[REMAKE] Which One – 1

Title                : [REMAKE] Which One 1

Author            : hgks11

Cast                :

–       Cha Sunwoo – Baro B1A4

–       Kim Kihyo (OC)

–       Gong Chansik – Gongchan B1A4

Cameo            :

–       B1A4’s members

–       Park Hanna (OC)

Genre             : AU, Romance

Rate                : PG – 13

Length            : Series

A.N. : Annyeonghaseyo!! Ini postingan pertama aku di My Room!! ^o^ FF ini adalah FF remake dari FF Which One yg udah pernah aku post di B1A4FF

Jadi, maaf untuk alur yg terlalu cepat~ bnyk typo juga.. mianhae *bow*

Hope you enjoy it!😉

Warning! Saya tidak menuliskan keterangan pov siapa di sini.. lagi males nulisnya, soalnya sering banget ganti-ganti pov di sini.. *mianhae* *bow*

-oOo-

Suara teriakan histeris para yeoja terdengar begitu memekakkan telinga. Di sana, di tengah lapangan terlihat 5 orang namja most popular di Kwanghee High School sedang berlatih basket. Bangku penonton dipenuhi oleh yeoja-yeoja yang ingin menonton aksi dari 5 namja most popular di Kwanghee School.

“Kyaaaa~~!! Jinyoung-Shinwoo-Sandeul-Baro-Gongchan! Kyaaaa~~!!” begitulah kira-kira teriakan yeoja-yeoja itu. Di antara kerumunan yeoja yang tengah menonton dan berteriak itu, terlihat seorang yeoja gusar. Ia menghela nafasnya berat. Di pangkuannya terdapat novel yang tengah di bacanya. ‘Ya! Kenapa mereka berisik sekali sih?! Kalau bukan karena Hanna yang mengajakku—lebih tepatnya memaksaku—untuk menemaninya melihat latihan basket ini, tidak akan aku pergi ke sini!’ umpatnya dalam hati. Ia pun melanjutkan membaca novelnya. Ia mencoba fokus pada novel yang tengah dibacanya. Lembaran demi lembaran novel itu terbuka. Ia tampak menikmati membaca novelnya tersebut meskipun dengan keadaan yang—you know lah seperti apa. Tiba-tiba ada seorang yeoja yang menyenggolnya, dan membuat novelnya jatuh.

“Ya! Neo!” umpatnya. Ia mengambil novelnya yang terjatuh, dan menatap tajam ke arah yeoja yang menyenggolnya tadi.

“Ya! Tidak bisakah kau tenang sedikit, huh?” ujarnya sinis. Yeoja yang menyenggolnya tadi hanya bisa terdiam mendengar ucapannya—terlalu takut untuk melawan.

“Aish, sudahlah Kihyo-ah. Jangan buat keributan” ujar seorang yeoja di sebelahnya, berusaha menenangkan Kihyo—yeoja yang novelnya terjatuh.

“Tapi Hanna-ya, dia sudah mengganggu konsentrasiku!” ujar Kihyo pada yeoja di sebelahnya—Hanna.

“Geurae. Geundae, kau tidak lihat wajahnya? Ia sangat ketakutan. Sudahlah, just forgive her” bujuk Hanna pada Kihyo. Kihyo mendengus mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Arasseo. Neo, jangan ulangi lagi!” ujarku memperingatkan.

“N-ne.. Jeosonghabnida” ujarnya membungkukkan badannya. Kihyo mengangguk dan beranjak untuk duduk lagi, namun tiba-tiba

BUGH!!

Sebuah bola basket mendarat dengan mulus di kepalanya.

“Aigoo!” pekik seorang namja dari tengah lapangan. Ia segera berlari ke arah Kihyo, saat menyadari bola basket yang tadinya berada di tangannya, sudah mendarat dengan mulus di kepala Kihyo. Ia menghampiri Kihyo dengan tergesa-gesa.

“Ya! Neo! Lihat apa yang terjadi pada chingu sekarang!” hardik Hanna, saat namja itu menghampiri Kihyo.

“Choiseonghabnida.. aku akan membawanya ke uks” ujar namja itu, menggendong Kihyo dan membawanya ke uks. Ia tergesa-gesa berlari ke uks, dengan Hanna yang mengekor di belakangnya.

“Uisa! Tolong chinguku!” ujar Hanna panik, saat mereka sudah sampai di uks. Namja itu menurunkan Kihyo di salah satu ranjang uks. Jung uisa—yang kebetulan sedang menjaga uks—segera menghampiri Kihyo yang tidak sadarkan diri, dan memeriksa keadaannya. Hanna menatap cemas ke arah chingunya itu—Kihyo. Tiba-tiba ia merasakan ada yang bergetar di sakunya. Segera diraihnya handphone yang berada di dalam sakunya itu. Wajahnya pucat setelah menerima panggilan di handphonenya. Ia menatap ke arah namja yang merupakan biang dari ini semua dengan death glarenya.

“Ya! Neo! Jangan tinggalkan chinguku sampai ia sadar! Aku ada urusan. Neo, harus bertanggung jawab!” ujarnya—lebih tepat disebut dengan memaksa. Namja itu hanya menganggukkan kepalanya lemah, sebelum Hanna melangkahkan kakinya keluar dari ruang uks.

“Otte uisa-nim?” tanya namja itu pada Jung uisa.

“Gwenchana Gongchan-ssi. Ia hanya pingsan dan sedikit shock saja. Mungkin tidak lama lagi ia akan sadar” ujar Jung uisa tersenyum tipis pada namja di depannya—Gongchan.

“Ne, kamsahamnida uisa-nim” ujar Gongchan sedikit menundukkan kepalanya.

“Haha, ne. cheonma” ujar Jung uisa tersenyum, lalu kembali ke mejanya. Gongchan—namja yang merupakan biang masalah ini—menatap cemas ke arah Kihyo—yeoja yang menjadi korbannya. ‘Semoga ia tidak apa-apa’ batin Gongchan.

-oOo-

“Eeeeenngh” aku mengerang kecil, saat membuka mataku. Putih. Itu adalah kata yang tepat, di mana aku berada sekarang. ‘Ah, ini kan di uks’ batinku, menyadari di mana aku sekarang. Aku merasakan tanganku sedikit berat dan pegal.

‘Aigo! Siapa namja ini?’ batinku, melihat seorang namja tertidur di atas tanganku.

“Ya, ireonaaaa~” ujarku mengguncang-guncangkan badannya. Ia terlihat mengerang kecil, lalu mengusap kedua matanya. ‘Kyeopta!’ batinku.

