My Idol! – Part 1

Aku kembali dengan fanfict KyuYoung yang aku janjiin🙂 Maaf baliknya lama karena well, lagi-lagi alasan klasik: sibuk. Tapi ciyusan deh, aku memang beneran sibuk -___-

Dan sebelum aku curhat nggak penting di sini, let’s look at what I’ve done for you guys😀

Have a nice reading~

 

@dianeyeye

Casts : Cho Kyuhyun, Choi Soo Young, and the other casts

Rate : Parental Guide (PG)

 

Kalau kau punya kesempatan untuk bertemu dengan idolamu secara langsung, apa yang akan kau lakukan? Minta tanda tangannya? Foto bersamanya? Atau bilang padanya kalau kau sangat menyukainya?

Tapi bagaimana jika ternyata kau bertemu dengan ‘sisi lain’ idolamu itu? Masih bisakah kau menyukainya, meminta tanda tangannya, dan berfoto bersamanya?

 

Soo Young’s pov

Gyaaa~ Ada big poster Cho Kyuhyun oppa di majalah K-Idol terbaru! Aku harus membelinya! Yang kumaksud Cho Kyuhyun oppa adalah seorang penyanyi muda yang sedang naik daun dan sangat kukagumi. Meskipun dia solo, ketenarannya tidak kalah dengan boyband yang sekarang sedang menjamur.

Oppaku itu orang yang sangat ramah pada fansnya. Buktinya saja dia sering menyapa para fans fanatiknya yang selalu menunggunya di depan gedung manajemen, radio tempatnya siaran, atau studio rekamannya. Selain itu, menurutku dia itu namja yang perfect. Sikapnya baik, wajahnya tampan, karirnya cemerlang, pintar, dan yang paling penting : dia bukan gay! Apalagi yang kurang dari seorang namja perfect? Oh, well, dia juga rajin ke gereja.

Sudah hampir dua tahun aku jadi fangirl-nya. Meskipun hidup di atas daratan yang sama, Korea Selatan, dan menghirup udara yang sama dengannya, aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Selama ini aku cuma bisa melihatnya di tivi dan video.

Mungkin kalian akan berpikir, kenapa tidak pergi ke konsernya saja? Atau ikut dengan fans lainnya, menungguinya di depan kantor manajemen, radio tempat dia siaran ataupun studio rekamannya? Well, kalau aku bisa melakukannya, aku pasti sudah bertemu dengannya dari dulu. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena suatu alasan.

Satu harapan terbesarku sebelum meninggal adalah aku ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun oppa.

 

“Halmeoni, aku pulang!” teriakku sambil melepas sepatu di pintu depan. Rumahku kelihatan sepi sekali. Halmeoni juga tidak menjawabku, padahal biasanya beliau langsung menyambutku. Ya, aku memang hanya tinggal berdua bersama Halmeoni-ku karena kedua orang tuaku sudah meninggal enam belas tahun lalu. Sedangkan aku adalah anak tunggal. Satu-satunya saudara yang kupunya hanya Halmeoni.

Setelah meletakkan sepatu di rak, aku masuk ke dalam rumah. “Halmeoni, Halmeoni di mana?” masih tidak ada jawaban. “Halmeoni…” kesusuri setiap jengkal rumah untuk mencari Halmeoni.

Kesimpulan yang kudapat setelah mencari di sekeliling rumah adalah Halmeoni tidak ada! Eotteokkaji? Halmeoni ke mana? Halmeoni tidak pernah pergi tanpa memberitahuku terlebih dulu.

“Soo Young ah, kau sudah pulang?” aku mendengar suara Sun Kyu ahjumma di ruang depan. Aku segera berlari menghampirinya.

“Ne, Ahjumma. Ada apa?” tanyaku. “Oh iya, Ahjumma lihat Halmeoni tidak? Halmeoni tidak ada di rumah.”

