No More Shakin’ Like That

Title : No More Shakin’ Like That

Author : Arindha Nityasari

Length : One Shot

Genre : Romance, Family

Rated : All Ages

Casts :

– Kai EXO K

– Kimberly (fictional character)

Cameo :

– Suho EXO K

– Kim A Rin

13131313131313131313131313+2

“Pergilah dalam kebebasan, perhatikan napasmu, janjikan dirimu sendiri untuk sebuah kebaikan. Jangan sekali-sekali kamu menengok ke belakang, menemukan diriku terkapar dalam rasa yang tak bisa pudar. Itu hanyalah… sebuah awal. Awal perpisahan kita. Dan aku hanya sedang beradaptasi saja.

Jadi, lepaskan saja aku. Toh aku juga melepasmu. Saling membebaskan diri dari ikatan yang tidak dinanti. Aku mohon, buatlah diri kita masing-masing senyaman mungkin. Sepertinya ini jalan yang terbaik, you walk on your own path, I will run as fast as I could.”

Kalimat-kalimat itu terus saja mengalir dari mulut kecil Kim, tidak bisa dihentikan. Bukannya sombong, tapi ia adalah sastrawan sekolah yang tentu saja mampu merangkai kata dengan penuh keindahan. Meskipun yang ia ucapkan adalah sesuatu yang luar biasa rumit.

“Intinya? Kau menyuruhku untuk pergi dari hidupmu? Untuk mengakhiri hubungan kita?” raut muka Martin memerah menahan marah. Mata hitamnya yang bening menjadi sayu seketika. Lemas.

Kim tetap menatap mata hitam bening yang tengah layu itu tanpa gentar. Menyalurkan energi yang kuat untuk menentang melanjutkan hubungan itu. Ditatap seperti itu, Martin tidak kuasa membantah lagi. Memang saatnya dia melepas malaikat kecilnya—Kimberly Matthew.

Sedangkan Kim, hatinya bergejolak tak karuan. Bergetar dan enggan berhenti sekejap saja. Yang ingin ia bagi kepada Tuhan adalah saat-saat seperti ini. Saat di mana dia diposisikan dalam situasi penuh tekanan yang memaksanya untuk melepas satu-satunya bunga matahari yang ia miliki—Martin Kim.

Kimberly Matthew yang pertama kali mengambil langkah untuk menjauh dari taman berwarna putih itu. Menyisakan Martin Kim di atas tumpukan salju yang tebalnya mencapai lima sentimeter. Aura dingin terpancar dari tubuh Martin yang kini duduk di atas bangku taman yang dinginnya bagaikan es batu. Dingin. Diam. Sepi.

Martin bukan laki-laki yang dibesarkan untuk cuek seperti layaknya laki-laki yang ada di tanah tempat ia berpijak sekarang, New York. Dalam hatinya masih terpatri jiwa yang lembut dalam berhubungan dengan wanita, just like other Korean boys. Tidak banyak diketahui orang, tapi memang kebanyakan laki-laki Korea lebih sensitif ketimbang wanitanya.

Laki-laki tinggi yang tubuhnya dibalut coat panjang coklat tua dengan bulu angsa sebagai penghangat di bagian lehernya itu termenung. Sesekali mengacak rambutnya frustrasi dan menendang-nendang salju di hadapannya. Ada dua anak sungai kecil yang mengalir di pipinya, lambat, perlahan turun ke dagu, berasal dari mata.

Wajahnya terlihat sangat muram, penuh kesedihan dan keengganan. Aura dingin itu terpancar terus dari badannya, sinar-sinar kelabu mengelilingi tubuhnya. Makin lama makin kuat, layaknya dinamika lagu dalam lembaran partitur.

“Tidak mungkin aku meninggalkan gadis itu. Dia adalah satu-satunya gadis yang terlalu kucintai. Bagaimana bisa dia hidup tanpa aku? Selama ini dia selalu bergantung pada bantuanku.” ucap Martin bermonolog.

