Pride & Prejudice (Part 2)

Title : Pride & Prejudice (Part 2)

Author : haebaraqui

Cast : Kim Jong Woon (Yesung)

                      Lee Myun Hee (OC)

                      Kim Jong Jin

Rating : PG-13

Genre : romance

Ps: Sumpah ini ff pertama author, nungguin publishnya aja bikin deg-degan, pas liat ada yang komen langsung jejingkrakan… oahahaha *norak banget yak!*. Thank you so much buat yang komen, thank you juga buat yang baca even without komen… ohohoho… again, I’m expecting your comment… *bowing*

 

Myun Hee’s room, Achasan

06.20 KST

Author POV

Pagi ini Myun Hee terbangun bukan karena alarm seperti biasanya tapi karena nada dering handphonenya. Hanya ada deretan nomor yang tertera di layar,

“Yoboseyo.” Dengan enggan Myun Hee menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.

“Suara mu saat bangun tidur seksi juga.” Yeoja itu langsung mengernyitkan dahinya saat mendengar suara dari seberang.

“Yak, siapa ini!” Teriaknya.

“Ini aku, sajangnim mu.”

“Jong Jin oppa?”

“Keh, aku Jong Woon, Kim Jong Woon nona Myun Hee.” Seketika itu juga Myun Hee sadar bahwa hari ini akan menjadi hari yang buruk.

“Ada apa sajangnim? Kenapa kau menelpon ku pagi-pagi begini?” Myun Hee menjawab dengan nada sinis.

“Hari ini kau sedang libur kan? Jadi ku putuskan kencan pertama kita adalah hari ini. Sekarang juga mandi dan berdandanlah yang cantik. Nanti akan aku sms tempat kencan kita.” Myun Hee sudah berniat mengajukan protes tapi mengurungkan niatnya karena sesuai perjanjian Jong Woon yang berhak menentukan kapan dan dimana mereka akan kencan.

“Nee.” Setelah mendengar jawaban Myun Hee, Jong Woon pun memutuskan sambungan telpon.

Arrrrrrrggggggggggh!!!!!! Myun Hee menutup kepalanya dengan bantal dan berteriak untuk menghilangkan rasa kesal dan frustasinya! Tuhan, dosa besar apa yang pernah aku lakukan di masa lalu sehingga mendapatkan kutukan berbentuk Kim Jong Woon?! Batinnya. Yeoja itu berniat untuk tidur lagi sebentar sekedar untuk menenangkan diri sebelum menghadapi bencana, tapi belum sampai semenit dia memejamkan mata sebuah pesan singkat masuk

Jangan tidur lagi nona Myun Hee. Cepat sana mandi

Myun Hee mengepalkan tangannya dihadapan ponselnya. Benar-benar namja gila! Rutuknya sambil berjalan dengan malas menuju kamar mandi.

 

Jong Woon POV

Aku menatap layar ponsel ku sambil tersenyum. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspressi yeoja itu setelah menerima telpon dan juga sms dari ku. Sebenarnya aku sendiri masih belum tau mau pergi ke mana hari ini. Rencana kencan ini muncul mendadak saat aku menatap inbox email ku yang penuh dengan semua laporan perusahaan kami diberbagai wilayah di Korea yang harus aku periksa. Aku benar-benar sedang merasa bosan dengan pekerjaan ku. Dua minggu terakhir aku harus ke Busan dan juga Jeju untuk mengurusi bisnis di sana, belum lagi rencana pembukaan sebuah store baru yang diinginkan appa dan sekarang aku harus memeriksa laporan rutin dari berbagai bisnis yang dimiliki keluarga kami. Rasanya aku perlu istirahat sejenak, dan menghabiskan waktu dengan Myun Hee sepertinya akan menyenangkan. Yeoja itu benar-benar menarik perhatian ku sejak kami pertama kali bertemu karena cara berpikirnya yang benar-benar bertolak belakang dengan ku. Ditambah lagi keberaniannya untuk mengatakan apa yang dianggapnya benar. Selama ini, mungkin karena posisi ku sebagai CEO hampir tidak ada yang berani mengatakan kalau aku adalah orang yang arogan atau memberikan kritik. Tapi yeoja ini berani mengatakan komentar jelek tentang ku dan meskipun sedang kesal atau marah dia masih berusaha untuk menjaga cara bicaranya. Aku benar-benar penasaran bagaimana rasanya berkencan dengannya.

Aku mulai menelusuri halaman-halaman internet untuk mencari inspirasi tempat apa yang menyenangkan untuk didatangi saat berkencan. Pilihan ku akhirnya jatuh pada Myeongdong. Ada banyak toko ditempat ini, kami bisa mampir di beberapa toko dan makan jajanan yang di jual di sana. Ini juga bisa jadi cara yang tepat untuk mengetahui berbagai hal tentang yeoja itu. Aku kembali mengirimkan sms pada Myun Hee dan menyuruhnya untuk datang ke Myeongdong. Aku bisa saja menjemputnya sebenarnya tapi kali ini aku ingin membuatnya repot.

 

Myun Hee POV

Keh, namja ini benar-benar menyebalkan. Setidaknya dia bisa menjemput ku kan? Kenapa malah menyuruh ku datang sendiri! Sebelum pergi aku berkaca sebentar untuk sekedar memastikan penampilan ku kali ini tidak terlalu jelek. Aku ingin meminimalisir kesempatannya untuk memberikan komentar jelek. Setelah merasa puas dengan penampilan ku, aku membuka pintu depan sambil memasang sepatu.

“Aku baru saja akan memencet bel” Seorang namja yang ternyata telah berdiri di depan pintu rumah ku tersenyum saat melihat ku membuka pintu.

“Oppa!!!!” Aku berteriak kegirangan lalu memeluk Heon Gon oppa. Aku punya dua kakak laki-laki, yang pertama adalah Heon Gon oppa dan yang kedua adalah Woo Hyun oppa.

“Wah, ada urusan apa oppa ke Seoul?”

“Kau mau berangkat kerja? Aku dengar dari eomma kau sekarang sudah bekerja.” Oppa malah balik bertanya.

“Ani, hari ini aku libur tapi ada janji dengan teman ku.” Oppa pura-pura memasang tampang kecewa.