“Nah, itu dia yang mau aku katakan padamu. Halmeoni masuk rumah sakit. Tadi beliau jatuh waktu menjemur pakaian. Untung saja aku melihatnya, jadi aku langsung menelepon ambulans. Kau cepatlah ke rumah sakit, siapa tahu Halmeoni butuh sesuatu.”

Aku menganga tidak percaya. Halmeoni jatuh lagi? Hampir tiga minggu yang lalu Halmeoni jatuh juga. Ketika sedang menyapu ruang tengah, tiba-tiba Halmeoni jatuh ke lantai. Untung saja aku melihatnya dan Halmeoni tidak terluka. Waktu itu aku tidak berprasangka apa-apa. Kupikir mungkin saja Halmeoni hanya kelelahan. Tapi sekarang aku mulai was-was. Ada apa dengan Halmeoni?

 

“Jadi bagaimana keadaan Halmeoni, Dok?” tanyaku pada dokter Kim Heechul, dokter yang menangani Halmeoni.

Dokter Kim yang tampan terus mengamati hasil scan Halmeoni. Ia lalu mengangkat wajahnya dan pandangan kami bertemu. “Sayang sekali. Keadaan Halmeonimu agak jauh dari kata baik. Karena jatuh itu Halmeonimu mengalami stroke. Dan sekarang sistem saraf sebelah kirinya lumpuh.”

Aku terhenyak. “Stroke?”

“Ne. Stroke yang lumayan serius. Dan yang paling penting sekarang, Halmeonimu belum melewati masa kritisnya.”

Aku terdiam. Halmeoni, orang yang paling dekat denganku, satu-satunya keluarga yang kupunya, sedang dalam keadaan kritis. Tidak terasa airmataku menetes. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Halmeoni, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?

Aish, apa yang sedang kupikirkan ini? Aku tidak boleh berpikiran buruk tentang Halmeoni dan kondisi kesehatannya. Aku harus optimis. Halmeoni pasti bisa sembuh! Aku yakin Halmeoni pasti bisa kembali sehat.

“Jangan sedih,” hibur Dokter Kim, “kita kan belum tahu perkembangan kondisi halmeonimu. Semoga saja beliau cepat melewati masa kritisnya dan segera sadar.”

Aku tersenyum dan menghapus airmataku. “Dok, soal biaya rumah sakitnya…”

“Tidak perlu memikirkan itu dulu. Administrasi awal sudah dibayarkan oleh tetanggamu yang mengantarkan Halmeoni ke sini. Sisanya bisa kau bayar nanti saja. Yang penting kau mendoakan Halmeoni supaya cepat sadar dan sembuh.” Dokter Kim tersenyum menghiburku. Ah, orang ini benar-benar baik.

Aku mengangguk pelan dan berkata, “Kalau begitu aku permisi dulu, Dok.” Aku berdiri dan menunduk sedikit ke arah Dokter Kim. Setelah beliau mempersilakanku, aku keluar dari ruangannya dengan pikiran gamang.

Bagaimana aku bisa dapat uang untuk membayar biaya rumah sakit?

Well, selama ini aku bekerja parttime sebagai guru privat anak SD dan SMP. Muridku ada tiga orang. Tapi kalau cuma mengandalkan itu pasti tidak cukup karena semua hasil part-timeku digunakan untuk biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari. Kalau memakai tabunganku… ah, tidak mungkin. Tabunganku tinggal sedikit karena sudah digunakan untuk biaya masuk kuliah. Dan tabungan itu hanya boleh digunakan jika ada keadaan yang super duper mendesak. Satu-satunya jalan adalah aku harus mencari pekerjaan tambahan. Tapi pekerjaan apa?

 

Kunyalakan lampu ruang depan lalu duduk di sofa panjang yang ada di sana. Kutumpangkan kepalaku di lengan sofa. Pikiranku masih gamang sedangkan tubuhku rasanya sangat lelah. Aku bingung dan lelah. Juga tidak punya tenaga untuk melakukan apa-apa.

