[REMAKE] Which One – 2

Title                : [REMAKE] Which One 2

Author            : hgks11

Cast                :

–       Cha Sunwoo – Baro B1A4

–       Kim Kihyo (OC)

–       Gong Chansik – Gongchan B1A4

Cameo            :

–       B1A4’s members

–       Park Hanna (OC)

Genre             : AU, Romance

Rate                : PG – 13

Length            : Continued

A.N. : karena… banyak yang bingung bacanya.. karena ga ada povnya.. jadi… sekarang aku kasih pov! (y) semoga readers-deul ga bingung lagi yaaah *wink

-oOo-

Previous part…

Kubanting stir mobilku ke kanan dengan kasar. Kutepikan mobilku di pinggir jalan. Tanganku mengkepal dengan keras.

“Cih, lihat saja kau Baro. Aku pasti akan merebut Kihyo darimu. Sama seperti saat aku merebut Richan darimu. Just wait for that time, and prepare your self” gumamku mengeluarkan evil smirkku.

-oOo-

Part 2

Kihyo’s POV

 

“Hoahmm”

Aku bergegas bangun, dan merubah posisiku duduk di atas kasur. Kulihat ke arah meja kecil di samping tempat tidurku. Jam wekker berbentuk hamtaro milikku masih berbunyi nyaring sekali.

Klik

Kutekan tombol di belakangnya, dan bunyi yang memekakkan telinga itupun berhenti. Kulirik ke arah kalender di sebelah jam wekker hamtaroku.

“Mwoya?!” aku mendelik kaget melihat tanggal yang tertera. Kuambil kalender itu dan memandangnya lekat-lekat. Memastikan apa yang kulihat.

Tok.. Tok..

“Kihyo-ah?” ujar eomma memanggilku dari depan pintu kamarku. Kuletakkan kalender di tanganku dengan lemah. Kugerakkan kakiku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.

“Ne, waeyo eomma?” tanyaku malas, setelah membuka pintu.

“Ya! Ini sudah jam berapa? Sudah sana cepat mandi! Kau harus bersiap-siap!” omel eommaku.

“Ne, ne, ne, arasseo~” ujarku menutup pintu kamarku. Hah~ hari ini pasti akan menjadi hari yang melelahkan. Aku harus mempersiapkan semuanya, untuk besok.

“Fighting Kihyo!” gumamku, mengepalkan kedua tanganku ke atas—menyemangati diri sendiri.

-oOo-

Drrt.. Drrt..

Kuraih handphoneku yang bergetar, dan menekan tulisan receive.

“Yeoboseyo?” ujarku sambil menyisir rambutku di depan kaca.

“Yeoboseyo, Kihyo-ah?”

“Ne? Ada apa Gongchan?” tanyaku, setelah melirik sekilas nama yang tertera di handphoneku.

“Apakah kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar” ujarnya. Seulas senyum terpampang jelas di wajahku mendengar ajakan Gongchan.

“Ne, tentu saja” ujarku senang.

“Arasseo, 10 menit lagi aku sampai di rumahmu” ujar Gongchan memutuskan sambungan telepon kami. Aku tersenyum senang mendengar ucapan Gongchan. Rasanya aku seperti ingin meledak.

Drrt.. Drrt..

Handphoneku kembali berbunyi lagi. Kembali kutekan tulisan receive di handphone touchku.

“Yeoboseyo?” ujarku sambil mengikat ke atas semua rambutku.

“Yeoboseyo, chagiiii~” ujar seseorang di seberang sana. Dapat kurasakan wajahku memerah mendengar suara yang memanggilku chagi ini.

“N-ne?” ujarku gugup.

“Haha, kau kenapa chagiya?” ujarnya tertawa di sana. Dapat kurasakan wajahku semakin panas dan memerah. Ya! Dia ingin membuatku mati karena malu apa?!

“Yayaya! Apa maumu sih Baro?!” ujarku pura-pura kesal, untuk menutupi rasa maluku.

“Kkkk~ Jangan lupa, hari ini kita harus mengambil baju wedding kita yang kemarin. Arasseo?” ujarnya mengingatkanku.

“Ah, ne. Arasseo” ujarku.

“Jangan sampai lupa, ara? Nanti aku akan menjemputmu. Bye chagiyaaa~ kkkk~” ujarnya memutuskan sambungan telepon kami. Aku hanya dapat pasrah dengan wajahku yang kini sangat merah.

Tiin.. Tiin..

Aku terlonjak mendengar klakson mobil dari bawah. Kulangkahkan kakiku ke arah jendela, mengintip ke teras rumah. Dapat kulihat Gongchan melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Akupun segera menyambar tasku di atas kasur, dan turun ke bawah menemui Gongchan.

“Eomma, appa, aku pergi dulu ya! Annyeong!” seruku saat melihat mereka sekilas di ruang makan. Aku segera memakai sepatu kets unguku dan beranjak keluar rumah.

“Sudah lama menunggu?” tanyaku pada Gongchan yang kini ada di hadapanku.

“Ani. Baru saja aku datang. Kajja” ujarnya tersenyum. Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya.

“Jadi kita mau kemana?” tanyaku saat Gongchan menyalakan mesin mobilnya.

