[REMAKE] Which One 4

 

Title                       : [REMAKE] Which One 4

Author                  : hgks11

Cast                       :

–       Cha Sunwoo – Baro B1A4

–       Kim Kihyo (OC)

–       Gong Chansik – Gongchan B1A4

–       Ahn Richan (OC)

Cameo  :

–       B1A4’s members

–       Park Hanna (OC)

Genre                   : AU, Romance, Sad,

Rate                       : PG – 13

Length                  : Continued

-oOo-

Previous part…

“Mianhae” ujar Baro tiba-tiba. Ntah siapa duluan yang memulai ciuman itu. kini Baro dan Kihyo saling berciuman. Ciuman yang basah, karena air mata yang mengalir dari keduanya.

“Mianhae, mianhae, mianhae” lirih Baro disela-sela ciuman mereka dengan air mata yang mengalir.

-oOo-

Part 4

Kihyo’s POV

 

“Mianhae.. geunde.. saranghaeyo Cha Kihyo” bisik Baro di telingaku.

“Geotjimal!!” seruku mendorong tubuhnya menjauh.

“Geotjimaliyaa~!! Hiks.. geotjimal.. hiks.. hiks.. aku tak percaya lagi padamu.. hiks” ujarku memukul lengannya. Ia menarikku dalam pelukkannya. Membuat tangisku semakin deras.

“Mianhae, mianhae, mianhae Kihyo-ah.. mianhae.. tolong, jangan berpaling dariku.. jangan melihat namja lain.. lihat aku! Hanya aku! Kumohon Kihyo-ah..” ujarnya lirih. Aku menggelengkan kepalaku lemah di dalam pelukkannya. Did you know, Baro-ah? Ani, Sunwoo-ah? Sakit, aku merasa pecah berkeping-keping melihatmu bersama Richan. Melihatmu yang bahagia bersamanya, bersenda gurau, bahkan kalian sampai… aku tak sanggup untuk mengatakan kejadian kemarin pagi. Tidakkah kau sadar? Kau menorehkan luka di hatiku. Dan sekarang, kau memintaku untuk hanya melihatmu? Sedangkan, kau tidak bisa hanya melihatku?

“Aku memang hanya selalu melihatmu.. hanya melihatmu.. geundae..” suaraku bergetar. Semua ini bagai dilema untukku, Sunwoo-ah! To..long.. a..ku..

“Ssst.. aku mengerti.. gwenchana.. it’s okay.. aku mengizinkannya” ujarnya mengusap punggungku dan puncak kepalaku bergantian.

“Mianhae” hanya kata itu yang dapat kukatakan. Mianhae Sunwoo-ah.. aku tahu, pasti ini sulit untukmu, mianhae..

-oOo-

Gongchan’s POV

 

“15 menit lagi kami akan take off, tapi kenapa mereka belum datang juga?” gumamku berjalan mondar-mandir. Kulirik lagi arloji di pergelangan tangan kananku. Aish! Yeoja itu, membuatku cemas saja! Well, mungkin kalian bertanya-tanya, apa yang sedang kulakukan sekarang, dan menerka-nerka aku sedang berada di mana, right? Okay, sekarang aku sedang menunggu Baro dan Kihyo. Pasti kalian sudah tahukan aku berada di mana sekarang? Yap, sekarang aku sedang berada di Incheon Airport, bersama dengan Jinyoung, Shinwoo, Sandeul, dan Hanna. Apakah perlu kujelaskan juga, apa yang sedang mereka lakukan? Ck. Should I? Arasseo! Simplenya, Jinyoung, Shinwoo dan Sandeul sedang berebut untuk duduk di samping Hanna.

“Richan?” ujar Jinyoung tiba-tiba. Reflek aku menoleh mendengar ia menyebutkan nama itu. DEG. Richan? Kenapa ia di sini? Jangan bilang jika.. Oh My God!

“Annyeong!” sapanya ceria pada kami semua. Namun tak ada yang menghiraukan sapaannya tersebut, dan menatap malas ke arahnya.

“Sunwoo belum datang ya?” tanyanya. Lagi-lagi, tak ada yang menghiraukannya. Ia mendengus kesal, dan duduk di salah satu kursi.

“Untuk apa kau di sini?” tanyaku datar padanya. Ia mendongakkan kepalanya, menatapku yang berada di hadapannya.

“Aku diajak oleh Sunwoo, Chansik-ah” ujarnya tersenyum.

