[RATW Sungji After Story] On the Edge of Happiness

Miami, Florida. Southeastern America.

Seorang gadis sedang duduk dengan tenang memainkan pianonya. Wajah santai dan relaksnya membuat sekilas ia terlihat sedang bermain dengan pianonya di ruang tamu rumah. Tetapi kenyataannya ia berada di stadion besar dengan mata ribuan penonton terpancang padanya.

Ia menyelesaikan Piano Concertonya dengan mulus, berdiri dari kursinya dan memberikan hormat dengan membungkuk 90 derajat. Tepuk tangan riuh menyambutnya seketika dan masih terus berlanjut saat ia berjalan kembali ke balik panggung.

Dua orang dengan walkie talkie langsung mengapit Yoonji di kanan dan kiri. “Nice piece, miss,” komentar pria pertama membuat Yoonji mengangguk. “Thanks,” jawabnya singkat. “Mr. Lee wants us to bring you to him,” lapornya lagi.

Well… isn’t he busy?” tanya Yoonji mengerucutkan bibirnya. Mereka baru pindah ke Florida bulan lalu dan Sungmin hari ini memasuki kantor FBI untuk pertama kalinya. Pastilah banyak kerjaan yang harus ia lakukan tetapi ia masih sempat datang dan menonton pertunjukan pianonya.

Agent itu menggeleng. “No. He’s got two months off because of the injury,” ujarnya dan Yoonji mengangguk paham. Sungmin memiliki luka di dadanya dan ia mendapatkan kompensasi untuk itu.

Yoonji menoleh pada Agent kedua yang membawa tasnya. Ia mengulurkan tangan untuk memintanya. “May I have it?” tanyanya halus dan Agent itu dengan sigap menyodorkan Clutch bag itu pada Yoonji.

Sure,

Yoonji mengambil sebotol parfum mahal dari dalam tasnya dan menyemprotkannya sedikit ke pergelangan tangannya. Ia menutup lagi botol itu dan menaruhnya ke tempat semula.

Strawberry. Nice pick, Miss,” komentar Agent pertama tadi. Entah memang terlalu ramah atau hobinya mengajak bicara gadis gadis, Sungmin pasti tidak akan suka ini.

He likes it,” jawab Yoonji tersenyum singkat. Tanpa terasa mereka sudah berjalan keluar dari gedung itu dan menyusuri pelataran parkir yang begitu luas. Sebuah Limo putih berhenti di depan mereka dan Agent pertama membukakan pintu untuk Yoonji.

Ternyata Agent pertama itu hanya akan mengantar Yoonji sampai mobil karena ia akan tetap berjaga disana. Ia masih sempat mendengarnya berbicara pada walkie talkie dengan bahasa sandi sebelum pintu tertutup sepenuhnya.

“White Rose has already left the vase… White Rose has already left the vase…”

-oOo-

Limo itu berjalan cepat membelah kota Miami dengan cepat. Sebenarnya Sungmin di tugaskan di ibukota di Talahassee, tetapi sekarang mereka sedang berada di kota Miami, dalam rangka libur akhir pekan sekalian Yoonji mengadakan pertunjukan piano disana, dan…. Satu hal penting yang harus mereka lakukan dalam waktu dekat.

Mobil itu akhirnya berhenti dengan mulus di depan sebuah jembatan yang sepi dengan pemandangan Miami di malam hari terlihat jelas dari puncaknya. Sebuah McLaren terparkir gagah disana. Seseorang yang duduk di atapnya dengan kedua kaki menjejak ke kap mobilpun tidak kalah gagah dilihat dari belakang.

Lamunan Yoonji buyar ketika agent yang mengawalnya tadi sudah membukakakan pintu mobil untuknya. “Have a great time, Miss,” katanya ramah ketika Yoonji  meraih clutch bag merahnya dan turun dari mobil.

Agent itu memasuki kemudi lagi dan menstarter mobilnya. Yoonji masih berdiri disana ketika mobil itu pergi menghilang dari pandangan.

Sejurus kemudian ia berbalik. Pria itu masih saja membelakanginya. Yoonji hanya mendengus. “Berpura pura tidak mendengarku, eh?” katanya sebal. Pria itu kemudian menoleh dan menatapnya Aegyo. “Menunggu kau menyapa duluan,” ujarnya.

Yoonji hanya memutar bola matanya dan Sungmin tertawa renyah. “Kemari,” ujarnya dan mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut Yoonji.

Gadis itu mendekat dan berusaha meraih tangan Sungmin tetapi terlalu jauh. Ia berputar kedepan, ke arah kap mobil dan menaikkan sebelah kakinya agar dia bisa memanjat tetapi tetap tidak bisa. Terlalu licin untuknya.

Sungmin lagi lagi terkekeh dan melompat turun dengan mudahnya. Ia meraih pinggang Yoonji dengan kedua tangannya dan mengangkatnya. Setelah ia berhasil menempatkan Yoonji di atap mobil, ia melompat lagi dengan mudah untuk duduk disitu.

Sekarang mereka berdua menghadap ke arah yang sama. Pemandangan Miami di malam hari terbentang luas di hadapan mereka. Sungmin menoleh pada Yoonji dan menatapnya sedemikian rupa membuat gadis itu merasa risih diperhatikan sebegitunya.

“Kenapa?” tanyanya dan Sungmin hanya tersenyum tipis dan memberikannya sebuket dengan tiga tangkai mawar putih di dalamnya. “Ini untuk si cantik yang baru saja menutup recitalnya dengan Piano Concerto yang memukau,” ujarnya manis.

Yoonji menatap bunga di tangannya dan melihat lagi ke arah Sungmin dengan ekspresi aneh. “Kau… menonton?” tanyanya memastikan dan Sungmin hanya terkekeh. “Bagaimana mungkin aku tidak datang?”

