Who are you?

Title            ::  Who are you?

Author      ::  autumnsnowers

Genre        ::  Romance, Comedy

Rate            ::  PG

Length       ::  Oneshot

Cast            ::

–  Lee Sungmin

–  Shin Yoonji, and Super Junior’s member.

Disclaimer  ::  ide cerita merupakan hasil dari pemikiran saya.

Cuap-cuap :: Alohaaaaaa!!!!!!!!! aku dateng bawa FF yang ku buat untuk sungji challenge. Yup… Sungmin-Yoonji. FF ini ga masuk top 15  imaginator… tp ff ku yg 1 lagi masuk muahahaha😄 *joget-joget*

Maaf klo ff ini sangat mengecewakan😉

~Story Begin~

Pintu dorm Super Junior terbuka, memperlihatkan tubuh Shindong yang masuk dengan menarik sebuah koper di tangannya. Tersenyum kaku saat melihat Leeteuk yang sedang menatapnya intens dengan tangan yang terlipat di depan dada, dikelilingi oleh para member yang lain.

“ Kau harus bertanggung jawab jika sampai terjadi apa-apa pada nya Dong-ah” ucap Leeteuk tegas saat Shindong telah berdiri di hadapannya.

“ Kau tenang saja hyung, aku pasti akan bertanggung jawab.” Shindong menjawab dengan senyum dan mata yang berbinar berterima kasih. Lalu tak lama kemudian muncullah sesosok gadis yang kini sedang berjalan dengan wajah enggan, gadis itu menundukkan wajah dan berdiri di samping Shindong.

“ Annyeonghaseyo… choneun Shin Yoonji imnida, bangapsapeumnida,” ujar gadis itu sambil membungkuk memperkenalkan diri.

“ Annyeong Yoonji-ah… anggap saja seperti rumah mu sendiri, jangan sungkan,” jawab Leeteuk sambil tersenyum ramah memperlihatkan lesung pipit miliknya.

“ Cih, kau memuakkan hyung. Tadi saja memasang wajah horor, tapi sekarang?” cibir Shindong sambil menatap sinis sang leader.

Gadis yang bernama Shin Yoonji itu kini sedang berkenalan dengan para member yang sedang berkumpul, tersenyum kaku dan kikuk. Sesekali dia melirik pada Shindong yang berdiri di sampingnya, menatapnya seolah-olah meminta agar pria bertubuh subur itu segera membawanya pergi dari hadapan para member. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, seorang pria bermata teduh yang bernama Donghae menarik tangan gadis itu untuk duduk di sebelahnya, duduk ditengah-tengah antara Donghae dan pria yang bernama Eunhyuk.

Sesekali Yoonji tersenyum dan tertawa dengan kaku menanggapi obrolan dan lelucon yang dilontarkan oleh sekumpulan pria tampan itu. Dia menatap para member yang duduk di sekitarnya dengan enggan,dan tatapan itu berubah menjadi tatapan tajam yang menusuk saat melihat Shindong yang kini tengah duduk carpet dekat meja, menyantap makan yang ada dengan lahap tanpa mengingat akan kehadirannya.

“ Oppa” Gadis itu memanggil Shindong dengan pelan tapi tak ada respon sama sekali.

“ Oppa” Panggilnya untuk ke dua kali denga gusar tapi tetap saja tak ada respon, gadis itu menghembuskan nafas kesal dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa. Merutuk dalam hati karena merasa  dirinya di kalahkan hanya oleh setumpuk makanan.

“ Yoonji-ah kau pasti tahu tentang super junior, siapa bias mu diantara kami?” tanya Eunhyuk dengan antusias, membuat para member menghentikan segala aktifitasnya dan menunggu jawaban gadis itu.

Kini gadis itu hanya terdiam, memandang jari-jari tangannya yang sedang memilin ujung pakaian yang dia kenakan.

“ Shindong oppa,” jawab gadis itu sambil menundukkan wajahnya yang kini memerah membuat para member terdiam seolah mendapatkan syok terapi.

“ Kau yakin?” tanya Eunhyuk sanksi tak percaya dengan ucapan gadis itu.

“ Ya!! apa maksud perkataan mu hah?” tanya Shindong.

“ Bukan apa-apa hyung hehehe, apa yang kau sukai dari nya? Aku paham jika kau mencintainya, tapi harus kah menjadikan Shindong hyung sebagai idola mu?” rentetan pertanyaan Eunhyuk meluncur begitu saja. Dia meringis saat sofa bantal yang dilempar Shindong mengenai wajahnya.

“ Aniyo, bukan itu maksud ku. Aku tidak tahu mengenai super junior, mengenai kalian. Yang aku tahu hanya Shindong oppa, jadi aku memilihnya.”jawaban Yoonji dengan sukses membuat mereka tercengang untuk kedua kalinya, hanya Shindong yang terlihat biasa saja dan kini sedang asyik mengudap makanan yang ada di hadapannya.

“ Kalian tidak perlu syok seperti itu, Yoonji memang tidak pernah suka dan tidak pernah mencari tahu tentang dunia entertaint . Dan Hyuk-ah… jaga ucapan mu jika kau tidak mengetahui apa-apa arraso? Dia itu keponakan ku, aku dan ayah nya merupakan adik kakak.” papar Shindong panjang lebar, tak ingin ada kesalah pahaman yang terjadi.

“ Tapi kenapa kau dipanggil ‘oppa’ hyung? Harusnya kan ahjussi,” tanya Ryeowook menghernyitkan kening.

“ Molla. Aku sih senang-senang saja, itu berarti wajah ku awet muda,” jawab Shindong sambil tertawa senang.

***

Shin Yoonji, putri tunggal dari pasangan Shin Hyonjo dan Cho Yena. Dia dititipkan kepada Shindong untuk sementara waktu selama kedua orang tuanya mengurus perusahan yang berada di Paris. Mereka tak mengijinkan anak gadis mereka satu-satunya itu untuk tinggal sendirian di kediaman mereka karena sesuatu hal. Sesuatu hal yang hanya diketahui oleh keluarga besar mereka.

Dan di sinilah dia sekarang, tersesat di dorm Super Junior dan berada ditengah-tengah sekumpulan pria-pria tampan tanpa tahu siapa mereka sebenarnya. Yang dia tahu hanya Shindong, pamannya.

Yoonji memang tak tahu dan tak pernah mencoba untuk mencari tahu tentang dunia entertaint, siapa penyanyi yang sedang digandrungi oleh para yeoja, drama apa yang paling banyak digemari. Dia tak pernah mencari tahu tentang semua itu, bukan karena dia tidak tertarik, tapi karena sesuatu alasan.