“Kau sudah sadar?” tanyanya. Aku hanya mengangguk, mengiyakan jawabannya.

“Syukurlah.. Gwenchana?” tanyanya (lagi).

“Eo” jawabku. Ia tampak menghela nafas lega. Kini wajahnya tampak sedikit lebih ceria dibandingkan sebelumnya.

“Nugu?” pertanyaan itu meluncur begitu saja saat aku sedang memperhatikannya.

“Dangsineun nal moleunayo *kau tidak tahu aku*?” ujarnya. Aku menggelengkan kepalaku. Memangnya dia siapa? Sampai mengira bahwa aku mengenalnya?

“Chouneun Gong Chansik imnida. Tapi kau bisa memanggilku Gongchan.” Ujarnya mengenalkan dirinya. Aku mengangguk mendengar perkataannya. ‘Ternyata namanya Gongchan.. Kyeowo’ batinku.

“Kenapa kau ada di sini?” tanyaku—baru menyadari apa alasannya ada di sini.

“Ah, aku hamper saja lupa!” pekiknya menepuk pelan keningnya.

“Choisonghabnida! Choisonghabnida! Tadi aku yang melempar bola basket ke arahmu! Mianhamnida! Aku benar-benar tidak sengaja” ujarnya membungkukkan badannya berkali-kali. Aku mengingat-ingat kejadian sebelumnya. ‘Ah! Ternyata dia yang melempar bola basket ke arahku tadi ya?’ batinku.

“Jeosonghabnida! Sekali lagi jeosonghabnida! Jeongmal!” ujar masih membungkukkan badannya dalam-dalam.

JDUG!

“Aigoo! Gwenchana?” pekikku refleks, melihat kepalanya yang baru saja terkena pinggiran kasur uks yang menopang badanku.

“Gwenchana” ujarnya mengusap-usap keningnya, dan meringis kecil.

“Haha, lain kali hati-hati!” ujarku setengah tertawa melihat tingkahnya.

“Ne” ujarnya tersenyum tipis.

-oOo-

“Ne” ujarku tersenyum tipis—masih mengusap kepalaku yang tidak terlalu sakit. ‘Yeppeo’ batinku.

“Apakah aku sudah dimaafkan Agassi?” tanyaku, setelah tawa sedikit mereda.

“Ne, gwenchana. Mianhae, aku malah tertawa” ujarnya masih setengah tertawa

“Haha, gwenchana. Aku memang agak ceroboh” ujarku menggaruk kepala bagian belakangku—yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

“Chogiyo, aku rasa aku harus kembali ke kelas sekarang. Kamsahamnida sudah membawaku ke uks. Annyeong!” ujarnya tersenyum, lalu beranjak keluar darin uks, meninggalkanku. Aku seperti terhipnotis melihat senyumannya yang sangat manis, hingga aku hanya mengangguk saat ia beranjak pergi dari uks.

“Aigoo! Kenapa aku tidak menanyakan siapa namanya tadi?” pekikku menyesal. ‘Semoga nanti kita bertemu lagi’ harapku dalam hati.

-oOo-

Aku menundukkan kepalaku sambil berjalan. Otakku masih dipenuhi dengan namja bernama Gongchan tadi. Aku baru menyadari, ia telihat familiar sekali. Aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi di mana? Kapan? Huh, molla.

BUGH!

“Aw!” pekikku saat aku terjatuh ke lantai. Aigoo, kenapa aku bisa sampai menabrak orang ini sih?

“Gwenchana?” tanya orang yang kutabrak. Aku mendongakkan kepalaku, dan melihat namja berwajah imut di hadapanku, sedang mengulurkan tangannya padaku.

“Agassi?” ujarnya melambaikan tangannya di wajahku, membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne. Gwenchana” ujarku tersadar. Aku menerima uluran tangannya, dan akupun beranjak berdiri.

“Mianhae, tadi aku sedang tidak memperhatikan jalan” ujarku meminta maaf.

“Buahahahaha” tiba-tiba ia tertawa terpingkal-pingkal. Aku menatapnya heran. ‘Apakah namja ini gila? Saying sekali, padahal ia sangat imut’ batinku.

“Ya! Kenapa kau tertawa seperti itu?!” ujarku bergidik melihat tingkahnya. Ia berusaha menahan tawanya yang masih belum kunjung berhenti juga.

“Haha, jeosonghabnida.. Aku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresimu tadi, sungguh lucu” ujarnya berusaha menahan tawanya. Aku menggembungkan pipiku, sebagai tanda protes.

“Yayaya, mianhae.. aku tidak akan tertawa lagi” ujarnya tersenyum.

DEG!

‘Aigoo~ tampan sekali’ pekikku dalam hati, saat melihat senyumannya yang sangat mempesona itu.

“Eo” ujarku acuh, menutupi wajahku yang sepertinya mulai memerah.

“Cha Sunwoo imnida, tapi kau bisa memanggilku Baro” ujarnya mengulurkan tangan untuk berkenalan.

“Kim Kihyo imnida” ujarku menerima uluran tangannya.

“Kihyo-ah, sepertinya aku sudah harus kembali ke lapangan sekarang. Annyeong!” ujarnya tersenyum, lalu beranjak pergi.

“A-an.. nyeong!” ujarku tergagap. Lagi-lagi senyumannya membuatku terpesona, dan jantungku terasa seakan berhenti berdetak. What happened with me?

-oOo-

Aku melangkahkan kakiku ke lapangan basket dengan cepat. ‘Aish! Pasti Jinyoung akan mengomel saat aku tiba’ batinku.

“Hosh.. Hosh..” nafasku terengah-engah saat sampai di lapangan basket.

“Ya! Baro! Kenapa kau baru dating hah?!” hardik Jinyoung padaku.

“Hehe” aku hanya cengengesan. Ia menggelengkan kepalanya, dan berdecak kesal.

“Udah sana, cepet latihan lagi!” serunya lengkap dengan tatapan tajamnya.

“Ne” ujarku segera bergabung dengan yang lainnya.

-oOo-

“Yak! Sekarang kita istirahat dulu” ujar Jinyoung menyudahi latihan mereka. Ia menyodorkan botol mineral pada chingu-chingunya.

“Shinwoo, Deullie, Baro, Chan-ah, ada sesuatu yang harus kukatakan pada kalian” ujarnya tiba-tiba. Mereka—Shinwoo, Sandeul, Baro dan Gongchan—melemparkan tatapan bertanya pada Jinyoung.

“Mwoya?” tanya Shinwoo, angkat bicara.

“Semalam.. Aku tak sengaja mendengar pembicaraan orang tua kita di rumahku” ucapnya, mulai bercerita.

