I Belive The Destiny [sekuel : My First Love] chapter 1

 

Title : I Believe The Destiny [Sekuel :MY FIRST LOVE] chapter 1

Author :  Quintkyu/Justkyu

Main cast : Kim Soora (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating : PG-15

Summary

Takdir, sampai saat ini aku masih percaya dengan kata itu, entahlah apa yang membuatku menyerahkan semuanya pada takdir, tapi bukankah setiap insan di dunia ini sudah memiliki garis takdir masing-masing? Begitu juga dirimu, diriku dan dirinya.

Kim Soora POV

Aku mengerjapkan mata saat hangatnya sinar matahari menyentuh tubuhku, menyusup melalui celah jendela balkon kamar, dan  seolah-olah ingin membangunkanku dari rasa kantuk yang masih menguasai.

Kupaksakan mata ini untuk benar-benar terbuka, dan dapat kulihat setitik bias sinar matahari memantul dengan indah dan menerangi isi kamar ini.

Aku beranjak dari ranjang dan berjalan kearah balkon kamar, menghirup dalam udara pagi sungguh memberikan efek yang bagus untuk suasana hatiku, dengan memejamkan kedua mata dan merasakan hangatnya matahari membelai pelan wajahku.

Untuk beberapa detik aku benar-benar menikmati suasana seperti ini, dan saat membuka mata kembali aku merasakan suatu kedamaian yang menyelimutiku, rasanya sungguh ringan di hatiku.

Kuedarkan pandanganku dari atas balkon dimana aku berdiri saat ini, seulas senyum tercetak diwajahku saat melihat sesuatu yang sejak dulu menjadi impianku, benda itu terasa sangat dekat didepan mata, begitu besar dan tingginya menara itu menjulang seakan-akan menyentuh dinding langit, Eiffel Tower.

Eiffel Tower benar-benar menjadi pusat perhatian dunia, bahkan jutaan pasang mata pun rela terbang jauh dari belahan  dunia lain, hanya sekedar untuk mengaggumi karya indah Gustave Eiffel, termasuk diriku.

Dan pemandangan yang kudapat dari balkon salah satu hotel di jalan 25 Avenue Montaigne Paris sangat menakjubkan, terletak diantara menara Eiffel dan Champs Ellysse yang terkenal dengan Arc de Triomphe lalu menoleh sedikit ke arah barat aku bisa melihat indahnya sungai Seine yang terlihat seperti karpet permata berpendar karena pantulan sinar matahari.

Tapi rencana kepergianku ke Paris sama sekali diluar pikiranku, awalnya aku hanya menerima tawaran bibi Jung, beliau adalah adik dari eommaku, sekaligus atasanku dimana aku bekerja saat ini sebagai salah satu fashion designer di industry fashion yang beliau kelola. Dan sudah 5 hari ini melakukan road show fashion dibeberapa kota di Perancis, salah satunya Paris. Dan sejak tiga hari kedatanganku di Paris, tapi belum sempat aku pergi ke menara Eiffel karena kesibukanku mengurusi segala keperluan disini, aku hanya bisa melihatnya dari balkon kamar hotel tempatku menginap. Untung saja Bibi Jung mereservasi beberapa kamar disini untukku dan beberapa staf yang lain, setidaknya tidak membosankan karena view yang kudapat disini.

‘Drrtttt…drttttt’

Aku menghampiri meja nakas diujung kiri ranjang, dimana aku meletakkan ponselku,dan tersenyum melihat nama pemanggil dilayar ponselku.

“Oppa”

“Good morning, ah chakkaman disana sudah pagi kan??

”Ne, disini sudah jam 7 pagi, dan biar kutebak di Seoul pasti sekarang sudah siang kan?” Kudengar dia terkekeh pelan

“Bagaimana kau tahu? Kau kan di Paris, atau jangan-jangan kau memikirkan Seoul karena rindu padaku ya?” Candanya lagi, aku hanya tersenyum geli mendengarnya

“Oppa, itu sudah jelas, disana kan lebih cepat waktunya” balasku

“Hehe, arrayo…keundae kenapa kau berangkat ke Paris diam-diam huh? Bahkan kau tak memberitahuku sebelumnya, kalau bukan namdongsaengmu yang memberitahuku aku pasti mengira kau kabur dari Seoul.”

“Mianhae oppa, miahae aku kesini karena urusan kantor” Sebenarnya bukan itu alasan utamaku, lebih tepatnya aku ingin menenangkan hati dan pikiran setelah apa yang terjadi belakangan, menyibukkan diri dengan pekerjaan

“Kenapa harus minta maaf?kau sering sekali mengucapkan kata  itu saat bicara denganku, dan mulai sekarang berhenti mengucapkan kata itu lagi” Dia selalu seperti ini, selalu bisa membuatku jadi tambah merasa bersalah, Donghae oppa kau terlalu baik terhadapku.

“Berapa lama lagi kau akan berada di Paris?kau tidak berniat menetap disana kan?”

“Sebenarnya hari ini schedule terakhir untuk road show, tapi rencananya aku akan mengambil cuti beberapa hari, oppa tau, aku sama sekali belum mendatangi Eiffel, dan itu belum sempurna jika aku belun menyentuh besi menara itu, makanya aku belum mau pulang ke Seoul”

“Ne  ne  ne arraseo, sekalian kau bawa pulang menaranya dan nanti kau tanam didepan rumahmu, jadi setiap hari kau bisa memegangnya” Kudengar ia tertawa karena lelucon konyolnya

“Ne setelah itu Appa akan membunuhku melihat pekarangan rumahnya hancur”

Untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, ini pertamakalinya aku berbicara dengannya, setelah kejadian itu, rasanya masih sedikit canggung, namun  ia selalu bisa membuat suasana menjadi lebih tenang.

“Kalau begitu jangan terlalu capek, manfaatkan waktu liburmu di Paris”

“Oppa, chakkaman”

“Wae?”

“Boleh aku berkata satu hal lagi?”

