Blind Date Last Part

Title       ::  Blind Date Part 4/END [Fanfic Colaboration autumsnowers & ang11Rach]

Author  ::  autumnsnowers

Genre   ::  Romance, Humour

Rate       ::  General

Length ::  4/4

Cast       ::

  • Cho Kyuhyun
  • Kim Heera
  • Lee Ang Hyeon
  • Shim Changmin

Previous Part >> Part 1 || Part 2 || Part 3

Rachel’s Note :: Secara keseluruhan ff ini punya eka…aku cuman nambah2in dikit2 doank..hehehe

Authors’s NOTE :: Hey… Ini dia THE LAST PART dari ff kolaborasi ku dengan Rachel eonni a.k.a ang11rach a.k.a Lee Ang Hyeon😀 setelah kita menikmati scene-scene romantis di part 3 kemarin yg udah dibawain dengan apik oleh Rachel eon.. kita liat bagaimana di part terakhir ini!! Cekidot^^

 

Di belakang mereka seorang namja memasuki pintu ruang tamuku. Mulutku menganga tidak mengerti situasi yang membingungkan ini.

“Hai Kyu, oraenmaniya,” kata Lee Joon oppa lalu memeluk namja itu.

Namja itu membalas pelukan Lee Joon oppa sekilas lalu melemparkan evil smirk nya ke arahku.

MWO??!? CHO KYUHYUN?? IGE MWOYA??

~ Story Begin~

Sejak tadi Heera berjalan hilir mudik di kamarnya, berusaha mencoba menelepon Changmin untuk kesekian kalinya.

“Ayolah, kumohon… angkat oppa,” gumam Heera sambil menggigit ibu jarinya dengan mata yang berkaca-kaca, bersiap untuk menumpahkan air mata entah untuk keberapa kalinya.

Heera membanting ponselnya ke atas tempat tidur dengan perasaan kesal dan putus asa yang menjadi satu. Gadis itu mundur secara perlahan, bersandar pada dinding di sudut kamarnya dan tubuhnya merosot jatuh terduduk.

Air matanya kembali mengalir, membuat matanya semakin bengkak dan memperparah penampilannya yang terlihat kacau.

Heera melirik ke arah jam yang menggantung di salah satu sisi kamarnya, menatap jam itu nanar. Sudah waktunya… pasti dia sudah bertemu dengan Hyeon, ucapnya dalam hati.

Heera menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya yang menelungkup di atas lutut. Tubuhnya bergetar pelan, menyesali yang terjadi. Tidak, lebih tepatnya menyesali kemungkinan yang akan terjadi.

Heera yakin pada Hyeon, sahabatnya itu pasti akan memegang ucapannya. Tapi reaksi Changmin setelah tahu bahwa dirinya telah ditipu mentah-mentah? Heera sudah menguatkan hatinya untuk menerima jika Hyeon dan Changmin akan melanjutkan pertunangan mereka, tapi gadis itu tidak mau Changmin marah padanya dan merasa ditipu tanpa mengetahui kebenaran secara langsung dari dirinya.

Suara bel mengusik Heera, entah sudah berapa lama dia dalam posisi seperti itu hingga membuat gadis itu merasa seluruh tubuhnya pegal saat beranjak untuk membukakan pintu untuk siapapun yang dengan tidak tau dirinya datang saat ia sedang kacau seperti ini. Dengan perlahan dia berjalan ke pintu utama dan terbelalak saat melihat sosok itu, Shim Changmin berdiri di hadapannya dengan tersenyum ramah!!!

Senyum Changmin memudar saat melihat penampilan Heera, tangannya terangkat dan menyentuh kelopak mata gadis itu yang terlihat bengkak. Changmin terbelalak saat Heera menepis tangannya dan membentak padanya, hal yang tidak pernah dilakukan gadis itu.

“Oppa!!! Kenapa kau tak menjawab teleponku?!!! Untuk apa oppa ke sini?!! Seharusnya oppa tidak berada di sini sekarang!!” Heera berteriak saat melihat sosok Changmin di hadapannya. Dia meminta pria itu pergi dari rumahnya karena dia tahu seharusnya laki-laki itu tidak berada di sana.  Heera menggigit bibir bawahnya, mempersiapkan hatinya akan kepergian Changmin. Mungkin untuk selamanya.

“Ra-ya~ gwenchanayo?” tanya Changmin tak  mengindahkan ucapan gadis itu, dia lebih tertarik pada penampilan Heera dengan rambut acak-acakan, baju kusut dan mata gadis itu yang terlihat bengkak.

Tanpa banyak kata Heera langsung menarik tangan Changmin dengan sekuat tenaga, membawa pria itu kembali ke mobilnya.

“Ke rumah Hyeon!”

“Mwo?” tanya Changmin dengan kening yang mengkerut samar.

“Aku bilang ke rumah Hyeon. Sekarang!” tandas Heera sambil menatap Changmin tajam lalu membuka pintu samping kemudi dan duduk manis di sana.

Heera’s POV

Bagaimana ini? Changmin oppa datang ke rumahku. Bukankah dia seharusnya sekarang berada di rumah Hyeon? Dan tingkahnya itu, terlihat biasa saja. Apa dia tidak datang ke rumah Hyeon karena aku? Oh ayolah Kim Heera… jangan bermimpi! Haish! Aku harus membawa Changmin ke rumah Hyeon agar dia tak semakin marah karena merasa telah ditipu mentah-mentah olehku.

Banyak hal yang berkecambuk dalam pikiran ku. Aku tak menanggapi Changmin yang sejak tadi berusaha mengajak ku berbicara. Yang aku mau hal ini menjadi jelas, bagiku… dan bagi semuanya.

~~~****~~~

Author’s POV

Sejak tadi Hyeon tak berhenti menatap Kyuhyun yang tengah mengobrol akrab dengan Lee Joon dengan tatapan penuh selidik. Hanya dia yang diam, hanya Hyeon yang tak melibatkan diri dalam pembicaraan yang sedang berlangsung. Orang tuanya dan orang tua Kyuhyun sudah membuat kesepakatan mereka sendiri tentang tanggal pertunangan Kyuhyun dan Hyeon tanpa meminta persetujuan mereka dan tanggal itu sudah ditetapkan bulan depan.

“Hyeon-ah kau satu kampus dengan Kyuhyun kan? Bagaimana kalau mulai besok kalian berangkat bersama?” Hyeon menoleh pada asal suara, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, Kyuhyun eomma, Nyonya Cho Yoonhee.

“Anniyo ahjumma, aku tak mau merepotkan Kyuhyun-ssi” jawab Hyeon sambil berusaha tersenyum senatural mungkin..

“Ahjumma? Mulai sekarang kau panggil aku eommonim Hyeon-ah, dan kurasa Kyuhyun tak keberatan menjemput dan mengantarkanmu setiap hari,” papar Nyonya Cho sambil menatap Kyuhyun seolah-olah menunggu jawaban dari putranya itu.

“Tentu saja.” Jawab Kyuhyun yakin dengan menatap Hyeon sambil tersenyum lebar, mengabaikan Hyeon yang melotot ke arahnya.

“Bagus. Jadi mulai besok kau diantar jemput oleh Kyuhyun,” pekik Nyonya Cho senang dan saling melempar senyum senang pada Nyonya Lee Hyura, Hyeon eomma.

Hyeon hanya diam dengan pandangan kosong seolah-olah separuh kesadarannya telah pergi meninggalkan raganya saat menyadari jika dia tak akan bisa menolak ucapan para orang tua. Tapi kesadarannya seolah kembali seutuhnya dalam satu sentakan saat dia mendengar suara seseorang, sangat familiar.

“Hyeon-ah!! Aku membawa Changmin opp-” teriak Heera membahana sambil menarik erat tangan Changmin, ucapannya selaras dengan kakinya yang berhenti mendadak saat menyadari orang-orang yang kini tengah berkumpul menatapnya dengan bingung.

“Heera!!!”

“Al!!” panggil Hyeon dan Lee Joon bersamaan sedangkan Heera hanya terdiam bingung akan kehadiran Kyuhyun di tempat itu.

“Kau terlihat kacau,” ucap Lee Joon saat berdiri di hadapan Heera.

~~~****~~~

“Hahahahahaha jadi kau menarik Changmin ke sini karena kau kira dia itu pasangan blind date panda dan kau khawatir Changmin tidak datang ke sini? Begitu? Hahahaha..” tawa Lee Joon pecah saat mengetahui apa yang terjadi, mengabaikan Heera yang kini hanya menunduk dengan wajah merah padam menahan malu di depan semua orang yang ada di situ termasuk orang tua Kyuhyun dan Hyeon yang kaget.

“Hyeon-ah, kau berurusan dengan appa nanti,” ujar Lee Sangjoon dengan tatapan memojokkan dan membuat gadis itu hanya mengangguk patuh.