“Terus?” tanya Gongchan yang sudah tidak sabar.

“Intinya.. Mereka akan menjodohkan kita” ujar Jinyoung, yang mampu membuat ke-empat chingunya hampir mengeluarkan bola mata mereka karena kaget.

“Jinca? Geotjimal~” elak Sandeul, yang sukses mendapatkan jitakan dari Jinyoung.

“Ya! Aku sedang tidak bercanda! Ini serius!” ujar Jinyoung kesal. Sandeul masih mengusap kepalanya yang dijitak Jinyoung.

“Appo” ujarnya pada Jinyoung.

“Salah sendiri” ujar Jinyoung dingin. Sandeul hanya bisa menggembungkan pipinya mendengar jawaban chingunya itu.

“Lalu? Siapa yang akan dijodohkan dengan kita?” tanya Baro datar.

“Mollanda. Tapi yang pasti, mala mini kita akan dijodohkan” ujar Jinyoung lesu.

“Jinca?!” tanya Sandeul—lagi lagi—tidak percaya. Jinyoung melemparkan death glare miliknya ke arah Sandeul.

“N-ne.. a-aku percaya k-kok” ujar Sandeul gelapan. Jika dalam kondisi normal, pasti Shinwoo, Baro, dan Gongchan sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jinyoung dan Sandeul. Tapi masalahnya ini bukan saatnya untuk tertawa, mengingat nasib mereka yang akan ditentukan nanti malam.

“Lalu apa yang bisa kita perbuat?” ujar Gongchan—akhirnya.

“Molla.. kita tidak mungkin melawan orang tua kita bukan?” ujar Jinyoung, yang diikuti anggukan dari ke-empat chingunya.

“Huwaaa~ untung saja aku tidak punya yeojachingu. Jika aku punya yeojachingu, pasti aku akan menolak mentah-mentah perjodohan ini. Dan pasti akan mengecewakan kedua orang tuaku” ujar Shinwoo tiba-tiba. Perkataan Shinwoo tadi, membuat ke-empat chingunya menatap ke arahnya.

“Wae?” tanya Shinwoo bingung.

“Benar juga apa kata Shinwoo. Kita bisa menolak perjodohan ini” ujar Gongchan berharap.

“Tapi, kau tega mengecewakan kedua orang tuamu?” ujar Baro, yang mampu meruntuhkan secercah harapan Gongchan.

“Anieyo..” ujar Gongchan lesu.

“Yasudahlah.. Kita hanya bisa berdoa” ujar Jinyoung bijak, yg diikuti anggukan ke-empat chingunya itu.

-oOo-

“MWOYA?! Aku dijodohkan?” seruku tidak percaya, dengan apa yang appaku katakan.

“Ne, kau akan dijodohkan. Kau akan bertemu dengan calon suamimu malam ini”

“Mwo? Appa, aku masih kelas 12 appa~ aku ini masih sekolah.. umurku bahkan baru 19 tahun *umur Indo 18*  appa!” ujarku, masih berusaha menolak permintaan appa.

“Untuk sekolah atau yang lainnya dapat diatur. Kau tak mau membahagiakan appa dan eommamu ini?” ujar eomma yang kini ikut bicara juga.

“Ayolah~ demi appa dan eomma” bujuk eomma padaku. Apakah aku setega itu menolak permintaan appa dan eomma? Bahkan selama ini, mereka selalu menuruti kemauanku. Tegakah aku?

“Arasseo” ujarku akhirnya. Dapat kulihat perubahan raut wajah appa dan eommaku.

“Gomawo Kihyo-ah” ujar appa tersenyum padaku. Senyum yang selalu membuatku tenang dan yakin pada diriku sendiri.

“Gomawo Kihyooo” ujar eomma memelukku hangat. ‘Setidaknya, aku bisa sedikit membahagiakan mereka’ batinku.

“Ne, cheonma” ujarku melepas pelukan eomma.

“Kalau begitu, bersiap-siaplah untuk nanti malam” ujar appa. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

-oOo-

“Mwo? Apa aku tak salah dengar?” tanya Hanna. Aku menggelengkan kepalaku menanggapi pertanyaannya. Dapat kudengar ia menghela nafas. Kini kami sedang berada di salon. Yah, bagaimanapun aku harus bersiap untuk acara nanti malam.

“Pasti aku juga akan dijodohkan sepertimu” ujarnya lesu. Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya.

“Ya! Jangan lesu seperti itu! Kita kan harus berbakti pada orang tua kita. Memang ini sudah menjadi resiko dari anak seorang businessman. Aku yakin, pasti yang dipilihkan untuk kita adalah yang terbaik” tuturku.

“Aku salut padamu, Kihyo-ah. Aku beruntung memiliki chingu sepertimu” ujar Hanna tersenyum.

“Gomawo” ujarku tersenyum padanya.

“Setelah ini kita akan ke mana?” tanya Hanna

“Aku harus mencari dress yang akan kukenakan nanti malam. Aku rasa dress di lemari bajuku tidak ada yang cocok untuk acara nanti malam” tuturku.

“Arasseo. Sebaiknya kita ke butik Mrs. Han saja” ujar Hanna menganggukan kepalanya.

“Ne” ujarku.

-oOo-

Tampak seorang yeoja muda berparas cantik menuruni sebuah mobil hitam berkelas. Tak lama kemudian seorang namja dan yeoja setengah baya keluar dari mobil yang sama.

“Kajja Kihyo-ah, pasti mereka semua sudah menunggu kita” ujar Tuan Kim—namja setengah baya tadi—yang diikuti oleh anggukan Kihyo.

Kihyo melangkah dengan was-was. Siapa yang akan menjadi calon suaminya? Seperti apa rupa calon suaminya? Berbagai spekulasi mengenai calon suaminya terus memenuhi otaknya. Sampai tak terasa, kini ia dan appa juga eommanya sudah sampai di sebuah ruangan yang sangat besar. Terlihat ada beberapa ahjussi dan ahjumma, juga namja mengelilingi meja yang sangat lebar itu.

“Annyeonghaseyo” ujar appa Kihyo menyapa semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

“Annyeonghaseyo” ujar mereka membalas sapaan appa Kihyo.

“Ayo, duduk Mr. Kim!” ujar salah satu ahjussi—Tuan Jung. Appa Kihyo mengangguk lalu tersenyum pada mereka semua. Kihyo memilih untuk duduk di antara appa dan eommanya. Ia menundukkan kepalanya semenjak memasuki ruangan tersebut. Ia belum siap melihat wajah calon suaminya.

“Inikah putrimu Mr. Kim? Aigoo~ neomu yeppeo” ujar Tuan Shin, memuji Kihyo. Kihyo mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum ramah ke arah Tuan Shin.

