Someone Like You (1st Story)

Author : Haretami

Casts : Donghae, Yoona, Kyuhyun, Donghwa, and others.

Genre : Romance, hurt, angst, sad

Rate : Parental Guide +

Kyuhyun lagi, yah sudah aku katakan kalau imajinasiku akan lancar, ngetik jadi lancar, menyuarakan isi hati juga lancar dan semua serba lancar jika membayangkan wajah si evil. Kemarin- kemarin emang aku buat cuman yg oneshot… tpi sekarang, ga tau deh baca aja sendiri… *plaaak

Oh, ya judulnya nyambung ga ya? *baca aja belum… Terserah deh. Up to you. Yang penting kan jalan ceritanya! Lagian selama ini juga ga ada tuh yang mempermasalahkan judul. Jadi aku ceplas ceplos aja narik judul lagu itu.

Ehm, mianhe soal …covernya… #asaledit…

Donghae Pov

“andhwe… jangan masuk! kalian bisa melukai ibuku lagi! Ia baik- baik saja! Setiap malam aku selalu menjaganya!”

“geurae?”

langkah kami terhenti di depan pintu kamar bernomor 706. Aku memerhatikan yeoja yang merentangkan tangannya di depan pintu kamar itu. dan aku tau itu kamar ibunya yang akan segera kami check up ulang karena penyakitnya yang semakin memburuk setiap hari. Kedua suster dan satu orang asisten di sampingku juga menatap iba pada gadis yang sekarang telah menangis sejadi- jadinya itu. Aku tau ia sangat menyayangi ibunya, tapi bagaimanapun juga kami harus masuk untuk memeriksa keadaan ibunya. Ia meraung dalam lemah dan akhirnya seorang suster ku suruh untuk menenangkan gadis malang itu.

“ibumu akan baik- baik saja. Kami akan mengobatinya!” aku berusaha membuatnya mempercayai kami untuk memulihkan keadaan ibunya.

“ahni… setiap hari kalian selalu memeriksa ibuku, tapi hasilnya apa?” sekarang ia mulai menyeka air matanya dan menghentikan tangisannya. Ia berkata dengan penuh amarah dan aku hanya terdiam. Benar yang dia katakan. Aku hanya sekedar memeriksa ibunya tanpa membuat keadaan wanita tua yang terserang virus penyakit Xeroderma Pigmentosum  itu menjadi bertambah baik. Memang tidak ada yang dapat ku lakukan, penderitan virus XP sangat langka dan bisa di hitung dengan jari di seluruh korea atau asia. Sampai sekarang ilmuan di belahan dunia manapun masih belum menemukan obatnya. Aku sendiri, setiap hati selalu mencoba membuat penemuan bahkan sering kali kelinci- kelinci percobaan tak berdosa itu mati begitu saja oleh obat yang ku buat. Yah benar saja, aku belum dapat menemukan penyebab virus itu melanda tubuh manusia, makanya sangat sulit untuk menghilangkan virus jenis itu.

“mianhe, kami sudah berusaaha setiap hari untuk menemukan obatnya. Tapi tetap saja, penyakit itu belum terdeteksi penyebabnya dan sampai sekarang belum ada yang berhasil… “ aku berkata lirih dengan kejujuran sepenuhnya. Gadis ini katanya baru saja menyelesaikan kuliahnya, jadi tidak mungkin lagi ku bohongi. Cepat atau lambat dia akan tau dan harus menerima keadaan akhirnya.

“eomma….hiks.. hiks” ia kembali menangis dengan air mata yang sudah tidak terbendungkan lagi. Aku bertambah iba melihatnya yang setiap hari selalu berwajah sembab akibat menangis.

“geulaeseo , ulineun e heoyong ?…. jadi bolehkah kami masuk?” tanyaku pelan berharap aku juga tidak salah bicara.

“…” dia tidak merespon. Kemudian yeoja yang ku ketahui namanya Yoona itu terduduk di kursi panjang di samping pintu ruang perawatan ibunya. Ia menopangkan sikunya ke lutut dan buliran air matanya kembali berjatuhan.

Akhirnya aku pun masuk dan menyuruh salah seorang suster untuk menemaninya.

☆º°˚*★ o˚°º╰☆º°˚˚

Yoona Pov

Seandainya dari awal aku sudah menyesal,… maka… ah ahni! Itu tidak bisa lagi di sebut sebuah penyesalan. Sekarang apa? Tidak ada yang bisa ku lakukan. Selama ini aku tidak pernah membahagiakan ibuku. Aku tidak pernah memenuhi permintaannya dan malah melupakan semua yang diinginkannya dariku.  Aku menghiraukannya. Aku bahkan lebih mementingkan diriku dari  pada ibuku. Aku lebih peduli pada kuliahku dari pada ibuku. Aku lebih memilih pulang ke rumah teman hanya karena mengerjakan tugas- tugas kuliah dari pada pulang ke rumah ibuku. aku lebih suka makan bersama teman- temanku dari pada menemani ibuku sarapan setiap pagi. Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk mengobrol hal yang tidak penting dengan teman- temanku dari pada mendengarkan nasehatnya. Aku….