Satu pukulan melayang ke lengan Sungmin, disusul oleh tiga pukulan yang lainnya. “Yah! Kau bilang kau sibuk sampai sampai tidak bisa datang,” Yoonji mengerucutkan bibirnya sebal. “Jawabanku  masih sama. Bagaimana mungkin aku tidak datang?”

“Yah! Serius sedikit,” tuntut Yoonji sebal dan Sungmin mengacak rambutnya berlebihan sampai benar benar berantakan. “Kau tidak pernah bermain dengan benar kalau ada aku. Ingat Fur Elisemu yang absurd itu?” ujarnya dan Yoonji hanya menutup wajahnya malu.

Ia memang sering tidak bisa bermain dengan benar kalau ada Sungmin. Tetapi daripada pria itu terlalu percaya diri, ia memilih untuk tidak memberitahunya apapun. Tetapi dengan sialnya sekarang pria ini bisa sadar sendiri.

Hening lagi. Yoonji membuka pembicaraan untuk memecah kebisuan. “Jam berapa sekarang?” tanyanya. Pertanyaan payah, tentu saja.

Sungmin melirik arloji Swiss Army miliknya. “Ah, jam delapan. Kau harus pulang,” katanya menggamit lengan Yoonji tetapi gadis itu menariknya. “Ayolah, aku masih menikmati pemandangan,” ujar Yoonji.

“Ya,  bisa dibilang kau pengantin wanita pertama yang berkeliaran di malam sebelum pernikahan,” Sungmin tertawa merdu. Yoonji hanya tersenyum tipis. “Apa bedanya denganmu?” ujarnya membuat Sungmin menariknya kedalam rangkulannya.

“Aku akan sangat tidak siap untuk besok,” keluh Yoonji pelan membuat Sungmin menahan tawanya. “Dulu kau berani menempatkan dirimu di depanku waktu Hara menembakkan revolvernya. Sekarang saat menghadapi hal  semudah pernikahan nyalimu hilanng entah kemana,” komentarnya.

Senyum itu berusaha ditahan Yoonji saat Sungmin berkata seperti itu. Memang pengalaman itu merupakan salah satu pengalaman yang tidak mungkin ia lupakan. Tetapi kan tetap saja menikah itu tidak semudah mendorong tubuhmu beberapa senti kesamping untuk menghalangi peluru.

Setidaknya kali ini Yoonji bukan mau melakukan sedikit pengorbanan untuk seseorang, melainkan menyerahkan seluruh hidup dan matinya kepada seorang pria.

Tentu saja Yoonji mencintai pria ini. Tetepi menyerahkan seluruh hidupnya yang tadinya hanya miliknya sendiri kedengaran sedikit…

“Hei!” Sungmin melambaikan telapak tangannya di depan kedua bola mata Yoonji membuat gadis itu mengerjap kembali ke dunia yang ia tinggalkan beberapa detik lalu. “Maaf,” gumam Yoonji pelan membuat Sungmin mengacak lagi rambutnya. “Tidak apa apa, kau pasti banyak pikiran,” gumam Sungmin pengertian.

“Calon mempelai wanita biasanya akan kehilangan berat badannya menjelang pernikahan. Beruntung kau tidak secemas itu,” tutur Sungmin lagi sambil melompat turun dari atap mobil yang ia duduki. Ia mengulurkan tangan dan mengangkat pinggang Yoonji membantu gadis itu turun hingga didenganrnya suara sepatu gadis itu menjejak diatas tanah.

Sungmin membuka pintu mobilnya untuk Yoonji dan gadis berambut wavy itupun masuk tanpa banyak protes. Sungmin berputar melewati bagian depan mobil super mahal itu dan duduk di kursi kemudi. “Pulang?” tanyanya dan Yoonji menjawabnya dengan anggukan.

Pria itu akhirnya menekan pedal gas dekat dengan kakinya dan mengemudi melintasi kota Miami yang terlihat begitu sibuk malam ini. “Kyuhyun, Donghae dan Hara sudah disini?” tanya Sungmin dan Yoonji  menanggapinya dengan anggukan antusias membuat rambut bergelombangnya jatuh sedikit menutupi bahunya.

“Sayang Nana dan Kahi Unnie tidak bisa muncul. Mereka ada seminar kesehatan di Thailand. Aku ingin sekali mereka datang di hari penting itu,”

Sungmin hanya tersenyum. “Sudahlah, tidak semua hal bisa kita dapatkan dalam sekali tangkap. Aku sedikit terkejut saat kau memilih Hara sebagai maid of honormu,” ujar Sungmin menaikkan satu alisnya.

“Dia kan saudara perempuanku. Malah aku yang shock saat kau bilang bahwa kau memilih Donghae sebagai best man. Aku kira kau sudah tidak mempercayainya lagi,”

Sungmin tertawa renyah. “Mana mungkin ada yang bisa menggantikan posisi itu,” gumamnya.

Mereka telah sampai di depan Lobby sebuah hotel luxury yang terlihat megah di malam hari. Menjadi salah satu dari Hotel bintang lima terbaik di Miami dan menjadi lirikan utama para turis asing yang berkujung kesana.

InterContinental Miami Hotel. Harganya memang semahal namanya. Terletak di 100 Chopin Plaza Miami membuatnya menjadi hotel five star dengan letak paling strategis di jantung kota.

“Jadi kau akan kembali sekarang?” tanya Yoonji meraih clutch bagnya di jok belakang dengan satu tangan. Mereka memang berlibur bersama tetapi mereka membooking hotel yang berbeda. Kata Sungmin, biar pernikahan mereka nanti tidak terlihat biasa saja karena mereka sudah sering bertemu setiap hari.

Sungmin menahan tangan Yoonji yang akan membuka pintu mobil. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, dan menyerahkannya pada Yoonji.