“Sudah kubilang bukan? Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi” ujarku melirik tajam ke arahnya.

“Waeyo?” tanyanya memelas.

“Ck. Richan-ah, berhenti mengejar Baro! dia sudah punya anae!” pekikku.

“Bukankah awalnya kau mendukungku, Chansik-ah? Kenapa sekarang kau menyuruhku untuk berhenti? Aku tidak akan berhenti Chansik-ah. Aku tak akan melepas Baroku lagi” ujarnya menatap tajam ke arahku.

“Mwoya? Ya! Ahn Richan!”

“Neo, Gong Chansik! Sebegitu besarkah cintamu pada Kihyo itu?” ia menatap nanar ke arahku, meminta penjelasan.

“Ne, aku sangat mencintainya. Dan aku tak mau melihatnya sakit ataupun hancur berkeping-keping”

-oOo-

Kihyo’s POV

 

Aku hanya menatap nanar saat Richan merebut tempat dudukku, di sebelah Baro. Akhirnya aku duduk dengan Hanna di dalam pesawat.

“Sabar.. kau pasti bisa, Kihyo-ah!” seru Hanna menyemangatiku. Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Hanna.

“Ne, gomawo Hanna-ya”

“Bagaimana hubunganmu dengan Gongchan?” tanyanya yang membuatku menoleh ke arahnya.

“Hanna-ya, sebenarnya aku merasa bersalah pada Baro. Apakah lebih baik jika aku mengakhiri hubunganku dengan Gongchan? Tapi, aku tak ingin membuat Gongchan terluka. Ia terlalu baik padaku” akuku pada Hanna.

“Kita akhiri saja, Kihyo-ah” DEG! Kudongakkan kepalaku ke sumber suara.

“Gongchan…?” aku menatap nanar ke arahnya. Benarkah ini? Apakah Gongchan benar-benar mengatakannya tadi?

“Ne. Kita akhiri saja. Gwenchana, aku baik-baik saja Kihyo-ah” ia tersenyum saat mengatakannya.

“Chansik-ah.. gomawoyo! Jeongmal, neomu neomu neomu gomawo!” aku menatap lekat-lekat matanya. Aku tidak percaya, ada namja seperti Gongchan. Merelekan seseorang yang dicintainya, agar berbahagia dengan orang lain. Seandainya hatiku belum direbut oleh Baro, betapa beruntungnya aku memiliki seorang namja seperti Gongchan yang begitu mencintaiku. Seandainya saja..

“Kkk~ cheon Kihyo-ah. Tapi aku akan terus mencintaimu Kihyo-ah. Yah, mungkin sampai ada yang merebut hatiku lagi” ia mengacak pelan puncak kepalaku.

“Haha, kau bisa saja Chan-ah!” ujarku tertawa kecil. Dalam hati kecilku aku meminta pada-Mu, Tuhanku. Tolong, jangan biarkan namja di hadapanku ini menderita. Tolong berikan selalu kebahagian untuknya, dan jagalah ia selalu.

-oOo-

“Huwaaaa~ akhirnya kita sampai di Bali!” seruku saat memasuki kamarku dan Baro. Aku langsung menaruh tas yang kubawa saat sebuah balkon yang tertutup tirai menarik perhatianku.

“Wow!” pekikku melihat pemandangan di depanku. Sebuah pantai yang begitu indah. Tak banyak orang yang berada di sana, mungkin pantai itu merupakan salah satu fasilitas dari hotel ini. However it is, I just like it. Dapat kurasakan semilir angin menerpa kulit wajahku. Memainkan anak-anak rambutku. Kututup mataku, meresap sensasi yang ada di kulit wajahku.

“Kihyo-ah” aku sedikit terkejut saat merasakan tangan kekar itu melingkar di pinggangku. Ia menaruh dagunya di atas pundak sebelah kananku. Tubuhku menghangat merasakan pelukannya. Jantungku berdetak lambat, seakan-akan waktu berjalan begitu lambat.

“Hmm” aku kembali menutup mataku, meresapi semua yang sedang terjadi denganku. Perasaan ini, aku menyukai perasaan ini. Begitu besar dan meluap-luap di dalam tubuhku. Aku merasa seperti ingin meledak. Molla, kenapa aku bisa begini.

“Biarkan seperti ini dulu. Aku merindukanmu, sangat” seulas senyum terukir di wajahku mendengar perkataannya. Aku juga merindukanmu, Sunwoo-ah.

