Fake Fiancee Part 3

Title          ::Fake Fiancee Chapter 3

Author      :: Ang11Rach

Rating       ::PG 17

Genre        :: Romance

Length      :: Chapter/Series

Main Cast ::

– Jung Yonghwa

– Shin Hyuna (OCs)

Other Cast::

– Yonghwa’s parents

– Jung Yunho

– Lee Ang Hyeon

Note    ::FF ini terinspirasi dari Fill-in Fiancee nya DeAnna Talcott. Ceritanya persis cuman ada beberapa amandemen *berasa UUD aja* semoga enak dibaca..hehehe mian klo lama update nya..kerjaanku lagi banyak soalnya…kekeke

Part 1   Part 2

Dari belakangnya, Yonghwa menunjuk sebuah gaun tidur paling provokatif yang ada di toko itu. Gaun tidur satin merah pendek dengan tali bahu kecil, garis leher rendah dan belahan tinggi di paha.

“Bagaimana kalau kau memeragakan itu sekarang? Hanya untuk melihat apakah cocok,” goda Yonghwa.

Hyuna menatap Yonghwa menantang,”Teruslah bermimpi!”

Yonghwa memasang wajah kecewa,”Begitu? Kalau begitu aku akan membayangkannya dalam mimpi-mimpiku sejak malam ini karena itu akan menjadi satu-satunya pakaian yang tergantung di lemarimu.”

Part 3

Yonghwa mengintip tepian mantel bulu lembut yang dibelinya sebagai kompensasi atas desakannya pada Hyuna untuk membeli gaun tidur merah provokatif itu. Itu tidak adil karena sekarang ia benar-benar penasaran dengan apa yang Hyuna pakai dibalik jubah itu.

Hyuna bergerak menyeberangi dapur dan mengambil dua sendok sementara Yonghwa membuka wadah es krim di meja makan. Saat Hyuna berjinjit mengambil dua mangkuk kecil di lemari atas, Yonghwa lagi-lagi melihat bahan kulit mengkilat itu.

“Astaga, apa sih yang kau kenakan dibalik jubah itu?” tanya Yonghwa penasaran.

Hyuna berhenti, menatap Yonghwa lurus sambil mengacungkan sendoknya pada Yonghwa,”Sudah kubilang kau akan bertanya.”

“Maksudku di kakimu,” ujar Yonghwa tidak sabar.

“Oh,” Hyuna mencengkeram jubahnya di pinggang lalu mengangkatnya sehingga kaki jenjangnya sedikit terlihat menjulur dari balik lipatan jubah barunya membuat Yonghwa menahan napas membayangkan kaki panjang dan betis ramping gadis itu,”sepatu baru yang tadi kita beli. Aku ingin mencobanya untuk membiasakan diri memakai hak yang lebih tinggi dari sepatu flat ku yang biasanya.”

“Ohh…”Yonghwa mengangguk, tidak sepenuhnya memperhatikan.

“Well, bisa dibilang aku tumbuh di Birkenstocks. Eomma akan marah besar jika melihatku mengenakan barang-barang ini sekarang. Ia akan bilang kalau aku menyakiti kakiku sendiri.”

“Bagaimana rasanya? Apakah sakit? Apakah kakimu bisa lecet mengenakan sepatu baru itu?” tanya Yonghwa cepat.

“Tidak. Ini enak dipakai. Aku suka bunyinya saat aku berjalan. Sepatu biasa berdecit tapi sepatu ini…”

“Memiliki musiknya sendiri,” sela Yonghwa.

Alis Hyuna terangkat heran,”Bagaimana kau tau?” tanyanya sambil mengulurkan mangkuk dan sendok pada Yonghwa yang mengambilkan es krim bagiannya.

“Karena daritadi aku mendengarkan,” ujar Yonghwa sambil mengangsurkan es krim bagian Hyuna lalu mengambil es krim untuknya sendiri.

“Kurasa kau tadi juga mendengarkan berapa lama aku mandi sepulang kita berbelanja,” kata Hyuna sambil menyendok es krim cokelatnya.

“Memang, tapi hanya karena aku menyadari ada orang lain yang tinggal bersamaku di apartemen ini. Aku bahkan berpikir kau mencoba menghindariku atau memberiku ruang setelah kebersamaan kita tadi.”

“Tidak sama sekali. Aku hanya menikmati kemewahan bathtup-mu. Aku senang mandi di bathtup karena aku tidak pernah menikmatinya saat aku tumbuh. Jadi sekarang aku mandi shower lalu berendam untuk merilekskan tubuhku.”

“Kenapa tadi kita tidak membeli bubble bath ya?” kata Yonghwa seakan baru teringat sesuatu.

“Tidak perlu, sabun biasa sudah cukup. Ibuku bahkan membuat sabunnya sendiri,” cetus Hyuna datar.

Yonghwa menumpukan sikunya di meja dan menyangga kepalanya dengan telapak tangannya lalu mengamati Hyuna menyuapkan es krimnya dan mencekungkan pipinya saat menikmati lelehan es krim itu di mulutnya.

“Hyuna-ssi, apakah kau selalu sepraktis ini?” tanya Yonghwa sambil memakan es krimnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Hyuna.

“Apa salahnya bersikap praktis?’ tanya Hyuna bingung.

“Tidak ada. Aku hanya,…” Yonghwa tidak yakin harus menjawab apa. Ia tidak terbiasa dengan yeoja yang tidak mencoba menyenangkan hatinya atau mencoba masuk ke hati dan kantongnya. Kebanyakan yeoja akan meraih mantel bulu di display toko saat berbelanja dan menatapnya dengan mata melebar memohon. Tapi Hyuna? Dia hanya memilih setelan biru laut yang sederhana. Sesuatu yang menurut Hyuna selalu ia inginkan. Sesuatu yang dapat ia kenakan untuk bekerja.