“Dongsaeng macam apa kau ini, oppa mu ini sudah jauh-jauh datang dari Amerika untuk bertemu dengan mu tapi kau malah mau pergi dengan teman mu.”

“Mianhe oppa aku sudah terlanjur berjanji. Begini saja, bagaimana kalau kita jalan-jalan nanti malam? Otthe?” Oppa terdiam dan memasang tampang berpikir

“Sudahlah oppa, tidak usah sok berpikir seperti itu, aku tau oppa pasti setuju.” Dia terkekeh lalu mengangguk.

“Baiklah, sekarang oppa ku yang baik dan tampan, antar kan aku ke Myeongdong ya! Aku janji bertemu dengan teman ku di sana.” Aku lalu menarik tangan oppa dan memaksanya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan pagar rumah.

 

Author POV

Jong Woon berjalan diantara kompleks pertokoan di Myeongdong. Sekarang sudah hampir pukul 11 siang dan semua toko sudah memulai bisnisnya. Namja itu berjalan menuju sebuah toko yang terlihat masih tutup. Dia tersenyum memandang toko yang merupakan tempat bisnis keluarganya yang baru. Keluarga Kim memutuskan untuk membuka bisnis baru yaitu eyewear. Terus terang ini adalah bisnis yang baru bagi mereka karena sebelumnya mereka hanya memusatkan perhatian pada bisnis tempat makan dan juga department store.

Aku menunggu di depan subway Jongnosam-ga

Myun Hee mengirimkan pesan singkat pada Jong Woon. Setelah menerima pesan itu, Jong Woon pun melangkah menuju subway yang memang tidak jauh dari tempatnya sekarang.

“Mana teman mu?”  Heon Gon melihat ke sekeliling mereka.

“Aku sudah mengirim pesan padanya. Pasti sebentar lagi datang. Oppa pulang saja.” Myun Hee mendorong Heon Gon masuk ke mobil. Yeoja itu tidak ingin oppanya melihat atau bahkan sampai bertemu dengan Jong Woon, karena pasti akan jadi berita besar di keluarga mereka nantinya. Selama ini Myun Hee memang tidak pernah dekat dengan namja manapun dan karena itu jika ada salah satu dari keluarganya mengetahui tentang Jong Woon bisa-bisa namja itu langsung disuruh bertemu dengan eomma, appa juga oppadeul.

“Apa kau tidak apa-apa ditinggal sendiri? Biar aku temani dulu.” Oppanya menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Eish, oppa aku sudah 24 tahun! Lagipula ini masih siang tidak akan terjadi apa-apa. Oppa benar-benar belerbihan.” Myun Hee memberengut.

“Arrasso… arrasso…. Jangan lupa janji kita malam ini ya!  Pokoknya tonight you’re mine!” Heon Gon mengacak-acak rambut Myun Hee seperti yang biasa ia lakukan jika sedang merasa gemas dengan adik perempuannya itu. Myun Hee menggembungkan pipinya dan membuat oppanya tertawa terbahak-bahak.

 

Jong Woon POV

Aku melihat sosok yeoja yang tadi mengirim pesan pada ku. Dia berdiri disamping sebuah mobil. Dari kejauhan aku bisa melihat dia sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam mobil tersebut. Aku tidak bisa melihat siapa orang itu, aku hanya bisa melihat tangannya yang terjulur saat mengacak-acak rambut Myun Hee. Saat mobil tersebut mulai berjalan aku menghentikan langkah ku dan saat mobil tersebut melintas pelan di hadapan ku, aku bisa melihat seorang namja dari jendela mobil yang masih terbuka. Siapa namja itu? Sepertinya dia berhasil membuat Myun Hee senang karena aku bisa melihat senyum yang tersungging dari wajah yeoja itu bahkan setelah dia melihat ku. Seingat ku yeoja itu hanya sekali tersenyum pada ku, yaitu saat kami bertemu pertama kali. Setelah itu dia akan langsung terlihat kesal setiap bertemu dengan ku. Tapi sekarang yeoja itu bukan hanya tersenyum pada ku, dia bahkan melambaikan tangannya ke arah ku. Seperti biasa, dia terlihat casual meskipun jelas-jelas ini adalah kencan pertamanya dengan ku. Dia hanya menggunakan T-shirt merah yang dipadukannya dengan cardigan hitam dan juga celana jeans.

“Annyonghaseyo.” Sapanya ramah. Senyum manis masih terlihat di wajahnya. Tanpa sadar aku juga tersenyum saat membalas sapaanya

“Annyong. Mood mu sepertinya sedang bagus hari ini.”

“Nee. Kajja! Pergi kemana kita hari ini?” Dia berjalan mendahului ku.

“Kau keberatan jika kita berkeliling Meyongdong saja? Kau bisa mampir ke toko manapun yang kau mau.”

“Tapi jangan pernah meminta ku untuk membelikan apapun!” Aku menambahkan.

“Nee. Algetsemnida sajangnim.” Jawabnya. Kamipun berjalan menyusuri deretan toko-toko. Myun Hee tidak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memutuskan toko mana yang akan mereka masuki.

“Itu saja!” Dia menunjuk sebuah toko buku kemudian berjalan mendahului ku memasuki toko tersebut.

“Komik lagi?” Aku bertanya dengan nada sinis. Dia hanya menoleh dengan death glare sejenak ke arah ku tapi tidak berkomentar apa-apa. Aku mengikutinya berjalan menyusuri rak-rak buku. Ku pikir dia akan berhenti di rak komik tapi ternyata dia hanya berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Aku mengikutinya hingga ke sebuah rak yang berisi berbagai buku mengenai kopi. Yeoja itu terlihat asik memilih-milih buku, sesekali dia membaca review atau ringkasan yang ada di balik buku. Dia benar-benar terlihat serius memilih. Akhirnya pilihannya jatuh pada dua buah buku yang keduanya berbahasa Inggris. Satu buku yang sepertinya tentang jenis-jenis biji kopi dan satunya lagi sepertinya tentang sejarah kopi atau sejenisnya.

“Kau yakin memilih buku yang berbahasa Inggris?” Aku menyangsikan kemampuan bahas Inggrisnya.

