Let You Go (Another Story of Happiness)

Dibuat karena banyak yang benci Jiyeon eonni setelah baca Happiness. Aku jadi serem sendiri, takut diapa-apain sama fans-nya Jiyeon eonni, nyehehe. Seperti yang udah aku bilang, Jiyeon eonni itu sebenernya nggak jahat. Dia bersikap seperti itu karena merasa apa yang menjadi miliknya diganggu. Mungkin memang caranya salah, tapi toh kita nggak bisa nyalahin perasaan sukanya ke Kyuhyun kan? <— berasa kejadian beneran -___-“

Eh, ya sudahlah. Malah jadi ngomongin yang nggak perlu. Pokoknya di sini kita bakal tahu apa aja yang dialami Jiyeon eonni ketika akhirnya dia mutusin untuk ngelepas Kyuhyun.

Oiya, ini juga sebagai salah bentuk permintaan maafku buat fans-nya Jiyeon eonni😀

Satu lagi, maaf kalo ada yang nggak suka sama pairingnya. Entah kenapa aku pengen bikin tokoh cowoknya si monyet, huehehe #diburuJewels

Enjoy reading😀

 

 

@dianeyeye

Main casts : Park Jiyeon and Lee Hyuk Jae

Supporting casts : Cho Kyuhyun, Choi Soo Young, Lee Ahn Jeong ahjussi, Eomma Jiyeon

 

Rolling… tears are flowing, rolling, rolling
Like the silent pain hasn’t won
Trembling… fingertips are trembling, trembling, trembling
I must be thinking about the happy, warm times
                                Jiyeon – “Tteoreureu”

 

 

-prologue-

 

Kepala yeoja itu refleks mendongak. Benar, kelopak sakura di sekitarnya mulai berguguran menyambut datangnya puncak musim semi. Tanpa sadar dia mengembuskan nafas lega. Ia merasa begitu lega. Melihat kelopak-kelopak itu melayang turun membuat hatinya merasa lega, karena kelopak-kelopak itu sesungguhnya seperti perasaannya pada orang itu. Bersemi indah, tapi akan lebih indah ketika ia berguguran. Yeoja itu tahu ia memang harus melepaskan orang itu.

Mata yoeja itu kemudian tertumbuk pada namja di sampingnya. Melihatnya terus mengoceh seperti itu membuatnya tersenyum. “Lee Hyuk Jae… maukah kau menjadi temanku?” ucapnya dengan bibir melengkung indah.

 

Seoul, winter

Jiyeon baru akan membuka kulkas ketika ponsel yang ia letakkan di atas meja makan berdering. Setelah mengambil sebotol air minum, yeoja berwajah cantik itu langsung meraih ponselnya. Nama Kyuhyun tertera di layarnya yang berkedip. Yeoja itu tersenyum tipis lalu menekan tombol jawab dan mendekatkan benda imut itu ke telinga.

“Yeoboseyo?” sapanya dengan nada rendah.

“Jiyeon ah…” suara Kyuhyun terdengar sangat putus asa. Jiyeon hampir yakin ini pasti ada hubungannya dengan identitas Soo Young yang sudah diketahui media. Well, memang Jiyeon yang menyebarkan identitas yeoja itu.

“Wae, Kyuhyun ah? Kenapa suaramu lemas begitu? Kau mabuk lagi tadi malam?” tanya Jiyeon pura-pura tidak mengerti.

Terdengar suara helaan nafas berat. “Tidak, aku tidak mabuk. Ah, entahlah. Rasanya lebih parah daripada mabuk. Kepalaku pusing sekali.”

Jiyeon meneguk air putihnya. “Kau tidak tidur semalam?” tebak Jiyeon.

“Eo,” ujar Kyuhyun lemah. “Kau tahu, tadi malam Changmin datang ke rumah. Dia bilang identitas Soo Young sudah diketahui media. Bahkan para wartawan datang ke apartemennya.”

Jiyeon membelalakkan matanya mendengar ucapan Kyuhyun. Ternyata rencananya kali ini berjalan lebih baik daripada apa yang dibayangkannya. Wartawan-wartawan gosip itu sampai mendatangi apartemen Soo Young, bukankah itu berita bagus untuknya?

“Gurae? Jadi para wartawan itu sudah tahu siapa Soo Young sebenarnya?” Jiyeon memindahkan ponselnya ke telinga kiri sambil tersenyum tipis, membayangkan bagaimana ekspresi Soo Young ketika dikepung wartawan yang berisik menanyainya berbagai pertanyaan yang memojokkan.

“Eo. Aku jadi merasa bersalah padanya, Jiyeon ah. Harusnya aku saja yang jadi bahan pembicaraan dan bukannya dia. Kupikir dia akan terbebas dari masalah ini setelah kami resmi bercerai.”

Jiyeon hampir tertawa senang mendengar suara Kyuhyun yang putus asa, tapi mati-matian dia menahannya. “Jangan begitu, Kyuhyun ah. Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Mungkin saja para wartawan sudah mengetahui identitasnya dari awal.”

Kyuhyun mendesah. “Tetap saja aku merasa tidak enak. Aku yang sudah membuatnya masuk ke dalam lingkaran masalahku.”

“Kyuhyun ah,” kata Jiyeon dengan suara lembut. “Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri. Kau harus bangkit dan melupakannya. Ketika kau tidak lagi terlibat dengannya, tentu saja gosip tentangnya perlahan-lahan akan menghilang. Dengan begitu, dia juga akan mudah menjalani hari-harinya.” Yeoja itu tersenyum licik. “Masalah ini hanya akan bertahan sementara. Sebentar lagi, semuanya akan dilupakan oleh orang-orang.”

Jeda sejenak. Sepertinya Kyuhyun sedang berpikir, batin Jiyeon senang. “Sepertinya memang begitu,” ujar namja itu akhirnya.

Jiyeon menyeringai. Rencananya makin mendekati keberhasilan. Sebentar lagi Kyuhyun akan benar-benar melupakan yeoja itu dan mulai memandangnya lagi. “Kyuhyun ah, kau ada waktu nanti malam?”

“Sepertinya aku kosong nanti malam. Ada apa?”

Jiyeon tersenyum. “Datang ke apartemenku ya? Kita makan malam bersama.”

“Makan malam? Lalu siapa yang memasak?”

“Tentu saja aku!” seru Jiyeon sambil merengut.

Tiba-tiba tawa Kyuhyun meledak, membuat Jiyeon berjengit kaget. “Huahaha. Kau memasak? Memangnya bisa? Seorang Park Jiyeon memasak? Huahaha. Ya, Jiyeon ah, aku tahu kualitas masakanmu.”

Jiyeon membelalakkan matanya. Pertama, ia kaget mendengar tawa Kyuhyun. Ini tawa pertama yang didengarnya sejak empat bulan lalu, tepatnya setelah kepergian Inna. Kedua, Kyuhyun bilang Jiyeon tidak bisa memasak? Huh, belum tahu dia. Beberapa minggu ini Jiyeon sudah les memasak agar bisa membuat Kyuhyun terkesan padanya. Lihat saja nanti malam… “Ya!” protes Jiyeon. “Enak saja! Sekarang aku sudah lebih baik. Aish, sudahlah. Yang penting kau datang dulu, lalu lihat kemampuanku. Eotte?”

Kyuhyun masih tergelak. “Baiklah kalau begitu, aku datang. Huahaha.”

Senyum Jiyeon mengembang lebar. Hatinya menghangat seiring suara tawa Kyuhyun nyang terdengar merdu di telinganya. Kini ia yakin sepenuhnya, Kyuhyun pasti bisa melupakan yeoja itu dan mulai berpaling padanya. Ia yakin bisa membuat Kyuhyun jatuh cinta padanya. Yang perlu ia lakukan hanya bersabar. Iya kan?

