In That House – 1

 

Title                 : In That House – 1

Authors            : Kapten EL and hgks11

Main cast        :

  • Yang Yoseob
  • Kim Kiera

 

Genre              : Family, Supernatural, Fantasy, Life

Rating              : General

Length             : Chaptered

A.N. :

—hgks11’s : huwaaa >.< author yang imut ini kembali lagi roomates! :3

Sekarang aku bawa ffku sama appa el! Kkkk~ semoga  kalian suka ya! Secara ffku kan abal-,- ga kayak appa el yang bagus u,u jadi.. aish, molla! I just hope you’re like it roomates!😉 don’t forget to RCl yah! 

[Attention!] Di ff ini EL hanya ikut menulis di part 1 saja, part selanjutnya hanya aku yg akan menulis :”  tapi untuk naskah dan keseluruhan cerita dari ff ini, merupakan hasil pemikiran kami berdua :”

 

-oOo-

Yang Yoseob POV

“ KAU ! KAU ANAK KURANG AJAR ! APA HANYA INI YANG BISA KAU LAKUKAN HAH ! KAU HANYA MEMPERMALUKAN ORANG TUAMU JIKA KELAKUANMU SELALU  SEPERTI INI ! APA KAU TIDAK MALU KELUAR MASUK KANTOR POLISI HANYA KARENA KELAKUANMU YANG SEPERTI ANAK JALANAN! DIMANA OTAKMU? DIMANA KAU MENARUH OTAKMU YANG YOSEOB !!” teriak appaku.

Seperti inilah kebiasaanku, selalu dimarahi appa dan umma. Okey, namaku Yang Yoseob. Seorang namja yang memiliki wajah yang berbeda 180 derajat dengan kelakuannya. Banyak yang mengatakan bahwa wajahku seperti anak SMA tapi kelakuanku bahkan seperti laki-laki hidung belang.

Maksudku laki-laki hidung belang adalah, aku selalu berkencan dengan berbeda wanita setiap harinya. Bahkan bukan hanya berkencan, terkadang juga sampai ranjang dengan keadaan polos. Berkelahi di bar hanya karena memperebutkan wanita, itu sudah biasa bagiku atau seperti yang dikatakan appa. Keluar masuk kantor polisi adalah rutinitasku. Memalukan ? Ya, aku tau itu.

Aku bisa menjadi seperti ini karena pengaruh teman-temanku. Pertama hanya ajakan, tapi semakin lama aku semakin menginginkannya atau bisa dikatakan aku mulai kecanduan. Kecanduan bercinta dengan banyak wanita.

***

            Disinilah aku berada, sebuah rumah yang besar dengan pagar yang menjulang tinggi dengan sepasang pohon besar yang mendampingi sisi rumah itu. Aku dikirim, okey lebih tepatnya diasingkan oleh appa dan umma ke rumah ini karena kelakuanku yang sedikit buruk.

Aku mulai memasuki rumah itu, tapi sebelum itu aku bertemu dengan seorang kakek tua yang ternyata akan menemaniku berada di rumah ini selama aku diasingkan.

“ Selamat datang tuan muda” sapanya.

“ Terima kasih.” Ucapku.

“ Mari saya antar ke kamar tuan muda.” Ajaknya.

Kakek tua itu menunjukkan kamar yang aku tempati. Ruangannya sangat luas dan mewah, tidak kalah dengan kamarku di Seoul. Tapi bisa dikatakan ini jauh lebih keren, tapi kenapa nuansanya terasa menyeramkan? Apa peduliku, yang terpenting aku akan bebas tanpa orang tua yang mengawasiku.

“ Tuan, selama anda disini saya minta anda tidak melakukan hal yang tidak diperkenankan terutama pada bunga mawar merah yang terletak di sudut kamar tuan.” Ucap kakek tua itu tiba.

Sebelum aku melontarkan kalimat pertanyaanku, kakek tua itu segera keluar dan menutup pintu kamarku. Aku menganggap omongan kakek tua itu hanya omong kosong belakang. Aku segera menuju ranjang dan merebahkan tubuhku diatasnya.