Benda itu berbentuk persegi empat besar telapak tangan Sungmin. Terbuat dari beludru dan warnanya merah. “Pakai ini besok. Kau pasti terlihat spektakuler,” ujarnya dan Yoonji memandangnya sejenak dan memasukkan benda itu ke tasnya. “Baik, aku janji,” katanya membuat Sungmin tersenyum puas.

Senyum kecil terlahir di bibir Sungmin. Beberapa hari ini Yoonji terlihat berbeda. Tidak berceloteh atau merengek. Sepertinya Yoonji yang sedang mencemaskan pernikahannya yang akan berlangsung kurang dari dua puluh empat jam lagi terlihat…. Lebih dewasa.

Sungmin sedikit merindukan sifat childish gadis itu yang selalu membuatnya ingin memeluk Yoonji sampai gadis itu sesak. Tetapi Sungmin mencoba untuk mengerti tekanan yang dialami para wanita menjelang hari hari penting mereka.

“Apakah kau begitu mencemaskan ini?” tanya Sungmin membuat Yoonji menoleh dan menghembuskan nafasnya. “Sedikit,” katanya. “Oke. Banyak.” Ia melanjutkan, membuat Sungmin mengulum senyum.

“Kau tahu kan aku ini ceroboh? Bagaimana kalau aku bertindak bodoh disana? Bagaimana kalau pikiranku kosong di altar dan tidak bisa mengucapkan sumpah? Bagaimana kalau aku terlihat konyol dengan baju putih menjuntai dibelakangku? Bagaiama kalau aku terpeleset oleh heels dan—“

“ssst.” Sungmin meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala gadis itu menyuruhnya diam. Ini dia, Yoonji si gadis yang gemar berceloteh telah menunjukkan wajah aslinya, pikir Sungmin sambil tersenyum.

“Kau, Shin Yoonji, tidak pernah mengecewakan. Kau selalu spektakuler dan besok juga akan begitu,” ucap Sungmin. Yoonji menatapnya tak yakin dan Sungmin tersenyum lagi. “Barusan itu pernyataan harga mati. Bisa dipastikan keberarannya.” Katanya tegas.

Yoonji haya menghembuskan nafasnya putus asa.  “Berdoa saja pada keberuntunganku,” katanya dan Sungmin tersenyum. Ia berbalik dan membuka pintu. “Sampai jumpa,” kata gadis itu memberikan senyumnya yang terakhir.

Sungmin terdiam beberapa detik dan bergegas membuka pintu di sebelahnya. “Shin Yoonji!” panggilnya, membuat  gadis itu menoleh. “kau… baik baik saja selama bersamaku?” tanya Sungmin membuat Yoonji memandangnya seakan akan pria itu kehilangan kesadarannya. “Tentu saja,” jawabnya.

“Kau tidak akan menyesali ini?” tanya Sungmin cemas dan Yoonji hanya mengedipkan matanya. “Sepertinya tidak,” katanya. Ia berbalik dan menaiki tangga menuju lobby satu persatu. Ia sudah hampir melewati pintu kaca yang terbuka otomatis ketika suara itu memanggilnya lagi.

“Shin Yoonji!” teriak Sungmin membuat Yoonji tersenyum tipis dan berbalik. “apa lagi?” tanyanya dan  Sungmin hanya diam seakan akanmemikirkan apakah ia akan menyuarakan isi pikirannya atau tidak.

“Aku tetap member crazioneer. Aku masih seorang agent handal dan aku masih berurusan dengan criminal. Bahkan sekarang aku menangani mafia kelas dunia dan buronan Interpol. Menikahiku itu resiko,” ujar Sungmin.

Yoonji berpikir sebentar sebelum menjawabnya. “Resiko itu pilihan. Dan aku memilih untuk menghadapinya,” ujarnya singkat dan berniat berbalik.

“Tapi—“ potong Sungmin membuat Yoonji membatalkan niatnya untuk berbalik.

Sungmin merasa kalimatnya tercekat di ujung pangkal tenggorokannya. “Kau… tidak akan menyesal?” tanyanya lagi.

Saat itulah Yoonji menyadari segalanya. Ia memang khawatir. ada hal hal yang ia khawatirkan dan tidak ia katakan pada Sungmin karena takut terlihat konyol. Tetapi Sungmin tetap tahu suasana hatinya dan mencoba membuatnya merasa lebih baik.

Hanya Yoonji baru menyadari….. bahwa Sungmin lah yang paling khawatir disini.

Ia menuruni tangga satu persatu sampai pada tangga kedua terakhir sementara Sungmin satu tangga di depannya. Yoonji mengenakan Heels 9 sentimeter untuk konsernya dan ia berada satu tangga diatas Sungmin membuat tinggi badan mereka kini sejajar.

Yoonji memberanikan dirinya melawan debarannya sendiri mengalungkan kedua tangannya di leher Sungmin. Kali ini ia yang mulai duluan. Ia mendekat dan mencium kening pria itu pelan.

“Aku milikmu. Apapun yang terjadi, kau selalu punya aku,” ucapnya tegas.

Sungmin menatap gadis itu tepat di matanya dan menarik gadis itu dalam dekapannya. “Yoonjiku sudah dewasa sekarang,” ujarnya membuat Yoonji terkekeh. “Apa itu tadi? Menciumu duluan,” godanya lagi jail. Yoonji menenggelamkan wajahnya pada wangi tubuh pria itu karena malu. “Habis… wajahmu tadi itu benar benar cemas,” gumam Yoonji menahan panas di wajahnya. Ia sedikit menyesali tindakan beraninya tadi.

“Aku baru menyadari bahwa kau sama kuatirnya dengan aku,” ujar  Yoonji di dada Sungmin. “Aku juga mencemaskan banyak hal. Tidak sesederhana yang kuungkapkan tadi. Ada beberapa hal yang tidak bisa kukatakan secara verbal tapi—“

Sungmin melepaskan pelukan Yoonji lembut dan meletakkan tangannya di kedua pipi dingin gadis itu. “Aku milikmu. Apapun yang terjadi, kau selalu punya aku,” Sungmin mengulang perkataan Yoonji tadi.