“Kudengar dari Hanna, kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Gongchan. Benarkah?” aku tertawa kecil mendengar nada kemenangan yang tak dapat disembunyikannya itu. Kuputar tubuhku menghadap tubuhnya. Aku menatap gemas wajahnya itu. Aigoo, ingin sekali aku mencubit kedua pipinya itu!

“Sepertinya kau senang sekali, Sunwoo-ah” ujarku merapikan poninya yang sedikit berantakan karena angin semilir bertiup.

“Ne, tentu saja! Akhirnya aku memilikimu benar-benar seutuhnya, haha” ia tertawa penuh kemenangan. Aigoo, kekanakan sekali nampyeonku ini!

“Bagaimana kau dengan Richan?” tanyaku. Dapat kulihat perubahan ekspresi di wajahnya.

“Mianhae.. aku belum bisa, Kihyo-ah” kutatap lekat-lekat mata itu. Berusaha mencari kebohongan di matanya. Tapi nihil, yang kutemukan hanyalah kekecewaan dan rasa bersalah. Aku mengehelas nafasku berat. Sampai kapan aku harus bersabar seperti ini?

“Ne, gwenchana. Aku tahu, ini pasti sulit untukmu Sunwoo-ah” ujarku memasang senyuman terbaik yang bisa kuberikan kini.

“Mianhae Kihyo-ah.. geurigo, saranghae Cha Kihyo” ujarnya tersenyum padaku. Senyum yang selalu bisa membuatku terpana dan terpesona. Senyum yang membuatku jatuh cinta padanya. Senyum yang menjadikannya suamiku sekarang. Tuhan, kumohon lindungilah selalu senyum itu di wajahnya. Tak apa meskipun aku harus menahan sakit yang terus menerus menggerogoti hatiku, asalkan senyum itu masih tetap sama. Selalu sama seperti itu. Kumohon Tuhan, lindungilah dia selalu, untukku.

-oOo-

Richan’s POV

 

Aku menggeliat pelan, merasakan sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarku. Dengan terpaksa, aku membuka mataku. Kulirik jam berada di meja sampingku, ternyata sudah jam 7 pagi. Dengan segera aku meraih ponselku yang kuletakkan di bantal sebelahku, dan mengirim pesan pada Sunwoo.

 

To           : Nae Cha Sunwoo

Pagi chagiyaaa~!! Apakah kau sudah bangun? Jangan lupa nanti kita sarapan bersama di restoran hotel, arrachi? ^^

 

Sent!

Aku tersenyum membayangkan saat sarapanku nanti dengan Sunwoo. Aigoo, aku merindukan saat-saat seperti ini.

Drrt.. Drrt..

Aku sedikit tersentak saat ponselku bergetar. Ternyata ada sebuah pesan dari Sunwoo.

 

From     : Nae Cha Sunwoo

Tentu saja aku sudah bangun^^

Ne, kita akan makan bersama-sama nanti, dengan yang lain juga^^

 

Senyum yang tadinya berada di wajahku kini hilang ntah kemana saat membaca kalimat terakhir pesan dari Baro. Dengan yang lain? Ah, iya. Aku lupa jika aku kesini tidak hanya berdua dengan Baro. Tapi dengan yang lain juga. Ck, menyebalkaaaann!!

-oOo-

Kulangkahkan kakiku ke arah restoran hotel dengan tidak bersemangat. Mereka pasti sudah berada di restoran sekarang, dan BINGO! Aku melihat Kihyo dan Baro-ku yang kini sedang duduk bersama Hanna, dan yang lainnya. Aku menekuk wajahku melihat mereka yang tampak asik bersenda gurau.

“Annyeong” sapaku tak bersemangat, mengambil tempat duduk di sebelah Baro yang tadinya ditempati oleh Sandeul.

“Gwenchana?” Baro menyentuh keningku dengan telapak tangannya, memastikan suhu tubuhku.

“Gwenchana” ujarku tersenyum. Kulirik ke arah Kihyo, ia hanya memandang makanannya dan memotong-motong daging  di atas piringnya dengan tidak semangat. Rasakan! Mulai sekarang, aku yang akan terus bersama Baro!

“Kajja, kita ambil makananmu”

-oOo-

Kihyo’s POV

 

“Kajja, kita ambil makananmu” aku hanya bisa menatap nanar punggung Baro dan Richan yang mulai menghilang di balik kerumunan orang.