“Yah, kukira kau ingin mengikuti dorongan hati sesekali,” ujar Yonghwa akhirnya dengan tidak yakin.

“Apakah orang tuamu mengharapkan aku sedikit dangkal? Maksudku tidak berpikir jauh dan senang bertindak spontan?” tanya Hyuna.

“Tidak juga. Aku hanya memikirkan kalau kau mungkin menginginkan sesuatu.”

“Yonghwa-ssi, orang tuaku tidak menganggap materi penting dan dalam beberapa hal aku setuju dengan anggapan mereka itu.”

“Tapi tidak dalam beberapa hal lain?” Yonghwa menghabiskan es krimnya lalu berdiri untuk menaruhnya di bak cuci.

“Aku tidak dibesarkan secara tradisional, bahkan tidak sedikitpun dengan budaya Korea. Aku lahir dan besar di USA, sering pindah rumah dari kota ke kota dan bahkan tidak pernah merasakan bangku sekolah karena aku belajar dengan sistem home-schooling. Aku tidak pernah tau bagaimana rasanya menghabiskan jam istirahat di lapangan sekolah atau berperan dalam drama akhir tahun. Orang tuaku tidak suka hal-hal berbau komersil atau seksis dan mungkin agak terlalu modern jadi aku tidak pernah mempunyai boneka model terbaru karena mereka menganggap itu sama sekali tidak penting. Sesekali aku membeli barang yang kuinginkan tapi di saat yang sama aku juga mencampurkan pemikiranku dengan nilai yang mereka tanamkan padaku sejak kecil.”

Hyuna memberi jeda pada penjelasannya untuk menghabiskan suapan es krim terakhirnya lalu menaruh mangkuk dan sendoknya di bak cuci.

“Jadi saat kau bilang bubble bath, hal pertama yang terpikir olehku adalah keprihatinan eomma soal pencemaran air tanah dan kecenderungan eomma menggunakan bahan-bahan alami. Atau kritik pedas appa soal penderitaan Negara dunia ketiga yang menjadi tempat eksploitasi tenaga kerja dan sumber daya dengan harga murah.”

Yonghwa mengerutkan keningnya,”Kau memikirkan sebanyak itu? hanya karena bubble bath?’

Yonghwa ingin tertawa tapi ekspresi Hyuna yang serius membuatnya terdiam. Gadis itu memikul beban dunia di bahunya dan pemikirannya benar-benar di luar dugaan. Ia menahan diri membeli barang-barang yang diinginkannya dan memiliki pandangan mendalam mengenai berbagai masalah.

“Kalau begitu biarkan aku mengajukan dua puluh pertanyaan. Apa mainan kesukaanmu mengingat kau tidak boleh punya boneka?”

“Well, aku pernah punya alat pembuat manik-manik. Orang tuaku mencoba mengembangkan sisi kreatifku. Kau?”

“Semua jenis video game aku suka,” jawab Yonghwa.

“Kau menjalani mimpi semua anak. Kurasa kau juga punya anjing peliharaan,” kata Hyuna dengan nada ingin.

Yonghwa tidak ingin Hyuna mengira kalau ia sudah mendapatkan segalanya sejak kecil maka ia mengganti jawabannya,“Ayahku memelihara beberapa anjing tapi aku sendiri tidak begitu sering memerhatikan mereka.”

“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Hyuna.

“Aku? Kurasa aku lebih banyak bersosialisasi. Aku senang main basket, main game bersama teman-temanku seperti namja pada umumnya atau pergi ke tempat-tempat baru. Aku sangat suka berlayar dan berselancar karena aku tumbuh di Busan. Bahkan kalau aku tidak mendapat pekerjaan ini aku bisa menjadi gelandangan di pantai.”

Yonghwa melihat perubahan ekspresi Hyuna saat ia menyebutkan kata pantai,”Kenapa? Kau tidak suka pantai atau laut?”

Hyuna menggeleng,”Tidak juga. Aku menyukainya tapi aku tidak pernah naik kapal maupun berlayar. Hanya saja ada perasaan tanpa tujuan yang kosong setiap kali aku ke pantai karena orang datang dan pergi begitu saja dalam hidup kami setiap kali kami tinggal di daerah pantai.”

“Lalu apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Aku? Aku suka rumah putih dengan pagar dan ayunan dan daun jendela yang besar,” jawab Hyuna.

“Ah, tradisional sekali.”

“Memang, orang tuaku sering bilang sepertinya aku termasuk orang dengan pola pikir generasi sebelumnya. Mereka bahkan lebih modern daripada aku. Ceritakan tentang orang tuamu, agar aku tau apa yang akan kuhadapi,” pinta Hyuna.

“Ayah dan ibuku memiliki perusahaan dagang yang mengharuskan mereka bepergian dan menghabiskan jam kerja panjang. Kalau punya waktu senggang maka mereka akan menghabiskannya dengan menghadiri pesta kalangan atas atau acara sosial yang membuat nama mereka tersiar di berita nasional maupun internasional. Kau tau, pernikahan kakakku lebih merupakan acara sosial. Appa menganggapnya sebagai ajang transaksi bisnis yang menjanjikan bagi perusahaan kakakku sedangkan eomma menjadikannya ajang untuk memperlihatkan seberapa besar pesta yang mampu kami adakan di depan teman-temannya. Anehnya orang masih berebut untuk menjadi daftar tamu undangan. Untung saja Yunho hyung dan Hyeon tidak tenggelam dalam semua kegilaan itu. Yunho hyung beruntung ia menemukan Hyeon sebelum orang tua kami berinisiatif mencarikan yeoja pendamping baginya. Mereka merupakan pasangan yang membuat iri.”