“Gomawo” ujar Kihyo. Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat orang-orang di sekitarnya.

DEG!

‘Jangan bilang.. Aku akan dijodohkan dengan 5 namja most popular di sekolahku’ batin Kihyo, saat melihat 5 namja yang merupakan most popular di sekolahnya, kini berada satu ruangan dengannya.

“Ehm, lebih baik sepertinya kita meninggalkan anak-anak kita untuk saling mengenal terlebih dahulu. Mari, kita ke ruangan sebelah saja” ujar Tuan Lee, memberikan instruksi pada ahjussi dan ahjumma yang lainnya. Kihyo menatap appanya dengan tatapan jangan—tinggalkan—aku—di sini—appa. Namun appanya hanya tersenyum, dan menyakinkan Kihyo bahwa semuanya akan baik-baik saja, melalui tatapannya.

-oOo-

“Kihyo?” ujarku menyakinkan diriku, apakah yeoja yang kini berada satu ruangan denganku adalah Kim Kihyo, yang kutemui di sekolah pagi tadi.

“Ne?” ujarnya. ‘Ah, ternyata ini benar dia’ batinku.

“Kalian sudah saling mengenal?” selidik Jinyoung. Aku dan Kihyo mengangguk, mengiyakan ucapan Jinyoung.

“Ne, baru tadi pagi di sekolah” ujar Kihyo menjelaskan.

“Jadi namamu Kim Kihyo?” tanya Gongchan tiba-tiba.

“Ne, annyeong Gongchan-ssi” ujarnya tersenyum. ‘Jadi ia juga mengenal Gongchan?’ batinku.

“Kalian juga sudah saling mengenal?” tanya Sandeul tak percaya. ‘Aigoo~ kenapa ia mempunyai sifat seperti ini sih? Dia ini suka sekali menanyakan hal-hal yang sudah pasti benar’ omelku dalam hati.

“Ne. Dia yeoja yang terkena bola basketku tadi pagi” tutur Gongchan. Aku hanya berohria mendengar perkataan Gongchan.

“Aigoo~ jadi dia yang terkena bola basket tadi pagi ya?” tanya Sandeul—lagi. PLETAK! Sebuah jitakan dari Shinwoo mendarat dengan mulus di kepalanya.

“Aigoo~ appeu! Kenapa kau menjitakku?” protes Sandeul, mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Makanya, jangan banyak bertanya Deullie!” ujar Shinwoo dengan wajah kesalnya. Sepertinya kupingnya panas mendengar Sandeul yang selalu bertanya.

“Hmm, Kihyo-ssi. Kau sudah mengenal kami bukan?” ujar Jinyoung dengan percaya dirinya.

“Ani” Kihyo menggelengkan kepalanya dengan wajah polosnya. Dapat kulihat wajah shock Jinyoung. Aku tertawa dalam hati, melihat ekspresinya. ‘Makanya, jangan terlalu percaya diri dulu!’ batinku.

“Sebaiknya kita berkenalan secara resmi dulu” ujar Shinwoo tiba-tiba. Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya.

“Jung Jinyoung imnida”

“Shin Dongwoo imnida. Tapi aku lebih senang jika kau memanggilku Shinwoo”

“Lee Junghwan imnida. Panggil aku Sandeul”

“You know me, rite?” ujarku malas memperkenalkan diri lagi.

“Gong Chansik imnida. Just call me Gongchan” ujar Gongchan tersenyum pada Kihyo. Ini perasaanku saja atau apa ya? Kenapa aku merasa, sepertinya Gongchan menyukai Kihyo? Matanya selalu berbinar-binar menatap Kihyo. Dan lagi, senyuman tak lepas dari wajahnya sejak melihat Kihyo tadi.

“Kim Kihyo imnida” ujar Kihyo tersenyum pada kami semua.

“Aku memanggilmu Kihyo-ah saja ya?” ujar Gongchan.

“Ne, gwenchana. Lagipula aku tidak suka dengan embel-embel ssi” ujar Kihyo.

“Arasseo. Kalau begitu, kau juga tak perlu memanggil kami semua dengan embel-embel ssi” ujar Jinyoung menanggapi ucapan Kihyo.

“Aigoo~ Kau tau Kihyo-ah? Aku merasa beruntung tidak menolak perjodohan ayahku. Ternyata yeoja yang akan dijodohkan dengan salah satu di antara kami adalah yeoja yang sangat cantik dan manis” celetuk Shinwoo, yang membuat wajah Kihyo memerah. ‘Aigoo~ manis sekali’ batinku melihat wajah Kihyo.

“Dasar buaya” celetukku pada Shinwoo. Dapat kulihat Shinwoo menatap tajam ke arahku. Aku balik menatapnya tajam. ‘Death glare mu tak akan berfungsi dengan baik padaku Shinwoo-ah’ batinku. Dapat kudengar suara tawa Kihyo dan ke-tiga chinguku memenuhi ruangan ini, karena melihat tingkahku dan Shinwoo.

“Yayaya. Geuman! Jangan bertingkah seperti anak kecil” ujar Jinyoung, memutuskan tatapan tajamku dengan Shinwoo.

“Kalian iniiiiii” ujar Sandeul menatapku dan Shinwoo gemas.

“Wae?” tanyaku datar. ‘Hah.. Kenapa moodku jadi jelek seperti ini sih?’ batinku. Sandeul yang menyadari perubahan moodku, berhenti mengajakku bercanda.

“Anieyo. Jja~ uri Shinwoo memang buaya kelas atas” ujarnya meledek Shinwoo.

“Ya! Deullie~ kenapa kau berkata seperti itu?!” ujar Shinwoo pura-pura marah, menyebabkan tawa memenuhi ruangan ini lagi.

Kreekk

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Mereka menghentikan tawa mereka, menyadari siapa yang datang. Aku membenarkan posisi dudukku, lalu tersenyum ramah pada Tuan Kim—appa Kihyo.

“Annyeong” ujarnya menyapa kami.

“Annyeong abeoji” ujar kami. Yah, jika kau bertanya mengapa kami memanggilnya abeoji, itu karena sebenarnya kami berlima sangat dekat dengan beliau. Beliau merupakan sahabat dari orang tua kami. Dan beliau, sering berkunjung ke rumah kami. Beliau juga seseorang yang friendly, selain itu beliau sudah menganggap kami sebagai anak beliau, begitu juga kami yang sudah menganggap beliau seperti appa kami.

“Ada yang ingin aku katakan pada kalian” ujar Kim abeoji—panggilan kami padanya—duduk di sebelah kursi Kihyo.