Tapi kenyataannya dia yang memintamu pergi, Martin. Itu menjadi bukti kalau dia sudah tidak membutuhkanmu. Dia sudah memilih jalan untuk melangkah sendiri-sendiri, kamu di jalanmu, dia di jalannya. Mengambil keputusan tersebut berarti ia sudah siap mengambil konsekuensinya pula, hidup mandiri tanpa uluran kasihmu.

***

“Kim Jong In, bisakah kau membantuku membereskan berkas-berkas ini? Ruangan harus bersih kembali seperti semula.” pinta A Rin dari depan komputer. Gadis berperawakan tinggi langsing dengan rambut diikat kuda itu sedang berusaha mematikan alat elektronik di hadapannya.

Jong In yang sedari tadi duduk termenung di pinggir jendela mematuhi perintah sang ketua OSIS. Matanya menatap kosong ke arah kertas-kertas yang ia rapikan, hingga tidak terasa ada air matanya yang dengan cerobohnya jatuh ke atas permukaan selembar kertas.

Lantas, Jong In menggulung kumpulan kertas di tangannya dan mengikatnya dengan sebuah karet gelang berwarna hijau. Dengan langkah kaki terseok-seok, ia membawa gulungan kertas itu untuk dimasukkan ke dalam bak sampah di pojok ruangan. Membantingnya hingga isi bak sampah berhamburan, diiringi air mata yang mendesak keluar.

Membuang gulungan kertas itu sama seperti membuang kenangan yang terlintas di benaknya barusan. Kenangan pahit sama dengan sampah, yang harus dibuang, yang harus dimusnahkan, yang tidak perlu dihiraukan. Bersamaan kertas itu menghuni bak sampah, terjadi pula penguapan memori dari otak Jong In tentang kenangan pahit itu. Dan satu kata, LEGA.

Kisah itu sudah terjadi setahun yang lalu, tapi entah mengapa tiap adegannya Jong In ingat secara detil, sel otaknya benar-benar bekerja untuk ini. Kenangan pahit itu berputar bagaikan film dokumenter yang menyajikan dengan runtut. Terus berputar, berputar, berputar, sampai akhir, kembali ke awal, berputar, berputar, berputar…

Derap langkah tergesa-gesa menghampiri Jong In, kaki jenjang A Rin berlutut menyamakan tinggi sang lelaki, “Tidak seharusnya kau membuangnya, Jong In!”

Suara yang pelan, lembut, tetapi menusuk.

“Apa maksudmu mengatakan itu?!” Jong In berbicara dengan nada tinggi, berusaha membentak A Rin namun tak mempan.

“Ini adalah berkas penting OSIS. Bagaimana kau bisa membuangnya?” A Rin berkata dengan penuh kelembutan dan senyum tulus yang terpampang di wajahnya. Jemari lentiknya membuka gulungan kertas yang tadinya telah menghuni bak sampah.

Seketika itu juga ingatan Jong In kembali melesak keluar, tertarik seperti gulungan kertas itu yang tidak lagi bertempat di tempatnya semula. Tangis Jong In makin menjadi-jadi, kehilangan kontrol di dalam ruang OSIS.

A Rin mengelus-elus punggung Jong In, berusaha menenangkannya. Menurut artikel yang pernah dibaca oleh A Rin, aksi seperti yang ia lakukan pada Jong In sekarang adalah hal tepat untuk menenangkan siapapun yang tengah gundah gulana. Sentuhan seperti ini membangkitkan kenyamanan layaknya kita waktu kecil, yang sering dibuai Ibu, yang sering diusap punggungnya oleh Ibu.

“Kau tiga bulan lebih muda dariku, tapi kau bisa menciptakan emosi damai layaknya seorang Ibu.” Jong In berkata di tengah isak tangisnya, dengan seulas senyum tipis tergores lekat di bibir tebalnya.

A Rin membalas senyum tipis itu dengan cengiran lebar disertai pukulan lemah ke lengan Jong In. Kemudian, kedua tangannya berpindah ke atas kedua pundak Jong In, memijitnya pelan sembari berbisik, “Uljima! Jong In, apakah kau mengingatnya lagi?”