Well… sekarang, sekarang aku tau apa yang seharusnya aku lakukan dari dulu. Cukup memenuhi permintaannya maka bebanku atas ke salahanku kepada ibuku akan mulai berkurang. Ne, hanya dengan melakukan apa yang diinginkannya, maka itu sudah cukup baik untuk kesehatannya.

Permintaannya dari dulu cukup simpel dan ku pikir tidak akan pernah menyulitkanku. Dan aku sendiri malah menunda- nunda untuk membahagiakannya. Ia mengingikan aku menikah dengan temanku sendiri,kyuhyun. Seorang dokter yang sudah diakui kepintarannya yang sekarang sudah pindah ke amerika. Bulan lalu dia menikah dengan Seohyun dan mereka pindah ke luar negeri meninggalkan luka di korea, di hatiku.

Aku tidak terlalu tertarik pada sahabatku itu, tapi tetap saja kalau ada yang menikahkanku dengannya aku pasti aku tidak punya alasan untuk menolak. Ia tampan, pintar, dan sangat mengagumkan untuk menjadi suami bagi yeoja manapun. Dan sekarang Seohyun lah orang yang di takdirkan untuk mendapatkan keberuntungan yang tak terhingga itu. ia akan hidup bersama dengan kyuhyun selamanya dan merebut namja idaman ibuku dariku. Memang semuanya terjadi begitu cepat dan tidak disadari oleh mereka.

Ibuku sudah berencana akan menikahkanku dengan pria itu. tapi, sudahlah permintaan ibuku sekarang sudah terkubur oleh takdir yang berpihak pada seohyun.
“gwenchanayo?” seorang pria tiba- tiba sudah duduk di sampingku saat aku tengah melamun di taman rumah sakit.

“gwenchana!” aku pun menegakkan tubuhku dan merubah posisi dudukku. Dia ternyata seorang dokter. Tapi kenapa wajahnya mirip sekali dengan dokter yang kemarin? Apa dia orang yang kemarin?
ah, ahni yang masuk ke kamar ibuku kemarin tidak seperti ini. Ada yang berbeda!
“eoseooseyo?”

“naa!” jawabku pelan. Meskipun aku merasa sangat kacau hari ini, tapi tidak mungkin juga ku bilang kondisiku sangat buruk padanya hari ini.

“donghwa imnida” ia menjulurkan tangannya ke arahku dan perlahan aku menerima jabatan tangannya. Pandangan pertama bertemu, hm ku pikir dia orang yang baik.

“Yoona imnida” aku membalas uluran tangannya dan tersenyum ramah. Ia juga tidak kalah ramah dengan senyum menawan yang dimiliki seorang dokter ini. Ya, dia masih mengenakan jas dokternya makanya aku tau. Ugh, pasti setiap orang yang berobat dengannya akan langsung sembuh dengan hanya melihat kilauan di wajahnya! Pikirku kagum.

“bagaimana keadaan ibumu?” tanyanya dan aku kembali tertegun, teringat akan setumpuk masalah besar yang harus ku terima saat sekarang ini. Teringat akan tugas berat untuk memenuhi keinginan ibuku.

“ah, kau dokter yang kemarin?” tanyaku karena sudah ku katakan wajahnya 90 persen sangat mirip dengan dokter yang kemarin ku larang masuk ke ruang perawatan ibuku. Tapi kenapa instingku mengatakan dia bukan dokter yang selama ini menangani penyakit ibuku?
“ahni… aku di bagian psikolog. Mungkin yang kau lihat kemarin dokter penyakit dalam yang mirip denganku. Donghae!”

“oh, jadi kembaranmu namanya donghae?” tanyaku langsung respek danmerasa dia juga tidak terlalu tua di atasku.

“ahni, dia adikku” owh, pantas saja mirip.

“lalu dari mana kau tau tentang ibuku?” tanyaku lagi teringat akan pertanyaan awalnya.

“donghae menceritakannya kemarin bahwa ada yeoja yang menangis karena tidak ingin ibunya di periksa olehnya. Dan ternyata itu kau!” ia mengakhiri kalimatnya dan aku mengulang ingatakan akan peristiwa kemarin. Memalukan memang aku sebesar ini menangis di depan dokter yang namanya donghae itu.

“ibuku sebentar lagi akan pergi. Donghae ssi mengatakan ia tidak berhasil menemukan obat untuk penderita virus XP atau menyembuhkannya secara total. Penyakit yang sangat langka itu dengan sialnya bercokol di tubuh ibuku!” aku mulai terisak dengan kepergian ibuku yang mungkin tinggal menhitung hari untuk melepaskannya selamanya.