“Apa yang Kim abeoji ingin katakan?” tanyaku sopan. Beliau tersenyum padaku sebentar, lalu menatap ke arah kami semua satu-persatu.

“Seperti yang kalian ketahui, salah satu dari kalian akan menjadi calon suami anakku, Kim Kihyo” ujar Kim abeoji menatap ke arah Kihyo.

“Aku sudah menemukan calon suami yang pantas untuk anakku” lanjutnya.

“Nuguseyo?” tanya Gongchan penasaran.

“Cha Sunwoo” ujar Kim abeoji, yang sukses membuat bola mataku hampir keluar. Apa aku tidak salah dengar?

“Ne abeoji?” tanyaku ragu.

“Kau yang akan menjadi suami anakku” ujar beliau, memperjelas maksudnya saat menyebutkan namaku tadi. Dapat kurasakan, Gongchan menatap sinis padaku. Sedangkan chinguku yang lain, hanya memasang wajah biasa-biasa saja. Bahkan tersirat sedikit kebahagiaan di wajah mereka. Ntahlah, bahagia karena mereka tak jadi dijodohkan, atau bahagia karena aku yang terpilih. *author: perasaan sama aja deh-_-*

“Tolong jaga anakku. Antarkan ia pulang. Abeoji dan eommonim harus pulang duluan, ada keperluan mendadak. Annyeong” ujar Kim abeoji beranjak pergi meninggalkan kami.

“Chukkae! Uri Baro akan menikah dengan Kihyo!” ujar Sandeul bersorak senang.

“Chukkaeyo!!” ujar Shinwoo dan Jinyoung memberi selamat. Aku hanya memasang ekspresi datar di wajahku. Bukannya aku tidak senang, dijodohkan dengan yeoja secantik dan semanis Kihyo. Namun aku risih dengan tatapan Gongchan. Ia menatapku tidak suka. Hey, padahal seharusnya aku yang selalu menatap tidak suka padanya. Bukannya ia yang menatap tidak suka padaku.

“Gomawoyo..” ujar Kihyo tiba-tiba, tersenyum pada kami semua. Hah, lagi-lagi senyuman itu. Manis sekali.

“Kajja, kita makan! I’m so hungry~ did you all know?” ujar Kihyo lagi, lengkap dengan ekspresi memelasnya.

“Aigoo~ ternyata uri Kihyo sudah kelaparan sejak tadi. Kenapa kau tidak bilang?” ujar Jinyoung.

“Ne, seharusnya kau bilang. Chakkaman” ujar Shinwoo. Shinwoo menjentikkan jarinya, member isyarat pada pelayan, agar segera mengantarkan makanan ke meja mereka.

“Ah, aku pamit duluan ya? Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan” ujar Gongchan tiba-tiba, beranjak dari tempat duduknya. Aku menaikkan satu alisku, menatapnya. Dapat kulihat wajahnya sedikit memerah, seperti menahan amarah. Dan juga, tangannya terkepal kuat sekali.

“Gwenchana?” tanyaku datar. Ia melirikku dengan tajam sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.

“Naneun angwenchana” ujarnya.

“Yasudah, pulanglah. Hati-hati di jalan” nasihat Sandeul. Ia menganggukkan kepalanya, lalu pergi begitu saja dari ruangan ini. Kualihkan pandanganku pada yeoja yang kini duduk di depanku, Kim Kihyo. Ia sedikit meremas dress di bagian perutnya. ‘Apakah ia benar-benar kelaparan?’ batinku. Aku terus menatap ke arahnya, sampai tiba-tiba ia menyadari tatapanku, dan balik menatapku.

“Appo?” tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya, menggigit bibir bagian bawahnya menahan sakit.

“Shinwoo-a, apakah makanannya masih lama?” tanyaku pada Shinwoo.

“Sepertinya iya” ujarnya dengan raut penyesalan. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu meraih tangan Kihyo. Membuatnya juga ikut berdiri.

“Kami pergi duluan. Annyeong” ujarku membawa Kihyo keluar dari ruangan ini. Aku menggandeng tangannya, agar ia mengikuti langkahku. ‘Aigoo, tangannya mungil sekali. Juga hangat’ batinku, saat menggenggam tangannya yang mungil itu.

“Kita mau kemana? Aku lapar” ujarnya. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, melihat ke arahnya.

“Tentu saja mencari makan, pabo! Aku juga lapar. Tapi jika kita makan di sini, pasti makanannya akan lama sekali untuk siap disajikan” ujarku.

“Ya, kenapa kau memanggilku pabo?” protesnya padaku. Aku tak menghiraukan ucapannya, dan mempercepat langkahku. ‘Aku juga lapar’ batinku, merasakan perutku yang kosong.

-oOo-

Baro menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai jajangmyeon kecil. Aku mengernyitkan dahiku. ‘Bagaimana ia bisa tahu tempat seperti ini? Kukira ia tidak tahu tempat semacam ini’ batinku.

“Kajja” ujarnya beranjak keluar dari mobil. Akupun beranjak keluar dari mobilnya, dan mengikuti Baro dari belakang, ke arah kedai jajangmyeon.

Kling.. Kling..

Terdengar suara lonceng, saat Baro membuka pintu kedai tersebut. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku. Hanya terdapat beberapa orang yang sedang asik dengan jajangmyeonnya. Aku tersenyum melihat sekitarku. ‘Aku tak menyangka ia mengetahui tempat seperti ini juga’ batinku.

“Kajja” ujarnya menarik tanganku, ke salah satu tempat duduk. Kami duduk di salah satu pojok kedai ini. Tiba-tiba ada seorang ahjumma menghampiri kami, dengan kertas dan juga bolpoin di tangannya.

“Annyeong Baro-ah! Wah, kau ke sini dengan yeojachingumu ya?” ujar ahjumma itu. Baro tersenyum menanggapi perkataan ahjumma itu.

“Anieyo, ia calon anaeku” ujarnya. Tampak raut terkejut tergambar di wajah ahjumma itu.

“Ya! Kenapa kau tak memberitahu ahjumma, jika kau sudah memiliki calon anae? Yeppeo” ujar ahjumma itu tersenyum ke arahku.

“Gomawo” ujarku tersenyum, membalas senyuman ahjumma itu.

“Lain waktu akan ku ceritakan pada ahjumma. Aku lapar sekarang~ kami pesan jajangmyeon 2 porsi ya ahjumma. Punyaku seperti biasa” ujarnya mulai memesan.

“Oh iya, minumnya aku air putih saja. Kau mau apa?” tanyanya padaku.