Ntah dorongan darimana, tiba-tiba aku menuju kesebuah lemari besar yang memang ditujukan untuk menyimpan semua pakaianku. Aku segera membuka, isinya kosong dan tunggu! Aku melihat sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu terletak disisi sudut belakang lemari.

Aku segera mengambil dan perlahan aku mulai membukanya. Terdapat sebuah liontin berwarna biru dan sebuah foto? Ya, foto seorang gadis yang aku akui memang cantik tapi dari matanya terlihat menyimpan sebuah luka yang mendalam. Kenapa aku bisa tahu ? Ya, karena aku merasakan sendiri. Diluar memang aku terlihat seorang nappeun namja tapi sebenarnya aku menyimpan luka yang dalam.

Aku segera mengembalikan liontin dan foto itu kedalam kotak kemudian aku menaruhnya di tempat semula. Aku baru ingat perkataan kakek tua itu mengenai Bunga mawar merah? Baru saja aku ingin menuju untuk mendekat ke mawar merah itu, tapi kenapa aku ingin tidur? Oke, memang tidur saat ini adalah pilihan yang tepat. Aku kembali merebahkan tubuh dan menutup mata.

Aku berada disebuah taman yang didalamnya tidak ada satupun tumbuhan yang hidup dengan sempurna. Semuanya mati, dengan daun-daun yang berserakan ditanah. Aku terus berjalan mengikuti naluriku, sampai aku melihat seorang gadis tengah menangis dengan keras disebuah pohon yang tumbuh dengan rindang. Ditangannya terdapat setangkai mawar merah yang sudah sedikit layu. Tapi Aneh, kenapa hanya satu pohon itu yang tumbuh?

            Aku tetap berdiri ditempatku dengan mata yang tetap tertuju pada gadis itu. Lalu aku melihat sepasang laki-laki dan wanita mendekat kearah gadis itu.

            “ Appa umma !” ucap gadis itu kaget.

            “ Apa kau masih anak kami sehingga kau menyebut kami appa dan umma?” tanya laki-laki itu.

            “ Appa, kenapa kau berbicara seperti itu? Aku masih anakmu, anak kamdungmu.” ucap gadis itu terisak.

            “ Tapi aku tidak memiliki anak seorang pembunuh dan berandalan sepertimu !”ucap laki-laki itu kembali.

            “ Tapi aku bukan pembunuh? Itu murni kecelakaan. Apa? berandalan? Memang kalian tidak berpikir apa yang membuatku menjadi berandalan seperti ini. Kau membeda-bedakan antara oppa dan aku dengan adik. Bukankah kalian senang jika oppa sudah mati?” tanya gadis itu.

            “ Kau sudah membuat kakak laki-lakimu mati dengan tragis. Apa namanya jika bukan pembunuh ? Apa yang kau katakan? Kami membeda-bedakan kalian? Kau memang anak kurang ajar!” sekarang perempuan berumur itu yang berbicara.

            Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi? Kedua orang itu adalah orang tua dari gadis menyedihkan itu? Tapi kenapa mereka menuduh anak mereka sebagai seorang pembunuh?

            “ Kau sudah membunuh anak kami? Tidakkah lebih baik kau ikut mati?” tanya laki-laki itu.

            “ Jika aku mati, aku akan membuatmu menyusulku dengan cepat!” ucap gadis itu.

            Gadis itu berlari dari hadapan orang tuanya dan masih dengan membawa mawar merahnya, kemudian tanpa diduga gadis itu berhenti ditengah jalan yang penuh dengan kendaraan. Dengan tangan yang direntangkan, sebuah truk besar menghantam tubuhnya. Tubuh gadis itu terpental jauh dari tempat kejadian. Aku melihat kedua orang tuanya berteriak dan menuju anak gadisnya yang mengalami kecelakaan tragis.

            Tiba-tiba aku sudah berada disebuah ruangan yang bisa aku tebak adalah kamar rumah sakit. Ya, aku melihat tubuh gadis itu terliliti banyak alat-alat medis yang aku sendiri tidak tahu apa gunanya. Mungkin saja gadis itu kini sedang sekarat karena kecelakaan itu. Mawar merah ?