“Katakan”

“Gomawo, gomawo untuk semua yang oppa lakukan padaku, dan mianhae karena telah mem..”

“Ssssttttt… bukankah tadi sudah kubilang jangan mengatakan hal itu lagi” Mianhe oppa, aku rasa itu semua belum cukup

“Kim Soora jangan membuat dirimu merasa bersalah, aku tahu apa yang ingin kau bicarakan saat ini dan ingat tidak ada yang disalahkan dalam masalah perasaan, dan aku akan menjadi namja egois jika terus melanjutkan semuanya denganmu, kau tahu, aku melakukan itu karena aku..aku.. menyayangimu, tentunya seperti yang kau bilang sebagai seorang kakak.” Entahlah aku sepertinya merasakan kesakitan hatinya, meskipun itu tak ditunjukkannya, aku tahu dia tidak pernah marah padaku, dan karena sifatnya itulah yang membuatku merasa menjadi yeoja yang kejam

“Oppa, kau terlalu baik padaku, aku..”

“Soora~ya, kau masih ingat apa yang aku ucapkan padamu di depan pendeta waktu itu?” Bagaimana mungkin lupa tentang semua perkataannya waktu itu

‘aku rela melepaskanmu sebagai calon istriku dan mulai detik ini aku berjanji akan menjagamu sebagai seorang oppa, hingga nanti kau temukan seseorang yang bisa menjagamu seutuhnya dengan cinta’

Janjinya waktu itu masih terekam di memoriku, bahkan aku tidak tahu apa aku harus bahagia atau tidak,memikirkan  tentang seseorang yang nantinya akan menjagaku dengan cinta, rasanya itu mustahil, orang yang dari dulu menempati dihatiku tidak pernah melihat ke arahku.

“Ne, gomawo untuk janji yang oppa ucapkan, aku akan menjadi yeodongsaeng yang baik untukmu”

“Aigoo kau manis sekali jika bicara seperti itu, ternyata begini rasanya memiliki seorang dongsaeng” Candanya dan kudengar dia terkekeh

Akupun ikut tertawa saat dia mengatakan hal itu, rasanya senang sekali mendengarnya bercanda dan tertawa.

“Bersenang-senanglah di Paris, jangan membuat pengorbananku sia-sia dan jika nantinya kau bertemu dengan orang bodoh disana katakan padanya bahwa aku akan membunuhnya jika dia tidak menepati janjinya” Bingung, aku tidak tahu apa maksud pembicaraanya

“Orang bodoh?nugu? oppa apa sih yang kau bicarakan, aku tidak mengerti”

“Kau akan mengerti nanti, sekarang tutup telfonnya”

“Isshh..kau ini, baiklah aku tutup dulu telfonnya, anyeong oppa”.

“Ne anyeong”

‘KLIK’

Dia selalu menyuruhku untuk menutup telefon lebih dulu, jika aku tidak mau maka dia tidak akan pernah menutup telefonnya, itulah kebiasannya.

Aku meletakkan ponselku ketempat semula, dan membaringkan kembali tubuhku sejenak diatas ranjang, pembicaraan singkat dengan Donghae oppa tadi membuat otakku memutar kembali tentang kejadian beberapa waktu  lalu, hari dimana seharusnya aku mengucapkan sumpah itu.

Flashback

Aku mencekram kuat lengan appa yang menuntunku berjalan di atas karpet merah ini, aku berjalan di altar diantara puluhan pasang mata yang menatapku.

Bagaikan bejalan diatas bongkahan es, seluruh tubuhku rasanya kaku, tanganku dingin, namun saat aku melihat namja yang berdiri di ujung sana, tersenyum dan menatapku dengan tatapan yang teduh membuat bongkahan es itu sedikit mencair.

Aku harus yakin bahwa memang dialah yang nantinya akan menjadi masa depanku, seseorang yang akan selalu menjagaku dan mencintaiku, pastinya aku sudah tau itu, tapi entahlah bayangan seseorang masih saja berkelebat di otakku.

Tiba saat appa melepaskan tanganku dan meneyerahkanku pada namja yang sedari tadi menungguku di samping pendeta, ia mengulurkan tangannya dan menuntunku untuk berdiri sejajar dengannya

Tuhan, apa ini sudah takdirnya?  jika iya aku tidak ingin berubah pikiran, tapi aku ingin KAU membantuku merubah perasaanku terhadap seseorang dan memberikan seluruhnya pada namja disampingku ini.

Donghae oppa, saat nanti aku sudah mengucapkan sumpah itu, aku berjanji seluruh perasaanku hanya milikmu.

“Kau sudah siap?” Aku menoleh saat ia mengatakan itu tepat di telingaku, dan detik itu juga ia menatap dalam mataku dan seolah menunggu jawaban dariku

Aku menganggukkan pelan kepalaku berusaha tersenyum dan setenang mungkin dihadapannya, apa dia tahu kalau aku sedang gugup? Kenapa terus memandangku seperti itu? Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku kearah pendeta yang sudah berdiri di depan kami

Tiba saat pendeta membacakan sumpah dan menagihnya terlebih dahulu kepada Donghae oppa dan saat itu juga aku mencekram kuat buket bunga mawar putih di tanganku. Mawar putih? Kenapa harus bunga ini yang aku lihat?

“Tunggu sebentar pak pendeta boleh aku bertanya?” Pandanganku teralih saat Donghae oppa mengatakan itu

Bisa kudengar beberapa tamu sedikit berbisik pelan dan bertanya-tanya. Bingung? termasuk diriku.

“Anda bilang bahwa janji pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan sumpah tentang ‘saling mencintai dalam keadaan susah senang, sakit sehat sampai maut memisahkan’ bukankah itu harus diucapkan sungguh-sunguh? Maksudku bukan hanya sekedar janji, tapi sesuatu yang nantinya akan diminta pembuktiannya, bukan begitu?”

