the letter’s

 Genre             : Sad-romance

Cast                :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Choi Minho

Rating             : G

Note                : huwe? berhubung ff NCku ndak laku disini, jadi aku post yg lain aja. kalau nggak laku lagi? ya apa boleh buat? aku bunuh diri aja? hahaha .. juga bakal dipost di PJYF. oke, cekidot ! oh ya, ini SAD ENDING.

 

~ aku tidak tahu apa salahku selama ini sehingga Engkau memberikanku cobaan seberat ini, tapi apakah aku yakin bisa melewati kesakitan ini seumur hidupku?~

Park Jiyeon POV

Semua yang terjadi dihidupku  adalah jalan yang telah digariskan oleh Tuhan untukku. Tidak peduli baik buruk hal yang terjadi dihidupku adalah takdir Tuhan dan aku tidak kuasa untuk merubahnya.

Kalian tidak akan pernah sanggup untuk membayangkan apa saja yang telah terjadi dihidupku. Satu tahun lalu aku telah menjadi seorang anak yatim piatu, lima bulan yang lalu aku telah kehilangan daya pendengaranku dan satu bulan yang lalu kekasihku Choi Minho telah menikah dengan yeoja lain. Hancur ? lebih dari kata hancur.

Kenapa aku tidak bunuh diri? Karena aku bukan manusia tolol yang hanya akan menghakhiri hidupnya hanya karena masalah seperti itu. aku percaya bahwa Tuhan selalu ada bersamaku dan membantu setiap jalan kehidupanku.

Aku tidak tahu kenapa Tuhan memberiku berbagai rentetan cobaan seperti ini kepadaku padahal aku telah berusaha menjadi umat yang selalu taat kepadanya, pergi ke gereja untuk berdo’a dan melakukan segela hal sesuai dengan injil. Tapi tetap saja Tuhan memberikanku cobaan yang begitu berat untuk aku lewati.

“nona?” sapa seseorang.

Aku bisa mendengar karena aku memakai alat bantu dengar dan itu sangat membantu hari-hariku. Aku sekarang berada disebuah taman yang luas dan indah tepat dibawah pohon yang rindang. Aku menoleh ke sumber  suara dan melihat seorang namja yang tengah berdiri didepanku.

“ ini untukmu.” Namja itu menyerahkan surat berwarna biru padaku.

Sebelum aku bertanya berterima kasih dia sudah pergi duluan. Surat? Siapa yang mengirim? Tanpa membuang waktu lagi aku membuka surat itu.

Park Jiyeon …

Hai, Yeon~a . bolehkah aku memanggilmu seperti itu? kurasa kau tidak keberatan. Oke, aku tahu kau sudah penasaran siapa aku? Tapi mungkin ini belum saatnya, nanti kau akan tahu siapa namaku dan bagaimana aku.

Aku seringkali memperhatikanmu dan tahu bagaimana keadaanmu, bisa dikatakan sebagai stalker? Oh tidak, aku memang secara tidak sengaja mengetahui bagaimana dirimu. Kau tahu, aku tidak pintar membuat surat dan ini adalah surat pertama yang aku buat.

Yeon~a, aku tahu kau suka menyendiri saat hidupmu mulai terbalik arah. Saat aku tahu itu, aku mulai menyukai keadaan dimana hanya ada aku sendiri diduniaku. Penderitaan yang kau alami, mungkin aku juga sudah merasakannya.

Yeon~a, kau tahu tidak? Tidak ada manusia yang hidup sendiri didunia ini. Karena setiap manusia mempunyai Tuhan yang mencintai mereka, aku rasa kau lebih tahu mengenai hal itu. begitupula denganmu, mulai sekarang kau tidak hanya mempunyai Tuhan disampingmu melainkan juga ada aku yang selalu berusaha untuk berada disampingmu,

Kau percaya atau tidak, aku sekarang adalah seorang namja yang sedang jatuh cinta kepadamu. Sangat jatuh cinta kepadamu, aku ingin sekali bertemu denganmu, berbincang denganmu, dan menikahimu dengan sumpah sehidup semati dihadapan Tuhan yang kudus.

Saat aku tahu orang tuamu pergi dari duniamu, saat itu pula aku berkeinginan untuk menjadi orang tua untukmu sekaligus suami yang begitu mencintaimu. Saat aku tahu bahwa telingamu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, saat itu juga aku ingin menjadi telinga di hidupmu untuk mendengar setiap perkataan yang hanya  pantas kau dengarkan. Saat aku tahu kau ditinggal kekasihmu bersama wanita lain, saat itu juga aku ingin sekali menggengam tanganmu dan membawamu ke altar.