“mianhe… aku sekarang hanya berusaha membuatmu tidak terlalu jatuh dengan masalah ini. Hidup mu tidak akan seburuk yang kau bayangkan bila ibumu sudah pergi.” Ia dengan tulus menenangkanku. Padahal aku baru saja mengenalnya dan dia juga tidak tau tentang ku sedikitpun, tapi hatinya begitu murah untuk menyemangatiku. Aku merasakan ketulusannya!

Andai saja kyuhyun bersikap seperti ini? Hadir di saat- saat aku seperti ini? Andai saja dia belum menikah?
ah, ahni… aku tidak boleh memikirkan kyuhyun lagi. Aku yakin tipe ibuku bukanlah seperti kyuhyun seorang. Masih banyak yang lebih baik darinya. Iya, aku harus berusaha sebelum ibuku pergi.

“ne… aku sudah sabar dan rela akan virus XP jahat itu hinggap pada tubuh ibuku. Tapi yang aku sesali aku belum dapat memenuhi keinginannya!”

Aku menunduk ke bawah memandangi lantai- lantai trotoar di taman ini. Buliran air mata jatuh mengenai  sepatu kets yang ku pakai ini. Sontak aku langsung saja ingat, kalau sepatu ini adalah hadiah dari kyuhyun saat ulang tahun ku yang ke- 17. Waktu itu kami memang tidak berpacaran, tapi ia bahkan rela mencari kerja tambahan di liburan musim dingin untuk membelikan hadiah itu kepadaku di ulang tahun spesialku. Ia teman yang baik dan membuat ibuku semakin menyukainya.

Aku tidak terlalu sering memakai kets hijau lumut yang lumayan trendy ini. karena sering- sering di pakai itu akan membuatnya cepat rusak dan ini juga kenangan terakhir darinya. Bahkan saat kuliah aku dan dia sangat jarang menghabiskan waktu bersama karena kami sudah saling sibuk. Jadi di masa SMA lah ibuku sangat tertarik padanya dan dia juga sering mampir ke rumahku waktu itu.

“kalau aku boleh tau apa itu?”

aku kembali tersadar dari lamunanku. ku angkat kembali kepalaku dan menyeka air mataku dengan tangan- tangan yang tidak dapat menyerap air ini. pria di sampingku pun memberikan sapu tangannya padaku.

“ibuku ingin aku menikah dan hidup bahagia!” jawabku jujur karena juga tidak ada gunanya aku menyembunyikan hal ini.

Aku menatapnya dan dia hanya terdiam. Tampak ada sesuatu yang ingin di katakannya tapi entahlah. Apa iya atau tidak yang jelas raut mukanya langsung aneh ketika ku akhiri kalimatku barusan.

“apa yang bisa ku bantu?” ia kembali menatapku dan pandangan kami saling bertemu. Aku ketahuan menatap wajahnya dan langsung memalingkan muka karena tidak enak juga saling berpadangan dengan orang ini.

“sejauh ini kau sudah membantuku. Nasehat- nasehatmu tadi sangat berguna! Ghamsahamnida” aku bangkit berdiri sambil menyandang tas selempang di bahu kiriku.

“…” aku pun berjalan dan dia tidak merespon sama sekali. Aku bahkan tidak berani menatap ke belakang. Aku yakin dia tengah memperhatikanku sampai tubuhku hilang dari pandangannya.

Flashback

Sweet Memory With You

“apa itu ?” tanyaku pada kyuhyun ketika kami pulang bersama setelah kelas hari ini berakhir.

Ia pun mengeluarkan  sesuatu dari kantong plastik yang dijinjingnya dan aku masih belum dapat menebak apa akan yang dilakukannya. Ia mengeluarkan balon karet yang belum di isi udara itu dan kertas warna- warni serta tidak ketinggalan dua buah pulpen.

“ayo kita ke menara itu. pasti enak melihat pemandangan di sore hari seperti ini!” ia kembali memasukkan barang- barang yang di bawanya tadi ke dalam tasnya. Dan menarik tanganku menuju tempat pembelian karcis untuk dapat naik ke puncak tertinggi di menara dekat sungai han itu.

Petugas tempat ini memandang tidak setuju ke arah kami.

“hei, seharusnya pulang ke rumah dulu baru bermain kesini!” ujar si petugas cerewat begitu melihat sepasang siswa SMA yang masih berseragam seperti kami ingin membeli tiket.

“ah, sebentar saja!” bantah kyuhyun seraya mengeluarkan uangnya dan akhirnya si petugas memberikan tiketnya. Aku masih menatap kyuhyun aneh.

“untuk apa ke menara ini? bukankah tempat ini sudah sangat sering kita kunjungi! Pemandangannya juga tidak pernah berubah! Lagian kenapa kau langsung saja menarik tanganku?”