“Iya benar, tapi kenapa anda bertanya seperti itu?” Bingung, aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan pendeta dan mungkin puluhan tamu yang lain juga

“Ahni, hanya ingin memastikan saja, Pak pendeta aku bisa saja mengucapkan janji itu dihadapan gadis yang ada disampingku saat ini, tentunya gadis yang aku cintai dan bersedia diminta pembuktiannya kelak, namun apakah itu adil baginya jika hanya diriku yang bersedia?”

Seketika cengkraman tanganku di buket bunga inipun mengendur saat mendengar penuturannya, aku tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan

“Oppa, apa yang kau bicarakan?” Aku tidak tahan untuk tidak bertanya, namun ia hanya tersenyum dan memandangku

“Kim Soora, sekali lagi aku bertanya apa kau sudah siap? Ahni apa kau sudah yakin?” Kenapa pertanyaanya seperti menusukku, dan kenapa dia harus menanyakan hal ini sekarang? Disaat aku sudah berusaha dan  ingin menyerahkan semua padanya, apa dia berusaha menggoyahkan keputusanku?

Aku menatap matanya, dan berusaha membaca apa yang sedang ia pikirkan sehingga ia bisa berkata seperti itu, tapi tetap saja aku masih tidak mengerti, dan akhirnya aku hanya menganggukan kepalaku, ya aku sudah yakin dengannya, mungkin.

“Nona Kim Soora, tuan Lee Donghae, apa kita bisa melanjutkan upacaranya?” Perkataan pak pendeta membuat kami melepas kontak mata satu sama lain, namun perasaan bingung masih terus berisik dikepalaku

“Ne, sepertinya calon pengantinku sudah siap, aku rasa”

“Baiklah, sebelum saya melanjutkan upacaranya, apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini?” Tanya pak pendeta dan memandang kami satu sama lain, dan beberapa detik setelah itu beliau kembali membacakan sumpah-sumpah yang nantinya akan kami ulangi lagi sebagai suatu pengesahan.

Tuhan kenapa tiba-tiba hatiku menjadi sangat bimbang, aku tahu pada awalnya aku sudah merasaka hal ini, namun saat ini rasa itu tumbuh dua kali lipat dan membuat semuanya semakin kacau dikepalaku.

Dan disaat itu aku mendengar Donghae oppa berbisik pelan kepadaku

“Soora~ya, sekali lagi, jawab aku dengan jujur, apa kau sudah benar-benar yakin?” Aku kembali menoleh kearahnya, namun ia hanya menatap lurus kearah pendeta yang sedang memimpin upacara pernikahan ini, sungguh aku merasa tidak tenang dengan situasi seperti ini, apa maksud ini semua? Apa dia tahu kalau hatiku belum yakin sepenuhnya? Tuhan apa ini sebenarnya? Apa aku harus….

Sekuat tenaga aku menolak desiran untuk mengatakan kata ‘tidak’, sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan kenapa tiba-tiba mataku memanas? Tuhan apa aku harus menghentikan semua?

“Tuan Lee Donghae apakah anda bersedia men..”

“Saya keberatan” Aku tidak tahu kenapa akhinya kalimat itu keluar dari bibirku, dan rasanya ada yang mendorong lidahku untuk mengucapkan kalimat itu, setelah itu aku hanya menutup mata dan tidak ada kekuatan untuk membuka mata, menatap reaksi orang-orang disekitarku, terlebih lagi seseorang yang berdiri disampingku saat ini

Dan dapat kurasakan sesuatu membasahi pipiku, ya aku menangis dengan sekuat tenaga aku menahan isakan yang terus menggedor-gedor dadaku, sesak sekali.

Dalam beberapa tarikan napas, aku merasakan sebuah tangan meraih wajahku dan mengahapus aliran air mataku. “Uljima, jebal” Suaranya begitu pelan bergaung di telingaku, namun aku masih tidak memiliki kekuatan untuk menatap matanya. Mianhe oppa.

Aku bisa mendengar dengan jelas keributan disekitarku, bahkan musik pengiring yang sedari tadi mengalun memenuhi gedung inipun sudah tak terdengar lagi, aku tahu, aku telah menyebabkan masalah besar saat ini.

“Kim Soora, buka matamu dan lihat aku” Jelas sekali ia berada sangat dekat dengan wajahku dan bisa kurasakan hembusan nafasnya.

Aku tidak bisa oppa, aku tidak sanggup untuk menatap matanya, Kim Soora sebenarnya apa yang barusan kau ucapkan? Bukankah tadi kau sudah yakin, lalu kenapa kau berubah pikiran?apa karena seseorang? Kau berjanji untuk melupakannya dan memulainya dengan Donghae, tapi apa ini?

“Soora~ya, jebal jangan seperti ini, hentikan air matamu, kau tahu aku benci sekali melihatmu menangis, jangan perdulikan yang lain, buka matamu dan hanya lihat aku saat ini” Kurasakan tanganya menangkup sisi wajahku dengan erat, Tuhan jika aku membuka mata, aku harap ini mimpi

“Oppa, mianhae, jongmal mianhae, aku..” Hanya itu yang keluar dari mulutku saat membuka mata, melihat tepat di manik matanya yang terus menatapku dalam diam dan menghapus lagi air mata yang terus jatuh mengalir di kedua pipiku.

“Aku tahu dari awal, seharusnya ini semua tidak terjadi, tapi aku terlalu egois dan terus memaksanya sesuai dengan keinginanku tanpa melihat perasaan sesungguhnya dari calon pengantinku, ah ahni mantan calon pengantinku.”  Sungguh aku dapat merasakan kesakitan di hatinya saat ia mengucapkan kalimat itu, ‘mantan calon pengantin’

“Oppa mianhe, sebe…” Kalimat yang akan aku ucapkan menghilang saat ia menempelkan jari telunjuknya tepat di bibirku

“Ssst…aku tahu aku bukan namja yang hidup dihatimu sejak 3 tahun pertemuan kita, aku sudah tahu dari awal, tapi aku terlalu egois terhadapmu, aku hanya memaksakan cinta yang hanya ada di hatiku, tanpa memikirkan apa yang ada dihatimu dan aku menyesal kenapa baru sekarang aku menyadarinya, mianhe Kim Soora seharusnya dari dulu aku memikirkan ulang tentang pernikahan ini, ini semua karena aku menganggap kaulah yang menjadi takdirku dan karena aku terlalu mencintaimu”

Isakkan yang terus menggedor-gedor dadaku dari tadi kini semakin kencang karena pengakuannya, itu berarti dengan perlahan aku sudah menyakiti hatinya sejak awal, tapi dengan segala kebaikan yang ada dirinya kenapa dia yang harus meminta maaf? Aku benar-benar bukan yeoja yang pantas untuk orang sepertimu oppa.