Rasanya terlalu aneh ketika berada di rumah tanpa Halmeoni. Biasanya kami selalu mengobrol setelah aku menyelesaikan tugas-tugasku. Tapi sekarang, rumah terasa benar-benar sepi. Aku kangen Halmeoni.

Sambil menghela nafas berat, kupaksakan diri untuk bangkit. Tujuanku kembali ke rumah adalah mengambil beberapa baju halmeoni dan bajuku sendiri. Malam ini aku harus menemani Halmeoni. Kasihan Halmeoni, beliau paling susah menyesuaikan diri dengan tempat baru.

Kupilih beberapa baju yang simpel dan mudah dipakai, lalu cepat-cepat menjejalkannya di ranselku. Sudah jam setengah 10 malam dan bus terakhir yang menuju ke rumah sakit berangkat sekitar jam 10. Kalau tidak mau ketinggalan bus, aku harus cepat-cepat. Dari rumah ke halte membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

“Soo Young ah? Itu kau?”

Aku terkesiap kaget mendengar seseorang memanggil namaku. Kupicingkan mataku mencari-cari sosok yang memanggilku itu. Aku mendesah lega ketika mendapati Sun Kyu ahjumma di depan pintu rumahku.

“Soo Young ah, bagaimana keadaan Halmeoni? Maaf aku tidak bisa menungguinya di rumah sakit,” kata Sun Kyu ahjumma lagi.

Aku tersenyum tipis. “Tidak apa, Ahjumma. Aku malah berterima kasih karena sudah mau mengantarkan Halmeoni. Oh iya, masalah biaya yang Ahjumma bayarkan, nanti biar aku ganti.”

Sun Kyu ahjumma langsung menggoyang-goyangkan tangannya. “Tidak usah. Tidak usah diganti.”

“Tapi Ahjumma…”

“Tidak ada tapi-tapian. Aku melakukannya untuk Halmeoni. Ah, sekarang kau mau kembali lagi ke rumah sakit?” tanya Sun Kyu ahjumma lagi.

Aku mengangguk. “Ne. Halmeoni mungkin akan segera sadar.”

“Lalu bagaimana kuliahmu?”

Aku terdiam sebentar. Benar juga, bagaimana dengan kuliahku besok? Kenapa aku tidak memikirkannya sama sekali? “Err, aku belum tahu, Ahjumma,” kataku jujur. “Mungkin besok aku bolos kuliah dulu.”

“Ya sudah, terserah kau saja. Tapi ingat, kau jangan sampai melupakan kuliahmu. Aku tahu kau sayang sekali dengan Halmeoni. Tapi tidak benar jika kau melupakan kuliah hanya untuk menjaga Halmeoni,” nasihat Sun Kyu ahjumma panjang lebar. “Kurasa Halmeoni-mu pun tidak suka jika kau sering-sering bolos kuliah.”

Aku mengangguk lagi. “Ne, Ahjumma. Akan kuingat itu. Mm, aku pergi dulu Ahjumma. Titip rumah ya,” kataku sambil tersenyum.

Sun Kyu ahjumma hanya mengangguk. Dan setelah aku mengunci pintu depan, kami sama-sama keluar dari halaman. Sun Kyu ahjumma masuk ke rumahnya, sedangkan aku berjalan cepat ke halte.

 

“Kau tidak kuliah, Soo Young ah?” suara Im Yoona, sahabatku, terdengar khawatir ketika dia meneleponku esok paginya.

Aku menggeleng walaupun tahu Yoona tidak bisa melihat itu. “Ani. Aku harus menjaga Halmeoni-ku. Siapa tahu beliau sadar.”

“Mm, arasseo.”

“Nanti pinjam catatanmu, ya?”

