Secret Bride -Part 2-

Title      :: Secret Bride

Author :: autumnsnowers

Genre   :: Romance, Comedy

Rate      :: General

Length :: 3shot/4shot

Cast ::

– Vincent Malkovich as Lee Sungmin

– Claire Eisenberg as Shin Yoonji

– Casey Eisenberg as Kim Heechul

– Sunny Luxel as Sunny “SNSD”

– Bryan Traffor as Kim Kibum “SUJU”

Disclaimer :: ide cerita merupakan hasil dari pemikiran saya. Maaf kalau kalian merasa karakternya tidak sreg dengan cast.

Note :: Buat Sungji couple, mianhae aku telah menistai kalian di ff abal-abal ini *bow* mian klo ceritanya jelek *bow lagi* dan mian jg krn bikin surename nya ngasal xp

Previous >> Part 1

~Story Begin~


Lorong demi lorong berhasil ku lewati dengan baik, kini aku telah berhasil menghafal seluruh digit angka yang berlaku dan memang benar, setiap 33 digit yang berhasil diakses akan terdengar bunyi bip. Dan kini aku berdiri di depan sebuah pintu kokoh, berusaha memantapkan hati untuk mulai memasukkan 33 digit itu.

Pintu terayun terbuka, entah kecanggihan yang diletakkan di mana aku tak mau pusing memikirkannya. Aku berjalan dengan mengamati hal-hal yang ada di sekitar ku, di ruangan Vincent. Aku melihatnya, sesosok pria tampan yang duduk di belakang meja kerjanya dan secara perlahan aku menghampirinya.

“ Permisi pangeran , ada yang bisa saya kerjakan?” tanya ku seraya membungkuk hormat padanya.

Dia mendongak, mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan aku terpaku melihat manik matanya, entahlah tapi aku merasa jika mata itu bersinar lembut menatap tepat di manik mata ku. Jujur, aku sedikit terhisap ke dalam tatapan pria itu tapi aku harus membuktikan akan rumor itu.

“ Kau pelayan baru?” tanyanya dengan suara berat, suara yang ku yakini mampu membuat orang-orang mengikuti segala perintahnya.

“ Benar. Saya Clara, pelayan pribadi nona Claire. Saya datang ke sini hanya selama satu minggu untuk memastikan tempat yang akan nona Claire kunjungi,” tutur ku sambil tersenyum manis.

“ Kau memanggilnya nona? Kalau begitu kau bisa memanggil ku tuan,”

“ Tapi yang mulia…”

“ Turuti saja perkataan ku.” ucapnya dan langsung merasuk ke dalam sistem kerja otak ku.

“ Baik tuan,” ucap ku dan berdiri disamping Vincent, memperhatikan pria itu yang kini telah kembali berkutat dengan layar dihadapannya.

Pandangan ku tertarik pada bunga lavender yang berada di pojok ruangan, aku menyiramnya saat menyadari jika bunga itu sedikit layu. Aku kembali berdiri di belakang kursi kerja Vincent, memperhatikan sosoknya yang tak pernah berpaling dari laptop dan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
Sejak tadi aku menyibukkan diri dengan memperhatikan seluruh ruangan. Satu kata yang dapat ku simpulkan saat ini, dia kutu buku atau pekerja keras. Lihat saja, tumpukan berkas-berkas yang berada di atas mejanya dan deretan buku-buku yang memenuhi salah satu sudut ruangan ini. Aku melihat sebuah pintu di salah satu sisi ruangan ini dan ku yakini itu adalah pintu yang menghubungkan ruang kerja ini dengan kamarnya.

Kaki ku pegal dan rasanya sudah tak sanggup untuk berdiri, aku melirik jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangan kiri ku dan tercengang dengan apa yang baru saja ku sadari. Pantas saja kaki ku pegal, aku sudah berdiri hampir 6 jam di sini!!! Dan sialnya aku tak menyadarinya karena terlarut dalam dekorasi dan tata letak ruangan ini yang sangat mengagumkan.

Tunggu… aku berdiri di sini hampir 6 jam?!! dan Vincent belum beranjak meninggalkan berkas-berkas itu? dan itu artinya dia melewatkan jam makan siang.

“ Tuan… apakah anda ingin makan siang?” tanya ku hati-hati pada sosoknya yang masih serius berkutat dengan laptopnya.

Hening. Dia tak merespon sedikit pun pertanyaan ku dan tetap tenggelam dalam tumpukan berkas-berkas itu.

