My Life Is [not] Yours! [PART I] [FREELANCE]

Author: Lee Reina

Casts: Nam Woohyun, Kang Taehee

Genre: Romance, marriage life

Rate: general

Anyyeong roomate(s) ^^ lama ya Anin ngga publish FF disini kekeke~ Ini FF chapter terbaru Anin nih!

Ini juga Anin update di blog anin : http://anindityagita.wordpress.com/ hehehe mampir yaa~ byebye~

dislaimer! Typo punya Anin, Wowo oppa punya Anggit, story line punya Anin ^^

***

                Taehee tersenyum lebar ketika melihat laki-laki yang dicintainya mendekat. Menghampirinya yang duduk sendiri di kedai kopi.

“maaf, kau pasti menunggu lama.” Woohyun menarik kursi dihadapannya dan duduk dengan tenang. Taehee hanya tersenyum melihatnya dan menggeleng pelan.

“tidak apa-apa. Kau mau pesan?” Woohyun tersenyum dan mengangguk melihat Taehee menatapnya dengan hangat.

“maafkan aku, karena aku terlambat, kau jadi memesan kopimu sendiri.”

“eish, Nam Woohyun, tidak apa-apa. Aku baru saja dapat gaji dari tempatku bekerja tadi. Jangan melihatku seolah-olah aku tidak mampu hidup lagi.” Ucap Taehee menunduk menghindari tatapan kasihan dari Woohyun. Woohyun langsung menggenggam tangan Taehee yang memegangi cangkir kopinya. Perempuan itu hanya bisa mengangkat wajahnya dan melihat kekasihnya yang menatapnya dengan pandangan meminta maaf tulus. Membuat mata Taehee berkaca-kaca. Taehee melepaskan tangannya dari genggaman Woohyun dan menatap Woohyun dengan senyum tipis.

“Woohyun-ah, aku baik-baik saja. Ini hanya secangkir kopi. Aku masih bisa membelinya.”

“aku tidak akan membiarkan perempuan yang kucintai mengeluarkan uangnya sepeserpun untuk ini. Aku serius.” Taehee hanya bisa menaikkan sudut bibirnya mendengar ucapan Woohyun yang benar-benar membuat hatinya sakit.

‘aku masih bisa menghidupi diriku sendiri…’ pikir Taehee diikuti helaan nafas kecil dan tersenyum lebar menatap Woohyun.

***

Taehee mengerjapkan matanya pelan begitu mendnegar dering ponselnya yang merusak kedamaian yang hanya bisa ia rasakan ketika tidur. Dengan setengah nyawa, ia menggapai ponselnya di atas meja.

“yobuseo?” jawab Taehee dengan suara serak bangun tidurnya.

“yobuseo, Taehee-ya. Ini eomma nak” mata Taehee langsung terbuka dengan sempurna dan terduduk dengan cepat.

“eomma, kau dimana? Apakah sekarang baik-baik saja? Apakah appa dan eomma makan teratur?”seketika itu pula airmata Taehee menggenang. Mengingat keadaan yang ada di keluarganya.

“eomma baik-baik saja. Kami sekarang sedang berusaha yang terbaik Taehee-ya. Eomma mohon, kau harus tegar. Ini appa,”

“yobuseo, nae aegi-ya”

“appa…” tangis Taehee memecah mendengar suara-suara yang sangat dirindukannya selama ini. Suara dari orangtuanya.

“aegi-ya, uljimara… kau hanya akan menghabiskan airmatamu menangisi kami.”

“anniyo appa. Appa, apakah appa tidur dengan nyenyak?” Tanya  Taehee dengan isak tangis yang semakin memelan. Tidak ingin orangtuanya semakin merasa bersalah terhadapnya.

“appa dan eomma baik-baik saja selama putrid cantik kami hidup dengan tenang. Tidak ada yang mendatangimu kan selama ini?”

