In That House – 2 [FREELANCE]

Authors            : Kapten EL and hgks11

Main cast        :

  • Yang Yoseob
  • Kim Kiera

 

Genre              : Family, Supernatural, Fantasy, Life, Romance

Rating              : General

Length             : 2—?

-oOo-

            Kim Kiera’s POV

“Kau benar-benar bisa melihatku?” tanyaku. Namja itu melanjutkan makannya sampai habis, lalu meminum air putihnya habis dalam sekali teguk. Ini hanya perasaanku saja atau memang benar ya? Ia menatapku lekat-lekat dan menyipitikan matanya yang hitam itu.

“Kau benar-benar membuat nafsu makanku hilang. Aku jadi terpaksa menghabiskan makanan ini karena tak ingin kakek Lee kecewa” ia beranjak dari kursi dan membawa piringnya ke wastafel di dapur. Aku mengikuti langkahnya sampai ke dalam kamarku. Aku benar-benar penasaran. Namja ini benar-benar bisa melihatku?

“Ya! Agasshi, berhenti mengikutiku! Jika kau memang benar-benar cheonyeo gwishin, cari namja lain! Jangan aku!” tawaku hampir meledak mendengar ucapan namja ini. Ia benar-benar mengira aku cheonyeo gwishin? Aish, mana ada cheonyeo gwishin yang cantik sepertiku! Lagipula siapa yang ingin dengan namja seperti dia? Haha

“Ya! Agasshi, berhenti menahan tawa seperti itu!” dapat kudengar suaranya yang sedikit bergetar. Aku tidak bisa menahan tawaku lagi!

“Hahaha” aku tertawa hingga mataku terasa berair. Aigoo, aku tak percaya namja ini cukup polos juga!

BRAAK!

Seketika aku bungkam mendengar suara pintu yang ditutup keras. Aku menatap nanar pintu kamarku yang kini telah tertutup. Aish! Namja itu sembarangan menutup pintu kamarku! Kalau pintu kamarku rusak bagaimana hah?!

Akhirnya dengan langkah disentak-sentakkan aku menembus pintu kamarku. Kini kulihat sosok namja itu tengah berbaring di atas tempat tidurku. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ah, molla~ aku tak mau peduli apa yang tengah dipikirkan oleh namja itu. Yang harus kulakukan adalah, membuat namja ini cepat-cepat mengangkat kakinya keluar dari rumahku, terutama kamarku!

“Ya! Neo!” seruku menunjuk ke arahnya. Aku membesarkan mataku, menatap sinis pada namja itu.

“Ya! Agasshi! Kenapa kau bisa masuk? Kau benar-benar cheonyeo gwishin, eh?” ia kini menatap bingung padaku. Aku masih bingung, ia benar-benar bisa melihatku ya? Kukira ia tidak bisa melihatku, dan perkataanku tadi hanya akan berakhir seperti kacang mahal saja.

“Kutanya sekali lagi. Kau benar-benar bisa melihatku, chogiyo?” tanyaku, kini dengan nada yang lebih friendly.

“Ne, wae?” ia menjawab dengan tenang sekali. Aku menatap tak percaya ke arahnya. Bagaimana bisa coba? Seorang manusia melihat makhluk gaib—lebih tepatnya arwah—sepertiku?

“Aku memang bisa melihat makhluk sepertimu. Tak usah kaget seperti itu” ujarnya cuek, seperti bisa membaca pikiranku. Aku memandang takjub padanya. Wah, ia benar-benar bisa melihatku rupanya!

“Berarti seharusnya kau tahu bukan, kalau aku bukan cheonyeo gwishin?”

“Hmm, ne. Aku hanya ingin mendengarmu memujiku seperti tadi saat kau menahan tawamu. Namja ini cukup polos juga!” lagi-lagi aku membelalakkan mataku mendengar ucapannya. Aigoo, namja ini bisa membaca pikiranku ya?

“Ne, aku bisa. Jadi, berhati-hatilah Kim Kiera” ujarnya tersenyum. Aku merasa tubuhku mematung. Ck, aku benar-benar harus berhati-hati dengan namja ini.