“Cho Kyuhyun!” kali ini giliran Cho Junghoon yang menegur anak nya tegas, seolah-olah nanti meminta penjelasan dari anaknya langsung.

“Sudahlah, yang penting ini sudah jelas,” sela Nyonya Lee menenangkan.

“Kajja. Kita harus tiba di pesta Eunjung 30 menit lagi,” ujar Nyonya Cho mengingatkan suami serta sahabatnya sebelum akhirnya ke 4 sahabat karib itu pergi meninggalkan anak-anak mereka.

***

“Oppa~ berhentilah tertawa!!” rengek Heera sambil memukul lengan Lee Joon, kesal karena laki-laki itu belum berhenti tertawa.

“Aduh… aduh… arraseo arraseo. Tapi kau bodoh Al~ kenapa kau tidak menanyakannya pada Changmin dulu tentang acara malam ini?” ujar Lee Joon sambil menjitak kepala Heera, membuat gadis itu meringis sedangkan Hyeon tersenyum puas karena tahu bahwa bukan hanya dia yang dibully oleh oppa nya.

“Hyeon yang bodoh, meminta bantuan ku tanpa informasi yang jelas,” sungut Heera sambil menggerucutkan bibirnya sebal, hal yang jarang dia lakukan di depan orang lain kecuali Lee Joon.

“Aish dasar… jika ada Joon oppa manja mu kumat!” umpat Hyeon sambil memalingkan wajah dan tatapannya tak sengaja melihat Changmin, pria itu terlihat… tidak rela?

Changmin tak bisa mengalihkan pandangannya dari 2 orang yang kini sedang berbincang akrab dan sesekali tertawa lepas. Merasa tidak nyaman saat kakak laki-laki Hyeon yang bernama Lee Joon itu memanggil Heera dengan sebutan Al, penggalan nama dari western name Heera, Aldreda. Selain itu baru kali ini dia melihat Heera yang bersikap manja, menghapus sikap pendiam, kalem, dan sedikit dewasa yang biasa dia perlihatkan dan itu hanya kepada seorang Lee Joon!!

Dia tidak rela jika Heera tertawa selepas itu di hadapan pria lain dan bukan karena dirinya.  Changmin berusaha mati-matian menahan keinginannya untuk menarik Heera pergi dari sisi Lee Joon. Semakin yakin akan perasaannya pada gadis yang kini bahkan bercanda dengan pria lain. Saking fokusnya menatap 2 orang itu seakan ingin memakan mereka hidup-hidup, Changmin tidak menyadari bahwa Hyeon dan Kyuhyun saling berbisik sambil terus-terusan menatapnya.

~~~****~~~

Hyeon hanya memperhatikan raut wajah Changmin yang terlihat seperti menahan marah sambil sesekali menyikut perut Kyuhyun saat merasa bahwa Changmin bisa saja meledak dengan apa yang dia lihat.

“Mwoya? Oppa akan pergi lagi?!” Heera membelalakan matanya karena terkejut. “Andwaeyo. Setidaknya tinggallah di sini selama 1 minggu,” bujuk Heera yang kini telah melingkarkan tangannya di lengan Lee Joon, berusaha menahan pria itu.

“Tidak bisa Al, aku harus cepat kembali,” tolak Lee Joon.

“2 hari lagi? Jebal…aku akan menemani oppa kemana pun, jadi tour guide?” rengek Heera sambil menunjukkan puppy eyes miliknya, membuat Hyeon berdecak kesal lalu berkata, “ Cih, aku saja yang berpredikat sebagai adik kandungnya tidak bisa menahannya lebih lama.”

Namun mata Hyeon membulat sempurna sekaligus terkejut saat melihat Lee Joon mengangguk kecil menyetujui permintaan Heera.

“Yak, oppa!! Apa-apaan kau hah? Kau dengan mudahnya menyetujui permintaan Heera. Sebenarnya kau ini kakak siapa sih!!!” omel Hyeon sambil menghentak-hentakkan kakinya saat melihat kakaknya malah berjalan menjauhinya sambil merangkul Heera, mengabaikan dirinya.

“Diamlah. Gadis cerewet!” Ujar Kyuhyun datar dengan menghujami Hyeon dengan tatapan tajam miliknya. Merasa terganggu dengan sikap Hyeon yang seperti anak kecil.

“Apa kau bilang?!! Ini rumah ku, aku berhak melakukan apa yang aku mau!!”

“Cih, rumah mu? Ini rumah orang tua mu. Lagipula, seharusnya kau senang kan oppamu akan tinggal lebih lama. Dasar bodoh!” balas Kyuhyun seraya mencibir. Mereka bertengkar lagi, mengumpat satu sama lain.

“Ah, ada satu lagi yang membuatku penasaran, sejak kapan kau mengenal oppaku?” tanya Hyeon galak. Ia tidak tau kalau Kyuhyun dan Lee Joon cukup akrab. Bahkan kelihatannya Lee Joon tidak heran melihat Kyuhyun datang tadi, begitu juga sebaliknya.

“Aku, Changmin dan Lee Joon memang seumuran dan kami pernah satu kelas saat SMA. Kami adalah tiga namja paling populer di sekolah dan…”

“Aku pulang dulu,” sela Changmin dengan wajah lesu dan tanpa menunggu jawaban Kyuhyun dan Hyeon, ia pergi. Kyuhyun dan Hyeon hanya bisa terdiam menatap punggung Changmin yang semakin menjauh. Hyeon merasa kasihan melihat Changmin melangkah pergi dengan langkah yang diseret, lalu gadis itu menoleh pada Kyuhyun dan memperlihatkan binar di matanya seraya berkata, “Kita harus menjodohkan mereka dan kau harus membantuku!” membuat Kyuhyun hanya mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan heran pada Hyeon yang kini terlihat bersemangat.

“Ngomong-ngomong soal perjodohan, kenapa kau menyuruh Heera untuk menggantikanmu?” tanya Kyuhyun meredakan semangat Hyeon seketika. Hyeon cemberut.

“Kau sendiri kenapa menyuruh Changmin untuk menggantikanmu?” tantang Hyeon balik.

Kyuhyun mengangkat bahunya dan mengendikkan kepalanya,”Karena aku sudah menyukai seseorang dan aku tidak mau dipaksa untuk bertemu dengan orang lain yang tidak kukenal dan orang tuaku tidak mau memberiku informasi apapun tentang pasanganku kecuali bahwa ia adalah anak dari sahabat mereka.”

Ada perasaan kecewa yang aneh yang merambat di dada Hyeon. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa begitu.

“Aku juga tidak mau bertemu dengan orang yang tidak kukenal. Apalagi appa dan eomma tidak mau memberikan foto atau apapun yang bisa memberikan aku gambaran tentang orang yang akan kutemui,” balas Hyeon tidak mau kalah.

“Tapi kalau mereka memberikan fotoku padamu pasti kau akan mengiyakan dengan senang hati,” ujar Kyuhyun santai.

Pletak! Jitakan keras mendarat di kepala Kyuhyun.

“You wish!” sahut Hyeon galak.

Kyuhyun hanya mengelus kepalanya sambil tersenyum geli.

“Lagipula, bukankah kau juga mengira Heera yang menjadi pasangan kencanmu? Kenapa kau tadi tidak terihat kaget saat bertemu denganku? Dan lagi, kalau memang kau sudah menyukai orang lain kenapa kau mau-mau saja datang kesini? Membuang waktuku saja,” Hyeon mulai mengomel.

“Awalnya memang aku mengira Heera yang menjadi pasanganku dan aku memang tidak peduli apakah Changmin pada akhirnya akan jatuh cinta dengan pasangan blind date ku atau tidak saat aku memintanya menggantikanku,” Kyuhyun memberi jeda pada kalimatnya untuk menarik napas dan mengganti posisi duduknya.

“Dan saat aku bertemu dengan kalian di restaurant waktu itu aku masih mengira kalau Heera lah pasanganku. Tapi malam itu, setelah aku mengantarmu pulang, orang tuaku membahas rencana mereka untuk mengadakan pertemuan tadi dan saat itu mereka mengatakan kalau nama teman appa adalah Lee Sang Joon. Well, aku ingat saat pertemuan siswa terbaik kalau marga Heera adalah Kim dan otakku yang cerdas ini segera menemukan satu-satunya orang bermarga Lee yang dekat dengan Heera yang mungkin sama sepertiku, meminta sahabatnya untuk menggantikan posisinya dalam blind date itu. Kau,” jelas Kyuhyun.

“Aku juga mendengar bahwa teman appa itu mempunyai anak laki-laki yang seumuran denganku dan saat mereka menyebutkan nama Lee Joon, aku segera menghubungi Lee Joon untuk memastikan dugaanku bahwa kau memang pasangan yang seharusnya dijodohkan denganku.”

Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ipod Hyeon,”Igeo, aku kembalikan.”

Hyeon menyipitkan matanya dan menatap Kyuhyun curiga,”Kenapa tiba-tiba kau mengembalikan ini? Bukankah kau bilang ada syaratnya?”

Kyuhyun mengangkat bahunya,”Aku sudah mendapatkan hadiahku yang lain.”

Hyeon menggeleng tidak mengerti tapi mengulurkan tangannya untuk menerima ipod nya kembali.

Kyuhyun menarik tangan Hyeon, membuat Hyeon terhuyung ke arah Kyuhyun dan cup. Kyuhyun mencium pipi Hyeon tiba-tiba,”Orang yang kusukai.”