“ah, sabarlah, sampai di atas nanti kau akan tau sendiri.” ia tersenyum licik dan tidak lupa mengedipkan sebelah matanya kepadaku.

Aish, pria selalu melakukan hal seperti ini untuk membuat wanita menurutinya.

~*~

Pintu lift terbuka dan kami beranjak keluar diikuti dengan pengunjung lainnya. Kami sampai di atas dan hari belum terlalu gelap. Tapi orang- orang sudah tampak ingin turun karena tidak lama lagi matahari akan terbenam.

Kyuhyun kembali mengeluarkan barang- barang yang di bawanya tadi. Aku terus memerhatikannya yang sibuk sendiri tanpa memberi kejelasan sedikitpun. Padahal pikiranku sudah di liputi tanda tanda tanya sedari tadi!

“tulis harapanmu disini!” ujarnya menyodorkan 7 lembar kertas kecil yang berwarna- warni itu kepadaku.

Aku langsung tertegun. Kertas_ harapan_ dan balon. Satu lagi, tempat tinggi seperti menara ini?

Kyuhyun tampak sudah mulai menulis di kertas- kertasnya dan aku belum memulainya. Aku tidak percaya ia bisa memiliki rencana seperti ini.

“ayo, nanti keburu malam dan gelap!” ia menegurku dan aku langsung meraih pena.

Ku tulis semua keinginan dan harapanku di tujuh kertas itu.

“oh ya, jangan lupa di gulung!”

  • Semoga eomma selalu sehat dan kami bisa hidup bersama meskipun appa sudah pergi lebih dahulu.
  • Semoga aku lulus dari SMA  dengan nilai yang baik dan melanjutkan ke universitas kedokteran
  • Semoga aku bisa selamanya berteman dengan kyuhyun
  • Semoga semua orang yang menyayangiku berkumpul di sampingku secepatnya
  • Aku ingin makan coklat dan es krim coklat setiap hari
  • Aku ingin jika aku besar nanti aku mendapat suami yang yang baik dan juga kaya!
  • Aku ingin semua orang selalu baik seperti kyuhyun

“kau sudah siap?” tanya kyuhyun melirik kertasku tapi langsung ku tutupi dengan tanganku.

“ne… jangan di lihat!” ingatku karena matanya terus memandang kertas- kertasku dan tampak sekali ia ingin tau.

“oke, kalau begitu di sini ada 15 balon. Aku tiup 10 buah dan kau 5 buah!” kyuhyun menyodorkan balon- balok berwarna- warni itu dan ia sudah mulai meniupnya.

Aku hanya tertawa kecil melihatnya. Sekarang ia bahkan sudah meniup 3 buah balon sedangkan aku dari tadi hanya menatap mukanya yang sudah memerah kekurangan oksigen. Haha…
aku pun mulai meniup balon- balon itu dan akhirnya selesai juga.

Kami melihat ke sekeliling dan ternyata tidak ada lagi orang yang mengunjungi menara ini. syukurlah tidak akan ada yang tertawa melihat tingkah kami.

Satu lagi yang kurang, kyuhyun mengeluarkan benang- benang yang sudah di gunting- guntingnya. Kemudian sebelum mengaitkan tali- tali itu dengan balon kyuhyun menyuruhku untuk memasukkan kembali kertas- kertas harapan kami ke balon- balon itu.

“setiap balon diisi dengan satu kertas!” peringatnya.

Semua harapan sudah ku masukkan. Begitu juga dengan dirinya.

“kenapa ada 15 balon? Yang satu lagi? Apa untukmu ada 8 harapan?” tanyaku banyak karena ia tampak tidak berinisiatif untuk menjelaskan sebelum ku tanyakan.

“ahni,aku juga menulis 7 buah harapan. Ini kertasnya masih sisa satu lagi! Tulis namamu disini!” ujar kyuhyun dan aku pun hanya menurutinya. Ia yang membuat rencana dan aku,well… hanya menuruti alur perintahnya.  

Kemudian dia menulis namanya di kertas yang sama lalu menggulung kertas itu dan memasukkannya dalam ke dalam balon yang ke- 15.

Sekarang semuanya sudah selesai. Aku memegang erat tali- tali ke tujuh balon yang berisi semua harapanku. Dan kyuhyun memegang 8 buah tali balon.

“AYO, KITA TERBANGKAN…” teriak kyuhyun di telingaku. Ia langsung berlari ke arah jendela di menara ini dan berdiri di atas kayu- kayu jendela besar itu. sikap kekanakannya kembali lagi. Pikirku dan tetap mengikutinya.

“PERTAMA…. AKU INGIN LULUS DARI SMA DENGAN NILAI YANG BAIK…” teriak kyuhyun dan aku hanya tertawa. Harapan yang sama. Aku juga menerbangkan balonku satu per satu tapi tidak ku sebutkan atau ku teriaki seperti halnya yang di lakukan kyuhyun.