Jiyeon mendorong troli belanjaannya dengan suka cita. Saat ini dia sedang belanja bahan-bahan makanan untuk makan malam bersama Kyuhyun. Well, Jiyeon tidak akan memasak yang susah-susah. Dia hanya akan memasak pasta, sepertinya itu cukup. Yang penting rasanya enak dan tidak mengecewakan. Jiyeon ingin sekali membuat Kyuhyun terkesan.

Jiyeon mendorong trolinya ke rak pasta. Pasta… ah, bukan, bukan yang ini. Ia berjalan lagi… Ah, yang itu. Yang bungkusnya berwarna hijau adalah pasta favoritnya. Itu pasta yang dulu sering ia buat bersama Eomma-nya. Tapi pasta itu hanya tinggal dua bungkus.

Dengan santai Jiyoen mengulurkan tangannya untuk meraih dua bungkus pasta yang diletakkan di rak paling atas itu. Tapi tiba-tiba sebuah tangan sudah mengambil pasta itu terlebih dulu. Jiyeon kaget dan mengarahkan pandangannya ke orang yang sudah mengambil pasta itu. Seorang namja dengan garis rahang tegas berdiri di samping Jiyeon. Namja itu mengarahkan pandangan tengilnya ke Jiyeon, yang terbengong-bengong.

“Waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu? Terpesona pada ketampananku, huh?”

Mulut Jiyeon menganga begitu mendengar ucapan si namja. Ia lantas mendengus sebal.  “Hah, yang benar saja… Ya! Itu pastaku, sini berikan.” Jiyeon maju selangkah untuk mengambil pasta itu dari tangan si namja.

Tapi namja itu berkelit. “Eits, siapa bilang ini punyamu? Aku yang pertama kali mengambilnya, jadi ini punyaku! Dan lagi, siapa bilang kau boleh menggunakan banmal padaku?”

Jiyeon berdesis sebal. “Kau ini namja atau bukan sih? Aku yang pertama kali melihatnya dan ketika ingin mengambilnya, aku kesulitan karena letaknya tinggi. Tapi dengan seenaknya kau datang dan langsung mengambil pasta-pasta itu. bukannya membantuku, kau malah mengambilnya. Namja macam apa kau?”

“Ya!” tiba-tiba namja itu berteriak, membuat Jiyeon kaget sampai-sampai mundur selangkah. “Sudah kubilang jangan gunakan banmal padaku. Kau ini tuli atau bagaimana sih?”

Jiyeon menyerngitkan dahinya. Ia ingin membalas kata-kata namja itu tapi entah kenapa mulutnya tidak mau mengeluarkan satu kata pun. Akhirnya, ketika namja itu berbalik dan beranjak meninggalkannya, Jiyeon hanya bisa terdiam.

Melihat punggung namja itu menjauh, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya. Yeoja itu lantas memutar trolinya, lalu mendorongnya ke depan kasir. Setelah itu ia kembali dan mengikuti si namja menyebalkan. Jiyeon berjalan mendekat… lebih dekat… lebih dekat… sampai akhirnya dia melihat sebuah kesempatan emas.

Namja itu berhenti untuk memilih-milih sayuran dan saat itulah Jiyeon secara diam-diam mendekati troli si namja. Dengan gerakan cepat, yeoja itu menyambar pasta yang ada di dalam troli lalu berlari membawanya ke kasir.

Rupanya namja itu menyadari perbuatan Jiyeon dan segera berteriak. “Ya! Ya!”

Jiyeon mempercepat larinya ketika melihat kasih tinggal 50 meter di depannya. Sampai di kasir ia langsung menyerahkan pasta-pasta itu ke kasir dan segera membayarnya. Barulah saat itu Jiyeon bisa menghela nafas lega. Yeaaaay, dia mendapatkan pasta itu!

Beberapa detik kemudian si namja sampai di kasir dengan nafas ngos-ngosan. Tapi begitu melihat senyum kemenangan Jiyeon, ia langsung menegakkan badannya dan berteriak lantang, “Yaaaa! Apa maksudmu mencuri belanjaanku, hah?!”

Jiyeon tersenyum penuh kemenangan. “Belanjaanmu? Bisakah kau ulang sekali lagi? Pasta-pasta itu sekarang milikku!” kata Jiyeon tidak mau kalah.

Namja itu membelalakkan matanya dan berdesis sebal. “Kau ini…”

“Kenapa? Bukannya kau juga tadi merebut belanjaanku?” tantang Jiyeon. “Aish, sudahlah. Yang penting sekarang pasta-pasta itu punyaku karena aku yang membayarnya.” Sekali lagi Jiyeon menyunggingkan senyum pada namja itu, senyum kemenangan yang sinis. Lalu dengan santai, dia mengeluarkan semua belanjaan di dalam trolinya dan membayarnya di kasir. Dihiraukannya pandangan menusuk dari namja menyebalkan itu.

Biar saja. Dia yang lebih dulu bersikap menyebalkan, jadi jangan salahkan Jiyeon kalau ia juga bersikap tidak baik seperti itu!

Kyuhyun menyendok pasta yang dihidangkan Jiyeon sebagai makan malam, lantas menyuapkannya ke mulut. Setelah menguyahnya beberapa kali, senyum namja itu mengembang. “Jeongmal mashitta,” ujarnya, membuat senyum Jiyeon mengembang lebar.

“Jinjja? Kalau begitu, apa aku sudah berhasil membuatmu terkesan?” timpal Jiyeon.

Kyuhyun tertawa. “Eo, kau benar-benar membuatku terkesan, Park Jiyeon. Ini pertama kalinya aku melihatmu memasak sendiri dan hasilnya tidak buruk. Kau hebat,” puji namja itu.

Hati Jiyeon melayang ke langit ketujuh mendengar pujian namja yang disukainya itu. Tidak sia-sia les memasak yang sudah diikutinya selama beberapa minggu ini. Meskipun cuma pasta, Kyuhyun sudah terkesan padanya.

“Kyuhyun ah… soal perasaanku padamu… bisakah kau memikirkannya lagi?” Entah setan dari mana yang membisiki Jiyeon hingga ia berani mengatakan itu. Well, Jiyeon sebenarnya masih nyaman dengan statusnya di samping Kyuhyun sekarang. Setidaknya Kyuhyun tidak lagi mencurigainya. Tapi karena perkataannya tadi, yeoja itu jadi takut Kyuhyun akan kembali bersikap dingin padanya.

Kyuhyun menatapnya lurus-lurus, membuat hati Jiyeon makin ketar-ketir. “Kau orang spesial bagiku, Jiyeon ah… Kau selalu bisa membuatku nyaman di dekatmu, tentu saja kau berarti untukku.”

“Bukan, bukan itu maksudku, Kyuhyun ah. Apa kau tidak bisa membalas perasaanku?” tanya Jiyeon penuh harap.

Kyuhyun kembali menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Aku belum bisa melupakannya, Jiyeon ah. Untuk saat ini aku belum bisa…”

Asa Jiyeon yang sudah melambung tinggi bagai dihempaskan lagi ke tanah. Yeoja itu lantas mengangguk perlahan. “Eo, arasseo. Mianhae, aku terlalu terburu-buru. Harusnya aku lebih mengerti posisimu.”

“Tidak apa. Harusnya aku yang minta maaf sudah jahat padamu.”