“Ke suatu tempat” ujarnya tersenyum ke arahku. Sekarang aku tahu kenapa yeoja yeoja di sekolahku begitu histeris melihat ke-5 namja most popular ini. Mereka mempunyai senyuman yang sangat memabukkan dan mempesona.

-oOo-

Gongchan’s POV

 

Amusement Park, 10.00 KST

Dapat kulihat seulas senyum di wajahnya, saat kami sampai di sini. Akupun ikut tersenyum melihatnya tersenyum. Ternyata aku tak salah mengajaknya ke sini.

“Kajja! Kita ke sana” ujarku menarik tangan Kihyo ke arah kursi taman. Aku tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Kihyo yang memerah. ‘Neomu yeppeo’ batinku.

“Silahkan duduk Mrs. Gong” ujarku mempersilahkannya duduk dengan formal.

“Ya! Margaku masih Kim Mr. Gong” protesnya, menggembungkan kedua pipinya. Aku tertawa melihat ekspresinya. Neomu neomu kyeopta!

“Kkkk~ jadilah Mrs. Gong untuk hari ini, saat ini, saat bersamaku” ujarku tersenyum ke arahnya. Kata-kata itu meluncur dengan sendirinya dari mulutku ini. Aku tak tahu mengapa aku berkata seperti ini. Tapi, memang itu yang kuinginkan. Aku ingin dia menjadi Mrs. Gong, daripada Mrs. Cha.

“A-arasseo.. hanya untuk saat ini, saat bersamamu” ujarnya tersenyum. Manis sekali.

“Gomawo Kihyo-ah” ujarku tersenyum ke arahnya.

“Cheonma” ujarnya lagi-lagi tersenyum. Hatiku berdegup kencang melihat senyumannya. Sungguh, senyumannya itu, sangat memabukkan bagiku.

-oOo-

Kini aku mengajaknya berkeliling di Myeongdong, salah satu distrik berbelanja terbesar di Seoul. Kugenggam tangannya erat-erat.

“Kau suka kuajak ke sini?” tanyaku melihat ke arahnya.

“Ne!” ujarnya mengangguk semangat. Aku memandang gemas ke arahnya.

“Pegangan yang erat. Jangan jauh-jauh dariku. Nanti kamu bisa tersesat” ujarku mengeratkan genggaman tanganku. Ia hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapanku.

“A! Gongchan-a! Kita beli es krim ya?” ujarnya menunjuk ke arah salah satu kedai es krim.

“Arasseo Mrs. Gong” ujarku tersenyum, lalu menarik tangannya ke arah kedai es krim yang ditunjuknya tadi.

Kling.. kling..

Lonceng di kedai ini berbunyi saat aku membuka pintu masuknya.

“Annyeonghasimnikka chogiyo” sapa pelayan yang menjaga pintu masuk. Aku dan Kihyo tersenyum ke arah pelayan itu, lalu mencari tempat duduk. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di dekat jendela. Tempat yang cukup strategis menurutku.

“Mau pesan apa?” tanya seorang pelayan yang menghampiri kami.

“Kau mau pesan apa Kihyo-ah?” tanyaku membuka lembaran-lembaran daftar menu es krim.

“Aku vanilla cake ice cream aja” ujarnya. *author: emgnya ada ya? Vanilla cake ice cream? -,-*

“Arasseo. Kalau begitu vanilla cake ice cream 1, sama strawberry cone ice creamnya 1” ujarku menyebutkan pesanan kami.

“Arasseo, tunggu sebentar” ujar pelayan itu kembali ke tempatnya, setelah mencatat pesanan kami.

“Kihyo-ah” ujarku.

“Ne?” ujarnya menatap ke arahku. Kutatap lekat-lekat wajahnya itu. Seulas senyum terbentuk di sudut bibirku.

“Saranghae” kata-kata itu meluncur dengan mulus tanpa komando dari mulutku. Dapat kulihat raut wajahnya yang berubah kaget.

“M-mwoya?” tanyanya tak percaya. Kuraih tangannya, dan kugenggam dengan kedua tanganku.

“Saranghae Kim Kihyo. Would you be mine?” ujarku menatapnya lekat.

“Hmm.. Gongchan-a…”

“Arasseo. Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Yang penting, sekarang kau tau bagaimana perasaanku padamu” ujarku menelan kekecewaanku.

“Mianhae Gongchan-a… lagipula, besok aku akan menikah dengan chingumu, Baro” ujarnya. Dapat kudengar nada sedih di ucapannya tadi.

“I know, I’m really know about it Kihyo-ah. Gwenchana, aku mau kok menjadi namjamu yang kedua, yang keseribu sekalipun aku mau. Jadi, kau tak usah khawatir Kihyo-ah, saranghae” ujarku tersenyum padanya. ‘Mungkin sekarang Kihyo belum mau menerimaku, tapi lihat saja nanti. Aku pasti akan mendapatkan Kihyo-mu ini Baro’ batinku.

Drrt.. Drrt..

Ia merogoh tasnya, mencari-cari handphonenya yang berbunyi.

“Yeoboseyo?”