~~~****~~~

“Kenapa kau berpakaian aneh hah?” tanya Kyuhyun dengan tatap malas pada Hyeon yang mengenakan kacamata hitam, topi dan jaket yang berdiri di depannya.

“Ssstt diamlah. Kau ingin kita ketahuan hah?” tegur Hyeon dengan suara tertahan. Takut jika keberadaan mereka yang bersembunyi di sebuah gang yang dekat dengan keberadaan Heera dan Lee Joon.

“Aku  tak tahu apa tujuan mu hingga tega memisahkan Heera dan kakakmu. Tapi jika kau seperti ini maka kita hanya menjadi stalker gagal. Kau ini terlalu mencolok. Bersikaplah seperti biasa,” papar Kyuhyun sambil menyederkan punggungnya pada dinding bata dengan tangan yag bersilang di depan dada. Hyeon tertegun mendengar ucapan Kyuhyun. Sedikit membenarkan perkataan laki-laki itu lalu dia pun melepas semua alat penyamaran yang dia kenakan.

“Aku akan menghampiri mereka,” ujar Hyeon sambil melemparkan alat penyamaran yang tadi ia kenakan ke arah Kyuhyun –tepat ke wajah pria itu- secara semena-mena, membuat pria itu berteriak kesal.

Hyeon berjalan dari tempat persembunyiannya, tak menghiraukan Kyuhyun yang berteriak-teriak kesal akan ulahnya. Hyeon berdecak kesal saat Heera dan Lee Joon tidak menyadari keberadaannya yang terang-terangan lewat di hadapan mereka. Lalu Hyeon memesan jus strawberry tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari 2 orang itu, mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Oppa kau ingin kemana lagi?” tanya Heera sambil tersenyum manis ke arah Lee Joon yang duduk di hadapannya.

“Kau jangan tertawa oke? Aku ingin ke pulau Nami,” ujar Lee Joon setelah memastikan bahwa gadis yang ada di hadapannya itu tak akan menertawakannya.

“Baiklah,” sahut Heera dengan seulas senyum manis yang tersungging di wajahnya.

Mata Hyeon membulat tak percaya. Pulau Nami? Mereka akan ke pulau Nami?! Dia akan berani bertaruh bahwa tak ada seorang pun yang tak mengenal suasana romatis di pulau itu. Jika yang bukan pasangan pergi ke sana bersama, bisa-bisa mereka akan saling jatuh cinta pada hari itu juga karena suasana yang sangaaaat romantis.

Bukannya Hyeon tidak mau jika Heera, sahabatnya, menjalin hubungan dengan kakaknya. Hanya saja dia mengetahui sesuatu mengenai seseorang yang bahkan orang itu pun tak mengetahuinya.

“Heera!! Oppa!!” panggil Hyeon ceria sambil berjalan menghampiri meja mereka.

“Ah!!” pekik Heera saat jus milik Hyeon tumpah mengenai blus putih yang ia kenakan.

“Heera, mianhae. Aku tersandung kaki kursi,” ucap Hyeon dengan wajah penuh penyesalan padahal dalam hati dia bersorak girang atas rencananya yang dia yakini sebentar lagi akan berhasil.

“Ne, gwenchana Hyeon-ah” jawab Heera sambi tersenyum manis sedangkan tangannya sibuk mengelap blus nya yang basah dengan tisu.

“Aish, Panda. Kau ini ceroboh sekali! Kapan kau bisa sembuh dari penyakit clumsy mu itu,” tegur Lee Joon pada adiknya sambil melepaskan jaket yang dia kenakan, membuat Hyeon bertanya-tanya dalam hati akan perbuatan apa yang akan kakaknya lakukan.

“Al, pakai ini. Maaf, baju mu menjadi transparan. Ayo kita pulang, kita tak akan pergi dengan keadaan mu yang seperti itu,” ujar Lee Joon sambil beranjak dari kursinya dan menutupi tubuh bagian depan Heera dengan jaket miliknya, membuat Heera dan Hyeon sama-sama termangu.

***

Kyuhyun masih di posisi semula, menyenderkan punggungnya pada dinding bata dan menyilangkan kedua tangannya tanpa sekali pun melepaskan pandangannya dari gerak-gerik Hyeon.

Dia mendengus pelan saat melihat apa yang Hyeon lakukan. Kyuhyun langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan mengikuti langkah kaki Hyeon yang kini berada beberapa langkah di depannya.

“Dengan cara mu yang seperti itu apakah kau sadar jika kau membuat Joon hyung terlihat sangat gentleman di hadapan Heera?” langkah kaki Hyeon terhenti saat dia mendengar suara itu, suara Kyuhyun.

“Cih, seperti kau memiliki ide brillian saja. Aku turun tangan sendiri, sedangkan kau? hanya memantau dari jauh tapi tingkah mu seolah-olah kau tahu apa yang harus dilakukan. Walaupun tidak seperti apa yang kurencanakan tapi setidaknya mereka tidak jadi ke Pulau Nami,” cecar Hyeon yang kini telah berbalik sambil menyilangkan tangannya. Melemparkan pandangan meremehkan pada Kyuhyun.

“Kau mau aku turun tangan?” tanya Kyuhyun sambil balas menatap Hyeon tajam.

“Aku akan mengurusnya lagi nanti. Kudengar nanti malam mereka akan pergi makan malam. Kita harus mengikuti mereka,” papar Hyeon memberitahukan agendanya.

Kyuhyun berjalan mendekati Hyeon, berdiri tepat di samping gadis itu seraya berkata, “Baiklah,” lalu menggunakan kacamata hitam milik Hyeon yang masih ada padanya.

Tubuh Hyeon serasa mendadak mematung dalam hitungan detik saat melihat Kyuhyun memakai kacamata hitam miliknya. Terpesona akan pesona pria itu di bawah terik matahari yang semakin membuatnya berkilau. “Kembalikan kacamata ku!!!” seru Hyeon setelah mendapatkan kembali kesadarannya.