“Mm. Nanti sore aku ke sana,” kata Yoona. “Soo Young ah, sudah dulu ya. Park seonsaengnim sudah datang. Annyeong.” Ia memutus sambungan telepon begitu aku menjawab ucapan sampai jumpanya.

“Yosh! Choi Soo Young, sekarang yang harus kau lakukan adalah cari kerja tambahan! Gaji menjadi guru privat masih belum cukup untuk membayar biaya rumah sakit, jadi cari kerja sekarang juga!” seruku menyemangati diri sendiri.

Tangan kiriku lalu menarik lipatan koran dari dalam ranselku. Koran kemarin sore. Kubuka halaman lowongan pekerjaan dan kuteliti bagian itu. “Baby sitter… car wash… restoran… housemaid…” kulingkari pekerjaan-pekerjaan yang mungkin bisa kucoba.

Aku lalu meraih ponselku dan menghubungi lowongan pertama. Baby sitter. Well, tidak masalah buatku untuk menjaga anak kecil. Aku kan suka dengan anak kecil!

“Ah, yeoboseyo. Choi Soo Young imnida. Saya ingin menanyakan tentang lowongan pekerjaan yang ada di koran. Di sini disebutkan Anda sedang membutuhkan baby sitter… ah, begitu? Mm, algaessimnida. Kamsahamnida.” Gagal. Coret lowongan pertama.

Kuhubungi lowongan kedua dan jawaban yang kudapat mengecewakan. Lowongan itu sudah ditutup kemarin. Lowongan ketiga pun sama. Harapanku sekarang tinggal di lowongan keempat. Kupencet nomor ponsel yang tertera di koran dengan hati berdebar keras.

“Yeoboseyo?” terdengar suara seorang namja ketika nada sambung berhenti. Hei, suara ini… kok aku sepertinya mengenalnya ya? Sepertinya aku sering mendengar suara ini.

Aku langsung gelagapan. “Ah, yeoboseyo. Choi Soo Young imnida. Saya melihat iklan lowongan pekerjaan di koran dan menemukan nomor telepon ini di sana…”

“Jweisonghamnida, mungkin Anda salah sambung,” potong namja itu cepat, bahkan sebelum aku mengutarakan maksudku meneleponnya. Benar-benar tidak sopan!

“Ah, tunggu dulu. Di sini disebutkan kalau Anda membutuhkan jasa housemaid. Saya ingin melamar.” Tidak kalah cepat aku menyelanya.

Hening sebentar… “Melamar apa?”

Jleduk! Aku meringis karena terlalu keras membenturkan kepalaku di dinding. Bego banget sih orang ini! Rutukku dalam hati, mengutuk namja di telepon ini. “Melamar untuk jadi housemaid Anda. Kalau boleh tahu siapa nama Anda?”

“Kau ini bagaimana? Mau jadi housemaid-ku tapi tidak tahu namaku. Lalu bagaimana kau bisa menemukan rumahku?” tiba-tiba suaranya agak meninggi.

Aku melongo sebentar. “Kan di koran dituliskan alamat Anda, Tuan,” jawabku ragu. Sepertinya aku ketularan bego-nya orang ini, ciss.

“Oh, benar juga.” Hyaaa~ rasanya aku ingin segera menemui namja ini dan menelannya hidup-hidup! Ya ampun, apa ada yeoja yang mau menjadi istrinya ya? “Kalau begitu, datang saja ke rumahku besok jam 9. Kau bisa langsung bekerja.” Klik! Telepon langsung diputus begitu ia menyelesaikan kalimatnya.

Aku terpana beberapa detik. Namja ini… benar-benar aneh! Super duper hiper kuper (?) aneh! Menyuruhku langsung datang ke rumahnya tanpa memberitahu siapa namanya. Kalau aku nyasar bagaimana?! Ck, sepertinya butuh kesabaran ekstra jika bekerja untuknya. Well, kita lihat saja besok. Apakah aku akan bekerja padanya atau tidak.