“Aku juga air putih saja ahjumma” ujarku. Ahjumma itu menyatat pesananku dan Baro di kertas yang di bawanya.

“Arasseo, tunggu sebentar ya” ujarnya beranjak meninggalkan kami. Aku menatap ke arah namja di depanku ini. Lagi-lagi jantungku berdetak cepat. Jika diperhatikan, ia tidak hanya mempesona. Ia memiliki wajah yang imut seperti anak kecil, namun di sisi lain, wajahnya juga terlihat tampan.

“Ini pesanan kalian” ujar ahjumma yang tiba-tiba menaruh pesanan kami di atas meja, membuyarka perhatianku pada objek di depanku.

“Ne, gomawo” ujarku dan Baro bersamaan. Aku segera mengambil sumpit, bersiap untuk melahap jajangmyeon di hadapanku.

“Selamat makan” ujarku. Aku segera melahap jajangmyeon dihadapanku dengan lahap. ‘Mashitta!’ batinku.

“Aku kira kau tidak tahu tempat semacam ini. Jajangmyeon di sini benar-benar enak” pujiku tulus. Ia mendongakkan kepalanya mendengar ucapanku. Menatap ke arahku sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada jajangmyeonnya.

“Tentu saja aku tahu. Aku terlalu suka dengan makanan di restoran seperti tadi. Karena aku harus menunggu begitu lama” ujarnya. Aku hanya berohria mendengar ucapannya. Aku meletakkan sumpitku di dalam mangkok, karena jajangmyeonku sudah habis. Kualihkan pandanganku ke arah Baro. ‘Aigoo, ternyata porsinya lebih banyak daripada aku’ pekikku dalam hati, menyadari porsi jajangmyeon Baro. Pantas saja aku selesai duluan. Bisa dibilang aku termasuk orang yang makannya lambat. Karena aku sangat menikmati setiap makanan yang masuk ke mulutku.

“Banyak sekali makanmu” celetukku. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku, lalu melanjutkan makannya kembali. Hah, senyum itu. Lagi-lagi membuatku tak dapat berkutik.

-oOo-

Kriing.. Kriing..

Tanganku meraba-raba meja di dekat tempat tidurku, mencari jam wekerku yang terus berbunyi. Namun nihil, aku tak menemukannya. Akhirnya, dengan susah payah aku membuka mataku, dan melihat jam weker yang berada di hadapanku.

“MWO?! Jam 7?” seruku panik. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan bergegas ke kamar mandi. Aku mandi dengan cepat, lalu memakai seragamku, dan menyisir rambutku. Aku membiarkan rambutku tergerai tanpa jepit ataupun bando, karena rambutku masih basah. Aku mengenakan sedikit bedak, lalu menyambar tasku dan beranjak keluar kamar. Aku menuruni tangga dengan cepat. Tubuhku berhenti bergerak saat melihat sosoknya yang kini tengah duduk di meja makan, bersama dengan appa dan eommaku.

“Baro? Kenapa kau ada di sini?” tanyaku ragu. Dapat kulihat seulas senyum terukir di wajah appaku.

“Baro ingin mengantarmu ke sekolah” ujar appaku. Aku hanya berohria menanggapi ucapan beliau. Aku segera mengambil beberapa slice sandwich di atas meja, dan memasukkannya ke kotak bekalku. Aku meneguk segelas susu yang berada di atas meja, lalu menghampiri rak sepatu. Aku memakai kaos kaki dan sepatuku.

“Appa, eomma, aku berangkat ya” ujarku, tanpa menghiraukan keberadaan Baro. Jika dalam keadaan normal, aku pasti tidak akan mengacuhkan keberadaan Baro. Namun, ini bukan dalam keadaan normal! Aku sedang terburu-buru!

“Ya, wait me chagiyaaa~” rengek Baro, segera menyelesaikan sarapannya. Dapat kurasakan wajahku memerah karena ucapannya tadi. Ia memanggilku chagi?

“Annyeong abeoji, eommonim, kami berangkat” ujarnya berpamitan. Ia menarik tanganku keluar rumah, dan masuk ke dalam mobilnya. Lagi-lagi aku tidak bisa berkutik dibuatnya. Ia terlalu mempesona.

“Sekarang, jelaskan padaku. Kenapa kau berinisiatif mengantarku pagi ini, dan memanggilku chagi di depan appa dan eomma?” ujarku meminta penjelasannya. Yah, setidaknya dengan begini, aku bisa berbincang dengannya. Daripada aku harus terus-terusan melihat ke luar.

“Aku calon nampyeonmu bukan? Itu hal yg wajar” ujarnya enteng. Aku terdiam mendengar perkataannya. Apa yang dikatakannya memang benar sih.

“Kihyo-ah, nanti pulang sekolah kau jangan langsung pulang. Tunggu saja di kelasmu, aku akan mengantarkanmu pulang, ara?” ujarnya, masih fokus pada jalanan di depannya.

“Ne, arasseo” ujarku.

Tak lama, Baro sudah memarkirkan mobilnya dengan manis di tempat parkir halaman sekolah—tempat parkir khusus untuk 5 namja most popular di Kwanghee High School.

“Kajja” ujarnya beranjak keluar dari mobil. Aku beranjak dari mobilnya, dan dapat kulihat ia tengah membuka pintu belakang mobil. Mengambil tasnya, lalu menyampirkannya di badannya.

“Kajja~” ujarnya tiba-tiba sudah berada di sebelahku.

“Ne” ujarku menundukkan kepalaku. Ia menggandeng tanganku di sepanjang koridor sekolah. Aku terus menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang memerah. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Aku mendongakkan kepalaku, untuk melihat di mana aku. ‘Oh, ternyata ia mengantarku sampai di depan kelasku’ batinku.

“Jangan lupa pesanku tadi. Annyeong” ujarnya mencium sekilas pipiku, lalu beranjak pergi.

BLUSH

Dapat kurasakan kini wajahku benar-benar merah seperti kepiting rebus.

“YA! CHA SUNWOO!! NEO! AISH!” seruku. ‘Bagaimana bisa ia menciumku di depan murid lain?!’ umpatku dalam hati. Aku segera masuk ke dalam kelasku, mengacuhkan pandangan orang-orang itu terhadapku. Aku tak peduli.

-oOo-

Aku merapikan buku-bukuku, dan memasukkannya ke dalam tas. Kurasakan wajahku memerah, mengingat kejadian tadi pagi—saat Baro mencium pipiku. Tak dapat dipungkiri, sebenarnya aku senang. Tapi tidak mungkin aku bilang padanya secara gambling bahwa aku menyukai perbuatannya tadi. Yang ada nanti dia malah besar kepala-_-

“Ya! Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?” selidik Hanna padaku. Aku hanya memberikan senyum tiga jariku menanggapi ucapan Hanna.

