Pride and Prejudice [PART 3] [FREELANCE]

main cast: Kim Jong Woon (Yesung)

                  Lee Myun Hee (OC)

                  Kim Jong Jin

judul   : Pride & Prejudice (Part 3)

Author : Haebaraqui

Genre  : Romance

Sedikit cuap-cuap author: Mian kalo publishnya agak lama, soalnya authornya agak ga pede-an, jadi ngirim ke adminnya ga sekaligus dua atau tiga part. Author pengen baca sedikit komen dari readers dulu sebelum mengirim part selanjutnya. In case ada inspirasi tambahan atau kritik dari komen yang masuk. He….. Anyway, kalo ada yang ngerasa tambah lama jadi agak ngebosenin, author minta maaf juga *bowing bareng Jong Jin dan Jong Woon oppa*, soalnya author masih bermasalah dalam mengatur alur ceritanya supaya ga terlalu cepet tapi juga ga terlalu lambat. He…. Halah, malah banyak nih cuap-cuapnya. Last thing, author lama-lama tambah suka sama Jong Jin oppa nih, kekeke…*ga penting banget*. Anyway, as usual, I’m expecting your comments ^^ *bowing*

***

Myun Hee’s Room, Achasan

14.00 KST

Jong Woon POV

Aku sedang sibuk mencuci piring dan peralatan yang sebelumnya aku gunakan untuk memasak ketika terdengar suara teriakan dari kamar Myun Hee. Aku bergegas masuk dan mendapati Myun Hee yang sepertinya sedang mengigau.

“Andwe!! Jebal Andwe!!” Dia terus berteriak sementara tubuhnya bergerak tidak karuan seolah sedang melindungi diri dari sesuatu.

“Jebal andwe!!” Kali ini suaranya terdengar lebih pelan. Saat aku mendekatinya aku bisa melihat air matanya mulai mengalir.

“Oppa, tolong… oppa….” Suranya terdengar seolah dia sangat ketakutan. Aku memanggil-manggil namanya mencoba untuk membangunkannya, tapi sepertinya tidak berpengaruh karena dia terus mengigau. Aku mengguncang bahunya pelan dan tetap tidak berpengaruh. Tidak tau lagi apa yang harus dilakukan, aku pun akhirnya memegang erat salah satu tangan Myun Hee. Setelah beberapa saat dia sudah tidak berteriak histeris lagi dan nafasnya yang tadi terdengar tidak beraturan kembali normal secara perlahan. Dia juga sudah tidak menangis lagi. Aku menyeka keringat di dahinya. Setelah yakin yeoja ini sudah merasa tenang, aku pun berusaha melepaskan genggaman tanganku. Tapi ternyata Myun Hee menggenggam tangan ku dengan sangat erat sampai-sampai aku tidak bisa melepaskannya. Aku menghela nafas. Pasrah, aku pun akhirnya hanya duduk di lantai tepat di samping tempat tidur Myun Hee sambil terus menggenggam tangannya.

Aku  duduk sambil memandangi wajah Myun Hee. Apa yang sedang ada di pikirannya saat ini? Apa yang membuatnya ketakutan tadi? Berbagai pertanyaan terus bermunculan di kepala ku. Dan siapa sebenarnya yeoja ini? Kenapa dia seolah menyembunyikan banyak hal?

Ternyata tanpa sadar aku ketiduran dengan posisi yang sebenarnya kurang nyaman untuk tidur. Aku terbangun saat seseorang menarik baju ku dengan paksa dan membuat ku berdiri dan melepaskan genggaman tangan ku dengan Myun Hee.

“Yak! Apa yang kau lakukan di kamar Myun Hee?” Terdengar suara namja. Aku masih mencoba menyesuaikan penglihatan ku dengan suasana kamar yang sudah berubah gelap. Mungkin sekarang sudah malam. Aku memfokuskan pandangan ku pada namja yang berdiri dihadapan ku dan masih memegang erat kerah kemeja ku.

“Kau siapa?” Aku bertanya balik. Namja ini sepertinya lebih muda dari ku. Mungkin seumuran Jong Jin tapi dia agak sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ku.

“Apa yang kau lakukan di kamar Myun Hee? Kenapa kau memegang tangannya.” Dia kembali bertanya.

Myun Hee POV

Aku mendengar suara ribut tidak jauh dari tempat ku tidur. Sebenarnya aku berniat mengacuhkan suara itu dan kembali tidur karena kepala ku masih terasa pusing tapi suara itu semakin lama semakin nyaring. Dengan memaksakan diri, aku membuka mata dan mendapati kamar ku yang terlihat gelap. Sepertinya sekarang sudah malam dan lampu kamar tidak dinyalakan. Aku memfokuskan pandangan pada dua namja yang berdiri tepat disamping tempat tidur ku.

“Apa yang kau lakukan di kamar Myun Hee? Kenapa kau memegang tangannya.” Aku mengenali suara namja ini.

“Woo Hyun oppa.” Panggil ku. Menyadari aku sudah bangun kedua namja itu langsung mengalihkan perhatian pada ku.

“Myun Hee-ya, kau tidak apa-apa? Namja ini tidak melakukan hal yang buruk pada mu kan?” Suara Woo Hyun oppa terdengar benar-benar khawatir.

“Yak! Aku merawatnya! Apa seperti ini cara kalian memperlakukan orang yang sudah menolong? ” Suara Jong Woon terdengar sebelum aku sempat menyahut.

“Lalu kenapa kau memegang tangannya!” Kali ini Woo Hyun oppa kembali menaikkan suaranya. He? Jong Woon memegang tangan ku? Aku menatap Jong Woon.

“Kau memegang tangan ku?” Aku juga ikutan bertanya.

“Tadi kau mengigau, sepertinya kau bermimpi buruk, jadi aku memegang tangan mu untuk sedikit menenangkan. Tapi begitu aku akan melepaskan tangan, kau malah menggenggam tangan ku dengan erat.” Jelas Jong Woon. Aku bersyukur lampu kamar tidak dinyalakan karena aku yakin saat ini wajah ku pasti memerah karena malu setelah mendengar penjelasan Jong Woon. Kenapa aku bisa sampai berbuat seperti itu? Aku sendiri tidak ingat kalau aku mengigau. Bagaimana kalau aku mengatakan sesuatu yang memalukan dan Jong Woon mendengarnya?

“Kau benar-benar tidak melakukan hal yang buruk?” Woo Hyun oppa masih terdengar curiga.

“Dia benar-benar merawat ku oppa.” Aku menyahut untuk mencoba menenangkan Woo Hyun oppa.

“Haish, jinja!! Sebaiknya aku pulang sekarang.” Jong Woon bergegas berjalan ke luar kamar, suaranya terdengar benar-benar marah. Tanpa menghiraukan kepala ku yang masih terasa pening, aku langsung bangun dan mengikutinya hingga pintu depan.

“Mianhe. Jongmal mianhe. Woo Hyun oppa tidak bermaksud jahat, dia hanya salah paham karena sifat protektif pada dongsaengnya. Dan terima kasih untuk hari ini. Maaf sudah merepotkan mu.” Jong Woon mengernyitkan dahinya.

“Dia kakak mu?”

“Nee. Dia kakak ku.”

“Katakan padanya untuk lebih sopan pada orang yang sudah membantu adiknya.” Ekspressi marah masih terlihat hingga dia memasuki mobil. Saat aku kembali masuk ke rumah, Woo Hyun oppa sudah berdiri di depan pintu kamar dengan tangan bersedekap.

“Siapa dia? Kenapa dia ada di rumah mu? Bahkan bisa berada di kamar mu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku? Aku sengaja mempercepat kedatangan ku ke Seoul karena permintaan mu waktu itu. Aku benar-benar khawatir saat datang ke café tempat kau bekerja dan teman mu bilang kau pulang lebih awal karena sakit!” Dia menghujani ku dengan berbagai pertanyaan. Aku hanya berjalan melewatinya menuju tempat tidur ku dan kembali berbaring. Aku bahkan terlalu malas untuk menyalakan lampu kamar. Oppa terus mengikuti ku bahkan hingga kamar.

