Pride Prejudice part 4

P&P4

main cast: Kim Jong Woon (Yesung)

                  Lee Myun Hee (OC)

                  Kim Jong Jin

judul   : Pride & Prejudice (Part 4)

Author : Haebaraqui

Genre : Romance

Sedikit cuap-cuap author:

Author sebenernya pengen bikin yang pendek aja buat part 4 ini. Eh, jadinya malah panjang kayak biasa. Bakat terpendam buat jadi penulis scenario sinetron kayaknya nih. Oahahaha…. Anyway, happy reading and please do comment ^^

 

Handel & Gretel Yeouido

22.30

Myun Hee POV

Aku tengah membereskan tas ku di ruang karyawan. Sekarang sudah lewat pukul 10 malam dan Heon Gon oppa sudah menunggu untuk mengantarkan ku pulang.

“Ternyata kau memang dari keluarga kaya.” Jong Jin oppa masuk ke dalam ruangan lalu duduk di bangku yang terletak di tengah ruangan. Aku menghentikan aktifitas ku dan menoleh ke arahnya yang tengah tersenyum sambil bersedekap.

“Tadi aku berdiskusi dengan oppa mu tentang beberapa hal dan dia bercerita kalau Abonim mu adalah salah satu konsultan dan termasuk pemegang saham utama di Cowon Systems Inc, perusahan pengembangan software terbesar di Korea Selatan. Oppa mu juga ternyata pimpinan perusahaan Cowon di Amerika.” Aku terdiam, tidak tahu harus meminta maaf atau berkata apa. Aku sama sekali tidak suka jika orang lain mengetahui tentang latar belakang keluarga ku karena mereka akan memandang ku dengan tatapan berbeda. Dari dulu aku tidak terlalu cocok dengan teman-teman seumuran ku yang juga berasal dari keluarga kaya. Aku tidak mengerti kenapa mereka sangat suka memamerkan kekayaannya. Mereka senang sekali menunjukkan seluas apa rumah mereka atau sebanyak apa mobil mewah yang dimiliki keluarga mereka. Bagi ku itu semua tidak terlalu penting. Well, meskipun ada juga beberapa teman ku yang bersikap biasa saja. Namun aku juga tidak terlalu bisa diterima saat berteman dengan teman dari keluarga biasa karena mereka sering mengatai ku anak manja hanya karena aku memiliki pembantu di rumah.

“Bagi ku tidak masalah kau dari keluarga kaya atau keluarga biasa. Toh kau bekerja dengan baik. Tenang saja.” Jong Jin tersenyum lembut seolah bisa membaca pikiran ku saat ini.

“Mian.”  Akhirnya hanya itu yang bisa aku ucapkan meski aku tidak tahu kenapa aku harus meminta maaf. Aku menundukkan kepala ku, tidak berani melihat wajah Jong Jin. Jong Jin mengangkat dagu ku dan membuat ku mau tidak mau harus melihat wajahnya.

“Kenapa harus meminta maaf? Kau kan tidak melakukan kesalahan apapun ataupun berbohong. Jadi anggap saja tidak terjadi apa-apa. Oke?” Aku mengangguk. Jong Jin berjalan keluar tapi dia berhenti sejenak saat akan membuka pintu dan berbalik ke arah ku.

“Tapi jangan berharap aku akan menaikkan gaji mu.” Ucapnya sambil tertawa lalu berjalan keluar.

***

Myeongdong

17.45

Author POV

Suasana Myeongdong terlihat sangat ramai saat Myun Hee berjalan menyusuri deretan toko dan tempat makan bersama keluarganya.

“Appa, kau tau nama tempatnya?” Tanya Woo Hyun.

“Whystyle.” Jawab appa singkat. Myun Hee mencoba mengingat-ingat, sepertinya dia pernah mendengar nama itu disebut-sebut, tapi dimana?

“Itu dia!” Heon Gon menunjuk sebuah toko yang terlihat sangat ramai. Appa Myun Hee pun bergegas berjalan memasuki toko. Dia mengendarkan pandangannya ke sekililing toko yang terlihat cukup penuh karena sedang banyak pengunjung. Mata Myun Hee menyusuri sekeliling toko yang terlihat memiliki konsep minimalis dengan warna putih yang terlihat sangat dominan.

“Nam Kyu-ah!” Seseorang menepuk pelan bahu Tuan Lee.

“Kim Woon Jung.” Tuan Lee menyapa teman lamanya itu.

“Kau datang bersama keluarga mu?” Tanya Tuan Kim saat melihat Myun Hee dan yang lainnya yang berada tepat di belakang Tuan Lee.

“Nee. Mana istri dan anak-anak mu?”

“Bagaimana kalau kita naik ke atas dulu? Aku sengaja menyiapkan ruangan kosong di atas untuk acara malam ini. Anak-anak dan istri ku sepertinya sedang melayani pembeli. Akan ku minta pegawai memanggil mereka.” Tuan Kim pun berjalan menuju tangga yang mengantarkan mereka ke ruang atas. Ruang tersebut sepertinya juga akan menjadi tempat etalase, tapi untuk saat ini lemari etalase yang ada masih belum di isi. Tepat ditengah ruangan terdapat dua sofa yang cukup lebar saling berhadapan. Tuan Kim mempersilahkan Tuan Lee dan keluarganya untuk duduk.

“Ini Kim Woon Jung. Teman appa semasa kuliah dulu. Dia adalah pengusaha sukses dan anaknya ternyata pemilik Handel&Gretel tempat Myun Hee bekerja.” Myun Hee benar-benar terkejut saat appanya menyebutkan Handel&Gretel. Jangan-jangan……

“Benar-benar suatu kebetulan anak mu bekerja di tempat yang dikelola langsung oleh anak ku. Ini kedua anak laki-laki ku, Jong Woon dan Jong Jin.” Tuan Kim memperkenalkan kedua anaknya yang baru saja memasuki ruangan itu. Semenjak mendengar langkah kaki menaiki tangga, Myun Hee langsung menundukkan kepalanya dan terus berdoa semoga perkiraannya salah. Tapi ternyata apa yang dipikirkannya sejak tadi benar, Whystyle ini adalah store yang sering dibicarakan Jong Woon dan Jong Jin. Dan ternyata ahjussi dihadapannya ini adalah ayah dari dua kakak-beradik itu.

“Myun Hee-ya, kau mengenali mereka kan?” Suara Tuan Lee memaksa Myun Hee untuk mengangkat wajahnya dan melihat langsung ke arah dua namja dihadapnnya.

“Nee, mereka atasan ku di café.” Sahut Myun Hee pelan. Jong Woon terus menerus menatap Myun Hee dengan tatapan marah. Dia benar-benar terkejut saat berjalan memasuki ruangan atas dan melihat yeoja yang duduk di sofa. Dia merasa yeoja itu mirip sekali dengan Myun Hee, tapi segera menepis pemikiran itu mengingat Myun Hee bukan dari keluarga kaya. Tapi saat ahjussi yang duduk di seberangnya menyebut nama yeoja itu, entah kenapa dia merasa marah dan merasa telah ditipu. Myun Hee sendiri langsung kembali menundukkan wajahnya setelah melihat kearahnya sejenak. Jong Woon berpaling ke arah Jong Jin yang duduk di sebelahnya. Dia terlihat terkejut pada awalnya, tapi setelah itu dia hanya tersenyum. Bukan hanya saat bertukar pandangan dengan Myun Hee tapi juga saat bertukar pandangan dengan salah satu namja yang ada di samping Myun Hee. Selain itu dia juga merasa kesal saat melihat oppa Myun Hee yang kemarin sempat hampir memukulnya. Najma itu sendiri langsung memalingkan wajahnya saat tadi mereka bertukar pandang sekilas.

“Jong Woon sudah mengurusi seluruh perusahaan keluarga. Bisa dibilang aku menyerahkan jabatan CEO perusahaan padanya. Sementara Jong Jin hanya mengurusi café yang ada di Yeouido. Mungkin sedikit demi sedikit dia akan diberi lebih banyak tanggung jawab.” Ucap Tuan Kim sambil menepuk bahu Jong Jin yang duduk di sebelahnya pelan.