“Naneun? Aku di Myeongdong sekarang… Eo, mwo? Aish! Aku lupa!.. aku bersama Gongchan..Ne, arasseo”

Klik.

Ia memutuskan pembicaraannya di telpon. Sepertinya itu Baro yang menelpon.

“Ada apa? Siapa yang menelpon?” tanyaku memastikan spekulasiku.

“Baro. Hah~ aku lupa kalau aku harus mengambil baju kami hari ini” ujarnya menghela nafas. Sebuah smirk muncul di wajahku tanpa disadarinya.

“Mau kuantar?” tawarku padanya. Ia tampak menimang-nimang sebentar jawabanku.

“Anieyo. Baro akan menjemputku di sini” ujarnya tersenyum senang. Aku menghela nafasku melihat senyuman di wajahnya.

“Arasseo, aku akan menemanimu di sini sampai Baro datang” ujarku memaksakan senyumku.

“Ne, gomawo Gongchan-a” ujarnya tersenyum senang. Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum senang seperti itu. Tiba-tiba ide itu terlintas di otakku. Sebuah smirk terpampang dengan jelas di wajahku.

“Kihyo-ah” ujarku, mulai menjalankan rencanaku.

“Ne?” ujarnya menatap ke arahku, setelah memasukkan 1 sendok vanilla cake ice cream ke mulutnya.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan” ujarku memulai.

“Mwoya?” tanyanya penasaran. Smirk di wajahku semakin menjadi-jadi melihat responnya yang sangat amat baik itu.

“Apakah, kau tahu ex-yeojachingu Baro?”

-oOo-

Baro’s POV

 

Mataku sibuk mencari kedai es krim di mana Kihyo berada. Katanya tadi, tidak jauh dari sini. Tinggal belok ke kanan, dan BINGO! Itu dia. Segera kulangkahkan kakiku ke arah kedai es krim di hadapanku.

Kling.. Kling..

Terdengar suara lonceng saat aku membuka pintu kedai es krim ini. Aku tersenyum sa. Aku sebentar ke arah pelayan yang menjaga pintu, dan mencari sosoknya. Ah! Itu dia. Aku melihatnya sedang duduk di dekat jendela kaca. Seulas senyum terukir di wajahku melihatnya. Namun senyumku langsung hilang saat menyadari ia tidak duduk sendirian. Ia bersama Gongchan.

“Ck. Gong Chansik” gumamku berdecak kesal. Segera kulangkahkan kakiku ke tempat di mana mereka duduk.

DEG!

Aku berdiri mematung melihat pemandangan di depanku. Gongchan mencium kening Kihyo dan memegang tangannya. ‘Sial kau Chansik!’ umpatku dalam hati.

“Kihyo” ujarku datar, melirik sinis pada Gongchan. Gongchan tersenyum licik padaku.

“Baro?” ujar Kihyo mendongakkan kepalanya.

“Kajja” ujarku masih datar. Menarik kasar tangannya, dan membawanya ke dalam mobilku.

“Yayaya, Baro-ah! Ap.. po” keluhnya. Aku tak menghiraukan keluhannya.

BRAAK!

Aku sudah tak peduli pintu mobilku akan lepas! Hah! Kau membuatku frustasi Kim Kihyo!

-oOo-

Kihyo’s POV

 

Sepanjang perjalanan tadi kami berdua hanya terdiam. Aku tak berani menanyakan apa yang terjadi pada Baro. Wajahnya merah menahan amarah. Ia terlihat frustasi. Aku benar-benar tak berani melihatnya seperti itu.

“Annyeong, Baro, Kihyo-ah” ujar Mrs. Han tiba-tiba sudah ada di hadapan kami. Beliau tersenyum hangat ke arah kami. Aku tersenyum tipis menanggapi sapaannya.

“Bisakah kami mengambil baju kami sekarang, Mrs. Han?” tanyaku to the point. Karena aku yakin, pasti Baro tak ingin lama-lama di sini.

“Ah, ne. Tentu saja. Chakkaman” ujarnya meninggalkan kami. Kulirik Baro yang berada di sebelahku. Aku menghela nafasku melihat wajahnya. Sungguh mengerikan.

Akhirnya kuputuskan untuk mengelilingi butik milik Mrs. Han ini, meninggalkan Baro di tempat tadi. Sebuah dress berwarna krem selutut menarik perhatianku. Hatiku mencelos melihat dress di hadapanku. Kini, percakapanku dengan Gongchan berputar-putar di otakku seperti film. Hatiku seperti dijatuhkan dari tempat yang begitu tinggi, saat mendengar perkataan Gongchan. Aku tersenyum miris melihat gaun di hadapanku.

“Kihyo-ah?” ujar Mrs. Han tiba-tiba, mengagetkanku.

“Ne?” ujarku ke arahnya.

“Palli! Baro sudah menunggumu di depan” ujarnya.

“Ne, gomawo” ujarku tersenyum tipis padanya. Aku segera menyusul Baro ke depan butik Mrs. Han. Tapi aku tak melihat sosoknya.

“Odie?” gumamku, menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari sosoknya.

Tin tin!

Reflek aku langsung menoleh ke sumber suara. Aku segera menuju ke mobil Baro—yang mengklaksonku tadi.