Yeon~a, didunia ini pasti ada kesenangan dan kesakitan. Saat ini kau berada di keadaan yang ‘kesakitan’, apa kau percaya bisa melaluinya? Jika tidak, datanglah kepadaku dan mintalah aku untuk mengenggam tanganmu dan aku yakin kau akan melaluinya dengan mudah. Aku yakin itu.

Aku sudah menyebutkan semua hal yang ingin aku lakukan kepadamu, dan aku benar-benar ingin melakukannya bersamamu. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menjadi seorang manusia yang seperti itu? keadaanku tidak memungkinkan. Atau lebih parahnya kehadiranku hanya akan membuatmu terluka sangat dalam.

Aku hanya namja biasa yang mencintaimu dengan ketidak beranian untuk menatap kedua matamu. Menyedihkan? Ya aku tahu itu tapi tidak masalah. Karena aku begitu mencintaimu hingga akhir hayatku. Aku berjanji akan hal itu.

Apa kau ingin bertemu denganku?jika kau ingin bertemu, temuilah aku dipinggiran sungai han ketika sore menjelang. Aku akan berada disana setiap hari ketika keadaanku memungkinkan, aku suka ketika matahari mulai menghilang dari peraduannya. Itu terlihat seperti kehidupan manusia, ada dan hilang, muncul dan tenggelam.

Terakhir kalinya, karena aku tahu bahwa suratku sudah mulai tak berbentuk arah, aku selalu disana untuk menunggumu. Aku tidak ingin menemuimu, cukup memberika sebuah surat seperti ini dan aku ingin tahu responmu seperti apa. Sungguh, aku berharap kehadiranmu disana. Jika kau menemuiku, maka saat itu pula aku akan membawamu ke altar gereja dan tidak akan melepaskanmu sampai akhir hayatku.

KIM

Surat ? KIM ? mencintaiku? Membawaku ke altar? Apa maksud semua ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Hidupku sudah cukup buruk ditambah harus memikirkan hal seperti ini? Ya Tuhan, apalagi ini? Ini takdir kebahagiaan atau kesedihan?

Aku segera menutup surat itu dan memasukkan ke dalam kantong jaketku, butiran-butiran air mulai terasa jatuh di tubuhku dan butiran-butiran itu turun semakin deras dan menyakitkan jika jatuh di tubuhku.

Aku tidak mencoba untuk berteduh, aku terus berjalan menerjang derasnya hujan yang turun ke dasar bumi. Aku terus berjalan hingga aku tahu bahwa aku telah sampai didepan rumah mewahku. Pagar dinding yang menjulang tinggi, menutupi bagaimana bentuk rumahku yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.

Kim Myungsoo POV

Aku Myungsoo, seorang namja yang sedang jatuh cinta dengan yeoja bernama Park Jiyeon dan dengan modal nekat aku mengirimkan sebuah surat untuknya. Paling tidak surat itu mewakili perasaanku kepadanya. Aku lelaki pengecut ? ya aku tahu itu, karena aku tidak berani menemui langsung ke hadapannya dan payahnya dalam surat itupun aku tidak menyantumkan siapa namaku.

Tapi tidak sepenuhnya aku pengecut, hanya saja keadaanku yang membuat nyaliku menciut untuk menemuinya dan menatap matanya. Hatiku belum siap jika harus berhadap-hadapan langsung dengannya dan melihatnya terluka akan hidupnya.

Aku sangat membenci keadaanku, keadaan yang memalukan. Keadaan yang membuatku mengurungkan niatku untuk segera menikahinya dan mengobati setiap luka yang ada dikehidupannya. Yeoja itu, park jiyeon. Sungguh aku benar-benar mencintainya.

Aku menyuruh seseorang untuk memberikan suratku padanya. Aku melihat ketika dia mulai membuka dan membaca suratku. Ekspresinya ketika membaca mungkin bingung dan penasaran. Aku terus memperhatikan setiap gerak-geriknya sampai aku merasa butiran air hujan jatuh ke bumi.

Gadis itu segera berlari menerjang hujan, aku pikir dia akan berteduh tapi dia terus berlari kemudian berjalan dengan perlahan bersama hujan. aku segera memasuki mobilku yang terparkir didepan taman. Aku mengikutinya dari belakang, gadis itu berjalan ditengah derasnya hujan tapi aku berada didalam mobil. Sial !

Dia berhenti tepat disebuah rumah yang terhalanggi tembok tinggi dan besar. Setelah beberapa saat dia hanya diam, kemudian dia masuk dan kembali menutup pagar besar itu.