“Nee, saya masih harus banyak belajar dari Jong Woon hyung dan juga Heon Gon hyung yang sudah sukses memimpin Cowon di Amerika.” Sahut Jong Jin sopan. Jong Woon mengernyitkan dahinya, Jong Jin sudah mengenal keluarga Myun Hee? Kenapa bisa?

“Kalian sudah pernah bertemu?” Tuan Lee menyuarakan rasa penasaran Jong Woon.

“Dua hari yang lalu aku datang ke café tempat Myun Hee bekerja. Aku kemudian ngobrol cukup banyak dengan Jong Jin sambil menunggu Myun Hee pulang.” Jawab Heon Gon.

“Oh, harusnya kau mengajak appa dan eomma mu. Aku juga ingin melihat bagaimana putri ku bekerja. Dari ketiga anak ku hanya Heon Gon yang berminat dengan urusan perusahaan, sementara Woo Hyun lebih memilih menjadi arsitek dan putri ku itu… katanya dia mau membuka coffee shop.” Jelas Tuan Lee yang disambut dengan gelak tawa Tuan Kim.

“Jong Jin-ah, aku harap setelah hari ini kau tetap memperlakukan Myun Hee seperti karyawan biasa. Jangan sampai dibedakan. Anak ini harus belajar lebih banyak dan lebih keras lagi sebelum bisa membuka usahanya sendiri nanti.” Ucap Tuan Lee pada Jong Jin. Namja itu hanya mengangguk pelan.

“Appa, aku ini pekerja keras. Kau lupa? Kalau tidak mana mungkin aku bisa tahan menjadi anak mu.” Protes Myun Hee.

“Arrasso… Myun Hee sayang.” Ucap Heon Gon yang duduk di sebelah kanan Myun Hee.

“Oh iya, kalau boleh tahu, apa Myun Hee sudah punya namjachinggu?” Kali ini Nyonya Kim ikut bicara. Myun Hee hanya menggeleng sambil tersenyum simpul.

“Baguslah, Jong Woon juga tidak punya yeojachinggu. Entah kenapa dia jadi pemilih soal yeojachinggu, padahal umurnya sudah hampir 30.”

“Eomma.” Sahut Jong Woon protes. Jong Jin terkekeh pelan.

“Jong Jin juga tidak punya yeojachinggu.” Tambahnya.

“Aku belum setua kau hyung. Aku juga tidak se-picky kau.” Sahutnya yang membuat Jong Woon lebih kesal.

“Wah, aku pasti akan tenang jika bisa melepaskan putri ku pada namja seperti Jong Woon.” Kali ini Nyonya Lee menambahkan.

“Changkaman, apa kalian berniat menjodohkan Myun Hee dengan Jong Woon-ssi?” Suara Woo Hyun terdengar setengah berteriak.

“Woo Hyun-ah, pelankan suara mu.” Heon Gon menepuk bahu dongsaengnya itu.

“Appa, eomma, Tuan dan Nyonya Kim, apakah kalian sebenarnya ingin menjodohkan Myun Hee dengan Jong Woon-ssi? Apa itu tujuan dari pertemuan dua keluarga ini? Sebelumnya appa mengatakan kalau tujuan kami ke sini adalah karena appa tertarik untuk berinvestasi pada usaha kalian.” Kali ini Heon Gon yang berbicara dengan nada yang labih sopan.

“Baik Appa maupun Tuan Kim sudah menjalin kontak semenjak beberapa bulan yang lalu. Pada awalnya hanya berniat untuk membahas tentang penanaman investasi. Saat kami mengobrol ternyata appa diberitahu mengenai Jong Woon-ssi. Saat itu appa berfikir tidak ada salahnya memperkenalkan Jong Woon-ssi pada Myun Hee. Karena appa juga khawatir meninggalkan Myun Hee sendirian tanpa ada yang menjaganya. Kalian sendiri tahu dia tidak mau tinggal di Busan bersama appa dan eomma dan kalian sendiri sudah punya kehidupan masing-masing. Saat membicarakan tentang ini Tuan Kim setuju untuk mempertemukan mereka berdua.” Jelas Tuan Lee.

“Kami tidak berniat memaksa kalian berdua untuk menyetujui perjodohan ini. Hanya saja kami ingin kalian menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal. Kalau kalian menemukan kecocokan sebagai pasangan maka tentunya akan sangat bagus, tapi jika memang tidak bisa maka kami tidak akan memaksa.” Tuan Kim menambahkan.

“Bagaimana menurutmu, Wooni-ah.” Tanya Nyonya Kim pada Jong Woon. Myun Hee sendiri sudah kehilangan kata-katanya dan tidak sanggup berpikir saat mendengar tentang rencana perjodohan ini.

“Aku tidak setuju.” Kali ini bukan Jong Woon atau Myun Hee yang menjawab, melainkan Woo Hyun. Seluruh ruangan memusatkan perhatiannya pada Woo Hyun.

“Woo Hyun-ah.” Heon Gon berusaha menenangkan Woo Hyun.

“Sudahlah hyung, jangan menyuruh ku untuk diam dan tenang. Hyung sendiri juga tidak setuju dengan rencana ini kan? Hyung tau pasti alasannya kenapa kan?”

“Woo Hyun, jaga sikap mu.” Tuan Lee menaikkan suaranya. Suasana sontak berubah tegang.

“Appa, eomma, Tuan dan Nyonya Kim juga Jong Woon-ssi dan Jong Jin-ssi.” Suara lembut Heon Gon memecahkan ketegangan di ruangan itu.

“Sebelumnya aku mewakili Woo Hyun meminta maaf dengan sikapnya yang mungkin agak kasar. Tapi itu semua dilakukan karena kami mengkhawatirkan Myun Hee.” Heon Gon menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia bisa merasakan tangan Myun Hee yang menggengam erat tangannya saat ia berbicara.

“Ada hal terkait Myun Hee yang tidak appa dan eomma ketahui. Aku mengerti tentang kekhawatiran appa dan eomma pada Myun Hee yang tinggal sendirian di Seoul. Aku dan Woo Hyun juga khawatir, tapi perjodohan ini bukanlah langkah yang baik bagi Myun Hee.”

“Ada apa sebenarnya?” Nyonya Kim memandang Heon Gon dan Myun Hee bergantian.

“Maaf sekali. Tapi saya rasa akan lebih baik jika kami membicarakan masalah ini terlebih dahulu secara internal keluarga. Karena hal ini terkait privasi Myun Hee.” Jawab Heon Gon bijak. Dia menatap keluarga Kim bergantian mencoba memberikan pengertian mengenai situasi Myun Hee saat ini.

“Tapi kita belum mendengar bagaimana pendapat Jong Woon-ssi atau Myun Hee kan?” Nyonya Lee berucap.

“Bagaimana menurut mu?” Tuan Kim bertanya pada Jong Woon.

“Aku tidak keberatan appa. Aku ingin mengenal Myun Hee yang sebenarnya.” Namja itu menatap Myun Hee tajam. Rasa kesalnya masih belum hilang dari tadi ditambah lagi dengan reaksi Woo Hyun dan Heon Gon yang menurutnya berlebihan dan terkesan sedang menutupi sesuatu.

“Kalau kau sendiri, Myun Hee-ssi?” Kali ini Tuan Kim mengalihkan pandangannya pada Myun Hee yang masih menunduk.

“Aku….. aku…….”

“Jawab saja sejujurnya Hee-ya.” Heon Gon mengusap kepala dongsaengnya pelan.

“Aku tidak tau harus menjawab apa.” Jawab Myun Hee akhirnya. Otaknya terlalu pusing untuk bisa berfikir dengan baik.

“Baiklah, sepertinya kalian memang harus membicarakan masalah ini dulu. Sepertinya kita memang agak terburu-buru dalam merencanakan ini.” Putus Tuan Kim.

 

Jong Woon POV

Aku tidak banyak bicara sepanjang perjalan pulang dari Whystyle. Saat sampai di rumah, aku mengikuti Jong Jin yang hendak masuk ke kamarnya.

“Hyung!” Serunya kaget ketika melihat ku berdiri di depan pintu kamarnya saat ia akan menutup pintu. Seolah tahu alasan ku mendatanginya, dia memberikan jalan agar aku bisa masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu.