“Gwenchana?” Gongchan menatapku khawatir. Tampak sekali ia cemas dengan perasaanku.

“Gwenchana” ujarku tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Aku harus kuat dengan ini semua. Aku yakin, pada akhirnya Baro akan memilihku. Yah, kuharap seperti itu.

“Kihyo-ah, bagaimana kalau habis sarapan ini kita pergi ke Mall?” usul Hanna padaku.

“Hmm, arasseo. Otte?” aku mengalihkan pandanganku ke arah Sandeul, Shinwoo, dan Jinyoung juga Gongchan. Dapat kulihat mereka menelan ludah mendengar ucapanku. Haha, aku tahu kenapa! Pasti karena mereka sudah tahu, kalau seorang Park Hanna sudah berbelanja ke Mall, maka shoppaholicnya akan kumat, dan yah, bisakan  kalian menebaknya? Bingo! Ini akan menghabiskan waktu yang sangat banyak! Haha

“Ayolaaaah~” seru Hanna dengan nada memohon. Aku berusaha mati-matian menahan tawaku melihat wajah mereka yang kini pucat pasi.

“A-arasseo Hanna-ya” akhirnya Jinyoung mengeluarkan suaranya. Aigoo, lucu sekali wajahnya!

“Gomawo Jinyoung-a!” wah, sepertinya usaha Jinyoung setimpal dengan apa yang di dapatnya. Hanna baru saja mencium pipinya. Sandeul dan Shinwoo hanya bisa memandang iri pada Jinyoung. Aigoo, dasar mereka berempat ini! Haha

“Hey, apakah aku melewatkan sesuatu?” ujar Baro yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.

“Anieyo, kkk~” ujarku tertawa kecil.

“Aigoo, ya! Tell me Hyo-yaaaa” rengek Baro seperti anak kecil. Tawaku lagi-lagi meledak melihat raut wajah Baro.

“Arasseo.. tapi tidak sekarang, nanti saja. Arasseo?” aku tersenyum misterius pada Baro. dapat kulihat ia menggembungkan pipinya sebagai tanda protes. Tapi aku tak menghiraukannya dan melanjutkan makanku yang tertunda.

-oOo-

Author’s POV

 

“Sebenarnya kita mau kemana sih?” Baro mengernyitkan dahinya. Ia mengikuti mobil Jinyoung, Sandeul, Shinwoo, dan Hanna yang berada di depan mobilnya dan Kihyo. Kihyo tertawa kecil melihat raut wajah nampyeonnya itu.

“Kemana saja, asalkan kita bisa bersenang-senang” dengan jahilnya Kihyo tersenyum misterius pada Baro. Baro berdecak kesal melihat anaenya yang sedang mempermainkannya itu. Akhirnya Baro hanya bisa pasrah dan ikut tertawa dengan Kihyo.

“Eo! Lagu ini! Joahae!” seru Kihyo saat tape player di mobil mereka memutar lagu B1A4 – Only One.

“Jinca?” ucapan Baro itu disambut dengan anggukkan antusias dari Kihyo.

“Ne! Neomu neomu neomu joahae!” Baro tertawa kecil melihat semangat yang berkobar-kobar dari yeoja yang duduk di sampingnya itu.

“Aku akan menyanyikannya untukmu” celetuk Baro tiba-tiba, yang mampu membuat Kihyo membulatkan matanya dan melemparkan tatapan tak percayanya pada Baro.

“Jinca? Aish.. pasti kau berbohong” ujar Kihyo kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“Anieyo. Aku  berjanji, suatu saat nanti aku akan menyanyikannya untukmu” Baro tersenyum menyadari ucapannya. Yah, setidaknya dengan begitu ia bisa sedikit mengobati luka di Kihyo karenanya.

“Huwaaaa~ gomawo Sunwoo-ah!!” tampak sekali kegirangan di wajah Kihyo yang tak disembunyikan. Sepertinya ia sangat senang dengan janji yang diucapkan oleh Baro itu.

“Cheon” Baro mengacak pelan puncak kepala Kihyo. Senyum itu seakan-akan terukir secara permanen di wajah Kihyo selama perjalanan mereka. Sampai mereka turun dari mobilpun senyuman di wajahnya tak pudar-pudar. Richan yang melihat itu menatap tajam ke arah Kihyo. ‘Apa yang terjadi selama perjalanan tadi?’ batin Richan.