“ apa itu rumahnya?” ucapku pelan.

Aku segera menjalankan mobilku menjauhi tempat itu.

***

Hari ini aku akan memulai menunggunya untuk menemuiku di pinggiran sungai Han. Aku berharap sore hari datang lebih cepat dari biasanya. Sungguh, jika dia datang menemuiku. Aku bersumpah aku akan menikahinya, tidak peduli keadaanku yang sedang sekarat atau apapun itu.

Pukul 3 sore, aku sudah berpenampilan rapi dan terlihat seperti namja yang akan melamar yeojanya. Dengan menggunakan mobilku, aku pamit kepada orang tuaku untuk keluar dan menunggu calon pengantinku datang menemuiku.

Orang tuaku sangat bahagia ketika aku menceritkan bahwa ada seorang yeoja yang membuatku jatuh cinta. Mereka pun tahu bagaimana yeoja itu, karena setiap yang aku tahu tentang yeoja itu selalu aku ceritakan kepada orang tuaku. Termasuk aku tidak memiliki keberanian untuk menemuinya secara langsung.

Kini aku duduk disebuah bangku panjang yang menghadap ke arah matahari yang akan hilang dari peraduannya. Senyuman tak hentinya aku rasakan dibibirku, aku senang menunggunya. Aku akan terus menunggunya, sampai Tuhan tidak lagi mengijinkan aku untuk terus menunggunya.

Matahari itu, kini sudah benar-benar hilang. Tapi yeoja itu tak kunjung datang, aku tidak melihat dirinya disekitar tempat ini. Aku masih tersenyum  menghadapi kenyataan ini, aku berpikir bahwa dia masih ingin berpikir lebih lama lagi.

Hari kedua, aku melakukan hal sama. Hari ketiga, keempat, kelima, sampai hari hari kesepuluh. Aku tidak menemukannya, dia tidak menemuiku. Ya Tuhan, aku baru berpikir mana ada yeoja yang mempercayai sebuah surat yang konyol dan gila?

Hari ini hari kesebelas aku menunggunya mungkin hari ini adalah hari terakhir aku bisa menunggunya karena keadaanku yang sudah benar-benar memburuk. Aku masih berharap dengan penuh dengan gadis itu. seperti biasa aku duduk dibangku panjang menghadap ke arah matahari tenggelam.

Aku tahu kalian pasti penasaran kenapa aku selalu berbicara mengenai kedaanku yang memburuk, ya aku menderita sebuah penyakit yang mungkin saja masih bisa disembuhkan. Tapi itu hanya 2 persen dari 100 persen peluang kematianku. Tapi aku akan tetap berjuang untuk Tuhan, kedua orang tuaku, dan untuk calon pengantinku.

Langit sudah gelap dan gadis itu tidak kunjung datang menemuiku atau memang tidak akan pernah datang menemuiku. Kepalaku mulai pusing, penglihatanku mulai buram, aku merasa hidungku mengeluarkan darah. Ya Tuhan, kumohon jangan sekarang .

Park Jiyeon POV

Selama beberapa hari ini aku seperti seorang penguntit, ya aku menemui lelaki pengirim surat itu. hari pertama aku sangat bingung menemukan keberadaan namja itu, tapi setelah aku ingat bahwa dia selalu berada di tempat yang bisa melihat matahari terbenam, aku menemukannya. Aku tidak berani mendekatinya, aku hanya melihat dirinya dari kejauhan.

Setiap hari namja itu duduk dibangku panjang tersebut, mungkin dia menungguku. Menunggu yeoja yang tak kunjung menemuinya. Dia namja yang tampan, dan apalagi? Aku tidak tahu.

Hari kesebelas aku datang menemuinya tapi hanya melihatnya dari kejauhan. Aku tetap pada posisiku, terus memperhatikannya. Aku melihat gerak-geriknya sedikit aneh, tanpa terasa kakiku berjalan mendekat kearahnya. Namja itu tidak menyadari bahwa aku berada tepat dibelakangnya. Kemudian tanpa aku perintah aku menepuk pundaknya.

“ gwenchanayo?”

Dia menolehkan kepalanya ke arahku, ya Tuhan hidungnya ? aku segera duduk dipinggirnya dan mengeluarkan sapu tangan yang selalu aku bawa kemana-kemana. Aku menyerahkan sapu tanganku, dan namja itu meraihnya dengan tatapan mata yang mengkhawatirkan.

“ kau baik-baik saja? Adakah yang bisa aku bantu?” tanyaku.