“eo appa. Aku baik-baik saja. Appa dan eomma juga harus tidur tenang. Karena aku tenang hidup disini. Appa, berjanjilah akan kembali eo?” tangis Taehee kembali terdengar setelah selesai dengan perkataannya. Rasa rindu yang membuncah, membuatnya ingin menyalahkan keadaan ini.

“appa berjanji! Aegi-ya, tadi appa mengirimkan sedikit uang ke rekeningmu. Semoga itu bisa bermanfaat eo?”

“appa, appa tidak usah memikirkanku. Aku benar-baner baik-baik saja appa.”

“aigoo… putriku ini benar-benar sudah tidak ingin dipikirkan oleh appa?”

“anniyo appa tapi, appa dan eomma lebih membutuhkan uang yang appa kirim kepadaku.”

“gwenchana aegi-ya… Oh, appa harus menutup teleponnya. Biaya telepon semakin mahal, eo? kau baik-baiklah. Hiduplah dengan tenang. Appa dan eomma akan sebisa mungkin sering menghubungimu, eo?” Taehee hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan appa-nya. Ia menurunkan ponselnya dengan airmata yang masih terus mengalir. Ia memeluk lututnya dan kembali menangis keras.

“kalau saja, keluargaku tidak bangkrut, aku yakin semua pasti baik-baik saja.” Gumam Taehee kecil merasa sakit dengan keadaannya.

***

“bagaimana bisa aku memperkerjakan orang bodoh sepertimu hah?!! Bahkan membuat kopi saja tidak diberi gula?! Eish!!!” taehee menundukkan kepalanya sambil terus meminta maaf atas keteledorannya pagi ini.

“sudahlah, ini bukan pertama kali atau ketiga kali kau membuat kesalahan! Lebih baik, kau membereskan mejamu dan angkat kaki dari sini!”

“ta-tapi direktur-“

“kau tidak dengar?! Keluar!!!” Taehee menggigit bibirnya menahan tangis. Pekerjaan yang ia dapatkan kali ini harus lepas akibat keteledorannya sendiri. Ia menghela nafas panjang dan berjalan gontai ke meja sekertarisnya dan mulai memberesi barangnya.

‘hidupku benar-benar berakhir sekarang’ pikir Taehee sambil menghela nafas lagi. Ia segera merogoh sakunya dan melihat nama Woohyun tertera di layar ponselnya.

“ne Woohyun-ah?” jawab Taehee dengan lemas sambil terus memasukkan barang-barangnya ke kotak kecil.

“waeyo? Kenapa suaramu lemas? Ada masalah dengan pekerjaan?”

“anniyo gwenchana.” Taehee segera menjawab dan merubah suaranya riang. Ia tidak ingin Woohyun ikut memikirkannya sekarang.

“kalau begitu kita bertemu sekarang. aku di depan kantormu.”

“eh? Aku tidak bisa, a-aku sedang sangat sibuk.” Ucap taehee mencari alasan yang tepat selain tadi yang dilontarkannya.

“aku bisa menunggu sampai kau selesai kerja kalau aku mau, cagiya. Aku tetap akan menunggumu. Oh, asal kau tahu, kalau kau tidak keluar segera, aku akan membatalkan meeting dengan klien saham baru.” Ucapan Woohyun yang terakhir benar-benar membuat Taehee terdiam dan tidak habis pikir.

‘apa yang bisa kulakukan?’ pikir Taehee yang lagi-lagi menghembuskan nafas panjang. Ia mengangkat kotaknya dan segera memencet lift untuk turun menemui Woohyun.

***

Woohyun membelalakkan matanya lebar melihat Taehee keluar dari kantornya dnegan kotak yang lumayan besar di tangannya. Dengan cepat ia turun dari mobil dan berlari mendekati Taehee.

“igae mwoya? Jangan bilang kau berhenti!” ucap Woohyun tidak bisa menahan rasa kagetnya. Taehee melihat Woohyun sekilas dan menunduk sambil menggeleng.

“aku tidak berhenti. Kau pikir aku gila? Aku… dipecat.” Ucap Taehee pelan yang mampu membuat Woohyun berteriak menunjukkan kekesalannya kepada direktur Taehee.