Yoonji hanya diam dan menyadari kalau semuanya baik baik saja diantara mereka. Mereka masih memiliki satu sama lain. Pre-Marriage Syndrome itu biasa. Semua akan baik baik saja nanti.

Sungmin menepuk pipinya lembut. “Sudah, tidur sana. Kau harus cantik besok, oke? Hara akan menjemputmu,” ujarnya lembut.

-oOo-

Gereja Santa Monica, salah satu katedral popular dengan desain Classic yang terkadang menjadi salah satu objek wisata turisme di Miami. Dan disinilah, Shin Yoonji akan menyerahkan seluruh hidupnya pada seorang pria yang ia cintai.

Seharusnya semuanya berjalan mulus kalau saja ia tidak merasakan gugup berlebihan atau Cho Hara yang memberikannya seribu satu tips yang bahkan Yoonji tidak perhatikan karena sibuk mencemaskan pernikahannya.

“Pokoknya kau tidak boleh terlihat begitu menyerah pada dia. Tunjukkan sedikit gengsi. Ani… gengsimu harus besar. Itu bisa mengancam hubungan rumah tangga kalian,” nasihat Hara sambil mondar mandir sementara Yoonji mendengarkan dengan tidak fokus sambil wajahnya dirias oleh seorang perias professional yang dipanggil Sungmin khusus untuk ini.

“Dan ingat, jangan terlihat terlalu peduli atau apa. Bersikaplah seolah kau sulit untuk didapatkan,” cerocos Hara lagi membuat Yoonji menghembuskan nafasnya sebal.

“Cho Hara, bahkan kau belum berencana untuk menikah,”

Hara hanya menggaruk bagian belakang tengkuknya. “Ya… setidaknya dalam waktu dekat ini,” ujar Hara. Sepertinya ia terlihat lebih mirip konsultan pernikahan daripada seorang agen sekarang.

“Dan sekarang aku yang akan melakukannya duluan. Kau lihat saja progressnya nanti aku yang mengajarimu,” Yoonji menutup pembicaraan seiring dengan sapuan terakhir pada wajahnya, dan professional yang merias Yoonji beranjak pergi lewat pintu depan.

Saat yakin tinggal mereka berdua disni, Hara membalikkan kursi Yoonji dengan mudah, menghadap ke arahnya. Kuris itu memang bisa diputar 360 drajat.

“Oke. Kau lihat aku. Kau sedang memikirkan banyak hal, kan?” tanya Hara membuat Yoonji menghidari matanya. Memang benar adanya. Ia sedang banyak pikiran.

Hara hanya berdecak dan dijidatnya tertulis jelas. ‘Benar kan, yang aku bilang?’ tetapi tentu saja ia tidak mengatakannya. “Sudah ceritakan saja. Kalau kau pendam sendiri bisa bisa jadi penyakit,” gumamnya. Yoonji menatapnya lurus. Memang benar. Selain Sungmin, Hara adalah salah satu orang yang berhak tau. Tanpa bisa menampik fakta bahwa mereka memiliki kesamaan di setiap tetesan darah mereka.

Entah untuk ke berapa ratus kalinya dalam satu jam ini Yoonji membiarkan lagi dirinya menghela nafas panjang seolah itu akan membuatnya merasa lebih baik.

“Begini. Sungmin itu orang penting. Dia itu perfeksionis. Dia selalu cermat dan hati hati dan semua orang segan padanya. Aku hanya merasa…. Aku bukanlah gadis yang tepat, “ gumam Yoonji dan Hara membulatkan mulutnya seakan ia mendapatkan satu jawaban super sulit yang sudah susah payah ia cari cari.

“Semua gadis pasti pernah merasakan itu, tenang sajalah,” ujarnya enteng dan Yoonji menggeleng keras kepala. “Tidak. Ini berbeda,” katanya lagi.

“Kau harus tahu dia itu orang hebat. Aku ini terlalu ceroboh. Manja, tidak dewasa, mudah merengek. Aku bukanlah tipe gadis yang cocok untuk berdiri di sebelahnya,” keluh Yoonji takut.

Hara terlihat sedikit berpikir sebentar. Sejurus kemudian ia mengambil kursi beroda di sudut ruangan dan menyeretnya ke depan saudarinya itu. Ia duduk tepat di depan Yoonji dan seakrang mereka berbicara empat mata.

“Kenyataannya kau benar. Pria seperti Sungmin itu memang cocoknya dengan aku. Dia tangguh, aku juga.  Dia protektif, aku posesif. Dia perfeksionis, aku ambisius. Aku pernah mencintainya sampai kukira aku akan mati kalau dia tidak ada.” Hara berbicara sedikit percaya diri dan Yoonji hanya memutar bola matanya.

“Tetapi satu fakta yang membuatku hampir gila dan pernah berusaha membunuhmu adalah, fakta bahwa ia mencintaimu. Bahwa dia memilihmu setelah entah apa dari diriku yang tidak cocok dengannya. Tetapi dia memilih untuk melindungimu dan menjadi musuhku. Tidakkah itu mengejutkan?”

Lagi lagi Yoonji  mengangguk. “Hidup itu pilihan. Disaat ia memilih  hal yang paling penting untuk hidupnya, ia menunjukmu. Shin Yoonji yang ceroboh, sedikit kekanakan dan banyak bicara. Kau membuatnya merasa lebih…. Manusiawi dan dibutuhkan,” kata Hara bijak.