“ Yang mulia?” panggil ku setelah 10 menit berlalu, dia tak menyahut.

“ Tuan,” aku kembali mencoba memanggilnya setelah 3X dalam 20 menit terakhir ini aku mencoba memanggilnya tapi dia tak merespon sedikit pun.

Oke yang perlu ku catat adalah, dia selalu mengabaikan orang yang di dekatnya seakan-akan tumpukan berkas-berkas itu hal yang paling menarik untuk diajak bercengkrama.

“ Tuan?” panggil ku untuk kesekian kalinya berusaha menarik kesadarannya dari tumpukan berkas-berkas itu dan berhasil membuatnya menolehkan wajah.

“ Kau mengatakan sesuatu?” tanya dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.

“ Apakah tuan ingin makan siang? Ini sudah lebih 3 jam dari jam makan siang,”

“ Benarkah? 1 jam lagi,” ujarnya sambil kembali berkutat dengan berkas-berkas dan laptop di hadapannya. Aku hanya mengangguk meng’iya’kan ucapannya. Kembali berdiri dalam diam di belakang kursi kerjanya, menunggu satu jam yang akan datang.

Aku kembali melirik jam tangan putih milik ku untuk kesekian kalinya, sudah 1 jam lebih 35 menit tapi belum ada tanda-tanda dirinya akan meninggalkan berkas-berkas itu.

“ Tuan, sudah 1 jam lebih. Sudah saatnya untuk anda makan siang,”

“ Nanti saja, masih banyak yang harus ku urus.”

“ Tapi bagaimana jika anda sakit? Anda harus makan yang mulia,” ucap ku sanksi karena melihat wajahnya yang sedikit pucat.

“ Aku hanya perlu memakan suplemen,” jawabnya sambil membolak-balikan berkas dan sesekali menarikan jari-jarinya di atas keyboard.

“ Apakah itu semua cukup? Ku rasa tidak. Wajah anda sedikit pucat dan bagaimana jika anda sakit? Bukankah yang baginda raja juga sedang terbaring lemah? Lalu kakak anda sedang pergi melakukan urusan diplomasi, dan itu artinya anda yang mengendalikan semuanya saat ini.” tandas ku panjang lebar dan membuatnya menatap ku curiga.

“ Maaf yang mulia, aku tidak bermaksud lancang. Nona Claire pernah menceritakannya pada ku sebelum aku pergi ke istana ini,” tutur ku sambil membungkuk minta maaf saat menyadari ketelodaran ku, bagaimana jika dia mengusir ku atas kelancangan ku? Claire, kau benar-benar ceroboh.

“ Baiklah, aku akan istirahat. Ku rasa tidur lebih baik dari pada makan,” ujarnya sambil beranjak dari duduknya dan mulai berjalan membelakangi ku.

“ Tapi anda tetap harus makan yang mulia,”

“ Kau hanya tinggal menuruti perintah ku, Okay?” sahut nya sambil menolehkan wajahnya menatap ku dengan tatapan dingin yang menusuk dan membuat ku hanya mengangguk.

“ Bangunkan aku 30 menit lagi,” sambungnya sambil kembali melangkah dan sukses membuat ku menganga tak percaya.

30 menit lagi?!! Dia gila?!! Bagaimana mungkin lebih memilih tidur selama 30 menit dari pada makan? Dasar pria aneh. Walau pun aku merutuk dalam hati, tetap saja aku membawakan tanaman lavender yang berada di ruang kerjanya ke kamar pria itu.

Aku menaruh tanaman lavender itu di kaki tempat tidur lux miliknya, selama beberapa saat memperhatikan sosoknya yang kini sedang terlelap dan aku terkejut saat mendengar sebuah suara,

“ Apakah pantas seorang pelayan memandang ku seperti itu? Kau tahu sopan santun?” secara perlahan Vincent membuka mata dan menatap tepat ke manik mata ku.
“ Maafkan hamba yang mulia,” ucap ku dan langsung pergi meninggalkan kamarnya.

***

Aku merebahkan diri ku ke atas tempat tidur yang empuk, memanjakan setiap bagian tubuh ku untuk menghilangkan rasa pegal. Baru 2 hari aku di sini dan itu artinya waktu ku tinggal 5 hari, tapi aku belum bisa membuktikan kebenaran rumor itu. Setidaknya tidak benar-benar nihil karena aku tahu jika dia sosok yang sangat pekerja keras, tapi tetap saja menyebalkan.