Ada sensasi geli yang terasa ketika A Rin berbisik tepat di telinga Jong In. Membuat laki-laki itu merasa tergoda dengan tingkah abnormal A Rin.

“Aku hanya berusaha membuatmu nyaman, tidak bermaksud seducing.” A Rin menghentikan kontak fisik dengan Jong In, memilih duduk di hadapan Jong In, memainkan matanya untuk menyentuh titik-titik lemah Jong In agar Jong In mau menceritakan semuanya.

“Ya, aku mengingatnya lagi,” Jong In memulai ceritanya. Posisinya sekarang adalah memeluk kedua kakinya yang tertekuk dan menumpukan ujung dagunya di atas lutut. “Bagaimana hancurnya hatiku ketika tahu bahwa Kimberly Matthew adalah kakak kandungku. Gadis yang lebih tua tiga tahun dariku itu adalah kakak kandungku. Bodohnya lagi, gadis itu adalah gadis yang kucintai, yang sedang kukencani, dan aku tengah tergila-gila padanya saat itu.

Lalu, ketika seminggu kemudian dia memutuskan hubungan kami. Menyuruhku untuk menatap ke depan, melupakan semua kenangan yang pernah eksis di antara kami. Semudah itu ia menyerah mempertahankanku? Sedangkan aku mati-matian menentang ibuku, mencari bukti-bukti untuk mematahkan kenyataan bahwa aku dan Kim adalah saudara seayah seibu.

Aku sangat sakit, A Rin-a… Aku masih terlalu muda untuk menghadapi kenyataan seperti itu. Aku tidak siap dan aku tidak mau. Aku tidak suka kenyataan ini, aku membenci kenyataan ini! Mengapa gadis yang kucintai itu adalah kakak kandungku, huh?”

A Rin menghela napas dalam sebelum merespon curhatan Jong In, “Kim Jong In, ini pertama kalinya aku mendengar kisah ini langsung darimu. Apakah itu artinya kau mulai nyaman denganku dan percaya padaku? Hehe…” A Rin terkekeh pelan dan balik melanjutkan,

“Takdir itu sudah ditentukan oleh Tuhan, tidak ada yang perlu disesali, tidak dapat kau mengubahnya. Serahkan saja hidupmu pada takdir, biarkan takdir itu mengombang-ambingkanmu, karena takdir tidak pernah bohong, karena takdir adalah utusan Tuhan yang mempertahankanmu untuk hidup.

Perkara Kimberly Matthew adalah kakak kandungmu pun merupakan takdir. Percayalah pada takdir, sebesar rasa percayamu pada Tuhan. Jangan salahkan siapapun di sekitarmu, jangan salahkan takdir, tapi salahkan Tuhan. Namun, apa kau sampai hati untuk menyalahkan Tuhan? Jadi, Jong In, set her free.”

Jong In termenung lagi, “Kukira kami jodoh. Duo Kim—Kimberly dan Kim Jong In, Martin Kim dan Kimberly Matthew yang bisa kau singkat MK-KM, wajah yang mirip, sifat yang hampir sama. Kukira itu adalah tanda-tanda kalau kami berjodoh, hingga aku dengan beraninya mengambil keputusan untuk mencintainya sedalam yang aku bisa. Namun, kesamaan itu adalah tanda bahwa kami sedarah.”

“…”

Hanya keheningan yang terasa di ruang OSIS tersebut. A Rin sudah tidak mampu berkata-kata, hatinya terlalu sakit sesedih Jong In. Terlalu sedih mendengar penyesalan Jong In, bahwa Kimberly Matthew adalah kakak kandungnya. Sedangkan Jong In, air matanya mengering, terlalu lelah untuk menyesali kepergian Kim.

Jong In, tidak tahukah dirimu bahwa ada hati yang bersedia menampungmu? Ada separuh jiwa yang bersedia dimasukkan ke tubuhmu untuk mengganjal kekosongan jiwamu. Ada raga yang bersedia menjadi pelampiasan seluruh perasaanmu. Just leave your hopeless dream! Please…

***

“EXO! EXO!”