“Sunwoo-ah!” Richan tiba-tiba menarik lengan Baro yang tengah diamit oleh Kihyo. Richan mendorong Kihyo sampai yeoja itu terjatuh ke tanah. Baro tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Kihyo karena Richan menariknya untuk berjalan bersamanya.

“Gwenchana?” Gongchan mengulurkan tangannya untuk membantu Kihyo berdiri.

“Gwenchana” ujar Kihyo tersenyum setelah bangkit dengan bantuan Gongchan.

“Aish, jangan berbohong Kihyo-ah! Kajja, aku akan memapahmu. Kakimu terkilir bukan?” Kihyo hanya bisa terdiam melihat ketulusan seorang Gong Chansik padanya. Ya Tuhan, kenapa namja ini begitu baik padaku?

“Kihyo!” Hanna menghampiri Gongchan yang tengah memapah Kihyo.

“Ya! Apa ini karena yeoja itu?” Hanna melirik tajam Richan yang sudah agak jauh berjalan di depan mereka bersama Baro.

“Makanya, jangan datang terlambat! Haha” Kihyo menggoda Hanna yang kini sudah menggembungkan kedua pipinya. Manik mata Kihyo menatap tiga sosok yang tengah berdebat di belakang Hanna. Kkk~ Pasti kalian sudah bisa menebaknya bukan? Alasan kenapa Hanna datang terlambat. Hahaha

“Ya! Urusi dulu kakimu itu, baru bercanda dengan Hanna” tutur Gongchan. Seketika Kihyo bungkam dan menuruti kata-kata Gongchan. Gongchan memapahnya ke dalam mobilnya. Gongchan memberi isyarat pada Hanna agar membukakan pintu belakang mobil yang disewa oleh Gongchan.

“Ya! Ada apa dengan Kihyo?” pekik Jinyoung yang baru menyadari situasi yang terjadi sekarang.

PLETAAK!

Sebuah jitakan dari Hanna mendarat dengan mulus di atas kepala Jinyoung.

“Appo Hanna-ya” ujar Jinyoung pura-pura merengek. Hanna memutar bola matanya melihat tingkah Jinyoung. Gongchan menggelengkan kepalanya melihat kebodohan chingunya itu. Gongchan segera mencari p3k yang selalu dibawanya di dalam tas ransel miliknya yang diletakkannya di bagasi mobil.

“Haha, kalian ini” sejenak Kihyo melupakan rasa sakit yang menyerang kakinya melihat tingkah Jinyoung dan Hanna. Apalagi saat Kihyo tidak sengaja menangkap ekspresi cemburu dari Shinwoo dan Sandeul. Ia tidak kuasa menahan tawanya.

“Ah! Ini dia” pekik Gongchan saat menemukan p3k miliknya. Ia segera membawa kotak itu ke hadapan Kihyo, dan membongkar isinya.

“Hanna-ya” panggil Gongchan pada Hanna yang berada tak jauh darinya.

“Ne, Gongchan-ah?”

“Bagaimana cara menyembuhkan kaki Kihyo?” tanya Gongchan dengan polosnya.

GUBRAAK!

Hanna menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Gongchan. Dikiranya Gongchan tahu cara untuk membuat kaki Kihyo lebih baik.

“Ck, Gong Chansik” Hanna berdecak kesal, lalu ia meraih kotak yang berada di pangkuan Gongchan. Ia membongkarnya, dan mengeluar sebuah minyak kayu putih dari kotak tersebut.

“Kihyo-ah, tahan ya. Aku akan mengurut kakimu ini” Kihyo hanya mengangguk pasrah dengan ucapan Hanna. Kihyo memejamkan matanya, bersiap untuk merasakan sakit di kakinya.

“Aww! Hanna-ya!!” protes Kihyo saat Hanna mengurut kakinya. Hanna tak menghiraukan protes dari Kihyo dan terus melanjutkan aktifitasnya.

“Tahan Kihyo-ah” Gongchan menggenggam tangan Kihyo, berusaha memberikan ketenangan pada Kihyo. Tampak sekali raut khawatir di wajah Gongchan. Kihyo tersenyum tipis, saat lagi-lagi ia menyadari betapa tulusnya Gongchan padanya. Sebuah jarum menusuk hatinya lagi sekarang, melihat kenyataan bahwa yang kini berada di sampingnya adalah Gongchan, bukan Baro.