Hati Jiyeon terasa ditusuk mendengar ucapan Kyuhyun. Kenapa namja itu baik sekali padahal Jiyeon sudah menghancurkan hubungannya dengan Soo Young? Jika namja itu tahu kalau dialah dalang dari semua kekacauan akhir-akhir ini, apakah dia masih bisa bicara begitu? Tiba-tiba timbul rasa bersalah dalam diri Jiyeon.

Jiyeon senang sekali. Sepertinya Kyuhyun sudah membuka hati untuknya, untuk Jiyeon. Namja itu perlahan mulai menjadi Cho Kyuhyun yang Jiyeon kenal dulu, sebelum semua masalah rumit ini muncul. Malam ini Jiyeon dan Kyuhyun akan makan malam di restoran favorit Kyuhyun seperti yang dulu sering mereka lakukan. Dan seperti yang sudah Jiyeon rencanakan, akan ada paparazzi yang mengikuti mereka.

Semua berjalan sempurna sampai Kyuhyun meminta izin ke toilet sebentar. Tanpa prasangka yeoja itu mengangguk. Tapi setelah lima belas menit kemudian Kyuhyun tidak juga kembali, Jiyeon jadi panik dan curiga. Ke mana perginya namja itu?

Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Kyuhyun. Agak childish memang, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Tapi sungguh, Jiyeon takut tiba-tiba Kyuhyun meninggalkannya. Tidak ada yang tahu kan?

Jiyeon masuk ke lorong yang menghubungkan toilet pria dan wanita. Baru selangkah kakinya masuk ke lorong itu, ia sudah disuguhkan pemandangan yang membuatnya terbelalak. Di sana, di tengah lorong, ada dua orang yang sangat dikenalnya. Kyuhyun dan Soo Young. Dan mereka sedang berciuman. Catat itu, BERCIUMAN! Oh, bukan. Lebih tepatnya Kyuhyun sedang mencium Soo Young karena yeoja itu sendiri hanya diam.

Tubuh Jiyeon membeku. Aliran darahnya seperti berhenti dan paru-parunya tidak lagi bekerja untuk menarik nafas karena tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Demi Tuhan, baru saja Jiyeon berharap tentang keterbukaan Kyuhyun padanya, kemungkinan bahwa namja itu sudah bisa menerimanya. Tapi ternyata ia hanya bermimpi!

Dengar saja apa yang Kyuhyun katakan pada Soo Young setelah mereka berciuman. “Apakah aku harus selalu menggunakan cara ini untuk membuktikan perasaanku padamu? Saranghae, Choi Soo Young.” Satu kalimat yang membuat semua harapan Jiyeon selama ini runtuh dan hilang secara perlahan-lahan. Sangat menyakitkan.

Tanpa dikomando, setetes air mata Jiyeon tahu-tahu bergulir jatuh di pipinya. Yeoja itu cepat-cepat menghapusnya karena tidak mau terlihat lemah. Tidak, dia tidak boleh terlihat lemah. Jiyeon baru akan pergi dari situ ketika Kyuhyun dan Soo Young tiba-tiba menoleh ke arahnya secara bersamaan.

“Jiyeon ah…”

Jiyeon tahu Kyuhyun sudah menyadari keberadaannya. Yeoja itu ingin segera pergi dari situ sekarang juga. Tapi bahkan Jiyeon sendiri tidak tahu bagaimana caranya dia menggerakkan tubuhnya, tidak tahu ke mana energi dan nyawanya telah pergi. Yang ia tahu, ia merasa sangat gamang. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Berharap pada sesuatu yang salah memang akan berakhir tidak menyenangkan. Kakinya lalu melangkah pergi tanpa dikomando. Bulir-bulir airmatanya turun tanpa bisa dicegah, seketika menderas dan membuat pipi mulusnya basah.

Jiyeon merasa hatinya sangat sakit bagai ditusuk trisula milik Poseidon. Suatu penyesalan muncul di dalam hatinya. Hari ini, untuk pertama kalinya, Park Jiyeon mengaku kalah. Ia menyadari kesalahannya.

“Jiyeon ah, kalau kau ada di rumah atau sedang mendengarku, tolong angkat telponnya. Jiyeon ah…”

Jiyeon menarik lututnya dan makin menenggelamkan kepalanya di antara lututnya. Mendengar suara Kyuhyun memohon padanya untuk mengangkat telpon membuat hati Jiyeon makin sakit. Ia hanya ingin sendiri sekarang…

Air mata Jiyeon kembali mengalir sampai-sampai matanya terasa perih. Jiyeon memang sudah menangis semalaman. Membuat hatinya rela melepas Kyuhyun adalah pekerjaan paling berat yang pernah dilakukan Jiyeon. Tapi ia tahu ia harus melakukan itu. Melihat betapa kuatnya cinta Kyuhyun untuk Soo Young memang membuat hati Jiyeon sakit, tapi juga lega di sisi lain. Setidaknya ia tahu kalau namja itu memang benar-benar mencintai Soo Young, dan itulah yang membuatnya yakin untuk merelakan Kyuhyun pergi mengejar cintanya.

Esok paginya, Jiyeon sudah siap dengan koper besarnya. Untuk sementara ia akan pergi ke States. Hatinya perlu penentraman, perlu diredam agar tidak terus-terusan bergejolak. Dan tempat paling baik untuk menenangkan diri adalah rumah orang tuanya di Philadelphia.

Jiyeon berencana pergi tanpa memberi tahu tujuannya pada Kyuhyun. Ia hanya mengatakan akan pergi menenangkan diri sementara waktu. Itu pun dikirimkannya melalui sms sejenak sebelum yeoja berambut panjang itu masuk ke pesawat sehingga Kyuhyun tidak bisa menghubungi ataupun menghalanginya.

Dengan hati gamang sisa semalam, Jiyeon duduk di ruang tunggu bandara. Tanpa semangat sama sekali, dia menghidupkan ipod dan memasang earphone-nya. Ia lantas membuka majalah fashion yang dibawanya, benar-benar tidak peduli pada sekitarnya. Jiyeon bahkan tidak tahu bahwa seorang namja baru saja duduk di sebelahnya sambil terus-terusan menatap wajahnya dengan tatapan curiga.

“Wah, ternyata benar ini kau!” tiba-tiba namja itu berteriak, hingga membuat Jiyeon kaget dan menoleh.

Saat itulah Jiyeon menyadari siapa yang duduk di sampingnya. Namja itu kan… “Kau! Kau kan yang di supermarket waktu itu?!” Jiyeon balas berteriak.

“Ya! Kecilkan suaramu, bodoh. Semua orang melihat ke arah kita!”

Jiyeon mengerucutkan bibirnya. Dalam hati dia bersungut-sungut. Dasar orang bodoh, bukankah dia yang pertama kali berteriak? Karena sebal, akhirnya Jiyeon mengacuhkan namja itu dan kembali sibuk dengan majalahnya.

“Ya. Siapa namamu?” bisik namja itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jiyeon hingga membuat yeoja itu refleks menarik tubuhnya menjauh.

“Mau apa kau?” bukannya menjawab pertanyaannya, Jiyeon malah balik bertanya. Wajahnya menyiratkan kalau dia benar-benar merasa terganggu, tapi rupanya namja itu tidak mengerti.

Dia malah makin mendekat ke Jiyeon. “Kutanya siapa namamu, bodoh.”

Jiyeon terbelalak. Namja ini! Menyebalkan sekali dia! Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal, bagaimana dia bisa bersikap begitu tidak sopan pada Jiyeon?! Ah, Jiyeon lupa. Namja ini kan memang tidak punya sopan santun. Kejadian di supermarket itu buktinya. Dasar tidak gentle, huh.