Aku menoleh saat ku rasakan tempat tidur ku berderit pertanda ada orang yang ikut bergabung dengan ku di atas kasur ini. Aku melihat sosoknya yang kini sedang menopang wajahnya dengan satu tangan, masih dapat tersenyum lebar menatap ku seolah tak ada sedikit pun rasa lelah yang dia rasakan.

“ Alea, kenapa kau tersenyum? Apa kau tidak merasa lelah?” tanya ku sambil menatapnya.

“ Tentu saja aku merasa lelah. Tapi itu tak masalah, ini resiko pekerjaan ku dan aku beruntung dapat bekerja di sini,”

“ Merasa beruntung? Bekerja di sini?” tanya ku tak percaya.

“ Hey… jangan katakan jika kau percaya dengan rumor-rumor yang beredar,” sergahnya seakan tahu apa alasan atas pertanyaan ku.

“ Apa itu semua tidak benar?”

“ Aku tidak bisa mengatakannya, kau harus membuktikannya sendiri. Bagaiman pekerjaan mu? ” ujar gadis itu sambil tersenyum.

“ Pangeran lebih memilih tidur dari pada makan. Dan kau tahu? Dia tidur hanya 30 menit!! Entah bagaimana pola hidup orang itu,”

“ Hahaha begitulah pangeran di istana ini, kau berhasil membuatnya makan saja itu sangat luar biasa. Dan untungnya dia tidak anti terhadap sayuran seperti kakaknya. Tapi akhir-akhir ini pangeran memang terlihat sedikit pucat,” papar Alea memberikan informasi.

***

Aku membawa troli berisi makanan menuju kamar Vincent karena aku tahu jika dia tidak akan turun untuk sarapan. Setelah memasuki ruangan Vincent setelah berhasil memasukkan 33 digit angka yang bagi ku kramat itu, mendorong troli itu memasuki sebuah kamar yang sederhana tapi terkesan mewah.

Aku melongokkan kepala ku untuk melihat sosoknya, tapi aku tak melihat sosoknya di kamar ini hingga sebuah suara mengangetkan ku, “ Apa yang kau lakukan? Mengendap-ngendap di kamar ku sepagi ini?”

Aku menoleh dan menemukan sosoknya yang berdiri di belakang ku sambil menyilangkan tangan di depan dada, menatap ku seakan menghakimi. Entah kemana pancaran lembut di manik matanya yang pernah ku lihat, atau aku yang memang salah lihat? Ah entah lah.

“ Aku hanya membawakan sarapan untuk anda yang mulia,”

“ Tuan,” dia meralat ucapan ku.

“ Tuan.” Setelah aku meralat ucapan ku dia menyuruh ku memasuki kamarnya, menaruh troli itu di dekat meja di sudut kamar.

Aku memindahkan tanaman lavender yang kemarin ku letakkan di kaki tempat tidur ke dekat jendela besar yang ada di kamar ini selama dia memakan hidangan sarapan yang ku bawa. Mengeluarkan seluruh tenaga berusaha membuka jendela besar itu tapi itu semua sia-sia karena jendela itu masih tertutup dengan kokoh. Mata ku tercengang saat melihat secara tiba-tiba seluruh jendela di kamar ini terbuka dengan sendirinya, aku menoleh dan mendapati Vincent yang sedang mengacungkan remot yang berada dalam genggamannya.

“ Kenapa anda tidak menghabiskannya?” tanya ku setelah berada disisinya, melihat makanan yang berkurang hanya sedikit.

“ Tidak perlu, toh minum vitamin juga sama.”

“ Tapi lebih baik yang alami tanpa melalui proses kimia terlebih dahulu. Kadar kelamian makanan itu sangat penting yang mulia, dan lihatlah… sejak kemarin wajah anda terlihat pucat. Bagaimana kalau anda ikut terbaring lemah seperti baginda raja? Itu tidak menjadi masalah besar jika kakak anda sekarang ada di sini. Ingatlah rakyat kecil yang sulit untuk sesuap nasi, ya walau pun aku yakin di negri anda tidak ada sedikit pun kemiskinan. Ingat koki istana yang memasakkan seluruh hidangan untuk anda,” papar ku panjang lebar tanpa jeda.

“ Baiklah. Berhenti bicara, aku pusing mendengarnya,” ucap Vincent sambil menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya dengan sedikit, cemberut? Hahaha entah dari mana aku dapat melihat ekspresi seperti ini dari orang yang berimage buruk sepertinya.