“Itukah sebabnya kau tidak ingin menikah dan dijodohkan?” tanya Hyuna.

“Aku tidak butuh pernikahan yang dijadikan pertunjukan. Dan yang pasti aku tidak membutuhkan pasangan dengan derajat social sepadan. Aku menganggap pernikahan sebagai hal yang suci.”

“Pemikiran seperti itu akan merusak kesan playboymu Yonghwa-ssi,” cetus Hyuna.

“Apa?” Yonghwa mengerjap bingung.

“Kau tau, kesan playboymu karena kau selalu menggoda dan bercanda,” kata Hyuna.

“Ah, aku tidak peduli. Aku tidak melakukannya untuk menarik perhatian siapapun.”

“Aku tau dan sepertinya aku harus mengucapkan selamat malam sekarang. Hari ini melelahkan dan semua informasi tentang kau membingungkanku,” Hyuna beranjak dari tempat duduknya.

“Memangnya kau pikir hanya kau yang bingung? Kadang-kadang aku berpikir siapa yang sebenarnya kubawa pulang dari kantor jumat kemarin,” goda Yonghwa mengacu pada hari pertama mereka tinggal bersama.

***000***

Hyuna mengenakan rok biru muda dan atasan rajutan yang menurut Yonghwa akan menjadi pakaian kantor yang sempurna lalu memakai sepatu barunya. Ia mengulaskan make up tipis lalu keluar dari kamar kedua menuju ke ruang tamu dimana Yonghwa menunggunya. Yonghwa sedang memutar kunci di tangannya sambil mengecek jam tangannya saat Hyuna keluar.

Kunci mobil sport itu terlepas dari tangannya saat Yonghwa mengangkat kepalanya mendengar suara pintu kamar Hyuna tertutup. Mulutnya menganga dan matanya melebar membuat Hyuna gugup.

“Kau tidak akan memakai pakaian itu ke kantor kan?” tanya Yonghwa dengan suara parau.

“Err…kau bilang ini setelan kantor yang sempurna dan aku tidak mau orang kantor kaget dengan perubahan gayaku yang tiba-tiba jadi kupikir aku harus mulai membiasakan diri. Lagipula aku ada rapat dan well..” papar Hyuna tidak mau Yonghwa berpikir bahwa Hyuna berusaha menarik perhatiannya.

“Oh begitu, well, aku punya selera pakaian yang bagus dan asal kau tau itu berasal dari sisi ibuku. Dan kau tampak mengesankan,” kata Yonghwa jujur.

Mereka menghabiskan waktu di mobil dalam diam. Hyuna memikirkan bagaimana jika ada ornag kantor yang melihat mereka berangkat bersama lalu bertanya. Mungkin dia akan menjawab kalau Yonghwa dengan baik hati menawarinya tumpangan mengingat lokasi apartemen mereka yang berdekatan. Sementara Yonghwa berusaha focus pada kemudinya dan menghilangkan bayangan penampilan Hyuna yang sangat cantik hari ini. Saat mereka sampai di kantor, Lee Sungmin, putra sang pemilik perusahaan ternyata memarkir mobilnya tepat disebelah mobil Yonghwa.

“Annyeong haseyo. Kalian berangkat bersama?” sapa Sungmin ramah setelah keluar dari mobilnya.

“Ne. Ternyata kami tinggal di kompleks apartemen yang sama,” ujar Yonghwa menyuarakan pikiran Hyuna.

“Ah, begitu. Geureom, selamat bekerja,” Sungmin mengedip ldan melambaikan tangannya lalu berjalan duluan sementara Yonghwa dan Hyuna berjalan ke depan mobil Yonghwa untuk berbicara.

“Apa yang mungkin ia pikirkan?” tanya Hyuna cemas.

“Tidak penting,” ujar Yonghwa cuek.

“Aku hanya tidak mau gossip berakibat buruk pada pekerjaan kita tapi ya sudahlah,” Hyuna mengangkat tas tangannya lalu berjalan cepat.

“Tunggu Hyuna-ssi,” panggil Yonghwa.

“Ne?” Hyuna berhenti lalu berbalik bingung sekaligus jengkel.

Yonghwa menghampirinya, berlutut di depan kakinya lalu memasukkan ujung jarinya ke dalam rok Hyuna, menyentuh lututnya,”Benang. Ada benang yang menggantung di rokmu.”

Yonghwa menyentakkan benang itu membuat jantung Hyuna berdebar tidak karuan karena kaget akan perlakuan itu,”Nah, sekarang kau benar-benar tampil sempurna untuk rapatmu,” kata Yonghwa sambil berdiri.*

***000***

Yonghwa mengintip ke arah teman serumahnya. Hyuna benar-benar menarik. Ia terlentang bersandar di sofa kulit empuknya, dengan sepatu yang dilepaskan, mata terpejam dan erangan sedih.
“Ahh…diantara begitu banyak hari untuk mondar-mandir, kenapa aku harus melakukannya saat memakai sepatu baru,” keluhnya.

Yonghwa merespon dengan cara yang paling naluriah dan primitif. Ia menarik penyangga kaki sofa lalu duduk di atasnya dan mengangkat kaki Hyuna ke pangkuannya. Sebelum Hyuna sempat menegang atau menolak, ia mulai memijat telapak kaki Hyuna.

“Aaahhh…enak sekali…” ujar Hyuna.