Blaaam

Kututup pintu mobil Baro, saat aku sudah duduk nyaman di jok samping kemudi. Kulirik sekilas raut wajah Baro. Aku menghelas nafas lega melihat raut wajahnya. Ia sudah tidak nampak setegang tadi. ‘Syukurlah, sepertinya amarahnya sudah mulai turun’ batinku, positive thinking.

“Baro-ah” ujarku mencoba berbicara padanya.

“Hmmm” gumamnya tak jelas.

“Setelah ini kita mau kemana?” tanyaku.

“Rumah kita” ujarnya singkat, padat, dan jelas. Aku hanya mengangguk mendengar ucapannya.

-oOo-

Author’s POV

 

“Baro-ah, rumah siapa ini?” tanya seorang yeoja pada namja di sebelahnya—yang dipanggilnya Baro.

“Rumah kita” ujar namja itu singkat. Yeoja itu mendelikkan matanya mendengar perkataan namja di sebelahnya. Ia memandang tak percaya dengan penglihatannya. Sebuah rumah megah berdiri kokoh di hadapannya. Namja itu—Baro berjalan memasuki pintu gerbang rumah di hadapannya. Ia memandang malas ke arah rumahnya dan Kihyo itu. Hatinya masih bergejolak karena pemandangan yang cukup menyakitkan—mungkin untuk dirinya. Karena ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya. Ia tidak tahu perasaannya. Dan ia masih ragu dengan apa yang dirasakannya pada Kihyo. Jujur, benaknya masih dipenuhi oleh sosok yeoja yang mengisi hidupnya selama 5 tahun belakangan ini.

“Ya! Baro-ah! Chakkam!” protes Kihyo berusaha mengejar Baro yang sudah agak jauh di depannya. Baro tak menghiraukan ucapan Kihyo, dan terus melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah di hadapannya. Baro merogoh kantong celananya, mencari kunci untuk membuka pintu rumah di hadapannya.

Cekreek..

Pintu rumah itu terbuka, dan berhasil membuat Kihyo dan Baro sendiri menganga melihat interior rumah mereka.

-oOo-

Baro’s POV

 

Aku tak berhenti berdecak kagum dengan design rumahku dan Kihyo ini. ‘Sepertinya abeoji sudah benar-benar mempersiapkan semuanya’ batinku. Kulirik Kihyo yang berada di sebelahku. Dapat kulihat matanya berbinar-binar menatap isi rumah ini. Wajahnya berseri-seri. Tanpa sadar, sebuah senyum tampak di wajahku. Amarah yang semenjak tadi kupendam, tiba-tiba menguap ntah kemana melihat wajahnya yang berseri-seri itu. Hah~ Kim Kihyo.. I think, you’ve already driving me crazy.

“Baro?” ujarnya melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Kutangkap tangannya yang melambai-lambai di depan wajahku—menghentikan gerakan tangannya.
“Ne chagiya?” ujarku tersenyum, menatap intens ke dalam matanya. Dapat kulihat wajahnya berubah menjadi merah karena perlakuanku. Neomu kyeopta~!! >.<

“A-anieyo.. k-katamu.. ta..di.. i-ini rumah k-kita?” tanyanya terbata-bata. Aku tersenyum ke arahnya. Tanganku kini berpindah ke kedua pipinya, mencubit pipinya pelan.

“Neomu kyeoptaaa~” ujarku, lalu melepaskan tanganku dari pipinya. Dapat kupastikan pasti wajahnya sangat memerah sekarang. Karena ia menundukkan kepalanya ke bawah.

“Kkkkk~ ne.. ini rumah kita. Hadiah dari abeoji untuk pernikahan kita” ujarku tersenyum senang.

“Apakah kita akan tinggal di sini?” tanyanya polos. Aish! Kenapa Kihyo tampak begitu imut sih? >.<

“Ne chagiyaaaa~ Mulai besok, kita akan tinggal di sini. Dan, hanya berdua” ujarku menggodanya.

“Hahaha” aku tak bisa menahan tawaku lagi, melihat wajahnya yang sangat merah itu.

“Ya! Kenapa kau tertawa?!” protesnya memukul-mukul lenganku.

“Yayaya, appoo~” rengekku berusaha menghentikan pukulannya. Sepertinya ia memukulku dengan semua tenaganya, sakit sekali -_-

“Huft” ia menghentikan pukulannya di lenganku, lalu menggembungkan kedua pipinya.

CUP!

Ntah setan apa yang merasukiku, sehingga aku mengecup pelan bibirnya itu. Dapat kulihat lagi-lagi ia menundukkan kepalanya—menyembunyikan wajahnya yang memerah. Aku menggaruk bagian belakang kepalaku—yang sebenarnya tidak gatal. Dapat kurasakan wajahku juga mulai memerah dan memanas. Aku segera membalikkan badanku, dan menatap ke arah lain, kemanapun asal bukan ke arah Kihyo.

“Ah, sudah sore. Sebaiknya aku mengantarmu pulang ke rumah abeoji” ujarku saat melihat ke arah jam arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

“Ne” ujarnya mengangguk, lalu mengikuti langkahku keluar rumah.