“Kya… Neomu kyeopta!”

“Kai Oppa!”

“Omo! Omo!”

Kai tersenyum mendengar teriakan setiap orang yang mengerumuninya. Semaksimal mungkin berusaha untuk membalas sapaan mereka. Kini, ia sedang berada di Bandara Incheon bersama member grupnya yang mulai terkenal, baru saja pulang dari acara Music Bank yang diselenggarakan di London.

Para fans mungkin saja sudah menyerang mereka saat ini, jika saja pihak keamanan bandara dan sang manajer tidak berusaha memblokade akses. Kai sangat suka saat-saat seperti ini, saat ia menyadari bahwa ada banyak orang—yang sebagian besar tidak dikenalnya—terlihat begitu mencintainya dengan tulus dan memperhatikannya dengan baik.

Paling tidak, dalam dunia kebohongan yang sedang ditinggalinya, dalam kesendirian yang tidak berujung baginya, masih ada orang-orang yang mengasihinya, para fans-nya. Mmm… Bukan itu saja, tentu juga para anggota EXO yang lain.

“Kai? May you sign this board, please?” dan entah bagaimana ceritanya salah seorang fans lolos dari barikade pasukan keamanan pihak bandara, berdiri tegap di hadapannya sambil menyodorkan sebuah papan yang entah apa itu, bergambar kartun sebuah grizzly bear bertopi hijau.

Dengan segera, Kai mengambil spidol yang juga diulurkan oleh salah satu fans itu, menandatangani papan tersebut, “Here you are.”

“Ah… Kamsahamnida.” ucap fans itu, yang ternyata adalah seorang perempuan, sembari membungkuk sembilan puluh derajat.

Dan ketika fans itu mendongak, Kai terkejut bukan main melihat siapa yang di hadapannya, “You are not my fans, are you?”

No, I am not. I mean, my son loves you so much.

You have had a son?!” teriak Kai tidak percaya.

Yes, I’d got married when I’m so young, 20 years old,” jawab fans itu dengan bibir melengkung menandakan senyuman yang begitu hangat di hati Kai. “Do you mind to see my son? He’s there, he cannot reach you as well of course, so that I ask you for a sign for him.” lagi-lagi yeoja itu tersenyum manis, kali ini sambil menunjuk sebuah arah dengan jari telunjuknya yang tidak panjang.

Tanpa mempedulikan manajernya yang mulai berkoar memanggilnya, serta teman-teman segrupnya yang mulai mengerutkan dahi keheranan melihat tingkahnya, Kai mengekor wanita itu menuju tempat di mana seorang anak laki-laki berambut hitam, berkulit bersih, dan bermata jernih, tengah berdiri di pojokan, di sebelah pot tanaman hias yang tingginya melebihi tinggi anak itu.

“Kai Hyung!!” teriak anak itu melihat siapa yang datang.

Khas anak kecil, dia langsung menghambur memeluk Kai. Umurnya sekitar lima tahun dengan gigi susu yang sudah tumbuh semua, berderet rapi berwarna putih. Dengan ekspresi gemas yang natural, Kai mengacak rambut anak itu dan mencubit pipi chubby-nya.

“Ya! Hentikan, Hyung!” anak itu meronta dengan lucu, melepaskan diri sembari memukul tangan Kai dengan kepalan tangannya yang kecil.

“Tidak sopan memanggil pamanmu dengan sebutan hyung!” ibu anak itu, yang tidak lain adalah ‘fans yang meminta tanda tangan di papan bergambar grizzly bear’, mengingatkan.

“Rupanya kau masih mengingatku, Noona.” ucap Kai ragu pada kata ‘noona’.

“Paman? Bagaimana bisa Kai Hyung adalah pamanku?” suara anak kecil itu memecah tatapan menegangkan yang Kai hujamkan kepada noona-nya.

“Dia adikku.” jawab wanita itu singkat, padat, menjawab pertanyaan anaknya.

