Sorry…

Author : Han Aikyung

Title     : Sorry…

Genre  : family

Rating : PG13

Length : Oneshot

Main Cast     : Park Jiyeon, Lee Jinki

Support Cast   : Jiyeon Eomma, Jiyeon Appa

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Well, ada     beberapa yang saya adaptasi dari kenyataan sih.

Notes               : Aduh, bener-bener maaf ya kalo misalnya poster sama ceritanya nggak sesuai. Mungkin yang ngeliat posternya mikir ini FF romance or something like that, tapi kenyataanya adalah… Ehe, yasudahlah baca aja dulu…

Dan terima kasih berat buat nyit2 yang udah ngepostin FF aku pake akunnya. Love you pull nyit :*

HAPPY READING!!!

Sorry… © 2012 Han Aikyung

 “Jiyeon-ah, kau sudah makan nak?”

Jiyeon yang mendengar ketukan di pintu kamarnya merasa kesal. Mengapa Ibunya masih tetap menggangunya meskipun 30 menit yang lalu saat pulang dari sekolahnya dia berkata bahwa dia akan belajar seharian karena besok ujian. Dengan sangat jelas Jiyeon mengatakan kepada seluruh orang di rumahnya bahwa jangan menganggunya saat sedang belajar, bahkan dia memasang tulisan “Dont Disturb” di depan pintu kamarnya.

“Iya Eomma, aku sudah makan,” Jiyeon berbohong, membalas pertanyaan Ibunya dengan sedikit berseru. Dia tidak suka jika kegiatan belajarnya diganggu oleh orang lain, apalagi oleh Ibunya yang seriiiiiing sekali mengganggunya saat sedang belajar, menyuruhnya untuk makan atau apapun. Seperti tidak megerti saja jika dia menginginkan ketenangan saat belajar. Dia kan belajar juga untuk keluarga ini, dia ingin menaikkan derajat keluarga ini di mata orang lain. Keluarga yang sejak dia lahir hingga sekarang berumur 17 tahun tidak pernah tinggal di lingkungan berkecukupan. Selama 17 tahun ini Jiyeon dan keluarganya selalu hidup serba kekurangan. Karena itu dia sangat ambisius untuk menjadi orang kaya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya sekarang adalah belajar dengan giat sehingga dia bisa masuk Universitas terbaik di Korea, melalui beasiswa tentunya. Motivasinya sangat besar.

Jiyeon mendengar Ibunya membalas seruannya tadi dan langkah kakinya yang menjauhi pintu kamarnya. Dia menghela napas karena kesal masa belajarnya terganggu. Jiyeon melanjutkan belajarnya hingga beberapa jam kemudian. Pukul 11 malam, Jiyeon keluar dari kamarnya, dia merasa lapar dan haus. Terang saja lapar, sejak pulang sekolah dia belum makan apapun. Jiyeon berjalan turun dari lantai 2 kamarnya ke ruang keluarga. Mengapa tidak ada orang? Biasanya dia melihat Ibunya sedang menonton televisi, atau berbincang dengan ayahnya ketika beliau sudah pulang. Namun, dimana orang-orang?

“Eomma,” Jiyeon kaget mendengar suaranya sendiri, suaranya sangat serak. Bahkan panggilannya tadi tidak terdengar seperti sebagaimana bunyinya, suaranya menghilang segera setelah dia membuka mulutnya. Jiyeon berdeham dan kembali mengulangi panggilannya. Karena tidak ada jawaban, dia mengambil minum sendiri dan menenggaknya banyak-banyak. Setelah tidak digunakan untuk berbicara pada siapapun selama berjam-jam sejak siang hari, tenggorokannya menjadi kering. Dia menyadari bahwa saat itu sudah larut malam saat melihat jam di dapur, pantas saja Ibunya tidak menjawab panggilangnya, dia pasti sudah tidur.