***

Satu hal yang membuat para member tercengang untuk kesekian kalinya. Shin Yoonji berumur 3 tahun lebih muda dari Sungmin tapi wajahnya masih nampak seperti gadis berumur belasan tahun!! wajah polos dan lugu.

Kini Yoonji sedang berjalan-jalan dengan  kamera polaroid yang menggantung di lehernya. Menikmati segala aktifitas yang terjadi di sekelilingnya dan sesekali membidik objek yang menarik perhatiannya.

Senyum tak pernah pudar dari wajahnya, berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah, mengikuti hembusan angin.

Kakinya berhenti melangkah di suatu taman, taman yang rimbun dengan air mancur dan segala wahana permainan untuk anak kecil. Yoonji duduk di salah satu bangku yang dinaungi oleh pohon yang rimbun, menghalau matahari untuk menerpa tubuhnya.

Dia tersenyum memperhatikan sekumpulan anak kecil yang sedang berlari kesana kemari, saling berkejaran dan bercengkrama dengan orang tuanya. Dia mengangkat kamera polaroid miliknya, bersiap membidik semua moment indah itu tapi senyumnya sirna bersamaan dengan kamera yang kini kembali berada dalam pangkuannya.

Semilir angin menerpa wajahnya dengan lembut , memainkan rambutnya yang tergerai. Dia menunduk, tersenyum di balik rambutnya yang menjuntai menutupi wajahnya, menutupi senyum yang sarat akan kepedihan.

Dia beranjak berdiri, melangkahkan kaki menuju ketengah keramaian dia daerah Myeongdong dengan wajah ceria seakan senyum kepedihan itu tak pernah terukir di wajahnya.

***

Sejak tadi Shindong tak berhenti berjalan hilir mudik, ekspresi panik tergambar dengan jelas di wajahnya. Dia semakin panik saat panggilannya tak diangkat satu kalipun oleh keponakannya, Shin Yoonji.

“ Kau berhentilah berjalan hilir mudik seperti itu, membuat kami semakin panik saja. Walaupun dia baru saja tiba di Seoul, tapi aku yakin dia pasti akan kembali ke sini,” ucap Eunhyuk saat melihat tingkah Shindong.

“ Aku harap seperti  itu. Tapi yang  membuat ku panik adalah dia bukan tipe orang ynag dapat mengingat jalan dengan baik!!! Anak itu selalu kesasar. Itu tak masalah jika dia masih di Busan, tapi ini? Seoul!! Bagaiamana jika ada orang jahat?” papar Shindong menghempaskan tubuhnya ke sofa, memijat pelipis nya dengan sinar senja yang menembus kaca jendela di ruangan itu, memperlihatkan matahari yang semakin tergelincir memasuki peraduannya.

Shindong menyambar ponsel milik nya yang berdering dengan nyaring, menyimak perkataan si penelpon dengan serius.

“ Dengan seorang perempuan? Tidak mungkin Sungmin-ah, dia tak memiliki kenalan selain aku di Seoul. Kau melihatnya di Myeongdong? Baiklah, aku akan ke sana. Gomawo Sungmin-ah” ucap Shindong setelah menerima telpon dari Sungmin yang sempat melihat Yoonji berjalan di sekitar Myeongdong dengan seorang gadis saat dirinya akan pergi ke lokasi shooting.

Shindong memaju mobil nya dengan kecepatan penuh membelah jalanan Seoul, dia berjalan mengelilingi Myeongdong dan akhirnya menemukan Yoonji yang sedang terduduk di trotoar. Shindong berjalan perlahan menghampiri gadis itu sambil melepaskan alat penyamaran yang dia pakai.

“ Yoonji-ah,” panggilnya membuat gadis itu mendongak.

“ Oppa!!!!” pekik gadis itu senang dan menghambur memeluk pamannya.

“ Untung oppa datang, aku tidak tahu jalan pulang,” ucap gadis itu sambil menangis sesengkukkan.

“ Jika kau ingin berpergian, bilang pada ku arraso? Jika kau hilang, aku bisa dibunuh oleh kedua orang tua mu,” jawab Shindong yang malah membuat Yoonji tertawa.

***

Tak mengindahkan ucapan paman nya, itulah yang kini sedang Yoonji lakukan. Hari ini dia kembali berjalan-jalan ke luar, dia bosan tinggal sendirian di dorm.

Seperti biasa, dia hanya mengikuti kemana kaki-kaki nya melangkah tanpa benar-benar mengingat jalan yang telah dia lalui.

Matahari bersinar dengan terik, membuat orang-orang yang berlalu lalang ingin mampir memasuki kedai es krim sama seperti yang Yoonji lakukan. Kini gadis itu sedang duduk di kursi panjang di luar kedai es krim dengan setangkup es krim strawberry yang dia beli. Tersenyum senang merasakan sensasi dingin setiap kali dia menyuapkan es krim itu ke dalam mulutnya.

Gerakan tangannya berhenti saat dia melihat 2 orang dengan penampilan aneh yang berada tak jauh darinya sedang menatapnya. Bagaimana tidak aneh, di suasana terik seperti ini mereka malah mengenakan jaket, kacamata, topi dan masker.

Wajah Yoonji memucat saat melihat ke dua orang itu berjalan mendakatinya,dia meletakkan es krim miliknya di bangku panjang itu, beralih mencengkram tas yang ada di pangkuannya.

“ Yoonji-ah sedang apa kau di sini? Ayo ku antar pulang,” ucap salah satu dari mereka yang kini hanya berjarak 1 meter.

“ Nuguseyo?” tanya Yoonji ragu-ragu dan membuat orang itu melepas masker dan kacamata yang sedang dia gunakan.

“ Kyaa!!!!!!” pekik Yoonji dan berlari meninggalkan mereka yang kini saling berpandangan bingung.

Pria tanpa penyamaran itu hanya mengedikkan bahu dan meraih es krim yang ditinggalkan Yoonji, menikmati suap demi suap setelah kembali mengenakan kacamata hitam miliknya tanpa mempedulikan sepasang mata yang kini sedang menatapnya sinis.

“ Ya!! Eunhyuk-ah, kau ini. Lihat mata mu, bengkak karena semalaman kau menangis menonton drama. Ku rasa kau menakutinya,” ujar pria itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“ Aku hanya ingin meminta es krim miliknya Sungmin-ah,” jawab Eunhyuk sambil terus melahap es krim dengan ukuran jumbo itu.