“Dia Kim Jong Woon, pemilik Handel&Gratel. Aku pernah bercerita tentang dia kan? Tadi dia mengantarkan ku pulang. Mungkin karena melihat kondisi ku yang sakit dan hanya tinggal sendiri seperti ini dia malah menunggui ku. Aku juga tidak mengerti.” Sahut ku sambil memejamkan mata dan berusaha untuk kembali tidur. Kepalaku benar-benar pusing.

“Tapi kenapa dia sampai memegang tangan mu seperti itu? Apa ada hubungan khusus antara kalian? Bukannya kau bilang dia menyebalkan? Kenapa aku malah melihat hal yang sebaliknya?” Lagi-lagi oppa melempari ku dengan berbagai pertanyaan.

“Oppa, kau lupa aku sedang sakit? Bisakah kita membahas ini nanti saja? Kepala ku benar-benar pusing saat ini. Jebal.” Aku sedang tidak ingin membahas kenapa Jong Woon justru menunggui ku yang sedang sakit karena aku sendiri juga tidak mengerti alasannya. Padahal tadi jelas-jelas dia tidak percaya kalau aku sedang sakit.

Oppa menghela nafas, “arraso. Mianhe. Kau beristirahatlah. Kalau perlu sesuatu, panggil saja. Aku ada di luar.” Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang ditutup. Baiklah, setidaknya untuk hari ini aku selamat dari berondongan pertanyaan mengenai Jong Woon.

Meskipun berusaha untuk tidur dan beristrihat, tapi pikiran ku terlalu penuh dengan berbagai pertanyaan. Bukan hanya Woo Hyun oppa yang bingung dengan tindakan Jong Woon hari ini, aku juga sama sekali tidak mengerti dengan namja yang satu itu. Dia benar-benar namja yang menyebalkan! Pertama dia sudah menilai ku seenaknya, mengajak ku berkencan, memperlakukan ku dengan semena-mena baik saat di café maupun saat kami kencan, tapi sekarang malah menunggui ku yang sedang sakit. Sepertinya namja itu harus di bawa ke rumah sakit secepatnya. Ku rasa ada yang salah dengan otaknya! Namja aneh!

Handel&Gretel

10.00 KST

Jong Woon POV

Tadi pagi aku berniat untuk mendatangi Myun Hee di rumahnya tapi begitu teringat pada saudara laki-lakinya aku langsung mengurungkan niat dan memilih untuk langsung ke Handel & Gretel untuk memastikan dia sudah sembuh atau belum. Entah kenapa aku merasa saudara laki-lakinya itu menyebalkan dan aku benar-benar malas bertemu dengannya. Saat aku melangkahkan kaki memasuki café yang sudah mulai terlihat ramai, aku melihat Myun Hee sudah berdiri di depan coffee maker dengan wajah sumringah, benar-benar ekspressi yang berbeda dengan apa yang aku saksikan saat dia mengigau semalam. Dia tersenyum ketika melihat ku sambil mengucapkan “gomawo” tanpa mengeluarkan suara, tapi aku bisa mengerti gerakan mulutnya. Aku hanya tersenyum singkat seperti biasa dan duduk di bangku yang berada tepat di hadapan counter barista.

Aku mengetuk-ngetukkan jari ku di meja pelan sambil sesekali menatap layar lap top. Well, tidak sepenuhnya menatap lap top karena bisa dibilang aku justru lebih sering mengarahkan pandangan ku pada yeoja yang berdiri di counter barista. Aku berusaha untuk memusatkan perhatian pada laporan yang kemarin belum selesai karena harus merawat yeoja itu tapi entah kenapa lagi-lagi aku justru mengalihkan pandangan ku. Myun Hee terlihat sedang mempersiapkan pesanan saat Dong Shik keluar dari dapur lalu merangkul Myun Hee,

“untunglah kau baik-baik saja.” Ucapnya. Aku hampir membelalakkan mata ku saat melihat Dong Shik berani melakukan itu pada Myun Hee. Berani-beraninya dia memeluk Myun Hee sembarangan. Myun Hee sendiri terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan Dong Shik.

“Maaf sudah membuat kalian khawatir kemarin.” Sahutnya sambil mengangkat pelan bahu kanannya seolah tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Dong Shik dan mencoba melepaskan rangkulan namja itu. Dong Shik pun akhirnya melepaskan tangannya dan berjalan mengambil beberapa piring cookies yang telah kosong dari etalase kue.

“Jong Jin terlihat mengkhawatirkan mu kemarin. Dia beberapa kali menghubungi mu tapi ponsel mu tidak aktif.”

“Kemarin aku memang sengaja mematikan ponsel karena ingin istirahat. Lalu dimana Jong Jin oppa? Apa dia tidak masuk hari ini? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi.” Dia terlihat mengendarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari sosok Jong Jin dan tatapannya terhenti pada ku yang duduk tepat di hadapan counter barista. Aku mengalihkan pandangan ku dari layar lap top ke arah yeoja yang sebenarnya dari tadi sudah aku perhatikan tanpa dia sadari.

“Ada apa?” Tanya ku seolah tidak tau arti dari tatapannya.

“Apa Jong Jin oppa tidak kemari?”

“Dia ada urusan mengenai store kami yang baru, tapi akan kemari siang nanti.” Myun Hee mengangguk kemudian kembali berkutat dengan beberapa pesanan yang sudah menunggu. Dari sudut mata ku aku memperhatikan yeoja yang terlihat benar-benar menikmati pekerjaanya. Aku sering mendengar kalau saat mengerjakan sesuatu yang disukai maka seseorang akan terlihat charming. Saat ini aku merasa yeoja di hadapan ku ini terlihat cantik. Haish, aku bergegas menggelengkan kepala ku beberapa kali untuk menghilangkan semua pikiran mengenai Myun Hee. Tidak, aku tidak boleh menyukai yeoja itu, setidaknya tidak saat ini, tidak sebelum dia yang lebih dulu menyukai ku. Dimana harga diri ku jika aku menyukai seorang yeoja terlebih dahulu? Itu belum pernah terjadi dalam sejarah hidup ku. Aku memang mengajaknya berkencan karena merasa menghabiskan waktunya akan lebih memnyenangkan dibandingkan menghabiskan waktu dengan yeoja kaya. Tapi untuk menyukainya? Rasa-rasanya aku sedang tidak ingin jatuh cinta pada yeoja mana pun.

“Ice Americano untuk anda sajangnim.” Myun Hee tiba-tiba berada di hadapan ku sambil meletakkan segelas ice Americano lalu kembali ke counternya sebelum aku sempat mengatakan sesuatu.

“Wah, kau sudah sembuh?” Terdengar suara yang sangat aku kenal. Jong Jin baru saja datang dan langsung mendatangi Myun Hee. Dia menyentuh dahi Myun Hee yang sedang sibuk membuatkan pesanan. Yeoja itu terlihat terkejut dan reflex mundur saat merasakan tangan Jong Jin di dahinya.

“Maaf membuat mu khawatir oppa. Sekarang aku sudah sembuh dan siap bekerja lagi.” Sahutnya sambil meletakkan tangan kanannya di dahi seolah sedang hormat. Dia tersenyum lebar. Aku baru sadar kalau dia selalu tersenyum jika berada di dekat Jong Jin, berbeda jika ada di dekat ku.

“Syukurlah. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja. Kalau merasa lelah istrihatlah.” Jong Jin mengacak rambut Myun Hee sebelum beranjak mendatangi ku.

“Kau perhatian sekali padanya.” Ucap ku saat ia duduk di samping ku dan melongok ke arah layar lap top ku.

“Dia karyawan ku. Wajar aku mengkhawatirkannya yang baru saja sakit.” Sanggahnya.

“Tetap saja rasanya kau berlebihan. Benar-benar mencurigakan.”