“Nah, selesai! Coba kau berdiri Kihyo-ah!” seru Hanna berdiri dari posisinya saat mengurut kaki Kihyo. Dengan ragu Kihyo berdiri dengan dipapah oleh Gongchan. Kihyo menggoyang-goyangkan kakinya, dan mencoba untuk berjalan.

“Huwaaaa~ gomawoyo Hanna-ya!! Kakiku sudah lebih baik!” seru Kihyo berlari ke arah Hanna dan memeluknya.

“Ne, cheonma” ujar Hanna membalas pelukan Kihyo dan tersenyum senang. Tak dapat dipungkiri seulas senyum tercetak di wajah empat orang namja yang tak dan bukan adalah Jinyoung, Shinwoo, Sandeul, dan Gongchan.

“Kajja! Kita masuk ke dalam Mall sekarang!!” seru Sandeul mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. Tampak sekali namja itu sudah tidak sabar untuk segera memasuki sebuah gedung besar yang ada di hadapannya.

“Haha, dasar uri Deullie!” pekik Shinwoo menjitak pelan kepala chingunya itu. Ntah karena terlalu bersemangat atau apa, Sandeul tidak mempermasalahkan Shinwoo yang menjitak kepalanya dan langsung menarik tangan Hanna. Jinyoung dan Shinwoo membulatkan matanya melihat Sandeul yang kini sudah berada di depan mereka berjalan berdampingan dengan Hanna.

“Ya! Lee Sandeul!!” dengan langkah seribu Jinyoung dan Shinwoo mengejar Sandeul dan Hanna, lalu memisahkan Sandeul dengan Hanna. Dan selanjutnya kalian pasti sudah tahu bukan? Mereka berebut untuk berjalan berdampingan dengan Hanna. Kihyo lagi-lagi tertawa melihat sebuah ‘adegan’ yang tersaji di depannya.

“Ck, aigoo! Haha” gumam Kihyo masih tertawa kecil.

“Mau berjalan berdampingan denganku?” tawar Gongchan menaikkan salah satu alisnya. Seketika Kihyo menghentikan tawanya dan menatap Gongchan dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Arasseo. Why not? Haha” ujar Kihyo lagi-lagi tertawa kecil. Sebuah senyum tersungging di bibir Gongchan. ‘Tuhan, melihatnya tersenyum dan tertawa seperti ini sudah cukup untukku. Yah, meskipun aku tak dapat memilikinya lagi, tapi aku sudah cukup senang dengan ini. Terima kasih Tuhan’ doa Gongchan di dalam hatinya. Ya, seperti ini sudah cukup untuknya.

***

Baro’s POV

 

Aku menatap malas ke arah Richan yang kini sudah menarik tanganku memasuki sebuah toko pakaian—lagi. Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti langkahnya memasuki toko pakaian ini. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku, seperti ada yang kurang. Tapi apa? Ah, molla~ aku benar-benar lelah sekarang.

“Sunwoo-ah! Otte? Menurutmu mana yang lebih bagus?” tiba-tiba Richan sudah berada di depanku dengan dua buah gaun berwarna putih panjang di tangannya. DEG! Seperti ada sebuah palu besar yang jatuh di atas kepalaku saat melihat gaun yang dipegang oleh Richan. Warnanya putih, tampak begitu sederhana. Seperti gaun yang dikenakan Kihyo pada saat pernikahan kami. Tunggu, Kihyo?

Seketika aku mengedarkan kepalaku ke sekelilingku. Kini aku tahu apa yang kurang. Di mana Kihyo? Kenapa aku tak melihatnya sedari tadi?

-oOo-

Author’s POV

 

“Huwaaaaaa~~” Sandeul mengeluh dengan tas belanjaan yang semakin banyak di kedua tangannya. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Membuat Hanna dan Kihyo yang melihatnya tak bisa menahan tawa mereka.

“Kau lelah, Sandeul-a?” tanya Hanna ramah. Sandeul menganggukkan kepalanya pasrah. Sepertinya ia memang benar-benar kelelahan saat ini.

“Hmm, kalau begitu bagaimana kalau kita makan saja sekarang? Aku juga lapar” tutur Gongchan yang disambut dengan anggukkan antusias dari Jinyoung dan Shinwoo.

“Arasseo, kajja!” seru Hanna berjalan di depan bersama Kihyo. Mereka segera melesat ke arah foodcourt yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kihyo mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang cukup untuk mereka.