            Aku melihat mawar merah itu lagi, tapi tergeletak begitu saja si atas meja. Kenapa aku selalu melihat mawar merah ? Penasaran, aku semakin mendekat ke arah gadis itu. Sayangnya, meskipun jarak antara aku dan gadis itu sudah sangat dekat. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sebelum tanganku bergerak untuk menyentuh tangan gadis itu. Tiba-tiba . . .

            Aku segera membuka mata dan terbangun dari tidurku. Keringat membanjiri seluruh tubuhku, dan rasa takut tiba-tiba menyelimutiku. Ntah kenapa, aku tiba-tiba melihat ke arah mawar merah yang terletak di sudut kamarku.

***

            Sekarang menunjukkan pukul 9 malam, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Karena biasanya di Seoul, pukul 9 malam aku sedang bersenang-senang dengan banyak yeoja dan minum soju sebanyak-banyaknya dan berakhir di ranjang. Tidakkah itu sangat hebat ?

Aku memutuskan untuk keluar kamar, dengan perlahan aku menuruni tangga dan mataku tertuju pada sebuah taman kecil yang terdapat di halaman belakang rumah. Aku menuju ke arah taman itu, terdapat dua buah ayunan dan sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Aku segera duduk di salah satu ayunan.

“ Tuan muda, apa yang sedang anda lakukan ?” tiba-tiba aku mendengar suara.

“ Ah kakek, kau rupanya. Tidak, aku hanya bosan di kamar dan aku menemukan tempat ini.” Jelasku.

“ Apakah tuan muda ingin saya membuatkan sesuatu?” tanya kakek itu lagi.

“ Jika tidak merepotkan.”

“ Kalau begitu, mohon tunggu sebentar.”

Ucapnya lalu segera pergi dari hadapanku. Aku memulai menganyunkan ayunan ini dengan perlahan. Tanpa terasa kakek tua itu sudah berada di hadapanku untuk memberikan sebuah minuman untukku.

“ Ini tuan muda”

“ Ah, terima kasih. Bisakah duduk di sana bersamaku ?” tawarku dan mengajak kakek tua itu duduk di kursi kayu yang ada.

“ Tuan muda, anda bisa memanggil saya kakek Lee.” Ucapnya.

“ Ah, kakek Lee. Anda sudah berapa lama menjaga rumah ini?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“ Kurang lebih dua puluh tahun tuan muda.”

“ Itu sangat lama, berarti anda tahu banyak tentang rumah ini.” Tanyaku.

“ Iya begitulah tuan muda. Dulu, rumah ini ditempati oleh satu keluarga yang sama seperti keluarga lainnya. Tapi terjadi sesuatu hal yang menyebabkan sesuatu yang buruk dalam keluarga itu hingga memutuskan untuk menjual rumah ini.” Terangnya.

“ Lalu sekarang bagaimana dengan keluarga itu?” tanyaku.

“ Ntahlah, setelah kematian tuan muda dan setelah kecelakaan tragis yang terjadi dengan nona muda. Saya tidak tahu lagi bagaimana kabar mereka.”

“ Nona muda ?”

“ Iya, nona muda yang memiliki sifat seperti anda tuan muda. Tapi sebenarnya dia memiliki sifat yang lembut, hanya keadaan yang membuatnya menjadi yeoja ‘berandalan’. Namanya Kim Kiera. . .”

 

            Kim Kiera POV

Huh, lagi-lagi ada orang yang mendatangi rumahku. Ingin tinggal di sini, eh? Menyebalkan! Rumahku bukan tempat penyewaan gratis tau! Kenapa kakek Lee membiarkan namja itu tinggal di sini? Di kamarku pula! Arrgh! Lihat saja namja itu nanti. Aku akan segera membuatnya angkat kaki dari rumahku!

Aku keluar dari bunga mawar merah—yang merupakan tempat persembunyiaanku. Kualihkan pandanganku ke seluruh sudut kamarku. Hmm, namja itu ternyata tidak seberantakan yang kukira. Kamar ini cukup rapi untuk ukuran seorang namja, apalagi kudengar ia seorang nappeun namja. Mataku menangkap bayangan lemari besar yang berdiri kokoh di sampingku. Kulangkahkan kakiku mendekati lemari besar yang kini berada di hadapanku. Kutarik daun pintu lemari ini dengan ragu.