Yonghwa meringis,”Aku tidak sengaja mendengar Suk Jin hyung dari bagian penjualan mengatakan kalau saat memakai sepatu itu ayunan tubuhmu cantik sekali?”

Mata Hyuna terbuka,”Ayunan? Dia bilang ayunan? Dasar ahjussi genit! Usianya sudah hampir setengah abad!”

“Laki-laki tidak pernah terlalu tua untuk memerhatikan Hyuna. Aku memerhatikan,” kata Yonghwa.

“Memerhatikan apa?”

“Bahwa warna biru adalah warna yang sangat cantik untuk kau pakai. Menambahkan kesan kelembutan pada pribadimu yang tegas,” kata Yonghwa masih sambil memijit kaki Hyuna, kali ini kaki yang satunya.

“Ah, lupakan. Yeoja yang bekerja di bagian hukum tidak butuh kelembutan Yonghwa-ssi.”

“Bukan lembut dalam arti tidak tegas, lembut dalam arti percaya diri,” Yonghwa mencoba meyakinkan Hyuna. Mereka bertatapan. Selama sepersekian detik terpana melihat ke dalam mata satu sama lain.

“Aku merasa bersalah membelikanmu sepatu itu,” ujar Yonghwa sambil melemaskan jari kaki Hyuna.

“Jangan begitu, aku yang memutuskan untuk memakainya. Aku hanya ingin setelan itu tampak bagus,” Hyuna cepat menyanggah.

“Aku hanya tidak ingin kau menderita. Dan lagipula setelan itu tampak bagus karena kau yang memakainya,” kata Yonghwa.

“Aku…pertimbanganku kurang matang,” aku Hyuna.

Yonghwa mengerutkan alisnya tapi matanya berkilat jahil,”Kau tidak kehilangan kesadaranmu karena aku kan?”

Hyuna memutar matanya,”Yeah, karena semua tuntutan aneh yang kaupaksakan padaku. Bagaimana mungkin aku dituntut untuk menghamburkan uangmu?” tanya Hyuna retoris.

“Aku punya tuntutan lain,” cetus Yonghwa.

“Apa?”

“Aku ingin kita menghilangkan formalitas dan berhenti memanggil dengan embel-embel –ssi. Itu sangat menggelikan untuk ukuran tunangan, kau tau. Orang tuaku pasti akan langsung curiga.”

Hyuna melihat kebenaran dalam kata-kata Yonghwa. Memang aneh kalau mereka masih memanggil dengan embel-embel –ssi jika mereka berpacaran atau bahkan bertunangan.

“Geurae, Yonghwa….errr… op….pa,” Hyuna terbata.

Yonghwa tersenyum baik hati lalu mengganti topic lain,“Aku ingin pergi fitness. Ikutlah denganku, paling tidak kau bisa merendam kakimu di spa,” ajak Yonghwa.

“Aku tidak selelah itu Yonghwa-ss…Yonghwa oppa.”

Kali ini Yonghwa lagi-lagi mengabaikan kecanggungan Hyuna,”Bagus. Ikutlah kalau begitu,” Yonghwa meletakkan tumit kaki Hyuna di penyangga kaki diantara kedua kakinya dan menatap Hyuna penuh harap. Entah kenapa ia tidak ingin Hyuna bilang tidak. Seharian ini ia mencari-cari yeoja itu di koridor kantor. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Hyuna dan walaupun enggan mengakuinya Yonghwa menyukai hal itu. Hyuna tidak terus-menerus mengusiknya dengan rayuan palsu atau memujinya dengan berlebihan untuk mendapatkan perhatiannya. “Setelah itu kita makan malam,” lanjutnya.

Hyuna ragu-ragu,”Oh, oke,” akhirnya ia menyerah.

***000***

Fitness club itu kosong. Hyuna merendam kakinya di Jacuzzi air hangat yang disediakan dan menunggu Yonghwa yang sedang melakukan treadmill. Hyuna masih mengamati Yonghwa yang berlari di atas treadmill saat ia menyadari orang tuanya masuk. Ia menyentak kakinya keluar dari Jacuzzi lalu buru-buru mengeringkannya. Ia lupa kalau orang tuanya tinggal di apartemennya yang mana satu kompleks apartemen dengan Yonghwa.

“Hyun! Apa yang kau lakukan disini?” ayahnya memanggilnya.

“Oh! Hanya….menikmati fasilitas disini,” Hyuna memakai sandalnya.

“Kami juga!” seru ibunya bersemangat. Rambutnya melamai berantakan di atas gaun longgar motif Hawaii saat ia berjalan lalu memeluk Hyuna.

“Guess what! Your dad’s gonna use the group room to start a meditation club, isn’t that great? Dan kalau semuanya berjalan lancar, kami akan mengadakan acara makan bersama di sini pada Sabtu pagi,” lanjut ibunya.

“Oh, wow! Sounds great!” Hyuna samar-samar mendengar suara treadmill melambat di belakangnya dan jantungnya melonjak, tapi ia tidak berani berbalik.

“Kami akan bermeditasi dan bergravitasi langsung menuju  pusat alam semesta kita. Every Monday and Wednesday on seven till nine a.m,” papar ayahnya sambil meratakan bagian depan kausnya.

“But what happen to the soap and candle plan? And a house in Jejudo?”

“Semua akan terjadi pada waktunya sayang,” jawab ibunya.

“When the opportunity comes, you should just grab it fast!” ayahnya memulai kuliahnya. Hyuna punya pikiran kalau oranng tuanya terlalu nyaman di apartemennya. Mungkin mereka tidak akan pernah pindah atau berusaha mencari rumah sendiri. Mungkin mereka tetap harus hidup bersempit-sempitan dan ia harus mulai membiasakan diri lagi dengan segala kenyentrikan itu.