“Oppa kau boleh membenciku saat ini, aku benar-benar yeoja pengecut yang sejak awal tidak pernah mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan padamu, tap…tapi kau terus dengan sabar berada disisiku, mencintaiku meskipun aku..aku sepenuhnya tidak mem..”

“Kenapa aku harus membenci orang yang aku cintai? Disini akulah yang paling pengecut karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa memang aku bukan namja yang selama ini menempati hatimu, Soora~ya saat ini aku sadar perasaan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan dengan cara apapun”

Tuhan sebenarnya apa yang telah aku lakukan pada namja sebaik dirinya, kenapa aku tidak bisa memberikan seluruh persaanku padanya?pada orang yang selama ini tulus hanya mencintaiku, jawab aku Tuhan, kenapa sampai saat ini aku masih mencintai seseorang dimasa laluku?seseorang yang tak pernah melihat hatiku dan kenapa perasaan ini melekat begitu lama dihatiku?

“Namja itu, namja yang bertemu kita di caffe saat itu dialah yang hidup dihatimu selama bertahun-tahun” Aku terkesiap mendengar kalimatnya, apa yang dia maksud namja yang di caffe waktu itu adalah..tidak mungkin, Donghae oppa tidak tahu itu

“Ne?oppa..apa yang….”

“Aku bisa melihat dari caramu memandangnya, dan itu membuatku semakin yakin bahwa dialah cintamu yang sesungguhnya, cinta pertamamu, Cho Kyuhyun” Aku hampir tersedak ia mengetahui tentang Kyuhyun, bagaimana mungkin, itu adalah rahasia terbesarku, dan bagaimana ia tahu tentang itu?

Perlahan ia melepaskan satu tangannya dari pipiku dan menggenggam sebelah tanganku, tatapan matanya, sungguh aku tak bisa melihat matanya, seolah aku melihat kesakitan dihatinya, tapi kenapa bibirnya terus tersenyum

“Aku tahu semua, aku tahu dari awal Soora~ya, dan mawar ini selalu mengingatkanmu padanya kan?mawar yang selalu kau simpan” Ia mengangkat buket bunga mawar putih yang sedari tadi kupegang di genggamanku, mensejajarkannya tepatdi depan mataku

“Mianhae, oppa, mianhae, jongmal, aku…..” Aku tidak tahu harus berkata apa?satu kenyataan lagi yang kuketahui, Donghae oppa mengetahui bahwa aku mencintai seseorang dimasa laluku, tak tahu darimana ia mengetahui hal itu.

Dan kata  maaf  itu yang terus keluar dari mulutku, aku hanya menangis dalam diam, menahan isakanku yang terus meronta-ronta di rongga dadaku, dengan sekejap ia menarikku dalam dekapannya, menepuk pelan punggungku, dan saat itulah tangisku benar-benar pecah, dadaku sesak meskipun isakkan itu telah keluar, dalam dekapannya terus menjalar rasa bersalah dalam diriku, aku begitu bodoh, ya dari dulu aku sangat bodoh.

“Jangan pernah menyalahkan dirimu yang tidak bisa mencintaiku, jangan pernah memaksakan perasaanmu untuk mencintaiku, dan satu hal lagi jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri yang sesungguhnya.” Hatiku mencelos mendengar penuturannya, semua yang dikatakannya benar, dan perlahan ia melepaskan pelukannya lalu menggenggam sisi tanganku dengan isakan yang masih terdengar dari rongga dadaku, akupun membalas genggaman tangannya.

“Kim ahjussi dan ahjumma, eomma,  serta semua yang ada disini, aku minta maaf karena menciptakan suasana seperti ini dan membuat semua yang ada disini menjadi bingung” Suara Donghae oppa membuatku tersentak, aku lupa bahwa digedung ini banyak pasang mata yang sedari tadi menyaksikan apa yang baru saja terjadi, dan aku tidak sanggup melihat semua yang ada disini, terlebih lagi orang tuanya dan orang tuaku.

“Tapi aku tidak punya pilihan lain saat ini, jika aku terus melanjutkan semua ini, aku takut akan menyakiti hatinya, aku takut menjadi egois terhadap dirinya, dan jika semua itu terjadi aku tidak akan bisa memaafkan diriku” Semua yang dikatakannya sungguh membuatku semakin bersalah dan aku hanya terus menangis dalam diam

“Ahjussi, ahjumma mianhae telah membuat semua kekacauan ini dan mianhae telah membuat Kim Soora menangis, seharusnya bukan diriku yang berdiri disini saat ini, namun ada seseorang yang berhak, ahni seseorang yang wajib kurasa berdiri bersamanya saat ini, karena seseorang itulah yang sesungguhnya yang Kim Soora cintai, tapi entah kenapa ia tidak mau mengakuinya dan akhirnya ia terjebak bersamaku, dan aku rasa ahjussi dan ahjumma serta semua yang ada disini bisa mengerti dan menyetujui keputusan yang kami berdua ambil, sekali lagi kami minta maaf”

Aku bisa melihat appa memeluk eomma yang sedang menangis, namun saat mata kami bertemu ia tersenyum kearahku,senyum yang biasa kulihat saat beliau menenangkanku, meskipun tak bersuara namun aku bisa melihat pergerakkan bibirnya yang mengucapakn ‘gwaenchana’, melihat itu airmataku semakin mengucur dengan deras, begitu juga kedua orang tua Donghae oppa yang juga melakukan hal yang sama.