Jiyeon berjalan ke meja makan dan mengecek apakah ada makanan di sana. Namun tidak ada apapun di sana, mejanya sangat bersih. Kemudian dia menghampiri lemari tempat Ibunya biasa menyimpan makanan, dan dia menemukannya. Sebuah nakas yang lengkap berisi nasi dan lauk-pauknya. Memang tadi dia sempat mendengar suara Ibu kemudian Ayahnya memanggilnya untuk makan malam, namun karena saat itu dia sedang mengerjakan soal yang rumit, tidak dihiraukannya panggilan itu. Mungkin nakas ini yang dibawa oleh Ibu atau Ayahnya saat memangilnya tadi namun karena Jiyeon tidak membukakan pintu untuk mereka, ditaruhnya kembali nakas itu di dalam lemari.

“Huh, kenapa tidak memaksaku untuk makan? Makan malam meninggalkanku,” komentarnya sambil memasukan sumpit ke mulutnya. Selesai makan, Jiyeon menaruh nakas itu di tempat cuci piring dan bergegas kembali ke kamarnya untuk melanjutkan belajar. Selama 2 jam dia kembali melakukan aktivitasnya tanpa terganggu di hadapan meja belajarnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.

+++

“Annyeong,” sapa Jinki ramah pada Jiyeon esok harinya. Dia berjalan mengiringi Jiyeon sambil menyampirkan tas dibahunya. Jinki menoleh ke arah Jiyeon, “bagaimana belajarmu semalam?”

“Not bad,” jawab Jiyeon melrik dan membalas senyuman Jinki. “Aku tahu kau pasti belajar hingga larut malam lagi,” kata Jinki sambil meluruskan pandangannya ke depan. Sekarang Jiyeon yang menoleh ke arah Jinki, “bagaimana kau tahu?”

“Lingkaran hitam di bawah matamu bertambah lebar. Memangnya kau tidak mengaca pagi ini? Pantas saja masih ada sisa pasta gigi di dagumu,” Jinki mengedikkan kepalanya ke arah dagu Jiyeon. “Hah? Benarkah?” Jiyeon yang panik mengusap-usap dagunya, merasa malu bertemu Jinki dengan keadaan seperti ini.

“Got you!” seru Jinki. Membuat Jiyeon kaget dan berlari mengejar pemuda yang telah mengerjainya itu. “Yaa, Jinki! Jangan lari, sini kau!”

Ujian dimulai tepat pukul 8 pagi. Jinki dan Jiyeon yang duduk di kursi yang berdekatan saling menatap.

“Cubitanmu kencang sekali. Sekarang masih terasa, tahu! Pasti nanti berbekas selamanya,” Jinki menghardik Jiyeon sambil mengucap-usap bagian yang dicubit Jiyeon.

“Mana mungkin berbekas selamanya, memangnya luka bakar!” balas Jiyeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Makanya jangan sering menggoda Park Jiyeon, atau kau benar-benar akan kuberi luka bakar,” Jiyeon menerima kertas soal ujian dari teman di depannya. Jinki membalas perkataan Jiyeon dengan mencibirkan mulutnya, kemudian menyerahkan kertas soal ujian kepada teman di yang duduk dibelakangnya.

Selesai sekolah, Jiyeon dan Jinki kembali berjalan bersama. Mereka telah merencanakan sejak jauh hari bahwa setelah ujian hari ini mereka akan pergi jalan-jalan bersama beberapa teman yang lain. Mereka berpisah di halte bis dan kembali ke rumah masih-masing untuk berganti pakaian dan kembali bertemu di taman bermain 1 jam kemudian.

“Jiyeon-ah, kau sudah pulang nak?” tanya Ibunya tepat ketika Jiyeon menaruh tasnya di sofa ruang keluarga. Jiyeon hanya menganggukan kepalanya kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil minum. “Bagaimana ujianmu tadi?”

“Hmm, not bad,” jawaban Jiyeon terdengar sedikit kesal. Sebenarnya tadi ada 1 soal yang tidak bisa dikerjakannya dan itu sangat mengganggunya hingga sekarang. Jiyeon tidak habis pikir kenapa ibunya harus mengungkit masalah itu lagi? Membuat Jiyeon semakin tidak puas.