“Shireo. Barang yang sudah ada ditanganku akan menjadi milikku,” sahut Kyuhyun angkuh seraya berjalan meninggalkan Hyeon, membuat gadis itu mendecak kesal.

~~~****~~~

Kyuhyun hanya menatap tak berminat pada gadis yanbg duduk di sebelahnya yang telah berulang-ulang mengucapkan kata-kata yang sama.

“Aish,  kenapa mereka harus makan malam di tempat ini? kenapa tidak di tempat lain? kenapa? kenapa? memangnya restaurant yang ada di Seoul hanya ini saja? bagaimana ini? Aduh!” Hyeon meracau tak karuan saat tahu bahwa Lee Joon mengajak Heera makan malam di suatu restaurant elit dan hanya dapat diakses jika telah mereservasi tempat beberapa bulan sebelumnya. Kenapa Lee Joon dapat memasuki restaurant itu? Itu karena dia kenal dengan pemilik restaurant itu.

“Tidak bisakah kau diam hah? Telingaku panas mendengar ucapanmu yang terus diulang-ulang. Lebih baik kita menunggu di sini,” tegur Kyuhyun sambil menyalakan CD yang telah dia pilih di dashboard mobilnya.

Hyeon hanya terdiam mendengar ucapan Kyuhyun, dia terlalu lelah untuk membalas ucapan pria itu. Gadis itu memposisikan tubuhnya senyaman mungkin, matanya tetap tertuju pada pintu masuk yang berada tepat di seberang tempat mobil Kyuhyun terparkir.

Kyuhyun mengeluarkan istrinya, PSP yang selalu ia bawa kemana-mana dan mulai memainkannya karena bosan.

Setelah lima belas menit asik dengan keautisannya, Kyuhyun menoleh saat merasa ada sesuatu yang ganjil. Tidak ada suara sepatu yang dihentak-hentakkan oleh Hyeon atau suara omelan panjang Hyeon tentang restaurant pilihan oppanya, dan saat dia menoleh… dia mendapati Hyeon yang tertidur dengan kepala yang terkulai ke depan. Membuat rambutnya menjuntai menutupi wajahnya.

Seulas senyum tersungging di wajah Kyuhyun. Pria itu langsung menangkup wajah Hyeon dengan kedua tangannya, menyibak rambut Hyeon yang menjuntai ke belakang telinga. Kyuhyun mencondongkan tubuhnya, masih tersenyum mengamati wajah Hyeon yang tertidur.

***

Hyeon menggeliat pelan. Kelopak matanya terbuka secara perlahan dan langsung membelalak sempurna saat mendapati wajah Kyuhyun yang sedikit menunduk tepat di hadapannya. Hyeon langsung bangkit dan sialnya dia membentur kening Kyuhyun karena ternyata Hyeon tertidur di pangkuan Kyuhyun!!!

“Aish jinjja, kau sudah bangun Hyeon-ah?” tanya Kyuhyun sambil menatap Hyeon yang masih terkejut.

“K-kau… kenapa kita ada di kursi belakang?” tanya Hyeon yang kini sudah duduk di samping Kyuhyun. Gadis itu sibuk bertanya-tanya dalam hati karena sebenarnya tidak masalah jika dia tertidur di jok depan.

“Apa aku perlu mengatakan alasannya? Bukankah kau akan merasa lebih nyaman tidur di jok belakang. Kajja, aku akan mengantar mu pulang,” ujar Kyuhyun sambil turun dari mobil lalu membuka pintu kemudi.

“Heera dan Lee Joon oppa? Apakah mereka sudah pulang?” tanya Hyeon sambil memiringkan kepalanya.

“Sudahlah lupakan saja mereka. Aku tau kau lelah, kita pulang dan kau harus istirahat,” ujar Kyuhyun dan entah kenapa mampu membuat Hyeon tak berkutik. Gadis itu hanya merasa jika ucapan Kyuhyun terasa tegas dan mampu membuatnya patuh.

***

Senyum manis seakan enggan untuk tidak menghiasi wajah Heera. Gadis itu memasuki kampusnya dengan langkah riang, sesekali tersipu sendiri atas hal-hal yang berkelebatan dalam pikirannya. Tak menyadari jika Changmin berdiri tak jauh darinya, pria itu hanya tertegun saat melihat Heera yang kini selalu tersenyum riang.

Changmin berbalik menuju gedung fakultasnya dengan langkah gontai. Entahlah, dia sendiri belum terlalu paham apa yang terjadi pada dirinya. Tapi yang pasti dia merasa kehilangan sosok Heera, dia merasa jauh dengan gadis itu, dan dia baru menyadari bahwa dia telah menyukai gadis itu.

***

“Ya, Panda!! Bukankah sekarang kau ada kuliah pagi? Kenapa masih ada di sini?” tanya Lee Joon saat melihat adiknya masih bersantai di depan TV sambil sesekali membolak-balik majalah yang sedang dia baca.

“Hmm? Kau kata siapa oppa? Sok tahu sekali,” sahut Hyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang dia baca.

“Aldreda tidak bisa menemani ku pagi ini, dia bilang dia ada kelas. Dan itu artinya, kau juga ada kelas,”

“Oh jadi sekarang Heera harus memberitahumu jadwal kegiatannya, oppa?” tanya Hyeon dengan tatapan menyindir.

“Cepat mandi sana!!” suruh Lee Joon sambil melemparkan bantal sofa pada wajah Hyeon.

“Oppaa!!!” teriak Hyeon membahana, sibuk mencari keberadaan Lee Joon yang kini telah menghilang.

‘Membalas perlakuan oppa, baru pergi ke kampus,’ ucap Hyeon dalam hati dan ia mulai beranjak mengkitari rumahnya, mencari keberadaan Lee Joon.

~~~****~~~

Kyuhyun hanya menaikkan sebelah alisnya saat menyadari bahwa selama kuliah berlangsung Changmin yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak menyimak. Sahabatnya itu hanya menyumpal telinganya dengan headset dan tangannya sibuk mencorat-coret kertas. Kyuhyun semakin merasa aneh saat menyadari bahwa Chnagmin hanya duduk tak bergeming saat jam kuliah telah usai dan anak-anak lain telah berhamburan ke luar kelas. Padahal biasanya pria itu yang paling bersemangat keluar kelas dan menyeretnya ke kantin.

Kyuhyun memutar posisi duduknya menghadap Changmin dan menendang kursi yang diduduki Changmin seraya berkata, “Ya, Changmin-ah kau tidak ingin ke kantin hah?”

“Ya!!! apakah aku sedang berbicara dengan patung?!!” teriak Kyuhyun membahana saat tak mendapat respon dari Changmin.

“Aish. Diamlah, kau bisa membuatku tuli!!” sungut Changmin merasa terusik.

“Nah, akhirnya kau menjawabku. Ke kantin atau tidak?” tanya Kyuhyun to the point.

“Aku malas,” jawab Changmin dan sontak membuat Kyuhyun terkejut. Changmin tidak pernah sekalipun menolak makan. Kyuhyun menghentikan ucapan yang akan dia katakan saat pandangannya melihat Hyeon yang  berjalan memasuki kelas mereka.

“Annyeong,” sapa Hyeon seraya tersenyum manis pada Changmin dan langsung mencibir saat melihat Kyuhyun.

“Ada apa kau ke sini hah?” tanya Kyuhyun kasar.

“Oppa, kau kenapa? Apakah kau sakit? Ini aku bawakan makan siang,” bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, Hyeon malah mengangsurkan kotak bekal yang dia bawa pada Changmin.

“Gomawo Hyeon-ah, tapi aku tidak lapar,” Hyeon dan Kyuhyun langsung termangu tak percaya saat mendengar ucapan Changmin. Seorang Shim Changmin menolak makanan? MENOLAK MAKANAN GRATIS?!! Nampaknya Great Wall telah menemukan saingan keajaiban dunia baru, Shikshin tidak lapar.

“Kalau begitu ini buatku saja Changmin-ah,” ujar Kyuhyun sambil mengambil kotak bekal yang berada di atas meja Changmin dan hanya mendapat anggukan singkat dari Changmin.

“Ya!!! itu untuk Changmin oppa, cepat kembalikan!!” pekik Hyeon seraya berusaha merebut kotak bekal itu dari tangan Kyuhyun tapi yang ada malah Kyuhyun menarik rambutnya yang dikuncir seraya berkata, “Kau harus menemaniku. ada urusan penting. Changmin-ah, aku pergi dulu.”

“Neo jinjja micheosso?!! Itu untuk Changmin oppa dan kau sahabatnya malah meninggalkannya. Kau lihat? Dia begitu pucat,” cecar Hyeon saat mereka berdua berada di luar kelas.

“Bisa-bisanya kau membawakan  makan siang dan  memberikannya pada Changmin. Kalau dia sampai keracunan bagaimana hah? Dan lagi apa-apaan itu memanggilnya oppa? Aku saja tidak pernah kau panggil oppa!” balas Kyuhyun tanpa ada kaitannya dengan ucapan Hyeon sebelumnya.

“Cih, bilang saja kau tidak rela kau memberikan bekal makan siang pada Changmin OPPA. Jangan bertele-tele. Kalau cemburu bilang saja Mr. Devil,” cibir Hyeon dengan menatap sebal pada Kyuhyun.

“Kau terlalu percaya diri nona,”

“Mwo?!! Baiklah, buang saja kalau begitu,” Hyeon merebut kotak bekal itu dengan paksa dan berniat membuangnya tapi niatnya itu terhenti saat tangan Kyuhyun kembali merebut kotak bekal itu.

“Kau lupa perkataan ku? barang yang sudah ada di tanganku akan menjadi milikku. Jadi kau tak mempunyai hak atas bekal makanan ini,” ujar Kyuhyun sambil menatap tajam Hyeon lalu memasukkan kotak bekal itu ke dalam tasnya.

“Kajja, kau harus ikut denganku.”

“Andwae. Aku ada urusan penting. Aku harus menemui Heera dan memaksa anak itu agar menemui Changmin oppa,” tolak Hyeon mentah-mentah.

“Kau harus ikut atau aku akan menelpon kedua orang tuamu?” ancam Kyuhyun dan membuat Hyeon menggeram kesal. Hyeon tak berani berurusan lagi dengan orang tuanya, insiden tempo hari telah membuatnya mendapat ceramah panjang lebar dari kedua orang tuanya.

Akhirnya Hyeon mengikuti langkah Kyuhyun dengan gontai. Berharap dalam hati semoga urusan ini cepat selesai karena dia sudah tak sabar ingin menarik bahkan kalau perlu menyeret Heera untuk menemui Changmin.

***

“Heh, cepat turun!” ujar Kyuhyun sambil menjitak kepala Hyeon, membuat gadis itu memberengut kesal.

“Bisakah dengan cara baik-baik Mr Devil?”

“Sudah berkali-kali aku menegur mu tapi kau malah melamun. Cepat turun, calon Miss Devil!” Tentu saja sejak tadi Hyeon tak menyahut karena gadis itu terlalu sibuk dengan rencana-rencana yang bersiliweran di pikirannya.