“Memangnya untuk apa aku membeli jika tidak bisa membacanya?” Sahutnya singkat lalu berlalu dari hadapan ku. Kali ini dia berpindah ke deretan novel-novel, dan lagi-lagi novel berbahasa Inggris. Berbeda dengan saat memilih buku tentang kopi tadi, kali ini dia tidak memerlukan waktu lama untuk memilih. Dia langsung mengambil satu buku dari deretan novel karya Agatha Cristie.

“Ada yang ingin kau beli?” Dia menatap ke arah ku.

“Hmmmm…… tunggu sebentar.” Aku sebenarnya tidak tau mau membeli apa jadi aku hanya berputar-putar di bagian bisnis dan manajemen. Tapi saat melihat judul-judul buka yang ada aku merasa sepertinya aku tidak memerlukan apa-apa karena aku sudah cukup sukses, kalau tidak dibilang sangat sukses, dengan usaha-usaha ku.

“Aku tidak tau mau membeli apa. Kau mau merekomendasikan sesuatu?”

“Kau suka novel?” Dia bertanya.

“Eung, kadang-kadang aku suka membaca novel.”

“Kau suka novel dengan genre romantic?”

“Mungkin.” Dia kemudian berjalan mendatangi seorang karyawan toko dan bertanya sesuatu. Kali ini aku tidak mengiringinya. Dia berjalan mengiringi karyawan toko tersebut dan tidak berapa lama kemudian dia kembali berjalan ke arah ku dan mengangsurkan sebuah buku pada ku. Aku menerimanya dan melihat judulnya

“Pride and Prejudice Jane Austin?” Aku mengernyitkan dahi.

“Rasanya novel ini cocok untuk mu Sajangnim.” Dia tersenyum.

“Sini, biar aku yang bayar. Anggap saja ini hadiah dari ku.” Dia mengambil buku yang tengah aku pegang kemudian berjalan menuju kasir dan membayar.

“Apa kau sedang menyogok ku agar aku mengurangi perjanjian kencan kita jadi dua minggu?” Sindir ku saat kami kembali menyusuri jalanan Myeongdong. Dia menggeleng.

“Aniyo. Kau pasti akan mengomeli ku jika kau harus membayar sendiri dan ternyata buku ini tidak bagus menurut mu. Jadi lebih baik aku yang membelikan mu, so you don’t have any reason to complain.”

 

Myun Hee POV

Meski awalnya merasa kesal, tapi aku merasa kencan hari ini tidak jelek juga. Setidaknya namja yang berjalan di samping ku ini belum mengeluarkan komentar jelek hingga sekarang.

“Sekarang kau yang memutuskan mau masuk store mana.” Ucap ku.

“Ke sana saja.” Dia menunjuk sebuah music store. Aku mengikutinya menelusuri jejeran rak yang memajang berbagai CD. Namja itu berhenti di depan rak yang memajang CD penyanyi luar negeri. Dia terlihat sedang menimbang-nimbang untuk membeli CD David Cook atau Black Eyed Peas dan akhirnya memutuskan untuk membeli David Cook.

Aku melangkah menuju rak yang memajang CD penyanyi Korea. Ada satu album yang ingin aku beli. Karena tidak bisa menemukan apa yang dicari, aku pun mendatangi salah satu karyawan yang berdiri tidak jauh dari ku,

“Ah, Nona Myun Hee!” Karyawan yang aku datangi terlihat terkejut saat melihat ku.

“Kang Woo? Wah, sudah lama tidak bertemu. Kau ternyata bekerja di sini sekarang.”

“Wah, eomma memang bilang kalau nona sudah kembali ke Korea. Tapi aku pikir nona akan tinggal di Busan. Apa nona ke sini untuk liburan?”

“Aku bekerja di Seoul untuk sementara ini. Ngomong-ngomong apa kau bisa mencarikan sebuah CD untuk ku? Aku sudah mencarinya sendiri tapi tidak ketemu.”

“CD apa?”

“Alex, judul albumnya My Vintage Romance.” Kang Woo berjalan mendahului ku menuju kasir dan meminta temannya untuk mencarikan album yang aku inginkan.

“Nona, album itu sudah cukup lama ternyata. Tidak ada di rak tapi kemungkinan masih ada satu atau dua disimpan digudang kami. Kami rencananya akan mengadakan sale utuk album-album yang sudah lama, jadi untuk sementara mereka dikumpulkan di gudang.” Jelasnya pada ku.

“Ada masalah?” Jong Woon ternyata sudah berada di samping ku.

“Tidak apa-apa.” Sahut ku. Kang Woo menatap Jong Woon dengan penuh selidik.

“Bisa kau carikan untuk ku?” Pinta ku pada Kang Woo. Aku benar-benar menginginkan album itu.

“Aku bisa mencarikannya, tapi sepertinya agak lama. Mau ku antarkan ke rumah nona nanti?” Tawar Kang Woo.

“Yak! Apa maumu sebenarnya? Kenapa sampai mau datang ke rumah pembeli segala? Mana manager mu, aku ingin mengadukanmu.” Jong Woon terlihat protes. Aku bisa melihat ekspresi kaget Kang Woo dan juga temannya.

“Dia Kang Woo, teman ku, jadi wajar kalau dia mau mengantarkan ke rumah ku! Tidak perlu berlebihan seperti itu.” Aku berusaha menjelaskan kenapa Kang Woo sampai mau mengantarkan ke rumah.

“Nanti malam saja aku ambil ke sini.” Kali ini aku berbicara pada Kang Woo.

“Aku pergi dulu. Gomawo.” Ucap ku lagi sambil menyeret Jong Woon menjauhi Kang Woo yang masih terlihat heran bercampur kaget dengan kehadiran Jong Woon yang tiba-tiba.

Aku merasakan tatapan penasaran Jong Woon saat kami berjalan keluar. Aku berusaha mengacuhkannya karena dia juga tidak bertanya apa-apa tentang Kang Woo. Saat berjalan, perhatian ku tertuju pada sebuah restaurant Jepang.

“Jong Woon-ssi, bagaimana kalau kita makan dulu? Aku kelaparan.” Aku berhenti tepat di depan restaurant kemudian memasang tampang memelas pada Jong Woon yang mengikuti ku.

“Oke.” Sahutnya lalu berjalan mendahului ku memasuki tempat makan tersebut. Suasana restaurant benar-benar terlihat sangat nyaman. Saat melewati pintu kami langsung disuguhi pemandangan kolam kecil dengan pohon bambu di tengah-tengahnya. Jong Woon berjalan lebih dulu menuju meja yang terletak tidak jauh dari kolam tersebut.