-oOo-

Kihyo’s POV

 

Diam masih menguasai kami hingga kini. Sepanjang perjalanan tadi kami hanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Aku beranjak turun dari mobil Baro dengan kikuk dan bungkam akan kejadian tadi. Aigoo~ wajahku selalu memerah jika sudah ingat kejadian tadi. Kenapa bisa seperti ini sih?!

“Kihyo-ah!” seru Baro, membuatku membalikkan badanku dan menatap ke arahnya.

“Ne?” tanyaku dengan wajah datar, berusaha menutupi salah tingkahku.

“Jadi pengantin yang paling cantik ya besok, yeobbo” ujarnya tersenyum ke arahku.

BLUSH

Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang benar-benar memerah sekarang.

“N-ne” ujarku terbata-bata.

“Haha, annyeong.. yeobbo” ujarnya menggodaku.

“Ya!” seruku bersiap melempar tas berisi wedding dressku ke arahnya.

“Bye yeobbo~!!” ujarnya melajukan mobilnya dengan cepat.

“Ya! Awas kau Cha Sunwoo!” umpatku kesal, lalu masuk ke dalam rumah dengan kaki yang kuhentak-hentakkan.

-oOo-

Baro’s POV

 

1, 2.. hah, kurang dari 2 jam lagi aku akan menjadi nampyeon Kihyo.. apakah aku sudah siap? Bisakah suatu saat nanti aku benar-benar mencintai Kihyo? Bisakah aku selalu berada di sisinya? Melindunginya? Hah! Mollandwae~!! Just let it flow, Baro..

Akhirnya kuputuskan untuk melihat persiapan pernikahanku dengan Kihyo, daripada aku stres nanti memikirkan hal-hal yang sedang berputar-putar di otakku. Kulangkahkan kakiku keluar kamar riasku. Yah, aku memang sudah selesai. Kini aku sudah mengenakan tuxedoku yang berwarna putih, dengan jas putih tulangku, dan tak ketinggalan dasi kupu-kupu berwarna putih. Selain itu, di kantong jasku ada sebuah mawar merah. Aku mengenakan sebuah sepatu berwarna putih juga. Ya, aku memang menginginkan pernikahanku bertema putih. Karena menurutku putih itu suci, bersih, dan sakral, juga indah.

Mataku terpaku melihat sebuah pintu di hadapanku. Di balik pintu itu, Kihyo pasti sedang di rias, dengan gaunnya yang berwarna putih itu. sebuah senyum terukir di wajahku membayangkan Kihyo mengenakan gaun yang kemarin dicobanya itu. ‘Neomu yeppeo’ batinku. Kuputuskan untuk mengintip keadaan di balik pintu di hadapanku. Kubuka sedikit daun pintu di hadapanku, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun agar aku tidak ketahuan.  Dapat kulihat sosoknya yang telah mengenakan gaun putihnya. Ia duduk di depan sebuah meja dengan kaca yang besar, dan ada beberapa ahjumma sedang merias wajahnya dan mengatur gaunnya. Lagi-lagi aku tersenyum melihat sosoknya. ‘Hah~ aku jadi tidak sabar menunggu ia selesai dirias’ batinku. Kututup kembali pintu di hadapanku dengan pelan. Kulangkahkan kakiku ke aula tempat pernikahan kami akan dilaksanakan. Sekitar.. 1 jam lagi? Ya, sepertinya 1 jam lagi. Dapat kulihat orang-orang yang sedang mondar-mandir ke sana kemari mempersiapkan pernikahanku dan Kihyo yang tak akan lama lagi. Banyak mawar berwarna putih di sudut-sudut aula ini. Aku tersenyum melihat persiapan pesta pernikahanku dan Kihyo. Putih, seperti apa yang aku dan Kihyo—mungkin—harapkan.

Kulangkahkan lagi kakiku ke luar aula ini. Aku berjalan ke arah taman di depan gedung di mana aku dan Kihyo akan mengucap janji setia. Tampak orang-orang juga sedang mempersiapkan garden party yang akan dilaksanakan seusai aku dan Kihyo mengucap janji setia.

“Sepertinya, ini akan menjadi pesta yang sangat menyenangkan” gumamku tersenyum.

-oOo-

Kihyo’s POV

 

“Huwaaa~ aku sangat gugup! Kurang dari 15 menit lagi, aku akan menikah dengan Baro. Aigoo~ eottohkae?” gumamku tak jelas di depan cermin. Kutatap sekali lagi pantulan bayangan diriku di hadapanku. Aku tersenyum melihat sebuah mahkota di atas kepalaku. Dari kecil, aku menginginkan mengenakan mahkota seperti ini di atas kepalaku. Mahkota yang cukup sederhana—menurutku. Bentuknya mungil, dengan beberapa hiasan kristal-kristal kecil yang mempercantiknya. Cantik sekali.

Cekrek..

Reflek aku menoleh ke arah pintu, mendengar suara pintu yang terbuka. Dan di sana, kutemukan sosoknya yang mengenakan tuxedo putihnya dan jas berwarna putih tulang. Ia terlihat tampan sekali—dan juga gagah. Ia tersenyum padaku, lalu menghampiriku.