“AKU INGIN SELAMANYA MENJADI TEMAN BAIK IM YOON AH…

AKU INGIN MASUK KE UNIVERSITAS KEDOKTERAN…

 AKU INGIN MEMILIKI ISTRI PUJAAN DAN DAMBAAN SEMUA ORANG…

 AKU INGIN MENJADI YANG ORANG KAYA RAYA…

 AKU INGIN DI KAGUMI BANYAK ORANG…

AKU INGIN MENGOLEKSI SEMUA JENIS GAMES DI DUNIA INI…” kyuhyun mengakhiri teriakannya seiring balon- balon terakhirnya juga sudah terbang. Tinggal balon nomor 15 yang belum di terbangkan.

“haha… mengoleksi semua jenis games. Kau tambah aneh ternyata!” komentarku yang masih terkekeh mendengar harapan terakhirnya itu.

“ah,yoona… apa balonmu sudah kau terbangkan?” tanyanya tiba- tiba dan aku akhirnya berhenti tertawa.

“apa kau tidak lihat? Saat kau menerbangkan balon-mu aku juga ikut menerbangkannya!”

“tapi, kenapa tidak terdengar suaramu sedari tadi?”

“tentu saja. Aku mengucapkannya di dalam hati. Lagian suaramu tertalu keras jadi suaraku akan kalah telak!”

“aish… seharusnya kau tunggu aku selesai dulu. Baru menerbangkan punyamu. Aku kan juga ingin tahu apa saja harapanmu!” kyuhyun tampak jengkel.

“lagian, kau juga tidak memberi tahuku sedari tadi. Mana aku tahu!” aku mencibir ke arahnya dan seketika kejengkelannya langsung hilang. Mungkin karena ia menatap wajahku.😉

“baiklah… tidak masalah. Nantinya juga bisa kau sebutkan. Sekarang ayo kita terbangkan balon terakhir ini!” kyuhyun kembali tersenyum dan meraih tanganku untuk ikut menerbangkan balon itu bersama. aku dan kyuhyun memegang tali balon itu.

“hana …du…  sam… wusssh…” balon terakhir terbang dan dengan cepat angin membawanya untuk di sampaikan kepada tuhan.

“semoga balonku selamat sampai di tujuan!” harapku memicingkan mata.

“nado… aku juga berharap seperti itu!”

~*~

                Itulah kenangan terakhir yang kami ukir berdua. Persahabatan yang sangat indah. Hari selanjutnya kami mengikuti ujian kelulusan di SMA.

Flashback end

☆º°˚*★ o˚°º╰☆º°˚˚

Donghae Pov

“ini, coba berikan antiseptik sementara! semoga ia bisa bertahan lebih lama lagi. Dan peringatkan pasien agar benar- benar menjaga waktu minum obatnya!” aku memberikan suntikan yang berisi cairan penenang dan untuk pertahanan tubuh itu kepada seorang suster yang bertugas merawatnya.

“ne…” suster itu pun pergi menuju kamar pasien penderita XP itu.

Sampai sekang aku masih tidak habis pikir kenapa dia bisa terkena virus XP?! Karena menurut penjelasan putrinya minggu lalu ia tidak terlalu sering bekerja di depan komputer atau di bawah sinar matahari. Dan rumah yang ia tempati juga jauh dari ransangan sinar ultraviolet secara langsung! Lalu faktor apa yang sebenarnya menimbulkan penderita XP tidak bisa bertahan lama?

“donghae ya?” donghwa hyung datang mengejutkanku dan tampaknya ia sehabis berlarian dari luar sana. Ia masuk ke ruanganku sambil mengatur nafasnya.

“wae?  Hyung, Apa kau berlarian ke sini?” tanyaku ketika melihatnya sudah bisa bernafas normal lagi.

“ahni.aku hanya berjalan cepat ke sini! Apa wanita pengidap XP itu sudah…. ohhhh…” hyung-ku itu tampak ragu mengatakannya. Dan aku langsung tau apa maksudnya.

“belum!” jawabku langsung. “…Dia masih bisa bertahan kalau aku cairan antiseptik tadi mampu melawan virus XP itu!”

Ujarku menatap kosong ke depan. Bagaimanapun juga belum ada yang dapat menyembuhkan penyakit mematikan itu! dan aku teruslah seperti ini! tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan nyawa seorang ibu dari gadis bernama im yoon ah itu.

“kau harus bisa. Berusahalah mencari pengobatan atau terapi semacamnya untuk wanita tua itu.” donghwa memasang tampang memohon padaku dan aku jelas saja kebingungan. Ada apa dengannya?

“tunggu dulu. Aku sendiri masih bingung dari mana kau tahu tentang pasienku itu!” aku meatap aneh kepada hyung di depan ku ini yang merupakan seorang psikolog.