Okey, aku mulai gila sepertinya. Kenapa aku bisa seramah ini pada seseorang yang tidak aku kenal? Oh God !

“ bisa kau ambilkan obatku di dalam mobilku di kursi pengemudiku.” Pintanya dengan menunjukkan sebuah mobil sport berwarna putih.

Setelah mengambilkan obatnya, aku menyerahkannya ke namja itu dan segera meninggalkan tempat itu. namja itu bertanya aku kemana tapi tak aku hiraukan. Beberapa saat kemudian aku melihat  dia akan beranjak meninggalkan bangkunya.

“ tunggu.” Teriakku dari kejauhan.

Aku segera berlari agar cepat sampai ke tempatnya.

“ ini.” Aku menyerahkan sebotol air putih.

Kamudian dia duduk dan aku ikut duduk disampingnya dengan menjaga jarak.

“ kau telat. Obat itu sudah berada di lambungku.” Ucapnya.

“ mian.” Ucapku.

Beberapa menit suasana terasa sangat tidak nyaman.

“ kau tahu siapa aku?” tanyanya tiba-tiba.

“ ntahlah. Tapi aku yakin kau namja yang mengirimkan surat misterius itu kepadaku.”

“ kau benar. Aku yang mengirimkannya untukmu, perkenalkan namaku Kim Myungsoo.”

“ aku Park Jiyeon.”

“ aku tahu, kau tidak perlu mengatakan siapa namamu Yeon~a”

“ kau disini untuk menungguku?”

“ kau tahu itu? saat kau memutuskan untuk menemuiku, itu berarti kau siap menjadi pengantinku Yeon~a.”

“ pengantinmu? Aku mendekat kearahmu karena aku lihat gerak-gerikmu sangat aneh. Kau jangan gila dan asal bicara.”

“ kau tidak mau?”

“ ya Tuhan, kau tahu ini sangat membingungkan untukku. aku tidak tahu harus bagaimana?”

“ aku sudah mengatakan didalam surat itu bahwa aku mencintaimu dan ingin menikahimu Yeon~a.”

“ tapi itu tidak masuk akal?”

“ itu menurutmu, tapi menurutku itu masuk akal.”

“ okey, beri waktu aku 3 hari untuk memikirkannya. Setelah itu aku akan menemuimu disini untuk memberikan jawaban.” Ucapku.

Setelah itu aku segera meninggalkannya, tapi setelah beberapa saat aku melangkah. Aku merasa tanganku digenggam dan ditarik oleh namja itu untuk masuk kedalam mobilnya.

“ ya ! apa yang kau lakukan !? lepaskan!”

Setelah memasukkan aku kedalam mobil dan dia telah duduk kursi pengemudinya, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata dan berhenti tepat didepan rumahku.

“ kau tahu rumahku?”

“ bagaimana aku bisa tidak tahu rumah calon pengantinku sendiri?”

Kemudian dia menyuruhku keluar dari mobil dan menyuruhku untuk membukakan pintu pagar rumahku. Dan bodohnya aku, aku mematuhi apa yang dikatakannya. Shit !

Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumahku dia keluar dan membantuku menutup kembali pintu pagar rumahku.

“ bolehkan aku mampir?”

Aku hanya diam saja dan membuka pintu rumahku. Dia kemudian duduk di sofa ruang tamu.

“ kau mau minum apa?”

“duduklah.”

aku menurut apa yang dikatakannya.

“ Yeon~a, aku ulanggi. Aku benar-benar mencintaimu, aku ingin kau menggantungkan seluruh hidupmu bersamaku, mengijinkan aku menutupi luka di kehidupanmu.”

Setelah dia selesai berbicara, aku dengan segera meninggalkannya. Aku menuju dapur untuk membuatkan sesuatu yang hangat untuknya. Tapi kenapa aku perhatian kepadanya? Ini tidak masuk akal.

Setelah selesai membuat lemon tea untuknya, aku segera menuju ke ruang tamu. Tapi aku sudah tidak menemukannya. Apa dia pulang? kenapa tidak pamit terlebih dahulu?

 

***

Aku berada di ranjang, mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Pikiranku hanya tertuju pada namja yang tiba-tiba menginginkan aku menjadi istrinya. Aku sadar, hari setelah aku mendapat surat misterius itu. aku merasa hidupku tidak lagi sepi, setiap harinya aku selalu penasaran dengannya, selalu memperhatikannya di kejauhan. Setelah bertemu? Sikapku berubah banyak, aku bisa perhatian dan berinteraksi dengan normal.