Demi apapun, Yoonji tidak pernah berpikir tentang hal hal ini. Ia berdiri membuat Hara spontan berdiri mengikutinya. “Kau siap?” tanyanya dan Yoonji tersenyum lebar. Ia menaruh buket bunganya di atas meja dan memeluk erat saudara perempuannya itu. “Sepertinya iya,” jawabnya.

Hara hanya mengulum senyumnya dan kembali memasang topeng juteknya ketika ia melepas pelukan Yoonji. Yoonji menaruh kedua tangannya di dada, merasakan dentum jantungnya membuncah karena antusiasme dan gugup. Ini adalah momen yang paling menentukan dalam hidupnya. Akan terjadi kurang dari lima belas menit lagi.

Pintu terbuka dan Cho Kyuhyun memunculkan kepalanya dari luar. “Cepat, acaranya dimulai. Mempelai pria sudah menunggu,” katanya mengedipkan matanya pada Yoonji sementara gadis itu menjawabnya dengan anggukan.

Kyuhyun berjalan ke meja rias Yoonji,mengambil sarung tangan putihnya dan memasangnya. Terlihat cocok dipadu dengan jas yang dikenakannya. Yoonji mengambil seputik bunga lily di meja riasnya dan menyematkannya di jas Kyuhyun.

“Kau terlihat tampan, Oppa,” pujinya.

Ia berbalik menatap Hara dan gadis itu meletakkan kedua tangannya di bahu Yoonji.

“Aku pernah mencintainya setengah mati bertahun tahun sejak aku mengenalnya dan aku bahkan tidak bisa mendapatkan secuilpun perhatiannya. Jadi kalau pikiran pikiran aneh semacam tadi muncul lagi di kepalamu, ingatlah bahwa kau itu gadis yang beruntung,” ujar Hara lembut. Yoonji hanya mengangguk pasti.

Hara berjalan keluar dengan langkah gontai. “Kutunggu di dalam,” katanya dan menghilang dari balik pintu.

Kyuhyun tersenyum jail kepadanya. “Aigo.. lihat, kau bahkan terlihat ingin menenggelamkan diri ke tanah sanking gugupnya,” ledeknya jail dan Yoonji menarik nafas panjang untuk terakhir kalinya.

Ia menoleh kebelakang dan memandang pantulannya di kaca dengan seksama, siapa tahu ada yang kurang dari dandanannya dan Kyuhyun terkekeh. “Sudahlah, kau terlihat cantik,” katanya. “Ayo,” ajaknya lagi.

Yoonji mengangguk. Tetapi sebelumnya ia membuka meja riasnya dan mengeluarkan kotak beludru persegi dan membukanya. Didalamnya terdapat sebuah liontin berbentuk persegi empat terbuat dari emas putih.

Di tengah tengahnya dihiasi dengan empat buah berlian mungil yang bersinar tertimpa lampu. Tetapi bukan itu letak pesona kalung tersebut. Yoonji mebuka liontin itu dan air matanya hampir saja terjatuh kalau saja ia tidak berusaha menjaga makeupnya.

Terdapat foto wanita berambut panjang dengan wajah tegas namun cantik. Ibunya. Entah dari mana Sungmin mendapatkan foto itu. Tetapi senyum yang terpatri di foto itu, persis dengan senyum yang selalu ada di memori Yoonji.

Terdapat note kecil di dalam kotak itu dan Yoonji terharu membacanya.

‘Aku tahu kau ingin Ia datang di hari penting ini. Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan. Lee Sungmin.’

Yoonji tersenyum simpul. Walaupun Sungmin menganggap ini bukan hal besar tetapi untuk Yoonji ini segalanya. Setidaknya ia bisa merasakan bahwa ibunya hadir di pernikahannya, walau pada kenyataannya sudah tidak mungkin lagi.

Tetapi ia ada disini. Di liontin yang ia genggam ini.

“Eomma cantik ya, Yoon?” komentar Kyuhyun dan Yoonji mengagguk menyetujui. “Mau kubantu pakaikan?” tanyanya dan Yoonji lagi lagi mengangguk tanpa suara. Ia menyerahkannya pada Kyuhyun dan berbalik membelakangi pria itu.

Kyuhyun memasangkan kalung itu pada leher adiknya, dan benda itu terlihat cocok disana. “Sekarang, lebih komplit ya?” canda Kyuhyun dan Yoonji tertawa kecil. Tentu saja, sekarang ada Eommanya juga. Hari ini akan sempurna.

Kyuhyun mengulurkan sikunya, agar Yoonji menggandengnya. “Ayo. Dia menunggu di altar,” katanya. “Jangan biarkan aku terlihat konyol, Oppa,” kata Yoonji dan Kyuhyun tersenyum kecil. “Tentu tidak. Kau spektakuker,”

-oOo-

Sungmin tersenyum saat ia menoleh.

Gadis itu, dengan tiara di kepalanya dan gaun putih satin yang melekat pas membungkus tubuhnya berjalan mendekat digandeng oleh kakaknya yang tidak kalah bersinar di sebelahnya.

Yoonji berjalan super hati hati mengingat ia memakai Heels lagi, dan gugup berlebihan tidak menghapuskan kemungkinan dia untuk terjatuh. Tetapi kali ini sepertinya berbeda. Ia terlihat baik baik saja dan kegugupan itu tidak Nampak di wajah cerahnya.

Mereka semakin mendekat hingga Kyuhyun dan Yoonji akhirnya sampai di hadapan Sungmin. Dengan perlahan Kyuhyun menyerahkan tangan Yoonji yang digandengnya dan Sungmin mengambilnya. Kyuhyun kembali ke bangkunya dan sekarang Sungmin dan Yoonji sama sama menghadap altar.

Mereka menatap pastor dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya. Mata biru hangat dan kepala botaknya menandakan keenerjikannya di usianya yang sudah memasuki lima puluhan. Sungmin menarik nafas dan menggenggam kedua tangan Yoonji erat, dan mereka berhadapan.