“Neoneun neomu yeppoyo (kamu cantik sekali)” pujinya tulus, yang membuat wajahku bersemu merah. Aish! Kenapa dia selalu bisa membuat wajahku bersemu merah seperti ini sih?

“Ya! Kenapa kau masuk ke sini? Kau kan tidak boleh masuk ke ruang rias pengantin wanita!” protesku—menutupi wajahku yang memerah akibat pujiannya tadi.

“Sst! Diamlah! Aku tidak sabar ingin melihat pengantin wanitaku” ujarnya yang (lagi-lagi) sukses membuat wajahku bersemu merah. Dapat kudengar ia tertawa pelan melihatku yang diam tidak berkutik. Kini ia berada di hadapanku, menarik daguku dengan jari telunjuknya. Membuatku mendongakkan kepalaku, dan menatap ke arahnya.

“Saranghae” ujarnya pelan, pelan sekali. Bahkan hampir tak terdengar. Tapi aku mendengarnya. Rasanya dunia seperti berhenti berputar saat ia mengatakan satu kata itu. aku tak tahu siapa yang memulai ciuman kami. Yang kutahu kini, bibirnya berada di atas bibirku. Menciumku dengan lembut dan tulus. Apakah semua ini mimpi? Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.

-oOo-

Aku mengeratkan tanganku di lengan appa. Appa menoleh ke arahku, dan tersenyum—berusaha menenangkanku. Aku membalas senyuman appa dengan sedikit kikuk. Jantungku berdebar kencang sekali. Seperti inikah rasanya menikah? Gugup dan berdebar? Aish, molla! Yang pasti aku merasa sangat gugup dan berdebar sekarang.

Kufokuskan pandanganku ke depan. Ah, lagi-lagi sosoknya membuatku berdecak kagum dan terpesona. Ia berdiri tegap, menantiku untuk datang ke hadapannya dengan senyumannya yang sangat memikat. Ia terlihat sangat berwibawa di mataku sekarang ini. Aku melangkah dengan perlahan ke arahnya. Kulirik appa yang berada di sampingku. Dapat kulihat dengan jelas, raut kebahagiaan terpancar di wajahnya. Aku tersenyum tipis melihat raut wajah appa. Aku belum pernah melihatnya sebahagia ini. ‘Sebahagia itukah kau appa? Semoga aku tidak mengecewakanmu’ batinku.

“Jaga Kihyo baik-baik, Sunwoo-ah” ujar appaku pelan, menyerahkan tanganku pada Baro, saat kami sudah berada di hadapannya.

“Tentu saja, abeoji. Aku pasti akan menjaganya dengan baik” ujar Baro tersenyum. Dapat kulihat appa tersenyum mendengar ucapan Baro. Beliau kini menatap ke arahku, dengan raut wajah yang sulit dijelaskan—antara senang dan sedih mungkin.

“Gadis kecil appa sudah dewasa sekarang. Baik-baiklah bersama Sunwoo, arra?” ujarnya tersenyum. Aku mengangguk mantap, mengiyakan perkataan appa.

“Arasseo appa” ujarku tersenyum.

“Kajja” ujar Baro menggerakkan tangannya, mengisyaratkanku untuk mengaitkan tanganku di lengannya.

“Ne” ujarku mengaitkan tanganku di lengannya. Aku hanya bisa berharap, semoga ini adalah hal yang benar. Pernikahanku dengan Baro.

-oOo-

Author’s POV

 

Tampak sepasang pengantin baru tengah menyambut tamu yang berdatangan. Mereka berdua tampak begitu serasi. Mempelai pria terlihat begitu gagah dan tampan. Sedangkan mempelai wanita terlihat begitu anggun dan cantik. Senyuman bahagia terukir di wajah mereka. Membuat orang-orang yang melihatnya iri.

“Huwaa~ chukkae Baro-ah!” seru seorang namja menjabat tangan Baro—sang mempelai pria.

“Gomawo Sandeul-ah” ujarnya tersenyum, menjabat tangan Sandeul—namja di hadapannya.

“Chukkae uri Baro dan Kihyo!!” seru Shinwoo dan Jinyoung—yang datang bersama dengan Sandeul.

“Gomawo” ujar Kihyo tersenyum.

“Chukkae Kihyo-ah!!” ujar Hanna yang tiba-tiba muncul dari balik badan Shinwoo dan Jinyoung. Kihyo terkikik geli melihat tingkah sahabatnya itu.

“Ne, gomawo Hanna-ah” ujarnya masih sedikit tertawa.

“Chukkae” ujar Gongchan yang tiba-tiba datang dengan wajah datar. Ia mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Baro.

“Gomawo” ujar Baro berusaha tersenyum, menutupi rasa tidak sukanya pada Gongchan. Gongchan mengeluarkan evil smirknya, lalu mempersempit jarak antara dirinya dengan Baro.

“Tunggu tanggal mainnya. Kihyo akan jatuh ke tanganku” bisik Gongchan di telinga Baro. Tangan Baro mengepal mendengar ucapan Gongchan. Ia berusaha menahan emosinya yang tengah memuncak saat ini.