“aku tidak tega melihat yoona!” ujarnya kemudian dan aku baru mengerti.

“kau mengenalnya? Sudah lama?”

“baru hari ini di taman”

“…” aku terdiam tidak tau harus berkata apa lagi. Kenapa jantungku tiba- tiba berhenti! Apa aku sedari kemarin sehalu prihatin melihat kondisi yoona yang bahkan lebih buruk dari ibunya. Gadis itu bahkan seperti orang gila kalau aku sudah masuk untuk memeriksa ibunya!

“dia bilang ia belum memenuhi permintaan ibunya. Jadi ia memohon agar ibunya tetap di rawat dengan baik sampai ia bisa melakukan apa yang di inginkan ibunya. Aku benar- benar iba melihatnya!” aku tertegun dengan permintaan itu. siapa yang bisa menjamin nyawa ibunya? Perkiraanku 1 bulan lagi itu yang paling lama. Lalu apa dia bisa melakukan hal itu? aku bahkan tidak tau sama sekali apa yang di inginkan ibunya!

“memang apa keinginan ibunya?”

“menikah! Dia harus menikah dengan pria tipe ibunya dan hidup bahagia.”

“geurae? Hm… kau yang menanyakan hal itu?” tanyaku kemudian.

“ne” jawabnya tidak berani menatap wajahku. Ya jelas saja, donghwa dengan menanyakan hal itu bukan berarti membuat keadaan yoona membaik, tapi malah menyusahkan keluarga pasienku. Aish… aku jadi meragukan apakah dia tidak salah bekerja sebagai psikolog?

☆º°˚*★ o˚°º╰☆º°˚˚

Yoona Pov

“kau sangat boros!” ujarku kemudian meneguk air mineral dari sebuah kaleng plastik.

“waeyo?” kyuhyun memasang wajah keheranan ke arahku. ia mamalingkan tatapannya ke arah yeoja malang sepertiku di tengah keindahan pemandangan sungai han di sore hari.

“menghabiskan uangmu hanya untuk datang kesini!” ujarku kemudian.

“aku merasa wajib menemuimu di saat keadaanmu seperti ini.” ungkapnya dengan suara tulus tapi aku yakin itu hanya ungkapan palsu dari mulutnya. Hatinya tidak mengatakan seperti itu.

“gomawo” hanya itu yang bisa ku katakan.

“seohyun tidak bisa pergi. Mianhe!”

“gwenchana… bagaimana keadaannya?” tanyaku meskipun itu sangat sakit.

“sekarang dia sedang tidak enak badan. Makanya ia tidak kuat untuk berpergian jauh kesini!”

“kau keterlaluan!” ujarku menatap nanar ke arahnya. “istrimu jelas- jelas sedang sakit tapi kau malah meninggalkannya dan datang kesini!” aku tidak suka dengan sikapnya seperti itu. bagaimanapun perjuangannya tapi aku tidak akan luluh oleh ucapannya itu. luka di hatiku masih tumbuh dan akan kuingat selalu selama aku masih bisa melihatnya.

“justru karena aku peduli makanya aku datang menemanimu kesini. Aku tidak tau siapa yang bisa menemanimu disini. Seohyun disana tidak akan apa- apa. Aku mengkhawatirkanmu!”

Aku hanya diam seribu bahasa memikirkan perhatian macam apa ini?

“kau tetap menjadi teman baikku. Selamanya!” ujarnya kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Oh tuhan, apa yang dilakukan pria yang sudah menikah ini?

Aku tau pelukannya yang sangat hangat ini sangat nyaman untukku mengingat keadaanku akhir- akhir ini. tapi tidak, aku tidak ingin menambah luka baru dan bermusuhan dengan seohyun. Aku berusaha melepaskan tubuhku dari tangannya yang melilit pinggangku tapi tidak bisa. Ia terlalu kuat sebagai seorang pria.

“lepaskan! Apa yang kau lakukan?” ujarku tepat di depan dadanya.

Perlahan ia pun melepaskan tangannya dan aku pun merasakan jantungku sudah kembali berdetak normal.

“apa yang kau pikirkan?” aku bertanya memandang nanar lagi kepadanya. Ia benar- benar pria munafik yang melakukan hal itu kepadaku. Hal itu benar- benar melampau batas menurutku.

“mianhe… aku tidak bermaksud melukai hatimu!”

“sudahlah. Lupakan saja semua kenangan masa lalu. Kau sekarang sudah hidup bahagia, untuk apalagi mempersulit hidupmu. Hiduplah dengan tenang bersama seohyun. Aku tidak akan mengganggu kalian!” aku menunduk tidak ingin menatap wajahnya. Jangan sampai dia bernafsu lagi untuk menyentuhku. cukup istrinya yang merasakan kehangatan itu bersamanya sampai akhir.