I, Lee Sungmin, take you, Shin Yoonji, to be my friend, my lover, the Mother of my children and my wife. I will be yours in times of plenty and in times of want, in times of sickness and in times of health, in times of joy and in times of sorrow, in times of failure and in times of triumph. I promise to cherish and respect you, to care and protect you, to comfort and encourage you, and stay with you, for all eternity. 

Air mata Yoonji hampir menetes kalau saja ia tidak mau kelihatan konyol di hadapan para tamu. Itu adalah janji termanis yang pernah ia dengar. Ia tidak bisa berkata apa hingga pastor menyadarkannya. “Shin Yoonji?” katanya.

Yoonji kembali pada dunia di hadapannya dan mendeham.

I, Shin Yoonji, take you, Lee Sungmin, to be my partner, loving what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the man you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love and cherish you through whatever life may bring us. 

Mereka tersenyum satu sama lain. Sekarang mereka sah sebagai suami istri dan semua orang bertepuk tangan. Ini adalah tahap baru dalam kehidupan mereka, dimana mereka akan melanjutkan segalanya, kali ini, bersama sama.

Yoonji menatap sekelilingnya. Semua orang menatapnya hangat. Hara. Donghae. Kyuhyun. Mereka terlihat bahagia untuknya. Tangannya merambat keatas merapa liontin yang terasa dingin di kulitnya. Ia merasakan kehadiran eommanya juga.

Matanya menatap wajah Sungmin. Pria itu mendekat kearahnya dan tangan hangat itu menahan lengannya lembut. Sungmin mendekat dan bibir mereka bersentuhan. Pria itu melumat bibirnya pelan dan semua orang bertepuk tangan.

Mereka sudah lama bersama. Entah berapa ciuman yang sudah mereka lakukan. Tetapi Yoonji berjanji dalam hatinya, ini yang tidak akan ia lupakan selamanya.

Mereka bertatapan. Kali ini mereka resmi bersama. Absolut. Tidak akan tergoyahkan lagi.

 

-oOo-

Talahassee, Florida. The following six years.

“Eomma kau membuatku  terharu sekarang,” kata gadis lima tahun dengan mata Almond dan rambut digelung di belakang antusias. Yoonji hanya tersenyum. “Kenapa?” tanyanya pada gadis yang sedang duduk di kursi piano itu. “Cerita kalian terlalu romantis,” jawabnya.

Hari mulai gelap di luar sana dan dua orang ini malah asyik berbagi cerita. Yoonji menyampaikan cerita masa mudanya sambil menemani anaknya berlatih piano untuk ujian kenaikan tingkatnya besok.

Gadis itu memandang partitur dihadapannya. “Kisah romantismu membuatku semangat belajar lagu ini. Sama sama romantis,” katanya kekanakan dan Yoonji mengelus rambutnya yang halus. “Lee Yoonhee, tanpa kuceritakan ini juga kau harus tetap menguasai lagunya. Kau test kenaikan tingkat besok,” nasihatnya.

Anak ini benar benar persis Yoonji. Lee Yoonhee. Dengan kebiasaan berceloteh dan minat berlebihan pada piano. Matanya juga sama dengan mata Yoonji. Seperti Kyuhyun, Hara, dan Ayah mereka juga. Sepertinya mata Almond keluarga Cho akan terus diwariskan turun temurun. Tetapi ekspresi dan hidungnya mirip sekali Sungmin.

Ia berlanjut menekan nekan tuts piano itu dengan asal. “Dan Appa? Apakah ia benar benar setampan itu dulu?” tanyanya sambil menatap foto pernikahan Yoonji dan Sungmin yang terpajang besar besar di ruangan itu. Yoonji mengangguk bangga. “Kira kira begitu,” katanya.

Yoonhee hanya mengangguk. Ia memusatkan perhatiannya pada partitur di hadapannya. Tangannya menari nari lincah diatas tuts dan Yoonji menatapnya bangga. Setiap nada dimainkan dengan tepat. Ekspresi yang tepat, dan tanda baca yang tidak pernah terlewatkan.

Kalau menyangkut ini putrinya itu memang selalu bisa diandalkan.

Gadis kecil itu menyelesaikan permainannya dengan senyum puas mengembang di wajahnya. Yoonji hanya mengecup pipinya senang. “Kau memang jenius seperti Nodame,” ujarnya sambil teringat cerita ketika Sungmin pertama kali menjulukinya Nodame.

Yoonhee hanya mengedipkan matanya jail mendengar pujian Eomma-nya. Tiba tiba Yoonji teringat sesuatu. “Dimana kembaranmu?” tanyanya dan Yoonhee hanya mengangkat bahunya.

“Sunghee? Tadi Appa mengajarinya bermain git—“

“Aish!”

“—tar,”

Yoonji benar benar mengenal suara itu. Ia bergegas berdiri dan berlari cepat kearah Sumber suara diikuti oleh Yoonhee.

Ia menemukan seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua dan wajah hampir identik dengan Yoonhee sedang memegang jarinya yang mengeluarkan darah.

Luka itu tidak terlalu besar tetapi tetap saja hati Yoonji mencelos melihat darah merah gelap menetesi lantai dari tangan putri kembarnya itu. Ia segera menghampiri Sunghee dengan ekspresi cemas tergambar jelas di wajahnya.

“Lee Sunghee!” katanya meraih tangan anaknya dan mencobanya mengelap dengan tissue yang dengan cepat diraihnya dari meja tepat disebelah mereka. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya kuatir.

Mata Yoonji menatap katana antik yang dipajang Sungmin sebagai penghargaan dedikasi dari FBI. Dalam waktu beberapa detik Yoonji langsung mengerti sumber dari luka di jari manis putrinya.