“cih! Dia belum tahu siapa aku! Kalau aku mau, aku bisa membuat perusahaan kecilnya bangkrut dalam satu kali telepon!” Woohyun menatap sadis ke gedung mantan tempat kerja Taehee dan terus mengumpat pelan.

“eish, Woohyun-ah, gwenchana. Aku masih bisa mencari pekerjaan lain.” Ucapan pelan taehee membuat Woohyun mendengus kesal dan mengambil alih barang bawaan Taehee.

“kkaja. Jangan terlalu lama disini atau aku akan menuntut direkturmu yang sialan itu.” ucap Woohyun sambil terus mengerucutkan bibirnya kesal. Taehee hanya melihat Woohyun dengan sadis dan mengikutinya berjalan ke mobil.

***

Taehee menatap sekeliling rumah kecilnya dengan bingung. semua pekerjaan sudah ia lakukan. Menata ulang rumah, membersihkannya, mencuci semua pakaian, bahkan mencuci pakaian yang tidak kotor sekalipun ia sudah lakukan. Ia duduk di sofa dengan bingung.

“apa yang harus aku lakukan… uang di tabunganku hanya cukup untuk satu bulan ke depan.” Gumam Taehee kecil sambil memejamkan matanya. Belum sempat ia memasuki alam tidurnya, bunyi bel pada pintunya membuat ia terbangun dan segera beranjak ke pintu untuk membukakan.

“nuguseo?” begitu pintu terbuka tiga orang laki-laki yang membawa beberapa barang-barang ditangannya masuk dengan begitu saja dan menaruh semuanya di atas meja.

“tu-tunggu dulu, i-ini milik siapa? aku tidak memesan ini sebelumnya.” Ucap Taehee panic mengingat ia tidak memiliki uang lagi untuk membayar segala yang berada diatas mejanya. Mulai dari tissue toilet, air mineral, buah, sayuran, makanan instan, dan lain-lainnya.

“ini semua dari Nam Woohyun. Silahkan tandatangan disini.” Taehee dengan mulut setengah terbuka menandatangani kertas nota yang diberikan pengirim tadi. Ia segera menelpon Woohyun begitu laki-laki tadi pamit dari rumahnya.

“Woohyun-ah, ini semua untuk apa? Kau tidak perlu merepotkan dirimu…” ucap Taehee tidak enak sambil menghela nafas nya pelan membuat Woohyun tertawa.

“kau tidak memperbolehkanku mengkhawatirkan dirimu? Woaah~ pacarku semakin hebat, eo?” ucapan Woohyun dengan nada bercanda membuat Taehee kesal dan mematikan teleponnya. Beberapa detik kemudian ponsel Taehee kembali berdering dengan nama Woohyun tertera disana.

“aku hanya merasa tidak enak padamu. Aku bisa mengurus diriku sendiri cagiya…” ucap Taehee pelan diikuti helaan nafas dari Woohyun.

“apakah kau tersinggung? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung… hanya ingin kau tidak usah merepotkan hal yang bisa ku urus tentang dirimu. Maafkan aku eo?” ucapan tulus Woohyun membuat Taehee menghela nafas dan tersenyum.

“gurae, untuk kali ini saja eo? lain kali harus meminta persetujuanku dulu, arra?” Woohyun tertawa dari seberang membuat Taehee ikut tersenyum secara lebar.

“arasseo cagiya… oh, nanti sore kita bertemu di kedai kopi eo?”

“wae?”

“eish, datang saja. Aku kan merindukanmu.” Ucap Woohyun dengan memaksa membuat Taehee tergelak.

“arasseo Woohyun-ssi!” taehee menaruh ponselnya di atas meja dan mulai membenahi barang-barang kiriman Woohyun.

“setidaknya kau berterimakasih Woohyun membuatku ada pekerjaan.” Gumam Taehee riang dan dengan semangat membilah barang-barang tadi.