Jiyeon melirik namja itu, lalu mendengus. “Kenapa kau mau tahu namaku? Memangnya itu penting?” ujarnya tak acuh.

“Ya. Aku ini ingin berdamai denganmu, tahu. Mari kita lupakan kejadian di supermarket waktu itu dan memulai sebuah pertemanan. Bagaimana?”

Jiyeon menyerngit mendengar nada manis dari namja itu. Mencurigakan, batinnya. Tapi tak urung ia menyebutkan namanya, dengan harapan bisa membuat namja itu diam dan tidak mengganggunya lagi. Tapi rupanya itu hanya sebuah angan-angan karena ternyata namja itu malah mengulurkan tangannya ke Jiyeon.

“Kenalkan, namaku Lee Hyuk Jae.”

Jiyeon memutar bola matanya lantas menyambut uluran tangan itu dengan enggan. Sungguh, yang ia inginkan sekarang hanyalah kedamaian dan bukannya nama namja menyebalkan yang sudah membuatnya kesal bahkan di pertemuan pertama mereka.

“Ya. Kau ini mau ke mana? Mau liburan ke New York, ya? Apakah ini pertama kalinya kau ke New York? Kau sudah tahu akan ke mana saja?”

Awalnya Jiyeon berusaha mengabaikan pertanyaan bodoh namja itu. Memangnya dia kelihatan baru kali ini pergi ke States sampai-sampai dikira mau liburan dan bukannya karena urusan pekerjaan? Ciss…

“Ya. Kenapa tidak menjawabku? Bukannya kita sudah berteman?”

Jiyeon mengembuskan nafas. Oke, dia menyerah kali ini. Yeoja cantik itu menoleh dan menatap namja menyebalkan itu lurus-lurus. “Untuk kau ketahui, aku ke New York bukan ingin berlibur melainkan karena ada urusan pekerjaan. Dan ini bukan pertama kalinya aku ke sana.”

Mata namja itu melebar dan berbinar. “Wah, kau hebat,” ujarnya senang, membuat Jiyeon menaikkan alis. Tiba-tiba ia mendekatkan diri ke Jiyeon dan berbisik, “Ini pertama kalinya aku New York sendirian. Biasanya aku selalu bersama hyeong-ku, tapi kali ini aku harus ke sana sendirian. Sebenarnya aku agak khawatir karena aku tidak bisa berbahasa Inggris.”

Mulut Jiyeon menganga. Pentingkah informasi yang baru saja dia dapatkan itu? Demi apapun ya -_____-“ Namja aneh ini benar-benar ingin membuatku naik darah atau bagaimana sih? Kenapa dia terus-terusan mengajak Jiyeon bicara padahal yeoja itu jelas-jelas sudah menunjukkan ketidaktertarikannya? Aish, lagipula kenapa pesawatnya belum datang juga? Tidak tahukah mereka kalau Jiyeon sudah hampir mati kesal di sini?

“Ya…”

Oke, Jiyeon kesal. Amarahnya sudah dipuncak kepala. Dengan sadis ditatapnya namja berahang tegas di sampingnya itu. “Kau tahu, kalau tidak salah namaku sama sekali tidak ada unsur ‘ya’-nya. Sudah kuberi tahu tadi, namaku Park Jiyeon. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan ‘ya-ya’-mu yang menyebalkan itu.” Yeoja itu menarik nafas sejenak. Dan sebelum kembali menyibukkan diri dengan majalah fashion-nya, ia sempat menoleh sebentar. “Ah, aku lupa satu hal. Jangan ganggu aku lagi,” imbuhnya sinis.

Jiyeon tahu kata-katanya tadi agak keterlaluan dan tidak sopan. Tapi yeoja itu tidak peduli lagi. Masa bodoh namja itu akan tersinggung. Malah bagus kalau dia merasa tersinggung, jadi tidak lagi mengganggu Jiyeon. Dan ternyata cara itu memang berhasil. Di sisa waktu tunggu itu, namja menyebalkan yang sebenarnya tampan itu tidak lagi mengganggu Jiyeon. Syukurlah…

Jiyeon menyeret kopernya dan berjalan keluar dari terminal kedatangan dengan langkah percaya diri. Yeoja itu lantas memakai kacamata hitam dan mengeratkan jaketnya karena udara mulai terasa dingin. Pengaruh pemanas ruangan di bandara itu mulai memudar.

Setelah sampai di luar, yeoja itu melongokkan kepala ke kanan dan kiri mencari mobil jemputan dari orang tuanya. Oh, itu dia. Dari sini dia bisa melihat Lee Ahn Jeong ahjussi, supir yang sudah bekerja untuk keluarganya selama tiga puluh tahun, sedang berjalan menghampirinya.

“Annyeong haseyo, Ahjussi.” Jiyeon menundukkan badannya sedikit untuk menyapa pria paruh baya yang lebih tua beberapa tahun daripada ayahnya itu.

Ahn Jeong ahjussi tersenyum dan balas membungkuk. “Annyeong haseyo, Agassi. Bagaimana perjalanan Anda? Menyenangkan?”

“Seperti biasa, Ahjussi, membosankan.” Jiyeon tersenyum miris. Pada kenyataannya, perjalanannya kali ini lebih menyebalkan daripada biasanya karena dia harus duduk di sebelah namja menyebalkan itu. Entah takdir apa yang menghubungkan mereka, tapi Jiyeon merasa menjadi orang paling sial karena bertemu dengannya. Mana ketika awal perjalanan namja itu terus-terusan menatapnya seolah dia adalah seorang pesakitan, lalu di sisa perjalanan (ketika namja itu sudah mulai lelah memandangi Jiyeon) dia tertidur. Sialnya, kepalanya selalu terjatuh ke pundak Jiyeon, entah disengaja atau tidak. Yang pasti Jiyeon langsung bad mood gara-gara itu.

“Abeoji dan Eomma ada di rumah?” tanya Jiyeon ketika mobil sudah berada di highway menuju Philadelphia.

Ahn Jeong ahjussi menoleh sekilas lalu kembali memusatkan perhatian ke jalanan di depannya. “Tuan sedang pergi ke San Fransisco untuk mengurus suatu pekerjaan di sana. Nyonya ada di rumah, sedang menanti kedatangan Agassi.”

Senyum Jiyeon mengembang mendengarnya. Ia memang sudah sangat rindu pada orang tuanya, terutama Eomma-nya. Yeoja itu sudah tidak sabar untuk menceritakan semua kegalauannya pada Eomma-nya. Meminta beliau untuk membelai rambut Jiyeon sembari yeoja itu bercerita, setelah itu beliau akan memberikan pendapatnya yang biasanya akan sangat membantu. Jiyeon ingin sekali melakukan itu.

Jiyeon membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Seketika itu juga angin musim dingin yang mulai menghangat karena hampir berganti dengan musim semi menerpa wajahnya. Yeoja itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, seolah setelah ini tidak akan ada lagi udara yang bisa dihirup. Setelah itu ia mengembuskan nafas panjang dan tersenyum.

Tadi malam dia sudah curhat habis-habisan pada Eomma-nya. Dan tangisan sudah tentu tidak dapat dihindari. Sekarang perasaan Jiyeon jauh lebih baik. Ia sudah merasa sangat lega. Sangat lega sampai ia yakin bisa memberikan senyuman terlebarnya untuk Kyuhyun dan Soo Young. Oh, atau mungkin belum. Entahlah, perasaan Jiyeon memang sudah agak baikan, tapi sejujurnya yeoja itu pun tidak tahu apa reaksi hatinya ketika bertemu lagi dengan Kyuhyun.