“M…mianhae Eomma aku—“

Yoonji hanya memeluk putrinya lembut. “Jangan lakukan lagi, oke? Eomma khawatir,” katanya dan dapat dirasakannya Sunghee mengangguk di bahunya.

Terdengar derap kaki Sungmin menuruni tangga dan pria itu memandang mereka bertiga bingung. Ketika melihat bercak darah yang tercecer di lantai Sungmin langsung mengerti duduk permasalahannya.

Ia berjalan kearah Sunghee dan berlutut di depan gadis kecil itu dan melihat ujung jarinya. “Sudah, tidak apa apa Yoon,” katanya pada Yoonji yang kelewat cemas. “Ia mewarisi darah Appa-nya,” lanjut Sungmin lagi dan menyesap luka di ujung jari Sunghee.

Dalam beberapa detik lukanya bersih dan darahnya berhenti. Ia mengacak rambut putrinya dan memandangnya sayang. “Kau boleh jadi jagoan kalau di depan Appa. Tapi jangan buat cemas Eomma-mu, oke?” nasihatnya dan Sunghee mengangguk lemah. “Arasseo. Mianhae Eomma,” katanya lemas.

Sungmin memeluknya sayang. “Sudah, jangan merasa bersalah. Besok Appa antarkan kau les karate, bagaimana? Kau benar benar ingin bergabung kan?” tanyanya dan mata Sunghee langsung berbinar.

“Benar? Aku bisa les Karate? Gomawo Appa!” katanya bersemangat dan mencium kening Appanya. Ia menggendong putrinya itu dengan ringan. “Ayo tidur. Sudah malam,” katanya. Yoonji mengikuti jejak Suaminya dengan mengangkat Yoonhee di gendongannya.

Mereka bersama sama menaiki tangga dan memasuki kamar dengan papan warna warni hasil corat coret balita di depan pintunya. ‘Lee Twin’s Private Room’

Yoonji menurunkan Yoonhee dan melepas gelungan rambutnya sementara Sungmin dengan telaten menguraikan kepangan di rambut anak tomboynya itu. Setelah menyisir mereka berdua dan menggantikan baju tidurnya, Sungmin dan Yoonji membaringkan kedua putrinya diatas kasur.

Sungmin dan Yoonji berbaring di masing masing ujung ranjang dan kedua putrinya di tengah tengah. Waktu waktu menjelang tidur seperti ini adalah yang paling digemari oleh mereka berempat. Mereka bersama sama tanpa jarak disini, dan bisa mengatakan apa saja.

“Appa… aku sudah bisa membuat Macaroons,” celetuk Yoonhee tiba tiba dan Sungmin terkekeh. Sepertinya ini pernah terjadi beberapa tahun lalu. “Oh ya? Siapa yang mengajarimu?” tanya Sungmin menahan senyumnya.

“Ahjussi tampan yang kemarin berlibur kesini,” jawab Yoonhee.

Sunghee mendesis. “memang Macaroonsmu enak? Pasti tidak akan sekeren revolver mainan yang kurancang bersama Appa,” katanya.

Yoonhee mengerucutkan bibirnya. “tapi Ahjussi tampan bilang aku jago,” katanya dan Sunghee terkekeh. “Donghae ahjussi mengatakan itu karena kau keponakannya,” komentarnya.

Sungmin dan Yoonji berpandangan geli. Perang mulut kecil ini memang sudah lazim terjadi di antara putrid mereka. Sifat yang bertabrakanlah penyebabnya. Tetapi pertengkaran ini selalu berakhir manis.

“Tetapi apapun rasa Macaroonsmu, aku pasti suka,” komentar Sunghee lagi.  Membuat Yoonhee menyodorkan tedy bear mininya. “Kau boleh pinjam malam ini,” katanya dan Sunghee menerimanya dengan senang hati.

Benar kan? selalu berakhir manis.

“Sudah tidur,” Yoonji mengelus rambut kedua putrinya dan Sungmin mengecup kening mereka satu persatu. Ia dan Yoonji berjalan kearah pintu dan mematikan lampu kamar lalu menghidupkan lampu tidur mereka.

“Appa tidak mau mendengar pertengkaran, oke?” katanya dan putri kembarnya mengangguk seretak dengan menggemaskan. “Arasseo,” jawabnya lagi.

Yoonji dan Sungmin tersenyum sesaat sebelum menutup pintu kamarnya. Mereka berdua memasuki kamar mereka yang terletak tepat disebelah kamar putri mereka. “Kau juga perlu tidur, ayo,” kata Sungmin berbaring di kasur dan mengulurkan tangannya.

Tanpa banyak protes Yoonji naik ke kasur dan menelusup ke dalam pelukan suaminya itu.

“Kau capek?” tanya Sungmin memainkan poni Yoonji lembut. Mereka masih seperti ini. Kedekatan itu tidak pudar walaupun dalam waktu enam tahun. Kemesraan itu masih sama.

Yoonji menggeleng. “Tidak. Aku hanya mengajar dua orang murid pianoku, dan melatih Yoonhee semalaman,” katanya. “Kau? Bukankah tadi ada rapat dengan senator?”

Sungmin mengangguk. “Sedikit tidak mulus tadi. Simple saja. beda pendapat,” katanya. Yoonji memijat lengan Suaminya lembut. “Masalah kecil itu sudah biasa. Ingat, kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan,” kata Yoonji.

“Maksudmu? Aku belum mendapatkan semuanya,” kata Sungmin aegyo. Yoonji hanya terkekeh. “Kita sudah menikah. Memiliki rumah besar. Jabatanmu tinggi. Mobil mewah. Anak kembar yang benar benar persis kita berdua. Apa yang belum kau dapatkan?” tanya gadis itu.

Sungmin menaikkan tubuhunya sedikit, menatap dalam ke mata Yoonji. Yoonji bisa merasakan poni Sungmin terjatuh lemas ke keningnya dan nafas pria itu menghembus matanya. Dengan satu gerakan pelan Sungmin mempertemukan bibir mereka. Lembut tapi lama dan Yoonji membalas kecupan itu.