Ckreek..

Ternyata sudah banyak baju yang di susun rapi di dalam lemari ini. Tapi kotak itu masih tetap sama. Selalu berada di situ, di sudut belakang lemari. Kini tanganku meraih pelan kotak itu. Yah, untung saja aku sudah menjadi hantu padat. Yang berarti aku sudah bisa memegang benda-benda seperti manusia. Aku tersenyum miris melihat liontin berwarna biru yang kini berada di genggaman tanganku. Foto di dalam liontin ini mengingatkanku pada sosokku yang kini masih berbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Kenapa orang tuaku tidak melepaskan saja alat-alat itu? kenapa mereka masih mau menungguku yang terbaring lemah di rumah sakit? Apa mereka menyanyangiku? Hah.. kenapa kalimat terakhir itu terdengar begitu mustahil untukku?

Klek.

Tanpa sadar aku menjatuhkan kotak dan liontin yang berada di tanganku. Aku reflek menoleh ke arah pintu yang kini terbuka. Dapat kulihat sosoknya—namja yang ntah siapa aku tak tahu namanya—berdiri dengan ekspresi kaget. Aku menelan ludah melihat namja itu. Aigoo, wajahnya imut sekali! Apakah ia benar-benar nappeun namja? Tapi tampangnya meragukan.

“N-nu-guya?” Aku membelalakkan mataku tak percaya. Ia sedang berbicara dengan siapa? Denganku? Aish! Mana mungkin! Sekarang kan hanya ada aku dan dia di dalam kamar ini! Jangan bilang ia…

“Kau bisa melihatku?” tanyaku tak percaya. Ia menganggukkan kepalanya ragu. Aku menatap nanar namja di hadapanku. Bagaimana bisa?

“Nugu?” pertanyaannya membangunkanku dari alam bawah sadarku. Dengan segera aku mengganti wajahku—ekspresiku lebih tepatnya—agar terlihat menyeramkan. Ntahlah, ini akan berhasil padanya atau tidak.

“Nae..gaa..?.. na..neun..cheonyeo gwishin..ieyo..”

“HUWAAA~!!!” aku terlonjak kaget mendengar suara teriakan namja itu. Nyaring sekali suaranya. Seandainya telingaku masih berfungsi seperti manusia, pasti aku akan langsung tuli mendengar suaranya yang sangat nyaring itu. Huft, tapi untunglah namja itu sudah pergi dari sini. Aku segera memungut kotak dan liontin yang berserakan di atas lantai. Kukembalikan kotak itu ke dalam lemari, dan menutup kembali lemari itu seperti semula. Seperti menutup kembali luka hatiku yang sempat menganga lebar. Aku menghela nafas berat mengingat semua yang telah terjadi. Oppa, kenapa kau tega meninggalkanku bersama hyomin seperti ini?

 

Flashback

Kuteliti lagi pantulan tubuhku di cermin, dari atas sampai bawah. Sepertinya sudah tak ada yang kurang lagi.

“Apa aku perlu memakai topi?” gumamku menimang-nimang.

“Kau sudah cantik seperti itu, Ra-ya”

“Oppa!” aku berlari ke dalam pelukan oppaku yang kini berada di ambang pintu kamarku. Ya Tuhan, betapa aku merindukan oppaku ini. Hanya dia dan Hyominlah yang benar-benar peduli padaku.

“Kkkk~ eonni dan oppa terlihat seperti orang pacaran saja” celetuk adik perempuanku—Hyomin—yang tiba-tiba berada di dekat kami. Aku tertawa kecil mendengar celetukan adikku ini. Donghyun oppa melepas pelukanku, dan berjongkok di depan Hyomin. Memberikan senyuman termanisnya pada adikku.

“Kau cemburu Minnie? Oppa juga akan memberimu pelukan kalau begitu” ujar oppaku merentangkan kedua tangannya.

“Ne, Hyomin cemburu” ujar adikku menggembungkan kedua pipinya, lalu memeluk Donghyun oppa. Aku tertawa kecil melihat pemandangan di depanku kini. Aku benar-benar merasa seperti memiliki hidup yang normal jika sudah bersama oppa dan yeosaengku. Ntahlah, tanpa mereka aku tak tahu, apakah aku akan masih bertahan hidup di dunia ini bersama appa dan umma.