“Kau kenal karyawan di toko music tadi?” Akhirnya dia bertanya juga.

“Dia teman ku.”

“Tapi dia tidak terlihat seumuran dengan mu.”

“Memangnya teman harus yang seumuran saja?”

“Memangnya CD apa yang kau cari?”

“Alex. Kau tau? Dia penyanyi Jazz. Kemarin aku membeli albumnya yang baru, Just Like Me dan aku baru tau kalau sebelumnya dia juga mengelkuarkan album My Vintage Romance. Tapi Kang Woo bilang albumnya ada di gudang jadi makan waktu cukup lama untuk mencari.”

Kami tidak perlu waktu cukup lama untuk menunggu pesanan datang. Dan dalam sekejap tidak ada satupun dari kami yang berbicara karena sibuk dengan makanan masing-masing. Aku benar-benar kelaparan karena pagi tadi memang tidak sarapan. Saat tengah makan, aku merasakan handphone ku bergetar. Ternyata pesan dari Heon Gon oppa

Sudah makan siang? Aku benar-benar sedang bosan di rumah sendirian

Aku sedang makan sushi! ^^ Bukannya eomma dan appa akan ke seoul hari ini?

Huh…….. bosaaaannnn……. Eomma dan appa baru ke Seoul besok pagi. Appa harus menyelesaikan sesuatu dulu di Busan.

Aku tersenyum simpul membaca pesan dari Heon Gon oppa. Dia pasti merasa sangat bosan sekarang karena tidak ada siapapun di rumah dan tidak ada yang bisa di ajak jalan-jalan.

“Kau kenapa senyum-senyum sendiri?” Suara Jong Woon mengagetkan ku.

“Ani.” Sahut ku singkat kemudian kembali pada sushi ku.

“Apa kau sangat suka menjadi seorang barista?” Tiba-tiba saja pertanyaan serius keluar dari mulut namja di hadapan ku ini.

“Aku tidak tau sejak kapan menyukai kopi, yang aku tau aroma kopi bisa menenangkan ku dan menikmati kopi bisa membuat ku merasa senang. Sejak itu aku mulai membaca tentang kopi dan akhirnya mengetahui mengenai profesi barista. Aku juga mulai belajar menjadi barista dan semakin jatuh cinta pada kopi. Lama kelamaan menyediakan kopi untuk orang lain dan melihat senyum puas mereka membuat ku merasa senang.” Dia menatap ku intens. Sadar dengan tatapannya aku tidak tahu harus berbuat apa kecuali menunduk.

“Aku tidak menyangka yeoja kekanakan seperti mu bisa juga mengatakan sesuatu yang serius seperti tadi.”

“Yak! Apanya yang kekanakan!” Cish, dia mulai lagi dengan komentar negatifnya.

“Kau lupa kalau kau suka komik nona Myun Hee!? Kalau bukan kekanakan apa lagi namanya? Choding yeoja!”

“Aku sudah bilang kan…”

“Arra… arra….. komik bukan hanya untuk anak-anak.” Dia memotong ucapan ku.

“Tapi bagi ku kau tetap kekanakan.” Tambahnya lagi. Huh! Aku menggembungkan pipi ku kesal dan memberikan death glare padanya. Dia hanya tertawa terbaha-bahak.

Setelah selesai makan siang kami hanya berjalan tanpa tujuan menyusuri Myeongdong. Sesekali kami memasuki beberapa store kemudian keluar lagi tanpa membeli apapun. Terkadang namja ini memberikan komentar-komentar negatifnya saat aku melakukan hal-hal yang menurutnya aneh atau kekanakan tapi sepertinya aku sudah mulai terbiasa sehingga aku hanya mengacuhkannya.

 

Jong Woon POV

Ternyata menghabiskan waktu dengan Myun Hee memang cukup menyenangkan. Dia senang sekali melakukan hal-hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh ku dan agak kekanakan. Seperti saat kami memasuki sebuah toko aksesoris dan dia dengan cueknya mencoba berbagai macam wig dan kacamata yang aneh-aneh. Dia bahkan memaksa ku memakai salah satu wig warna-warni yang menurut ku benar-benar norak kemudian mengambil gambar ku dengan seenaknya. Dan kami dengan suksesnya diberi peringatan oleh karyawan toko tersebut karena sebenarnya tidak boleh mengambil gambar barang-barang di toko tersebut. Atau ketika dia menyeret ku memasuki sebuah game center dan bermain game dancing padahal kemampuan dancenya nol besar alias sangat parah. Aku melihat jam tangan ku, ternyata sudah hampir pukul lima.

“Aku antarkan kau pulang.” Ucap ku pada Myun Hee yang terlihat sedang menikmati ddeokbokki sambil melihat beberapa gantungan kunci.

“Tidak usah. Aku bisa pulang dengan subway.” Sahutnya.

“Tapi aku ingin mengantarkan mu pulang.” Dia ini, kenapa sih senang sekali membantah ku. Apa susahnya menuruti permintaan oke ralat perintah ku sekali-sekali? Toh aku tidak memintanya untuk melakukan hal yang aneh-aneh.

“Aku sudah bilang kan sajangnim, tidak ada pemaksaan keinginan!” Kali ini dia menatap ku tegas. Aku menghela nafas.

“Arrasso. Ku temani kau sampai subway.”

“Okay.” Setidaknya dia masih mau aku antar sampai subway. Kami pun berjalan menuju tempat aku menemuinya siang tadi.

“Ternyata kencan dengan yeoja dari kelas menengah memang menarik.” Ucap ku saat kami menelusuri kembali jalan yang tadi sudah kami lewati. Aku melihatnya memutar bola matanya sambil menyahut,

“Here you go again with your stereotype-mind set! Apa kencan dengan yeoja dari kalangan mu sebegitu menyebalkannya?”

“Cish, benar-benar menyebalkan! Mereka selalu membawa ku dari satu mall ke mall lain hanya untuk mencoba berbagai macam baju.”

“Memangnya kau ingin kencan yang seperti apa tuan muda? Makan malam romantic? Atau ke theme park?”