Jiyeon sebenarnya sering merasa tidak puas dengan keluarganya. Bahkan dia terkadang merasa malu dengan keluarganya. Teman-temannya berasal dari golongan keluarga elit, mereka selalu mempunyai ponsel atau tablet keluaran terbaru, tidak begitu dengan dirinya. Untuk makan saja bagi keluarga beranggotakan 3 orang itu sudah sulit, apalagi membeli barang-barang mahal macam itu. Jiyeon tidak menyukai kenyataan bahwa keluarganya itu termasuk keluarga orang kurang mampu. Dia tidak menyukai orangtuanya. Kenapa orangtuanya tidak bisa bekerja lebih giat untuk mendapatkan uang? Mengapa ayahnya tidak pindah ke perusahaan yang memberinya gaji lebih besar saja? Mengapa ibunya hanya menjadi ibu rumah tangga biasa bukan wanita karir? Setidaknya dengan begitu kan keluarga ini bisa mempunya uang lebih untuk membeli rumah di kota. Setidaknya dia tidak perlu tinggal di tempat yang jauh dari sekolah karena berada di kawasan tinggi. Setidaknya dia tidak perlu berjalan jauh untuk mencapai halte bis. Memangnya orangtuanya tidak mengkhawatirkan Jiyeon jika sampai ada orang mesum yang menculik dan memperkosanya? Gadis SMA sepertinya yang masih virgin dan cantik butuh pengamanan ekstra. Misalnya seperti menggunakan kendaraan sendiri untuk ke sekolah. Selain Jiyeon tidak perlu berdesakkan di dalam bis yang terkadang banyak tindak mesum, perjalanan menuju sekolah pun menjadi lebih cepat. Sekolah yang jauh seperti itu membuatnya harus bangun pagi-pagi sekali di mana hari masih sangat dingin.

Hhh, Jiyeon mengeluhkan itu semua jika berada terlalu dekat dengan orangtuanya. Namun Jiyeon adalah tipe orang yang kurang pintar mengeluarkan pendapatnya. Seringkali ketika dia mencoba untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain maka yang ditangkap orang tersebut tidak sesuai dengan maksud Jiyeon. Karena itu Jiyeon lebih memilih untuk memendam itu semua. Termasuk kekesalan dan ketidakpuasannya kepada orangtuanya. Lama kelamaan hal yang dipendamnya itu membuatnya stress. Stress itu ditampilkannya dengan acuh kepada orangtuanya. Jiyeon berpikir bahwa beberapa tahun lagipun dia bisa lulus dan tidak membutuhkan uang orangtuanya untuk kuliah. Dengan kepintarannya dia akan bisa menghidupi dirinya sendiri. Bahkan dia bisa mengembalikan semua yang telah diberikan orantuanya padanya. Dia sangat ambisius mengenai hal ini.

“Eomma, aku pergi dulu,” kata Jiyeon sambi menggunakan sepatunya.

“Kau mau pergi kemana nak?” tanya Eomma menghampiri Jiyeon yang sudah membuka pintu rumah mereka.

“Aku akan pergi bermain bersama teman-temanku, aku pergi ya!” Jiyeon menutup pintu tepat di depan wajah ibunya.

Ibu Jiyeon menyayangkan, anak gadis satu-satunya itu tidak mengucapkan salam ataupun mengecup pipinya sebelum pergi. Jiyeon lebih sering berada di kamarnya. Terkadang dia keluar untuk menonton acara TV kesukaanya, ataupun jika disuruh mengerjakan pekerjaan rumah oleh ayahnya. Itupun sulit, menyuruh Jiyeon untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju atau menyiapkan makanan. Perlu berkali-kali panggilan hingga Jiyeon mau turun dari kamarnya dan membantu pekerjaan Ibunya. Seringkali dia tidak turun dan membiarkan Ibunya mengerjakan semua pekerjaan rumah mereka sendirian. Jika dilihat, kedua orangtua yang memiliki anak tunggal akan sangat dekat dengan anaknya itu. Namun tidak begitu dengan keluarga ini. Entah turunan dari siapa, tapi Jiyeon berlaku sangat dingin. Menurut pemikiran Ibu Jiyeon, baik dirinya maupun suamiya tidak memiliki sifat dingin seperti itu. Dia tidak mengerti apa yang membuat Jiyeon menjadi seperti itu. Ibu Jiyeon hanya berharap bahwa suatu saat nanti dia bisa menjadi akrab dengan anak gadisnya. Dia berharap mereka suatu saat bisa mengerjakan pekerjaan rumah bersama dengan canda tawa, bukan dingin seperti sekarang.