“kita tetap menjadi teman baik bukan?”

“tentu” jawabku tersenyum tipis melihat kilauan indah di wajahnya.

“kalau kita ingat- ingat lagi, kesalahanku jauh lebih banyak kepadamu. Aku selalu menyusahkanmu. Aku tidak pernah membuatmu tertawa dari dulu. Aku selalu menjailimu. Dan sekarang aku meninggalkan luka yang sangat dalam untukmu. Aku menyadari semua itu!”

Ia beralih ke topik semula dan aku sama sekali tidak ingin membicarakan hal itu sekarang.

Tanpa ku sadari air mataku yang sudah tidak terbendung jatuh begitu saja mengalir ke pipiku. Kyuhyun menatapku iba kemudian dia memberikan sehelai tisu untuk mengusap air mataku.

“mianhe… dari dulu aku tidak memiliki perasaan padamu.” Ujarnya dan tenggerokanku rasanya sangat tercekik untuk memberi tahu bahwa aku juga tidak pernah menyukainya. Ibuku saja yang selalu memujanya di depan telinganya dan ia malah tersipu- sipu waktu itu. ibuku bahkan mengatakan terang- terangan kalau ia akan sangat bangga mempunyai menantu seorang dokter seperti kyuhyun.

Aku menunduk meratapi nasibku. Sebenar ini yang harus ku lakukan, menikah dengannya agar ibuku bisa tenang saat ia sudah pergi ke tempat peristirahatannya. Tapi, tetap saja benih- benih cinta sama sekali tidak hinggap pada diriku begitu juga dengan dirinya. Kami salah menafsirkan cinta yang tumbuh saat kami masih bersahabat waktu itu.

“ini semua keinginan ibuku. Tapi aku sama sekali tidak ingin melukai hatiku sendiri juga hatimu. Tidak masalah kalau kita tidak menikah. Kau tidak perlu menyesal tidak dapat memenuhi permintaan ibuku. Ibuku akan baik- baik saja. Ia akan cepat sembuh.” Aku berkata tegar menahan semua kisah pahit yang akan menimpaku untuk ke depannya. Hidupku tidak akan tenang setelah aku tidak bisa memenuhi wasiat terakhir ibuku nanti. Tidak ada harapan untukku.

Sangat mustahil kyuhyun akan bercerai dengan seohyun lalu menikah denganku demi ibuku! Tidak, itu tambah membuat hidupku tidak tenang. Ayo, yoona berpikiralah dengan baik. Dokter muda di dunia ini tidak hanya kyuhyun seseorang. Jenis seperti kyuhyun itu sangat banyak di temui di perkantoran rumah sakit! Pikirku menerawang.

“bolehkah aku meminta maaf pada ibumu?”  tanyanya pelan menyadari kesalahannya.

“mianhe. Ibuku tampaknya tidak bisa di bebani akhir- akhir ini. aku tidak kondisinya bertambah buruk apa lagi kalau mengingat dirimu…” auhhh, aku terhenti menyadari ucapanku yang salah ini.

“baiklah. Sekarang kau mau memaafkanku? Aku tidak ingin setelah ini kita malah bermusuhan gara- gara aku menyebabkan ibumu seperti itu!”

Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku tidak bisa lagi berbohong dan berkata manis di depannya. Ini semua murni kesalahannya tapi mulutku tidak bisa menyalahkannya begitu saja.

“…aku ingin pulang!” ujarku menghiraukan omongannya tadi.

Aku berjalan dengan langkah gontai. Taxi juga tidak ada yang lewat. Dan halte bis juga sangat jauh dari sini. Aku merasakan kyuhyun mematung di tempatnya. Ia sama sekali tidak mengejarku seperti dugaan awalku.

Aku berjalan makin cepat berharap tidak melihatnya lagi. Cukup hari ini kali terakhir aku bertatapan dengannya. Cukup sampai di sini luka yang datang ke hatiku.

“mianhe….” ia berlari dari belakang dan sekali lagi. Oh tuhan, apa- apaan ini. dia memelukku lagi dan kali ini jauh lebih erat dari yang tadi. Ia semakin merapatkan tubuhnya dan aku berusaha melepaskannya.

“lepaskan… lepaskan!!!” pintaku padanya. Jelas saja, ini di tengah jalanan malam dan apa kata orang yang lewat? Apalagi kalau ada yang mengenaliku dan pasti mereka tinggal berpikir aku sudah merebut suami orang? Atau yang mengenali kyuhyun dan mengatakannya pada istrinya di belahan dunia sana?

“ahni. Sebentar saja!” ujarnya dan semakin merapat.

“bajingan! Pria macam apa kau ini?” aku terus memberontak berusaha melepaskan cengkraman tangannya.