“Yang seperti ini cukup menyenangkan. Tapi theme park juga terdengar menyenangkan.” Aku mengacak-acak rambutnya gemas.

“Yak!!!” Dia balas mengacak-acak rambut ku.

Dengan kesal aku merapikan rambut ku yang dibuat berantakan, “kau lupa kalau aku masih berstatus atasan mu? Aku bisa memecat mu nona Myune Hee.” Yeoja itu terlihat menggelembungkan pipinya tanda ia sedang kesal.

Langkah Myun Hee terhenti saat nada dering terdengar dari handphone yang ada di tasnya. Dengan sigap yeoja itu mengambil ponsel putihnya dan menerima panggilan sambil mengisyaratkan pada ku untuk berhenti sejenak. Aku hanya mengangguk. Dia berjalan agak sedikit menjauh saat menerima telpon tapi sayup-sayup aku bisa mendengar ucapannya.

“Nee, oppa…. Aku baru akan pulang…. Tidak, aku naik subway saja… Hmmm…. Kau mau ke sini? Great. Tapi aku tidak mau berkeliling Myeongdong lagi….. Han gang? Nice. Arrasso…… aku tunggu di depan subway tadi.”

Aku membalikkan badan ku membelakanginya sebelum dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Kajja!” Myun Hee berjalan mendahului ku. Entah kenapa aku merasa penasaran siapa yang menelponnya tadi.

“Sampai di sini saja. Gomapsemnida!” Tanpa sadar ternyata kami sudah sampai di depan subway.

“Ah, nee. Hati-hati di jalan.” Sahut ku sebelum berbalik dan berjalan menuju tempat parkir mobil ku. Aku menyalakan handphone yang sejak tadi aku matikan dan ternyata ada 10 pesan masuk dan 4 voice-mail. Semuanya dari sekertaris ku dan juga Jong Jin. Sebelum aku sempat membalas pesan dari sekertaris ku, ponsel ku bordering.

“Waeyo?” Aku menjawab panggilan tersebut.

“Hyung, kau ada dimana?” Terdengar nada khawatir dari seberang sana.

“Aku di Myeongdong.”

“Myeongdong? Kenapa mematikan ponsel mu? Sekertaris mu dari tadi siang sibuk mencari mu. Aku sampai dibuat pusing karena harus menghubungi teman-teman mu.”

Aku terkekeh, “mian, membuat mu khawatir. Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang jadi sengaja mematikan ponsel.”

“Arrasso! Lain kali jika ingin bersenang-senang tidak perlu mematikan ponsel.” Selama hampir 10 menit Jong Jin mengomeli ku. Cish, apa dia lupa kalau aku lebih tua darinya? Dasar!

Aku mulai menjalankan mobil ku dan keluar dari tempat parkir setelah menghubungi sekertaris ku untuk menyuruhnya mengirimkan semua data yang perlu aku periksa ke email ku saja. Sepertinya malam ini aku harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi aku tinggalkan. Mungkin aku akan minta bantuan Jong Jin. Aku sengaja memilih jalan yang melalui subway untuk mengecek apakah Myun Hee masih di sana. Aku melajukan mobil ku pelan saat mendekati subway tersebut dan ternyata Myun Hee masih berdiri di tempat yang sama ketika aku meninggalkannya. Aku sudah berniat untuk menghentikan mobil ku tepat di depannya tapi aku urungkan karena ternyata ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya dan tidak lama kemudian dia pun masuk ke dalam mobil itu. Jika aku tidak salah, mobil itu adalah mobil yang aku lihat tadi pagi mengantarkan Myun Hee. Siapa sebenarnya Myun Hee?

 

Myun Hee POV

Heon Gon oppa melajukan mobil ke arah sungai Han. Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu berdua terlebih lagi setelah dia menikah dan memutuskan untuk menetap di  Amerika.

“And here we are!” Tidak perlu waktu lama untuk mencapai sungai Han. Oppa turun dari mobil kemudian mengambil keranjang yang berisi makanan dari bangku penumpang di belakang dan juga kain alas. Kami berjalan mendekati sungai Han yang terlihat cantik karena memantulkan matahari senja. Musim dingin sudah hampir berlalu sehingga kadang cuaca bisa menjadi cukup hangat seperti hari ini. Oppa menggelar alas di atas hamparan rumput kemudian mengeluarkan beberapa kotak makanan dari keranjang. Ada bibimbab, ddeokbokki, sandwich, dan chocolate cake. Aku tertawa melihat kombinasi makanan yang disediakan oppa.

“Ini namanya fusion menu! The signature dishes of my very restaurant!” Ucapnya seolah paham kenapa aku tertawa.

“Arrasso…..” Aku mulai melahap ddeokbokki di hadapan ku. Benar-benar suasana yang menyenangkan. Piknik di hadapan sungai Han bersama oppa, persis seperti dulu saat oppa masih kuliah dan aku masih SMP. Oppa mulai bercerita tentang kehidupannya di Amerika dan sesekali menanyakan tentang pekerjaan ku.

“Kau masih tidak punya namja chinggu?” Tanya oppa tiba-tiba. Aku menggeleng.

“Ternyata masih tidak bisa ya? I guess there is thing that time can’t heal.” Gumamnya. Aku hanya tertunduk dan diam.

“Mian, aku tidak bisa menjaga mu lagi. Woo Hyun juga harus meninggalkan Seoul untuk bekerja.” Kali ini oppa terlihat menyesal sekali. Aku berbaring berbantalkan paha oppa yang sedang diselonjorkannya.

“Nan gwenchana oppa. Tidak usah khawatir.” Ucap ku sambil menatap langsung ke arah oppa.

“Mungkin sekarang masih belum bisa tapi aku yakin suatu saat nanti pasti bisa menemukan namja yang bisa membuat ku nyaman bersamanya tanpa merasa khawatir atau ketakutan.” Oppa menatap ku dalam sambil menyingkirkan rambut yang menutupi dahi ku.

“Kau harus bahagia. Aku dan Woo Hyun tidak akan bisa tenang kalau kau belum menemukan seseorang yang bisa benar-benar melindungi mu.” Aku tersenyum lalu memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin.

“Oppa.” Panggil ku pelan.

“Hmm?”

“Ada seseorang di café yang bisa membuat ku merasa seperti sedang berada didekat oppa.”