Brak!!

Hyeon membanting pintu mobil Kyuhyun dengan keras, membuat pemilik mobil yang berjalan beberapa langkah di depannya menoleh.

“Kau merusak mobilku, mati kau!” tegur Kyuhyun seraya menatap Hyeon tajam, tapi gadis itu malah melenggang dengan ringan seakan-akan  tidak ada yang terjadi.

***

Hyeon membungkukan tubuhnya, memandangi etalase toko dengan serius. Dirinya sibuk mencari perhiasan yang bagus. Ya, dia diajak Kyuhyun memasuki sebuah toko perhiasan dan Kyuhyun menyuruhnya untuk memilihkan perhiasan yang bagus. “Untuk hadiah pernikahan,” begitu katanya.

“Ah ini dia Kyuhyun-ah,” panggil Hyeon saat matanya melihat cincin yang menarik perhatiannya.

Kyuhyun berjalan mendekat, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hyeon untuk melihat cincin yang kini ada di genggaman tangan gadis itu. Sebuah cincin berbentuk bunga kecil dan bertahtakan batu safir. Simple tapi tetap terkesan anggun.

“Cepat sesuaikan dengan jarimu,” perintah Kyuhyun dan membuat Hyeon menoleh.

“Lho, kenapa harus disesuaikan dengan jariku? kau bilang ini untuk hadiah, jariku besar lho untuk ukuran yeoja, pasti akan terlalu besar untuk yeoja lain,” tanya Hyeon dengan alis bertaut dan masih memainkan cincin itu di tangannya tapi tetap menuruti perintah Kyuhyun dan cincin itu ternyata sangat pas dengan jemari tangan Hyeon.

“Sudahlah. Agasshi, aku membeli cincin ini,” ujar Kyuhyun pada pelayan toko perhiasan tersebut.

“Ayolah, kau bodoh atau pura-pura bodoh? atau aku yang terlalu cerdas?” seloroh Kyuhyun saat melihat raut heran Hyeon.

“Kau tahu alasanku kenapa aku menyuruhmu memilih cincin yang bagus? Karena dengan begitu kau akan memilih cincin yang sesuai dengan seleramu. Dan cincin itu memang untukmu,” penuturan Kyuhyun membuat Hyeon termangu selama beberapa saat untuk memproses ucapan pria itu.

“Mwo? Hadiah pernikahan? Memangnya siapa yang mau menikah denganmu hah? Aku saja baru mengetahui kau adalah tunanganku beberapa hari yang lalu!!” protes Hyeon dengan mata terbelalak karena terkejut.

“Memangnya aku bilang akan menikahimu secepatnya hah? Ini hanya untuk mengikat mu, itu saja, sebagai tanda kalau kau milikku,” Hyeon kembali terdiam mendengar perkataan Kyuhyun. Wajahnya merona dan tanpa bisa dicegah rasa bahagia menelusup ke dalam hatinya.

“Kau suka cincin ini?” tanya Kyuhyun seraya menyematkan cincin itu di jari manis Hyeon. Seulas senyum terukir di wajah Kyuhyun saat mendapati Hyeon tersenyum simpul dan matanya berbinar memandangi cincin itu.

“Terima kasih Kyu,” Hyeon berkata dengan tulus dan seulas senyum manis tersungging di wajahnya, membuat jantung Kyuhyun berdegup lebih ekstra.

“Tapi kita harus segera kembali. Aku harus bertemu dengan Heera, kajja!” sambung Hyeon seraya berjalan mendahului Kyuhyun keluar dari toko, membuat Kyuhyun hanya menggeram kesal. Hyeon merusak suasana yang dengan susah payah dibangunnya.

“Kau, apakah benar-benar memasak untuk Changmin?” selidik Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ada di hadapannya saat mereka sudah kembali ke mobil.

“Mwo? Tentu saja tidak. Itu dari Joon oppa, dia menitipkannya padaku agar diberikan pada Heera. tidak ada Heera bisa diwakilkan dengan Changmin oppa kan?” celoteh Hyeon tanpa rasa bersalah dan itu membuat sebuah senyum samar kelegaan diam-diam tersungging di wajah Kyuhyun.

~~~****~~~

Hyeon menyusuri lorong demi lorong dengan langkah tergesa. Mengitari rak-rak buku yang terdapat di perpustakaan berharap akan menemukan sosok Heera namun nihil, gadis itu tidak ada di manapun. Dengan enggan Hyeon kembali ke kelas, berharap akan bertemu dengan Heera saat jam kuliah berikutnya.

Sejak tadi Hyeon tak memperhatikan dosen yang ada di depan kelas. Dia tak henti-henti mengetuk-ngetukkan sepatunya dan sesekali menoleh ke arah pintu masuk kelas, berharap akan melihat kedatangan Heera namun lagi-lagi nihil. Gadis itu tidak datang hingga jam kuliah usai, hal yang tidak pernah dilakukan seorang Kim Heera.

Hyeon berlari dengan sekuat tenaga saat melihat sosok Heera yang tengah berjalan ke arah gerbang kampus.

“Ra-ya… hosh.. hosh…” ujar Hyeon sambil memegangi bahu Heera, membuat gadis itu hanya menatap sahabatnya bingung.

“Kau kenapa Hyeon-ah?”

“Kau harus ikut denganku. Temui Changmin oppa,” ajak Hyeon sambil menarik tangan Heera agar berjalan menuju fakultas seni.

“Mwo? Andwae. Aku sudah ada janji dengan Joon oppa, lagi pula-”

“Pokoknya kau harus menemui Changmin oppa!!” ujar Hyeon memotong ucapan Heera.

“Untuk apa? Lagi pula ak-”

“Sudahlah, yang pasti kau harus menemuinya,” lagi-lagi Hyeon membotong ucapan Heera.

“Aku sudah bilang aku tidak mau!! Aku akan pergi dengan Joon oppa!!” bentak Heera sambil menghempaskan tangannya kasar dan membuat Hyeon terdiam, baru kali ini Heera bersikap seperti itu padanya dan ini semua karena Lee Joon? Kakaknya?

Hyeon hanya terdiam memandangi punggung Heera yang menjauh. Dia menghela nafas panjang, berbalik dan berjalan menuju fakultas seni.

~~~****~~~

Hyeon menyusuri lorong demi lorong, berjalan menuju ruang musik karena saat dia datang ke kelas Kyuhyun, kelas itu kosong. Seulas senyum terukir saat samar-samar Hyeon mendengar denting piano yang mengalun indah, alunan yang yang sudah lama tidak ia dengar. Semakin lama alunan piano itu semakin jelas terdengar, membuat Hyeon mempercepat langkahnya dan tersenyum saat berdiri di sebuah pintu.

Dengan perlahan dia membuka pintu itu, melongokkan kepalanya dan melihat Kyuhyun yang sedang memainkan grand piano yang ada di ruangan itu, Kyuhyun tersenyum manis saat melihat kedatangannya. Hyeon perlahan mendekat ke arah Kyuhyun, duduk di kursi piano yang sama dengan Kyuhyun. Menatap Changmin yang ternyata ada di ruangan itu, berdiri di dekat jendela. Hyeon memperhatikan pria itu. Changmin masih terlihat pucat tapi entah karena apa, Hyeon merasa bahwa keadaan Changmin lebih baik dari sebelumnya.

Hyeon menoleh ke arah Kyuhyun, mempersempit jarak di antara mereka agar bisikan yang akan dia ucapkan pada Kyuhyun tidak akan terdengar oleh Changmin.

“Aku sudah mengajaknya. Tapi dia menolak, penolakan keras yang baru pertama kali kulihat darinya,” bisik Hyeon sendu, wajahnya menunduk dan jari-jarinya memencet tuts piano asal-asalan membuat suara permainan piano Kyuhyun terganggu.