Amazing! Kai Hyung is my uncle. Does that mean, Kai Hyung is Uncle Martin?

Yes, exactly.”

Dia hanyalah anak kecil berumur lima tahun yang sangat memujamu, Kai. Tidak selayaknya kau membencinya hanya karena dia adalah darah daging orang yang kau cintai di masa lampau dengan laki-laki baru yang ia pilih sebagai takdirnya. Anak itu terlalu muda untuk menerima kenyataan ini, jauh lebih muda daripada ketika kau mengetahui bahwa Kimberly Matthew adalah kakak kandungmu.

***

“Suamimu ke mana, Noona?” akhirnya mereka bertiga memutuskan pergi ke sebuah kafe tidak jauh dari bandara, untuk saling melepas rindu. Tentu saja dengan persetujuan dari manajer Kai.

“Dia bekerja di London.” jawab wanita itu, Kimberly Matthew, singkat. Namun, senyum di wajahnya adalah jawaban tiada tara bagi Kai.

“Aku baru saja pulang dari London.” Kai bercerita singkat sambil mengaduk-aduk vanilla latte-nya.

“Yeah… Aku tahu, kita ada di pesawat yang sama, tapi kau tidak menyadarinya,” Kim terkekeh, Kai ikut-ikutan. “Aku tinggal di London ngomong-ngomong.”

“Eoh? Lalu kenapa kau kemari?”

“Rob sangat ingin ke Korea, bahkan ia ngotot ikut kursus berbahasa Korea agar diizinkan ke sini. Apalagi motifnya kalau bukan karena dirimu dan member EXO yang lain. Kau tahu, Hallyu Wave sudah sampai di London dan menjangkiti anak-anak kecil macam Rob.”

Kai tersenyum simpul. Paling tidak, dalam dunia kebohongan yang sedang ditinggalinya, dalam kesendirian yang tidak berujung baginya, ia tahu kalau keponakannya sangat mencintainya.

“Sekarang kau hidup bersama fake family-mu, huh? Tidak mengakui aku sebagai kakakmu, Mom sebagai ibumu, mendiang Appa sebagai ayahmu.” Kim mencibir sinis, tetapi Kai tahu pasti kalau cibiran Kim merupakan candaan yang hanya Kai yang tahu bagaimana cara meresponnya. Tertawa.

“Appa sudah meninggal, Mom tidak peduli padaku, aku tidak mau mengakui Kimberly Matthew sebagai kakak kandungku. Apa yang kuharapkan dari keluarga itu? Seorang figur butuh keluarga yang bisa mendukung popularitasnya bukan?” balas Kai sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kau tidak menganggapku sebagai kakakmu? Ya!” Kim memukul kepala Kai sekuat tenaga.

“Noona! Kau bisa dibunuh fans-ku jika mereka tahu kau memukul kepalaku.” rintih Kai.

“Cih! Lalu, aku ini kau anggap apa? Kau anggap siapa?” Kim bertanya gemas.

“Satu-satunya gadis yang kucintai.” jawab Kai cepat.

Pada akhirnya, Martin Kim, Kim Jong In, Kai, adalah orang yang sama. Namja yang mencintai kakak kandungnya sendiri.

***

“Hyung, aku hanya akan bercerita padamu, jadi jangan sampai kau membocorkannya pada orang lain, lebih-lebih kepada media.” Kai mengancam Suho, leader EXO-K.

“Wanita yang kutemui tadi adalah kakak kandungku, anak laki-laki tadi adalah fans-ku sekaligus keponakanku. Orang tua kami bercerai beberapa bulan setelah aku lahir. Kami tidak tahu mengapa mereka bercerai, karena mereka enggan membeberkan alasannya. Mom merantau ke US bersama Kim, kakakku itu, dan aku tetap tinggal di Korea bersama appa-ku.

Tapi, kemudian aku mengikuti pertukaran pelajar selama dua tahun di New York, menjadi adik kelas Kim Noona. Bahkan, kami sempat berkencan selama setengah tahun, aku pernah menciumnya.” Suho terkesiap mendengar baru scene pertama kisah Kai yang sebenarnya.