“Pak pendeta, bolehkah saya mengucapkan sebuah sumpah dan anda serta semua yang ada disini menjadi saksinya” Aku tidak tahu hal apa lagi yang akan ia lakukan, semua hal yang dikatakannya sesungguhnya adalah hal yang menyakitkan baginya.

“Sumpah? Maksud anda?” Pak pendeta terlihat bingung, hal yang sama kurasakan.

“Aku ingin bersumpah untuk seseorang yang saat ini ada dihadapanku” Aku menoleh kearahnya, meskipun pandanganku masih kabur karena air mata yang terus membendung tapi aku bisa melihatnya tersenyum kearahku, lalu ia memutar bahuku untuk menghadap kearahnya, tangannya turun lalu meraih dan menggegam kedua jemari tanganku.

“Pak pendeta bisakah saya mulai?” Tanpa melepas tatapan matanya dariku, Donghae oppa mulai mengucapkan sumpahnya setelah Pak pendeta mengiyakannya.

Aku tidak tahu sumpah apa yang akan ia ucapkan

“aku rela melepaskanmu sebagai calon istriku dan mulai detik ini aku berjanji akan menjagamu sebagai seorang oppa, hingga nanti kau temukan seseorang yang bisa menjagamu seutuhnya dengan cinta”

Hatiku mencelos untuk kesekian kalinya mendengar sumpahnya, Tuhan aku tidak tahu aku harus bagaimana, aku merasakan dua sisi yang aneh pada diriku, disatu sisi beban perasaan tentang pernikahan yang selama ini membuatku gelisah tiba-tiba menguap, namun disisi lain aku benci pada diriku sendiri karena telah membuat Donghae oppa  merasa sakit hati, meskipun ia tak menunjukkannya, tapi aku bisa merasakan itu dan terlebih lagi di hari yang sebenarnya adalah hari yang ditunngu olehnya, tapi dia lebih memilih mementingkan perasaanku, dan lihatlah betapa jahatnya diriku, mianhae oppa, jeongmal

Isakan tangis yang aku tahan membuat dadaku semakin sesak, pandanganku kabur karena terlalu banyak air mata, tapi aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, namun bibirya masih sama, tetap tersenyum, entah gerakan apa yang mendorongku untuk memeluknya.

“Mianhae oppa, mianhae” Sekuat tenaga aku ucapkan kata itu di tengah isakanku yang semakin kuat, dan aku tak sanggup berdiri disini terus dengan suasana seperti ini. Setelah melepas pelukanku, dengan menjinjing gaun pengantinku, aku berjalan keluar dari altar, ahni lebih tepatnya setengah berlari, melewati puluhan pasang mata yang terus menatapku.

“Soora~ya” samar-samar aku mendengar suara seseorang yang memanggilku, tapi aku mengabaikannya, mianhae saat ini aku ingin sendiri, keluar dari tempat ini, dan aku tak sanggup jika terus menatap mata Donghae oppa, aku tak sanggup merasakan sakit hatinya.

Flashback end

Author POV

“Gomawo oppa untuk semua yang telah kau lakukan padaku” Setetes air mata itupun jatuh dari sudut matanya, setelah pikirannya melewati memori beberapa waktu yang lalu, kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Kau telah menyadarkanku, bahwa memang aku tidak bisa mencintaimu, tapi dengan batalnya pernikahan kita aku merasa benar-benar sendiri, karena pada awalnya setelah menikah denganmu nanti setidaknya ada seseorang yang menjadi sandaranku, melupakan seseorang dimasa laluku, mungkin bisa disebut dengan pelarian, tapi setelah kenyataan yang ada saat ini kau bukan suamiku dan seseorang dimasa laluku mungkin sudah bersama dengan orang lain, aku memang egois sempat berpikir seperti itu”

Entahlah saat ini hatinya merasa sangat kosong, tapi dalam hati kecilnya ia merasa tenang, tak ada lagi beban yang menghimpit dadanya selama ini, menjalani hidup dengan tenang dan membiarkan semuanya mengalir mengikuti takdir, itulah yang menjadi patokan hidupnya saat ini dan itu berkat seseorang, Lee Donghae.

‘Ting tong..ting tong’

Ia beranjak dari ranjang menuju pintu saat mendengar bel kamarnya berbunyi

“Eonni, ige mwoya? Kenapa kau belum siap-siap? Jangan katakan kau lupa pagi ini ada wawancara dengan salah satu majalah lokal?” belum sempat Soora bicara seorang gadis langsung memberondongnya dengan perkataan yang membuatnya teringat sesuatu, dan melirik kedirinya sendiri yang masih berantakan.

“Mwo? aisshhh Seeri~ya aku lupa?otthokae?jam berapa ini?dan aku belum siap-siap” Ia terlihat sangat panik

“Yaa eonni, pihak majalahnya sudah menunggumu di restoran hotel, sekarang kau siap-siap dan aku akan turun menemui mereka dulu”

“Ah ne ne, aku turun 5 menit lagi”

“Jangan lupa lagi siang ini event terakhir kita di Louvre

“Arasseo, mana mungkin aku lupa tentang itu, ah chakkaman aku mau kita memakai model yang sama seperti kemarin dan bilang pada pihak agency untuk tidak menggantinya”

“Eo, aku sudah mengatasinya, eonni jangan lupa lagi malam ini juga kami akan kembali ke Seoul”

“Penerbangan jam berapa?nanti aku ikut mengantar kalian”

“9 malam, yaa eonni kapan kau siap-siapnya jika bicara terus”

“Kang Seeri~ya bagaimana aku bisa siap-siap jika kau terus mengajakku bicara”

“Hhhehe baiklah aku tunggu di bawah”

Dengan sekejap ia berlari menuju koper dimana ia meletakkan semua perlengkapan pribadinya, dan itu belum sempat ia tata dalam lemari.

“Kenapa benda ini bisa ada disini?” Sesuatu tak sengaja jatuh dari dalam kopernya, buku diary.