“Jangan khawatir. Kau sudah melakukan yang terbaik, tinggal mereka yang akan menyelesaikannya,” Jawab Kyuhyun dengan lembut, membuat Hyeon mendongak dan mendapati senyum menawan di wajah pria itu. Membuat tangannya mencengkeram pinggiran piano, takut terjatuh karena dia merasa seolah-olah lupa cara untuk bernafas dengan benar.

~~~****~~~

Terdiam. Itu lah yang dipilih Hyeon saat melihat sosok Heera datang ke rumahnya untuk mengantar kepergian Lee Joon. Hyeon tidak tahu kata-kata apa yang harus ia ucapkan pada Heera, lagi pula Heera terlihat sibuk membantu Lee Joon mengemasi barangnya. Jadi Hyeon memilih untuk berdiam diri melihat kesibukan yang terjadi di hadapannya.

***

“Sampai jumpa Al,” pamit Lee Joon saat mereka sudah tiba di bandara.

“Hmm, senang bertemu denganmu oppa. Terima kasih atas 2 hari terakhir ini,” jawab Heera sambil tersenyum tipis walaupun matanya ssudah berkaca-kaca.

“Baik-baiklah di sini,” ujar Lee Joon sambil memeluk Heera.

“Dan kau panda. Pola hidupmu harus diatur yang benar, aku heran kenapa kau selalu mendapatkan nilai sempurna padahal kau paling malas belajar. Kau memang cocok dengan Kyu. Kalian ini sama saja. Jaga diri, okay? Setidaknya sampai kau resmi menjadi nyonya Cho,” papar Lee Joon dan hanya mendapatkan tinjuan ringan dari adik perempuan satu-satunya itu.

“Aku bukan anak kecil lagi oppa! Cepat pergi sana,” usir Hyeon bercanda pada kakak laki-lakinya.

“Baiklah. Jaga diri, jangan membuat Appa dan Eomma berpotensi mendapatkan serangan jantung mendadak seperti kemarin, okey?” perintah Lee Joon sambil mendekap adiknya hangat, membuat Hyeon hanya mengangguk singkat dalam pelukan kakaknya.

“Nah, nona-nona manis. Kenapa kalian berdua berkaca-kaca seperti itu? Kita akan bertemu lagi nanti sampai jumpa. Aku akan mengabari kalian berdua kalau aku pulang lagi,” ujar Lee Joon saat melihat mata Heera dan Hyeon berkaca-kaca. Mendekap mereka satu persatu sebelum berbalik dan melangkah pergi menghilang di balik kerumunan.

“Kajja kita pulang Ra-ya,” ajak Hyeon dan hanya diangguki oleh Heera. Gadis itu berbalik dan bersiap untuk melangkah tapi yang ada dia malah menabrak tubuh seseorang yang berdiri dibelakangnya.

“Jeosonghamnida, saya tidak sengaja.” Heera meminta maaf dan mendongak. Matanya langsung membelalak saat mendapati Changmin yang sedang menatapnya intens.

“Oppa? Sedang apa oppa di sini?” Hyeon menyerukan pertanyaan yang terpikir oleh Heera.

“Aku baru saja mengantar eommaku yang akan pergi ke Paris,” jawab Changmin tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang mata hitam yang kini menatapnya.

“Oppa. Apa keadaanmu membaik?” tanya Heera sambil memperhatikan wajah Changmin dengan seksama, masih sedikit pucat.

“Aku sudah lebih baik. Aku duluan Ra-ya, Hyeon-ah… annyeong,” pamit Changmin langsung berbalik pergi meninggalkan mereka.

“Heera, kau harus menginap di rumahku malam ini, mau kan?” ajak Hyeon pada sahabatnya itu, berharap sikap Heera tidak berubah atas ketegangan yang sempat terjadi di gerbang kampus waktu itu.

“Tentu saja,” jawab Heera sambil tersenyum, membuat Hyeon ikut tersenyum.

~~~****~~~

Mereka berdua berbaring di tempat tidur king size milik Hyeon. Memandangi atap yang terbuka yang kini berganti dengan atap kaca tembus pandang yang memperlihatkan taburan bintang di langit malam, ditambah dengan suasana kamar yang gelap gulita.

Hyeon bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan Heera? Biasanya mereka seperti ini –memandangi bintang dari atap kaca tembus pandang- jika salah satu diantara mereka atau bahkan dua-duanya sedang mempunyai hal yang mengganggu pikiran.

“Heera,” Hyeon memanggil sahabatnya itu.

“Hmm?” sahut Heera singkat.

“Apa ada hal yang mengganggu pikiran mu?”

“Tidak. Aku hanya ingin menikmati kesunyian apa itu perlu alasan Hyeon-ah? Dan… ah ya, cincin yang melingkar di jari manis mu dari Kyuhyun sunbae, hm?” kini Heera malah menggoda Hyeon. Dalam hati Hyeon bersyukur karena keadaan di kamar ini gelap gulita, jika tidak… Heera pasti akan tertawa terbahak-bahak saat melihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

“Aku turut berbahagia untukmu. Kurasa Kyuhyun sunbae memang orang yang tepat,” ujar Heera dan Hyeon yakin jika sahabatnya itu sedang tersenyum tulus. Dalam hati dia meminta maaf pada Heera, karena dia telah berusaha dan memikirkan cara agar Heera tidak dekat dengan Lee Joon, kakaknya.

“Heera, kenapa saat di bandara kau menanyakan keadaan Changmin oppa? Dari pertanyaanmu aku mendapat kesan kau mengetahui keadaannya sebelumnya?” tanya Hyeon penasaran.

“Kau penasaran? Kau ingin aku bercerita?”

“Tentu saja Kim Heera sayang~” ucap Hyeon gemas karena pertanyaan Heera. Itu kan sudah jelas.

Flashback

Heera melangkahkan kakinya menuju tempat favoritnya di kampus ini, tempat yang bahkan belum pernah ia ceritakan pada Hyeon.

Heera melewati lorong demi lorong, menapaki tangga demi tangga, dia mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Namun senyumnya langsung merekah saat dia telah berpijak pada anak tangga terakhir dan hembusan angin menerpa wajahnya lembut saat dia mendorong pintu itu terbuka.

Alis Heera bertaut heran saat dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. Heran karena setahu dirinya atap gedung ini jarang ada yang mengunjungi. Tapi, punggung itu terasa familiar bagi Heera. apakah orang itu adalah …, ah entahlah.

Heera menghampiri orang itu secara perlahan, memperhatikannya dengan seksama dan ternyata benar. Orang itu adalah dia.

“Oppa,” panggil Heera namun orang itu tetap  tidak menoleh.

“Changmin oppa,” panggilnya lagi seraya mengguncang pelan tubuh pria itu, membuat pria itu menoleh dan terkejut.

“Ra-ya? sedang apa kau berada di sini?” tanya Changmin heran karena ini adalah atap gedung fakultas seni. Sangat mengherankan jika anak fakultas ekonomi mengunjungi atap fakultas seni karena jarang kedua fakultas ini memang cukup menghabiskan energi.

“Ini tempat favorit ku sejak masuk kuliah,” jawab Heera sambil tersenyum. Senyum yang sudah jarang Changmin lihat.

“Benarkah? Aku juga menyukai tempat ini, tapi kita tidak pernah bertemu.” Kening Changmin mengkerut samar, berusaha mengingat saat-saat dia mengunjungi atap ini dan apakah dia pernah melihat sosok Heera di sini. Dan jawabannya nihil, dia tidak pernah bertemu dengan gadis itu di sini.

“ Mungkin kita tidak berjodoh,” ucap Heera sambil tersenyum kecil, tangannya mencengkram pagar pembatas, matanya terpejam merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya hingga dia tidak melihat perubahan ekspresi Changmin.

“Tidak berjodoh? Benarkah? Tapi kurasa itu salah, karena saat ini kita bertemu di sini.” Ucapan Changmin sontak membuat Heera membuka matanya, menoleh pada Changmin dan menyelami manik mata itu lalu tersenyum manis.

“Tapi oppa, apa kau sakit? Kau terlihat begitu pucat,” tanya Heera sambil memiringkan wajahnya, menatap Changmin intens.

“Aku baik-baik saja,” jawab Changmin sambil berusaha tersenyum walaupun dalam hati ia ingin berkata, ‘Aku tidak baik-baik saja.’

Tangan Heera terulur menyentuh tangan Changmin. Dingin. Sangat dingin.

“Jangan berbohong pada ku. kau sedang sakit tapi kenapa kau berada di sini? Di sini dingin oppa, anginnya kencang. Lihat, tubuh mu dingin. Ayo pergi dari sini,” ajak Heera smabil menarik tangan Changmin. Tapi tenaganya tak mampu untuk membuat pria itu bergerak sedikit pun.

“Kemana pun asal tidak di sini,” ujar Heera sambil menatap tegas.

***

“Apakah kau sudah makan oppa?” tanya Heera sambil duduk di bangku yang ada di balik grand piano yang ada diruangan itu, menatap Changmin yang berdiri di dekat jendela.

“Aku tidak lapar,” jawab Changmin tanpa memandang Heera. tatapannya tertuju pada pepohonan yang ada di luar sana. Changmin menoleh saat suara pintu menutup, Heera pergi.

Changmin tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Heera, gadis itu kembali dengan membawa bungkusan.

“Aku tidak lapar. Itu berarti kau belum makan, oppa. Kau harus makan, ini,” ujar Heera sambil berjalan menghampiri Changmin, menyodorkan semangkuk bubur ke arah pria itu.

“Aku tidak lapar,” Changmin mengulang ucapannya, membuat Heera berdecak kesal.