+++

Jiyeon merasa aneh naik rollercoaster untuk pertama kalinya. Jinki duduk di sebelahnya. Mereka memang sering bersama. Ada yang bilang bahwa Jinki menyukai Jiyeon dan bahkan pernah mengungkapkan perasaanya pada Jiyeon. Namun Jiyeon hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Jiyeon sebenarnya tidak tertarik dengan hal percintaan saat ini. Orientasi terpentingnya adalah bisa lulus dari SMA dengan nilai tinggi kemudian mendapatkan beasiswa masuk ke Universitas terbaik. Walaupun sudah ‘ditolak’ dengan senyuman, Jinki tetap berteman dengan Jiyeon. Sekarang mereka bahkan lebih dekat daripada sebelumnya. Jinki tidak menghiraukan perasaan sakitnya ketika melihat Jiyeon tetapi tidak sebagai kekasihnya. Mungkin memang sekarang lebih baik berteman dulu. Dia mencoba untuk menghargai Jiyeon dengan menjadi temannya. Banyak orang yang mengira mereka berpacaran karena hal itu. Namun yang terjadi sebenarnya adalah kebalikannya.

“Gwenchana?” tanya Jinki saat melihat Jiyeon lemas dan memegang tiang segera setelah turun dari rollercoaster. Jiyeon tidak menjawab dengan suaranya—karena suaranya hilang, dan hanya menggelengkan kepalanya. Jinki menuntunnya ke tempat duduk kemudian pergi membelikan Jiyeon minum. Setelah agak baikan, Jiyeon berterima kasih pada Jinki. Dia merasakan ponselnya bergetar sejak naik rollercoaster tadi, diangkatnya telepon masuk dari Ibunya.

Jinki memperhatikan Jiyeon yang mendengarkan suara pelepon dengan aneh. Mengapa ekspresi  Jiyeon jadi bertambah pucat? Apakah dia mual lagi?

Namun tiba-tiba Jiyeon berdiri, seakan tidak terjadi apapun setelah naik rollercoaster tadi dan berlari cepat meninggalkan Jinki. Jinki seperti mendengar Jiyeon menggumamkan sesuatu seperti, “Appa…” Apakah terjadi sesuatu pada ayah Jiyeon? Karena khawatir Jinki menawarkan mobilnya untuk mengantarkan Jiyeon ke tempat tujuannya.

Sepanjang perjalanan, Jiyeon menjadi sangat resah. Bulir-bulir air mata membasahi wajahnya. Berulangkali dia memanggil ayahnya. Jinki yang tidak enak hati untuk bertanya hanya menepuk-nepuk pundak Jiyeon saat isakannya mengencang.

Ketika mulai memasuki kompleks dekat tempat tujuan Jiyeon, dahi Jinki berkerut. Mengapa ada banyak sekali kendaraan diparkir di jalanan yang bisa dibilang sempit ini. Dia menoleh ke arah Jiyeon yang bertambah resah dengan meremas-remas ponselnya. Jiyeon tidak menyadari pandangan sendu dari Jinki yang merasa prihatin dengan keadaan Jiyeon. Sebenarnya Jinki tidak tahu apa yang terjadi pada Jiyeon, makanya dia bermaksud untuk menemani Jiyeon yang sedang kacau ini hingga dia kembali ke rumahnya. Jinki pikir ayahnya Jiyeon terkena kecelakaan atau sakit dan sekarang sedang berada di Rumah Sakit, namun nyatanya ini bukanlah rumah sakit melainkan rumah penduduk biasa. Beberapa tamu yang baru datang menggunakan baju hitam. Apakah dugaan Jinki yang terburuk yang sedang terjadi sekarang? Bahwa ayah Jiyeon sudah…

Jinki mendongak ketika menyadari Jiyeon sudah tidak berada lagi di tempat duduk mobilnya, dia sudah keluar setelah mengucapkan terimakasih—yang tidak didengarnya—padanya barusan. Jinki mengikuti Jiyeon keluar dari mobil dan mengunci mobilnya dari jauh.

