja tak menganggap perkataan Siwon. Ia masih saja berjalan dengan cepat untuk pulang tak peduli Siwon memanggilnya beberapa kali tapi Yuri tetap tidak menoleh kebelakang.

Tapi Siwon tidak berhenti sampai disitu. Ia masih tetap saja mengikuti dan memanggil – manggil nama Yuri. Siwon akhirnya dapat mendahului langkah Yuri yang tiba didepan gedung apartemen Jong Woon.

“pergilah Siwon –sshi. Jebal, kau jangan seperti ini.” Ucap Yuri memohon.

Tiba – tiba saja sepasang tangan memeluknya erat dan seketika itu Yuri mematung. Yuri tak dapat berbuat apa – apa lagi karena lengan tangan Siwon begitu erat memeluknya. Yuri merasakan ada sesuatu yang basah mengalir di pundaknya. Siwon menangis!.

“Yuri –ya. Jebal!!. Izinkan aku mencintaimu meski sekarang perasaanmu sudah berbeda dari yang dulu. Perasaanku masih tetap sama seperti waktu itu. Aku mencintaimu hingga saat ini. Aku sadar aku telah melukai hatimu waktu itu. Jebal!!. Izinkan aku mencintaimu. Hanya kau orang yang aku cintai. Maafkan aku yang tak bisa berhenti menyayangimu. Walau aku tak bisa memilikimu”

“lep..paskan aku Siwon –sshi.”

“kau yang selama ini memiliki hatiku. Aku mencintaimu meski kini kau milik orang lain. Kaulah adalah satu – satunya yeoja yang memiliki hatiku.”

“saranghae Yuri.”  Lanjutnya.

 

********************

 

JONG WOON POV

Aku menatap kedua malaikatku yang sedang asyik bermain dengan mainan – mainannya. Sekilas aku melihat jam yang menunjukkan pukul 9 malam belum ada tanda – tanda jika Yuri akan pulang. Tiba – tiba ponselku bergetar melihat siapa yang mengirimi pesan untukku.

Srett… Aku mengusap layar  ponsel dan melihat siapa yang mengirimiku sebuah pesan pendek. Aku mengernyitkan dahi. Victoria. Ia mengirimiku sebuah pesan pendek.

 

From: Victoria Song

Jong Woon. Bagaimana harimu?.

Apa besok kau ada waktu?.

 

Victoria. Aku tersenyum sendiri saat menerima pesan pendek dari Victoria. Mengapa dia mengirimi pesan seperti ini. Baru saja kemarin kita bertemu. Apa kau sudah menerima ajakkanku untuk makan bersama?. Segera kuketik balasan yang akan ku kirimkan pada Victoria. Belum selesai aku mengetik balasannya sebuah pesan masuk kembali.

 

From: Victoria Song

Apa tawaran makan siang itu masih berlaku?.

 

Beberapa detik kemudian….

 

To: Victoria Song

Apa kau berubah pikiran?.

Baiklah. Setidaknya kita sama – sama mengenang masa – masa kuliah kita dulu.

 

Nam Young merangkak dan bangkit berusaha menggapai ponsel milikku saat aku senyum – senyum sendiri menerima pesan dari Victoria. Namun dengan cepat aku memasukkan ponselku kedalam saku celanaku.

“ini bukan mainan chagi. Apa kau bosan dengan mainanmu?. Apa kau mau jalan – jalan sebentar.”

“Baiklah, kita pergi jalan – jalan sebentar karena kau sedang sakit.” Lanjutku seraya memasukkan mereka berdua kedalam kereta bayi.

 

********************

 

Malam ini sepertinya cerah untuk sekedar refreshing atau berjalan – jalan. Kebetulan juga Jae Woon dan Nam Young pasti suntuk dirumah seharian. Aku memutuskan utuk pergi berjalan – jalan sebentar keluar apartemen bersama mereka berdua. Aku hanya berjalan – jalan disekitar taman apartemen saja. Mengingat ini sudah masuk waktu tidur mereka.

Tiba – tiba pandanganku tertuju pada seorang namja yang memeluk yeoja berdiri tidak jauh dari gedung apartemen. Kulihat penampilan yeoja itu tak asing bagiku berambut panjang memakai T-shirt ungu dengan jeans hitam. Kuperhatikan lebih seksama lagi yeoja itu saat ia melepaskan pelukan dari sang namja. Seketika itu hatiku bagi dihantam batu besar yang menimbulkan sesak didada. Yuri!. Apa yang dia lakukan dengan Siwon?.

Samar – samar kudengar dari kejauhan tentang perkataan Siwon tapi jelas terdengar keras ditelingaku.

“kau yang selama ini memiliki hatiku. Aku mencintaimu meski kini kau milik orang lain. Kaulah adalah satu – satunya yeoja yang memiliki hatiku.”

“saranghae Yuri.”  Lanjutnya.

DEGH….

Aku mematung seketika. Dapat kurasakan lidahku kelu dan hatiku mencelos melihat dan mendengarnya. Akutak mau terlalu lama mendengar kata – kata yang keluar dari mulut Siwon. Dengan terpaksa aku membawa masuk mereka berdua. Aku tak mau memikirkan apa yang baru saja kulihat dan kudengar sebelum mereka mengetahui keberadaaku yang mengamati mereka.

Kulangkahkan kakiku pelandengan pandangan kosong memasuki apartemen dan mendudukan diriku disofa. Aku memijat kepalaku yang tak sakit. Aku membayangkan kejadian yang baru saja kulihat. Aku tahu jika Siwon adalah cinta pertama Yuri. Aku yakin jika Yuri tak bisa melupakannya. Tapi kenapa dia hadir saat aku dan Yuri memulai sebuah hubungan diatas sakralnya sebuah pernikahan?. Apa aku mempunyai hak melarang Yuri melupakan masa lalunya. Bagaimanapun juga Siwon pernah mengisi hatinya sebelum kedatanganku.

Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipi namun aku segera menghapusnya. Apakah ini yang dinamakan perasaan sakit karena mencintai seseorang?. Kenapa ini harus terjadi untuk kedua kalinya padaku Tuhan.  Tapi aku mencoba menepis perasaan yang sedang bersarang dibenakku.

Bagaimanapun aku juga seorang namja Yuri! yang mempunyai hati. Bagaimana tidak terlukanya aku melihat istriku secara terang – terangan berpelukan dengan seorang namja yang diketahui adalah mantan kekasihnya. Aku menangis. Ya, aku menangis. Menangisi seorang Yeoja yang aku cintai.

“Yuri-ya saranghae.” Lirihku pelan yang tak terasa membuat air mataku jatuh kembali.

 

********************

 

——TBC——

4 thoughts on “Stay With One Love (Part 2)”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s