“Eiy, yang mencurigakan itu hyung. Kemarin memaksa mengantarkannya dan bilang akan kembali ke café setelah mengantarkan tapi sampai malam baru pulang ke rumah. Ekspressi wajah mu juga benar-benar tidak enak kemarin malam, aku bahkan tidak berani bertanya apa-apa.” Aku mengacuhkannya dan pura-pura sibuk dengan lap top dihadapanku. Aku memang agak kesal dengan kakak Myun Hee tadi malam. Bagaimana tidak kesal jika aku hampir ditamparnya padahal aku justru sudah merawat yeoja tomboy itu! Cih, apa orang dari kalangan menengah terbiasa bersikap bar-bar?

“Mau minum sesuatu oppa? Kebetulan sedang tidak ada pesanan.” Myun Hee setengah berteriak menawari Jong Jin. Dongsaeng ku itu berfikir sejenak.

“Bisa kau buatkan kopi special mu seperti yang waktu itu?” Jawabnya.

“Yah, aku tidak membawa liquornya lagipula masa oppa mau minum liquor siang-siang begini!”

“Kalau begitu Cappuccino saja.” Tidak lama kemudian segelas cappuccino sudah tersaji dihadapan Jong Jin.

“Gomawo.” Ucapnya sambil tersenyum lebar sebelum yeoja itu berlalu.

“Kau menyukainya?” Bisikku.

“Hyung, jebal, jangan memulai soal ini.” Dia menunjukkan wajah protes.

“Arrasso… arrasso… ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Ini aku sudah membuat desain store kita.” Dalam sekejap kami sibuk membahas tentang rencana pembukaan store yang baru.

Myun Hee’s Room, Achasan

10.00 KST

Myun Hee POV

Aku berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya untuk melihat penampilan ku. Hari ini aku mengenakan T-shirt lengan panjang dan celana jeans seperti biasa. Setelah beberapa saat aku berjalan keluar menuju stasiun subway. Hari ini adalah jadwal libur kerja ku dan tadi malam Jong Woon menyuruh untuk datang ke Lotte World jam 11 siang ini. Sepertinya, dia benar-benar mempertimbangkan usulan ku untuk kencan di theme park. Well, hari ini aku memang datang dengan sukarela tanpa perasaan kesal mengingat dia sudah mau menunggui ku saat aku sakit kemarin. Bahkan aku tidak keberatan saat dia bilang dia tidak akan menjemput ku. Aku pikir aku akan tiba lebih dulu sebelum Jong Woon, tapi ternyata Jong Woon sudah berdiri di depan pintu masuk dan langsung memasang tampang kesal saat melihat ku datang.

“Yak, kenapa lama sekali?” Teriaknya. Aku melihat jam tangan ku.

“Aku tidak terlambat sajangnim. Aku tepat waktu.” Sahut ku sambil mengarahkan jam tangan yang menunjukkan pukul 10.58 ke arah wajahnya.

“Kalau aku datang lebih dulu itu berarti kau telat nona Myun Hee.” Ucapnya tegas. Keh, mood baik ku langsung menguap dalam hitungan detik berganti cibiran pertanda kesal. Bisa tidak sih dia bersikap lebih sopan sesekali? Dia tidak akan mati hanya karena bersikap baik kan? Huh! Padahal aku sudah berniat untuk bersikap lebih baik padanya hari ini, mengingat apa yang sudah dilakukannya pada saat aku sakit kemarin. Tapi melihat sikapnya yang seperti ini, niat baik ku langsung lenyap.

“Kajja.” Dia berjalan lebih dulu menuju counter ticket. Aku pikir dia akan membelikan tiket masuk untukku tapi ternyata aku harus membeli sendiri. Huh, namja pelit!

“Namja macam apa yang tidak membelikan tiket pada saat kencan.” Sindir ku.

“Perjanjian kita hanya sebatas aku menentukan tempat kencan, tidak ada perjanjian aku harus membayar semua biaya kencan kita kan?”

“Itu namanya manner, tuan muda.”

“I thought you are an independent girl dan tidak suka dengan perlakuan yang stereotype..” Aku mengarahkan kepalan tangan ku ke kepalanya saat dia berjalan mendahului ku memasuki Lotte World. Benar-benar namja menyebalkan!

“Waaaah…..” Aku tersenyum lebar saat memasuki Lotte World. Selama di Seoul aku memang tidak terlalu sering jalan-jalan dan ini adalah pertama kalinya aku ke Lotte World, salah satu amusement park terbesar se Asia.

“Mau naik yang mana dulu ya?” Gumam ku sambil memperhatikan ke sekeliling. Ada berbagai macam wahan yang sepertinya menarik.

“Naik itu saja.” Jong Woon menunjuk wahana roller coaster yang benar-benar tinggi. Seperti biasa dia tidak meminta pendapat ku dan hanya berjalan mendahului. Rasanya aku sudah terbiasa dengan sifat jeleknya ini, meskipun jika sudah kelewatan aku pasti akan meneriakinya.

“Wajah mu terlihat pucat, kau takut?” Ejeknya saat kami duduk di salah satu deretan kursi roller coaster dan memasang pengaman.

“Huh, menurut ku ini biasa saja sajangnim.” Jawab ku santai. Tidak lama kemudian roller coaster mulai berjalan. Awalnya hanya berjalan pelan tapi semakin lama kecepatannya semakin bertambah dan jalur yang dilalui semakin terlihat menakutkan. Sesekali aku memandang ke bawah dan membayangkan bagaimana rasanya jika kami terjatuh pada ketinggian dan kecepatan tertentu. Suara teriakan mulai terdengar dari orang-orang yang menaiki roller coaster bersama kami. Aku tidak tahu berapa lama roller coaster ini berputar, yang aku tahu kepala ku masih terasa berputar dan pening saat keluar dari wahana.

“Jangan muntah dihadapan ku!” Ucap Jong Woon saat kami berjalan keluar. Aku menatapnya tajam,

“I won’t!” Sahut ku tegas. Kami berjalan menuju wahana selanjutnya, seperti biasa Jong Woon berjalan lebih dahulu tanpa bertanya apakah aku mau naik wahana itu atau tidak.

“Changkaman.” Teriak ku saat merasakan ponsel di saku ku bergetar. Jong Woon berbalik ke arah ku,

“ada telpon. Tunggu sebentar.” Aku bergegas memencet tombol hijau dan berjalan agak menjauh dari Jong Woon yang tengah berdiri sambil bersedekap.

“Yoboseyo.”

“Myun Hee-ya, kau sedang libur? Aku tadi ke café tempat mu bekerja tapi katanya kau sedang libur.” Suara Woo Hyun oppa terdengar dari seberang.

“Nee, aku sedang libur oppa.”

“Baguslah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sudah lama aku tidak pergi dengan mu.”

“Mian, oppa, aku sudah ada janji dengan teman ku.”

“Jinja?” Terdengar suara kecewa Woo Hyun oppa.

“Bagaimana dengan makan malam?” Aku mencoba meminta maaf.

“Hmmm… baiklah, aku jemput kau jam 7. Otthe?”

“Nee.” Setelah memasukkan kembali ponsel ke saku celana, aku bergegas kembali mendatangi Jong Woon. Tapi baru beberapa langkah kami berjalan ponsel ku kembali bergetar,

“mian.” Ucap ku pada Jong Woon yang mulai menampakkan wajah kesalnya.

“Nee, Heon Gon oppa.” Aku menjawab panggilan yang kali ini dari Heon Gon oppa.

“Kau sedang libur kan?” Keh, oppadeul ku ini benar-benar kurang kerjaan sepertinya.

“Oppa, aku sedang dengan teman ku. Barusan Woo Hyun oppa juga menelpon ku untuk mengajak jalan-jalan. Kalian benar-benar tidak ada kerjaan ya?”

“Oh ya? Waaah.. aku keduluan Woo Hyun. Kami hanya rindu dengan mu my angel! Kita kan sudah lama tidak bertemu.” Heon Gon oppa selalu bisa membuat ku mengalah.