BRAAAK!

Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Segerombol yeoja menghampiriku dan Hanna.

“Oh, jadi ini yeoja yang bergandeng tangan dengan uri Baro tadi pagi?” ujar salah satu yeoja, menatap sinis padaku. ‘Aigoo, sepertinya aku akan mendapat masalah siang ini’ batinku. Hanna menggenggam erat tanganku, mengisyaratkan aku agar tidak mendebat yeoja itu.

“Cantik, tidak. Manis, tidak. Kaya, tidak. Jelek, iya! Cih! Kau pasti menggoda uri Baro!” seru yeoja yang lainnya. Aku mengepalkan tanganku yang tidak dipegang oleh Hanna. ‘Apasih maksud mereka ini?! Jangan sementang-mentang aku tidak mempublikasikan status sosialku, mereka jadi menginjak-injakku!’ umpatku dalam hati.

“Rasakan ini!”

BYUUR!

Air membasahi seluruh tubuhku, dari atas kepala sampai kakiku. Dapat kurasakan badanku mulai bergetar, dan menggigil. Aku tidak tahan dingin!

“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KIHYO?!” seru Hanna menghardik mereka. Hanna maju ke arah mereka, lalu menjambak rambut yeoja yang menyiramku dengan air.

“Yayaya!!” protes yeoja itu, menjambak balik rambut Hanna.

Tiba-tiba teman salah satu yeoja itu bersiap melemparkan telur ke arahku.

“Rasakan ini juga!” ujarnya bersiap melemparkan telur di genggaman tangannya. Aku menutup mataku, pasrah dengan apa yang akan dilakukannnya. ‘1.. 2.. 3.. kenapa tidak terjadi apa-apa?’ batinku. Kuberanikan membuka mataku. Di hadapanku, dapat kulihat Gongchan yang tengah menghentikan tindakan yeoja itu.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Gongchan sinis.

“A-ah, Gong-chan.. ka-kami tidak me..lakukan apa-apa” ujar salah satu diantara mereka tergagap. Gongchan memberikan death glare serta senyuman sinisnya pada yeoja-yeoja itu.

“Cepat kalian keluar dari sini, atau aku akan kasar pada kalian” ujar Gongchan, membuat bulu kudukku merinding. Yeoja-yeoja itu dengan segera mengangkat kaki mereka, meninggalkan kami.

“Gwenchana?” tanya Gongchan padaku.

“Gwen..cha.naa” ujarku menggigil kedinginan. Hanna segera menghampiriku, dan menyampirkan jaket yang tengah dikenakannya padaku. Tiba-tiba Gongchan meraih tanganku, dan menggosokkan tangannya dengan tanganku.

BRAAK!

Tiba-tiba aku mendengar suara meja seperti digebrak. Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara.

“Baro?” gumamku.

“Aku tunggu di mobil. Cepatlah” ujarnya datar, lalu meninggalkanku begitu saja. Aku yang seperti tersadar dengan tingkah laku Baro, segera melepaskan tangan Gongchan dari tanganku. Kusambar tasku dengan kasar dari atas meja.

“Hanna-ya, aku duluan ya, annyeong!” ujarku segera berlari menyusul Baro. Kupercepat langkah kakiku ke arah tempat parkir. Tak kuhiraukan dingin yang semakin menusuk tulangku, dan membuat badanku semakin bergetar. Yang ada dibenakku saat ini hanyalah Baro. Cha Sunwoo.

-oOo-

BRAK!

Kututup pintu mobilku dengan kasar. Tanganku terkepal melihat saat Gongchan menggenggam tangan Kihyo.

“Sh*t!” umpatku, memukul setir mobilku. Tiba-tiba pintu penumpang di sebelahku terbuka. Aku menatap nanar pada Kihyo yang kini sudah berada di dalam mobilku. Wajahnya pucat sekali, bibirnya membiru, dan tubuhnya bergetar juga menggigil. Kekesalanku menguap ntah kemana melihat keadaannya sekarang.

“Gwenchanayo?” tanyaku lembut.

“Gwen.. cha..n-na” elaknya. Aku mendecak kesal mendengar ucapannya. Kulepas jaket yang melekat di tubuhku.

“Geotjimal” ujarku, menyampirkan jaketku ke tubuhnya. Kutatap matanya dalam. Jantungku berdetak cepat. ‘Aku kenapa?’ batinku, bertanya-tanya.

“Sebaiknya kita pulang ke rumahmu dulu, setelah itu baru kita berangkat untuk fitting baju” ujarku tersenyum padanya, lalu menepuk pelan puncak kepalanya.

“N-ne” ujarnya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. ‘Neomu kyeopta’ batinku.

-oOo-

Kualihkan pandanganku menghadap ke kaca mobil, melihat keadaan di luar. Aku sudah merasa baikan sekarang, tubuhku juga sudah berhenti menggigil, setelah mengganti bajuku dan minum segelas coklat panas. Untung saja tadi kami pulang ke rumahku dulu.

“Kita mau kemana?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela kaca mobil Baro.

“Fitting baju” ujarnya, yang berhasil membuatku langsung menatap ke arahnya.

“Mwo?! Fitting baju?!” seruku tidak percaya.

“Ne, bukankah tadi aku sudah bilang?” ucapnya enteng. Ah, iya. Tadi ia sudah bilang sebelum kami pulang ke rumahku. Tapi kenapa secepat ini?

“Memangnya kapan pernikahannya akan dilaksanakan?” tanyaku, enggan menyebut pernikahan kita.

“Lusa” ujarnya.

“Mwoya?!” seruku. Lagi-lagi ucapannya mampu membuatku menatap ke arahnya. Bola mataku hampir keluar dari tempatnya, mendengar ucapannya barusan.

“Kenapa cepat sekali?” tanyaku.

“Molla~ Tadi pagi abeoji yang memberitahuku” jawabnya. Aku hanya berohria mendengar jawabannya.

“Nah, kita sudah sampai” ujarnya tiba-tiba mematikan mesin mobilnya.

“Kajja” serunya, mengajakku keluar dari mobil. Aku segera menyampirkan tasku, dan beranjak keluar dari mobil. Dapat kulihat sebuah butik terkenal berdiri kokoh di hadapanku. ‘Aku seperti mengenal butik ini’ batinku.

“Ayooo~” ujar Baro padaku, tidak sabar. Aku segera melangkahkan kakiku, menyusul Baro yang ternyata sudah agak jauh dariku. Mataku menangkap sebuah papan yang familiar. ‘Ah, iya! Inikan butik Mrs. Han yang paling besar!’ batinku.