Tiba-tiba mata yoeja itu tertumbuk pada kalender yang diletakkan di atas meja. Tanggal 27 Februari. Ah, iya! Hari ini kan hari pernikahan Inna! Jiyeon langsung menyambar telepon wireless mungil yang ada di kamarnya, bermaksud menelpon Inna. Tapi begitu teringat perbedaan waktu antara belahan bumi barat dan timur, ia urung melakukan itu. Diletakkan lagi telepon itu, lalu beranjak ke ponselnya. Dengan cekatan ia menulis sebuah mail di sana.

To : Inna

Inna sayang, aku lupa kalau hari ini (atau kemarin waktu Jepang) kau menikah. Maafkan aku karena tidak bisa datang. Bukan, bukan karena aku tidak mau melihatmu menikah atau apa. Aku sedang berada di Amerika sekarang. Ada suatu urusan yang harus kuselesaikan.

Sekali lagi aku minta maaf, Saeng-a. Ah, dan selamat😀 Kuharap kau menemukan kebahagiaanmu bersama namja yang kini menjadi suamimu.

Salam sayang dari Eonni-mu

Jiyeon tersenyum lalu menekan tombol ‘kirim’. Hatinya bertanya-tanya apa reaksi yang akan Inna berikan. Apa yeoja itu akan marah karena dulu ia sudah berjanji akan datang, tapi ternyata sekarang dia tidak datang?

“Jiyeon-a, Kyuhyun ingin bicara denganmu.”

Gerakan menyuap makanan Jiyeon terhenti di udara ketika Eomma-nya, yang sedang menelpon, berbalik dan berbicara padanya. Matanya mengerjap beberapa kali. “Siapa?” tanyanya dengan nada tidak percaya.

“Kyuhyun-i,” jawab Eomma-nya tegas.

Agak enggan Jiyeon bangun dari duduknya dan melangkah ke telpon. Ia meraih telpon itu dari tangan Eomma dan mendekatkannya ke telinga. “Yeoboseyo?”

“Jiyeon ah…” suara Kyuhyun terdengar lega, “syukurlah akhirnya kau mau menjawab telponku.”

Hati Jiyeon seperti diremas kuat. “Wae, Kyuhyun ah?”

“Kapan kembali ke Korea?”

Jangan. Jangan bertanya seperti itu. Jangan menggunakan nada manja seperti itu. Hati Jiyeon akan bertambah sakit mendengarnya. Yeoja itu mati-matian menetralkan nafasnya yang nyaris tercekat. “Aku… aku tidak tahu kapan akan kembali.”

“Jangan begitu. Sudah dua minggu kau di sana. Aku juga sudah kembali dari Jepang bersama Inna. Apa kau tidak mau bertemu dengannya?” bujuk Kyuhyun.

Sebulir air mata jatuh di pipi Jiyeon. “Benarkah? Aku sangat ingin bertemu dengan Inna, tapi aku tidak tahu kapan bisa kembali.” Hening. Jeda muncul karena Kyuhyun tidak membalas ucapan Jiyeon. Yeoja itu melanjutkan, “Kau… sudah berbaikan dengan Soo Young?”

Setelah mengatakan itu, Jiyeon langsung menyesalinya. Mengucapkan itu berarti harus mempersiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk. Dan entah Jiyeon sudah siap atau belum. Yang pasti dia ingin mendengar kabar itu.

“Sudah.”

Jawaban Kyuhyun sangat singkat, tapi mampu membuat hati Jiyeon rusuh. Ia sakit, senang, dan lega di saat yang bersamaan. Ia sakit karena itu berarti cintanya untuk Kyuhyun benar-benar pupus. Ia senang karena akhirnya Kyuhyun menemukan cintanya lagi. Ia lega karena… dengan ini dia merasa bisa melepaskan Kyuhyun.

“Jiyeon ah, kembali ke Korea secepatnya ya? Aku dan Soo Young akan segera menikah,” lanjut Kyuhyun, membuat Jiyeon tersentak.

Menikah? Secepat itukah?

“Kalian akan menikah? Benarkah itu?” tanya Jiyeon sambil memaksakan sebuah senyum. Ya, kali ini dia memang harus tersenyum.

“Eo. Makanya kau kembali, ya.”

Jiyeon terdiam. Dia bingung harus memberikan jawaban apa. Di satu sisi hatinya terus mendorongnya untuk tetap di States, bersembunyi dari semua efek perbuatan yang telah dibuatnya sendiri. Tapi sisi lain, hatinya memintanya kembali ke Korea untuk mengatakan semua kebusukannya pada Kyuhyun dan Soo Young. Bagaimanapun itu pertanggungjawaban yang bisa diberikannya. Meminta maaf dengan tulus.

Akhirnya ia mengembuskan nafas, memantapkan hatinya, dan berkata, “Baiklah, aku akan kembali ke Korea lusa. Lagipula, ada yang ingin kubicarakan denganmu dan Soo Young.”

Jiyeon tebak Kyuhyun sedang tersenyum lembut di ujung sana. Ah, Jiyeon rindu senyum itu. “Baiklah. Kutunggu kedatanganmu. Annyeong.”

Telpon ditutup. Jiyeon langsung seperti kehilangan semangat. Matanya tiba-tiba kembali memanas dan dikelopaknya terbentuk bendungan yang hampir pecah. Sebuah sentuhan lembut di bahu yeoja itu akhirnya membuat bendungan itu benar-benar pecah. Ia menangis terisak-isak.

“Sudahlah, Jiyeon ah. Kau bilang kau bisa melupakannya, tapi kenapa menangis lagi? Kau bilang kau bisa merelakannya, tapi kenapa bersedih lagi?” suara Eomma Jiyeon lirih seolah bisa memahami kesakitan hati anaknya.

Jiyeon terisak. “Sekali saja… biarkan aku menangis sekali lagi saja, Eomma…” ucapnya terputus-putus.

Eomma Jiyeon melingkarkan lengannya di bahu anak semata wayangnya itu, menariknya ke dalam pelukan. Lantas dengan sayangnya mengelus-elus rambut Jiyeon, membiarkan anaknya itu menumpahkan semua emosinya. Ia tahu, ini memang akan menjadi tangisan terakhir Jiyeon untuk Kyuhyun.

Jiyeon memasuki kafe itu dengan pandangan menerawang. Di sinilah dia dulu sering menghabiskan waktunya bersama Kyuhyun setelah pulang kuliah. Namja itu sering menraktirnya es krim di sini. Potongan-potongan masa lalu yang kembali hadir itu segera ditepis oleh Jiyeon. Sekarang bukan saatnya bernostalgia. Yang harus ia lakukan adalah menyusun kata-kata dengan baik.

Yeoja itu lantas duduk di bangku pojok yang dekat dengan jendela besar. Meja favoritnya dengan Kyuhyun. Dari sini mereka bisa leluasa melihat orang-orang yang berlalu lalang di depan kafe. Jiyeon paling suka melakukan itu. Tapi tentu saja sekarang bukan waktunya melamun sambil memandangi orang-orang.

Jiyeon meremas tangannya dengan gugup. Kalau boleh, kalau saja dia boleh, dia ingin pergi dari sini saja. Menghadapi semua efek yang telah ditimbulkan akibat kekacauan yang dia buat, Jiyeon tidak yakin dia sanggup. Tapi… kalau sampai dia menghilang begitu saja, mau di taruh di mana mukanya? Ah, tapi toh tidak ada yang tahu kalau dialah orang di balik perpisahan Kyuhyun dan Soo Young.

Tapi hati nurani Jiyeon tidak mengizinkannya lepas tangan dari apa yang telah diperbuatnya. Jadilah dia tetap duduk di kursinya, menunggu dengan gugup kedatangan dua orang yang hidupnya telah dihancurkannya itu.