***

“ Tuan, aku akan menunggu anda di sini. Memperhatikan lukisan-lukisan ini sepertinya tidak membosankan,” ucap ku meminta ijin padanya.

“ Di dalam lebih banyak lukisan yang seperti itu,” ujarnya dan berhasil membuat ku mengikuti langkahnya memasuki sebuah ruangan.

Aku terkagum-kagum dengan apa yang ku lihat, rak-rak tinggi menjulang dengan buku-buku yang berderet rapi, satu set kursi yang berada di salah satu sudut dengan lukisan-lukisan yang terpajang di sepanjang sisi ruangan ini, perpustakaan istana Sincerity.

Aku berjalan menyusuri setiap sisi perpustakaan, mengamati lukisan demi lukisan dengan senyuman yang merekah hingga tak sadar jika ada seseorang yang berdiri di belakang ku.

“ Kau menyukai lukisan?” aku terhenyak saat mendengar suara seorang pria dan langsung membungkuk hormat setelah mengetahui siapa dia.

“ Benar yang mulia,”

“ Selera mu sangat bagus. Nampaknya kau sangat memahami akan dunia lukisan,”

“ Tidak yang mulia, aku hanya kagum akan lukisannya. Benar-benar indah, seperti Eadrom yang berada di dalam lukisan.

“ Benarkah? Aku belum pernah ke sana,” ujarnya sambil berjalan menuju lukisan-lukisan berikutnya.

“ Anda harus berkunjung ke sana yang mulia,” ujar ku sambil tersenyum lebar.

***

Sudah 4 hari aku berada di sini dan tersisa 3 hari lagi, sejauh ini aku tidak menemukan kenyataan bahwa rumor itu benar. Apakah aku harus bahagia dijodohkan dengannya? Entahlah, aku tidak bisa menjawab untuk saat ini.

Aku melangkah kan kaki ku dengan riang, tersenyum lebar dengan mata terpejam saat merasakan angin yang menerpa wajah ku, membuat rambut ku yang tergerai bergerak-gerak seperti dipermainkan angin.

Ya, kali ini aku sedang berjalan-jalan di Sincerity dengan Vincent. Senang karena akhirnya aku terbebas dari istana dengan segala macam teknologi itu, dan juga terkagum-kagum atas modernisasi yang terjadi di negri ini dan yang paling mengejutkan adalah bahwa ada hamparan rumput yang membentang luas. Menunjukkan cakrawala dan kicauan burung, hal yang ku rindukan selama berada di sini.

“ Wuuaaah!!! Indah…. tidak kalah indah dengan Eadrom,” ujar ku sambil merentangkan tangan dengan mata terpejam, membiarkan angin membelai halus wajah ku.

“ Kalau begitu jika Eadrom 100 maka Sincerity 95, begitu?” tanyanya yang kini berdiri di samping ku.

“ Hahahaha sayangnya tidak seperti itu yang mulia. Eadrom 100 dan Sincerity hanya 30% dari Eadrom, kecuali jika dibandingkan dengan teknolog di negri ini,”

“ Kau mau mengatakan jika Eadrom tidak memiliki teknologi canggih? Itu berarti se-primitif itu,”

“ Enak saja. Eadrom tidak seperti yang anda bayangkan. Di sana juga menggunakan teknologi canggih walau pun tak sebanyak dan secanggih di sini, tapi kami hidup berdampingan dengan alam. Walau pun negri kecil dan tidak sebanding dengan luasnya kerajaan ini, tapi Eadrom bukan negri miskin. Setidaknya rakyat masih mendapatkan kehidupan yang layak,” papar ku sambil tersenyum bangga.

Dia hanya terdiam, tak merespon ucapan ku sedikit pun.

“ Anda tahu tempat di mana banyak anak kecil di sekitar sini?” tanya ku sambil menunjukkan keranjang rotan yang ku bawa dan tanpa berkata-kata sepatah kata pun dia telah melangkahkan kakinya.

***

Mata ku terbelalak dengan sempurna saat melihat anak-anak itu menyambut kedatangan Vincent dengan antusias dan rona kebahagiaan yang terpancar di wajah polos mereka. Sepertinya rumor yang selama ini beredar itu salah, bagaimana mungkin anak kecil dapat sesenang itu jika di dekat orang yang berhati jahat?
Aku segera bergabung dengan mereka, mulai membagikan roti-roti buatan ku kepada anak-anak itu, sama seperti yang selalu ku lakukan selama di Eadrom.