“Sudah berapa lama kau tahu tentang Myun Hee dan keluarganya?” Tanya ku langsung tanpa basa-basi. Aku sudah cukup lama menunggu untuk menanyakan banyak hal pada Jong Jin.

“Baru dua hari yang lalu saat Heon Gon hyung datang ke café dan kami berbincang-bincang.” Aku menatapnya seolah tidak percaya dengan sikap santainya saat ini.

“Kenapa kau terlihat seolah ini hanya hal kecil? Apa kau tidak merasa yeoja itu sudah membohongi kita?” Jong Jin balik menatap ku dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.

“Hyung, kenapa kau jadi semarah ini? Apa karena kau merasa sudah dibohongi oleh Myun Hee? Tapi aku merasa dia tidak pernah berbohong. Dari awal dia tidak menyebutkan latar belakang keluarganya. Tidak pernah menyebutkan bukan memalsukan. Kita saja yang menganggapnya dari kalangan biasa karena sikapnya yang sama sekali tidak seperti orang dari kalangan kaya biasanya. Lagipula what’s the big deal? Ini hanya soal status kan?”

“Jadi kau menerimanya begitu saja? Cish, aku benar-benar tidak percaya ini.” Aku keluar dari kamar Jong Jin. Aku tidak perlu mendengar apa-apa lagi. Sudah jelas sekali dia tidak menganggap hal ini serius. Aku masuk ke kamar ku dan menghempaskan diri ku ke tempat tidur. Dengan frustasi aku mengacak-acak rambut ku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa merasa semarah ini pada Myun Hee. Yang aku tau aku merasa sudah ditipu oleh yeoja itu. Selama ini aku menganggap dia yeoja dari kalangan menengah dan karena itulah aku mau mengajaknya berkencan. Dan dia tidak pernah mengelak saat aku mengatakan kalau dia adalah dari kalangan biasa. Bukankah itu sama saja dengan mengatakan kalau dia bukan dari keluarga kaya? Lagipula, kenapa dia harus menutup-nutupi latar belakang keluarganya?

***

Handel&Gretel

19.00

Myun Hee’s POV

Empat hari sudah berlalu sejak kejadian di Whystyle. Jong Woon tidak pernah lagi datang ke café ini. Entah kenapa aku merasa harus menjelaskan semuanya kepada namja itu. Meskipun sebenarnya aku juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi tatapannya malam itu benar-benar membuat ku merasa aku sudah membohonginya. Jong Jin saja tidak mempermasalahkan hal ini, kenapa dia bisa jadi semarah itu? Benar-benar namja yang merepotkan!

“Lagi-lagi kau melamun.” Jong Jin menjitak kepala ku pelan.

“Aku tidak sedang melamun!” Elak ku.

“Keh, kau ini tidak pandai berbohong.” Aku hanya tertawa sambil menggaruk kepala ku yang sebenarnya tidak gatal.

“Malam ini kau mau pergi sebentar bersama ku?” Aku terkejut mendengar tawaran Jong Jin.

“Ada yang ingin ku bicarakan.” Tambahnya.

“Baiklah.” Apa yang ingin dibicarakannya? Memangnya tidak bisa membicarakannya di sini saja? Aku memandang Jong Jin dengan tatapan penasaran tapi namja itu tidak mamu memberikan sedikitpun clue tentang apa yang ingin dibicarakannya malam ini. Apa ini mengenai Jong Woon?

***

Namdaemun

22.30

Aku dan Jong Jin berjalan di antara ratusan orang yang berlalu-lalang di jalanan Namdaemun. Suasana Namdaemun tidak jauh berbeda dengan Myeongdong. Ada berbagai toko dan tempat makan disepanjang jalan.

“Kau pernah kemari?” Tanya Jong Jin pada ku yang tengah sibuk melihat berbagai toko yang kami lewati. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Ini memang pertama kalinya aku ke sini.

“Ada snack bar yang enak di sini.” Tanpa banyak bicara aku mengikuti Jong Jin yang berjalan hingga kami berhenti di salah satu snack bar. Jong Jin memesan dua porsi ddeokbokki dan seporsi odaeng. Dia juga menawari ku untuk minum soju tapi aku menolah karena aku memang tidak bisa minum.

“Apa kau merasa bersalah pada Jong Woon hyung?” Jong Jin tiba-tiba bertanya. Aku terdiam. Aku sendiri tidak tau apakah aku merasa bersalah.

“Entahlah. Aku sendiri juga tidak mengerti. Jong Woon ssi terlihat sangat marah malam itu dan membuat ku berpikir apakah aku sudah melakukan kesalahan.” Jong Jin tersenyum.

“Lalu menurut mu, kau salah?”

“Aku merasa ada kesalahpahaman antara aku dan Jong Woon. Setengahnya karena dia sendiri yang terlalu gampang menilai seseorang dengan pemikiran stereotypenya dan aku sendiri tidak berusaha memperbaiki anggapannya yang salah mengenai ku. Mungkin karena selama ini dia hanya bertemu dengan yeoja kaya yang tidak pernah bekerja, dan itu membuatnya berpikir bahwa tidak mungkin ada yeoja dari keluarga kaya yang mau bekerja. Aku sendiri tidak protes saat oppa atau dia terlanjur menganggap ku dari kalangan menengah. Karena menurut ku itu bukanlah masalah.”

“Menurut kau atau pun aku mungkin itu hanya masalah status. Tapi tidak bagi Jong Woon hyung. Hyung dulu pernah punya yeojachinggu. Dari kalangan atas. Menurut hyung dia yeoja yang cantik, menarik juga cerdas. Tapi dia punya sifat buruk, princess-disease. Dia ingin semua orang menuruti kemauannya.  Hyung hanya bertahan selama dua bulan. Setelah itu dia juga pernah punya hubungan dengan yeoja lain. Juga dari keluarga. Tapi yeoja kali ini senang sekali pergi ke pesta. Meskipun kau tidak mau mengakui tapi kau pasti sadar kan kalau hyung ku itu memang namja yang cukup populer. Hyung bisa sukses mencapai posisinya saat ini sebelum usia 30. Yeoja itu senang sekali menunjukkan kalau dia adalah yeojachinggu seorang Kim Jong Woon. Sampai akhirnya hyung merasa yeoja itu mau bersamanya bukan karena benar-benar menyukainya tapi karena status yang dimiliki hyung. Sejak saat itu hyung memang agak skeptis pada yeoja dari keluarga kaya.” Aku hanya dia mendengarkan penjelasan Jong Jin.

“Aku selalu merasa hyung merasa nyaman saat berada didekat mu. Sikap yang selalu ditunjukkannya pada mu itu belum pernah dilakukannya pada siapapun. Dia sudah terlanjur menganggap kau yeoja biasa. Karena jujur saja aku juga merasa kau memang terlalu biasa untuk ukuran yeoja dari kalangan atas.” Aku memberikan death glare. Apa maksudnya aku terlalu biasa? Tapi Jong Jin hanya terkekeh, “maksud ku, kau menentang semua teori hyung selama ini mengenai yeoja dari keluarga kaya.”

“Sepertinya aku memang harus berbicara dengan Jong Woon-ssi. Meskipun aku masih belum tau apa yang harus dibicarakan. Soal itu lihat situasinya saja nanti. Haaah…. Jong Woon itu benar-benar merepotkan!! ” Jong Jin tersenyum dan mengacak rambut ku pelan.

“Hyung ku itu sepertinya hanya terkejut.”

“Terkejut?”

“Nee, dia terkejut ternyata ada juga yeoja dari kalangan atas yang seperti mu.”

“Yak, yang seperti ku? Apa maksudnya?” Aku pasang tampang cemberut. Tadi dia menyebut ku terlalu biasa untuk orang kaya, sekarang dia mengeluarkan kalimat yang menyebalkan lagi.

“I’m complementing you nona.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Jong Jin menatap ku cukup lama dan sukses membuat ku salah tingkah.

“Kau malu?” Dia tertawa melihat reaksi ku!

“Berhenti tertawa!” Protes ku sambil melempari Jong Jin dengan tissue-tissue. Tiba-tiba dia memegang kedua tangan ku yang sibuk melemparinya.