Gadis itu memegang mangkuk bubur itu dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya meraih tangan Changmin lalu menaruh mangkuk itu digenggaman Changmin. Changmin hanya menatap heran Heera yang kini berjalan menjauh, menarik bangku yang ada di dekat piano dan kembali ke arahnya, menempatkan kursi itu dihadapannya.

Heera kembali merebut mangkuk bubur itu dan berkata, “Duduk di bangku itu, oppa.” Changmin hanya menuruti permintaan gadisnya, gadisnya? Cukup terlihat keren bukan? Lalu Heera duduk dibingkai jendela yang terbuka, membuat posisi lebih tinggi dari Changmin.

“Hahaha aku lebih tinggi dari mu, oppa” ucap Heera sambil tertawa senang dan itu tanpa sadar membuat Changmin ikut tersenyum.

“Dan sekarang… buka mulut mu, oppa” Heera berkata sambil menyodorkan sesendok bubur tapi Changmin hanya melengos.

“Kau seperti anak kecil. Dan kau tahu? Aku paling malas menjaga orang sakit yang tingkahnya sperti itu,” kini malah Heera yang menjadi cemberut.

Changmin menoleh, menatap wajah Heera yang sedang cemberut lalu membuka mulutnya seraya berkata “aaa”

“Apa? Kenapa kau seperti itu, oppa?” tanya Heera sambil menatap polos –berpura-pura tidak paham- pada Changmin, membuat pria itu berdecak kesal dan mengatupkan mulutnya kembali, membuat Heera terbahak-bahak dibuatnya.

“Ayo kajja, makanlah. Kau harus makan, oppa. Sangat aneh jika seorang Shim Changmin menghindari makanan,” celoteh Heera sambil menyuapi Changmin. Baru 2 suap tapi Changmin hendak memuntahkannya lagi, persis seperti anak kecil.

“Telan. Aku tahu kau hanya pura-pura ingin muntah,” tegur Heera sambil membekap mulut Changmin, memaksa pria itu agar menelan bubur yang ada di dalam mulutnya.

Kini bubur itu sudah tanda tak bersisa. Mereka hanya terdiam. Heera menikmati semilir angin melalui jendela yang terbuka sedangkan Changmin sibuk memandangi wajah yang sudah lama tidak ia lihat.

Heera mengangkat pergelangan tangan kirinya, melihat jam tangan putih yang melingkar di sana. Wajahnya terlihat terkejut dan dengan terburu-buru melompat turun hingga tubuhnya llimbung dan malah jatuh menimpa Changmin, refleks Changmin melingkarkan tangannya di bahu Heera. Mereka terdiam dengan posisi yang seperti itu cukup lama hinggga Heera bersuara, “Aku harus pergi.”

“Kau akan kemana?” tanya cHangmin tanpa melepaskan pelukannya.

“Aku ada janji dengan Joon oppa. Kurasa dia sudah menunggu ku.” Changmin langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar perkataan Heera.

“Sampai jumpa, oppa. Kau jangan sampai telat makan. Arraso?” ucap Heera sebelum meninggalkan Changmin.

“Ne. Terima kasih,” jawab Changmin dengan tatapan datar. Membuat Heera mengerutkan kening samar tapi pada akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Changmin sendirian di ruang musik.

Flashback End

“Jadi kau menolak ajakan ku karena kau telah bertemu dengan Changmin sunbae?” tanya Hyeon untuk memastikan.

“Iya. Dan kau, makanya jangan memotong ucapan seseorang dengan seenaknya,” sindir Heera.

“Hehehe mianhae..kau kan tau kalau aku memang kadang-kadang meledak-ledak dan sembarangan,”

“Kadang?” tanya Heera sambil menaikkan alisnya.

“Arraseo, sering. Keundae, Heera, sebenarnya kau dan Lee Joon oppa?” tanya Hyeon dengan menggantung.

“Tidak ada apa-apa antara aku dan oppa mu. Aku hanya menganggapnya oppa ku, dan kau tahu bahwa aku sudah lama tak bertemu dengannya,” papar Heera.

“Jadi… kau masih menyukai Changmin oppa?”

“Memangnya aku pernah berkata pada mu bahwa aku menyukainya?” Heera balik bertanya.

“Tidak. Tapi aku sudah lama mengenal mu, jadi terkadang aku paham akan sesuatu hal padahal kau belum menyadarinya,”

“Jadi?” tanya Heera meminta analisis sahabatnya itu.

“Jadi ya, kau menyukai Changmin sunbae.”

“Entahlah. Aku mengantuk, selamat malam Hyeon-ah.”

“Ya, ya!! bangun Kim Heera!!! kau belum menjawab pertanyaanku!!” pekik Hyeon sambil mengguncang-guncangkan tubuh Heera sampai akhirnya ia capek dan memejamkan matanya. Tanpa Hyeon ketahui, Heera tersenyum.

~~~****~~~

Hyeon melangkah dengan riang memasuki gerbang kampus. Senyumnya merekah saat melihat sosok itu, Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah!!!” panggil Hyeon membuat Kyuhyun berbalik dan menunggunya, dia berlari menghampiri Kyuhyun. Tubuh Kyuhyun serasa membatu saat tiba-tiba Hyeon memeluknya erat.

“Heera masih menyukai Changmin!!!” pekiknya girang.

“Ah, benarkah? Syukurlah,” hanya itu yang dapat Kyuhyun ucapkan. Syaraf-syaraf otaknya seolah tak berfungsi dengan baik.

Tubuh Hyeon menegang saat menyadari tindakannya sendiri yang memeluk Kyuhyun secara tiba-tiba. Dia melepaskan pelukannya dengan canggung.

“Err…aku mau ke kantin,” ujar Hyeon langsung berbalik memunggungi Kyuhyun untuk menutupi kegugupannya. Kyuhyun hanya tersenyum sambil mengikuti Hyeon ke kantin.

~~~****~~~

Heera  duduk di pagar pembatas, duduk membelakangi pintu masuk. Memandangi pepohonan yang ada di area kampusnya. Tersenyum memandang langit biru yang membentang luas tanpa awan, tersenyum saat hembusan angin menerpa wajahnya.

Heera  terperanjat saat sepasang tangan kekar melingkar di perutnya, dia menoleh dan wajahnya tampak semakin memerah karena malu.

“Op-oppa, apa… apa yang kau lakukan?” tanya Heera dengan canggung.

“Duduk di pagar pembatas sangat berbahaya, kau tahu itu? Apalagi kau duduk membelakangi pintu masuk, apa yang akan terjadi jika ada orang yang tanpa sengaja mendorongmu? Kau akan terjatuh, dan aku tak mau itu terjadi. Jadi berterima kasihlah karena aku dengan berbaik hati memeluk mu dari belakang agar tidak jatuh,” papar Changmin panjang lebar sambil menunjukkan senyuman miliknya.

“M-mmwo? Seenaknya saja memeluk orang,” gerutu Heera sambil berusaha melepaskan tautan tangan Changmin yang melingkari perutnya, tapi usahanya tidak berhasil.

“Lepaskan,” ujar Heera sambil berbalik. Menatap garang wajah pria itu dengan wajah masih memerah.

“Aku tidak mau,” sahut Changmin dan tersenyum manis. Membuat Heera meronta dan hampir terjatuh jika saja Changmin tidak segera mendekap tubuhnya.

Heera menyembunyikan wajahnya di bahu Changmin, nafasnya masih memburu karena terkejut akan dirinya yang hampir terjatuh. Sedangkan Changmin makin mempererat dekapannya saat dia merasakan tubuh Heera yang gemetaran.

Dengan perlahan Changmin mengangkat tubuh Heera tanpa melepas pelukannya. Membuat Heera berpijak. “Sudah, tidak apa-apa. Ada aku,” ujar Changmin sambil mengelus rambut Heera, mengecup puncak kepala gadis itu. Perlahan-lahan tubuh Heera sudah tak gemetaran, nafasnya sudah teratur dan dia melepaskan pelukannya dari Changmin. Changmin hanya terdiam saat Heera melepaskan pelukan mereka walaupun ada seberkas kekecewaan yang menulusup ke hatinya.

“Jangan pernah duduk di pagar pembatas seperti itu lagi, kecuali jika ada aku di sampingmu. Arraso?” tanya Changmin sambil membungkukkan tubuhnya, menyatarakan tingginya dengan Heera yang kini hanya menunduk. Heera hanya mengangguk sebagai jawaban.

Mata Heera terbelalak saat tiba-tiba dia melihat seuntai kalung berbandul sayap dihadapannya. Dia mendongak secara perlahan, menatap manik mata Changmin intens.

Heera hanya terdiam saat Changmin memasangkan kalung itu dilehernya. Secara perlahan tangan Heera terulur, menyentuh bandul kalung itu, bandul sayap namun hanya ada sebelah. Heera semakin terkejut saat melihat Changmin mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya, sebuah kalung yang berbandul sayap seperti miliknya. Changmin memiliki bandul sayap kanan dan Heera berbandul sayap kiri.