“Nugu?” Suara oppa terdengar penasaran. Aku terkekeh.

“Gonna tell you later.”

“Yak!!!!” Oppa mengacak-acak rambut ku gemas.

***

Handel&Gretel Yeouido

Aku sedang sibuk membuatkan beberapa pesanan saat suara ribut terdengar dari beberapa pelanggan, terutama para yeoja. Aku melongok ke arah para yeoja tersebut dan mendapati sosok Kim Jong Woon yang berjalan masuk sambil sesekali tersenyum pada para pelanggan. Cish, ternyata dia penyebabnya. Ku rasa Jong Woon termasuk namja yang cukup popluler karena setiap kali dia datang ada saja pelanggan yang terlihat senang. Padahal menurutku dia tidak lebih dari namja yang arogan.

“Annyong.” Dia menyapa ku. Aku hanya mengangguk sejenak kemudian melanjutkan pekerjaan ku. Dia pergi ke arah belakang café tapi tidak lama kemudian keluar dengan apron yang sudah terpasang rapi. Dia menepuk pundak So Hee eonni dan menyuruhnya membantu Dong Shik oppa di dapur sementara kasir akan menjadi tanggung jawabnya. Setelah hampir sebulan bekerja di sini, ini pertama kalinya aku melihat Jong Woon bekerja di sini. Dia melayani pelanggan dengan ramah dan tentu saja membuat gadis-gadis itu semakin tergila-gila dengannya.

 

Jong Woon POV

Lagi-lagi aku bosan di kantor dan akhirnya memutuskan untuk mendatangi Jong Jin di Handel & Gretel. Ternyata orang yang aku cari sedang tidak ada di café. Iseng, aku akhirnya menjadi kasir khusus untuk hari ini. Ini memang bukan pertama kalinya aku menjadi kasir karena aku sudah cukup sering melakukannya. Tapi ini pertama kalinya aku bekerja dengan Myun Hee semenjak dia mulai bekerja di sini. Seperti yang dikatakan Jong Jin, dia memang sigap dalam membuatkan pesanan. Tidak salah Jong Jin mempekerjakannya. Aku mengambil gelas berisi kopi yang berada tidak jauh dari tempat ku berdiri. Tapi sebuah tangan menghentikan ku.

“Ini sudah gelas ketiga. Tidak baik meminum kopi secara berlebihan.” Ternyata Myun Hee. Yeoja itu mengambil gelas kopi ku.

“Yak, kembalikan.” Sahut ku. Dia menggeleng lalu membuang isinya. Tanpa banyak berbicara dia berkutat dengan coffee maker kemudian menyerahkan sebuah gelas. Aku memandangnya heran.

“Coklat?” Tanya ku dengan nada sinis saat melihat isinya.

“Coklat juga bagus untuk membangkitkan mood tuan muda. Aku menambahkan sedikit espresso untuk mengurangi rasa manisnya.” Aku mencoba sedikit. Ternyata rasanya cukup pas. Tidak terlalu manis seperti hot chocolate biasanya. Aku tersenyum simpul,

“gomawo. Tapi jika kau punya cukup waktu untuk memperhatikan ku seperti ini sebaiknya lebih baik kau gunakan waktu itu untuk membersihkan meja-meja yang kotor.” Yeoja dihadapan ku ini menatap ku kesal sebelum mengambil lap dan mulai membersihkan meja kosong yang baru saja ditinggalkan customer.

 

Myun Hee POV

Aku membersihkan meja dengan perasaan kesal. Apa-apaan namja itu, aku sudah susah payah membuatkan minuman khusus untuknya tapi dia malah memperlakukan ku seperti ini. Cish, lain kali ku biarkan saja dia meminum kopi sepuasnya sampai keracunan kafein.

“Apa hyung ku menyuruh mu melakukan banyak perkerjaan?” Suara khas Jong Jin terdengar dari arah belakang. Aku berbalik dan senyum ku langsung mengembang begitu berhadapan dengannya. Jong Jin menepuk puncak kepala ku pelan kemudian berjalan mendatangi Jong Woon.

“Hyung, jangan perlakukan dia dengan buruk. Bisa-bisa aku kehilangan pegawai baru ku. Selain itu dia juga barista andalan ku.” Jong Woon mengernyitkan alisnya.

“Aku tidak memperlakukannya dengan buruk. Tanya saja padanya.” Jawab Jong Woon acuh. Jong Jin berbalik melihat ku. Aku hanya memeletkan lidah ku ke arah Jong Woon kemudian kembali membersihkan meja. Jong Jin tertawa pelan melihat sikap ku. Bagaimana mungkin kedua orang ini benar-benar berasal dari keluarga yang sama? Sifat mereka benar-benar berbeda.

***

Aku melirik jam tangan ku. Sudah hampir jam 11.00 malam. Aku sudah membereskan café dan bersiap untuk pulang. Saat aku berjalan keluar café, aku melihat sebuah mobil terparkir tepat dipinggir jalan. Dari jendela yang dibuka aku bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.

“Tunggu sebentar, oppa.” Teriak ku pada Hoen Gon oppa yang sengaja menjemput ku malam ini. Setelah selesai mengunci pintu aku pun bergegas masuk ke mobil.

“Aku lapar.” Ucap ku pada Heon Gon oppa.

“Arrasso. Kau mau makan di mana?” Aku bingung memilih tempat makan yang enak yang masih buka jam segini.

“Bagaimana kalau kedai ddeokbokki yang dulu sering kita datangi? Kita bisa membeli ddeokbokki kemudian makan di pinggir Cheonggyecheon stream. Otthe?” Tawar oppa. Aku mengangguk setuju.

Aku merasakan handphone yang ku letakkan di tas bergetar. Dengan cepat aku mengambil benda putih itu dari dalam tas kemudian menekan tombol berwarna hijau.

“Yoboseyo.” Terdengar suara yang familiar.

“Ah, Jong Jin oppa. Waeyo?” Ini pertama kalinya Jong Jin menelpon ku.

“Kau sudah pulang?” Tanyanya.

“Nee. Aku di jalan pulang.”

“Kau naik subway?” Terdengar sedikit nada khawatir. Aku melirik oppa sejenak.

“Ani, kebetulan saudara ku menjemput ku malam ini.” Heon Gon oppa melirik ku saat aku menyebut-nyebut tentangnya.