Senyum ku mengembang saat melihat wajah cerah anak-anak itu. Seakan tak ada yang mampu mengusik kebahagiaan mereka.

Aku berlari dengan kencang saat melihat seorang anak kecil yang akan jatuh dari tangga menuju rumahnya, berhasil merengkuh anak itu ke dalam dekapan ku sebelum anak itu mendarat di tanah. Tapi sialnya keseimbangan ku hilang dan aku memposisikan tubuh ku yang terjatuh terlebih dahulu mengenai tanah, aku memejamkan mata tapi aku tak merasakan apa-apa.

Secara perlahan aku membuka mata dan menemukan manik mata yang sangat memukau. Dia, Vincent, menolong ku… menyangga tubuh ku dengan lengannya. Cukup lama kami terlarut saling menatap hingga suara sorak-sorai anak-anak menyadarkan kami sehingga kami langsung saling berjauhan.

Entah kenapa, hati ku bergemuruh. Bergemuruh bukan karena rasa takut, tapi bergemuruh karena tidak tahu aku harus bertingkah seperti apa nanti.

***

Tak terasa ini sudah hari ke 5 aku berada di sini dan nampaknya aku tidak keberatan dengan perjodohan ini. Aku berjalan dengan riang dan tersenyum merekah menuju ruangan Vincent, berniat untuk menikmati hari-hari terakhir ku di sini. Tapi senyum ku seketika itu pula sirna saat melihat seorang gadis yang sedang bergelayut manja pada pria itu, mengabaikan tatapan risih yang ditunjukkan pria itu.

“ Ada perlu apa? Ku rasa tidak ada yang memanggil mu,” ucap gadis itu saat melihat kedatangan ku.

“ Maaf kan saya nona…” aku menggangtungkan ucapan ku, seolah-olah menunggu gadis itu memperkenalkan diri.

“ Aku Sunny Luxel, putri dari Raja George dari kerajaan Southernisland,”

“ Saya mohon undur diri yang mulia,” ucapku seraya membungkuk dan berjalan pergi.
Sesekali aku menoleh ke belakang, melihat gadis itu yang kini sedang membelai wajah Vincent. Gadis itu agresif dan entah kenapa Vincent hanya diam.

Hancur sudah niat ku untuk menikmati saat-saat terakhir ku di istana ini. Sekarang aku malah melihat pemandangan yang sangat menohok hati ku, kedekatan pangeran Vincent dengan putri Sunny.
Melihat mereka yang kini sedang berjalan-jalan di taman istana dengan Sunny yang menggelayut manja di lengan pria itu. Melihat Sunny yang menyuapi Vincent cake saat mereka menikmati waktu minum teh. Tak ada ruang untuk ku, tak ada kesempatan ku untuk berdekatan dengannya.

Aku hanya di sini, berdiri melihat mereka dari kejauhan. Berharap jika pengawal ku segera datang menjemput ku.

“ Apa yang kau lihat?” sapa sebuah suara lembut, Alea. Aku tak menjawab, aku hanya menatap ke dua orang yang berada dibawah sana.

“ Mereka memang sangat dekat, begitu jika di lihat dari penilaian orang-orang. Tapi tidak dengan pangeran Vincent, walaupun mereka terlihat dekat tapi sebenarnya dia menjaga jarak dengan putri Sunny. Telah menjadi rahasia umum di istana ini jika putri Sunny menyukai pangeran, tapi pangeran hanya acuh, berpura-pura tidak mengetahuinya. Entah kapan putri itu akan menyadarinya,” papar Alea tanpa melepaskan pandangan dari orang-orang yang sedang dibicarakannya.

***

Hari ini merupakan hari ke 6 ku berada di istana ini dan aku tidak terlalu berharap untuk bisa menghabiskan waktu di samping Vincent, pria itu sedang sibuk.

Tapi sekarang aku di sini, berjalan mengikuti mereka ke padang rumput yang pernah ku datangi bersama Vincent. Di sepanjang perjalanan Sunny selalu menggerutu seperti saat ini, “ Kenapa kita tidak menggunakan mobil? Ku rasa itu lebih mudah dan praktis di bandingkan dengan berjalan kaki.”

Dan yang membuat ku tercengang adalah jawaba Vincent, ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang, mulutnya tajam.