“Arrasso. Aku juga rindu kalian. Bagaimana kalau makan malam bersama? Aku berencana dengan Woo Hyun oppa untuk dinner malam ini.”

“Ah, aku tidak mau berbagi mu dengan Woo Hyun. You’re mine!”

“Yak! Oppa, memangnya aku barang!?” Protes ku. Terdengar suara tawa nyaring Heon Gon oppa dari seberang.

“Arrasso. Aku ikut kalian. Have fun my angel. See ya!”

“kau yakin tidak akan ada yang menelpon lagi?” Sindir Jong Woon saat aku berjalan mendekatinya. Aku hanya tersenyum. Selama hampir dua jam dia menyeret ku menaiki berbagai wahana sampai akhirnya aku benar-benar kelelahan dan perut ku juga mulai keroncongan.

“Yak! Aku mau makan!” Ucap ku pada Jong Woon yang lagi-lagi berjalan mendahului ku menuju satu wahana. Dia berbalik dan mengernyitkan dahinya.

“Aku kelaparan!” Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung berjalan menuju deretan restaurant yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri. Kali ini aku yang memutuskan. Aku tidak peduli dia akan suka atau tidak. Aku masuk ke sebuah restaurant yang sepertinya menjual berbagai macam pasta kemudian langsung duduk di kursi yang terletak di samping jendela. Ternyata Jong Woon berjalan mengikuti ku dan duduk dihadapan ku dengan tampang kesal.

“Kalau kau tidak suka cari saja restaurant lain, aku tidak keberatan. Nanti kita ketemu di depan wahana yang tadi. Toh kau juga tidak berniat untuk membayar makanan ku kan?” Ucap ku.

“Ani, spaghetti juga tidak apa-apa.” Sahutnya sambil melihat buku menu di atas meja. Seperti biasa, saat makan bersama Jong Woon adalah saat yang paling hening. Sebisa mungkin aku menghindari percakapan dengan namja gila ini. Aku tidak mau kehilangan nafsu makan ku hanya karena ucapan menyebalkannya. Saat kami sedang menikmati makan, ponsel Jong Woon berbunyi. Dengan segera dia berdiri dan berjalan menjauhi ku sambil menerima panggilan tersebut.

Jong Woon POV

“Nee Jong Jin-ah.” Ucap ku saat menerima panggilan dari Jong Jin.

“Hyung kau dimana? Kau tidak ada di kantor? Tadi sekertaris mu lagi-lagi menghubungi ku.” Suara Jong Jin terdengar agak kesal.

“Aku ada urusan sebentar. Nanti aku akan menghubungi sekertaris ku. Mianhe, merepotkan mu.”

“Kau ini sebenarnya sedang melakukan apa sih hyung? Kenapa senang sekali menghilang begini? Jangan lupa, kita harus menyelesaikan segala sesuatu terkait store baru itu kan? Kau janji untuk bertemu dengan ku hari ini untuk menyelesaikannya.” Aku menghela nafas.

“Arrasso, aku akan ke café nanti malam.”

“Baiklah. Jangan telat!” Dia memperingatkan ku sebelum akhirnya memutuskan panggilan. Cish, kalau ada dihadapan ku sudah ku jitak dia keras-keras karena sudah berkata seenaknya pada ku yang jelas-jelas hyungnya! Saat aku kembali ke tempat duduk, Myun Hee ternyata sudah hampir menghabiskan makanannya. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benak ku,

“Myune Hee, kau menyukai Jong Jin?” Pertanyaan ini sudah ada di benak ku selama beberapa hari setelah beberapa kali melihat sikapnya yang memang agak berbeda jika di dekat Jong Jin. Myun Hee hampir tersedak saat mendengar pertanyaan ku. Dia menatap ku seolah pertanyaan yang aku ajukan benar-benar tidak wajar.

“Kau terlihat sangat senang jika di dekatnya.” Tambah ku.

“Aku tidak perlu menjelaskan apapun pada anda sajangnim.” Cish, kenapa dia jadi sok misterius?

“Kau harus menjelaskan pada ku apa kau menyukai Jong Jin atau tidak. Pertama karena dia dongsaeng ku dan kedua jika kau memang benar-benar menyukai Jong Jin aku ingin menegaskan pada mu untuk bekerja dengan serius dan penuh konsentrasi, jangan hanya memperhatikan Jong Jin.” Myun Hee terlihat kesal, dia menatap ku dengan tatapan tajam.

“Kau tidak perlu khawatir sajangnim, aku selalu bekerja dengan serius.” Jawabnya sinis.

“Itu tidak menjawab pertanyaan ku.” Aku tetap berusaha mendesaknya untuk menjawab tapi sepertinya yeoja dihadapan ku ini juga cukup keras kepala untuk tidak menjawab. Dia langsung berdiri dan membayar makanannya di kasir lalu berjalan keluar dari restaurant, bahkan tanpa menunggu ku. Aku bergegas mendatanginya setelah membayar makanan ku. Moodnya sepertinya benar-benar jelek setelah pertanyaan ku tadi tapi aku bersikap cuek dan tetap memaksanya menaiki berbagai wahana. Seperti sebelum makan siang, dia tetap mengikuti ku tanpa protes tapi bedanya dia sama sekali tidak tersenyum atau terlihat menikmati.

“Kita pulang?” Tanyanya saat aku berjalan menuju pintu keluar Lotte World. Aku tidak berhenti berjalan.

“Aku harus kembali bekerja. Kau lupa kalau aku seorang CEO? Pekerjaan ku banyak.” Jawab ku. Sebenarnya aku hanya merasa kencan kali ini sudah tidak terasa menyenangkan lagi. Myun Hee yang hanya diam dan tidak berkomentar apapun benar-benar membuat ku kehilangan mood untuk bersenang-senang.

“Kalau memang sedang banyak pekerjaan untuk apa mengajak kencan segala? Huh, bilang saja kalau mau menyombongkan status CEO nya.” Aku mendengar Myun Hee yang menggerutu pelan dibelakang ku. Aku berbalik.

“Kau mau mengatakan sesuatu pada ku?” Aku berpikir dia akan mengucapkan sekali lagi gerutuannya tadi. Tapi dia hanya menyahut, “opso!” dan berjalan melewati ku begitu saja.

“Aku antar kau pulang.” Ucap ku saat kami sudah berada di luar Lotte World. Dia menatap ku dengan pandangan tidak suka tapi tidak berkomentar apapun. Selama diperjalanan Myun Hee menempelkan dirinya ke pintu dan hanya memandang jalanan seolah ingin menjaga jarak sejauh mungkin dari ku.

“Yak! Kau ini sebenarnya kenapa?” Aku akhirnya tidak tahan dengan sikapnya. Dia menoleh sejenak pada ku lalu kembali menatap jalanan di depan.

“Yak! Kau marah!”

“Aku karyawan mu sajangnim, di luar pekerjaan ku kau tidak berhak mencampuri urusan ku.” Jawabnya tegas.

“Sudah ku bilang, aku tidak ingin pekerjaan mu terganggu, lagipula kau sedang berkencan dengan ku. Masih ingat perjanjian tiga minggu kita kan?” Sekarang dia duduk menyamping agar bisa melihat ku langsung.

“Pertama, hasil pekerjaan ku selama ini masih memuaskan, aku tidak melakukan kesalahan. Kedua, tidak ada perjanjian aku tidak boleh menyukai orang lain selama kita berkencan, jika aku memang menyukai orang lain.” Aku menghentikan mobil ku di pinggir jalan. Dia terlihat terkejut.

“Jadi kau benar-benar menyukai Jong Jin.” Kali inii aku sengaja mengubah duduk ku agar bisa langsung menatap matanya untuk mencoba memastikan apakah dia benar-benar menyukai Jong Jin.

“Itu bukan urusan mu sajangnim! Kau cemburu?” Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya. Aku? Cemburu? Aku langsung mengusir jauh-jauh pikiran itu.