“10 menit saja! Biarlah orang- orang melihat kita!” ia terus beralasan dan berusaha memenuhi nafsunya. Dasar…

“ku peringatkan kau, kalau kau belum melepaskanku… kau… kau akan ku….. oh… kalau seperti ini terus akan ada pria lain yang tersakiti!” ujarku akhirnya berbohong karena memang ini satu- satunya cara.

Ia langsung melepaskanku dan hah… aku langsung menghirup nafas lega.

“apa maksudmu pria lain?” ia mencengkram bahuku dan aku sungguh tidak tau apa alasanku sekarang.

“jawab aku…” ia terus memaksaku dan menatapku dengan tatapan intensnya.

“apa urusanmu? Terserah pria mana itu karena aku bukanlah milikmu. Ingat itu!” ujarku memperingatinya tapi reaksinya yang ku harapkan malah sebaliknya. Ia menatapku marah dan menganggap kesalahanku sangat besar kepadanya.

Apa? Apakah aku pantas di sebut penghianat? Memangnya siapa yang lebih dahulu untuk menyakiti? Eh, apa aku menyukainya? Ah ahni… oh tuhan ada apa dengan jiwaku?

Kami masih berdiri di tengah jalanan malam yang sangat dingin. Aku hanya diam tidak tau ingin berbuat apa. Kalaupun aku akan mati karena tatapan tajamnya, yah sudahlah. Akan ku relakan nyawaku melayang di tempat seperti ini.

Ia terus mengomel tanpa menyadari apa yang di ucapkan oleh namja yang sudah menikah ini. apa haknya untuk membentakku?

“katakan… apa maksudmu pria itu?”

Tanpa ku sadari sebuah mobil mewah sudah berhenti di depan kami. Kyuhyun bahkan belum melepaskanku meskipun seseorang sudah berdiri di samping kami.

“lepaskan dia!” ujar si pria yang keluar dari dalam mobil dan kyuhyun akhirnya melepaskan cengkramannya. Tapi ia masih menatapku dengan wajah tajamnya.

aku menatap pria yang bersuara tadi. Dari situ aku yakin dari awal ia memang namja yang baik.

Ku lirik kyuhyun, sekarang namja itu malah menajamkan pandangannya ke arah sumber suara tadi.

Kemudian namja penyelamat tadi menarikku masuk ke dalam mobilnya dan kami pun pergi meninggalkan kyuhyun yang tengah mematung diri di jalanan itu!

☆º°˚*★ o˚°º╰☆º°˚˚

Tbc…

Hm… gimana- gimana?? Bingung ya? #sama… ^^

Awal- awal bacanya feelnya ga dapet, tengahnya juga, smpe terbaca tlisan tbc… eh feelnya ngawur kemana- mana… aku sendiri ngereadback,,, berasa asing sma cerita yg stu ini… awalnya mw buat oneshot lagi, tpi aku pkir- pikir lagi… apa salahnya readers di buat penasaran??? Haha…. *author tambah ngawur dan aneh!!!

Oh,ya aku tau part ini ke-pen-dek-an….

Ga tw deh byk yg suka ato ga.. klo ga ada yg suka… yah kpan- kapan aja deh aku buat lanjutannya… hehe #plaak…
oke, jeongmal gomawoyo siders and active readers… saranghae…
ℓ‎ơvє •♥_♥• Чơυ all

(;ω;)Bye(;ω;)Bye

27 thoughts on “Someone Like You (1st Story)”

  1. bagus chingu..
    kyu sama yoona apa beber cuma sebatas teman..??
    ko ekspresinya kyu beda gitu pas yoona bilang ada cwo lain…??

    terus yg dateng itu siapa..???
    penasaran chingu..
    lnjut…

  2. Eh,
    ne,
    aQ bingung nih..

    Sbenarx Kyu ada perasaan ga sih sama Yoona?

    Tadi blg ga ada, tapi kog sikap’x bgtu saat tw ada pria lain utk Yoona,,

    trus pria i2 siapa ya?
    Donghae ato Donghwa?

    Trus gimana cerita’x Kyu bisa nikah sama Seo, apa 2″x mmg punya perasaan ato hanya dijodohkan saja??
    Mereka ketemu dimana??

    Mian bnyak tanya,
    dijawab ya..
    Hehe

    1. maaf.. ga mungkin aku jawab semuanya…
      kyu nikah sama seo anggap aja udh pcaran dari awal… dn sma” suka
      msalah kyu sma yoona… yah… maklum aja deh… kyu itu ingin shabatnya dapat yg terbaik… kyu sedih dgn penderitaan yoona tntg ibunya saat ini,,, makanya kyu sangat baik agar ia ttp bisa jd tmen yg baik…ia juga perhatian sma yoona agar beban yoona berkurang…
      masalah pria lain itu,.. yah… di part selanjutnya mgkin ada jwabannya…

      d tunggu ya,,, ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s