“Aigoo, sudahlah. Kajja! Kita pergi ke taman sekarang!” ujarku pura-pura melerai pelukan Donghyun oppa dan Hyomin.

“Ya! Eonni! Jangan rebut oppaku~” protesnya dengan nada manja. Aku, Donghyun oppa dan Hyomin tertawa kecil, menyadari betapa konyolnya tingkah kami.

“Kajja” Donghyun oppa memeluk pundakku, dan menggandeng tangan mungil Hyomin. Jika dipikir-pikir, kami terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia bukan?

Perjalanan ke taman seperti terasa hanya dalam hitungan detik. Selama di perjalanan selalu ada tawa dan canda di antara kami. Kini aku sudah membawa sebuah keranjang berisi penuh makanan, dengan Hyomin berjalan di sampingku. Donghyun oppa membawa sebuah tikar di atas pundaknya.

“Oppa, di sini saja ya?” tanyaku pada Donghyun oppa yang berjalan di belakangku dan Hyomin.

“Eo” Donghyun oppa menggelar tikar yang di bawanya di atas hamparan rumput hijau. Lalu aku mengeluarkan makanan yang kami bawa dari keranjang, dan menatanya di atas tikar yang sudah digelar oleh Donghyun oppa.

“Oppa, kita bermain bola saja” seru Hyomin yang sudah memegang bola yang cukup besar di tangannya.

“Arasseo. Ra-ya, kau mau ikut?”

“Chakkammanyo oppa. Ini hampir selesai” ujarku masih menata makanan di atas tikar. Donghyun oppa menganggukkan kepalanya, dan mulai bermain dengan Hyomin. Dengan segera aku menyelesaikan aktifitasku, dan ikut bergabung dengan Donghyun oppa dan Hyomin.

“Oppa, lempar sini!” seruku melambaikan tanganku. Donghyun oppa melemparkan bola berwarna merah itu ke arahku.

“Aish! Oppa!” protesku saat bola yang dilempar Donghyun oppa terlalu jauh. Aku berlari kecil-kecil mengejar bola yang belum mau berhenti menggelinding itu. Wajahku berubah masam saat bola itu berhenti di tengah jalan, di dalam sebuah kubangan air yang tak dalam.

“Yah, basah” gumamku mengambil bola itu. Kurogoh sakuku, mengambil sapu tangan milikku. Kubersihkan air yang membasahi bola itu dengan sapu tanganku.

“Kiera-ya! Awaasss!!” aku menoleh ke arah Donghyun oppa yang tampak berlari ke arahku. Aku menatap heran pada oppaku itu. Sebenarnya ada apa?

Tiin! Tiin!

Aku terlonjak mendengar suara klakson mobil yang terdengar begitu dekat denganku. Tubuhku terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk menggerakkan tangankupun aku tak mampu!

“Awaaass!!” dapat kudengar Hyomin berteriak histeris. Aku pasrah saat mobil itu sudah berjarak tak lebih dari satu jengkal dengan tubuhku. Tapi tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di dorong oleh seseorang.

“Donghyun oppaaaa!!!” Hyomin berteriak histeris. Aku seakan tersadar mendengar ucapan Hyomin. Donghyun oppa?

DEG! Aku menatap nanar tubuh Donghyun oppa yang kini tergeletak berlumuran darah di tengah jalan. Benarkah itu Donghyun oppa?

“Donghyun…oppa..?” lirihku.

“Hiks.. Hiks.. Donghyun oppa.. hiks.. bangun oppa! bangun! Hiks..” Hyomin berlari menghampiri tubuh berlumuran darah itu.

“Andwae. Ini tidak mungkin. Itu pasti bukan Donghyun oppa! Hyomin! Bilang pada eonni, kalau itu bukan Donghyun oppa!” jeritku pada Hyomin. Hyomin mendongakkan wajahnya yang basah karena air matanya yang terus mengalir.

“Kiera eonni..” ia berlari menghampiriku dan memelukku.

“Hyomin-a, bilang pada eonni. Itu bukan Donghyun oppa kan?!!” jeritku histeris.