“Aku sudah mengatakan alasan ku kan? Ingatan jangka pendek mu sepertinya sedikit bermasalah.” Aku menyentil dahi kanannya pelan.

“Whatever! Just don’t interfere my personal business sajangnim. That’s what is called privacy.” Dia menegaskan setiap perkataannya. Aku mendengus kesal dan kembali menjalankan mobil. Ada apa dengan ku hari ini?

Setelah hampir 20 menit, aku mulai melambatkan mobil ku dan akhirnya berhenti di depan sebuah toko perhiasan langganan eomma. Myun Hee memandang ku heran saat aku melepaskan seat belt ku dan menyuruhnya untuk keluar. Meskipun masih memasang tampang kesal tapi dia tetap keluar dan mengikuti ku berjalan memasuki toko tersebut. Salah seorang karyawan langsung mendatangi ku begitu aku melangkah masuk.

“Annyonghaseyo, Kim Jong Woon-ssi.” Sapa karyawan itu sopan sambil membungkuk sesaat.

“Pesanan ku sudah selesai kan?” Tanya ku.  Dia mengangguk lalu masuk ke salah satu pintu yang ada di belakang deretan etalase dihadapan ku. Sambil menunggu karyawan tersebut aku berjalan sambil memperhatikan berbagai perhiasan di etalase. Myun Hee terus mengikuti ku yang berjalan perlahan. Dia berbeda sekali dengan yeoja yang dulu pernah kencan dengan ku. Sekesal apapun mereka, jika ku ajak ke toko perhiasan pasti wajah kesalnya langsung berubah menjadi wajah memelas untuk dibelikan perhiasan. Mungkin berkencan dengan gadis dari kalangan menengah memang pilihan yang tepat, selain bisa pergi kemana saja tanpa banyak protes, budget yang aku keluarkan juga tida terlalu besar.

“Sajangnim.” Karyawan tadi memanggil ku sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang. Dia berdiri tepat dihadapan ku kemudian membuka kotak tersebut. Aku mengangkat perlahan kalung yang ada didalamnya. Sebuah kalung sederhana dengan mata kalung berbentuk bunga matahari. Aku tersenyum puas lalu meletakkannya kembali kemudian mengambil sebuah gelang yang ada di dalam kotak yang sama. Gelang tersebut dikelilingi dengan hiasan berbentuk matahari kecil disekelilingnya.

“Nice.” Puji ku sembari mengembalikan gelang tersebut ke dalam kotak.

“Kamsahamnida. Mohon tunggu sebentar, saya akan membungkusnya.” Ucap karyawan tersebut.

“Tidak usah, begini saja. Terima kasih. Urusan pembayaran masukkan ke tagihan kartu kredit ku saja, seperti biasa.” Sahut ku. Karyawan tersebut menyerahkan kotak perhiasan tersebut lalu mengantarkan ku dan Myun Hee hingga pintu keluar.

Myun Hee POV

Aku benar-benar sedang tidak berminat untuk berbicara dengan Jong Woon. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba bertanya mengenai perasaan ku terhadap Jong Jin oppa, bahkan dia tidak berhenti mendesak ku untuk menjawabnya. Bagi ku Jong Jin oppa… eum… bagi ku…. Molla, aku sendiri tidak pernah memikirkan perasaan ku pada Jong Jin oppa. Bisa dibilang aku merasa cukup nyaman berada di dekatnya dan aku tidak pernah berpikir kenapa aku merasa seperti itu. Dan yang membuat ku kesal adalah aku sudah cukup direcoki oleh Woo Hyun oppa dengan berbagai pertanyaannya mengenai namja, dan juga Heon Gon oppa masih penasaran mengenai Jong Jin oppa yang menelpon ku waktu itu, jadi aku benar-benar tidak perlu tambahan orang lain untuk merecoki ku dengan pertanyaan mengenai namja.

“Gomawo.” Ucap ku saat kami sudah sampai di depan rumah. Tapi tangan Jong Woon dengan sigap menahan tangan ku yang hendak melepaskan seat belt. Aku menghela nafas. Apa lagi sekarang?

“Ini.” Dia memberikan kotak berisi kalung dan gelang yang baru saja dibelinya di sebuah toko perhiasan di jalan pulang tadi. Aku mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti atas tindakannya kali ini.

“Kau ini benar-benar tidak memperhatikan penampilan ya? Lihat saja cara berpakaian mu. Benar-benar tidak terlihat seperti yeoja, belum lagi rambut mu itu pendek. Setidaknya kalung dan gelang ini bisa sedikit menunjukkan kau itu yeoja.” Dia menjelaskan panjang lebar sambil meletakkan kotak itu di tangan ku.

“Shiro. Aku tidak mau berhutang sesuatu pada mu.” Aku mengembalikan kotak itu. Tapi dia menahan kotak tersebut di tangan ku.

“Siapa bilang aku memberikan ini pada mu? Aku hanya meminjamkannya untuk kau pakai di kencan kita berikutnya. Jadi jaga benda ini baik-baik. Awas kalau hilang, bahkan gaji mu setahun pun tidak akan cukup untuk membayarnya.” Dia mewanti-wanti. Keh, kalau memang merasa ini mahal kenapa masih memaksa ku menyimpannya? Dasar namja aneh!

“Arrasso!” Sahut ku lalu langsung keluar sebelum dia mengeluarkan peringatan aneh lainnya.

“Jangan terlambat masuk kerja besok!” Teriaknya dari mobil. Aku hanya berbalik sebentar sambil mencibir ke arahnya kemudian masuk ke rumah. Aku melihat jam yang ada di dinding ruang tamu. Ternyata baru jam lima, masih ada dua jam untuk beristirahat sebentar dan berisap-siap makan malam dengan oppadeul ku.

***

Apa kau beristirahat dengan baik hari ini? Sebuah pesan singkat dari Jong Jin masuk saat aku sedang di jalan pulang setelah makan malam.

Nee, tenang saja sajangnim, besok aku akan masuk kerja dengan semangat dan tenaga yang penuh! Kau sendiri apa sudah beristirahat?

Aku masih di café, masih ada laporan yang harus di selesaikan. Sayang hari ini hari libur mu, jadi tidak bisa menyuruh mu membuatkan kopi special. Desperately need that. Gonna stay up till late tonight

Aku melihat jam yang tertera di layar handphone, baru jam 9 malam.

“Oppa, bisa antarkan aku ke café sebentar?” Pinta ku pada Woo Hyun oppa di samping ku.

“Kau kan sedang libur, untuk apa ke sana?” Heon Gon oppa yang duduk di kursi belakang menyahut.

“aku ada keperluan sebentar. Jebal.” Aku pasang tampang memelas. Meski terlihat enggan, Woo Hyun oppa mengangguk. Lima belas menit kemudian kami sudah hampir sampai di café. Aku meminta Woo Hyun oppa berhenti 100 meter sebelum café.

“Wae?” Tanya Woo Hyun oppa sambil menatap ku heran. Aku melepas seat belt dan membuka pintu.

“Yak!” teriak oppa pada ku yang belum menjawab pertanyaannya.

“Sudah, jangan protes. I got my own reason, okay? Aku hanya sebentar, jadi jangan menyusul ku.” Ucap ku sambil tersenyum sebelum menutup pintu. Sekilas aku bisa melihat Woo Hyun oppa dan Heon Gon oppa yang saling bertatap-tatapan heran. Café sudah mulai terlihat sepi saat aku berjalan masuk. Hanya ada tiga-empat orang customer. Han Kang oppa yang berdiri di counter kasir menatap ku bingung.

“Jong Jin oppa ada?” Tanya ku. Dia menunjuk sesosok namja yang tengah duduk sambil menatap layar lap top dihadapannya. Jong Jin duduk di salah satu sudut café dan sepertinya dia tidak meyadari kedatangan ku karena sedang sangat serius menatap lap top di hadapannya. Aku tidak langsung mendatanginya tapi malah masuk ke ruang karyawan dan membuka loker ku. Aku mengambil tempat kopi dan botol minuman yang berisi sedikit liquor kemudian membawanya ke meja barista.