“Oooh, syukurlah. Baiklah, aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat. Sebenarnya aku tidak suka jika karyawan yeoja yang harus menutup café.”

“Gwenchana. Ini bukan pertama kalinya aku pulang jam segini kan? Lagipula Dong Shik oppa sedang ada keperluan mendesak dan tidak ada karyawan namja yang bisa menggantikan.”

“Arrasso. Nite.” Aku memasukkan ponsel ku kembali ke dalam tas.

“Nugu?” Tanya Hoen Gon oppa.

“Atasan ku di café.”

“Dia menelpon mu hanya untuk memastikan kau sudah pulang?” Terdengar sedikit nada curiga.

“Nee. Biasanya karyawan laki-laki yang menutup café. Tapi hari ini Dong Shik oppa yang kena giliran menutup harus menemani eommanya yang kembali masuk rumah sakit. Jadi aku yang menggantikannya.” Oppa mengangguk.

“oppa, you won’t make a big fuss over it right? Jangan bilang oppa akan menyebut-nyebut tentang ini pada eomma, appa dan terutama pada Woo Hyun oppa.” Tambah ku. Heon Gon oppa hanya tersenyum simpul. Aku benar-benar khawatir. Keluarga ku memang menarut minat yang sangat besar, terlalu berlebihan menurut ku, tentang segala hal yang terkait dengan namja yang aku kenal. Pernah Woo Hyun oppa sengaja mendatangi ku dari Jepang hanya untuk bertemu dengan namja yang menjadi sutradara pementasan drama di kampus ku. Waktu kuliah aku mengikuti club drama dan diakhir tahun kami mengadakan drama. Aku terpilih sebagai penulis naskah. Mau tidak mau aku menghabiskan waktu cukup banyak dengan sutradara karena ada beberapa hal yang harus dibahas. Woo Hyun oppa sengaja mendatangi ku hanya untuk memastikan namja itu adalah namja yang bisa dipercaya.

“Apa dia namja yang kau sebutkan beberapa hari yang lalu?”

“Oppa, please, no more discussion about this.” Dengan setengah memaksa aku menyuruh oppa untuk berhenti membicarakan tentang ini.

 

Handel&Gretel Yeoido

10.30

Seminggu sudah berlalu semenjak kencan pertama aku dan Jong Woon di Myeongdong. Dari cerita Jong Jin sepertinya hyungnya itu termasuk orang yang super sibuk. Dia sering sekali pergi ke luar kota. Tapi dia sesekali datang ke café kalau sedang bosan bekerja. Jika Jong Woon datang, itu hanya berarti satu hal bagi ku: MASALAH! Dia senang sekali menyuruh ku melakukan banyak pekerjaan. Cish, benar-benar menyebalkan. Lusa adalah jadwal ku libur dan tidak seperti biasanya, aku justru merasa gugup dan kesal jika melihat jadwal libur ku kali ini. Karena bisa saja Jong Woon muncul di depan rumah ku pagi-pagi buta dan menyeret ku untuk kencan. Keh, sama sekali bukan liburan!

“Myun Hee-ya, neol gwenchana yo?” So Hee eonni berdiri tepat di depan ku dengan wajah khawatir.

“Eh? Nan gwenchana yo, eonni. Waeyo?”

“Kau terlihat pucat sekali. Jinja gwenchana yo?” Aku memang agak sedikit pusing sejak malam tadi, dan pada saat sarapan aku sukses memuntahkan isi perut ku. Tapi aku merasa tetap sanggup bekerja makanya hari ini tetap datang. Eonni menyentuh dahi ku.

“Kau demam! Apa kau merasa pusing?” Jong Jin oppa yang pada awalnya berdiri di depan kasir langsung mendatangi ku dan So Hee eonni saat mendengar ucapan eonni.

“Sedikit. Tapi aku benar-benar tidak apa-apa.” Aku tetap bersikeras.

“Kau pucat sekali. Pulang saja lah.” Kali ini Jong Jin ikut berbicara.

“Aniyo. Siapa yang akan menggantikan ku? ”

“Kau lupa kalau aku juga barista? Kau pulang saja. Aku memaksa.” Kali ini wajahnya terlihat tegas. Akhirnya aku menurut dan berjalan menuju ruang loker sekaligus ruang istirahat karyawan. Setelah melepas apron dan mengambil tas dari loker aku pun berpamitan pada Jong Jin.

“Mau ku panggilkan taksi?” Tawarnya. Aku menggeleng.

“Aku naik bus saja.” Tapi Jong Jin justru berjalan mendatangi ku kemudian menarik tangan ku.

“Kau ini sedang sakit, naik taksi saja. Sudahlah, sesekali dengarkan pendapat orang lain. Jangan keras kepala dan memaksakan diri begini.” Ini pertama kalinya aku mendengar nada serius Jong Jin oppa. Aku akhirnya hanya menurut saja. Tapi saat kami baru keluar dari café, Jong Woon yang baru saja keluar dari mobilnya langsung mencegat kami.

“Mau kemana kalian?” Tanyanya dengan tampang heran melihat Jong Jin oppa yang memegang tangan ku. Refleks aku menarik tangan ku dari genggaman Jong Jin.

“Dia sedang sakit jadi aku akan memanggilkan taksi untuk mengantarkannya pulang.” Jelas Jong Jin. Jong Woon melihat wajah ku intens.

“Kau yakin dia tidak pura-pura sakit?” Ucapnya sinis.

“Untuk apa aku berpura-pura sakit sajangnim!” Demi Tuhan, bisakah dia bersikap seperti ini di lain waktu saja? Saat aku tidak sedang sakit seperti ini.

“Arrasso. Biar aku yang mengantarkannya pulang.” Jong Jin oppa menatap hyung nya heran.

“Bisa gawat kalau dia justru pingsan saat di taksi. Ini desaign yang tadi kau minta. Kita diskusikan setelah aku memgantarkannya.” Jong Woon memberikan sebuah map berwarna hitam pada Jong Jin yang diterima namja itu dengan tampang bingung. Jong Woon langsung menarik tangan ku dan dengan agak memaksa, seperti biasa, menyuruh ku masuk ke mobilnya.