“Ck. Kau tidak akan pernah mendapatkan Kihyo” bisik Baro datar. Gongchan menjauhkan badannya dengan Baro, dan lagi-lagi sebuah senyum licik terpampang di wajahnya.

“Kita lihat saja nanti” ujar Gongchan tersenyum penuh kemenangan. Baro menatap dingin ke arah Gongchan, dengan tangan yang masih terkepal.

“Ck. Tak akan kubiarkan” ujar Baro mendecak kesal.

-oOo-

Kihyo’s POV

 

Aku menggeliat di atas kasurku. Tubuhku terasa seperti ingin copot semua. Aku terbangun, berusaha mengubah posisiku menjadi duduk. Sinar matahari yang masuk memaksaku untuk membuka mataku.

“Hoahhmm” gumamku berusaha mengumpulkan nyawaku. Kuputar badanku ke kiri dan ke kanan. Dan dapat kupastikan, bunyi ‘krek’ terdengar dari badanku. Mataku menangkap sebuah sosok yang tengah tertidur di sebelahku.

“Ya!” pekikku kaget. Reflek aku langsung menendangnya hingga ia jatuh dari kasur.

“Ya! Appo!” otakku mendadak konslet mendengar suara itu. Sosok itu berdiri sambil mengusap pantatnya yang sakit akibat terjatuh dari kasur karena aku tendang tadi.

“Ya! Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau tidur di sebelahku?” protesku pada Baro. Ya, ini memang penglihatanku yang salah atau memang benar, kini Baro berada sekamar denganku.

Ia malah tersenyum ke arahku, dan bergerak ke atas kasur—menghampiriku.

“Ya~ yeobbo.. kita kan sudah resmi menjadi suami istri.. sudah sepantasnya aku tidur di sebelahmu. Lagipula, kita sudah melakukan ‘itu’ bukan tadi malam?” ujar Baro dengan wajah yadongnya.

PLAK!

Aku baru tersadar dengan ucapan Baro. Dapat kurasakan wajahku memerah dan memanas. Ku intip ke dalam selimut, memastikan apakah aku masih mengenakan gaunku atau tidak. Dan, BINGO! Aku tak mengenakan sehelai benangpun! Dan, dapat kulihat Baro yang hanya mengenakan boxernya di hadapanku.

“Kau masih belum percaya? Apa perlu kita melakukannya lagi pagi ini, yeobbo?” ujarnya masih dengan wajah yadongnya itu.

BLUSH

Dapat kurasakan wajahku benar-benar memerah sekarang. Aku berani taruhan, wajahku sekarang pasti lebih merah daripada kepiting yang baru direbus.

“Ya! Shut up your mouth!!” seruku melemparkan bantal ke arahnya.

“Shit!” umpatku saat bantal yang kulempar dengan sigap dapat ditangkap olehnya. Ia bergerak semakin mendekatiku. Ia mengeluarkan evil smirknya. Aigoo~ sepertinya aku dalam bahaya sekarang.

CUP!

Tiba-tiba ia mengecup pelan bibirku.

“Morning kiss” ujarnya tersenyum polos padaku. Aigoo~ apakah aku bisa bertahan seperti ini?

-oOo-

Hari ini kami berdua memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Ya, berhubung kemarin kami sudah tidak masuk, jadi kami akan masuk sekolah hari ini. Sebenarnya Baro menolak untuk berangkat sekolah hari ini. Dan kalian tahu apa alasannya?

“Lusakan kita pergi honeymoon, jadi tak usah masuk saja sekalian”

Ck. Benar-benar, anak itu otaknya yadong sekali! Untung saja ia tidak melakukan apa-apa padaku semalam. Jika ia melakukannya, dapat kupastikan hari ini aku berangkat ke sekolah dengan syal melilit di leherku.

Aku segera beranjak turun dari mobil Baro, saat kami sudah sampai di sekolah. Ia menggandeng tanganku di sepanjangn koridor. Aku hanya bisa pasrah dengan perlakuannya. Aku hanya bisa berharap, semoga tidak ada fansnya yang menyerangku lagi seperti tempo hari.

“Nanti siang kita makan bersama ya” ujarnya saat kami sudah sampai di depan kelasku.

“Hmm” aku hanya bergumam.

“Arasseo. Aku ke kelas ya yeobbo. Annyeong!” ujarnya pergi setelah mencubit kedua pipiku. Aku hanya menghela nafas kesal dengan perlakuannya. ‘Hah, sudahlah~ tak usah dipikirkan’ batinku, memasuki kelas.

-oOo-

Baro’s POV

 

Aku berjalan ke arah kelasku dengan riang. Senyum tak henti-hentinya terukir di wajahku. Kukira setelah 5 tahun berlalu, aku tak akan bisa merasakan hal seperti ini lagi. Ternyata aku salah, Kihyo telah membuatku merasakannya lagi.

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” ujar Jinyoung yang tiba-tiba menghampiriku di depan kelas. Dapat kulihat Sandeul dan Shinwoo berada di belakangnya.

“Ah, aku tahu! Biasa, pengantin baru” ujar Sandeul menggodaku.

“Iya benar! Aku setuju” ujar Shinwoo ikut-ikutan menggodaku.