***

Woohyun memilah kertas-kertas diatas meja kedai kopi dihadapan Taehee dengan tenang.

“ada lima perusahaan yang sedang mencari sekertaris. Perusahaan tambang ini mencari sekertaris pengganti, tapi mereka meminta sekertarisnya untuk stand by 24 jam. Dan aku, sangat tidak menyetujuinya!” Taehee tertawa kecil mendengar ucapan Woohyun dan kembali melihat ke kertas yang ditunjuk oleh Woohyun.

“yang ini, mencari sekertaris, hanya memakai jam kantor, tapi, gajinya jelek, masih bagus di perusahaanku.” Taehee mengangkat wajahnya dan meringis gembira dengan ucapan Woohyun.

“cagiya, bisakah aku memperkerjakanmu saja?” pertanyaan Woohyun langsung mendapat gelengan keras dari Taehee.

“tidak boleh. Kita kan mempunyai jalan masing-masing. Jadi, biarkan aku bekerja ditempat lain eo?” mendengar jawaban Taehee, Woohyun hanya dapat mendengus kesal dan kembali menatap kertas selanjutnya.

“yang ini… ah~ yang ini lumayan bagus. Sekertaris hanya diminta saat jam kantor, tapi bisa mengatasi segala jadwal direktur. Mengerti soal analisa pajak dan saham. Gajinya bagus. Kita coba yang ini, eo?” Taehee menerima berkas yang diberikan Woohyun dan membacanya dengan cermat. Setelah ia mendapatkan inti dari perusahaan tadi, ia menatap Woohyun dan tersenyum lebar.

“gomawo, Nam Woohyun-ssi.”

“eish! Seharusnya diganti cagiya.” Ucapan santai Woohyun membuat Taehee tertawa kecil dan menatap Woohyun dengan mesra.

***

“ah, itu busnya datang! Kkaja!” Woohyun dengan cepat menggandeng tangan Taehee erat dan segera masuk kedalam bus. Ia menundukkan kepalanya member hormat kepada supir dan mengarahkan kartu bus nya ke mesin. Taehee melihat Woohyun setengah tidak percaya.

“kau bahkan tahu bagaimana cara naik bus?” Tanya Taehee takjub begitu mendapatkan tempat duduk.

“eish, jangan melihatku seolah-olah aku ini bodoh. Aku bahkan bisa melakukan hal seperti ini untukmu. Hanya untuk, perempuan yang paling ku cinta. Kang Taehee.” Ucap Woohyun penuh senyum dan tidak melepas genggaman tangannya pada Taehee.

“ne… aku benar-benar hebat mengubah anak keturunan chaebol menaiki bus umum sepertiku. Apakah ini yang pertama?” Tanya Taehee dengan senyum merekah dan melihat intens Woohyun yang tersenyum malu lalu mengangguk.

“ini benar-benar hal baru bagiku.” Ucap Woohyun sambil mengalihkan pandangannya dari Taehee.

“berhenti menatapku seolah aku ini anak kecil. Kau benar-benar pintar menjatuhkan mood orang lain, eo?” ucapan kesal Woohyun mendapat pukulan kecil dibahunya dari Taehee. Ia melihat Taehee kesal, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil dan memeluk bahu Taehee.

“menaiki bus, makan di pinggir jalan, merawatmu, menemani wawancara pekerjaanmu, memutuskan hubungan dengan pemilik saham terbesar di Asia untukmu, merubah struktur perusahaan untukmu… Aku benar-benar jatuh cinta padamu.” Ucap Woohyun dengan suara kecil.

Ingatan Taehee kembali pada saat hubungannya masih berjalan satu bulan dengan Woohyun. Ia mendapat kabar, Woohyun bertunangan dengan pemilik perusahaan saham terbesar se-Asia. Dengan susah payah, Woohyun mencari pialang sham lain demi memutuskan hubungan pertunangannya dengan perempuan tadi. Semua Woohyun lakukan, demi Taehee seorang.