 

Jong Woon POV

Aku menghentikan mobil ku tepat di depan rumah Myun Hee. Aku menoleh ke arah yeoja yang ada di kursi penumpang di samping ku. Ternyata dia tertidur selama perjalan tadi dan aku tidak berniat untuk membangunkannya. Nafasnya terdengar berat dan keringat terlihat di dahinya. Aku memperhatikan tiap lekuk wajahnya dan entah kenapa aku baru menyadari kalau dia ternyata cukup cantik bahkan saat sedang sakit seperti ini. Tidak lama kemudian Myun Hee terbangun dan aku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah luar.

“Sudah sampai? Kenapa tidak membangunkan ku?” Ucapnya. Aku menoleh,

“Kau terlihat tidur nyenyak sekali.”

“Gamsahamnida. Besok aku pasti sudah baikan dan akan kembali bekerja.” Dia membuka pintu mobil kemudian berjalan keluar. Aku hanya memperhatikannya dari dalam mobil. Dia berjalan agak sempoyongan, dan benar saja, tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh saat mau menaiki tangga menuju lantai dua. Aku bergegas keluar dari mobil dan mendatanginya. Dia menatap ku yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya dengan tatapan heran.

“Kau benar-benar terlihat mengkhawatirkan.” Aku menyentuh dahinya yang ternyata benar-benar panas. Aku memegangi tangannya hingga kami sampai di depan pintu.

“Rumah mana yang masih menggunakan kunci sekarang ini? Bagaimana kalau ada maling yang membobol masuk ke rumah mu? Kau harus menggantinya dengan kunci berpassword.” Omel ku saat dia sibuk mencari kunci rumahnya di dalam tas.

“Aku sedang tidak berniat untuk bertengkar sajangnim.” Sahutnya dengan enggan. Dengan gontai dia berjalan memasuki kamarnya. Aku melihat ke sekililing rumahnya untuk mencari kotak obat. Aku menemukan benda kotak berwarna putih itu di samping kulkas, tapi ternyata kotak itu kosong.

“Kau sudah minum obat?” Aku membuka pintu kamarnya pelan dan melihat yeoja itu terbaring dengan selimut tebal.

“Aku cukup tidur saja.” Sahutnya lemah.

Aku bergegas ke luar untuk membeli obat dan beberapa bahan makanan. Setelah mendapatkan yang aku cari di supermarket yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah, aku pun kembali ke rumah Myun Hee dan membuatkan bubur untuknya. Aku membuka kamar Myun Hee perlahan sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air hangat. Aku meletakkan nampan di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur. Selama beberapa saat aku memandang dua buah foto yang juga ada di meja tersebut. Satu foto Myun Hee dengan dua orang namja di kanan dan kirinya dan satu lagi sepertinya foto Myun Hee dengan keluarganya. Entah kenapa aku merasa pernah melihat ahjussi yang ada di foto tersebut. Perhatian ku kembali beralih pada yeoja yang sedang tidur di hadapan ku.

“Myun Hee-ya, makanlah dulu lalu minum obat.” Aku menyentuh bahunya pelan. Perlahan yeoja itu membuka matanya.

“Makanlah dulu.” Ujar ku lagi sambil mengangsurkan mangkuk bubur. Dia menyingkap selimutnya dan bangun dengan perlahan untuk duduk.

“Otthe? Tidak terlalu buruk kan?” Tanya ku penasaran setelah Myun Hee menyuap sesendok bubur buatan ku. Aku agak khawatir karena aku tidak terbiasa membuatkan makanan untuk orang lain.

“Aku tidak menyangka tuan muda seperti mu ternyata bisa juga memasak.” Komentarnya.

“Yak, bukannya kau sendiri yang tadi bilang sedang tidak ingin bertengkar dengan ku? Sekarang kau malah memulainya duluan.” Dia tertawa pelan.

“Mianhe. Bubur buatan mu boleh juga. Not that bad. Gomawo sajangnim.” Dalam sekejap mangkuk yang tadi berisi bubur sudah kosong. Aku memberikan obat yang tadi ku beli padanya.

“Jinja gamsahamnida. Kalau kau sedang sibuk sebaiknya pulang saja. Aku tidak apa-apa.” Ucapnya sambil kembali berbaring.

“Kau mengusir ku?”

“Ani, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan mu. Aku hanya cukup beristirahat sebentar.”

“Tidur saja. Tidak usah mengkhawatirkan tentang ku.” Aku pun berjalan keluar. Saat sedang sibuk mencuci piring dan peralatan yangh tadi aku gunakan untuk memasak, aku mendengar suara teriakan dari kamar Myun Hee. Aku bergegas masuk dan mendapati Myun Hee yang sepertinya sedang mengigau.

“Andwe!! Jebal Andwe!!” Dia terus berteriak sementara tubuhnya bergerak tidak karuan seolah sedang melindungi diri dari sesuatu.

“Jebal andwe!!” Kali ini suaranya terdengar lebih pelan. Saat aku mendekatinya aku bisa melihat air matanya mulai mengalir.

-TBC-

Thank you for reading!! *hug kiss* ^^

22 thoughts on “Pride & Prejudice (Part 2)”

  1. ya aku yg pertama… ,
    aku ska krter yeppa dsini.. , keren

    pnsaran ap yg bkin myun hee ktkutan.. ,
    lanjut thor..
    jgn lama2 ya… ,

  2. sebener’nya myun hee itu siapa..???
    keluarga’nya juga masih misterius banget..
    myun hee serba misterius chingu..

    kenapa myun hee ngingau kaya gitu..???

    di tunggu lanjutan’a chingu…

  3. seru2 …
    Myun hee ny knp, pa yg dy mmpiin ???
    Chingu qu pnsraaann ..
    Woonppa TOP (y)
    Sneng bget lyt ny prhtian ma myun hee ^^

    Dtngg klnjtan ny ..
    Jgan lma2 .
    Oya stu kta, DAEDAK (y)

    1. gomawo… ^^ *tebar senyum bareng Jong Jin oppa*
      udah dikirim part 3 nya, masih nunggu balasan admin obi nih… he
      author nya juga ga sabar di publish

  4. whoa!
    mkien seruuu nieh crta’a,,🙂
    myun hee’a knpa thor ??
    hmmm mkien pnsaran nieh,,
    next part’a d tnggu yea thor,,🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s