Rumah ini tidak terlalu besar, malah bisa dibilang sama sekali tidak besar. Kendaraan-kendaraan yang diparkirpun menghabiskan sisa jalanan kecil ini. Kebanyakan kendaraan malah harus diparkirkan agak jauh karena tidak cukup. Jinki memasuki rumah itu. Suasana berduka sangat kental di dalam. Dia mencari-cari sosok Jiyeon karena tidak ada seorangpun yang dikenalnya di ruangan ini kecuali gadis itu. Dan dia melihatnya, Jiyeon sedang berjalan menuju lantai 2. Nampak tidak ada yang menghiraukan Jiyeon yang berjalan tergesa-gesa, karena itu Jinki mengikutinya.

Jinki melihat Jiyeon membuka pintu kamar satu-satunya di lantai itu dan memasukinya tanpa menutupnya. Jinki yang menyadari bahwa itu adalah kamar Jiyeon merasa ragu untuk masuk, merasa tidak enak jika memasuki kamar seorang gadis tanpa izin pemilik rumah. Didekatinya pintu kamar yang terbuka lebar itu dan dilihatnya Jiyeon yang duduk di atas kasurnya, wajahnya memandang ke lantai, kedua tangannya ditaruh disamping tubuhnya dengan telapak tangan menghadap ke atas. Jinki memberanikan diri untuk masuk dan memanggil nama Jiyeon.

“—eon,” Jiyeon mendengar sayup-sayup seseorang memanggil namanya.

“Jiyeon,” akhirnya dia mendongak dan menatap pemanggil namanya. Pemuda di hadapannya kemudian duduk di sebelah Jiyeon dengan masih bertatapan dengan Jiyeon. Hidung dan mata Jiyeon terlihat merah, tapi sudah tidak ada air mata dimatanya. Hening menyelimuti mereka di kamar itu, kontras dengan suara-suara banyak orang dari lantai 1.

“Kenapa harus seperti ini?” tiba-tiba Jiyeon bertanya parau. Suaranya bergetar, tapi dia tidak menangis. Jinki diam. “Kenapa harus Dia memanggil uri Appa?” tanya Jiyeon lemah. “KENAPA HARUS URI APPA???” Jiyeon mulai hilang kendali dan berseru.

“Ji-Jiyeon-ah, tenangkan dirimu,” kata Jinki agak panik. Dia tidak ingin keberadaannya di kamar Jiyeon membuat keributan dan memaksa orang-orang untuk datang. Ditariknya Jiyeon dan dimasukkannya ke dalam pelukannya.

“Appa… Jiyeon bahkan belum sempat membanggakanmu. Jiyeon masih menjadi gadis yang egois dan manja saat kepergianmu. Kenapa Appa harus pergi sekarang? Tidakkah Appa ingin melihat Jiyeon lulus dan berhasil?” Jiyeon meracau dalam pelukan Jinki. Pemuda itu hanya mengelus punggung Jiyeon yang begetar karena kembali menangis, dia menunggu hingga Jiyeon selesai mengatakan isi hatinya.

“Jiyeon belum sempat meminta maaf pada Appa,” Jiyeon terisak kecil, “Appa kembalilah,” tambahnya. Tangannya sudah bergerak membalas pelukan Jinki, berharap bahwa yang dipeluknya saat ini adalah Ayahnya. Namun bukan, yang didepannya ini bukanlah Ayahnya melainkan Jinki. Ayahnya sudah tidak ada. Ayahnya sudah meninggal. Jiyeon kaget sekali ketika mendapatkan telepon dari Ibunya beberapa jam lalu, mengatakan bahwa Ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal. Jiyeon pikir Ibunya hanya bercanda.