***

“bagaimana wawancaramu?” Tanya Woohyun dengan cepat setelah melihat Taehee keluar dari ruang wawancaranya. Taehee tersenyum kecil dan menggeleng.

“kali ini, masalah latar belakangku.” Ucap Taehee pelan. woohyun langsung menggenggam tangannya dan menyuruhnya duduk di sofa lobby perusahaan.

“aku punya teman di perusahaan ini. Aku bantu ya? Untuk kali ini…” ucap Woohyun lirih sambil menatap wajah Taehee yang menunduk. Taehee menggeleng dan mengangkat wajahnya dengan senyum lebar.

“biarkan saja. Mungkin belum saatnya aku bekerja disini! Kkaja, kita pulang.” Taehee mengajak Woohyun berdiri dan melangkah pergi keluar dari perusahaan itu.

***

Woohyun menurunkan berkasnya begitu mendapat panggilan masuk yang ia tunggu-tunggu. “yobuseo? Bagaimana?” sapa Woohyun dengan cepat tanpa basa-basi. Dehaman laki-laki terdengar dari seberang.

“kami sudah menemukannya. Mereka berada di daerah Kangnam. Disana Nyonya Kang menjaga supermarket dan Tuan Kang menjadi kuli bangunan.” Woohyun langsung melebarkan ikatan dasinya yang langsung terasa mencekat.

“arasseo. Tetap awasi mereka.” Ucap Woohyun memutuskan hubungan dan mendesah pelan.

‘apakah ini saatnya? Aku yakin ini belum terlambat.’ Pikir Woohyun yang langsung berdiri mengambil jasnya yang tersampir. Meninggalkan ruang kerjanya menemui kekasihnya, Kang Taehee.

Ia memencet tombol 2 di ponselnya cukup lama hingga tersambung dengan seseorang. “yobuseo, eomma?” ucap Woohyun sambil keluar dari lift dengan cepat.

“eomma, aku ingin menjalankan rencanaku. Eomma dan appa sudah setuju. Sekarang, bisakah kita bertemu di hotel?” Tanya Woohyun tergesa-gesa memasuki mobilnya.

“kau benar-benar akan melakukannya? Ini tidak mudah Woohyun-ah.”

“eomma, aku yakin dia pasti setuju! Eomma percaya padaku kan? Eomma dan appa cukup mempersiapkan semuanya, eo?” selesai dengan pernyataannya, ia langsung menginjak pedal gas dalam.

***

“kita… benar-benar akan bertemu dengan orangtuamu?” Tanya Taehee dengan hati-hati sambil terus menggenggam tangan Woohyun erat. Ia menyamakan langkah Woohyun yang memasuki lobby hotel keluarga Woohyun dengan cepat.

“eo. mereka sudah menunggu kita, cagiya.” Ucap Woohyun sambil melihat sekilas Taehee dengan senyum kecilnya. Taehee menggigit bibir bawahnya kecil dan mengikuti langkah Woohyun menuju restoran hotel. Taehee melihat orangtua Woohyun yang sudah pernah ia lihat sebelumnya dengan senyum hormat. Ia membungkukkan badannya sambil mengucapkan salam dengan hormat. Eomma Woohyun langsung memeluk Taehee dengan erat seakan bertemu dengan anaknya sendiri.

“kau terlihat baik-baik saja Taehee-ya… Seberapa besar kesulitanmu, pasti kau mampu mengatasinya…” eomma Woohyun melepas pelukannya dan melihat Taehee dengan mata berkaca-kaca. Taehee tersenyum tulus tanpa bisa menjawab ucapan eomma Woohyun.

“kau terlihat semakin cantik, Taehee-ya.”

“kamsahamnida, abonim.” Ucap Taehee tulus sambil membalas senyum dari aboji Woohyun. Ia duduk di kursi yang ditarik dengan gentle oleh Woohyun dan menatap bingung kea rah orang tua Woohyun.

“ada apa, abonim dan eommonim ingin menemuiku?” Tanya Taehee dengan hati-hati dan tetap menyunggingkan senyumnya. Eomma Woohyun mengeluarkan kotak kecil dari tasnya dan menaruhnya di atas meja. Woohyun membuka kotaknya dan melihat Taehee yang kebingungan.