“Kau yeoja yang manis dan menarik. Kau tau itu? Dan aku rasa hyung benar-benar menyukai mu.” Aku buru-buru menarik tangan ku karena merasa agak tidak nyaman dengan apa yang dilakukannya saat ini. Dia masih tersenyum menatap ku.

“Kau pernah ke Jepang?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Aku juga pernah ke sana. Japan is one of my favorite countries.”

“Jinja?” Dalam sekejap suasana tidak nyaman dan agak kikuk yang tadi sempat aku rasakan menguap. Ternyata Jong Jin juga suka manga, terutama One Piece. Obrolan kami mengalir begitu saja. Hal yang paling aku sudah dari Jong Jin adalah dia bisa membuat ku nyaman saat berada di dekatnya, baik dari sikapnya maupun cara bicaranya. Pukul 12 malam kami baru pulang dari Namdaemun. Jong Jin sengaja mengantarkan ku karena subway sudah tidak beroperasi lagi dan dia tidak mau aku pulang dengan taksi.

“Kau boleh datang agak siangan besok. Aku merasa bersalah karena sudah membuat mu pulang selarut ini.” Ucapnya saat dia mengantarkan ku hingga depan pintu rumah.

“Eiy, mana boleh kau bersikap seperti itu. Karyawan lain akan menganggap kau pilih kasih. Tenang saja, aku masih bisa bangun pagi besok.” Bagaimanapun juga aku tidak mau diperlakukan istimewa. Dia mengangguk dan tersenyum puas.

“Baiklah, kalau kau memang bisa datang tepat waktu besok. Good night.” Dia menyentuh puncak kepala ku lembut sebelum pergi.

***

Kim’s Residence

09.00

Jong Woon POV

Selama hampir seminggu aku tidak datang ke Handel&Gretel Yeoido. Biasanya aku akan ke sana jika ada perlu dengan Jong Jin tapi sekarang aku lebih memilih untuk memanggil Jong Jin ke kantor atau membahasnya di rumah. Aku sedang malas bertemu dengan yeoja bernama Myun Hee. Hari ini hari minggu dan karena tidak ada rencana berpergian maka akupun memutuskan untuk bangun agak siangan. Setelah mandi aku bergegas ke dapur karena perut ku mulai berteriak-teriak meminta sarapan. Ternyata hanya ada eomma dan dua ponakan ku, Min Ho dan Hae Ri di ruang makan. Kedua ponakan ku yang berumur 3 dan 5 tahun ini dititipkan orang tuanya tadi malam. Mereka pergi ke Paris untuk honeymoon kedua dan eomma dengan senang hati mengasuh kedua anak kecil ini.

“Mana Jong Jin dan appa.” Ucap ku sambil duduk dan mencomot toast bread yang ada di meja.

“Jong Jin ke café sementara ayah mu ke Whystyle.” Eomma terlihat sibuk mengurus kedua anak kecil itu.

“Kau ada rencana hari ini?” Tanya eomma. Aku menggeleng.

“Baguslah, eomma harus pergi menyusul appa mu ke Whystyle dan sepertinya agak susah membawa Min Ho dan Hae Ri. Jadi kau jaga mereka ya?” Aku memberengut.

“C’mon eomma, aku ingin bersantai hari ini.” Rajuk ku seperti anak kecil. Aku tidak membenci anak kecil, aku menyukainya, hanya saja sekarang aku sedang ingin bersantai. Sangat jarang aku bisa menikmati hari minggu dengan bersantai dan tidak melakukan apa-apa. Seringkali aku harus berpergian ke luar kota pada saat weekend untuk meninjau cabang usaha kami di kota lain. Jadi saat-saat libur total seperti ini benar-benar berharga bagi ku.

“Ayolah, kau tidak mau membantu eomma? Hanya hari ini saja.” Hah, mana mungkin aku bisa menolak permintaan eomma. Meskipun enggan aku tetap mengangguk. Melihat respon ku, eomma pun tersenyum lebar. Dia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.

“Kajja, kita main-main di ruang tengah!” Ucap ku sambil menurunkan kedua ponakan ku dari tempat duduk mereka. Dengan patuh mereka mengikuti ku ke ruang tengah dan aku pun mengeluarkan berbagai mainan dari kotak mainan mereka. Eomma keluar dari kamarnya saat terdengar suara bel pintu.

“Biar aku yang membuka.” Ucap eomma saat aku hendak berdiri.

“Omo, kebetulan sekali kau datang. Kau punya waktu luang hari ini? Baguslah, kau bisa menemani Jong Woon menjaga keponakannya.” Suara nyaring eomma terdengar hingga ruang tamu. Aku penasaran siapa yang datang sehingga eomma berteriak kegirangan seperti itu. Tapi mood ku langsung berubah drastis begitu melihat siapa yang datang. Dengan langkah pelan dan sambil menunduk, Myun Hee berjalan di belakang eomma. Dia menatap ku sejenak lalu membungkuk sebentar tapi setelah itu kembali menunduk.

“Eomma tinggal dulu ya. Itu Min Ho dan itu Hae Ri. Tolong jaga mereka berdua.” Tanpa membuang waktu eomma berjalan keluar meninggalkan aku dan Myun Hee. Kedua keponakan ku sepertinya tidak menghiraukan kedatangan Myun Hee ataupun suasana tegang yang mulai terasa di ruangan ini. Mereka terus saja bermain.

“Kau mau berdiri sampai kapan?” Tanya ku pada Myun Hee yang terus saja berdiri kaku.

“Ah, nee.” Dengan kikuk dia duduk di lantai, dibelakang Min Ho. Min Ho yang menyadari keberadaannya berbalik.

“Annyonghaseyo.” Sapa Myun Hee pada Min Ho. Yeoja itu tersenyum lebar saat menyapa Min Ho.

“Nugu?” Tanya Min Ho.

“Myun Hee imnida. Panggil ahjumma saja.” Jawabnya masih dengan senyum lebarnya. Apa maunya ke sini sebenarnya? Tapi aku tidak sempat bertanya apa-apa karena dalam sekejap dia sudah terlihat sibuk bermain dengan Min Ho dan Hae Ri. Dia terlihat berguling-guling di lantai saat Min Ho pura-pura menembaknya, dan tidak lama kemudian dia terlihat sibuk menemani Hae Ri yang bermain dengan bonekanya.

“Kau tidak mau membantu?” Tanyanya pada ku.

“Kau saja!” Sahut ku ketus lalu berdiri.

“Aku ingin bicara dengan mu.” Ucapnya saat aku mulai berjalan beberapa langkah. Aku menoleh ke arahnya yang tengah memegang mobil mainan Min Ho.

“Mau bicara apa lagi? Semuanya sudah jelas nona Lee Myun Hee, putri dari konsultan Cowon Systems Inc.” Aku berkata dengan nada sinis.

“See, itu sebabnya kita perlu berbicara. Kau dan segala pemikiran stereotype dan judgement mu itu perlu dirubah.”

“Aku merasa tidak ada yang perlu dirubah.” Kali ini sepertinya kedua keponakan ku itu merasakan aura menegangkan dari kami berdua karena mereka berhenti bermain dan hanya memandang kami bergantian.

“Kita berbicara nanti saja, setelah eomonim pulang. Aku tidak ingin membuat Min Ho dan Hae Ri tidak nyaman.” Putusnya.

“Terserah kau saja.” Aku mulai berjalan.

“Look who’s being childish now.” Ucapnya setengah berteriak. Tapi aku tidak menghiraukannya dan tetap berjalan.  Aku masuk ke kamar dan langsung menghempaskan tubuh ku ke tempat tidur. Aku tidak tau apa yang ingin ku lakukan sekarang dan ku rasa aku juga sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Dari kamar sesekali terdengar suara tawa Myun Hee, Min Ho dan Hae Ri. Kelihatannya kedua keponakan ku itu sudah akrab dengan yeoja itu. Aku menutup kedua kuping ku dengan bantal. Entah kenapa aku merasa terganggu dengan suara tawa Myun Hee. Kenapa dia bisa tertawa selepas itu? Apa dia tidak merasa bersalah dengan semua yang sudah dilakukannya pada ku? Aish!