Mengingat kenyataan bahwa Ayahnya sudah tidak ada sekarang membuatnya kembali menangis. Ayah yang selalu tersenyum padanya meskipun Jiyeon sering menampakkan wajah cemberut; Ayah yang rela mengantarkan nakas berisi makan malam Jiyeon ketika dia sedang sibuk dan tidak bisa makan malam bersama keluarga, meskipun Jiyeon tahu bahwa Ayahnya sangat lelah pulang dari tempat kerjanya; Ayah yang membanting tulang untuk kehidupan keluarga ini tidak menghiraukan umurnya yang sudah semakin tua; Ayah yang disayangi Jiyeon. Oh, Tuhan, semoga Ayahnya bisa memaafkan Jiyeon. Air mata Jiyeon sudah membasahi baju Jinki.

“Appa-mu sudah tidak disini Jiyeon-ah,” Jinki membalas perkataan Jiyeon. “Dia sudah tenang,” tambahnya masih mengelus punggung Jiyeon. “Kau masih bisa menjadi anak Appa-mu yang baik dengan selalu mendoakannya, berbuat baik selama kepergiannya kepada Eomma-mu, dan membuktikan janji-janjimu itu,” ucap Jinki lagi.

“Selalu ada alasan mengapa Tuhan memberikan cobaan kepada kita, salah satunya adalah agar kita bisa menjadi lebih dewasa. Mungkin Tuhan mengambil Appa-mu saat ini untuk membuatmu lebih dewasa. Jangan terlalu larut dalam kesedihan akan kepergian orang yang kita cintai, karena itu hanya akan membuat kita semakin tidak produktif. Tetaplah berkarya sebagaimana mestinya dan capailah impianmu, pasti Appa-mu juga akan merasakan kesuksesanmu itu,” Jinki mengatakan kalimat terakhirnya seraya melepaskan pelukannya pada Jiyeon. Dia menatap wajah Jiyeon yang sembab. “Gwenchana? Kau bisa ikut ke pemakaman Appa-mu kan?” Jiyeon mengangguk.

Jinki menawari Jiyeon dan Ibunya untuk diantarkan ke tanah pekuburan menggunakan mobilnya. Namun Ibu Jiyeon menolak. Akhirnya hanya Jiyeon dan Jinki yang berangkat menggunakan mobil Jinki, diikuti beberapa mobil kerabat Ayah Jiyeon yang ingin melihat proses penguburannya.

Jinki melihat proses penguburan Ayah Jiyeon, mengingatkannya pada beberapa tahun silam ketika kejadian yang sama dilihatnya menimpa Ibunya. Apa yang terjadi ketika kita sudah tidak menghembuskan napas di dunia ini? Siapakah yang menemani kita di dalam kuburan yang begitu dingin ketika malam hari dan begitu panas jika siang hari? Jinki memikirkan bagaimana jika tiba waktunya yang merasakan hal itu. Apakah akan sebanyak ini manusia-manusia yang mengantarkannya pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya? Apakah dirinya benar-benar sudah siap bertemu Tuhan saat ajalnya tiba nanti? Berbagai macam bentuk pemikiran memenuhi otak Jinki, membuat matanya berkaca-kaca.

Sekarang dirinya dan Jiyeon sama, sama-sama hanya memiliki satu orangtua. Dan orangtua yang dimiliki satu-satunya itu harus dijaganya hingga akhir hayatnya. Membalas apa yang telah mereka berikan semasa hidunya padanya.

+++

Jiyeon telah berubah. Dia tidak semanja dan seegois dulu lagi. Dia bahkan sekarang lebih sering berada diluar kamar dan membantu pekerjaan Ibunya. Meskipun belum ada percakapan akrab mengalir dari bibir keduanya, namun hal itu sudah sangat disyukuri oleh Ibu Jiyeon. Akhirnya anaknya mau berbicara dan berinteraksi lebih lama dengannya. Ibunya percaya bahwa Jiyeon dan dirinya akan lebih terbuka lagi suatu saat, menjadi sepasang Ibu dan Anak pada umumnya, yang saling mencintai dan berbagi cerita. Ibunya sangat percaya itu.