“Aku pinjam tempat sebentar ya.” Pinta ku pada Han Kang oppa. Dia hanya mengangguk. Di rumah ku terdapat berbagai macam kopi yang tidak digunakan di café ini. Setelah bereksperimen beberapa kali aku akhirnya menemukan jenis kopi yang paling pas untuk dicampurkan dengan liquor. Han Kang oppa hanya menatap ku bingung saat aku mencampurkan kopi dengan sedikit alcohol. Dalam 15 menit aku selesai membuat kopi special dan dengan hati-hati meletakkanya di meja Jong Jin oppa.

“Kau? Sejak kapan datang?” Tanyanya dengan ekspresi heran saat aku meletakkan kopi.

“Tadi aku sedang di jalan pulang saat menerima pesan oppa. Tiba-tiba saja terpikirkan untuk membuat kopi ini. Aku baru ingat kalau aku ternyata menyimpan sedikit liquor di loker ku.”

“Yak, kau minum di saat jam kerja? Kenapa menyimpan liquor di loker?”

“Ani, aku sengaja menyimpan itu kalau-kalau aku melihat mu kerja lembur seperti ini!!” Protes ku.

“Aku tidak bisa minum oppa!!” Tambah ku lagi sambil memasang tampang kesal karena dia menuduh ku seenaknya. Aku memang tidak tahan jika harus minum alcohol. Saat melakukan eksperimen dengan resep ini di rumahpun aku hampir menyerah karena efek alcohol membuat ku pusing selama berjam-jam.  Jong Jin terkekeh.

“Arrasso, aku hanya bercanda. Gomawo.” Ucapnya sambil menyeruput kopi dihadapannya.

“Myun Hee-ya!” Terdengar suara seseorang memanggil nama ku. Aku menengok dan mendapati Heon Gon oppa berjalan mendekati ku.

“Katanya hanya sebentar. Ini sudah lebih dari 20 menit.” Protesnya. Jong Jin menatap Heon Gon oppa dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Ini Heon Gon oppa. Dia kakak ku.” Aku memperkenalkan Heon Gon oppa pada Jong Jin.

“Kim Jong Jin imnida. Aku atasan Myun Hee.” Jong Jin mengulurkan tangannya yang disambut oleh Heon Gon oppa.

“Lee heon Gon imnida. Aku oppa Myun Hee. Maaf jika dongsaeng ku ini sering merepotkan mu.”

“Yak, oppa!!!” Aku memukul lengan oppa.

“Tidak, Myun Hee justru sangat membantu. Dia barista yang handal.” Aku tersenyum mendengar pujian Jong Jin oppa.

“Baiklah, aku pulang dulu sajangnim. Sampai jumpa besok.”

“Nee, terima kasih kopinya.” Sahut Jong Jin sebelum kami berjalan menuju pintu keluar. Heon Gon oppa tersenyum sambil berkata, “oooh, jadi dia yang namanya Jong Jin…”

“Wae? Apa yang sedang oppa pikirkan? Apapun itu, segera hapus pemikiran aneh itu. Dia hanya atasan ku.” Oppa hanya mengangguk tapi senyuman anehnya itu masih melekat di wajahnya.

Jong Woon POV

Aku mendatangi Jong Jin yang sedang duduk sambil menatap layar lap top. Segelas kopi terlihat di samping lap topnya.

“Apa ada menu baru?” Ucap ku setelah menyeruput gelas di hadapannya.

“Bukan, itu kopi special buatan Myun Hee.” Aku menatap Jong Jin heran. Myun Hee kesini hanya untuk membuatkannya kopi? Sadar akan tatapan ku, Jong Jin menghentikan pekerjaannya kemudian mengalihkan pandangannya pada ku yang duduk di hadapannya.

“Dia mampir karena aku bilang akan bekerja lembur malam ini. Dia sedang di jalan pulang ke rumah jadi sekalian saja mampir. Aku sudah beberapa kali memintanya membuatkan kopi ini tapi dia selalu tidak bisa karena ada bahan yang tidak ada di café kita. Mungkin karena merasa bersalah dia membuatkan kopi ini kali ini.” Jelasnya panjang lebar. Aku mengernyitkan dahi ku,

“Dia menyukai mu menurutku.”

“Hyung, kau cemburu?” Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba membuat ku gugup.

“Aku? Aku? Cemburu? Tidak mungkin.”

“Lalu kenapa kau mengalihkan pandangan mu saat menjawab pertanyaan ku? Kau menyembunyikan sesuatu hyung?” Dia terus mendesak ku.

“Haish, berhenti membahas hal yang tidak penting. Aku kemari untuk melanjutkan pembahasan kita soal perusahaan kan?”

“Padahal kalau cemburu juga tidak apa-apa” Gumam Jong Jin pelan.

“Yak!” Aku menjitak kepalanya keras.

***

Jong Woon’s Room, Kim’s residence

00.20

Sekarang sudah lewat pukul 12 malam tapi mata ku masih belum mengantuk. Sudah hampir satu jam aku hanya berbaring di tempat tidur sementara pikiran ku terus teringat Myun Hee dan Jong Jin. Tanpa bisa aku control, pikiran ku terus memperlihatkan wajah tersenyum Myun Hee setiap kali dia bersama Jong Jin. Kenapa dia bisa tertawa selepas itu jika bersama Jong Jin? Sikapnya akan berubah 180 derajat jika bersama ku. Well, dia memang terlihat senang saat kami kencan di Lotte World tadi tapi hanya bertahan sebentar. Wajah kesalnya kembali terlihat dalam beberapa jam. Apa bersama ku sebegitu menyebalkan baginya? Wae? Aku bangun dan mengacak-acak rambut ku frustasi. Kenapa aku harus memikirkannya seperti ini?

Aku bangun dari tempat tidur ku, berjalan mondar-mandir, kemudian kembali berbaring. Aku melakukan hal itu berulang-ulang.

***

06.30 KST

“Hyung, wajah mu terlihat lelah? Kau bekerja sampai jam berapa tadi malam?” Jong Jin menyapa ku yang baru saja memasuki ruang makan. Eomma menyentuh wajah ku lembut,

“jangan bekerja berlebihan. Bagaimanapun juga kesehatan tetap nomor satu.” Aku tersenyum dan mengangguk.

“Arrasso, eomma.” Aku duduk dan meminum segelas kopi yang ada di meja. Appa melipat koran yang tadi dibacanya saat eomma duduk di samping appa. Sarapan adalah saat paling berharga bagi ku karena biasanya dihabiskan bersama keluarga ku. Kadang kami memang makan malam bersama, tapi tidak sesering sarapan bersama.

“Bagaimana café? Kau bisa menanganinya dengan baik?” Tanya appa pada Jong Jin.

“Nee, appa. Pemilihan tempat kita memang pas karena café kita selalu menjadi pilihan para fans yang ingin beristirahat sambil menunggu jadwal perform artis idola mereka. Belum lagi jika hyung datang, maka pelanggan yang datang akan lebih banyak lagi, terutama yeoja.” Appa melirik aku sebentar.

“Baguslah. Lalu bagaimana dengan persiapan store baru kita? Sudah siap semuanya?” Kali ini appa bertanya pada ku.

“Beres. Store kita sudah siap untuk pembukaan lusa.” Appa mengangguk puas.

“Lusa malam pastikan kalian berada di store kita, terutama kau Jong Woon-ah.” Aku bertatap-tatapan bingung dengan Jong Jin.

“Wae?”

“Ada tamu penting. Teman lama ayah dan keluarganya akan datang untuk melihat-lihat store baru kita. Kebetulan dia juga tertarik untuk berinvestasi di beberapa usaha kita.”