“Ya, kau memang harus berhati-hati denganku Kiera. Oh ya, kau tak akan bisa membuatku cepat-cepat mengangkat kakiku keluar dari rumah ini ataupun kamarmu semudah itu. Ah, selain itu berhenti menyebutku namja ini atau anak ini. Aku punya nama, Kiera-ya. Yang Yoseob” kini ia sudah berdiri dan berada dekat sekali denganku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajahku.

“Pahat dengan permanen namaku di otakmu, Kiera-ya. Yang Yoseob. Ah, dan kau harus memanggilku oppa, Ra-ya” ia berbisik di telingaku. Dapat kurasakan bulu kudukku berdiri mendengar ucapannya.

“Annyeong, Kiera-ya! Senang akhirnya bertemu denganmu!” ia menyentil dahiku dan beranjak keluar kamar, meninggalkanku yang menatap nanar ke arahnya. Aigoo, kenapa tiba-tiba jantungku terasa berhenti berdetak? Well, meskipun sebenarnya jantung dan tubuhku sekarang sedang berada di rumah sakit, bukan berati aku tak dapat merasakan detak jantungku sendiri bukan?

***

Kini aku berada di ayunan yang terdapat di halaman belakang rumahku. Kuayunkan dengan pelan ayunan kesukaanku ini. Lagi-lagi bayangan wajah Donghyun oppa dan Hyomin berkelebat di benakku. Aku benar-benar merindukan mereka. Aku merindukan saat-saat di mana kami selalu tertawa bersama, bersenda gurau, saling bertingkah konyol, semuanya. Aku merindukan mereka berdua.

“Hey, Kiera-ya” aku tersentak mendengar namaku dipanggil. Aku menolehkan kepalaku ke samping, dan di sanalah. Kudapati sosoknya, Yang Yoseob tengah duduk di atas ayunan di sebelahku. Ia tersenyum manis padaku.

“Ah, Yang Yoseob?” tanyaku pura-pura tak mengingat namanya.

“Ya! Panggil aku Yoseob oppa! Arachi?” perintahnya. Aku mencibirkan bibirku mendengar ucapannya. Untuk apa aku memanggilnya oppa?

“Cih. Anhae!” tolakku terang-terangan. Dapat kulihat ia membulatkan matanya marah. Kkk~ ekspresinya itu lucu sekali.

“Ya! Berhenti membuatku tertawa karena ekspresi-ekspresi yang kau keluarkan!” ujarku masih tertawa kecil. Perlahan wajahnya melunak. Malahan, ia tersenyum lagi sekarang.

“Kau kelihatan lebih baik jika tertawa seperti itu Kiera-ya. Tidak seperti tadi, wajahmu benar-benar terlihat mengerikan jika murung seperti tadi. Aku yakin, jika ada orang yang lewat dan dapat melihatmu, mereka pasti mengira kau benar-benar cheonyeo gwishin. Dan dapat kupastikan mereka akan berlari terbirit-birit karenamu, haha” aku memelototkan mataku mendengar ucapannya itu. Kini ia tertawa puas di sampingku.

“Ya!” kini aku benar-benar memasang wajah menyeramkanku pada namja di sampingku ini. Aku berhasil mengalihkan perhatiannya, dan membuatnya melihatku sebentar. Tapi setelah itu, ia masih terus saja melanjutkan tawanya. Akhirnya aku menyerah, dan memalingkan wajahku darinya.

“Haha, ne.. arasseo. Aku akan berhenti tertawa sekarang Kiera-ya. Mianhae” dapat kurasakan ia menepuk pelan kedua pundakku, yang membuatku menoleh ke arahnya.

“Aku sudah tahu semuanya, kakek Lee menceritakannya padaku tadi siang. Aku salut sekali pada oppamu, Donghyun hyung” aku tersentak mendengar ia menyebut nama oppaku. Jadi, ia sudah tahu semua tentang keluargaku?