“Kenapa buku ini tidak pernah berubah dari dulu?semua isinya masih sama,tidak ada yang berubah sama seperti isi hatiku yang tidak pernah berubah” Ia bergumam dengan dirinya sendiri dan tak sengaja tangannya menuntun untuk membuka lembar demi lembar apa yang ada didalamnya, ia tersenyum melihat kembali tulisan tangannya 4 tahun lalu, tulisan yang menggambarkan isi hatinya tentang seseorang, dan senyumnya seketika lenyap saat membaca catatan terakhirnya.

‘Kenapa hari ini datang begitu cepat?  hari ini aku akan menikah dengan namja yang sudah bersamaku selama 3 tahun ini, Tuhan kenapa selama 3 tahun itu aku belum bisa mencintainya dengan sepenuh hatiku? Apa ada yang salah dengan hatiku? Tolong biarkan aku mencintainya, dan beritahu aku bagaimana cara melupakan seseorang di masa laluku’

Ia membaca tulisan terakhirnya beberapa waktu lalu, tepat di hari pernikahannya.

Saat membuka halaman berikutnya ia terkejut melihat sebuah tulisan yang asing baginya, tulisan dengan tinta warna biru, dan dalam diam ia membacanya.

‘Soora~ya mianhae aku telah lancang membuka dan membaca semua yang ada disini, sebenarnya aku sudah lama membacanya, dan ini yang kedua kalinya aku membuka diary ini. Bolehkah aku jujur padamu apa yang aku rasakan setelah mengetahui perasaanmu yang sebenarnya? Rasanya ada yang menyayat urat nadiku saat membaca setiap kata yang kau tuliskan disini, bagaimana mungkin aku yang menjadi kekasihmu tidak tahu tentang perasaanmu yang sesungguhnya, dan bodohnya diriku yang tidak mau mengakui bahwa memang bukanlah diriku yang ada di dalam hatimu, aku memang pengecut, karena aku terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu.  Meskipun mengetahui hal itu aku tetap menginginkanmu menjadi milikku, dan aku yakin seiiring dengan berjalannya waktu kau akan belajar untuk mencintaiku, tapi ternyata aku salah, aku tetap tidak bisa menjadi seseorang yang benar-benar kau cintai, meskipun kau terus berada bersamaku, tersenyum untukku, namun hatimu tak pernah berisikan seutuhnya diriku, aku tahu itu.  Kau tahu aku berharap menjadi seorang namja yang menjadi tokoh utama dalam diary ini, namja yang hidup disetiap hembusan nafasmu, tapi sepertinya Tuhan tidak mengijinkan itu, dan aku akan mematuhinya. Soora~ya aku tahu hingga detik ini kau masih mencintainya bahkan saat kau membaca tulisanku ini perasaanmu tidak pernah berubah padanya, kau memiliki perasaan yang begitu kuat padanya, bahkan dalam jarak bertahun-tahun dialah yang terus menempati hatimu…kalau boleh jujur aku iri sekali pada namja itu..

Tapi meskipun kita tidak ditakdirkan bersama, aku berharap masih memiliki tempat dihatimu, tentunya tempat sebagai seorang kakak yang melindungi dongsaengnya, kau bersedia kan??? ‘

                                                                                                                        Lee Donghae  

Setelah membaca tulisan tangan Dongahe yang tercetak di halaman belakang buku diary nya, sesuatu yang basah menggenangi matanya lagi, dan kini ia tahu bahwa namja itu mengetahui semuanya dari sini, diary ini.

“Ne, tentu saja kau masih memiliki tempat dihatiku oppa, tempat khusus untukmu sebagai kakakku dan itu tidak akan berubah”  Ia menjawab pertanyaan donghae pada baris terakhir tulisan itu.

“Semoga kau mendapatkan seseorang yang mencintaimu seutuhya, seseorang yang menjadikanmu tokoh utama dalam hidupnya, kau layak mendapatkannya” Ia meraba tulisan tangan namja itu sebelum akhirnya ia menutup buku diary miliknya.

——

(Another Place in Seoul)

“Jadi kau yang bernama Cho Kyuhyun, namja yang membuat putriku satu-satunya membatalkan pernikahannya” Seorang namja yang tengah duduk dihadapan dua orang paruh baya tampak sangat gelisah, terlihat sekali dari raut wajahnya yang menegang saat berhadapan dengan kedua orang tua gadis yang membuatnya hampir gila.

“Ne, Cho Kyuhyun imnida” Namja itu bangkit dari duduknya lalu berdiri dan membunggkukkan badan.

Seorang wanita tua datang membawa nampan dengan 3 cangkir di atasnya, meletakkannya diatas meja bersamaan dengan Kyuhyun yang kembali duduk, ia mengamati wanita itu hingga menghilang di sudut lorong rumah ini, itu di lakukannya untuk mengurangi rasa canggung,gugup dan takut yang terus berkecamuk dalam dirinya saat berhadapan dengan orang tua Kim Soora, ini dilakukannya demi gadis itu.

“Apa yang membuatmu datang kemari?” Ia mengalihkan pandangannya saat suara laki-laki paruh baya tadi di tujukan padanya, siapa lagi kalau bukan ayah Kim Soora

Ia sedikit menelan ludah saat melihat tatapan mata ayah Soora yang menatapnya intens, tapi ia dapat mengatasi masalah itu.

“Mianhamnida jika saya lancang datang kemari dan mengganggu anda, tapi ini saya lakukan demi Kim Soora dan dia yang telah membuat saya memberanikan diri datang kemari”

Ayah Kim Soora yang mendengar jawaban Kyuhyun hanya memasang wajah tanpa ekspresi, sedangkan wanita paruh baya disampingnya tersenyum lembut mendengar jawaban namja itu.

“Kau datang kemari setelah mendengar pernikahan putriku batal, atau memang itu yang kau inginkan?”

“Mianhamnida ahjussi, ahjumma, anda boleh menyebutku laki-laki pengecut yang tidak bisa mengatakan dengan jujur kepada putri anda tentang euhmm…tentang perasaan saya selama ini, tapi sepertinya Tuhan memberikan saya satu kesempatan untuk mengungkapkannya”

“Jadi batalnya pernikahan putriku merupakan kesempatan dari tuhan?”