***

Myun Hee’s Room, Lee’s Residence

06.30

Myun Hee POV

Aku bangun dan melihat sekeliling ku. Perlu waktu sekian menit untuk menyadari bahwa aku bukan di kamar ku sendiri. Well, ini sebenarnya juga kamar ku tapi bukan kamar yang biasa ku tempati. Tadi malam aku pulang ke rumah ku. Rumah yang sebenarnya. Emm, biar sedikit ku jelaskan, ini adalah rumah tempat orang tua ku tinggal jika mereka sedang di Seoul. Karena alasan tertentu, kami tinggal di Busan semenjak aku SMP. Tapi karena kesibukan orang tua ku, terutama appa, yang seringkali mengharuskan mereka tinggal di Seoul dalam waktu cukup lama maka mereka juga membeli rumah di Seoul. Kalian pasti bingung kenapa orang tua ku punya begitu banyak rumah tapi aku justru memutuskan untuk menyewa rumah kecil di Achasan yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Itu karena aku ingin mandiri dan tidak bergantung dengan orang tua ataupun oppadeul.

Aku melihat jam yang ada di dinding, baru pukul 6.30. Aku masih punya cukup waktu untuk sedikit berleha-leha.

“Hee-ya.” Terdengar suara lembut eomma diiringi suara pintu yang di buka.

“Kau sudah bangun?” Eomma berjalan mendatangi tempat tidur ku.

“Annyong eomma.”

“Cepat sana mandi. Heon Gon menyiapkan sandwich kesukaan mu.” Mendengar kata sandwich aku bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Eomma terkekeh pelan melihat sikap ku. Heon Gon oppa memang chef andalan rumah kami, setelah eomma tentunya. Tidak ada yang bisa mengalahkan makanan eomma. Tapi kalau soal sandwich kesukaan ku, buatan Heon Gon oppa tetap yang terbaik!

Dalam lima belas menit aku sudah duduk dengan manis di ruang makan. Heon Gon oppa sudah menyiapkan sandwich di hadapan ku. Sampai sekarang aku tidak tau resep apa yang digunakan oppa untuk membuat sandwich ini. Padahal bentuknya tidak berbeda dengan sandwich biasa tapi rasanya benar-benar enak. Hanya aku yang sarapan sandwich, sementara eomma, appa dan oppadeul ku sarapan dengan menu buatan eomma.

“Bagaimana pekerjaan mu? Kau tidak membuat onar kan?” Ucap Appa.

“Eiy, tentu saja tidak. Aku pekerja andalan café appa.” Sahut ku. Oppadeul ku dan eomma tertawa pelan mendengar jawaban ku.

“Aku serius! Aku benar-benar barista andalan mereka!” Tegas ku.

“Arrasso, kami tau kau pasti barista terbaik di café.” Sahut Heon Gon oppa sambil mengusap kepala ku pelan.

“Baguslah. O iya, lusa malam aku ingin kalian mengosongkan jadwal. Kita akan mendatangi teman lama ku. Dia akan membuka usaha terbarunya lusa dan kita akan berkunjung. Aku juga ingin meminta pendapat kalian terkait usaha-usaha mereka karena aku ingin berinvestasi.”

Woo Hyun oppa langsung mengangkat kedua tangannya, “jangan tanya pendapat ku appa. Aku arsitek bukan pengusaha. Tanya Heon Gon hyung saja. Dia kan jagonya.”

“Arraso. Tapi tidak ada salahnya jika ikut mendengarkan kan? Barangkali kau punya pendapat yang bisa dipertimbangkan.” Sahut appa.

“Baiklah. Tapi jangan berharap banyak.”

“Tapi aku harus bekerja appa. Lusa bukan jadwal libur ku.” Kali ini aku yang protes.

“Apa kau tidak bisa meminta ijin untuk pulang lebih cepat? Sekali ini saja.” Eomma menyahut. Aku mengerucutkan bibir ku. Mana mungkin aku bisa menolak jika eomma yang meminta seperti ini.

“Mau aku temani untuk meminta ijin?” Seperti biasa Heon Gon oppa ku yang baik hati ini selalu membantu ku. Aku menggeleng.

“Gomawo oppa, tapi aku akan meminta ijin sendiri.”

“Okay, it’s been decided then. Jam 6 kalian sudah ada di rumah. Kita berangkat bersama. Jangan terlambat.” Appa mengarahkan pandangannya pada ku.

“Dan jangan coba-coba untuk mencari alasan untuk kabur.” Kali ini appa menatap Woo Hyun oppa. Eomma dan Heon Gon oppa tersenyum melihat aku dan Woo Hyun oppa yang terlihat enggan tapi tetap harus meng-iyakan.

“Sudah cukup pembicaraan seriusnya. Ayo makan dulu. Myun Hee kan harus bekerja.” Eomma mengingatkan.

***

Handel&Gretel Yeouido

12.00 KST

Seperti biasa, hari ini café ramai dengan pelanggan yang akan atau baru saja menonton penampilan idola mereka di stasiun TV yang mengelilingi café ini. Harus ku akui, Jong Jin memilih tempat yang tepat dengan membuka café di sini. Aku mengendarkan pandangan ke sekliling café, Jong Jin masih belum datang. Akhir-akhir ini Jong Jin seringkali datang siang ke café atau kadang malah tidak datang sama sekali. Dari yang aku dengar dari karyawan lain, keluarga Kim berencana membuaka usaha baru sehingga sekarang mereka sedang sibuk mempersiapkan berbagai hal terkait pembukaannya. Bagi ku café jadi terasa berbeda jika tidak ada Jong Jin. Sebenarnya sulit bagi ku untuk merasa nyaman di dekat namja. Tapi entah kenapa aku bisa merasa cukup nyaman berada di dekat Jong Jin. Ada aura yang cukup familiar dari Jong Jin yang membuat ku bisa berada di dekatnya tanpa merasa takut.

“Jangan bekerja sambil melamun.” Suara Jong Jin terdengar dari samping. Aku menoleh dan mendapati dia sedang berjalan mendatangi ku.

“Annyonghaseyo.” Sapa ku sambil tersenyum.

“Sedang memikirkan sesuatu?” Tanyanya. Dia mengambil apron yang ada di laci meja dan mengenakannya.

“Aku dengar kalian akan membuka usaha baru.”

“Nee, appa tiba-tiba ingin membuka usaha eyewear. Jadi sejak beberapa bulan yang lalu aku dan hyung sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.”

“Wah, kalian benar-benar kakak-beradik yang rajin.” Puji ku sambil menepuk bahunya pelan. Dia terkekeh.

“Kau mau datang di acara pembukaannya? Acaranya lusa.”

“Aku kan harus bekerja sajangnim.” Dia menepuk dahinya seolah baru ingat kalau aku adalah karyawannya. Dan aku juga baru ingat kalau aku harus meminta ijin pada Jong Jin.

“Oiya, sajangnim… eung….. ngomong-ngomong soal lusa… emmm.” Aku merasa ragu untuk meminta ijin tapi mau tidak mau aku harus melakukannya.

“Busunsuriya?”

“Apakah aku boleh pulang cepat lusa? Sebagai gantinya aku tidak akan mengambil jadwal libur ku minggu depan.” Jong Jin menatap ku heran.

“Ada apa memangnya?”

“Appa menyuruh ku untuk pergi dengannya lusa malam. Orang tua ku tinggal di Busan dan kemarin mereka datang ke Seoul. Tadi pagi appa menyuruh ku untuk pergi dengannya dan keluarga kami lusa malam. Aku tidak tahu kemana, tapi karena ini permintaan appa jadi aku harus menurutinya.” Aku menjelaskan panjang lebar sambil memainkan ujung apron ku. Aku takut jika dia tidak mengijinkan ku pulang cepat. Tapi responnya justru sebaliknya,

“Arrasso. Kau boleh pulang cepat. Jam berapa kau harus pergi dengan keluarga mu?”

“Jam 6 aku sudah harus ada di rumah.”

“Baiklah, kalau kau pulang jam 5 apa sempat?” Aku mengangguk dan tersenyum lebar.

“Nee, cukup sekali. Gomawo sajangnim. Gomawo.”

“Baiklah, sudah sana kembali bekerja.”