Lima menit kemudian, dua orang yang ditunggu datang. Jiyeon menguatkan hatinya ketika melihat tangan Kyuhyun menggenggam lembut tangan Soo Young. Dengan susah payah Jiyeon mengembuskan nafasnya, berusaha menghalau perasaan yang kembali muncul.

Kyuhyun sudah sampai di meja yang Jiyeon tempati dan tersenyum lebar. Sepertinya ia sedang senang. “Halo, Jiyeon ah. Apa kabar?”

Yeoja berambut sebahu itu memaksakan seulas senyum. “Kau sudah pulang dari Jepang?” tanyanya berbasa-basi, lantas mengalihkan pandangannya ke Soo Young. “Annyeong Soo Young ah.” Jiyeon tahu Soo Young kaget karena dia memanggil nama aslinya, tapi dia tidak menghiraukannya. “Ayo duduk. Kalian mau pesan sesuatu?”

Kyuhyun, yang langsung duduk di hadapan Jiyeon, menggeleng. “Aku tidak usah. Young ah, kau mau pesan sesuatu?” namja itu beralih ke Soo Young yang lantas menggeleng.

Jiyeon tersenyum kecil mendengar panggilan Kyuhyun untuk Soo Young. Mereka benar-benar sudah berbaikan, pikir Jiyeon. Ia mengembuskan nafas panjang untuk kembali menetralkan hatinya. “Ya sudah kalau begitu. Em, begini. Maksudku memanggil kalian berdua ke sini adalah untuk meminta maaf,” Jiyeon menarik nafas dan melanjutkan, “Akulah penyebab hancurnya hubungan kalian.

“Akulah yang sudah menyebarkan identitasmu, Soo Young ah. Akulah orang yang dengan jahatnya telah memfitnahmu sehingga imej-mu hancur. Aku melakukan itu demi mendapatkan Kyuhyun kembali. Aku yang sudah mempengaruhi Kyuhyun untuk menceraikanmu. Akulah orangnya.” Jiyeon menatap wajah Kyuhyun dan Soo Young bergantian untuk melihat ekspresi mereka.

Yeoja itu menggigit bibir ketika mendapati kedua orang di depannya hanya menatapnya tanpa ekspresi. Terlebih Soo Young yang hanya menatapnya lurus-lurus. Kenapa dengan yeoja itu? Apa dia tidak marah? Atau malah marah sekali sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa?

“Kenapa… kalian diam saja?” tanya Jiyeon akhirnya. “Soo Young ah, aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini tapi… dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku minta maaf.”

Soo Young perlahan menggeleng. “Tidak Eonni. Aku memang tidak bisa mengatakan aku baik-baik saja karena perbuatanmu itu. Aku marah, kesal, dan benci pada orang yang telah menyebarkan identitasku. Dan kukira orang itu adalah Kyuhyun.” Soo Young melirik Kyuhyun sekilas. “Tapi setelah memikirkan semuanya dari sisimu, mungkin aku bisa mengerti. Aku juga bersalah karena tiba-tiba datang ke kehidupan kalian dan ‘merebut’ Kyuhyun darimu.” Yeoja itu tersenyum sambil menatap tulus Jiyeon.

“Soo Young ah…”

“Aku mungkin bisa mengerti, Eonni.”

Senyum terbit di wajah Jiyeon. Matanya berkaca-kaca hingga nyaris tidak terbendung. “Gomawo, Soo Young ah. Kau baik sekali.” Jiyeon lalu mengalihkan pandangannya ke Kyuhyun. “Kau beruntung sekali bisa mendapatkan yeoja secantik dia, Kyuhyun ah. Cantik wajah dan cantik hati.”

Kyuhyun ikut tersenyum. “Kau benar. Aku memang beruntung.”

“Jadi, kapan pernikahan kalian dilaksanakan?”

Soo Young tersenyum manis. “Lima hari lagi. Eonni, kau harus datang ya.”

Jiyeon menggeleng. “Tidak bisa,” ujarnya sambil tersenyum. “Sayang sekali lusa aku harus ke New York untuk mengadakan fashion show perdanaku di sana.” Jiyeon tidak berbohong. Dia bukannya mengada-ada alasan agar tidak datang ke pernikahan mereka, tapi sayangnya hari itu dia memang tidak bisa datang.

“Woaa~ Eonni, kau hebat sekali! Bisa mengadakan fashion show di New York adalah prestasi yang sangat gemilang.”

Jiyeon menanggapinya dengan senyum lebar yang tulus. Yeoja itu memang baik hati. Diam-diam Jiyeon menghela nafas lega. Dia sudah melakukannya. Dia berhasil melakukannya. Mengakui kesalahan adalah hal yang paling sulit bukan? Dan Jiyeon sudah berhasil melakukan itu. Kini hatinya lega. Sangat lega. Cinta suci memang tidak akan bisa dirusak meski bagaimana pun kau merusaknya. Kalau memang sudah jodoh, pasti akan bersatu juga. Harusnya Jiyeon sadar itu dari awal. Ah, bodohnya dia…

 

Di taman kota, satu bulan kemudian…

“Neo… Park Jiyeon?”

Jiyeon menoleh kaget mendengar seseorang menyebut namanya. Apalagi suara itu sepertinya sangat familiar di telinganya. “Kau!” Matanya menyipit curiga melihat orang yang ada di sampingnya itu. Lantas ia menggerutu, “Aish, kenapa aku bisa bertemu lagi denganmu, sih?”

Namja itu mengabaikan gerutuan Jiyeon dan malah duduk di sampingnya. “Kau sudah kembali dari States? Woaa~ kita memang benar-benar berjodoh, Park Jiyeon!”

Jiyeon mengangkat ujung bibirnya mendengar ucapan namja itu. Dasar namja gila… “Ya! Siapa yang mau berjodoh denganmu, hah?” sembur Jiyeon sebal. “Lagipula kenapa aku bisa bertemu lagi denganmu sih? Apa dosaku coba?”

Namja itu melebarkan matanya. “Ya!” protesnya. “Harusnya kau bersyukur bisa bertemu orang tampan sepertiku ini!” Ish, pede sekali dia. Tidak tahu malu… desis Jiyeon dalam hati. “Kau kenapa termenung di sini?” tiba-tiba namja itu mengalihkan pembicaraan sambil menatap lurus-lurus ke mata Jiyeon, membuat yeoja itu jadi salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya.

“Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat.

“Geotjimal. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu, Park Jiyeon.”

Jiyeon berdecak sebal. “Lalu kenapa kalau aku sedang memikirkan sesuatu? Memangnya siapa kau sampai harus tahu semua masalahku?” tantangnya.

“Kita kan teman…”

Ucapan polos namja itu membuat Jiyeon mengangkat alisnya. Entah kenapa hatinya berdesir mendengar nada bicara namja yang bahkan ia lupa siapa namanya itu. Apalagi ketika melihat wajah polos mendekati bodoh miliknya, hampir saja membuat kupu-kupu di perut Jiyeon terbang. Akhirnya, sebelum ia terbius lebih jauh, ia mengalihkan pandangan dan berujar lirih, “Bahkan aku tidak tahu siapa namamu…”

Mata namja itu melebar dan tiba-tiba saja di berteriak, “Kau ini bagaimana?! Masa nama teman sendiri dilupakan?! Aish, ya sudah. Kemarikan ponselmu.” Tangannya menyodor tepat di depan wajah Jiyeon, membuat yeoja itu mau tak mau mengulurkan ponselnya.

“Untuk apa?”