“Ne, aku sudah tahu. Appamu, ummamu, Donghyun hyung, dan Hyomin. Aku tahu. aku sudah mengatakannya bukan? Aku tahu dari kakek Lee” ujarnya tersenyum, manis sekali. Senyum itu meresap ke dalam rongga dadaku yang terasa dingin. Menghangatkan hatiku yang membeku. Dapat kulihat ada sebuah kesedihan yang disimpannya, dari matanya.

“Apakah aku lebih beruntung darimu, Kiera-ya?” ia tiba-tiba menghela nafasnya berat. Aku menatap bingung ke arahnya. Apa maksudnya?

“Kenapa kau diasingkan ke sini, Yang Yoseob?” tanyaku.

“Yoseob oppa” ujarnya membetulkan ucapanku. Aku memutar kedua bola mataku mendengar perkataannya. Masih sempat-sempatnya namja ini mengklarifikasi ucapanku.

“Hah… ya seperti itulah..”

Yang Yoseob’s POV

Aku menatap nanar tanah di bawahku. Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada hantu jadi-jadian ini (read: Kiera). Kuangkat kepalaku dan membuang tatapan senduku.

“Gwenchana” ujarku pada Kiera.

Dia pasti berbohong’ aku tersenyum tipis mendengar perkataan Kiera di dalam hatinya. Suasana di antara kami menjadi hening. Angin berhembus memainkan rambutku pelan. Memori kelakuanku sebelum aku datang ke sini berputar seperti film di otakku. Ingin sekali rasanya aku kembali pada rutinitasku itu. Keluar masuk kantor polisi, berkelahi di bar, dan berakhir di ranjang dengan keadaan polos. Setidaknya rutinitasku itu dapat menjadi pelampiasanku. Aku benar-benar bosan berada di rumah ini. Meskipun ada kakek Lee dan hantu jadi-jadian yang menemaniku di sini. Tapi tetap saja aku merasa bosan.

“Tuan muda!” aku tersentak saat tiba-tiba kakek Lee memanggil namaku dan menghampiriku. Aku melempar tatapan bertanya milikku padanya.

“Sarapan sudah siap. Maaf saya sangat terlambat menyiapkannya” ujar kakek Lee merasa bersalah.

“Gwenchana. Baiklah, terima kasih kakek Lee” aku tersenyum tipis pada kakek Lee. Beliau mengangguk lalu pergi dari hadapanku. Kulirik sekilas ke ayunan di sampingku.

“Kemana dia?” tanyaku lebih kepada diriku sendiri saat melihat Kiera sudah tak berada di ayunan lagi.

“Ah, apa peduliku” aku mengendikkan kedua bahuku dan beranjak masuk ke dalam rumah.

***

Kuhempaskan badanku ke atas kasur kamar tidurku. Kucoba untuk memejamkan kedua mataku, berusaha untuk tidur. Tapi aku tak tahan untuk tidur. Aku terus membuka dan menutup mataku terus menerus. Sudah semenjak 1 jam yang lalu aku berusaha untuk tidur, tapi tetap saja tak bisa!

“Arrgh!” aku mengerang frustasi. Kuacak rambut di kepalaku. Menyebalkan sekali seperti ini!

Kuedarkan pandanganku, meneliti setiap sudut di kamar ini. Aku menaikkan sebelah alisku, saat menyadari bahwa aku belum bertemu lagi dengan Kiera semenjak di ayunan tadi. Bukankah seharusnya ia berkeliaran di rumah ini? Tapi di mana dia? Aku tak melihatnya.