***

Sungmin dan Eunhyuk kembali pulang ke dorm dengan kantung belanjaan yang mereka bawa, menghempaskan tubuh mereka di samping Shindong.

“ Apakah Yoonji ada di dorm?” tanya Sungmin sambil memejamkan matanya, merasa lelah karena matahari bersinar dengan sangat terik.

“ Dia baru saja tiba,” jawab Shindong singkat karena kini tengah melahap es krim yang tadi di beli Sungmin.

“ Bagaimana bisa? Bukan kah kemarin kau sangat panik akan gadis itu?” kini Sungmin membuka mata, menatap heran pada pria itu.

“ Tentu saja bisa, karena aku telah menuliskan alamat dorm ini dan menyuruh kembali menggunakan taxi setelah dia berberpergian,” sahut Ryeowook bangga.

“ Dan kau yang meminta nya untuk membayar taxi dengan uang ku,” timpal Shindong dengan sinis dan hanya mendapatkan cengiran lebar dari Ryeowook.

“ Tapi tadi ada yang aneh, dia tidak mengenali ku dan berlari menjauh padahal aku sudah membuka semua alat penyamaranku,” gumam Eunhyuk lirih.

“ Sudah ku katakan dia terkejut melihat mata mu yang bengkak,” sahut Sungmin yakin.

“ Tapi harusnya dia sudah mengenali ku. Tingkahnya wajar jika itu terjadi saat melihat mu, kau kan sibuk dan jarang berada di dorm. Dia terlihat ketakutan saat melihat kita mendekat, apa mungkin karena melihat penampilan kita yang aneh ditengah cuaca yang terik?” papar Eunhyuk yang terlarut dalam rasa penasarannya, tak mendapatkan jawaban sepatah kata pun yang keluar dari mulut Shindong.

***

Makan malam telah usai dan kini seluruh member yang sedang terbebas dari aktifitas mereka tengah berkumpul di ruang tengah. Sibuk dengan aktifitas masing untuk merilexkan tubuh mereka dari rutinitas yang padat.

“ Oppa, boleh aku meminta foto kalian?” tanya Yoonji enggan, berharap jika dia tak mengganggu aktifitas mereka.

“ Tentu saja. Ayo potret aku dengan kamera mu,” sahut Eunhyuk yang kini langsung memasang berbagai pose.

“ Aniyo, aku ingin memotret kalian berdasarkan urutan tahun kelahiran,” jawab Yoonji dan membuat Leeteuk dan Heechul memberengutkan wajah kesal.

“ Aigo, jika seperti ini aku akan ketahuan sebagai member tertua,” gumam Leeteuk lesu tapi tetap saja memasang berbagai pose andalannya.

“ Lain kali kau harus memotret berdasarkan urutan tinggi badan, arraso?” ucap Heechul berkelakar.

“ Ya hyung!!!” teriak Donghae sambil mengerucutkan bibirnya dan langsung berlari ke dapur untuk meminum susu.

Mereka berpose secara bergantian, dan Yoonji menghernyitkan kening saat melihat Sungmin berjalan maju menghampiri nya. Gadis itu memandang Sungmin dan Kyuhyun secara bergantian.

“ Chogi, kenapa dia duluan? Ku rasa kau yang lebih dulu,” ujar Yoonji pada Kyuhyun dan sukses membuat pria itu mengeluarkan aura kelamnya dan derai tawa menggema di ruangan itu.

“ Dia magnae,” ucap Ryeowook dan membuat Yoonji menganga tak percaya.

“ Aku kira kau magnae dan dia lebih tua dari kalian,” ucap gadis itu polos sambil menunjuk ke arah para member yang belum mendapatkan giliran.

Sesi pemotretan dadakan ini tak berjalan dengan lancar, ada saja kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka. Dan kini giliran sang magnae untuk dipotret tapi pria itu tak bergeming sedikit pun dari PSP yang berada dalam genggamannya.

Yoonji berjalan menghampiri Kyuhyun, sedikit membungkukkan badan agar pria itu melihat wajahnya.

“ Oppa, gini giliran mu. Kajja,” ajak Yoonji.

“ Shirro,”

“ Oppa,” panggil Yoonji yang kini mulai menggelembungkan pipi nya kesal karena tingkah pria dia hadapannya. Dia bersumpah tak akan meminta foto pria itu jika saja itu tak ada kaitannya dengan hal yang sangat penting untuk saat ini.

“ Kenapa kau harus memotret dengan kamera polaroid? Jaman sudah canggih, sebaiknya kau gunakan kamera LDR baru aku akan memenuhi permintaan mu,” ucap Kyuhyun dan membuat gadis itu semakin menggelembungkan pipi nya kesal.

“ Ini kamera antik, dan akan mempotret sesuatu yang antik seperti diri mu dan tingkah mu ini. Kajja, yang lain saja tak memprotes kamera ku. Bahkan oppa tampan itu yang sering muncul di halaman majalah tak banyak protes seperti mu,” papar Yoonji sambil menunjuk Siwon. Sedikit beruntung karena dia menunjuk orang yang tepat karena dia sama sekali tidak tahu siapa member yang sering muncul di majalah.

“ Kyuhyun-ah, aku tak akan memasakkan mu Jjangmyeon seperti biasa nya. Aku akan selalu memasak sesuatu yang berhubungan dengan sayuran,” ujar Ryeowook mengancam.

Ya, Yoonji kini tengah menjadi anak kesayangan Ryeowook karena gadis itu selalu membantu nya memasak dan menghambiskan sayuran yang di masaknya tanpa protes seperti Kyuhyun.

“ Aish, arra arra,” sahut Kyuhyun sambil meletakkan PSP kesayangannya dan memulai bergaya dengan ogah-ogahan.

Yoonji tersenyum senang saat melihat tumpukkan foto hasil kamera polaroidnya yang kini berada dalam genggamannya.

“ Yoonji-ah , aku ingin melihatnya,” ucap Eunhyuk yang langsung mengangsurkan tangannya untuk meraih foto-foto itu.

“ Andwae!!! Foto ini sudah ku susun dengan baik. Kau tenang saja  oppa, kau akan selalu terlihat tampan,” ujar Yoonji sambil menjauhkan foto-foto itu dari Eunhyuk dan tersenyum manis pada pria itu.

“ Aku memang tampan nona Shin,” jawab Eunhyuk sambil memulai tingkah cassanova nya tapi Yoonji langsung berbalik dan memasuki kamar Shindong, mengamankan foto-foto itu.
***

Yoonji tidak menyukai berlama-lama berada dalam ruangan tanpa melakukan sesuatu hal, dia lebih senang berada di luar walau pun hanya memandang langit. Baginya itu lebih menyenangkan dari pada terkurung dalam rasa bosan di dalam dorm.