PLETAK!

Sebuah jitakan dariku mendarat mulus di kepala Sandeul dan Shinwoo.

“Appo” protes mereka.

“Makanya, berhenti menggodaku” ujarku memamerkan senyumanku. Dapat kulihat Jinyoung menggelengkan kepalanya melihat tingkah kami bertiga.

“Sudahlah, berhenti! Lihat? Im seonsaengnim sudah datang” ujar Jinyoung menunjuk ke arah Im seonsaengnim yang tengah dalam perjalan ke kelas kami. Aku, Sandeul, Shinwoo dan Jinyoung beranjak memasuki kelas. Dan seperti biasa, teriakan histeris para yeoja terdengar begitu memekakkan di telingaku. Kuabaikan teriakan mereka, dan duduk di bangkuku. Aku mengernyitkan dahiku melihat bangku di belakangku dan Sandeul yang masih kosong. ‘Di mana Gongchan?’ batinku. Aish, sudahlah. Buat apa aku memperdulikannya.

Cekrek..

Tiba-tiba pintu kelas terbuka, dan suasana kelaspun tiba-tiba menjadi hening, karena kedatangan Im seonsaengnim.

“Annyeonghaseyo hakssengdeul” sapa Im seonsaengnim.

“Annyeonghaseyo Im seonsaengnim” ujar kami.

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Ahn Richan-ssi, silahkan masuk” ujar Im seonsaengnim.

DEG!

Tubuhku menegang mendengar nama itu. kudongakkan kepalaku menghadap ke depan kelas. Dan di sanalah, kutemukan sosoknya. Yeoja yang selalu mengisi benakku, bahkan masih sampai 5 tahun terakhir ini. Apakah aku sedang bermimpi? Aku aku sedang berilusi? Apapun itu, kenapa sosoknya begitu nyata?

“Annyeonghaseyo Im seonsaengnim. Mianhae aku terlambat, tadi aku mengantar Richan berkeliling sekolah terlebih dahulu” ujar Gongchan yang tiba-tiba sudah berada di samping Richan.

“Ah, gwenchana. Kalau begitu, kalian bisa duduk. Richan-ssi, kau bisa duduk di sebelah Chansik” ujar Im seonsaengnim. Aku menatap nanar ke arahnya.

“Annyeong Sunwoo-ah! Sudah lama sekali kita tidak bertemu” ujar Richan tiba-tiba sudah duduk di bangku belakang Sandeul, dan tersenyum ke arahku. Oh Tuhan, apapun ini, kumohon untuk hentikan waktu.

 

TBC..

 

A.N.: eng ing eng~~ apakah yang akan terjadi selanjutnya? Hahaha xD

Mianhae, mungkin part ini ga sesuai harapan.. mianhae untuk typo, dan juga alurnya yang kecepetan.. alurnya emang sengaja aku cepetin, soalnya ngejer 4 part yang kemaren udah di publish itu.. jeongmal mianhae untuk semuanya *deep bow*

Just hope you all enjoy my ff guys! Dont forget to comment ya! *wink*

14 thoughts on “[REMAKE] Which One – 2”

  1. yaaa ! aku deg-degan bacanya tauuu , nyahaha
    sumpah ya aku bingung milih antara gongchan dan baro
    di antara dua orang imut itu , siapa yang harus aku piliiiiiih ?! #ngok #berasa-jadi-kihyo

    nah , gini kan better😀
    dikasih pov jadinya lebih enak bacanya , ehehe
    part 3~~ cepat datang , eo? kkk~😀

    1. jiaaaaah~ pengen bgt jdi kihyo ya eon? klo gitu jinyoung buat aku, hahaha xD
      hehe, better kah? gomawo^^
      part 3? ga janji deh.. soalnya aku lgi mikir mau berhenti ngepost ff ini dulu.. lgi bnyk author yg ngepost ff married life soalnya u,u

      1. ekh , kok diberentiin ?
        padahal aku nunggu-nunggu loh , ehehe
        tapi nggak apa kok , terserah kamu aja toh aku tetep nungguin part 3-nya walaupun kapan-kapan dipublish-nya😀
        fighting yaaaa😀

  2. waah…. tambah seru nie . lum lagi konflik d antara mreka..
    penasaran nie chingu ma Richan?? kan Gongchan blng, pernah ngrebut Richan dari Baro!!
    brarti bisa jadi mreka pasti mrencanakan sesuatu *reader sok tau,hehee*
    betul gag chingu??

    d tggu next part nya😀

  3. Aduh itu ex-nya Baro kok dtng lg sih? Tp gpp deh krna Baro psti ttep milih aku #plakk *berasa jd kihyo* u,u

    Gongchan knpa bs jahat banget? Slah mkn apa kamu shngga bs sejht ini?-_-

    Naaah gini dong author, ada povnya jd bs lebih mudeng bcnya😉
    Okedeh aku mau lanjut ke part 3 dulu, btw nice ff author ^^

    1. huahaha, tadi gongchan aku kasih racun, makanya jadi jahat begitu xD lol
      hehe, iyaiyaaaa udah di kasih povnya kan? *wink
      gomawo chingu komennyaaaa😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s