Aku tidak tahu berapa jam yang aku habiskan di kamar. Aku terus saja tiduran lalu bangun lalu membuka lap top untuk membuka beberapa situs lalu bermain game dan kembali tiduran. Entah berapa puluh kali aku melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai akhirnya aku sadar suara tawa ketiga orang di bawah sudah tidak terdengar lagi. Penasaran, aku pun keluar kamar dan berjalan menuju ruang keluarga yang sudah kosong. Aku memanggil Min Ho dan terdengar sahutan dari arah dapur. Aku pun pergi ke dapur dan mendapati kedua keponakan ku sedang duduk di meja makan sementara Myun Hee terlihat sibuk memasak.

“Ahjussi akhirnya bangun juga!” Komentar Hae Ri saat melihat ku masuk. Myun Hee berbalik sejenak untuk melihat ku kemudian kembali ke kegiatannya sendiri. Aku mengambil tempat duduk di samping Hae Ri.

“Kau datang di saat yang tepat. Aku baru saja mau menyuruh Hae Ri untuk memanggil mu.” Myun Hee datang dengan sepiring Nasi Goreng Kimchi yang terlihat mengepul. Dia meletakkan piring itu di tengah-tengah meja. Dengan telaten dia mengisi piring yang ada di hadapan kedua keponakan ku dengan nasi goreng buatannya. Dia juga menyiapkan scrambled egg di piring yang lebih kecil dan meletakkanya di samping piring nasi Min Ho dan Hae Ri.

“Min Ho-ya, kau mau ku suapi?” Tanyanya.

“Dia bisa makan sendiri, gwenchana.” Hae Ri yang menyahut.

“Gereu. Ayo makan.” Dia menyentuh pelan puncak kepala Min Ho dan Hae Ri. Ini pertama kalinya aku melihat Myun Hee seperti ini. Well, selama ini aku memang hanya bertemu dengannya di coffee shop jadi jelas aku tidak pernah melihat yeoja ini selain saat dia bekerja. Kalau dipikir-pikir aku memang tidak tau apa-apa mengenai dia.

“Kau tidak makan?” Kali ini dia mengalihkan perhatiannya pada ku setelah memastikan tidak ada lagi yang diperlukan kedua keponakan ku. Aku masih memasang tampang dingin ku.

“Aku tidak yakin dengan makanan buatan mu.” Sahut ku sinis.

“Nasi buatan ahjumma enak!” Hae Ri menyahut nyaring. Myun Hee terkekeh mendengar jawabannya sambil menjawil pelan hidung anak kecil itu.

Kruyukkkkkkkkkk!!!!

Dan dia langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perut ku yang berbunyi nyaring. Shit, kenapa perut ku sama sekali tidak mau bekerja sama kali ini saja! Sambil tertawa dia mengambil piring dan meletakknya di hadapan ku. Dengan enggan aku mengambil nasi dihadapan ku dan mulai menyuap sesendok. Aku mengunyah pelan untuk memastikan makanan ini cukup aman dimakan.

Hmmm… ternyata makanan buatannya boleh juga.

 

Myun Hee POV

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Aku melirik Min Ho yang terlihat sudah mulai mengantuk.

“Ayo tidur siang.” Ajak ku pada Min Ho dan Hae Ri. Hae Ri berjalan mendahului ku yang menggendong Min Ho menuju sebuah kamar yang berada di sebelah ruang tamu. Ternyata Jong Woon mengikuti ku dari belakang.

“Ini kamar orang tua ku nona Myun Hee. Bagaimana mungkin aku membiarkan orang asing masuk ke kamar orang tua ku tanpa aku awasi.” Ucapnya sinis sebelum aku sempat mengajukan pertanyaan. Cish, aku hanya menatapnya tajam sejenak.

“Ahjumma, bisakah kau menyanyi?” Ucap Hae Ri tiba-tiba saat mereka sudah berbaring dengan tenang di tempat tidur.

“He?” Menyanyi? Aku? Mana mungkin, batin ku.

“Eomma senang sekali menyayi saat kami akan tidur. Min Ho juga akan tertidur lebih cepat jika dinyanyikan.” Aku menatap Jong Woon yang berdiri bersedekap di depan pintu.

“Aku tidak bisa menyanyi sama sekali.” Ucap ku pelan pada namja itu sambil memasang tampang memohon bantuan. Dia mendengus kesal tapi tetap berjalan mendatangi kami dan duduk di sisi tempat tidur, tepat di samping ku.

“Aku tidak tau lagu anak-anak, tapi aku akan menyanyikan lagu kesukaan ku untuk kalian.” Ucapnya sambil mengusap dahi Hae Ri lembut. Wajahnya saat berbicara dengan anak itu berbeda sekali dengan saat menatap ku tadi. Baguslah, setidaknya dia tidak terlihat marah jika dihadapan anak-anak ini. Hae Ri hanya mengangguk sementara Min Ho memandang lekat Jong Woon. Namja itu menyuruh aku yang duduk untuk berdiri agar dia bisa duduk dengan lebih leluasa. Meski kesal tapi aku tetap berdiri tanpa protes. Dia masih mengusap dahi Hae Ri lembut lalu mulai bernyanyi. Bukan hanya Min Ho dan Hae Ri yang terhipnotis dengan suara namja itu. Bahkan aku yang berdiri dibelakangnya pun ikut memejamkan mata untuk menikmati suaranya yang seolah sebuah karya seni yang dipahat sempurna. An art of vocal. Aku tidak tau dibalik nada sinis yang seringkali diucapkannya tersimpan suara indah.

Aku membuka mata ku perlahan saat Jong Woon berhenti bernyanyi. Aku mendekat ke sisi tempat tidur dan melihat Min Ho dan Hae Ri terlihat sudah tertidur lelap. Akupun memutuskan untuk keluar dan merapikan ruang keluarga yang sudah dibuat berantakan saat kami bermain-main tadi.

“Bisakah kita bicara sebentar?” Jong Woon yang tengah berjalan menuju tangga berhenti saat mendengar suara ku. Dia menatap ku tajam. Ekspressi dinginnya kembali terlihat.

“Mau bicara soal apa lagi?”

“Apa lagi? Kita masih belum membicarakan apapun sajangnim. Bisakah kau berhenti bersikap sinis sebentar saja dan biarkan aku meluruskan masalah ini?” Aku susah payah menekan rasa kesal ku. Aku harus lebih bersabar kali ini.

“Masalah apa sebenarnya? Aku tidak merasa ada masalah.”

“Sudahlah, berhentilah bersikap kekanakan. Kali ini saja. Jebal. Jelas-jelas masalahnya adalah kau dan rasa kesal mu itu.” Dia mendengus kesal dan berjalan menuju sofa di dekat ku kemudian menghempaskan tubuhnya.

“Bicaralah sekarang.” Nada marah jelas sekali terdengar dari suaranya. Aku menghela nafas pelan mencoba meredam kemarahan ku sendiri. Sebenarnya aku tidak perlu repot melakukan ini semua karena aku merasa aku tidak salah, setidaknya tidak sepenuhnya salah ku.

“Aku tau kau kesal saat mengetahui aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang cukup kaya.” Aku memulai kalimat ku dengan hati-hati. Dia tidak berkomentar apapun jadi aku memutuskan untuk melanjutkan penjelasan ku.

“Aku memang berasal dari keluarga yang cukup berada tapi sejak kecil ayah dan ibu selalu mengajarkan hidup yang tidak terlalu berlebihan. Bisa dibilang gaya hidup keluarga kami tidak seperti kebanyakan keluarga kaya lainnya. Rumah kami dulu bahkan tidak terlalu besar. Aku sekolah di sekolah swasta karena appa ingin aku belajar dengan fasilitas yang bagus. Sekolah itu jelas penuh dengan murid dari keluarga kaya dan sejak awal aku merasa aku tidak begitu cocok dengan mereka. Aku merasa tidak suka dengan gaya hidup mereka. Tapi aku masih bisa bertahan. Saat SMP aku memutuskan untuk masuk ke sekolah biasa, dimana kebanyakan muridnya dari kalangan menengah. Sayangnya saat mengetahui status orang tua ku, beberapa dari teman sekolah ku sering sekali mengancam ku untuk memberikan uang. Ada juga yang mau berteman dengan ku tapi setelah sekian lama berteman aku sadar mereka hanya ingin mengambil keuntungan dari ku. Sejak itu aku benar-benar tidak suka memberi tahu status ku. Aku tidak ingin dinilai berdasarkan status. Hampir semua orang yang aku temui memiliki prasangka yang sama saat mendengar kata ‘anak orang kaya’ dan aku benar-benar membencinya. Karena itu aku tidak mencantumkan latar belakang sekolah ku karena aku tau kalian pasti bisa menebak latar belakang keluarga ku hanya dari nama sekolah dasar ku. Ternyata kau adalah orang dengan prasangka paling buruk yang pernah ku kenal. Kau dan pikiran stereotype mu. Aku tau kenapa kau menganggap ku telah menipu mu. Kau merasa tertarik dengan ku karena menganggap aku dari kalangan menengah kan? Dan saat menemukan kenyataan bahwa aku justru dari kalangan atas yang kau benci, kau merasa aku sudah membohongi mu.”