Kini dia berada di taman yang ada di atas atap apartemen ini. Duduk di sebuah bangku untuk memandangi semburat orange, memandangi pendaran-pendaran cahaya matahari yang menelusup ke dalam awan. Menunggu matahari terbit di atas atap tidak kalah indah dengan melihat sunset di tepi pantai.

Duduk terdiam tanpa mempedulikan rasa dingin hembusan angin pagi yang menerpa tubuhnya yang hanya terbalut oleh piyama. Terlalu terkesima dengan matahari terbit favorit nya, hingga tak menyadari jika ada seseorang yang berdiri di belakangnya.

Yoonji menoleh saat merasakan seseorang menyampirkan jaket pada bahu nya. Orang itu tersenyum dan kini duduk di sebelah Yoonji, seorang pria tampan dengan senyuman dan sinar mata yang lembut. Sangat menghanyutkan.

Gadis itu membuka tas yang berada dalam pangkuannya, mengeluarkan sesuatu dan membuka nya secara perlahan, sebuah album.

“ Kau, Sungmin oppa?” tanya Yoonji setelah melihat-lihat album foto itu.

“ Ya, kau tidak mengingat ku?” tanya Sungmin dan dirinya tertegun saat melihat gadis itu tersenyum pedih.

“ Kau selalu membawa ini kemana-mana? Tas, polaroid, dan pena?” tanya Sungmin saat menyadari bahwa pagi-pagi seperti ini pun Yoonji tetap membawa itu semua.

“ Ya. ini… sangat berarti untuk ku,” jawab Yoonji sambil tersenyum manis.

“ Boleh aku tahu alasan mu untuk membawa pena? Lalu kenapa kau melarang Eunhyuk melihat hasil foto kemarin?” tanya Sungmin tanpa bisa mencegah rasa penasaran nya yang kian hari kian menumpuk.

“ Aku telah menyusun itu foto-foto itu berdasarkan urutan saat kalian di potret oleh ku. Dan jika kau bertanya alasannya, aku telah meminta urutan nama kalian berdasarkan tanggal lahir dari Shindong oppa, dan aku melarang orang itu untuk melihat hasil foto itu karena aku belum menuliskan segalanya tentang kalian,” papar Yoonji tanpa menatap Sungmin yang duduk di sampingnya.

“ Maksud mu?” Sungmin masih sedikit bingung dengan ucapan gadis itu.

“ Aku belum menuliskan nama kalian di foto itu. Seperti saat ini, aku membuka album milikku… mencari foto mu dan membaca keterangan yang ku tulis di foto itu. Selain tak dapat mengingat jalan, aku juga tak dapat mengingat nama orang-orang, aku melupakan mereka. Sedikit bersyukur karena aku masih dapat mengingat nama anggota keluarga besar ku,”

Sungmin tak dapat melepaskan pandangannya dari gadis itu, gadis yang biasanya terlihat selalu ceria kini terlihat rapuh dan tergambar dengan jelas gurat kesedihan dalam mata almond milik nya.

“ Aku akan membantu mu. Tapi… kenapa kau tak menceritakannya pada kami? Apa kau tak takut jika orang lain merasa sedih karena kau tidak mengingatnya tanpa tahu alasan mu sebenarnya?” tanya Sungmin, entah kenapa dia tak ingin orang-orang menganggap buruk gadis yang berada di samping nya ini.

“ Aku… tidak ingin mereka mengasihani ku,” ujar Yoonji lalu menggingit bibir bawah nya, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar.

“ Kau tahu? Mengasihani seseorang tak seburuk yang kau kira, itu berarti mereka menyayangi mu,”  jawab Sungmin, membuat gadis itu menoleh padanya dan memperlihatkan mata almondnya yang kini sedang berkaca-kaca.

“ Benarkah?” tanya dan hanya mendapati seulas senyum dari Sungmin.

“ Lain kali jika kau akan pergi ke atap, pakailah jaket. Jangan seperti ini, cuaca sedang tak menentu,” ucap Sungmin sambil kembali merapatkan jaket yang yang tadi dia sampirkan hampir melorot dari bahu Yoonji.

“ Ne, op- oppa,” jawab Yoonji sambil tersenyum malu.

Dirinya belum pernah sedekat ini dengan pria padahal cukup banyak pria yang menyukainya. Bukan dia tak ingin, tapi dia tak bisa karena kekurangannya ini. Dia takut akan dicampakan saat mereka mengetahui kekurangannya.

“ Kau tahu, aku suka sekali memotret. Tapi tidak segala hal yang  dapat ku potret, karena aku akan bertanya-tanya siapa, apa, dimana, dan akapan aku memotret itu semua. Makanya aku hanya memotret orang-orang yang berada di sekitar ku. Aku memilih menggunakan polaroid karena saat itu juga foto itu akan tercetak dan aku dapat menuliskan informasi yang mungkin berguna untuk ingatan ku tentang objek foto itu, ” Yoonji kembali bercerita, mengeluarkan perasaannya yang paling dalam yang belum pernah dia sampaikan pada orang lain.

“ Aku… menyukai matahari terbit maupun terbenam. Mereka selalu sama, tak pernah berubah,”

Mereka terlarut dalam hening. Hening bukan tentu sepi, hanya saja mereka nyaman dengan semua ini. seolah tak ada kata-kata yang perlu untuk diucapkan.

Yoonji merasakan tubuhnya hangat walaupun angin menerpa tubuh nya, hangat tapi bukan karena jaket yang dia kenakan. Dia merogoh saku jaket dan menemukan sekaleng kopi hangat di sana.

“ Igo,” jawab nya sambil mengangsurkannya pada Sungmin.

Sungmin mengambil sekaleng kopi hangat itu, tersenyum pada Yoonji dan menangkup ke dua pipi itu dengan tangannya.

Yoonji merasakan sensasi aneh pada tubuhnya. Dia merasakan dingin pada pipi kanan nya karena tangan Sungmin yang dingin, dan rasa hangat yang menjalar pada wajahnya karena Sungmin menempelkan kaleng itu pada pipi kiri Yoonji.

“ Di sini dingin, kajja kita kembali ke dorm,” ajak Sungmin sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

Sungmin termangu dengan apa yang Yoonji lakukan, gadis itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu menagkupkannya pada pipi Sungmin. Hangat, hanya itu yang Sungmin rasa kan. Kehangatan yang tanpa dia sadari telah menjalar ke hatinya.