Namja itu tidak menjawab melainkan terus memainkan jari-jarinya di atas layar ponsel touchscreen Jiyeon. Ia lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya dan mendadak terdengar reff lagu Starlight Moonlight dari kantong jaket namja itu. Namja itu tersenyum puas, lantas ia menekan tombol merah. “Sudah kusimpan nomorku. Kalau ada apa-apa, kau boleh menelponku. Aku siap membantumu karena kita teman.”

Ah, perasaan apa ini? Kenapa hati Jiyeon menghangat ketika melihat senyum tulusnya? Kenapa? Kenapa kupu-kupu di perutnya, yang biasanya hanya terbang jika ia berada di samping Kyuhyun, sekarang bisa kembali terbang? Pertanda apa ini?

“Wah, lihat. Kelopak sakura mulai berguguran. Bagusnya… Eh, kau tahu, di rumahku aku punya beberapa pohon sakura bla bla bla…”

Kepala Jiyeon refleks mendongak. Benar, kelopak sakura di sekitarnya mulai berguguran menyambut datangnya puncak musim semi. Tanpa sadar Jiyeon mengembuskan nafas lega. Ia merasa begitu lega. Melihat kelopak-kelopak itu melayang turun membuat hati Jiyeon merasa lega, karena kelopak-kelopak itu sesungguhnya seperti perasaan Jiyeon pada Kyuhyun. Bersemi indah, tapi akan lebih indah ketika ia berguguran. Jiyeon tahu ia memang harus melepaskan Kyuhyun.

Mata yeoja itu kemudian tertumbuk pada namja di sampingnya. Melihatnya terus mengoceh seperti itu membuatnya tersenyum. “Lee Hyuk Jae… maukah kau menjadi temanku?” ucapnya dengan bibir melengkung indah.

Namja itu, Lee Hyuk Jae, berhenti mengoceh lalu menoleh ke arahnya dan menatapnya lurus-lurus. “Kau… barusan kau memanggil namaku?”

Senyum Jiyeon menghilang, digantikan dengan wajah bingung. “Ne?”

Tapi sekarang malah Hyuk Jae yang tersenyum lebar. “Benar, aku tidak salah dengar. Kau barusan memanggil namaku. Ya! Katanya kau lupa namaku?!”

Mata Jiyeon mengerjap beberapa kali. Ah, benar juga. Tadi dia menyebut nama namja itu, padahal sebelumnya Jiyeon lupa sama sekali siapa nama namja itu. Kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa begitu?! Padahal dia sama sekali belum melihat ponselnya lagi setelah namja itu mengembalikannya. Padahal dia… Ya ampun, bagaimana bisa?

Sesange~ jangan bilang kau dia, Park Jiyeon, mulai menyukai namja menyebalkan yang sebenarnya tampan ini?! Astaga~ Mana mungkin dia bisa menggantikan Kyuhyun yang cool dan sopan dengan namja menyebalkan yang aneh ini?!

“Kau tahu, kalau kau punya masalah kau boleh kok menceritakannya padaku,” ucap Hyuk Jae sungguh-sungguh, membuat Jiyeon menghentikan imajinasinya yang mulai menakutkan. Yeoja itu menoleh dan mendapati Hyuk Jae sedang menatapnya sungguh-sungguh.

Darah Jiyeon kembali berdesir. Ia merasa ada yang aneh dengan hatinya ketika melihat tatapan polos namja di sampingnya itu. Tatapan itu seolah bisa menyihirnya, membuatnya nyaman dan ingin selalu menatapnya. Jiyeon mengembuskan nafas untuk menetralkan hatinya yang mulai rusuh lagi. Akhirnya dia berdiri dari duduknya. “Ah, sudah saatnya aku kembali ke kantor. Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Lee Hyuk Jae. Aku yakin kita bisa menjadi teman baik,” ucapnya sambil tersenyum tulus.

Hyuk Jae ikut bangkit, lantas berdiri tepat di depan Jiyeon. “Bagaimana kalau aku bilang tidak mau menjadi temanmu?”

“Mwo?”

“Aku tidak mau menjadi temanmu…”

Jiyeon mengangkat alisnya, mengira ia sudah salah dengar atau apa. “Museun seoriya (apa maksudmu)?”

Hyuk Jae menghela nafasnya dan kembali menyunggingkan senyum, tapi senyum itu seolah ditujukan untuk dirinya sendiri. “Aku tahu ini terlalu cepat, tapi… maukah kau menjadi orang spesial untukku?”

Mulut Jiyeon menganga. “Ha?” Tidak, namja ini yang sudah gila. Bukan Jiyeon…

“Kau… maukah kau menjadi… Ah,ani. Bolehkah aku menjadi pacarmu?”

Mata Jiyeon total melotot. Namja ini sedang bercanda kan? Bilang padanya kalau namja ini memang cuma bercanda! Tentu saja dia tidak serius dengan ucapannya kan?! Astaga~ Jiyeon bisa gila kalau dekat-dekat dia terus!

“Kau ini bicara apa, Hyuk Jae? Kita kan baru saja saling mengenal…”

“Memang. Tapi entah bagaimana, perasaanku padamu begitu kuat. Kau boleh tidak memercayaiku, Park Jiyeon, tapi aku… aku benar-benar menyukaimu.”

Jiyeon menggeleng pelan. Ini gila. Namja ini memang sudah gila. Bayangkan saja, mereka baru bertemu tiga kali dan dia sudah berkata suka pada Jiyeon. Yang benar saja! Kyuhyun yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun saja tidak pernah bisa menyukainya lebih dari sahabat, bagaimana bisa Hyuk Jae menyukainya?

Tapi sebuah perasaan menghalau pemikiran absurd Jiyeon itu. Mungin saja… mungkin saja namja itu memang bisa? Mungkin saja dia serius dengan perkataannya. Mungkin saja…

“Baiklah,” sahut Jiyeon akhirnya. “Aku bisa mempertimbangkannya, tapi beri aku waktu selama sebulan. Selama kurun waktu itu aku akan menilaimu. Kuharap kau mau menungguku.”

Mata Hyuk Jae melebar. “Jeongmal? Kau benar-benar mau melakukan itu?”

Jiyeon mengangguk dan tersenyum. Hatinya menghangat seiring dengan senyum dan binar mata Hyuk Jae yang ceria. Dan saat itulah Jiyeon yakin, namja ini memang serius dengan apa yang baru saja diucapkannya.

Jiyeon mendongak, menatap kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan. Dalam hati dia berdoa, semoga kebahagiaan akan segera menghampirinya, menuntun jalannya karena, jujur saja, saat ini Jiyeon sudah bosa terus-terusan berada dalam kesendiriannya yang kadang sangat menyebalkan. Dan entah kenapa, melihat senyum dan tatapan Lee Hyuk Jae, membuatnya yakin kalau kebahagiaan itu sudah berada tidak jauh di depannya. Yang perlu dilakukannya adalah menyongsongnya.

Menyambut kebahagiaannya dengan senyuman lebar.

 

-Epilogue-

Di supermarket, dua bulan sebelumnya…

Hyuk Jae menatap yeoja itu dengan senyum lebar di bibirnya. Yeoja berambut sebahu itu, yang baru saja meninggalkannya di kasir supermarket, sangat menarik perhatiannya. Matanya… tatapannya… walaupun sikap yang keras tapi Hyuk Jae menangkap sebuah kesendirian di sana… membuatnya penasaran. Sebuah perasaan hangat muncul perlahan di dada namja itu. Ini pertama kalinya ia merasa begitu sejak kematian tunangannya dua tahun lalu. Hari inilah dia kembali merasakan getaran aneh itu.