“Hiks.. hiks.. Kiera eonni.. hiks.. tenanglah..” dapat kurasakan badannya yang mungil itu bergetar di dalam pelukanku. Ini tidak mungkin! Tuhan, tolong bilang padaku. Tubuh yang tergeletak lemah dan berlumuran darah itu bukan oppaku! Bukan Donghyun oppaku! Kumohon Tuhan.. Aku tak bisa menerima kenyataan ini..

End of Flashback

 

Kuhapus dengan segera air mata yang sudah mengalir di wajahku. Hah, Donghyun oppa.. Mianhaeyo..

Kini aku duduk di salah satu kursi makan di ruang makan. Memperhatikan namja yang kini sedang tinggal di rumahku, makan. Aku termenung melihat wajahnya. Apa yang terjadi padanya sehingga ia tinggal di rumah ini?

“K-kau.. jangan menatapku seperti itu.. membuat nafsu makanku hilang saja” lagi-lagi aku dibuat terlonjak oleh namja di depanku ini. Apakah ia benar-benar bisa melihatku? Aish, tapi masa sih iya?

“Kau benar-benar bisa melihatku?”

TBC..                                             

 

18 thoughts on “In That House – 1”

    1. hehe, gomawo komennya chingu^^
      hmm, kalo part selanjutnya ga janji bisa cepet, soalnya aku lagi hiatus, mian yah *bow*

    1. yaampun eonniiiii -____-”
      masa segitu doang merinding? padahal kan hantunya ga seberapa keliatan :p
      ne eonni sayang :*

  1. wuahhhhhhhhhhhh…akang yoseob jadi anak nakal…padahal imut gituuu…T________T
    si kiera ntu berarti masih koma??kog tadi dia bilang jadi hantu padat???..tak apa…tapi bisa bayangin ni rumahhh mistikkk banget kaya pilm hororrr gituuu..untung ajahhh ni FF ga ada backsound seremmm..*deeedeeeengngngngggg!!!!…dedededennnnnnnnnnnggggg!!*..bisa copot nihh jantung…ayooo ninnn segera post part 2…

    BTW ada yg tau yg ngarang Happiness??aq mau minta pasword part17 tapi email aq ga dibales2..huksss…
    annyeooooooong semua ^^

    1. tampang tidak menjamin kelakuan chingu :p #plaak #apaini
      hmm, pernah baca novel seoulmate? aku ngambil adegan ‘hantu padat’ dari situ, hehe😀

      wah, ga baca happiness nih –” apalagi yg pake pw2 an.. aku kan masih polos chingu *innocent face*

      1. jiahhhhhhhh…Polosan, Tapi kalo lagi pas Mandi..hehehhe *Psiiii chingu^^*
        anda benar..tampang tak menjamin…
        ohhh nopel soulmate..tau2, aq dah baca^^..lucu yahhh, meskipun endingnya rada kecepetan alurnya…*malah bahas ini!!*
        part 2 kapan nihh???
        hehehhe..uda kebelet *apapula ini!!* baca lanjutannya…
        Faithingggggg chingu^^

  2. Jadi Kiera itu sebetulnya belum meninggal ya, keadaanya koma begitu kah? Kira2 apa ya yg akan membuat Yoseob oppa berubah sikapnya nanti menjadi namja yg lebih baik lagi.. penasaran.. Ditunggu author part berikutnya.. Thanks

    1. Waaah~ betul sekali! selamat anda mendapatkan tepuk tangan dari author(?) hehe😀
      okeoke, tapi ga janji bisa cepet xD
      gomawo chingu komennya x)

  3. aaah~ eomma nangis lagi.
    hahahah gaya nulisnya appa itu emang khas yah. hehehehehe
    atau gaya kalian sama? :’)
    bagus sih sayang, tapi ada yang rancu noh… pas di bagian hampir akhir gitu. coba di teliti😉

    1. eommaaaa!! miaaan :”
      ani, pasti keliatan yg mana tulisan appa sama tulisan nisa.. beda banget x)
      hehe, memang agak rancu.. abisan pas ngelanjutinnya nyesek eomma, hehe. jadi ya gitudeh.. :’D

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s