Seoalah aku telah melupakan setiap kesakitan yang aku alami, seakan hidupku yang penuh luka bisa ditutupi dengan hanya memikirkannya. Apakah dia namja yang baik untuk kehidupanku Tuhan? Aku tidak tahu, hidupku masih penuh dengan ketakutan. Ketakutan jika seseorang yang dekat denganku akan pergi meninggalkanku. Takut ketika aku benar-benar sudah tidak bisa mendengar segala macam suara didunia ini.

“ Kim Myungsoo, kau namja seperti apa sebenarnya?” lirihku.

Hari ini, aku bertekat untuk menemuinya di tempat biasa yang dia tempati. Dengan hati yang berdebar-debar aku duduk dibangku yang biasa dipakai olehnya. Aku menunggunya, tapi kenapa hari ini dia belum juga kesini? Biasanya jam 3 sore, Myungsoo sudah duduk tenang disini.

Aku menunggunya, sekarang waktu menunjukkan pukul 5 sore, dan aku belum juga bertemu dengannya. Apa dia sudah berubah pikiran?

“ ya Tuhan, jangan kau membiarkan aku terluka lagi atas permainan hidup ini. Aku sudah memutuskan untuk menggantungkan seluruh hidupku padanya.” Batinku.

Aku mulai mencintainya, mencintai namja itu. ya, aku mencintainya Tuhan. Aku ingin bertemu dengannya. Sungguh, aku ingin menatap matanya. Hujan ?

Aku segera berlari mencari tempat berteduh, tapi nihil. Semua tempat sudah digunakan oleh pasangan-pasangan yang sedang dilanda cinta. Tanpa pikir panjang aku menorobos hujan-lagi-. Berjalan ditengah hujan yang deras dengan harapan bahwa ketika aku sampai dirumah aku akan melihat calon suamiku.

Dengan keadaan yang basah kuyup aku memasuki rumahku. Ternyata nihil, aku tidak melihatnya. Bahkan saat ini aku merindukannya. Aneh memang, tapi aku tahu bahwa yang aku rasakan adalah rindu. Rindu yang menggebu-gebu, adakah yang seperti itu?

Mataku menangkap sesuatu yang terdapat diatas meja tamu. Surat? Dengan perlahan aku mulai membuka dan membacanya.

Park Jiyeon

Yeon~a? Bagaimana, kau sudah mendapatkan jawabanmu? Ingin menjadi istriku atau tidak? Aku yakin, kau pasti sangat ingin menjadi istriku.

“percaya diri sekali dia.” Ucapku.

Yeon~a, mungkin saat kau membaca surat ini. Aku sudah tidak lagi berada didunia, aku sudah hidup bahagia bersama Tuhan. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku yang akan menjadikanmu sebagai pengantin wanitaku.

Aku sakit Yeon~a, keadaaku tidak memungkinkan untuk menepati janjiku terhadapmu. Aku pengecut, aku tahu itu. aku hanya bisa meminta maaf padamu, kehadiranku hanya menambah luka akan hidupmu. Tapi sungguh, aku sangat mencintaimu sampai akhir hidupku.

Aku tidak bisa lagi menunggumu, waktuku telah habis. Teruslah hidup, lanjutkanlah hidupmu dengan semestinya sampai akhir dimana kau harus berhenti dan menyerah akan takdir Tuhan.

Aku pamit, jangan menanggisiku. Tunggulah aku, kelak aku akan menikahimu dan menjadikanmu sebagai pengantin wanitku stu-satunya. Tunggulah aku, kumohon. Park Jiyeon~a, jeongmal sarangaheyo.

Kim Myungsoo

apa maksudnya? Tuhan, apa lagi ini? Sebegitu bencikah kau terhadapku? Kau mengambil satu-persatu  orang yang aku sayang. Baru saja aku akan memulai kehidupanku, tapi kau mengambilnya terlebih dahulu. APA MAUMU TUHAN !?

“ aku lelah, aku tidak ingin hidup lagi. Aku menyusulmu, ibu ayah myungsoo. Tunggu aku.”

Aku seger berlari keluar rumah dengan hujan yang masih derah turun. Aku membuka pintu pagar dan terus berlari hingga aku melihat sebuah bus mendekat ke arahku.

“selamat tinggal dunia.”

BRAAAAAKKK

End.

Kepanjangan? Membosankan? Penuh dengan typo? Ya aku tahu itu. sad ending yang gagal sepertinya. Terima kasih udah baca dan meninggalkan jejak^^

7 thoughts on “the letter’s”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s