“Dan bagaimana kabarmu sayang?” tanya ibunya.

“Oh, aku baik-baik saja.”

Ibunya menunggu Hyuna bercerita lebih lanjut tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Aku membuat sabun sangat banyak kemarin. Bubur gandum dan madu. Aku akan memberimu beberapa buah. Koperasi makanan bilang kalau mereka akan mengambil sebanyak yang bisa mereka minta jadi ruang tamumu seperti pabrik saat ini,” ujar ibunya bangga.

Hyuna menegang membayangkan kekacauan itu. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri.

“Jadi, kedengarannya kalian akan tinggal lebih lama dari perkiraan semula,” ujar Hyuna.

“Kau tau, sepertinya kami akan menetap. Siapa yang sangka aku bisa merasa betah di Seoul!” kata ayahnya mengakui.

“Tapi itu masih apartemenku dan aku bisa kembali setiap saat!” Hyuna mengingatkan.

“Of course dear. Kami juga ingin kau kembali. Tapi…”senyum jahil ibunya muncul,”how about your boyfriend?”

Treadmill berhenti.

“He’s not my boyfriend!” sergah Hyuna,”We’re just friend!”

“Whatever you call it now, the point is clear dear. Kau tinggal dengan seseorang dan berhubungan dengan perasaanmu dan…”

“Kami tidak punya hubungan apapun appa!” Hyuna berkeras.

“Kami bahkan tidak pernah sependapat. Dia dibesarkan dengan cara tradisional yang ketat dan aku liberal, dia bermain tenis dan aku tumbuh dengan memikirkan kalau satu-satunya fungsi raket tenis adalah untuk mengusir kelelawar dari langit-langit rumah tua yang kita sewa. Dia bersekolah di sekolah swasta yang elit dan aku bahkan tidak bersekolah di sekolah negeri…”

“Tidak semua orang bisa menjalankan home schooling sayang,” kata ayahnya mengingatkan.

“Annyeong haseyo,” Yonghwa menyela, mendekat untuk berdiri di samping Hyuna.

“Chonun Jung Yonghwa imnida. Kurasa kalian pasti orang tua Hyuna,” Yonghwa mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan  orang tua Hyuna.

“Shin Chanyeol,” ujar appa Hyuna.

“Shin Jihyun,” eomma Hyuna ikut menyodorkan tangannya lalu menatap Hyuna dengan mata berbinar,”Is this the guy who lives with you dear?”

“Eomma!” seru Hyuna dengan nada memperingatkan.

“Saat ini kami kebih suka menyebutnya dengan istilah teman serumah,” jelas Yonghwa  tenang.

“Well, that’s good enough for me,” ujar eomma Hyuna mengangguk dan tersenyum.

“Kau pasti bisa melihat betapa kami senang mengetahui hal ini nak,” ujar appa Hyuna.

“Berbagi tempat tinggal merupakan hal yang penting dalam berbaur dengan masyarakat. Tidak perlu malu dengan hal itu. Saat aku muda dulu, cinta dan tinggal bersama adalah hal yang biasa,” lanjutnya.

Hyuna berharap dengan sepenuh hati bahwa lantai akan terbuka dan menelannya bulat-bulat daripada mendengar ayahnya mulai menguliahi Yonghwa dengan pandangan-pandangannya yang terlalu ke’barat-baratan’, sungguh.

“Appa, eomma, dengarkan aku. Ini sungguh-sungguh hanya hubungan teman yang saling menguntungkan,” ujar Hyuna.

“Memang,” Yonghwa berkata sungguh-sungguh,”sampai kami mengacaukannya dengan ciuman.”

Hyuna merasa jantungnya mencelos ke dasar perutnya mendengar kalimat terakhir Yonghwa. Ia berbalik dan menatap Yonghwa dengan tajam.

“That’s a good start!” ujar appa Hyuna puas.

Yonghwa berdeham keras, wajahnya tegang seolah menahan seringai dan matanya berkilat geli,”Sekarang kami..errr menghargai apa yang bisa saling kami berikan dalam hubungan ini.”

Hyuna nyaris dapat mendengar senyuman geli dalam suara Yonghwa dan entah mengapa kejengkelannya menguap. Yonghwa benar-benar jahil. Untung ia sudah memperingatkan Yonghwa bahwa orang tuanya eksentrik dan liberal.

“Well, kami senang kalau begitu. Apakah kalian sudah makan? Kembalilah ke apartemen Hyuna. Aku akan memasak makan malam dan kita bisa berbicara,” tawar eomma Hyuna.

“Kedengarannya menarik,” sahut Yonghwa. “Tadinya kami berniat pergi ke restaurant tapi kami tidak keberatan mengubah rencana kami.” Yonghwa mengarahkan pandangannya pada Hyuna,”Kau tidak keberatan kan jjagiya?Aku ingin mengenal orang tuamu dank au butuh istirahat sejenak.”

“Yonghwa oppa, kau tidak akan mendapat hidangan daging di apartemenku,” ujar Hyuna memperingatkan.

“Aku akan memasak pancake kentang dan bibimbap untuk kalian. Bagamana?”

Tiga pasang mata menatap penuh harap pada Hyuna. Ia tidak punya pilihan lain. Ia terpojok. Yonghwa tanpa sadar memiringkan kepalanya ke arahnya sedikit, menunggunya. Namja itu membujuknya untuk pergi, ia tau itu.

“Baiklah,” ujarnya akhirnya.