 

Sorenya Yoona benar-benar datang. Ia membawakan catatan mata kuliah yang kulewatkan plus kimchi jjigae yang kelihatannya sangat enak. Dia juga menemaniku menjaga Halmeoni sampai malam. Aaah, Yoona memang sahabatku yang paling baik! Benar-benar beruntung aku punya sahabat seperti Yoona. Yah, walaupun kadang dia bisa berubah super menyebalkan.

Tapi yang membuatku sedih, Halmeoni belum juga sadar. Padahal ini sudah 1×24 jam beliau dirawat. Hatiku tidak tenang memikirkan keadaan Halmeoni. Walaupun sudah sekuat tenaga menghalau berbagai pikiran buruk, tetap saja pikiran itu muncul di benakku.

Ya Tuhan, semoga saja Halmeoni cepat sadar. Semoga beliau cepat sembuh. Aku ingin beliau kembali sehat lagi jadi kami bisa berkumpul di rumah, Tuhan. Aku mohon pada-Mu…

 

Esoknya…

Aku terbangun mendengar lagu Listen to You milik Cho Kyuhyun oppa yang menjadi ringtone ponselku. Kuregangkan badanku yang terasa pegal sebentar sebelum mencari di mana ponselku berada. Ah, itu dia di atas meja. Di layarnya yang berkedip tertera nama Yoona.

“Ne?” sapaku dengan suara serak.

“Kau sudah bangun belum?”

Aku menguap. “Sudah, sudah. Telepon darimu membuatku bangun,” jawabku asal.

“Yah! Ini sudah jam 8! Mau jam berapa kau berangkat kerja?!” suara Yoona membuatku membelalakkan mata ke arah jam dinding. Ya Tuhan…

“Aigoo. Ck, gomawo Yoona ya. Kalau kau tidak menelepon mungkin aku masih mengembara di alam mimpi. Aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah membangunkanku. Muaah.” Langsung kututup ponselku. Hahaha, Yoona pasti sedang cemberut sekarang. Lalu dia pasti ngomel-ngomel tidak jelas, mengutuk perbuatanku barusan.

Hyaa~ kenapa aku jadi memikirkan Yoona? Aku kan harus cepat-cepat. Daerah rumah orang aneh menyebalkan yang kutelepon kemarin kan lumayan jauh dari sini. Mungkin bisa satu jam perjalanan termasuk nyasar dan bingung.

“Halmeoni, aku pergi dulu ya. Halmeoni sendirian tidak apa, kan? Soo janji akan cepat pulang kok. Annyeong, Halmeoni,” bisikku di telinga Halmeoni sebelum aku pergi. Setelah mengusap pipi Halmeoni beberapa kali, aku pun meninggalkannya.

 

Gangnam distric, Haebaragi road 204. Kutatap kertas kecil ditanganku berkali-kali sambil menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari rumah tempat aku akan bekerja. Lima menit kemudian langkahku berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah. Mewah yang benar-benar mewah. Rumah lantai dua yang dicat putih, dengan balkon menghadap ke samping. Tapi yang paling kusuka adalah desainnya yang unik. Aku tidak bisa membayangkan berapa uang yang dihabiskan pemilik rumah ini waktu membangunnya.

Perlahan kutekan bel. Tidak lama, sebuah suara yang familiar –si namja aneh menyebalkan- terdengar, “Siapa di sana?”

Aku berdeham sebelum menjawabnya, “Aku yang kemarin menelepon untuk mencrai pekerjaan. Namaku Choi Soo Young.”

Jeda sejenak, lalu… “Ne, masuklah.” Bersamaan dengan itu, pintu gerbang terbuka. Aku menghela nafas ketika memasuki halaman rumput yang lumayan luas.

Pintu depan sudah terbuka jadi aku langsung masuk sambil menggumamkan permisi. Pandanganku langsung dimanjakan oleh setting ruang tamu yang mewah. Bergaya mediteran, ruang tamu itu didominasi warna abu-abu dan putih.