“ Kajja,” ucap Sungmin sambil menggenggam tangan Yoonji, menuntun gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

“ Oh iya, kau berada di atap lalu bagaimana caranya jika kau ingin kembali ke dorm?” tanya Sungmin selama mereka dalam perjalanan menuju dorm.

“ Tentu saja dengan ini,” sahut Yoonji senang sambil mengacungkan ponsel milik nya.

“ Hahahaha Shindong hyung pasti repot untuk mengawasi mu, kalau begitu aku juka akan mengawasi mu,” jawab Sungmin dan entah kenapa membuat perasaan senang membuncah dalam diri Yoonji.

***

Mereka semua sudah tahu tentang keadaan Yoonji, Sungmin dan Shindong telah memberitahu tentang keadaan gadis itu. Dan Yoonji senang saat mereka semua memperlakukannya seperti biasa, tidak memperlihatkan rasa kasihan yang sebenarnya mereka rasakan pada gadis itu.

Selama tiga hari member Super Junior memiliki waktu bebas, terlepas dari padatnya aktifitas mereka dan sukses membuat kegaduhan dalam dorm yang biasanya sepi sunyi ini.

“ Ya!!! setan!!! Kembalikan kamera ku!!!” teriakan Yoonji membahana keseluruh ruangan, dia sibuk mengejar-ngejar Kyuhyun yang sedang mengacung-ngacungkan kamera miliknya. Tak menyadari jika ada sesosok pria yang sedang tersenyum memperhatikan nya.

Sungmin tersenyum melihat tingkah Yoonji, juga senang karena dia telah berhasil mengingatkan Yoonji tentang Kyuhyun. Mengingatkan jika Cho Kyuhyun magnae super junior itu tingkahnya seperti setan, dan kalian lihat? Gadis itu memanggil Kyuhyun dengan sebutan setan.

Langkah Kyuhyun terhenti saat merasakan sebuah tangan menggaet lehernya dan merebut kamera yang berada dalam genggamannya.

“ Ya!! Hyung, kau menyebalkan,” sungut Kyuhyun saat melihat Sungmin telah mengembalikan kamera itu kepada Yoonji.

“ Jangan terlalu sering menggodanya,” ujar Sungmin dan langsung membuat Kyuhyun menyeringai.

Kyuhyun berjalan menghampiri Sungmin dan Yoonji, mencibir saat melihat gadis itu langsung menyembunyikan kamera milik nya. Kyuhyun melingkarkan tangannya pada pundak Sungmin, menelusuri lekuk rahang pria itu dengan tangannya dan berkata, “ Kau cemburu hyung? Kau ingin aku menggoda mu?”

Yoonji menganga tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. “ K-kkalian…” ucapnya terbata-bata karena tidak mampu mengucapkan apa yang ada di benak nya.

“ Aniyo, dia gila. Jangan dengarkan orang sepertinya,” sahut Sungmin cepat sambil melepaskan rangkulan Kyuhyun dan menarik tangan Yoonji menajauhi magnae yang kini sedang tertawa terpingkal-pingkal.

***

Yoonji kini sedang berkumpul dengan Eunhyuk, Donghae, Ryeowook, dan Siwon di ruang tengah, mencoba untuk mengingat nama mereka.

“ Yoonji-ah, kau ingat nama ku? aku Rain, Rain. Arraso?” ujar Eunhyuk senang dan tersenyum lebar saat melihat Yoonji menanggung dan menggumamkan kembali ucapannya.

“ Ya!!! jangan percaya dia!!! Sangat jauh berbeda!!” teriak Donghae tak menyukai Eunhyuk yang dipanggil Rain oleh Yoonji.

“ Huwaaaaa Yoonji-ah, kau harus sadar!! Jangan mau memanggilnya dengan panggilan Rain,” ujar Ryeowook sambil berkaca-kaca karena Eunhyuk telah membohongi Yoonji dengan tingkat kebohongan yang tinggi.

“ Aku juga merasa nama itu terlalu bagus, tingkahnya lebih cocok dipanggil monkey. Bagaimana oppa? Kau menyutujuinya?” sahut Yoonji dan bertanya pada Siwon dan hanya mendapat anggukan dari pria itu karena Siwon langsung terbahak-bahak melihat ekspresi kebahagiaan yang sirna di wajah Eunhyuk.

“ Ya!! kenapa kau bertanya pada nya?!!” pekik Eunhyuk kecewa.

“ Karena dia tampan dan taat beragama. Kurasa dia tak akan mengatakan kebohongan publik yang sangat jauh dari kenyataan,” jawab Yoonji polos tapi langsung menohok hati Eunhyuk sedangkan yang lain terlarut dalam derai tawa bahagia saat melihat binar kebahagiaan sirna dari pria itu.

***

Sinar matahari menelusup memasuki celah-celah dedaunan, tak dapat mengusik dua orang yang kini sedang  terduduk di bangku taman yang dinaungi oleh dedaunan yang rindang bagaikan kanopi.

Gadis itu menggelumbungkan pipinya kesal, tak mempedulikan seorang pria yang duduk di sampingnya.

“ Yoon,” ujar pria dan berhasil membuat gadis itu menoleh dan memiringkan wajahnya bingung.

“ Wae? Apa aku salah memanggil mu ‘Yoon’? itu lebih singkat dan manis,” ucap pria itu sambil mengacak-ngacak rambut gadis itu.

“ Oppa, kenapa kau hanya bisa mengingat nama mu? Sedangkan aku hanya mengingat panggilan untuk member-member lain hanya istilah aneh yang kau berikan pada ku,” ujar gadis itu sambil membolak-balikkan album foto milik nya.

“ Ini… monkey, arg dia Lee Hyukjae Shin Yoonji!!!” pekik nya saat melihat foto Eunhyuk.

“ Huft, baiklah. Mencoba mengingat nama mereka, fighting!!!” ucapnya sambil mengepalkan tangan, mencoba mengingat nama mereka satu persatu.

“ Argh!!! Kenapa susah sekali?!!!”

“ Angel, Setan, Invisible Man, Fishy, Monkey, Prince, Shindong oppa, Sungmin oppa, eomma, Cinderella,” gumam Yoonji sambil membuka foto demi foto secara acak dan menyebutkan nama yang dia hafal.

“ Mwoya?” Yoonji mendelik saat melihat Sungmin yang tertawa bahagia.