***000***

Hyuna benar-benar lupa kalau ibunya tadi menyebut-nyebut soal membuat sabun. Apartemennya beraroma kue bubur gandum dan vanilla. Wanginya enak tapi keadaannya benar-benar berantakan. Penutup sofa linen lembut dan kursi nya telah dipenuhi kotak-kotak sepatu yang tampaknya berisi sabun. Potongan-potongan raffia yang digunakan untuk mengikat sabun dan kotak sepatu itu berceceran di lantai.

Hyuna melihat dengan ngeri bagaimana ibunya telah menggantung kerai mani-manik plastic di beberapa ambang pintu termasuk yang menuju dapur. Kesukaan Hyuna pada manic-manik plastic merah setara dengan ketertarikan harimau pada rumput.

“Eomma, kenapa kau memasang semua kerai ini?”

“Oh, benda itu tambahan suasana menarik kau tau, seperti mendengarkan music saat kau keluar masuk.”

“But I don’t like this kind of music!” gerutu Hyuna.

Hyuna menyingkap untaian manic-manik itu dan terperangah melihat dapurnya. Sisa kotoran hasil pembuatan sabun menambah kotoran hasil pembuatan lilin.

“Sisi positifnya adalah tirai ini bisa menutupi kekacauan ini,” Hyuna berbalik dan kembali ke ruang tamu.

“Duduklah,” ujarnya pada Yonghwa.

Yonghwa melirik dengan gelisah ke sofa dan tersenyum tidak enak hati,”Err…aku tidak bisa. Semua…ehm…penuh.”

“Biar kubereskan,” Hyuna appa menawarkan diri mengambil setumpuk kotak sepatu dan meletakannya di sudut. Ia mengacungkan korek api pada Yonghwa,”Please,” ujarnya sambil melirik kea rah lilin-lilin di meja kecil.

“Aah, ini sebabnya wanginya begitu enak disini,” kata Yonghwa paham.

“Aku suka mendupai diriku sendiri tapi Jihyun mengatakan bahwa itu mengingatkannya pada agama yang terorganisir,” tukas Hyuna appa sambil mengangkat bahu.

Yonghwa menahan senyumnya dan dengan teratur menyalakan lilin-lilin di meja.

Saat makan malam siap, Hyuna hanya ingin agar orang tuanya memberi kesan cukup normal agar bisa disukai. Yonghwa terbiasa dengan formalitas dan kebiasaan yang lazim sementara orang tuanya sama sekali kebalikannya.

Hyuna dan Yonghwa berasal dari dua ujung yang jauh berbeda dalam segala hal mulai politik sampai agama. Yonghwa dibesarkan oleh tradisi, Hyuna dibesarkan sebagai pemberontak.

Kalau perbedaan justru menimbulkan ketertarikan, maka Hyuna dan Yonghwa akan menjadi kandidat yang paling cocok.

“Astaga! Lezat sekali!” ujar Yonghwa sambil menusuk potongan pancake keduanya. “Kau makan ini setiap hari?” tanya Yonghwa terkesan.

“Itu, makanan tumisan dan banyak tofu,” ujar Hyuna sedih.

“Kami mencoba memanen rumput laut saat di Texas, tapi tidak terlalu beruntung,” ujar Hyuna appa sambil mengangkat bahu seolah kecewa kehilangan transaksi jutaan won.

“Dan juga kecambah yang berusaha kami kembangkan di California,” Hyuna eomma menambahkan.

“Tapi kau punya rempah-tempah di Washington sayang,” Hyuna appa menjawab dengan mulut penuh pancake.

“Hyuna-ya, kau hidup di semua tempat itu?” tanya Yonghwa heran, sumpitnya terhenti di udara.

“Yeah, dan banyak tempat lain,” tukas Hyuna appa lagi.,”Maka dari itu kami berencanqa memiliki sebuah rumah di Jeju agar kami bisa hidup dari alam dan menjual ikan hasil tangkapan kami lalu Hyuna akan punya warisan.”

“Sepertinya hidupmu sangat menarik,” Yonghwa menyimpulkan dengan tulus.

“Lebih daripada yang kau tau oppa,” kata Hyuna dan tanpa sadar tangannya menyentuh lengan Yonghwa.

Yonghwa menangkup tangan Hyuna dan meremasnya pelan,”Aku ingin kau menceritakan semuanya padaku,” ujarnya sungguh-sungguh membuat Hyuna sejenak menahan napas melihat tatapan kesungguhannya dan melupakan keberadaan orang tuanya yang menyaksikan semua ini.

***000***

Sepertinya baru saja Hyuna memasuki kehidupan Yonghwa yang normal dan luar biasa rutin, tanpa terasa, waktu kedatangan orang tua Yonghwa sudah dekat. Tepat saat ia menyadari itu, Hyuna merasakan perasaan menyesakkan yang tidak ia mengerti. Semua itu karena ia berbagi begitu banyak hal dengan Yonghwa. Bagaimana mungkin ia diharuskan pura-pura jatuh cinta dengan Yonghwa? Ini sangat tidak masuk akal! Hyuna melirik ke kekosongan di jari tangannya, membayangkan bagaimana rasanya benar-benar menjadi tunangan namja itu. Hyuna secara impulsive pergi ke toko serba ada dan membeli cincin pertunangan untuk dirinya sendiri.

Ini malam terakhir mereka berduaan dan entah bagaimana Hyuna menganggap ini penting.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyuna sambil mengacungkan tangan kirinya yang kini dihiasi cincin sederhana murahan setelah mereka pulang kerja.

Ekspresi Yonghwa sejenak membeku. Selama beberapa detik jantung Hyuna berdentam seperti bom waktu dan mata Yonghwa tetap terpaku pada cincin itu.