“ Jika begitu kenapa kau memaksa untuk ikut dengan ku? Jika kau ingin kembali ke istana kembalilah, aku akan tetap pergi ke sana dengan pelayan ku. Dan berhentilah mengeluh karena kau yang telah memilih ikut dengan ku,”

Ucapan Vincent sukses membuat Sunny terdiam dan hanya mengerucutkan bibir, tak terima jika putri seperti dirinya di marahi oleh orang lain. Tapi mungkin karena yang memarahinya adalah orang yang dia sukai, maka dia hanya menelan bulat-bulat kekesalan yang dia rasakan.

Entah apa yang diinginkan oleh Vincent, setelah kami sampai di padang rumput dia malah ingin segera kembali pulang. Membuat Sunny semakin mengerucutkan bibirnya sebal dan secara tiba-tiba Sunny terjatuh dan kakinya terkilir hingga membuat Vincent menggendongnya ala bridal style, seperti pengantin pria yang menggendong pengantin wanitanya. Sangat memukau tapi menohok tepat ke hati ku.

***

Entah apa yang terjadi… tapi yang pasti sore ini Sunny akan kembali ke istananya. Aku hanya menutup punggung putri dari kerajaan Southernisland tersebut dari kejauhan, terpaku pada wajahnya yang terlihat muram dan sedikit pendiam. Tidak bertingkah agresif terhadap Vincent, entah apa yang telah dikatakan ole pria itu.

“ Dia… kenapa?” tanya ku pada Alea yang kini berdiri di samping ku.

“ Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya putri Sunny tidak akan mendekati pangeran lagi.” Jawab Alea dengan pasti, membuat ku mengulum senyum.

***

Matahari belum menunjukkan sinarnya saat aku sudah selesai mengepack barang-barang ku ke dalam koper, bersiap untuk segera pergi saat pengawal ku datang menjemput.

Aku terduduk di pinggir tempat tidur ku, memperhatikan suasana kamar ini, mengingat tentang Alea. Walaupun kami jarang berbincang tapi aku dekat dengan dia, kenyaman untuk berteman dengan seseorang tidak harus mengharuskan banyaknya kata-kata yang keluar bukan?

Aku mendengar derap langkah tergesa-gesa yang semakin dekat menuju kamar ku, aku menatap pintu kamar untuk menunggu siapa yang akan datang ke kamar ini. Alea, ku lihat dia sedikit terengah-engah saat masuk hingga kini duduk disamping ku.

“ Temuilah Pangeran, sejak 1 jam yang lalu dia pergi ke padang rumput dan tidak membawa mantel miliknya,” ujar Alea sambil menyodorkan mentel coklat milik Vincent pada ku.

Aku segera meraih nya dan bergegas pergi menuju padang rumput. Mengumpat dalam hati akan cuaca saat ini dan memaki atas kebodohan Vincent yang tidak membawa mantel padahal cuaca sangat dingin.

Aku melihatnya, sosok pria itu sedang berdiri membelakangi ku dengan ke dua tangan yang di masukkan ke saku celananya.

“ Anda melupakan ini tuan,” ucap ku setelah berdiri di sampingnya, menyodorkan mantel miliknya sambil tersenyum senang.

Senang karena setidaknya sebelum aku kembali ke istana ku, aku bisa melihat wajahnya dari dekat.

“ Terima kasih,” jawabnya mengambil mantel itu dan bukannya dia kenakan tapi mantel itu malah di sampirkan pada tubuh ku.

“ Tuan, pakailah mantel ini. Aku sudah mengenakan mantel,” ucap ku menatap sosoknya yang menatap lurus ke depan, ke arah matahari yang mulai memperlihatkan sinarnya.

“ Cuaca sangat dingin, pakailah. Pria lebih kuat dari pada wanita, ingat itu,” ucapnya sambil menoleh pada ku, menatap ku dan menenggelamkan aku dalam manik matanya yang kini bersinar lembut.

“ Sudah satu minggu kau berada di sini. Bagaimana tanggapan mu? Apakah kau percaya pada rumor itu?”

“ Awalnya aku percaya akan rumor itu, begitu pula nona Claire. Tapi ternyata rumor itu tidak benar, anda orang yang baik. Mungkin karena anda yang tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan orang dan terkesan mengacuhkan mereka, tapi aku tahu pangeran Vincent merupakan orang baik,” papar ku sambil menatap lurus pada matahari yang mulai muncul secara malu-malu di ufuk timur. Mengabaikan terpaan angin yang menusuk tulang, mengabaikan rasa pusing yang sejak tadi mendera ku.

“ Apakah Claire akan menyukai ku? Menyetujui perjodohan ini?”