“ Aku sengaja, aku sengaja agar hanya nama ku yang terpatri dengan jelas di ingatan mu. Nobody else, except your family,” jawab Sungmin sambil memainkan jari-jarinya di ujung rambut Yoonji yang tergerai, memperhatikan wajah gadis itu yang kini merona merah. Ekspresi favoritnya.

“ Hentikan tingkah mu oppa. Bisa-bisa para namja akan mengira bahwa kau adalah pacar ku, hancur sudah pasaran ku,”

“ Biar saja. Hanya nama ku yang akan kau ingat dengan jelas,” jawab Sungmin tak menghentikan aktifitas nya.

“ Benarkah? Kau terlalu percaya diri. Kita tidak tahu apakah memang benar nama mu akan selalu ku ingat jika kita selalu bertemu seperti sekarang. Oppa hentikan!! Bagaimana jika ada yang menyadari kehadiran mu? Lihat, kau tanpa penyamaran seperti ini. Aku bisa amnesia diserang oleh fans mu, ah pasti lebih parah jika nanti aku mengalami amnesia,” ucap Yoonji tanpa henti, sesekali meringis ngeri membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

“ Tidak akan. Aku akan melindungi mu,” jawab Sungmin sambil menggenggam tangan Yoonji erat.

Yoonji beranjak dari tempat duduknya, berlari meninggalkan Sungmin seorang diri. Dirinya tak sanggup menerima semua perlakuan Sungmin yang terkadang membuatnya melambung tinggi. Dia takut, takut terjatuh karena sesuatu yang belum pasti. Tak pernah ada komitmen yang pernah diucapkan Sungmin, dan itu membuat Yoonji semakin resah saat bersama dengan pria itu.

***

Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi saat seseorang memencet bel apartemen member super junior. Teriakan Ryeowook membahana menyuruh Sungmin untuk membukakan pintu karena dirinya masih sibuk memasak.

Sungmin melangkahkan kakinya dengan enggan untuk membukakan pintu. Dirinya cukup terkejut saat melihat seorang pria tampan, ah ani, pria dengan kadar keimutan melebihi dirinya berdiri sambil tersenyum di hadapannya.

Sungmin semakin termenung saat mengetahui jika pria itu datang untuk mencari Yoonji. Dia mempersilahkan pria itu masuk sambil bertanya-tanya siapa pria itu sebenarnya.

Mereka duduk di ruang tengah, Sungmin menemani pria itu karena Yoonji masih berada di kamar mandi.

“ Kau mau menemui Yoonji?” tanya Sungmin dan hanya mendapatkan anggukan dari pria itu.

“ Perkenalkan, aku Lee Sungmin”

“ Hahaha aku sudah tahu siapa diri mu, member dari boy band terkenal. Aku Song Joong Ki” sahut pria itu sambil menjabat tangan Sungmin.

Baru saja Sungmin akan bertanya tentang perihal kedatangan Joong Ki menemui Yoonji, gadis itu kini telah berdiri di samping mereka. Yoonji sedikit memiringkan kepalanya, memperhatikan wajah Joong Ki dan berfikir keras.

“ Joong Ki oppa?!!!” pekik nya tak percaya saat menyadari siapa pria itu.

“ Oppa untuk apa kau ke sini? Jauh-jauh dari Canada, kau merindukan ku hah?” tanya Yoonji setelah duduk di samping pria itu.

“ Tentu saja aku merindukan mu,” jawab Joong Ki sambil memeluk erat tubuh Yoonji, tak menyadari jika Sungmin menatapnya tajam.

“ Kau mau ikut dengan ku? Ke Jeju, kau sudah lama tak mengunjungi rumah ku. Kau tenang saja, aku sudah menghubungi orang tua mu dan mereka mempercayakan mu pada ku,” papar Joong Ki panjang lebar.

“ Jinjja?!! Wuaaah mau!! Tapi aku harus ijin pada Shindong oppa,” sahut Yoonji girang.

“ Paman mu itu? Baiklah, lagi pula pesawat kita akan berangkat nanti sore,” ucap Joong Ki sambil tersenyum manis, benar-benar mampu menandingi keimutan seorang Lee Sungmin.

“ Oppa, coba tebak umur Joong Ki oppa. Dia lebih tua dari mu, tapi dia imut kan hahaha” ujar Yoonji sambil tertawa lepas dihadapan Sungmin.

“ Benarkah? Aku tak menyangka. Aku permisi, badan ku terasa gerah. Ku rasa aku harus mandi,” pamit Sungmin dan beranjak pergi meninggalkan Yoonji yang kebingungan.

‘Dingin? Apakah dia gila? Jelas-jelas dingin seperti ini’ ucap Yoonji dalam hati.

“ Gadis bodoh,” ujar Joong Ki sambil tertawa senang setelah mendaratkan jitakan pada gadis itu.

***

Sungmin meraih ponsel milik nya, mencoba menghubungi Shindong yang sedang memiliki jadwal padat.

“ Hyung, kau mengenal pria bernama Song Joong Ki?” tanya Sungmin langsung saat Shindong mengangkat telpon nya.

“ Joong Ki? Aku tak mengenal nya, tapi aku rasa aku pernah mendengar nama nya. Waeyo?”

Bukannya menjawab pertanyaan Shindong, Sungmin malah memutuskan sambungan telpon dan terduduk di tepi tempat tidur.

***

Dengan kehadiran Joong Ki di dorm suju maka dengan itu pula mereka tersaingi oleh ketampanan dan wajah awet muda pria itu.

Sungmin hanya menatap tak berminat menatap sepiring jjangmyeon yang teronggok di hadapannya, tangannya hanya sibuk memainkan sumpit miliknya. Selera makannya hilang saat melihat kedekatan Yoonji dan Joong Ki yang menurutnya terlihat mesra.

“ Oppa, kau harus mencoba masakan eomma. Masakannya sangat enak,” ujar Yoonji sambil meniriskan jjangmyeon yang berada dalam piringnya ke piring Joong Ki.

“ Eomma?” Joong Ki menghernyitkan kening heran karena di sini tak ada wanita selain Yoonji.

“ Yang dia maksud itu aku. Yah, karena aku sering masak jadi dia memanggil ku eomma. Ku rasa kau tahu tentangnya Joong Ki –ssi ” papar Ryeowook menjawab pertanyaan Joong Ki.

“ Ne, aku tahu hampir semua tentang dia,” jawab Joong Ki sambil tersenyum menatap Yoonji. Membuat Sungmin semakin mengeratkan genggamannya pada sumpit milik nya.

“ Ji-ah ini terlalu banyak untuk ku, kau harus membantu ku menghabisinya,” ujar Joong Ki sambil menyuapkan jjangmyeon itu pada Yoonji.