“Hei kau bertunangan…..denganku…”

“Kalau kau tidak menyukainya-,”

“Tidak, aku….darimana kau membeli ini?” Yonghwa mengambil tangan Hyuna dan mengamatinya.

“Toko diskon dekat sini.”

“Kuharap cincin ini tidak meleleh atau mengubah jarimu menjadi hijau.”

“Aku hanya berusaha membantu!” seru Hyuna jengkel.

“Aku tau, tapi ibuku memiliki kemampuan luar biasa untuk mengenali permata tiruan dari jarak empat setengah meter.”

“Kalau begitu…”

“Ayo kita ganti cincin ini dengan sesuatu yang asli,” Yonghwa meremas tangan Hyuna.

“Cincin sungguhan?”

***

Mereka sampai di sebuah toko perhiasan yang terlihat sangat mewah. Seorang pramuniaga menyambut mereka dengan gaya yang berlebihan dan memberi ceramah tentang berlian.

“Pilihlah,” ujar Yonghwa.

“Kurasa yang itu cantik,” Hyuna mendengar dirinya berkata.

“Lihat yang itu,” Yonghwa menunjuk sebuah cincin.

Cincin itu sederhana, tampak seolah berlian yang lebih besar mengambang di atas dua berlian yang lebih kecil yang mengapit di kedua sisinya.

Menerima benda itu tanpa ragu, Yonghwa meraih tangan Hyuna dan menyelipkan cincin itu disana dengan lembut, melewati ujung kuku, kuku dan kutikula dan dengan mantap mendorongnya.

“Cincin ini sempurna,” ujar Yonghwa dengan nada kemenangan.

“Aku…”

“Memang cincin itu sangat istimewa,” ujar pramuniaga itu gembira.

“Aku menyukainya,” kata Yonghwa.

“Ini lebih besar dari yang kita rencanakan.”

“Ini investasi,” pramuniaga itu menyahut.

“Kami akan mengambil yang satu ini,” Yonghwa mengeluarkan dompetnya.

“Oh tidak, kita hanya butuh cincin bermata tunggal, itu saja,” Hyuna bersikeras dan berusaha melepas cincinnya.

Yonghwa segera menghentikannya,”Don’t. This is right for you. Perfect,” kata Yonghwa pelan. Hyuna terpana melihat tatapan dan cara Yonghwa mengatakan cincin itu sempurna untuknya.

Yonghwa menyerahkan kartu kreditnya kepada pramuniaga itu.

“Ini cincin yang bisa bertahan seumur hidup. Selamat. Aku bsia melihat kalian berdua akan sagat bahagia bersama,” ramal pramuniaga itu sambil mengisi form.

Ramalan itu terasa seperti siraman air dingin bagi mereka berdua. Hyuna memainkan cincin itu, memperbaiki letaknya di jarinya.

Yonghwa mengalihkan perhatiannya pada etalase kalung-kalung.

“Kau punya mutiara?” tanyanya tiba-tiba membuat Hyuna otomatis mengikuti arah pandangannya.

“Aku punya ini,” Hyuna menepuk kalung dekat dadanya.

“Imitasi.”

“Faux-palsu,” ralat Hyuna.

“Faux pas-kesalahan besar kalau kau ada di dekat ibuku. Kita butuh sesuatu yang klasik untuk makan malam,” Yonghwa berkata tegas.

Pramuniaga itu buru-buru mengambil sebuah kotak perhiasan berisi empat untai kalung berlian. Sebelum Hyuna sempat berdebat atau terpekik, Yonghwa sudah memilih seuntai, melepas kaitan kalung itu dan membawa mutiara itu melewati puncak kepala Hyuna.

Hyuna merasakan napasnya tertahan menerima perlakuan Yonghwa. Kalau  menyelipkan cincin tadi terasa romantic, sikap Yonghwa yang ini terasa lebih menggoda. Mereka bertatapan selama beberapa saat, saling menyelami.

***000***

Hyuna sangat gugup. Ia sama sekali tidak focus pada pekerjaannya hari ini.  Ia pergi ke Airport dengan pundak seperti membawa beban seukuran kingkong. Pesawatnya terlambat, Yonghwa dan Hyuna berusaha menyingkirkan kecemasan mereka dengan berjalan dan daling menguji.

“Teman baikku adalah…”

“Lee Jonghyun.”

“Aku bertemu dengannya di…”

“SMA di Busan. Dia setahun lebih muda darimu dan kalian berdua sering bermain band bersama sejak SMA.”

“Tepat sekali.”

“Dan kalian menghabiskan waktu bersama dengan melakukan snowboard tanpa seijin ibumu sampai akhirnya kakimu terluka saat kau terjatuh dan ibumu marah besar.”

“Ingatanmu luar biasa,” puji Yonghwa.

“Jangan khawatir, pikiranku akan kosong saat orang tuamu berjalan turun dari pesawat.”

“Hyuna, tidakkah kau percaya pada dirimu sendiri?”

“Untuk masalah yang satu ini tidak terlalu,” jawab Hyuna sambil memutar-mutar cincinnya gugup.

“Orang tuaku akan sangat menyukaimu!”

Tapi sepertinya mereka sama sekali tidak berencana menyukai Hyuna. Sewaktu akhirnya mereka melewati gerbang kedatangan, Hyuna mengkerut melihat ekspresi masam ibu Yonghwa dan wajah ayah Yonghwa pun tidak membawa kelegaan. Lutut Hyuna gemetar.

Yonghwa maju untuk memanggil ayah dan ibunya.

“Eomma! Appa!”