“ Tentu saja. Dia akan memilih anda dan dia tidak akan menyesal jika memilih anda, percayalah pada ku…” ucap ku sambil tersenyum.

‘karena aku Claire.’ Ucap ku dalam hati.

“ Semoga yang kau katakan itu benar,” samar-samar aku mendengar suara Vincent, semakin lama pandangan ku mengabur dan yang ku lihat adalah semburat orange ke merahan di ufuk timur dan suara Vincent yang memanggil nama ku hingga semuanya menjadi gelap.

“ Claire!!!!”

***

Aku membuka mata ku secara perlahan , berusaha menyesuaikan pencahayaan yang masuk dalam pandangan ku.

Ini… kamar ku? Aku sudah kembali ke Eadrom? Tanpa perpisahan dengan Vincent?

Aku langsung duduk dari tidur ku saat menyadari itu semua dan aku melihat Casey yang sedang duduk di kursi rias ku sambil menyilangkan kaki. Aku memegang kepala ku yang sedikit pusing.

“ Apakah di sana kau tidak mendapatkan makan? Lihatlah tubuh mu, sekarang kau kembali dengan keadaan sakit,” ucap Casey dengan sedikit geram.

“ Memangnya ini ide siapa hah?” umpat ku padanya.

“ Tapi kau menyukainya kan?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

“ Berhentilah menggoda ku,” hardik ku sambil menatapnya tajam.

Aku menoleh kan wajah ku saat mendengar dentingan piano yang mengalun indah dan tesenyum lebar saat melihat siapa orang itu.

“ Bryan!!!” pekik ku senang.

“ Hai, sangat tidak menyenangkan saat aku tiba di sini aku malah di sambut oleh pengawal yang membawa mu dalam keadaan pingsan,” ucapnya sambil tetap memainkan piano dengan indah.

Aku beranjak menghampirinya, duduk di sampingnya untuk memperhatikan jari-jarinya yang bergerak gemulai di atas nuts sebelum jari-jari ku ikut bergerak di sana.

“ Kau tetap mahir bermain piano,” ucap ku senang.

“ Terima kasih atas pujian mu. Bagaimana calon suami mu?” tanya nya pada ku.

“ Begitulah,” jawab ku sekenanya.

“ Tunggu, aku sudah menyiapkan hadiah untuk mu,” ucap Bryan menghentikan permainannya dan menghilang di balikm pintu.

Aku menyongsong kehadirannya yang kini telah kembali dengan sebuah bingkisan. Aku membukanya dengan tidak sabar, tidak menyadari jika kedua orang itu kini tengah menahan tawa.

Mata ku membulat dengan apa yang ku lihat.

“ Bryan!!!! Apa-apaan ini?!! kau memberiku pakaian ini?!! Yang benar saja, bukan kah kau telah berpergian kebeberapa negri 1 tahun terakhir ini? tapi kau hanya memberi ku ini?” tutur ku sambil menjembrengkan pakaian yang ku dapatkan.
“ Itu pakaian maid di istana ku, lucu kan? Aku hanya memberi hadiah yang kira-kira kau sukai, setidaknya itu informasi yang ku dapatkan,”ujar nya sambil tersenyum.

“ Casey!!! Jadi kau yang mengatakan itu semua?!! Yang benar saja, sekarang kau yang memakainya. Cepat!!” teriak ku sambil melempar pakaian pelayan itu pada Casey.

“ Berhentilah bermain-main Claire. Bersiaplah, nanti sore Vincent akan datang berkunjung,” tangan ku langsung bergerak merapihkan tatanan rambut ku yang masih tak beraturan setelah mendengar ucapan Casey.

“ Aku bilang nanti sore, bukan sekarang,” ujar Casey sambil menyeringai dan berjalan meninggalkan kamar ku bersama Bryan.

***

Author’s POV
Kini Claire tengah berdiri di pintu utama, berjalan hilir-mudik menunggu kedatang Vincent.

“ Santailah sedikit nona,” tegur Bryan merasa jengah dengan tingkah Claire.

“ Aku harap kau memaklumi nya, orang yang sedang menunggu sang ke kasih,” timpal Casey sambil menyeringai puas.

“ Kalian berdua diamlah,” umpat Claire sambil meremas-remas jari-jari tangannya, gugup harus bersikap seperti apa setelah Vincent mengetahui jika dirinya adalah Claire yang sesungguhnya.