“Di sana saja bagaimana?” Kihyo menunjuk sebuah meja yang berada di sudut foodcourt itu.

“Kajja” ajak Shinwoo. Mereka berjalan ke arah meja yang ditunjuk oleh Kihyo tadi, dan duduk di kursi masing-masing.

“Kau mau pesan apa Kihyo-ah?” Gongchan menyodorkan daftar menu pada Kihyo yang duduk di sebelahnya.

“Hmm.. Aku mau mencoba nasi goreng saja Chan-ah”

“Kau yakin? Nasi goreng? Kenapa tak mencoba masakan khas Indonesia saja?”

“Arasseo. Kalau begitu aku pesan kwe..tiau?” Kihyo tampak ragu menyebutkan nama makanan yang dilihatnya.

“Kwe-ti-au” Gongchan membenarkan cara pengucapan Kihyo.

“Ah, ne! Kwetiau” Kihyo menganggukkan kepalanya paham.

“Kalau kalian?” Gongchan mengalihkan perhatiannya pada Hanna, Jinyoung, Sandeul, dan Shinwoo.

                                                                                              -oOo-                            

“Huwaaa~ ternyata makanan Indonesia enak-enak ya” ujar Sandeul merentangkan tangannya ke atas.

“Ne, aku setuju denganmu deullie” timpal Shinwoo.

“Kenapa wajahmu pucat, Kihyo-ah?” celetuk Jinyoung tiba-tiba, menyadari perubahan warna kulit yeoja tersebut.

“Ah, anieyo Young-ah. Sepertinya aku hanya kelelahan saja” Kihyo memasang senyum terbaiknya. Jinyoung hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Kihyo.

“Sebaiknya kita ke mobil saja sekarang, kasihan Kihyo. Kajja!” seru Hanna mengamit lengan Kihyo, dan berjalan di samping Kihyo.

“Gwenchana?” bisik Hanna.

“Sepertinya anemiaku kambuh, Hanna-ya” lirih Kihyo.

-oOo-

“Ck. Di mana sih Cha Sunwoo itu?!” Hanna mendengus kesal melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.

“Masih tidak aktif?” tanya Hanna pada Jinyoung yang tengah menghubungi nomor telepon Baro.

“Ani” Jinyoung menggeleng lesu. Shinwoo, Sandeul dan Gongchan menghela nafas mereka. Hanna melirik cemas ke arah Kihyo yang tampak begitu pucat di dalam mobil Gongchan.

“Sebaiknya kita pulang saja terlebih dahulu. Kasihan Kihyo, sepertinya ia benar-benar kelelahan. Jinyoung-a, kirim pesan pada Baro kalo kita pulang duluan” tutur Gongchan memberi intruksi.

“Oh ya. Kirim pesan pada Richan juga. Dia sedang bersama Baro kan?” lanjut Gongchan. Jinyoung menganggukkan kepalanya lemah. Paling tidak suka dengan fakta yang satu itu.

“Arasseo. Kajja, kita segera kembali ke hotel”

-oOo-

Baro’s POV

 

Aku menatap miris ke arah Kihyo yang kini tergeletak tak berdaya di atas kasur. Namja macam apa aku ini?! Bisa-bisanya istrinya sampai kelelahan seperti ini! Dan lagi, tadi aku berjalan dengan yeoja lain! Bukan dengan istriku! Yaa! Aku benar-benar kesal dengan diriku!

“Pabo! Pabo! Niga pabo gatha!”

 

TBC..

Mianhae, jeongmal mianhaeyo~ *bow*

Part yg ini gagal total-_____-  mianhae..

Dan ternyataff ini blm bisa tamat dalam 1 atau 2 part ke depan.. mianhae T.T

Mianhae bnyk typo~ aaaarrrghh~!! Mianhae mianhae mianhae T.T *bow*

9 thoughts on “[REMAKE] Which One 4”

  1. Omooo~ baro nyebelin bngt di part ini. Masa blm bisa milih antara istrinya atau Richan?
    Ahh trnyata makin kesini Gongchan jd baik, suka deh sm krkter Gongchan disini u.u

    A-yo author lnjutannya ditungguuu~😀

    1. hiyaaaa~ baronya bikin ilfil ya? kkk~
      haha, coba aja hasut si kihyo klo dia mau blik ama gongchan :p
      gomawo chingu komennyaaaa ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s