“Kang Taehee, menikahlah denganku, eo? kita selesaikan masalah keluargamu.” Taehee menatap Woohyun tidak percaya.

“benar Taehee-ya, kami akan selesaikan masalah keluargamu. Kau cukup terbang ke Amerika dengan Woohyun dan mengganti namamu. Hiduplah berbahagia di Amerika, eo?” Taehee semakin menatap tidak percaya ke arah eomma Woohyun yang balas menatap Taehee dengan meminta.

“kami sudah menemukan orang tuamu. Eommonim bekerja menjaga toko, sedangkan abonim menjadi kuli bangunan. Apakah kau ingin mereka seperti it terus? Menikahlah denganku dan meninggalkan kehidupan yang sekarang.” ucapan Woohyun benar-benar membuat Taehee kaget dan merasa terhina.

“maafkan kami, tapi, kami tidak bisa membiarkan kau memakai namamu yang sekarang Taehee-ya. Kalau klien Woohyun tahu… bagaimana nantinya. Menikah dan ganti namamu eo? Kang Anra.” Taehee benar-benar kehilangan kata-katanya sekarang. ia hanya mampu menatap eomma Woohyun tidak percaya. Sekelebat imajinasi Taehee tentang orang tuanya berkelebat dengan menyedihkan. Taehee memejamkan matanya dan menghela nafas.

“benarkah, keluargaku akan kembali seperti semula? Apakah eommonim dan abonim bisa menjamin? Apakah aku masih boleh bertemu mereka? Apakah, aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka?” Tanya Taehee dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.

“tentu saja sayang. Tentu saja kau boleh. Kami tidak akan memisahkan kau dengan orang tuamu. Kau akan menerima lamaran ini kan?” Taehee menengok ke arah Woohyun yang melihatnya dengan senyum kecil dan genggaman tangan yang menguatkannya.

‘apakah ini rasanya menjadi Cinderella? Kang Anra?’ pikir Taehee  dalam diam dan tetap menatap Woohyun yang membalas tatapannya dengan keyakinan.

To be continue~~

Ini cast OC nya (Kang Taehee/Kang Anra) pakai punya temen baru Anin loh ^^ Anggit Raditianti hehe~

Makasih roommate(s) mau baca ^^

Tungguin part II nya yah ppyong~

17 thoughts on “My Life Is [not] Yours! [PART I] [FREELANCE]”

  1. wah, anin.. akhirnya muncul (?) juga.. pas baca aku mikir, tumben nih anin castnya ngga pake reina, ternyata pake cast temennya.
    daebak! suka suka suka!😀 aku tunggu part selanjutnya ya🙂

  2. kyaaa
    akhirx bisa bca karya Anin lagi..
    *lompat2#eh?*

    aiiisshhh
    Anin-ya,
    kog aq suka ya sama FF QMu yg ini??
    Sangat penasaran sama next chapter..

    Typo??
    Dikit bnget,
    good job..

    Smga kehidupan baru Kang Anra lbih bhagia,

  3. Annyeooong…^^
    Tadinya kirain woohyun bukan pacarnya taehee, pas awal” woohyun muncul!! LoL.. Trus eomma ny woohyun gak ngerestuin hubungan mereka.. Tenyata ngedukung!!! Nerka” konplik!!?? Kkkkkk…
    Dtunggu next part!!!

  4. waaa….ada anin^^
    kirain td castnya reina-sungjong, eh…ternyataa bukaan *salah tebak*

    menurud ku critanya baguz nin… tapii kuq aku ngrasa ada sesuatu yg d sembunyikan sama wowo oppa yaa?? *reader sok tau!!*

    tyuz…tyuz…aku jg masih penasaran ma critanya taehee, yg asal mula penyebab kluarga nya bangkrut….

    hwaiting ya nin~ part slanjudnyaa *^_^*

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s