“Ehem.”

Aku langsung berbalik begitu menyadari seseorang di belakangku. Dan saat itulah duniaku seperti berhenti mendadak. Aliran darahku juga. Bagaimana tidak? Orang itu, orang yang berdiri di belakangku itu kan… Cho Kyuhyun oppa!

Refleks aku menutup mulutku dengan dua tangan dan mendesis, “Ya Tuhan…”

 

Kyuhyun’s pov

Aku menatap yeoja yang sedang berdiri di ruang tamuku. Kurasa ia sedang mengagumi interiornya. Bahkan dia tidak menyadari keberadaanku sampai aku berdehem di belakangnya. Yeoja itu langsung menoleh. Tapi setelah itu tatapan matanya berubah kaget.

“Ya Tuhan…” aku bisa mendengar dia mendesis kaget.

Kutatap yeoja itu dengan alis terangkat. Well, aku agak heran melihatnya. “Kukira orang yang meneleponku kemarin adalah seorang wanita paruh baya.” Itulah kalimat yang terpikir di otakku. Benar-benar payah.

Yeoja itu menyerngit. Ia kelihatan akan menjawab tapi tidak jadi. Dia malah menundukkan kepala sedikit dan mulai memperkenalkan diri. “Annyeong haseyo. Choneun Choi Soo Young imnida. Aku yang kemarin meneleponmu. Dan umurku baru 21 tahun.”

Aku terpaku melihatnya. Entah kenapa dia kelihatan begitu mempesona. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terdiam. Matanya… bulat dan besar. Wajahnya juga kelihatan menenangkan dan… entahlah, tidak sulit dilupakan menurutku.

“Jogiyo…” panggilnya, membuatku tersadar, “neo… neoneun Cho Kyuhyun ssi ga (apakah kau Cho Kyuhyun)?” matanya membesar ketika mengatakan itu.

Aku menatapnya lurus. “Benar. Namaku memang Cho Kyuhyun. Ada apa?” tanyaku tengil, pura-pura tidak tahu alasannya menanyakan namaku.

Dia tersentak, meskipun tidak terlalu kentara aku tetap bisa melihatnya. “Cho Kyuhyun yang penyanyi itu?”

Aku mengangguk. “Guraeyo! Memangnya ada berapa orang yang namanya Cho Kyuhyun di Korea?”

Dia terdiam sebentar. Kukira ia akan berteriak kegirangan dan meminta tanda tanganku, tapi ternyata reaksinya diluar dugaanku. Dia malah mendengus dan membuang muka. “Ternyata beda,” gumamnya lirih. Aku bisa mendengarnya tapi pura-pura tidak mendengar.

“Mworagoyo (apa katamu)?” selidikku.

Ia menggeleng dan tersenyum tipis, membuatku kembali harus menahan nafas karena terpesona. “Aniyo. Ah iya, benarkah aku bisa langsung bekerja?”

“Ne. Kau bisa mulai kerja hari ini. Kau bisa melakukan apa?” ujarku sambil berjalan ke ruang tengah sambil memberinya isyarat untuk mengikutiku.

“Aku bisa apa saja. Mencuci, memasak, menyapu, mengepel, bersih-bersih semua bisa kulakukan.”

Aku tersenyum tipis mendengar jawabannya. “Tentu saja kau harus bisa melakukan semuanya. Tapi sekarang aku belum sarapan, jadi buatkan sarapan dulu, ya,” kataku penuh perintah, masih dengan nada tengil. “Aku mandi dulu. Ketika aku selesai mandi, aku mau sarapannya sudah siap di meja.”

Kulihat ia membelalakkan matanya dan membuka mulutnya. Mungkin ingin protes. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunduk sampai aku meninggalkannya ke kamar. Ciss, sepertinya dia berpikir untuk tidak membantahku dan lebih baik melakukan apa yang kusuruh. Baguslah kalau begitu, toh aku tidak suka dibantah.