“Eomma, ada lagi yang bisa Jiyeon bantu?” perkataan Jiyeon membuyarkan lamunan Ibunya. Ibunya tersenyum, “ada nak. Kau bisa mengambil jemuran diluar? Sepertinya sudah kering,” katanya kemudian kembali meneruskan pekerjaannya tadi saat melihat Jiyeon sudah berbalik hendak mengambil pakaian kering. Tiba-tiba Ibunya mendesah, “apakah kau harus pergi dulu, Yeobo, sehingga anak kita bisa menuruti apa yang kukatakan?” matanya kembali berkaca-kaca mengingat mendiang suami yang dicintainya.

Tiba-tiba dirasakannya kehangatan dari balik punggungnya. Seseorang memeluknya. Jiyeon memeluknya. Badannya bergetar menahan emosi. Bisa didengarnya suara isakan dari anak gadis semata wayangnya itu. Ibu Jiyeon menghentikan pekerjaanya dan memegang tangan Jiyeon yang berada di perutnya. Belum sempat dia menanyakan ada apa, Jiyeon sudah menyela.

“Maafkan Jiyeon, Eomma,” isak Jiyeon tidak melepaskan dekapan eratnya. “Maafkan Jiyeooonn…” suara Jiyeon yang melirih menyayat hati Ibunya. “Maafkan Jiyeon karena selama ini menjadi anak yang manja dan egois. Maafkan Jiyeon karena tidak pernah mendengarkan apa kata Eomma dan Appa,” Jiyeon mengisak sekali. “Jiyeon sangat menyesal ketika Appa meninggal. Jiyeon bahkan belum meminta maaf dan mengucapkan kata sayang pada Appa,” Ibu Jiyeon masih belum berkata-kata dan membiarkan anaknya menangis di punggungnya.

“Karena itu Jiyeon tidak akan membiarkan kesempatan seperti itu hilang juga terhadap Eomma. Jiyeon akan mengatakannya… Eomma, Jiyeon sayang sekali pada Eomma…” Jiyeon menyelesaikan kalimatnya dengan suara yang makin melirih karena tangisannya meledak.

Ibunya akhirnya berbalik dan membalas pelukan Jiyeon. Dia juga menangis seraya mengelus kepala Jiyeon yang lebih tinggi darinya.

“Eomma juga sayang pada Jiyeon. Eomma juga minta maaf jika perlakuan Eomma selalu membuat Jiyeon tidak suka. Eomma berjanji akan menjadi seorang Eomma yang lebih baik lagi.”

“Tidak Eomma, selama ini Jiyeon yang jahat pada Eomma, maafkan Jiyeon. Jiyeon juga berjanji akan menjadi seorang anak yang lebih baik lagi,” Jiyeon menggeleng dalam pelukan Eommanya. Ucapan Jiyeon membuat Ibunya tersenyum. Mereka menangis bersama mencurahkan isi hatinya.

 

Menjadi seorang anak terkadang tidak menyadari bahwa pilihanya bukan yang terbaik bagi dirinya. Orangtua juga pernah menjadi seorang anak dan mereka lebih mengerti apa yang baik dan yang buruk bagi anaknya. Kita akan lebih mengerti hal itu ketika sudah beranjak dewasa. Tidak perlu menyesal dan merasa tidak puas dengan yang Tuhan berikan kepada kita, termasuk orangtua yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Kita bisa selalu belajar menjadi dewasa dari orangtua kita, baik itu dari hal yang baik maupun dari hal yang buruknya. Jangan pernah merasa terlambat untuk meminta maaf dan mengucapkan kata sayang pada orangtua. Karena orangtua selalu ada untuk kita kapanpun itu.

 

Need your comment really >__<

17 thoughts on “Sorry…”

  1. hiksss…
    Jadi merasa bersalah banget sama eomma dan appaq…
    Tpi kita sebagai seorg anak memang terlalu gengsi untuk mengungkapkan rasa sayang kita pada ortu sendiri…

    Nice ff ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s