“Yes, boss!!” Sahut ku dengan penuh semangat. Jong Jin tertawa melihat reaksi ku.

Pelanggan terus bertambah saat memasuki jam makan siang, bukan hanya para fans yang datang tetapi juga beberapa karyawan statsiun TV yang membeli kopi setelah makan siang. Aku agak sedikit kewalahan juga membuatkan pesanan.

“Pesanan mana yang belum?” tanpa aku sadari Jong Jin sudah berdiri di samping ku lengkap dengan apronnya. Aku menunjuk beberapa catatan yang ada di meja. Dia mengangguk lalu dalam sekejap kami berdua berkonsentrasi mengerjakan pesanan. Aku baru merasa lelah dan lapar setelah jam menunjukkan pukul 1.15.

“Lapar?” Suara yang sangat familiar terdengar. Aku menoleh untuk memastikan aku tidak salah dengar, ternyata memang benar Heon Gon oppa. Dia mendatangi ku sambil mengangkat dua kantong plastik. Oppa menyapa Jong Jin,

“Annyonghaseyo. Aku membawakan makan siang untuk karyawan dan juga Myun Hee.” Jong Jin mengambil satu kantong yang dibawa oppa dan mengeluarkan beberapa kotak makanan. Dia menyerahkan kotak-kotak itu pada So Hee eonni yang ada di kasir.

“Kau dan Dong Shik bisa istirahat bergantian. Ini ada lunch box yang dibawakan oppa Myun Hee.” So Hee tersenyum ke arah aku dan oppa. Dia pergi ke dapur sambil membawa kotak dan tidak lama kemudian Dong Shik oppa keluar untuk menggantikan eonni menjadi kasir.

“Kau istirahat saja dulu. Masih belum ada pelanggan yang datang.” Ucap Jong Jin pada ku.

“Oppa juga. Ayo.” Kami duduk tidak jauh dari meja barista. Hoen Gon oppa duduk di samping ku dan mengeluarkan kotak dari dalam kantong plastic yang tadi dibawanya ada sekotak penuh berisi Yoobuchobab dan juga sekotak berisi buah-buahan yang sudah disusun dengan rapi. Oppa juga membuatkan steamed-chicken. Dengan semangat aku memakan Yoobuchobab yang dibuatkan oppa.

“Otthe? Kau suka?” Tanya oppa. Aku mengangguk dengan sepenuh hati sambil menunjukkan ke dua jempol ku. Jong Jin dan Heon Gon oppa tertawa melihat sikap ku yang sepertinya sudah tidak makan selama berhari-hari.

“Silahkan dimakan.” Oppa menyerahkan sumpit pada Jong Jin.

“Apa Myun Hee sudah bilang kalau dia perlu pulang cepat lusa?” Ucap oppa lagi pada Jong Jin.

“Jadi ini adalah sogokan agar aku mengijinkannya?”

Oppa terkekeh, “anggap saja begitu.”

“Yak oppa!” Protes ku dengan mulut penuh makanan.

“Sebenarnya Myun Hee sudah bilang tadi dan aku mengijinkannya. Tapi sebagai gantinya dia tidak akan mendapatkan hari libur minggu depan.” Oppa menatap ku khawatir. Semenjak aku jatuh sakit kemarin, kedua oppa ku ini benar-benar cerewet soal jam kerja ku.

“Gwenchana oppa.”

“Kau tidak akan kelelahan?” Keh, oppa ku ini kadang bisa benar-benar berlebihan.

“Gwenchana. I’m gonna be fine.”

“Arrasso……. You know I will never win you.” Sahutnya sambil mengacak rambut ku gemas. Jong jin tertawa pelan melihat perlakuan oppa pada ku.

Setelah makan siang aku kembali bekerja sementara Heon Gon oppa berkeras untuk menunggui ku hari ini. Menyebalkan sekali, memangnya aku anak TK yang masih perlu ditunggui seperti ini? Selama menunggu dia terlihat berbincang-bincang dengan Jong Jin. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya berhubungan dengan saham, perusahaan, usaha dan hal-hal ekonomi lainnya yang benar-benar diluar kemampuan ku.

Sesaat sebelum jam pulang, Jong Jin mendatangi ku yang tengah membereskan tas ku di ruang karyawan. Aku sedang bersiap-siap untuk pulang.

“Ternyata kau memang dari keluarga kaya.” Ucapnya sambil duduk di bangku yang terletak di tengah ruangan. Aku menghentikan aktifitas ku. Jong Jin menatap ku sambil bersedekap.

-tbc-

Otthe? Gimana? Gimana? Part ini sudah mengalami pengeditan berkali-kali, tapi kalau masih ada merasa part ini kurang oke, author dan Jong Jin oppa *lho?* would like to say sorry. Semoga part selanjutnya bisa lebih oke lagi…. Thank you for reading, comment nya ya…. Hohoho *kasih puppy eyes Jong Woon oppa*

22 thoughts on “Pride and Prejudice [PART 3] [FREELANCE]”

  1. bagus koq thor.. ,
    part slanjutna jgn lama2 ya thor.. ,

    psti yeppa bkalan dijodhin ma Myun Hee
    *sotoy tingkat tinggi

  2. wahh..
    makin seru ko chingu..
    envy deh sama myun hee yf punya oppa tuh perhatian semua sama dy..

    trus jangn” orang tua myun hee sama jong woon itu temenan ya chingu..??

    wahh..
    di tunggu lanjutan’a chingu..
    jangn lama”.. ^_^

  3. Jong jin tw myung hee kya dri oppa’a myung hee y . . .
    Ga sbr bwt lyt paz jong woon ktmu d acra. .
    next’a d tunggu

  4. Ya allah tor udh lama bgt gue tunggu nih ff. Grrr aku aja sampe lupa crta nya untung aja aku ingat kembali *plak haha.. Cerita nya bagus tor.. Terus panjang bgt ini.. Tp aky smpet bosen sih bcanya ehehe. Trus itu tbc nya knpa di bagia n itu? Huaaaa makin bikin pnsran. Huaaa chap slnjutnya jgn lama2 ya torr

    1. oahahahaha…. mian, mesti mengais2 mood dulu buat nulis.. kekeke
      mudahan next part nya ga lama nulis nya…
      gomawo ^^

  5. telattt,,,,,

    lama bgeud dah eon publish’a,,
    mpe lumutan gnie,,
    gile yesung cMburu ma adeq ndiri??
    bwahahahaha
    ksian oppa,,
    ^^
    jong jin oppa gg ska deh kyk’a ma myunhee.,.
    bgus donk,,
    biar buat yeye oppa aje,,
    hahaha,,
    pie q msh pnsaran,
    pa sieh yank d mmpiin myunhee,,
    mpe ktkutan gtu,,
    gg mau nglepasin tngan yeye gge,,
    whoa keenakan tuh,,
    #dgmparmyunhee
    trnyta myunhee orank kya toh,,
    knpa d smbnyiin cba??
    pie syank dah ktauan ma jongjin oppa,.
    law yeye yank twu gmna reaksi’a yea??
    pkoq’a q bkal nnggu deh next part’a,,
    jgn lma2 yea eon,,,
    ^^

    1. ohohoho… senangnya ada yang nungguin part 3 nya… kekeke
      iya nih, si Myun Hee ke-enakan pegang tangannya yeppa, author juga mau >.< kekekeke

  6. Yaa qu tlat bca ny ..
    Tpi crta ny mkin DAEBAK kok🙂
    Chingu byak in adgn myun hee ma sungppa ny dund *puppyeyes
    Dtngg klnjtan ny^^

    1. he, iya ya, kayaknya banyakan Myun Hee sama Jong Jin….
      mudahan di part 4 bisa bikin banyak adegan yeppa sama myun hee

  7. Aah jongjin ud tw dl an kl myun hee ank org brada?? Pdhl sptny bkal seru kl mrk tauny pas ntr pmbukaan toko kcmata itu.. Tp its okay, bgus jg critany..mdh2n yg tw cm jongjin aj de..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s