“Sampai malam itu datang, ketika aku datang ke apartemen Kim untuk menjemputnya untuk merayakan ulang tahun salah satu teman kami, Mom yang membukakan pintu dan langsung mengenaliku. Ia bertanya pada Kim, siapa aku dan apa hubungannya denganku. Ketika ia menjawab bahwa aku adalah pacarnya, saat itu Mom memarahi Kim habis-habisan di hadapanku. Melarang kami untuk melanjutkan hubungan itu karena memang terlarang.

Dan Mom pun mengeluarkan bukti-bukti bahwa kami memang saudara kandung seayah seibu. Bukti-bukti kuat yang tidak akan bisa dibantah dengan cara apapun.” Suho semakin deg-degan mendengar cerita Kai yang sebenarnya.

“Ketika kembali ke Korea, aku berusaha menghilangkan traumaku dengan memacari ketua OSIS SMA-ku, Kim A Rin. Dia adalah orang yang bijaksana, menerimaku apa adanya. Dia begitu baik dan lembut, seperti sosok ibu, sosok yang tidak pernah aku temui selama aku tumbuh dan berkembang.

A Rin selalu ada untuk menghiburku, mendengarkan keluh kesahku, meskipun kebanyakan adalah tentang traumaku terhadap cinta pertamaku. Meskipun sebagian besar keluhku adalah tentang Kim, Kim, dan Kim. Kau tahu? Dia tidak tahan dengan sikapku yang tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Kim, dia putus asa, dia memutuskan untuk bunuh diri karena itu.” mata Suho membelalak mendengar bagian hampir akhir cerita Kai yang sebenarnya.

“Aku berusaha melanjutkan hidup, tapi aku butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahku tentang Kim. Orang terakhir yang kujatuhi cerita itu adalah appa-ku, dia langsung meninggal seketika mendengar kisahku. Serangan jantung.” kini, mimik sedih yang tergambar di wajah Suho mendengar cerita Kai yang sebenarnya.

“Mom tidak peduli padaku, aku terlalu takut untuk dekat kembali dengan Kim, aku memutuskan mencari keluarga baru, masuk menjadi trainee di SM Entertainment, menjadi artis bersamamu dan teman-teman yang lain. Berusaha melupakan kenangan yang pada dasarnya tidak bisa kulupakan.” Kai menghela napas panjang mengakhiri ceritanya.

Suho masih terlalu syok mendengar cerita Kai yang sebenarnya. Raut wajahnya menyiratkan rasa ragu akan kebenaran cerita Kai, juga masih penasaran dan haus akan lanjutan kisahnya.

Kini aku tahu kenapa percintaan sedarah itu dilarang. Karena ia bisa membawa kesan traumatik yang mengerikan di benak orang itu, membunuh kekasih barunya, juga membunuh ayahnya. -Kai-

 13131313131313131313131313+2

Kyaa~ FF kedua yang pernah aku kirim ke Obizienka, tapi yang pertama nggak kepost deh~ ToT Semoga yang ini di-publish ya..

FF debut yang ambil cast member EXO. Masih banyak cacatnya pasti ya, jadi mohon kritik dan sarannya tentang FF ini. Ngomong-ngomong, karena aku baru kenal EXO dan belum pernah tau sifat mereka atau fakta-fakta tentang mereka, aku ambil Su Ho sebagai curahan hati Kai, krn aku blm tau Kai itu dkt sama siapa di EXO.😄

Well, segini aja deh. Semoga readers suka baca FF saya. Gomawo~~~ ^^

PS : kalau di-post nih, aku berterima kasih banget sama Admin yang udah nge-post.😀

6 thoughts on “No More Shakin’ Like That”

  1. kirain ceritanya masih panjang thorr, kkk~
    itu A Rin sampe bunuh diri? ngenes banget….
    sampe sekarang kainya malah masih suka lagi sama noonanya…
    aaa ada suhooo nyempil, walaupun gak ngomong apa apa.-.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s