“Annyeonghaseyo” ujar para pegawai butik ini, ketika aku dan Baro memasuki butik ini.

“Kihyo-ah!” seru Mrs. Han, tiba-tiba menghampiriku dan Baro.

“Mrs. Han?” ujarku ragu.

“Ya! Kau tidak mengenaliku, hah?” ujar Mrs. Han memasang wajah tengsinnya.

“Hehe, anieyo. Aku hanya bercanda” ujarku tertawa. Iapun tertawa mendengar ucapanku.

“Ah, annyeonghaseyo Tuan Cha” ujar Mrs. Han, menyadari kehadiran Baro.

“Annyeonghaseyo Mrs. Han. Jangan memanggilku Tuan Cha, panggil saja Baro. Aku merasa belum pantas dipanggil seperti itu” ujar Baro. Aku tersenyum mendengar ucapannya. ‘Rendah hati. Nice boy’ batinku.

“Haha, ne” ujar Mrs. Han tersenyum.

“Mrs. Han, kami ingin fitting baju pernikahan kami. Apakah sudah siap?” tanya Baro. Tampak seulas senyum terukir di wajah Mrs. Han.

“Ne, tentu saja. Kajja!” ujar Mrs. Han menarik tanganku, meninggalkan Baro di belakangku. Aku di bawa ke sebuha ruangan putih, yang dipenuhi oleh banyak kaca besar di dindingnya. Bisa dibilang, ¾ dari ruangan ini adalah kaca. Mataku menangkap bayangan sebuah gaun yang sangat indah. Gaun pernikahanku.

“Apakah ini gaunku?” tanyaku menghampiri gaun yang terdapat di patung.

“Ne, palliwa. Kau harus mencobanya” ujar Mrs. Han. Aku mengangguk mengiyakan ucapan Mrs. Han.

“Ne” ujarku. Mrs. Han membantuku mengenakan gaunku. Kuakui, gaun ini indah sekali. Mrs. Han memang sangat berbakat sekali!

“Yeppeo” ujar Mrs. Han, setelah aku selesai mengenakan gaunku. Kini aku berdiri di atas sebuah balok, untuk melihat secara utuh gaun yang melekat di tubuhku.

“Gomawo” ujarku tersenyum. Tiba-tiba pintu masuk ruangan ini terbuka. Dapat kulihat dari manic mataku, sosoknya yang mengenakan tuxedo berwarna putih, dengan jas berwarna putih tulang.

“Yeppeo” puji Baro menghampiriku.

“Gomawo” ujarku menundukkan kepalaku—menyembunyikan wajahku yang mulai memerah. Ah, lagi, lagi, lagi dan lagi, selalu begini. Selalu membuat wajahku bersemu merah.

Ia menaikki sebuah balok di sebelahku. Ia mengaitkan tanganku ke tangannya. Dapat kurasakan wajahku makin memanas.

“Kalian cocok sekali!” seru Mrs. Han.

“Ne, kita pasti akan membuat iri semua tamu yang datang nanti” ujarnya tersenyum bangga. Aigoo~ aku sudah tak tahu lagi, seperti apa warna wajahku sekarang >.<

“Ya~!! Geuman~~” seruku memukul pelan lengannya—menyembunyikan rasa maluku.

“Haha, neomu kyeopta~” ujarnya mencubit pelan kedua pipiku. ‘Yayaya! Kau ingin membuatku mati karena malu, akibat ulahmu hah?!’ seruku berteriak dalam hati, karena perlakuan Baro.

-oOo-

“Sekarang kita akan ke mana lagi?” tanyaku. Kejadian di butik Mrs. Han tadi masih berputar-putar di otakku, seperti sebuah film. Ah, aku malu sekali tadi >///<

“Apakah kau tidak lelah?” tanyanya, masih fokus pada jalanan di depannya.

“Hehe, sebenarnya lelah sih” jawabku jujur.

“Jadi, kita mau ke mana?” tanyaku lagi.

“Lebih baik aku mengantarkanmu pulang saja” ujarnya menolehkan kepalanya ke arahku, dan tersenyum.

“Arasseo” ujarku mengangguk—berusaha menutupi perasaanku. Jantungku berdegup kencang (lagi). Hah~ senyumannya. Benar-benar mempesona. Membuatku tak dapat berkutik.

-oOo-

Kubanting stir mobilku ke kanan dengan kasar. Kutepikan mobilku di pinggir jalan. Tanganku mengkepal dengan keras.

“Cih, lihat saja kau Baro. Aku pasti akan merebut Kihyo darimu. Sama seperti saat aku merebut Richan darimu. Just wait for that time, and prepare your self” gumamku mengeluarkan evil smirkku.

TBC..

A.N.: Kyaaaaa~~!! >.< mianhae kalau mengecewakaaaaan~~!! *bow*

Just hope you’re all enjoy my ff, kamsahamnida~ don’t forget to RCL ya! (Read Comment Like) *wink*

14 thoughts on “[REMAKE] Which One – 1”

    1. bingung yah?
      coba kamu baca lagi, trus bacanya pelan pelan, dicerna, hehe ^^v

      justru karena ini remake, ini sebenernya perombakannya udah dahsyat (?)

      mianhae kamu jadi bingung *bow*

  1. bagusss,,wedding life aq sukaaaaaaa..iya hrsny ada POV ny biar ga ngebingungin..aq j bacanya pelan2 en da yg d ulang lagii..bgs koq critanya,,lanjut next chapter..

  2. wow gongchan jdi jahat kah ???
    T_T

    tunggu richan ??
    siapa lagi tuh ???
    wahhh kayanya seru nihh ,, jgn jgn ntr richan datang lagi bikin hubungan kihyo ma baroo merenggang ..

    nice🙂

    1. hehe, ngga kok, tenang aja.. gongchan ga jahat jahat amat (?) hehe

      ayoayo~ silahkan ditebak, hehe

      gomawo chingu komennya😉

      1. amiin~ semoga seru! hehe😀

        mian, ga ditulis povnya~ insyaAllah part 2 nya aku edit lagi, dikasih pov😉

        jeongmal? kok aku ga tau sih… #PLAAK
        yeee~ ada temen satu sekolah *jejingkrakkan*

  3. Crtanya seru deh, emang agak bkin bngung sih soalnya gak ada povnya tp msh bs dmngerti lah🙂

    Waaa~ kyknya gongchan bkalan jd org ke3 disini, yg trakhir itu povnya gongchan ya? Gongchan knpa jahat skali?-_-

    Sgini aja komennya, good ff author ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s