Aku terdiam. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku jelaskan. Aku dan Jong Woon sama-sama terdiam cukup lama dan hanya berkutat dengan pikiran masing-masing sampai sebuah suara mengagetkan kami berdua.

“Jong Woon-ah, Myun Hee-ya.” Aku spontan berdiri saat melihat eomma Jong Woon datang.

“Mana Min Ho dan Hae Ri?” Tanyanya saat melihat ruang keluarga yang sepi.

“Mereka sedang tidur siang di kamar.” Jawab ku sopan. Aku mengambil tas ku yang tergeletak di pinggir sofa dan bersiap untuk pulang.

“Jong Woon-ah, antarkan Myun Hee pulang.” Suruh Nyonya Kim saat aku berpamitan pulang. Kebalikan dari dugaan ku, ternyata Jong Woon langsung berdiri tanpa protes. Dia mengambil salah satu kunci yang berada di kotak kunci di dinding dan menjawil lengan ku. Tanpa berkata apapun aku mengikutinya keluar dan menaiki mobil yang biasa dibawanya.

 

Author POV

Jong Woon menghentikan mobilnya di depan taman yang berada tidak jauh dari rumahnya. Myun Hee menatap namja itu heran.

“Kenapa kau bisa tahu rumah ku? Kenapa memutuskan untuk mendatangi ku.” Tanya Jong Woon.

“Setelah kita bertemu malam itu, Jong Jin oppa memberitahu ku kalau kau sangat kesal. Aku ingin menjelaskan semuanya secepatnya pada mu tapi kau tidak muncul di café selama seminggu. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi mu dan Jong Jin oppa menyuruh ku untuk datang ke rumah kalian saja saat kau sedang libur bekerja.” Jelas Myun Hee.

“Kenapa kau harus menjelaskan ini semua kalau kau merasa tidak bersalah. Lagipula dari awal kau kan tidak begitu suka dengan ku, kenapa masih repot-repot melakukan ini semua?”

“Aku tidak suka dengan kesalahpahaman seperti ini. Hal seperti ini akan mempengaruhi cara berpikir dan cara mu menilai orang. Kau tipe orang yang seperti itu. Kau pasti akan memandang setiap yeoja yang kau temui dengan pandangan tidak percaya. Kasian calon istri mu nanti. Dia pasti harus berusaha keras untuk membuat mu percaya padanya. Or the worst case, kau tidak akan menikah sama sekali.” Jong Woon menatap Myun Hee tajam.

“Itu bukan urusan mu nona Myun Hee.”

“Itu urusan ku karena sedikit banyak kesalahpahaman ini timbul karena aku.” Jong Woon tidak menyahut lagi dan kembali menjalankan mobil. Setelah hampir tiga puluh menit mereka akhirnya sampai di depan rumah Myun Hee tapi yeoja itu tidak langsung turun.

“Kita sudah sampai. Kau tidak turun?” Jong Woon membuka suara lebih dulu. Myun Hee menoleh dan menatap namja di sampingnya.

“Bagaimana kalau kita kencan?” Jong Woon mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat yang meluncur dari yeoja yang jelas-jelas terlihat enggan saat pertama kali namja itu mengajaknya berkencan.

“Apa kau lupa waktu perjanjian kita sudah lewat? Sudah lewat tiga minggu dan itu berarti kau sudah lepas dari perjanjian kencan kita dan aku sama sekali tidak berminat untuk menggantinya.”

“Kali ini aku yang mengatur kencan kita. Aku yang menentukan kapan dan dimana.” Jawab Myun Hee tegas.

“Dan kenapa aku harus menyetujuinya?”

“Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan seperti apa diriku sebenarnya. Diluar semua stereotype dan penilaian serta prejudice mu tentang aku selama ini.” Jong Woon berpikir sejenak. Baginya, yeoja dihadapannya ini telah membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap yeoja manapun. Ia tidak tau lagi bagaimana mempercayai ucapan seorang wanita. Myun Hee telah memporakporandakan semua standar dan caranya menilai juga melihat seorang wanita. Wanita dari kalangan atas atau dari kalangan menengah semuanya sama saja. Sama-sama tidak bisa dipercaya.

“Diam berarti iya. Gonna contact you soon.” Tanpa menunggu sahutan apapun dari Jong Woon, Myun Hee langsung membuka pintu mobil.

“Apa kau memaksa ku nona Myun Hee?”

“Hmmm… I don’t know what YOU called this, but just for your information, aku hanya melakukan seperti apa yang biasanya kau lakukan pada ku.” Sahut Myun Hee santai sebelum menutup pintu mobil dan meninggalkan Jong Woon yang masih melongo mendengar jawaban menohok dari Myun Hee.

***

Handel&Gretel

08.30

Myun Hee POV

 

“Fresh look! You cut your hair?” Komentar Jong Jin oppa adalah kalimat pertama yang aku dengar saat aku baru melangkahkan kaki memasuki café. Aku tersenyum dan mendekati Jong Jin yang sedang berada di balik meja barista. Dia terlihat sedang memanaskan coffee maker.

“Coming early sajangnim?” Aku justru menjawab pertanyaanya dengan pertanyaan yang sama sekali tidak nyambung. Dia hanya tersenyum. Entah kenapa tadi malam aku merasa ingin sedikit merubah penampilan ku dan memutuskan untuk memotong rambut ku yang sebenarnya juga tidak terlalu panjang.

“It’s  nice to have you back.” Sahutnya sambil menyerahkan apron pada ku.

“I’m here. Aku tidak kemana-mana.”

“Keh, memangnya kau tidak merasa kalau selama hampir seminggu kau terlihat berbeda? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Aku sampai khawatir. Kau menemui Jong Woon hyung kemarin?” Aku mengangguk. Aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata selama seminggu ini aku seperti itu.

“Dia sudah tidak marah lagi?” Aku hanya mengangkat bahu. Aku tidak tahu dia masih kesal atau tidak mengenai status keluarga ku yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya mengenai alasan ku menyembunyikan keadaan keluarga ku. Dia bisa menerima itu atau tidak bukan urusan ku lagi.

“Dan soal perjodohan kalian? Apa sudah dibicarakan dengan hyung?” Lagi-lagi Jong Jin mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin aku jawab saat ini. Aku menghela nafas.

“Aku tidak tahu. Aku belum bertanya pada Jong Woon-ssi tentang hal ini. Apa orang tua kalian membahas soal ini lagi dengan Jong Woon-ssi?”

“Appa hanya bilang tidak ada salahnya kau dan hyung saling mengenal. Well, mungkin kalian bisa berkencan sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjodohan ini atau tidak.” Aku tertawa pelan mendengar kata ‘berkencan’. Jong Jin oppa belum tau saja bahwa aku sudah dua kali berkencan dengan hyungnya. Dan sama sekali tidak bisa dibilang kencang yang menyenangkan.

“Kenapa? Ada yang lucu?” Tanyanya saat mendengar tawa ku. Aku menggeleng lalu pergi ke ruang karyawan sebelum atasan ku yang satu ini mengajukan lebih banyak pertanyaan.