Sungmin terbaring lagi dan memeluk perut Yoonji lembut. “Aku…” katanya menggantungkan kalimatnya.

“…ingin anak laki laki,”

25 thoughts on “[RATW Sungji After Story] On the Edge of Happiness”

  1. nahhhhhhhh.. xD

    dapet ponakann..
    kembar lagi.
    yeyeyeee.. xD *joget sama Kyu*
    asikkklahhh.. tinggal nunggu ponakan dari Hae sm Hara..
    kekeke..
    ah afstornya manis manis semua deh.. ;D

      1. kyaaa..
        maunya Hae sm Hara anaknya kembar cowokk..
        ifaaaa.. bikinin dong.. xD #eh
        hihihi.. cheonma..😀

  2. akhirnya sungmin ama yoonji nikah,, udh punya anak lagi..
    kapan nieh hara ama donghae nikah ??
    wkwkwk😄

    oia chingu,, ak mau baca RATW part 10 – 15,, tapi gag tw minta pw nya sama siapa..
    gimana cara minta pw nya chingu ??

  3. Kyaaaaaaaaaaaa
    *heboh*
    Pengen anak laki2
    Bagus banget!!
    ‎​;)hє^_^hє;) ..;)hє^_^hє;) ..
    Kyu ama Nana apa kabar nih?
    Married ga ya?
    Hehe
    Well done Tika
    Afstor nya oke

  4. author ~ ! buaaat sekuel anak yg co yaaa jebaaaalll ~~ author baek deh gyahahahahaha :p bgs bgt after storynya ~ aku lbh suka crta tntng sungji drpd haera … mngkn krn udh kpncut ama yoonji ya? tp semua bgs kok ~ aplg sungminnya itw gyahahahaha fighting thor – di tunggu after story bwt anak yg co :p

  5. GYAAAAA~~
    GYAAAAA~~
    Omo, Omo,,

    So sweet bangettttt xD xD Sungmin disini romantis banget eon😀

    Sungmin-Yoonji punya anak kembar😄 Gyaaaa~~~
    Tika eonni D.A.E.B.A.K !!!! Aku suka bangetttt >///<

    Fighting !!!!

    Aku suuuuuka :* :*

  6. omooo,,,omooooo…
    daebaaak,,,
    kembar,,,,, sifat yg bertolakbelakang tapi saling sayang,,,,,,
    kereeeen chingu,,,,, (^____^)

  7. MANIIS BANGET!!
    Aku lngsung ngbayangin kyk lg nnton film…
    Haru bahagiaaa..
    Wuaah itu lucu ank kmbar nya!! Sifat keras kepala keluarga cho nurun ga ya?? Padahal lngsung kmbar 3 ajj, sm ank co sekalian :p
    suka suka sukaaaa
    nice story

  8. Woa.. Dari awal sampe akhir semuanya so sweet.. Tpi bagian yoonji mengenang eomma-nya m’harukan..
    Punya anak kembar bgtu pasti seru bgt dch.. Tpi bner kata sungmin.. Aku jg msih menunggu sungmin junior.. Hehe..

  9. Kyaaaaaaaa~!! So weet bgt eon!!! X3
    Ga tau deh mau ngmg apalagi.. *speechless*

    Buat cerita mereka lagi dong eon~~~ seneng bgt ama cerita mereka berdua ini :3

  10. wwwaaaahhh…
    akhir’a nikah sungmin sama yoonji nikah juga…
    udah gitu anak’a kembar pula….
    wah.. wah…
    keluarga kecil yang manis…

    terus.. terus..
    donghae sama hera gimana kabr’a..???
    anak’a kembar juga dong onniee..
    klo bisa cwo…

    hahh..
    raeder yang banyak permintaan nee… -_-

  11. Huaaaaa sweet.. Sweeett bangeeettt !!!
    Suka deh sama pertengkaran kecil lee twins !
    Bener,apapun pertengkarannya pasti selalu manis ˆ⌣ˆ

    Ayooo ayoooo bikin lg anak laki-lakinya :p

    Buat Nana-Kyu juga dong chingu ;p

  12. Kya~~ sumpah ini harus ada season 2! *macem cinta fitri*
    Tp beneran author2, ini terlalu keren untuk berhenti sampe disini aja..
    Walaupun blm baca yg di protect, tp udah baca semua yg gak diprotect qo..
    Akhirnya SungJi punya anak kembar.. Lucu bgt ihhh.. Yg 1 umin bgt yg 1 yoonji bgt.. Gemessssyyyy hehehe
    Donghae-hara kpn nikah?
    Trs crita kyu-nana gmn tuh? Gak ada lanjutan?
    Ngebayangin lee twins itu gedenya jd agent juga.. Sm anaknya donghae-hara.. Ahhhh seruuuu😀

  13. waw ada after story nya sungji couple.. Finally Sungmin oppa n Yoonji menikah..cute banget sungji couple punya dua anak kembar perempuan yg sifatnya mewarisi masing2 sifat mereka.. selalu bagus ceritanya… kapan ya donghae hara and kyu nana menikah.. kalau ada cerita selanjutnya pasti seru juga.. sukses selalu author.. Great.. Thanks

  14. kyaaaa…
    so sweet bangeed eonnie . .
    DAEBAK . .😀

    aquwh sukaa sekalii :))

    mingppa bener2 romantis….
    eh,,masih ada lanjutan critanya yya eon??
    *kan katanya pengend ank laki2*

    heheheee😀

  15. 😥😥

    aku dah kirim email untuk minta password,tapi sampe sekarang blm dapet juga😦
    padahal aku suka buangeeeeedddd sama karya kamu ini,,,pliss bagi passwordnya dong .

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s