“Maaf jika saya mengartikan seperti itu, pada awalnya saya mengira tidak akan memiliki kesempatan lagi saat mendengar tentang kabar pernikahan Soora, tapi sepertinya saya salah dan jika diijinkan saya akan mengambil kesempatan itu dan tidak akan mensia-siakannya.”

“Kyuhyun~ssi apa kau bersungguh-sungguh mencintai Soora?” Kali ini suara lembut eomma Kim Soora yang berbicara

“Ahjumma saya tidak pandai berkata-kata karena perasaan saya terhadap Kim Soora tidak bisa digambarkan dalam sebuah kalimat, tapi saya yakin hanya kepada dia jantungku bisa berdetak diluar kendali”

“Eheem” Ayah Kim Soora  berdeham mendengar jawaban Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum kaku melihat reaksi ayah Soora.

“Jadi kau kesini ingin menyatakan cinta? Dan membicarakannya di depan kami..hhhhh anak muda jaman sekarang” Entah disadari atau tidak wajah ayah Kim Soora terlihat sedikit canggung saat mendengar pengakuan Kyuhyun tadi

“Yeobo, kau seperti tidak pernah muda saja, bukankah jawabanya sangat manis? Kyuhyun~ssi apa tujuanmu datang kemari untuk menemui Soora?”

“Putriku tidak ada dirumah, jadi kau sia-sia datang kemari” Perkataan ayah Soora membuat Kyuhyun sedikit tersentak, namun ia berusaha tenang meskipun titik-titik keringat dingin muncul di dahinya.

“Saya tahu tentang hal itu, saat ini dia sedang berada di Paris”

“Darimana kau tahu putriku berada di Paris?”

“Seseorang telah memberitahu saya sebelumnya”

“Jika kau tahu itu lalu untuk apa kau datang kemari?”

“Sebenarnya tujuan saya kemari untuk meminta ijin pada anda sebelum saya menjemput Soora ke Paris, mungkin ini terdengar konyol, tapi saya sangat bersungguh-sungguh akan hal ini”

Kyuhyun menarik nafasnya dalam sebelum ia mengutarakan apa yang membuatnya bertandang ke rumah Soora.

“Mohon ijinkan saya untuk berada di sisi Kim Soora sebagai seorang namja”

Dapat dilihat dengan jelas ketegangan diwajah Kyuhyun saat ia berbicara dengan kedua orang tua Soora, terlebih lagi ayahnya yang membuat nyali Kyuhyun sedikit menciut, tapi demi mendapatkan gadis yang ia cintai ia rela melakukan hal apapun, dan ini baru pertama kali dalam hidupnya ia mengungkapkan perasaannya di hadapan kedua orang tua gadis yang sudah memenuhi hati dan pikirannya.

“Aigoo, jadi kau meminta ijin untuk berpacaran dengan putri kami? Dan menjadi kekasihnya? Aigoo, baru kali ini aku mendengar pengakuan manis seperti itu” Reaksi eomma Kim Soora tepat mengenai apa yang dimaksud Kyuhun dan itu berhasil membuat wajahnya memerah karena malu,  dan di sisi lain seulas senyum dapat terlihat di wajah ayah Soora, namun ia segera menghentikannya sebelum Kyuhyun melihatnya, istrinya yang menyadari hal itu hanya menahan tawanya melihat reaksi suaminya itu.

“Hei anak muda, kau yakin sekali bisa menjadi kekasih putriku satu-satunya”

“Saya yakin akan hal itu saat mendengar ia membatalkan pernikahannya dan karena dia  juga memiliki perasaan yang sama sepertiku”

Mendengar jawaban Kyuhyun, ayah Soora mengambil cangkir dihadapannya, lalu meminumnya dalam seteguk, seperti kehilangan kata-kata karena ia tahu bahwa jawaban namja ini benar, sedangkan Kyuhyun hanya diam memperhatikan reaksi laki-laki tersebut

“Kyuhyun~ssi ahjuma tidak tahu kalau Soora memendam perasaan seperti itu terhadapmu, dia tidak pernah menceritakannya pada kami, dan ahjumma bisa merasakan sakit hatinya saat ia mengira orang yang dicintainya tidak memiliki persaaan apapun padanya, tapi ahjumma salah setelah mendengar cerita dari sahabatnya, Hyorin” Kyuhyun merasakan kembali apa yang ia rasakan saat itu, menjadi seorang pengecut terhadap perasaannya sendiri dan membuat Soora merasakan tersiksa akan perasaan yang sama.

“Ahjumma hampir pingsan saat tiba-tiba ia membatalkan pernikahannya di tengah upacara pemberkatan, tapi setelah mengetahui dan memahami apa yang dirasakan Soora, kami bisa memaklumi itu”.

“Bawa kembali putriku dari Paris dan tak kurang satu apapun dari dirinya, dia pergi tanpa mengetahui hal ini, dan ingat jangan menjadi pengecut jika kau ingin memilikinya” Ayah Soora bangkit lalu meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam, seketika wajah bahagia tak dapat disembunyikannya.

Rasa gelisah dan tegang yang sedari tadi menyelimutinya menguap seketika saat mendengar kalimat terakhir ayah Soora, dan itu menandakan bahwa mereka telah memberinya lampu hijau.

Senyum diwajahnya pun masih tercetak dengan jelas saat ia melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, beban yang menghimpit dadanya selama bertahun-tahun seakan-akan menghilang tanpa jejak.

Bersamaan dengan itu ia melihat satu pesan dilayar ponsel genggamnya

‘Jaga dia selama di Paris dengan baik atau kalau tidak aku akan mengambil kembali calon pengantinku!!!!’

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, gomawo Hyung, aku akan membawa pulang gadisku” Ia bergumam pada dirinya sendiri setelah membaca pesan singkat dari seseorang, Lee Donghae.