 

Soo Young’s pov

Astaga~ aku yakin dia bukan Kyuhyun oppaku! Kenapa dia yang asli sangat berbeda dengan imejnya di depan kamera?! Di depan kamera dia sangat ramah, tapi di sini dia menyebalkan sekali. Entah apa aku masih bisa mengidolakannya setelah aku tahu sifat aslinya. Well, kita lihat saja nanti…

Lima belas menit kemudian dia keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat sangat tampan. Aigoo, membuatku deg-degan saja. Kalau saja aku tidak sedang bekerja dan dia tidak menunjukkan sifat aslinya yang seperti setan itu, pasti aku sudah minta tanda tangan dan foto bersama dengannya.

“Soo Young ssi, sarapannya sudah siap, kan?” tanyanya sambil duduk di kursi makan. Tiba-tiba ia menatapku tajam. Aku langsung kelabakan.

“Ne, Kyuhyun ssi.” Aku melirik makanan yang sudah kusiapkan di atas meja makan.

Kyuhyun oppa mengikuti arah lirikanku. Ia lalu mengangkat alis. “Ini? Roti bakar?”

Aku mengangguk. “Ne.”

“Aku tidak mau.”

“Eh?”

Matanya menatapku tajam. “Aku tidak mau sarapan roti bakar. Biasanya aku sarapan minimal dengan nasi dan kimchi. Aku mau sarapan ala Korea. Buatkan sekarang.” Suaranya terdengar angkuh saat memerintahku. Bahkan matanya sama sekali tidak mau menatapku. Huh.

Aku jadi dongkol sendiri. Tadi kan dia tidak bilang mau sarapan apa! Dasar menyebalkan! Tapi semua itu hanya kukatakan dalam hati karena kenyataannya aku langsung mengangguk dan berkata dengan patuh, “Ne, tunggu sebentar.” Aku langsung menuju dapur untuk memanaskan kimchi yang memang sudah tersedia. Tadi aku melihatnya.

Setelah siap, aku membawakan sarapannya ke meja makan. Nasi, kimchi, kamjaguk, dan daging ayam asap. Kyuhyun oppa meneliti makanan yang kuhidangkan seolah makanan itu ada racunnya. Hih, kalau saja aku bukan penggemarnya, sudah pasti dia akan kucekik karena saking menyebalkan!

“Nah, ini baru benar,” ujarnya kemudian. Ia lantas menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Lain kali buatkan aku sarapan yang seperti ini.”

Ya ampun, dia kan orang kaya! Harusnya dia tahu kalau sarapan seperti itu sebenarnya tidak sehat. Terlalu banyak karbohidrat malah akan memicu penyakit diabetes. Dasar orang aneh.

Aku hendak beranjak ke dapur, tapi seruannya membuat langkahku berhenti. “Ya! Mau ke mana kau?” suaranya tengil sekali sampai-sampai membuatku ingin menerkamnya sekarang juga.

Kubalik tubuhku menghadapnya sambil berusaha memasang tampang sedatar mungkin. Jangan sampai dia tahu kalau aku sebal padanya, bisa-bisa aku dipecatnya -___- Bahkan aku baru beberapa jam bekerja di sini. “Aku ingin membereskan dapur,” sahutku.

“Nanti saja,” selanya cepat. “Sekarang kau bawakan baju-bajuku yang di sana itu ke mobil. Aku ada pemotretan.” Kyuhyun menunjuk tumpukan baju-baju di atas sofa ruang tengah. Ia sendiri lalu ngeloyor pergi ke kamarnya.

Aku hanya bisa mendesis sebal. Ya Tuhan, padahal ini baru hari pertamaku bekerja di rumah ini. Tapi kenapa rasanya aku sudah tidak betah. Ck, padahal yang kulihat tadi adalah Cho Kyuhyun sungguhan. Tapi kenapa aku seperti kehilangan semangat penggemarku begini? Dia kelihatan seperti orang yang berbeda sih, aku jadi bingung harus bersikap seperti apa.