“Aku tahu ini tidak romantis. Tapi, aku menyukai mu Ra-ya, ah ani… aku mencintai mu. Aku memberikan liontin sayap ini karena kau suka memandang langit, awan, bintang, dan bulan. Sama sepertiku, aku suka berada di atas atap. Menikmati terpaan angin, memandangi suasana di bawah sana. Jadi anggaplah, aku ingin memiliki sepasang sayap dengan mu… untuk menikmati langit dan pemandangan di bawah sana. Jadi, dengan ini kau resmi menjadi kekasihku.” papar Changmin panjang lebar dan sontak membuat Heera terkejut.

“Mwo? Aku belum memutuskan apa pun,” protes Heera tak terima.

“Tidak perlu karena aku sudah mendapatkan informasi dari sumber yang terpercaya, pasangan devil,” ujar Changmin sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.

Heera sibuk merutuki Hyeon di dalam hati hingga tak menyadari jika kini di jari manisnya telah tersemat cincin berbentuk buah cherry lengkap dengan daunnya. Gadis itu terdiam. Lagi-lagi Changmin memberikan kejutan yang membuatnya tak mampu berkata-kata.

“Oppa…” lirih Heera sambil menatap Changmin, seolah meminta penjelasan dari pria itu.

“Kau menyukainya? Aku  tahu karena kau tergila-gila pada buah itu. Dan itu, sebagai tanda jika kau kini telah bersamaku. Aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau kau milikku,” ucap Changmin sambil tersenyum.

“Oppa, kau membuat ku malu.” Heera menutupi wajahnya yang mulai memerah. Changmin hanya tersenyum melihat tingkah Heera, pria itu tersenyum lalu memeluk tubuh gadisnya. Memutar-mutar tubuh Heera hingga membuat gadis itu melingkarkan tangannya di leher Changmin, membenamkan wajahnya pada bahu pria itu.

~~~****~~~

“Kyaaaa!!! Romatisnyaa,” ujar Hyeon yang kini sedang mengintip Heera dan Changmin dari balik pintu dengan heboh.

“Kau ini. biarkan mereka, kenapa kau tidak mengurusi hubungan kita, hm?” tanya Kyuhyun berbisik di telinga Hyeon, membuat gadis itu sedikit menjengit.

“Diamlah, pergi saja jika kau tidak mau mengintip mereka. Dan lagi, memangnya kenapa dengan hubungan kita?” usir Hyeon sambil mendorong tubuh Kyuhyun menjauh, walaupun sebenarnya dadanya masih berdebar tak karuan akan tingkah Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan menuruni tangga. Setelah menuruni beberapa anak tangga Kyuhyun berbalik dan mendongak, memperhatikan Hyeon yang sibuk melarikan diri dari tempat persembunyiannya karena Heera dan Changmin tampaknya sebentar lagi akan turun.

Tubuh Hyeon limbung karena tidak berpijak dengan tepat. Hyeon jatuh menimpa Kyuhyun, membuat mereka sama-sama terjatuh dalam posisi duduk dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibir Kyuhyuh!! Hyeon langsung berniat bangkit namun tangan Kyuhyun menahan tengkuknya. Hyeon terlarut, akhirnya dia memejamkan mata dan mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun. Menikmati sensasi kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.

~~~****~~~

Tubuh Heera dan Changmin mematung di puncak tangga. Mereka melihat sejak Hyeon terjatuh dan berakhir dengan kissing scene.

“Oppa, mereka…” ujar Heera menggantung sambil telunjuknya mengarah pada Kyuhyun dan Hyeon. Changmin langsung menarik tangan Heera, mendekap gadis itu dalam pelukannya, menutupi Kyuhyun dan Hyeon dari pandangan Heera dengan tubuh jangkungnya.

“Kau jangan melihatnya Ra-ya,” ujar Changmin sambil melonggrakan pelukannya.

Changmin menatap intens pada Heera dan wajahnya semakin menunduk, mendaratkan ciuman di bibir pink cherry Heera. Ciuman lembut dan membuat Heera merasakan sensasi kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.

Changmin melepaskan ciumannya. Tersenyum saat melihat wajah Heera yang memerah malu.

“Kau masih malu, eoh?” tanya Changmin sambil mendaratkan kecupan di bibir Heera lagi, lalu kembali mendekap Heera dengan tangan besarnya yang menangkup di kedua telinga Heera.

“Ya!!! Cho Kyuhyun!!! Lee Ang Hyeon!!! Sampai kapan kalian mau melakukannya hah?!!” teriak Changmin membahana, membuat Kyuhyun dan Hyeon langsung melepaskan pagutan mereka. Hyeon langsung bangkit dan berpura-pura sibuk menunduk memeriksa tasnya. Ia belum sanggup untuk menatap wajah seseorang sedangkan Kyuhyun menatap Changmin geram.

“Shim Changmin, kau mengganggu!!!” teriak Kyuhyun.

Hyeon dan Kyuhyun terbelalak saat Changmin menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Heera.

“Ya! Shim Changmin!!!!” Kyuhyun berteriak dengan nada yang lebih tinggi sedangkan Changmin hanya  memeletkan lidahnya, mengejek.

“Kalian tahu perasaan kami kan? Makanya, jangan berciuman di sembarangan tempat,” ujar Changmin cuek, mengabaikan Hyeon dan Kyuhyun yang mulai salah tingkah.

~END~

Halloo… halloooo… autumnsnowers in here^^

Horeee tamat!!!! Akhirnya setelah penantian sekian lama dan semedi beberapa bulan, tamat juga >< tapi kenapa ini akhirnya jadi yadong begini? -_____-“  mianhae roomtes ;___;

To :: Rachel eonni

Mianhae aku malah ngerusak FF ini ;_____; jadi yadong begini /ditabok maaf klo ancur bgt ni FF :[

Rachel : Kok udahan aja ya? Sedih *hiks nangis di pelukan Kyuhyun* seperti yang udah aku bilang tadi…aku ada tambahin dikit-dikit…mianhae lama…kerjaan aku menumpuk banget…

Yah Changmin dibuat galau lagi nih ama si eka…kekeke

mana si eka pake acara centil2 ama oppaku…

hehehe sister complex

19 thoughts on “Blind Date Last Part”

  1. aku first kah?first nih??terharu :’)
    pertama tama kaget liat ff ini dilanjutin
    langsung di baca!!!!
    daebak thor!!!2kisah dalam satu ff😉
    ditunggu ff lainnya yaaa

  2. Huaaaa….setelah nunggu ampe lumutan akhirnya dipost juga thor….
    Tapi kok udahan aja sih thor….?nggak rela nih kalo udah tamat….

  3. kisah’nya manis banget chingu..
    kira’n heera ada something sama lee joon.. ternyata cuma hubungan kakak ade..

    paling suka pas bagian kyu ngasih cincin ke hyeon.. trus pas heera’a nyuapin changmin jga.. ^_^

  4. Annyeong..
    Waaah ahirnya tamat juga ff nya..
    Happy endingggg~
    Waaah bener2 couple Ɣªήğ soooswwwiiit dếh kyuhyun-hyeon changmin-heera.
    Gomawo chingu udh di slsaikan ff nya..

  5. whooaaaa..
    Ekaaaa
    Rachel eonni chukkae udah slsai FF ini,

    ada afstor KyuRa ga?
    Ssudah nikah gitu,
    hubungan yg unik yg t’cipta d antra mrka bikin crta ini lbih bgus..

    Ekaaa congrats ya typo’x cma sdikit, biasa’x bnyak *ngeledek*
    😄
    *kabur ditarik Kyu*

  6. hahahhahhaha…
    ada2 aja…sejak kapan saingan great wall jadi changmin ga mau makan??!!!
    >,<
    kekekkeke…kedua manusia itu lama2 ketularan si eunhyuk…yadong mulu!!!
    akhernya tamat juga…
    semangatt chingu^^

  7. aadgfhg!#”!##&?
    aaaaaaaaaa
    gue mau gue mau ama kyu
    #plak
    #ditabok

    aya! Kyu oppa.ma hyeon ciuman gak kira2 tmpat
    huahahaha
    ajiaaaah menikmati ya kyu oppa
    huahahahah#evillaugh

    wuzzzz changmin oppa
    kekekeke

  8. Endingnya bikin senyum2 gaje…
    duch ga rela ff ini dh tamat.
    puas bgt baca part ini dan aku jg puas bgt sm endingnya.
    yiihaaa akhirnya mereka bahagia semua
    salut buat kedua author yg dh bs bikin ff yg keren ini,tema dan alur ceritanya unik. kocak bgt liat kyu en hyeon yg klo ketemu pasti bertengkar. tapi intinya aku suka bgt sm ff ini…terua berkarya ya thor
    d tunggu karya selanjutnya hwaiting

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s