Sebuah bungan mawar merah mengambil alih seluruh perhatianku. Aku teringat kembali dengan perkataan kakek Lee, yang membuatku penasaran. Akhirnya kuputuskan untuk turun dari kasurku, dan menghampiri bunga mawar merah itu. Jarakku dengan bunga mawar itu semakin dekat. Tapi ntah kenapa, semakin dekat aku dengan bunga mawar itu, hawa tak mengenakkan semakin kuat di sekitarku. Aku seperti merasakan ada sebuah kemarahan saat aku mendekati bunga mawar itu. Tapi aku tak melihat ‘apapun’ di sekitarku. Dengan seluruh keberanian yang kupunya, aku semakin memperkecil jarakku dengan bunga mawar merah itu. Di saat tanganku terulur untuk mengambil bunga mawar merah itu…

“Stop di situ!” aku tercengang mendengar suara lantang dan berat di telingaku. Bulu kudukku mendadak berdiri semua. Ntahlah, auranya begitu kuat dan mengerikan. Tetapi aku tak dapat melihat wujudnya. Kurasakan seperti ada sebuah tangan mencengkram tanganku yang terulur, berusaha untuk menghentikan gerakan tanganku yang ingin memegang bunga mawar merah itu. Sebenarnya, ada makhluk  apa lagi di rumah ini?

AUTHOR’S POV

Yoseob menelan ludahnya dengan susah payah saat suara itu terdengar lagi.

“Berhenti! Jangan berani-berani kau menyentuh bunga mawar merah itu!” suara itu terdengar begitu marah. Nyali Yoseob menciut seketika mendengar suara itu. Tidak biasanya ia menjadi penakut seperti saat ini. Ntahlah, Yoseob benar-benar tak berani dengan suara itu. Perasaannya tidak nyaman, keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Aura yang dirasakan oleh Yoseob yang membuat nyalinya benar-benar ciut. Yoseob yakin, pemilik suara itu pasti sangat menakutkan.

“B-baiklah.. A-aku tidak akan menyentuhnya” ujar Yoseob gelapan. Tapi cengkraman di tangannya belum juga terlepas. Sepertinya pemilik suara itu tidak yakin dengan ucapan Yoseob.

Wsshh…

Tiba-tiba sosok Kiera keluar dari bunga mawar merah itu. Bersamaan dengan keluarnya Kiera, cengkraman di tangan Yoseob dan aura yang dirasakan oleh Yoseob hilang begitu saja. Yosoeb membelalakan matanya, heran dengan apa yang terjadi. Kiera yang berada di hadapan Yoseob menatap Yoseob heran dan terkejut. ‘Kenapa ia bisa berada di depan sini?’ batin Kiera. Yoseob yang masih terkejut dengan apa yang terjadi, hanya menatap kosong Kiera. Tiba-tiba Yoseob seperti melihat sosok seorang pria tinggi, yang berdiri di belakang Kiera. Sosok itu menatap tajam ke arah Yoseob, dan memancarkan aura yang tak mengenakkan. Yoseob lagi-lagi di buat terkejut dengan kehadiran sosok yang tengah berdiri melipat tangannya di belakang Kiera.

 

TBC..

 

AN: annyeong!!! Otte? Terlalu pendekkah part ini? Hehe, mianhae jika seperti itu!! kkk~ Ada yg merinding ga bacanya? *pasti ga ada, wkwk*

Hmm, bingung nih mau ngomong apalagi. Ah iya, mian untuk typo, dan semuanyaaaa~ oh iya, jeongmal gomawo sudah mau membawa tulisan abalku, hehe. *bow*

Oh iya, mianhae, jeongmal mianhae. Sepertinya.. aku udah ga sanggup buat ngelanjutin ff ini.. keinget appa el terus jadinya.. hmm, tapi aku bakalan berusaha semaksimal mungkin untuk ngelanjutin ff ini.. gimanapun ini ff aku ama appa el.. jadi aku bakalan tetep berusaha buat ngelanjutin ff ini! Mohon dukungannya ya chingudeul ^^ *deep bow*

4 thoughts on “In That House – 2 [FREELANCE]”

  1. penasaran siapa yg berada di blgk arwah keira, sampai2 Yoseob benar2 takut mendengar suaranya, padahal kan dia nakal dan tdk takut apalagi pas bertemu dgn Keira ia jg tdk takut. Penasaran maksud kakek Lee untuk tdk menyentuh bunga mawar tsb apa ya.. Lanjut author, penasaran sebetulnya akan kah ada efek jera bagi Yoseob agar sikapnya menjadi lebih baik lagi..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s