~tbc~

32 thoughts on “Secret Bride -Part 2-”

  1. wah asti si umin dah tahu dari awal kalau clara itu claire..pas claire pingsan si umin manggilnya claire…wah jgn2 si umin udah jatuh cinta dari dulu…next part jgn lama2 y

  2. jujur ya oen aku jarang baca yang main cast sungmin tapi pas baca judul gak peduli deh siapa main castnya .idenya casey emang gila bin aneh deh masak adeknya disuruh jadi maid? astaga teganya~ oh ya oen ini jaman modern apa classic sih? aku rada bingung bayanginnya

      1. ya kebayang awalnya bingung tapi pas diatas kok udah ada hp jadi gak mungkin dong cerita dongeng pangeran berkuda putih? tapi tetep deh pangeran cakep

  3. yayaya!! kenapa tbc smpe siniiii (╥﹏╥)
    bikin penasaraaaaaan
    aigoo, eonni!! itu, jgn jgn si umin udh tau ya? klo clara itu claire? yakan yakan? *sotoy*
    lanjut eonni!! jgn lama lama, okay?😉 haha xD

  4. akhirnya putri kita jatuh hati ma umin oppa,,,kkkk
    mudah2an sungmin gak marah pas ketemu claire y,,, kn bisa aja dy mikir klo claire ngerjain dy,,, (_ _!!)

  5. Berharap happy ending,dan ga ada masalah2 lagi buat mereka berdua. Tapi saya penasaran….Vincent bilang apa ya ke Sunny???

  6. claire g bakal nyesel nerima vincent. .
    dan sepertinya claire uda suka sama vincent. .
    wah gmn y reaksi vincent yg tau klo claire yg jadi pelayannya dulu adalah calon istrinya?
    lanjutin. .

  7. kenapa tbc nya cepet banget u,u hahaha
    si umin orangnya sok cool gitu ya haha
    setuju banget sama claire si umin lebih milih tidur 30 menit dari pada makan,dia mau mati haah?
    curiga! kenapa bisa waktu claire pingsan umin manggilnya bukan clara tapi claire
    aaaa aku penasaran banget banget ini sama lanjutan ceritannya
    gimana ekspresi claire waktu tau ternyata umin udah tau duluan dia itu siapa hahah
    next chapt ditunggu😀

  8. waduh ni author bikin penasaran aja..
    ada putri buta warna nyamar jadi pelayan, pangeran yang suka ngutak ngatik kode keamanan istananya, kakak yang jerumusin adik jadi pelayan.. Trus apa lagi ya???
    Tapi masih belum jelas deh alasan casey kok milih si vincent buat jadi iparnya? Emang mereka kenal dekat atau gimana?
    Lanjutin ya….

    1. kok kesannya aku bikin dunia khayal yg menyesatkan yaa? -_____-” LOL
      apa lagi yaaaa?? liat di part 3😀 udh aku publish loh
      salah satu alasannya kan ada di part 1,, si casey deket sama Marcus nyaaa

      knp aku jd bingung sndiri yaa?? ._.a
      mksh yaaa^^

  9. wuiiiii makin rame! pnasaran gmn kl umin liat claire? marahkah, ato memang umin ud tw dr awl kedatangan clire jd pelayan??? ato jgn2 claire bkal dkerjain balik sm umin? haiisss ga sbar nunggu next partny

  10. ‎​Õo°˚˚ºo:OoÕo°˚˚ºo:Oo disitu perubahannya
    Bagus
    Sun2 shipper
    ‎​♧=DH̲̣̣̣̥ɑ̤̈H̲̣̣̣̥ɑ̤̈=D♧
    Sunny oke
    (“•-̮•) (y)
    Ϛ♥)). Sippp ²x …
    ☁/ \☁ laah…

  11. Gyaaaaaaaaa~~
    Tambah suka SungJi..

    Eonni, Ffnya makin keren😄 omo~ omo~ 33 digit? O.O wkwkwkwkwk penasaran sama reaksi claire XXD Sunny nyebelin!!! Ganjen!

    Daebak eon😄

  12. Nah lho…bau2nya si vincent ini udah tau kalo clara adalah claire.
    eciyee…claire suka beneran ya sama vincent?lagaknya aja gak mau dijodohin.eh akhir2nya mau juga.

    Nice part~

  13. Wah Clara aka Claire pingsan dannsdh berada di istananya lagi, mudah2an mrk berdua Claire dan Vincent berjodoh dan tdk ada gangguan dari org lain sprt Sunny

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s