Semua orang terdiam saat melihat Sungnmin yang beranjak pergi meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sedikit pun makanan milik nya. Dia muak, muak melihat kedekatan Yoonji denga pria itu.

‘ Apa aku salah karena aku tak menyatakan perasaan ku dengan gamblang?’ ucap pria itu dalam hati sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur, memandang langit-langit kamarnya.

Pintu kamarnya di ketuk, tanpa dia persilahkan seseorang telah melengkah memasuki kamarnya. Shin Yoonji. Kini gadis itu duduk di tepi tempat tidur Sungmin, membawa sepiring Jjangmyeon dan segelas air.

“ Oppa, makanlah,” ujar Yoonji sambil menatap Sungmin tapi pria itu masih berbaring.

“ Jika kau berhasil membuat ku duduk, maka aku akan memakan itu,”

Yoonji berdiri, menarik kedua tangan Sungmin dengan tangan kecilnya agar pria itu bangkit dan duduk. Tapi usahanya sia-sia, walaupun seluruh tenaganya telah dia kerahkan tapi tetap saja pria itu tak bergeming.

Secara tiba-tiba Sungmin malah menarik tangan Yoonji, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan limbung ke atas tubuh Sungmin. Jarak mereka sangat dekat, mata mereka saling terpaut satu sama lain. Yoonji dapat merasakan hembusan nafas Sungmin menerpa wajahnya.

Secara perlahan Sungmin mendekatkan wajahnya pada Yoonji, mengecup bibir merah cherry gadis itu lalu melumatnya pelan, lembut tanpa menuntut. Mata Yoonji masih membuka, dia melihat jika Sungmin menutup matanya, terlarut dalam permainannya sendiri. Lalu secara perlahan Yoonji menutup matanya, merasakan bibir lembut pria itu.

Sungmin melepaskan pagutan bibir mereka, menyentuh bibir gadis itu dan merengkuhnya kedalam dekapan. Membenamkan wajahnya pada rambut panjang Yoonji, menghirup aroma yang selalu membuat darahnya berdesir dan perasaan tenang di saat yang bersamaan.

“ Apa yang kau lakukan?” tanya Yoonji.

“ Melakukan apa yang seharusnya ku lakukan,” jawab Sungmin.

“ Aku sudah menelpon Shindong oppa dan dia mengijinkan ku. Aku akan pergi, kita lihat apakah ucapan mu waktu itu benar?” tanya Yoonji setelah bangkit dan merapihkan rambutnya.

“ Makanlah, sampai jumpa Lee Sungmin. Dan aku menitipkan album foto milik ku ke pada mu,” ujar Yoonji sambil menunjuk album foto miliknya yang teronggok di atas nakas.

Sungmin hanya terdiam memandang punggung gadis itu semakin menjauh dan menghilang di balik  pintu. Dia mendengar Yoonji pamit untuk pergi pada semua member, dia ingin keluar dari kamar ini. Melihat wajah gadis itu dan mendengar gadis itu memanggil namanya, tapi itu tidak bisa dia lakukan. Karena jika dia keluar dari kamar ini, dia yakin dirinya akan menghentikan kepergian gadis itu dengan cara apa pun.

Tangannya bergerak menyentuh bibirnya, dia masih bisa merasakan lembutnya bibir gadis itu. Mengingat mata almond milik gadis itu. Favoritnya.

***

Sudah tiga hari Yoonji meninggalkan dorm dan Sungmin bersyukur karena dia memiliki jadwal yang padat sehingga tak ada kesempatan untuk merindukan gadis itu.

Dan kini Sungmin dengan penyamaran lengkap berjalan memasuki sebuah taman, taman yang pernah dia kunjungi dengan Yoonji. Sungmin menyingkap dedaunan yang menjuntai menghalangi jalannya menuju bangku yang berada di balik dedaunan itu, dia terkesiap saat mendapati gadis itu di sana.

Shin Yoonji kini tengah duduk di bangku itu dan memandangnya heran, seolah seseorang tengah mengganggunya. Dengan serta merta Sungmin langsung memeluk gadis itu, membenamkan wajah gadis itu pada perut nya.

“ Ya!! neo jinjja micheoso?!! Lepaskan!!” bentak Yoonji sambil mendorong tubuh Sungmin menjauh.

“ Kau kembali. Kau pasti mengingat ku, Yoon” ujar Sungmin sambil tersenyum bahagia.

“ Nuguseyo? Aku tak mengingat mu,” jawab Yoonji dan terlihat berfikir serius.

“ Lihat,” Sungmin membuka semua alat penyamarannya tapi Yoonji tetap menggeleng, tak menemukan Sungmin dalam memori nya.

“ Kau pasti mengingat ini, ini album milik mu. Kau lihat? Ini aku,” ujar Sungmin yang kini duduk di samping gadis itu sambil menunjukkan fotonya di album itu.

Sungmin mengerang frustasi karena melihat Yoonji yang terlihat biasa-biasa saja dan terlihat bingung dengan semua perkataanyya.

Dengan tiba-tiba Sungmin merengkuh wajah Yoonji, mengecup bibir gadis itu dan melumatnya pelan, lembut tanpa menuntut seperti waktu itu. Ciuman mereka terasa asin, ya, Sungmin menangis. Tak pernah terpikirkan olehnya sedikit pun dia akan menangis karena takut seorang gadis akan melupakannya.

Sungmin melepaskan ciuman mereka, menatap Yoonji dengan tatapan sendu. Dia meraih rambut Yoonji dalam genggamannya, menciumi dan menghirup aroma yang selalu dia rindukan, aroma yang entah sejak kapan telah menjadi candu untuknya bagaikan zat adiktif.

“ Kau mengingat ku?” tanya nya lirih.

“ Mianhae… aku tak mengingat mu,” jawab Yoonji sambil menundukkan wajahnya.

“ Tak apa, yang penting kau ada di samping ku dan aku melihat mu,” jawab Sungmin lalu mengecup puncak kepala Yoonji.

Tubuh Sungmin menegang saat dia merasakan tangan mungil Yoonji melingkar memeluknya, gadis itu membenamkan wajanya pada dada bidang Sungmin.

“ Aku mengingat mu, sangat jelas di pikiran ku,” ucap Yoonji membuat Sungmin melepaskan pelukan mereka dan menatap dalam mata gadis itu.

“ Aku membohongi mu, sejak awal.” Ujar gadis itu, Sungmin hanya terdiam mendengarkan semua penuturan gadis itu.