***

A week later

In front of Kim’s residence

07.30

Aku menghentakkan kaki ku bergantian di tanah sambil menatap sebuah pintu yang tidak kunjung terbuka. Sudah hampir 15 menit sejak aku menghubungi Jong Woon dan menyuruhnya untuk segera keluar rumah. Yep, hari ini adalah hari minggu dan hari kencan ku dengan namja arogan itu. Setelah merayu Jong Jin agar bisa libur dihari Minggu seperti minggu kemarin, aku langsung menghubungi Jong Woon untuk memberitahunya hari kencan kami. Aku sudah mengatur kencan kami hari ini secara mendetail. Pintu kemudian terbuka dan seorang namja dengan tampang kesal melangkah keluar mendatangi ku.

“Yak, kenapa pagi-pagi sekali? Ini hari libur!” Aku hanya tersenyum simpul mendengar omelannya tanpa keinginan untuk membalas. Aku sedang ingin menghemat energy.

“Kau tidak ingin masuk dulu?” Tanyanya dengan nada suara lebih ramah.

“Aniya, kalau aku masuk orang tua mu pasti akan langsung menghubungi orang tua ku. Dan jika orang tua ku tau maka besar kemungkinan kedua oppa ku juga akan tau aku pergi dengan mu. Kalau Heon Gon oppa sih masih tidak masalah, tapi kalau Woo Hyun oppa sampai tau, habislah kita.” Aku berjalan mendahului Jong Woon menuju jalan utama.

“Woo Hyun oppa mu itu sister complex ya?” Aku berbalik dan memberikan pandangan membunuh pada Jong Woon yang reflex berhenti saat aku berbalik menghadapnya.

“Sekali lagi kau mengatakan sesuatu yang jelek tentang oppa ku, liat saja akibatnya. Woo Hyun oppa punya alasan sendiri atas tindakannya yang kadang memang sedikit over-protektif.”

“Keh. Terserah kau saja lah.” Sahut Jong Woon sinis. Aku kembali berjalan dan langsung menghentikan taksi saat kami sudah berada di jalan utama. Jong Woon berkali-kali bertanya tujuan kami tapi aku hanya menyuruhnya untuk diam dan tidak banyak bertanya. Sepertinya dia sangat kesal dengan jawaban ku. Aku bisa melihat jelas dari ekspresi wajahnya tapi aku sudah cukup terbiasa melihat ekspressi itu. Taksi kami berhenti setengah jam kemudian di depan Gimpo Airport. Jong Woon menatap ku heran saat aku menyuruhnya untuk turun dari taksi.

“Kita mau kemana sebenarnya?” Tanyanya lagi. Aku menunjukkan tiket yang aku pegang.

“Busan!?!” Ucapnya setengah berteriak. Beberapa orang yang ada disekitar kami menengok sesaat ke arah kami.

“Jangan protes. Aku yang mengatur kencan hari ini. Dan membayarnya.” Aku sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhir. Dia mengacak rambutnya. Sepertinya dia frustasi. Mungkin dia sudah terbiasa mengontrol segala sesuatunya sehingga merasa kesal saat menyadari kalau hari ini aku yang mengontrol dia.

***

 

Busan

09.30

Jong Woon POV

“Kau sudah pernah ke Busan?” Myun Hee bertanya pada ku yang tengan memandang jalanan Busan dari balik jendela bus yang sedang kami naiki.

“Keluarga kami punya beberapa usaha di Busan.” Jawab ku pendek.

“Hmmmm… tapi kau sudah pernah berkeliling Busan? Ke pantai misalnya?” Aku mengalihkan pandangan ku ke arah yeoja yang duduk di samping ku.

“Aku datang untuk mendatangi beberapa tempat yang terkait usaha kami lalu kembali ke Seoul. That’s it. Aku tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan.”

“Great.” Dia tersenyum lebar saat mendengar jawaban ku. Aku mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti dengan maksudnya.

“Tema kencan kita hari ini adalah “Busan Course Date.” Tambahnya.

“Terserah kau saja. Tapi aku tidak mau menginap di Busan. Besok aku ada meeting penting pagi-pagi sekali.” Sahut ku sinis lalu kembali memandang jalanan Busan pagi ini. Setelah hampir 30 menit perjalanan, kami turun di stasiun Jagalchi market, salah satu pasar ikan terbesar di Busan.

“Mau apa kemari?” Dengan enggan aku mengikuti Myun Hee yang berjalan diantara deretan penjual ikan.

“Kau suka sushi kan? Aku akan membuatkan sushi untuk makan siang kita. Jadi kita perlu ikan segar.” Tanpa ragu Myun Hee berjalan menyusuri jalanan pasar yang sudah mulai ramai, dia sepertinya hafal tempat ini. Setelah berjalan hampir 10 menit, kami berhenti didepan penjual ikan.

“Ahjumma!” Myun Hee menyapa seorang ahjumma yang tengah duduk diantara baskom-baskom yang menampung berbagai macam ikan.

“Myun Hee-ya! Lama sekali tidak bertemu!” Ahjumma itu langsung memeluk Myun Hee. Diluar dugaan ternyata yeoja ini sepertinya sering menginjakkan kaki di pasar karena penjual ikan ini terlihat cukup mengenal Myun Hee.

“Berikan aku salmon segar. Seperti biasa.” Dengan sigap ahjumma tadi menyiapkan seekor ikan salmon dan memasukkanya dalam kantung plastic.

“Lama sekali aku tidak melihat mu? Bagaimana kabar Heon Gon? Aish, aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Eomma mu bilang dia sudah punya dua anak!”

“Heon Gon oppa sedang ada di Seoul. Nanti aku akan menyuruhnya mengunjungi mu di sini.” Ahjumma tersebut sepertinya mulai sadar akan keberadaan ku. Dia memandangi ku dan Myun Hee bergantian.

“Dia atasan tempat ku bekerja. Kebetulan dia ingin liburan ke Busan tapi tidak tau mau melakukan apa di sini. Dan aku memutuskan untuk menemaninya.”

“Aaah……” Ahjumma tersebut membungkuk sejenak dan menyapa ku. Aku membalasnya hormat.

“Baiklah, aku pergi dulu. Kamsahamnida, ahjumma!” Kami pergi dengan sekantung salmon. Tapi Myun Hee tidak langsung keluar, dia justru berkeliling pasar untuk membeli beberapa sayuran. Jujur saja ini pertama kalinya aku pergi ke pasar. Bahkan eomma saja setau ku tidak pergi ke pasar, eomma biasanya pergi ke supermarket untuk membeli keperluan di rumah.

“Gereu, semua bahan sudah ada. Ayo kita ke rumah.” Dengan langkah ringan Myun Hee berjalan keluar dari pasar dan kamipun kembali menaiki bis.

“Heon Gon oppa dan eomma senang memasak. Oppa paling suka sushi, jadi kadang aku ikut kemari untuk menemani oppa atau eomma berbelanja.” Tanpa ku tanya Myun Hee sudah langsung berbicara. Aku hanya diam sementara dia terus menceritakan masakan apa saja yang sering dibuat oppa dan eommanya. Terus terang ini pertama kalinya Myun Hee bercerita panjang lebar tanpa perlu aku tanya. Sepertinya moodnya kali ini sedang sangat bagus.

 

Author POV

Setelah hampir tiga puluh menit, Myun Hee dan Jong Woon akhirnya sampai ke stasiun Haeundae Beach.

“Kita akan ke pantai?” Tanya Jong Woon saat melihat papan nama stasiun tempat mereka turun.

“Nanti, tapi sekarang kita ke rumah dulu.” Myun Hee mendahului Jong Woon berjalan menuju sebuah kompleks perumahan. Sayup-sayup Jong Woon bisa mendengar suara deburan ombak, sepertinya mereka tidak jauh dari pantai. Myun Hee akhirnya berhenti didepan sebuah rumah dengan gaya arsitektur minimalis. Tipikal rumah modern. Dia membuka pintu masuk kemudian mempersilahkan Jong Woon untuk masuk.

“Ini ruang keluarga, kau bisa menonton TV atau bermain game sementara aku memasak.” Myun Hee mengantarkan Jong Woon ke ruang keluarga yang cukup luas sambil menunjuk ke arah Nintendo wii yang biasa dimainkan Woo Hyun. Hanya ada satu sofa di ruangan itu. Ditengah-tengah ruangan terdapat karpet yang cukup luas dengan beberapa bantal yang diletakkan di tengah. Saat berkumpul bersama, keluarga Myun Hee memang lebih suka duduk di lantai atau berbaring sambil menonton TV.