Dengan gerakan cepat, jari-jari tangannya menekan tombol speed dial dan menghubungi seseorang disebrang telfon

“Jungsin~ah antar semua barangku ke bandara, aku berangkat ke Paris hari ini”

~TBC~

Holla readers, aku kembali lagi membawa sekuel My first Love, dan ini adalah chap 1, maaf ya klu d chap ini ceritanya bertele-tele dan mungkin membosankan, dan banyak typo sana sini, mian. Tadinya mau aku bikin si Hae jdi nikah ma Soora, truz si Kyu jdi frustasi n’ akhirnya bunuh diri *wuiihh sadis #OkAbaikan. Trus maaf lgi klo chap brikutx agak lama ngepostx, tpi tetep ak usahain utk cpt *emang ad yg nunggu?? =_=.  Dan mksi buat reader yg uda nyempetin baca.

32 thoughts on “I Belive The Destiny [sekuel : My First Love] chapter 1”

  1. yyaaa ammppuunnn…
    janji’nya donghae manis banget dah..
    walopun batal nikah tapi donghae tetep ajah baik…
    aahhh..
    manis banget cerita’nya..

    kyuhyun…
    ayo semangat..
    bawa sora jadi istri muu…^_^

    1. semanis aku ya chingu janjinya…hhehe #abaikan
      gomawo chingu, aku kira pat ini membosankan
      gomawo juga ud maw nyempetin baca

    1. dari dulu bang ikan emang keren..^_^
      Kyu ud dpt cinta dari aku..#plak
      ok gomawo ud nyempetin baca ^_^

  2. akhirnya … sequelnya muncul juga…
    aduh kasihan banget ama bang ikan…
    udah bang kesini aja ama aku…
    hahahaha
    bagus kyu, aku suka cara mu yang langsung minta izin ke ortunya soora…
    semoga berakhir dengan manis…
    cozaku gak suka sad ending…
    nice ff cingu…
    lanjutannya di tunggu

    1. Iya maaf ya bru skrg munculx
      Waah aku jhat bgt ya smpe bkin bang ikan kya gtu…ya ud bwa plang gih bang ikanx…kkekeke
      Wah aku mlah excited sm yg nmax sad ending,,bwahahah *ktawa ala kyu
      Btw gomawo ya ud mw nympetin bca

  3. Ya ampun ini keren banget author, aku bacanya sampe ikutan mau nangis lho, apalagi di bagian flash backnya itu, Hae kamu sama aku aja sini, aku akan terima dgn tangan terbuka deh, hahaha
    Ditunggu kelanjutannya ^^

  4. Aku berharap cerita ini berakhir bahagia.Kyu gantle bgt si.. Berani ketemu langsung sama calon mertua., di tunggu next partnya

    1. aku jg berharap kya gtu…hhehee😄
      iy Kyu hrus gentle klu maw ngedapetin aku….*abaikan.yg.ini
      btw gomawo ud mw nympetin baca

  5. huwaaa…
    ngrsain bngt skit‘a abang donghae,,mnghujam jntung bngt tuh
    oia ngmong2 slam kenal ya..
    crta‘a bgus bgus,,seru seru
    knpa soora‘a g d‘buat nikah aja sma donghae,,biar konflik‘a makin greget gtu
    kpan lnjutan‘a??
    d‘hrapkn jng trlalu lma ya,,pkoe d‘tnggu next chapt‘a…

    1. Dihujam pke ap??kkeke
      Iaa slam knal jga chingu
      Ad jg yg blang seru+bgus…gomawo
      G dbikin nikah ma hae,biar hae’ x ntar sma akuh..*ngayal
      Next partx dtunggu aj ya,,,nie lg ngebuut,,wkekeke
      Btw mksi ud mw nympetin bca

    1. Iye,kesian ya,,kug ad namja kya gtu????*eh
      klo soora diembat bule,kyu’x bwt akulah…kkeke
      Btw gomawo ud mw nympetin baca

  6. g bosenin kok. .
    keren. .
    bang donghae ngelepasin soora demi orang yg sangat dicintai soora. .
    so sweet. .
    lanjutin. .

    1. Huwaa mksi chingu,ud blang kya gtu,,*jadi.malu
      Pdhal ak ngerasa part ini bkal gagal
      Ntar si donghae sma aku,,bkal jdi so sweeeet gk. ,*pletak
      Btw gomawo ud mw nymptin baca

  7. Annyeong..
    Woooaah ahirnya sequelnya publish euy..
    Hip hip horaaay \(•^▿^•)/
    Mwoya..!! Mau bikin kyu frustasi & bundir..
    Jgn chinguuuu (╥﹏╥)
    Haiiisshh sumpah haeppa disini laki2 langka bgt yg super duper baikkkk bgt pe mau merelakan cintanya dilepas wat kyuuu..
    Soora berdoa biar haeppa mendptkan wnita yg menjadikan haeppa sbagai tokoh utama dihidupnya..?? Aqu donk.. *plaaak diserbu elfishy
    Hmm part bagian kyuuu dikit amat pdhl masih kangen ama kyuuu tp gpp lah.. Tetep qu nanti lanjutannya..
    Kyuhyuuuun~ah.. Fiiighttting (ง’̀▼’́)ง !!
    *mianhae udh koment gaje ya chingu

    1. anyeong jg chingu
      Iy mian sekuelx bru trbit skrg
      Iy nie pkirn ngebuat kyu frustasi smpeg bnuh diri smpat trlintas di otakku…bwahahaha *evil.laugh..tpi gk tega,ntr ak digantung sm sparkyu..kkekeke
      Iy laki2 kya donghae hrus dilindungi jgn smpai punah..hheehe
      Donghae ud jdi tokoh utama dlm hidupku kug,,*gk.nanya
      Iy bag kyu dsini emank dkit,tpi porsix bkal bnyak di part slnjutx kug..
      Btw gomawo ya ud mw nympetin baca

  8. woooaaaaa,bru liat da sekuel’y…
    Ksian bgt sma hae,knp seh sllu jdi org k’3 yg sllu ngalah demi org yg d’cintai..😦

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s