“ Joong Ki itu sepupu ku. Dia anak dari Hyeona ahjumma, kakak dari ibuku. Jelas saja Shindong oppa tak akan mengenalnya karena dia sejak berusia 10 tahun sudah tinggal di Canada. Dia tahu semua tentang ku, dan tentang mu. Dia mau membantu ku untuk mengetahui apa isi hati mu. Dan gotcha!! Kau tak menyukai kehadirannya sejak pertama kali dia datang, tapi kau tak pernah mengatakannya secara langsung pada ku.”

“ Dan sekarang aku berpura-pura melupakan mu. Aku ingin tahu akan reaksi mu, dan ternyata aku tak tega untuk terus berpura-pura dihadapan mu,” papar Yoonji dan tersenyum manis pada Sungmin.

“ Dasar anak nakal,” ujar Sungmin sambil mengacak-ngacak rambut Yoonji gemas.

“ Entah sejak kapan, aku mulia mencintai mu. Sangat mencintai mu. Apakah kau menikah dengan ku? Aku akan mengikat mu dengan janji suci di altar, mengikat mu seumur hidup agar kau tak membuat ku cemas,” ucap Sungmin memainkan cincin perak bertahta batu sapphirre yang entah sejak kapan telah tersemat dijari manis Yoonji tanpa gadis itu sadari.

“ Aku… tak bisa. Kau tahu keadaan ku. Jika kau bersama ku,  yang ada kau malah selalu membantu ku. Aku tak dapat membantu mu mengingatkan jadwal, kau tahu keadaan ku,” papar Yoonji dengan kristal bening yang mengalir di pipi nya.

“ Uljimma. Yang terpenting adalah aku dapat melihat mu di sisi ku, memastikan keadaan mu dan tahu bahwa kau baik-baik saja. Aku menerima segala kekurangan mu, aku akan menjadi memori untuk mu, aku akan menjadi segala hal yang kau butuh kan,” jawab Sungmin menghentikan ucapannya.

“ Tanpa kau sadari kau telah menjadi zar adiktif untuk ku. Aku merindukan mata almond mu yang jenaka, aku  merindukan aroma strawberry yang menguar dari tubuh mu, apalagi setelah aku merasakan lembutnya bibir mu. Itu telah menjadi candu terbesar untuk ku,” Sungmin menghentikan ucapannya dan mencium punggung tangan Yoonji.

“ Bersedia atau tidak, aku akan menikahi mu. Bahkan saat ini aku bisa membawa mu kedepan altar, would you be my bride?” Tanya Sungmin dan hanya mendapatkan anggukan dari Yoonji yang kini wajahnya telah merona merah.

“ Terima kasih Yoon. Aku sangat mencintai mu,” ucap Sungmin sambil memeluk Yoonji erat.

“ Ah aku lupa. Kau tahu kan anak nakal harus diberi hukuman?” tanya Sungmin sambil merengkuh dagu Yoonji membuat wajah mereka semakin dekat.

“ Saranghae,” bisik Sungmin sebelum bibir mereka saling berpagutan, saling melumat pelan mencoba menyalurkan perasaan cinta dan rindu yang mereka rasakan.

Melepaskan rasa cinta yang selama ini hanya mereka rasakan sendirian, ingin menunjukkan besarnya perasaan mereka melalui pagutan yang terjadi.

Bibir mereka tetap saling berpagutan tertutupi rimbunnya dedaunan yang tampak seperti kanopi, tanpa harus takut jika ada orang yang akan memergoki mereka.

~end~

25 thoughts on “Who are you?”

    1. tarix jabrik si dadang?? o,O
      waeyo?? kenapa keinget tarix jabrik?? -______-?
      aku ga mudeng nih..

      ahahahah… kan waktu itu aku ga bs bikin adegan kisseu, trs pd nanya kisseu nya manaaa?? pas aku udh bs bikin adegan kisseu….. eh keterusan /DUAGH

    1. muahahaha aku salah ketik finun… dan kebangetan typonya😄
      ah readers juga tau kok.🙂

      sedikit dialog yg ga nyambung sm typo? harap dimaklumi… aku bikin.y pas minggu genting u,u

      ah finun nih.. dialog sedikit ga nyambung sm typo d mana” malah suka ff ini -____________-”

      thankyu finun😉 *poke yeye

  1. huwaaaaaa >///<
    eonni!! daebaaaaak!!! x3
    aku kira bakalan sad ending, alhamdulillah happy ending😀
    daebak bgt eon!!!😀

  2. ‎​•*˚*•(*) Îγα™ (*)•*˚*•‎​​​​​​‎​
    Ada dialog yg bikin aku bingung
    Tapi aku suka kok
    Mau donk dihukum
    ‎​​​​​​Њαњααњαњααњαњαα.. =))
    *dijitak Yun oppa*

  3. Dkirain joongki itu ad ap2ny >.< Trnyata cm ngbantuin doank tooh.. Baca in jd inget film barat yg mainny drew b ツ hê ツ hê ツ hê ツ hê ツ aplg ps sungmin ngajak nikah trus yoonji blg tkt ga bs ngingetin jdwl, aq lgsg kpikiran sungmin tiap pagi nyetel video ps mrk ktmu, pacaran n akhirny nikah ;p

  4. Aihhh manisss…
    Kirain awalnya yoonji itu tipe cw manja, eh taunya dia sakit yah?
    Kasian.. Tp lucu selalu foto2🙂
    Eh kyu yampun.. Usiiilllll banget bangetan (ˇ_ˇ”)
    RAin?Mwoya? Hahahah bukannya wonbin biasanya?? Wkwkwkwk
    Acieeee umin cemburuuu hihihiii tp akhirnya jadi juga (’⌣’)

    1. halloo^^
      iya yoonji sakit..
      muahaha si kyuhyun emang minta dihajar di ff ini, evil nya kumaaaat.
      Harus.y sih wonbin… tp aku amnesia ngedadak pas bikin, jadi.y rain deh :3
      iyaa umin cemburu…. dihukum.y itu loh…
      aku juga mau -___-“

  5. Abiss keliling” blog ini, FF-nya bagus semua loh, alurnya bagus, sudah cukup baku, feelnya dapet banget, cuma masih ada typo chingu🙂 sedikit perbaikan menjadi wonderful, thx keep spirit, and carry on :3

  6. So sweet Yoonji and Sungmin oppa akhirnya bersatu lg, rupanya Yoonji mengingat benar Sungm7n oppa dan dia hanyaningin mengujinkadar cinta Sungmin oppa kpd nya.. very sweet cherry kiss

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s