Musik mulai terdengar dari dapur. Heon Gon senang mendengarkan music sambil memasak dan dia sukses menularkan kebiasaan itu pada Myun Hee. Jong Woon memencet asal remote TV ditangannya tapi tidak ada satupun channel yang menarik perhatiannya. Dia kemudian melihat-lihat deretan games yang ada di rak di samping TV, tapi dia tidak tau game mana yang menarik karena dia tidak suka bermain game semacam play station atau Nintendo. Tidak tau apa yang harus dilakukan, Jong Woon pun akhirnya berjalan menuju ruang makan yang berhubungan langsung dengan dapur.

Dia menarik pelan salah satu kursi yang ada di ruang makan dan memperhatikan Myun Hee yang tengah memasak. Yeoja itu tidak tau jika Jong Woon tengah memandanginya karena Myun Hee berdiri memunggungi Jong Woon. Entah kenapa Jong Woon tidak bisa melepaskan pandangannya dari Myun Hee yang terlihat menikmati apa yang dikerjakannya sekarang, sambil sesekali bergumam pelan mengikuti lagu yang tengah didengarnya. Tanpa disadari jantung namja itu mulai berdetak tidak karuan. Jong Woon akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan bergegas kembali ke ruang keluarga. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk menormalkan detak jantungnya.

“Kau kenapa?” Myun Hee yang baru saja masuk merasa bingung melihat Jong Woon yang sepertinya terengah-engah.

“Ani, tidak apa-apa.” Jong Woon menjawab tanpa memandang Myun Hee. Dia masih mencoba mengendalikan tubuhnya sendiri.

“Eum, gereu. Ayo kita makan siang. Bantu aku menyiapkan piring dan yang lainnya.” Myun Hee berjalan melewati Jong Woon menuju sebuah pintu kaca. Rumah keluarga Lee berhadapan langsung dengan pantai. Terdapat sebuah meja tepat ditengah-tengah halaman tersebut lengkap dengan kursi-kursi yang ditata mengelilingi meja tersebut. Ada dua pohon besar yang berada di kedua sisi halaman tersebut sehingga siapapun bisa menikmati indahnya pantai di siang hari tanpa merasa kepanasan.

 

Jong Woon POV

Aku membawa beberapa peralatan makanan dan meletakkannya di atas meja sementara Myun Hee tengah mengatur beberapa kotak makanan. Ada kotak yang berisi sushi, egg roll, pancake pumpkin dan juga salad. Setelah makanan siap, dia kembali ke dapur dan keluar lagi dengan membawa wadah minuman berisi ice lemon tea.

“Mari makan!” Ucapnya nyaring saat semua makanan dan minuman tersusun rapi di meja.

“Yak, potongan sushinya tidak rapi!” Protes ku saat aku mengangkat satu bagian sushi.

“Jangan banyak protes, makan saja. Penampilan bukan segalanya sajangnim, yang penting rasanya!” Dia langsung mengambil sushi dan memasukkan ke mulutnya.

“Cish, awas kalau sampai tidak enak! Kau harus pergi ke restaurant sushi dan membelikan sushi paling enak untuk ku.”

“Sudah, makan saja dulu baru protes!” Dia mengacungkan sumpitnya ke arah ku. Dengan enggan aku mengambil sushi dihadapan ku dan mengunyahnya perlahan-lahan.

“Otthe?” Dia menatap ku dengan tatapan penasaran.

“Hmm… nasinya lumayan enak. Ikannya juga tidak terasa amis.” Dia tersenyum mendengar pujian ku.

“Jangan besar kepala dulu nona Myun Hee. Aku bilang lumayan, bukan berarti enak.” Dia langsung mengerucutkan bibirnya begitu mendengar komentar tambahan ku.

“Kau belajar memasak dimana?” Tanya ku setelah mencoba egg roll dengan campuran kimchi buatannya yang ternyata enak.

“Saat baru pindah ke US, Heon Gon oppa mengajari ku beberapa masakan simple.” Tanpa sadar aku mulai memandangi yeoja dihadapan ku.

“Wae?” Tanyanya saat menyadari aku sedang menatapnya.

“Ani. Kau benar-benar terlihat lebih mirip yeoja dari kalangan menengah, bukannya dari keluarga kaya.” Myun Hee mencibir dan memukul kepala ku pelan.

“Yak!” Protes ku.

“Sudah ku bilang, kau harus memperbaiki sifat stereotype mu itu. Benar-benar menyebalkan.” Aku terdiam. Lagi-lagi aku tanpa sadar terus memandanginya.

“Jangan terlalu lama memandangi ku, nanti kau akan jatuh cinta pada ku, sajangnim.” Aku langsung mengalihkan pandangan ku. Setelah makan siang Myun Hee mengajak ku menyusuri pantai Haeundae kemudian ke Busan Aquarium yang merupakan salah satu aquarium dengan teknologi tercanggih di dunia. Yeoja yang bersama ku ini terlihat kegirangan saat kami berjalan menyusuri aquarium sambil melihat-lihat ikan-ikan yang ada di dalamnya. Sekali-sekali dia menujuk-nunjuk ke dalam aquarium saat menemukan ikan yang menurutnya lucu dan unik. Benar-benar kekanak-kanakan.

***

Pukul 6 sore kami sudah kembali ke Seoul. Myun Hee sepertinya agak kecewa saat tidak bisa melihat sun set dari Busan Tower karena aku memaksanya untuk segera kembali ke Seoul. Dari bandara kami kembali menaiki taksi menuju rumah Myun Hee. Disepanjang perjalanan pulang, sebuah pertanyaan terus menggantung dipikiran ku. Sesampainya di rumah Myun Hee, aku ikut turun dari taksi. Myun Hee menatap heran saat aku berjalan mengikutinya memasuki rumahnya.

“Ada yang ingin aku tanyakan pada mu.” Ucap ku sambil melewatinya yang masih berdiri di depan pintu. Aku duduk di sofa sementara yeoja itu hanya berdiri di hadapan ku sambil bersedekap.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Apa kau menyukai Jong Jin?” Aku menatapnya tegas. Aku sudah pernah menanyakan ini padanya tapi dia tidak memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Kali ini aku perlu jawaban pasti. Dia mengalihkan pandangannya dari ku.

“Myun Hee-ya.” Panggil ku. Dia menatap ku kembali.

“Apa itu penting?”

“Tentu saja. Kau menyukai Jong Jin atau tidak? Jika ya maka kita hentikan saja kencan dan perjodohan orang tua kita. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang sia-sia.” Jujur saja, itu bukan satu-satunya alasan aku menanyakan Myun Hee mengenai perasaanya pada Jong Jin. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan. Yeoja dihadapan ku ini masih diam mematung. Kesal menunggu, aku pun berdiri dihadapannya dan memegang bahunya. Dia terlihat terkejut dan hendak melepaskan diri tapi cengkraman ku dibahunya cukup kuat untuk menahannya.

“Apa mau mu?” Tanyanya sedikit nyaring.

“Jawab saja. Ya atau tidak.”

“Aku tidak tahu.”

“Lalu apa kau menyukai ku?” Dia menatap ku seolah tidak percaya dengan pertanyaan yang baru saja kulontarkan.

“Jadi kau menyukai aku atau Jong Jin.” Lagi-lagi yeoja dihadapan ku ini terdiam. Entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba saja memegang tengkuknya dan menciumnya. . Myun Hee mencoba berontak dengan mendorong ku sekuat tenaga sehingga aku melepaskan bibir ku dari bibirnya. Aku bisa melihat dengan jelas wajah terkejut Myun Hee dan air matanya yang mulai mengalir. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. Ciuman tadi benar-benar diluar kendali ku.

Tiba-tiba saja Myun Hee terduduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Awalnya aku hanya melihat bahunya yang bergetar tapi lama kelamaan terdengar isakan.

-tbc-

5 thoughts on “Pride Prejudice part 4”

    1. waaahhh.. author nya juga lupa kalo masukin ff part 4 ini di sini.. he, mian…
      buat baca part selanjutnya, cek di haebaragime.wordpress.com aja ya.. ^^
      kalo di sini antri publish dulu soalnya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s