Ibu Yonghwa berputar dan menampakkan dagunya yang terangkat. Wajahnya cantik, dengan polesan bedak baru dan lipstick merah di bibirya yang kecil. Ia mengenakan mantel bulu hitam yang terlihat mahal, sepatu kulit ular dan kacamata hitam Perhiasan safir dan emas menampakkan pernyataan kekayaan yang luar biasa. Seandainya Hyuna bertemu wanita ini di mal, ia akan mengubur diri. Ia membuka kacamatanya, menampakkan matanya yang cerdas dan tajam. Lalu mata itu menyipit saat melempar pandangan sekilas pada Hyuna.

Hyuna memaksakan bibirnya yang kaku balas tersenyum.

Tetapi wajah ayah Yonghwa berubah santai saat melihat anaknya. Ia mengenakan jas santai dengan gaya pengusaha tulen. Wajahnya tampan dan dalam sekian detik Hyuna bisa melihat kemiripan Yonghwa dengan ayahnya.

“Kau tampak sehat sayang,” tukas ibu Yonghwa.

“Memang, dan kalian bisa menyalahkan dia untuk hal itu. Perkenalkan Hyuna-ya, ini orang tuaku. Appa, eomma, ini tunanganku, Shin Hyuna.”

Hyuna mengulurkan tangannya dengan takut-takut dan ia menguatkan hatinya untuk apa saja yang akan terjadi.

“Ayolah, kami antar kalian ke hotel. Kalian pasti lelah sekali,” bujuk Yonghwa.

Mereka akhirnya pergi naik taksi. Yonghwa tidak membawa mobil sportnya yang sudah pasti tidak bisa mengangkut ayah, ibu dan semua barang bawaan mereka.

Mereka berkumpul di sebuat hotel terdekat dan Yonghwa sedang membantu mengeluarkan koper-koper saat ayah Yonghwa melangkah dar meja resepsionis.

“Ada masalah. Manajernya bilang tidak ada kamar tersisa dan semua hotel sedang dalam peak season.”

“Sekarang sudah hampir jam sebelas malam, apakah kita harus mengecek ke hotal-hotel lain?” kata Hyuna.

“Aku tidak tau. Ada sebuah hotel yang kutau tapi letaknya cukup jauh dari sini dan tidak sebagus disini,” Yonghwa gelisah.

“Sayang, bukankah kau bilang kau punya apartemen dengan dua kamar?”

“Ya, tapi…”

“Kalau begitu kami akan tinggal di tempatmu,”

tbc

Eotteyo? Hehehe

Maaph ya kalo gaje n terlalu serius…maaph juga klo banyak typo

Aku males baca ulang…kekeke…komen yaa ^^ *big hug*

41 thoughts on “Fake Fiancee Part 3”

  1. mrk ngerasa ga si kalo sbnr.a mrk th lg pdkt-lbh dalem lagi penjajakan…
    coz mrk saling tanya dan ingn tau tntg masing2…

    dan kya.a, getaran.a smkn besar

  2. bca dr part 1 bru komen d‘part ini
    mian..
    bca ni ff d‘kira org gila
    soal‘a suka senyum2 sndri bca‘a
    alur crta‘a d‘bwt cpet apa emang bca‘a aja yg kcpetan??
    g sbar deh nunggu lnjutan‘a
    lmakah lnjutan‘a??

  3. Seneng bgt pas tau ini udah di publish! kyaaa ditunggu tunggu nihhh :”)
    Hayolooo eomma ngerestuin ga tuh? wkwk lanjuuut!😉 love you thor *eh

  4. hahahhahhaa…yonghwa emang gokil,
    pas banget dengan image genit dan menggoda..
    kekekkekekke…
    Ohhh God!!! mereka pasti jaminan akan sekamar..kekekkeke
    chinguuuuu cepetan segera post part selanjutnya yahhh^^
    Fightinggggg >,<

  5. eonniiiiiiiiii..
    Akhirnyaa di publish jugaaaaaaaa………
    *jingkrak..jingkrak..*

    ga kebayang ortu Yong Hwa bakal tggl se’apartment sama mereka b’2…
    Ketahuan ga ya?
    Mdh2an aja ga malahan bikin mereka jdi lbh deket lgi..

    Typo?
    Ada sih, tapi dikit..
    Hehe

    ada org k’3 ga eon?
    Pasti ada,hehe
    ga seru klo ga ada..
    *bow*

  6. haha penasaran dengan nasib hyuna selanjutnya…mengingat hyuna memakai baju tidur super mini…hehe yadong…
    next partnya jangan lama2 y….

  7. Huaaa dah jrng ksiniy.. Da ff Kereeen…tertinggal^^
    Suka karakter yong hwa & hyuna..berbeda v cocok..lol
    V q langsung baca part 3 v..u_u

  8. Klo d pikir2 kyanya hyuna lbih pantes jd duta lingkungan deh kyk nya..😄 *abaikan

    hyaaa hyuna yonghwa klian berdua cocok sekali aq suka >.<

    kira2 konflik apa ya yg bkal d bwa ortu nya yonghwa?? D tunggu thor next part nya + jgn lma😀

  9. aigooooo,aku suka ff ini,sweet but lil bit naughty kalo liat karakter yonghwa bacanya sampe tahan nafas haha
    ga sabar bgt nunggu lanjutannya ..jgn lama2 ya eon🙂

  10. wuah ceritanya Seru bgt!!
    mian bru komen d sni ^^
    jgn jgn nanti yonghwa ma hyuna tnggal satu kamar lg ,klo ortu nya tnggal d apartmen yonghwa ???
    d tnggu next partnya ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s