“Kau belum membawanya juga? Astaga~”

Aku tersentak begitu mendengar suaranya. Dia sedang menatapku dengan tatapan dinginnya yang menyebalkan itu. Segera kuraih baju-baju di atas sofa itu, lalu mengikuti langkah Kyuhyun oppa ke garasi.

“Masukan di jok belakang. Jangan sampai kusut ya!” perintah Kyuhyun oppa ketika sudah berada di depan mobil Ferrari merahnya. Ia lantas berkaca di spion dan merapikan rambutnya dengan tangan.

Aku memandangnya dongkol. Dasar menyebalkan. Seenaknya saja memerintah orang, ciss. Tapi kulakukan juga apa yang dia perintahkan tadi, toh di sini peranku adalah jadi pembantunya -___-

“Sudah selesai? Kalau begitu minggir, aku mau pergi,” cetusnya begitu melihatku selesai meletakkan baju-bajunya.

Kyuhyun oppa membuka pintu garasi melalui remote control dan segera setelahnya, masuk ke dalam mobil. Entah kenapa aku hanya bisa memandanginya tanpa bisa melakukan apa-apa. Seharusnya aku pergi saja dari situ, tapi rasanya tubuhku tidak mau digerakkan. Aku seperti sedang menunggu sesuatu.

Tiba-tiba Kyuhyun oppa menurunkan jendelanya dan melongokkan kepala menatapku. “Terima kasih,” ujarnya sambil tersenyum.

Ah, aku terpana. Selama beberapa detik aku seperti kehilangan nyawa. Kyuhyun oppa telah mengambilnya dari tubuhku. Apa mungkin… aku menunggu ucapan terima kasih dan senyumannya itu? Apa mungkin pikiran bawah sadarku sudah tahu bahwa aku akan menerimanya? Ya Tuhan…

Mendadak aku merasakan sesuatu yang aneh di perutku. Seperti banyak kupu-kupu beterbangan di dalam sana. Pertanda apa ini Tuhan?

 

 

 

 

to be continued

 

 

Gimana part 1-nya? Silakan tinggalkan komentar, as usual🙂

Makasih udah mau baca dan ninggalin komen😀

17 thoughts on “My Idol! – Part 1”

  1. hmm
    jadi ngebayangin aQ jadi Soo Young trus ada d dpan Kyu#kyaaaa pasti lgsung pingsan
    Seorang Kyu TERPESONA pada pandangan pertamaaaaaa?.?? #ga Seorang Kyu TERPESONA pada pandangan pertamaaaaaa?.?? #ga Seorang Kyu TERPESONA pada pandangan pertamaaaaaa?.?? #ga Seorang Kyu TERPESONA pada pand

  2. Yeyeye.. yeyeye.. yeyeee..
    Ff baru kyuyoungggg…
    Behhh mang kyu evil bgt daah..
    Dia udh terpesona ma sooyoung tapi masih bs bersikap sangat menyebalkan..? ahh bukan kyu klo ga gtu.. hahahahaaa

  3. Annyeong…
    Lama aku ga berkunjung k Obi,rindu jg pengen baca ffmu ^^

    yeah, Kyuyoung.
    ceritanya keren bgt!!
    Ngakak jg baca tingkah Kyu sbg si artis tengil menyebalkan. Tp btw, Kyu love at first sight eh??

    Next partx ditunggu ^^

  4. lanjuuuuuuuuuuuuuut thooor….bikin kyu se evil mungkin…jd ada konfliknya yg romantis… #asyeeeek…. ^0^

    jatuh cintanya pelan2…biar kyu yg ngejar…si soo young…🙂 pasti seru thor

    upsss maap jd ngedikte… saya tunggu lanjutannya yaaaw thor…🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s