Terlalu dini untuk menyebut itu cinta, tapi Hyuk Jae yakin yeoja itu takdirnya. Well, memang agak absurd bagaimana manusia berbicara tentang takdir. Tapi bagaimanapun, Hyuk Jae sudah memasang dalam mindset-nya kalau dia akan bertemu dengan yeoja itu lagi. Mereka akan memiliki suatu hubungan khusus. Hyuk Jae yakin itu.

Dia… merasa ingin melindungi yeoja itu.

 

Gently… my eyes are closing, gently, gently
I must have wanted to dream about the scent of that smile
Rolling… love is flowing, rolling, rolling
I must like him to the point where my mind is cold
                                Jiyeon – “Tteoreureu”

 

 

 

finish~

 

 

maafkan aku untuk ending yang ngegantung dan nggak mutu ini ._.v #authorgagal

kalian bisa berimajinasi sendiri gimana kelanjutan cerita mereka. boleh happy ending, boleh juga sad ending. thriller ending juga boleh ._.v

buat yang nggak ngerti *ngek*, epilog-nya itu kejadian waktu si monyet ketemu Jiyeon eonni buat yang pertama kalinya di supermarket. nah, dari situ tuh dia mulai ngerasa suka-suka gimana gitchu. ceritanya kan si monyet love at first sight gitchu dech sama Jiyeon eonni… sekarang ngerti kan maksud ceritanya? (reader sayang: tetep nggak ngerti looooh *garuk kepala*) (aku: *garuk tembok*)

dan sebelum kalian minta, aku bakal ngomong duluan, ehehe. abis ini udah nggak ada lagi side story tentang Jiyeon eonni. jadi aku nggak bakal bikin sequel dari fanfict ini, hehe. maaf yaaaa, soalnya aku lagi sibuk banget sama sekolah. mungkin akan ada side story lagi tapi tentang Changmin oppa, tapi bukan tentang Jiyeon eonni.

dan buat side story-nya Changmin oppa, aku nggak janji bakal bisa publish deket-deket ini. Hari penentuan hidup-matiku (16 April) tinggal ngitung jam aja, dan aku belum ada persiapan sama sekali -___-“ jadi maafkan aku kalo nggak bisa cepet cepet publish yaaaa

seperti biasa, komen sangat dibutuhkan. buat yang nggak bisa komen di sini, komen di twitter juga boleh kok. mention aja ke @dianeyeye. aku tunggu komen kalian reader sayang😀

46 thoughts on “Let You Go (Another Story of Happiness)”

  1. dian saengie~ sumpah! aku suka banget ceritanya! ngegantung tapi brasa bgt feelnya!😄
    ya ampuuunnn! jd tambah cinta deh sm si monyet bergusi ini!😄
    keren juga ya si unyuk bs bikin kupu2 di perut jiyeon berterbangan gtu,, hehe~
    aku gk sabar nungguin side storynya changmin, tp gk ush skrg2 jg gk papa, yg penting penentuan hidup-mati kamu dlu tuh perjuangin. hehe~
    HWAITING UAN!
    kudoain yg terbaik bwd saeng tercinta😉

    1. makasih eonni #cium fina eonni
      entah kenapa aku pengen bikin jiyeon jadi sama mantan calon bias-ku yang satu ini (re : eunhyuk) , nyahaha

      iyaaaaaaaa eonn , makasih yaaaaaa doanya~~ T____T

  2. Whoaaa cocok deh
    Biar kunyuk yg nyembuhin hatinya Jiyeon
    Siapa tau kekonyolan kunyuk bs bikin Jiyeon lbih bahagia
    ‎​♧=DH̲̣̣̣̥ɑ̤̈H̲̣̣̣̥ɑ̤̈=D♧
    Good luck buat UN nya yaah
    Semangat (ง’̀⌣’́)ง
    Ditunggu kok side story Changmin oppa nya

    1. 6 minggu itu sebenernya sebentar lagi rei~
      kalo diitung pake minggu , aku bakalan males belajar dan bilang ‘ah, masih segini minggu lagi.’ ‘ah, masih beberapa minggu lagi.’
      padahal sebenernya udah di depan mata -____-
      mana aku nggak bisa emtekah~ #narihulahula

      btw , maaci udah komen😀

  3. yaak…kata sapa gag mutu chingu?? nie ff tu udah lebih dari kata good kuq~
    syukurlah… jiyeon eonni sudah nemuin kebahagiaannya sama si monyet *eh, d hajar jewels*

    horeee…
    aseek,aseekk . . ada side story nya changmin oppa jugaa .
    gak pa2 kuq chingu, meski publishnya telat . pokoknya publish . hehee😀
    hwaiting!!

    sukses yya chingu buad UAN nyaa , belajar eank rajiinn yaa^^

    FIGHTING…

  4. HUAAAAAA keren ceritanya :O sosweet walaupun gak ada romantisnya tapi sederhana myihihiih eunhyuk lucu banget suka sama jiyeon. kasian juga sama jiyeon errrghhh jadi punya inspirasi buat ff*tapi gak bisa nulisnya -_-* *curhat* okee semanga untuk ujiannya ya, FIGHTING!!

  5. . Pertama kali baca ff Jiyeon-Hyuk >/< kkk, biasanya MinJi doang u.u aaaa ternyata mereka cocok jga dijadiin couple ff , wuaaa mau ujian? Fokus ujian ajah dulu. Ff ntar kalo udh ujian bsa dilanjutin, kkk~ side story Changmin Kyuyoung ttep dtunggu~

  6. Annyeong..
    Aigooo.. Jd jiyeon ama eunhyuk..
    Tenang jiyeon~ah.. Ga dpt kyu kau masih dpt eunhyuk jago dancing & kocak abis.. Ga bakal sedih lg dếh ditinggal kyu.. Lagian kyu mang udh ditakdirkan wat aqu *Plak di rajam SparKyu
    Humm mang rada nanggung nih critanya chingu.. Kebanyakan Flash Back wkt masih kejadian di ff Happiness, emang sih side storynya.. Hehehe cm crta kisah jiyeon & euhyuknya malah jd cm sdikit bgt.. *Plak ditabok author yg udh cpk2 mikir & ngetik..
    Tp ide crita jiyeon jd ama eunhyuk sungguh menyenangkan.. Hahaha ga kebayang gmna tingkahnya eunhyuk bikin jiyeon jatuh cinta slama 1bln kedepan..
    Beklah slamat berjuang chingu..
    Keep fighting (‘▿^)ง !!!

    1. jeongmal mianhae eonni~~
      ceritanya emang abal dan nggak nyambung -___-”
      banyak flashback soalnya aku fokusnya ke ‘cara’ jiyeon ngelepas kyuhyun
      maap ya kalo jadinya malah aneh🙂

      makasih udah mau komen eonni~~😀

      1. Anniyo.. FF mu ga pernah abal ah..
        Sllu slluuu slluuu jd salah satu ff faforitQu..
        Keep fighting (‘▿^)ง eo??
        Smoga sgala masalah UAN nya LANCAR..
        Hwaiting Hwaiting Hwaiting (ง’̀▼’́)ง !!!

  7. yeah akhirnya jiyeon dapet pacar jg,,sukaaa smua berakhir happy end..drpd ngerebutin kyu sampe berbuat hal yg sangat sangat menyebalkan mndg carii yg laen.. eunhyuk jago dancing lho *gaknyambung*

  8. Rame rame … Akhirnya jiyeon juga bahagia ,soalnya aku juga gag tega kalo jiyeon jahat trus😀 kalo boleh jujur jiyeon tuh juga bias aku, walaupun sooyoung eonni tetep nomer satu ,wkwkk .. Ditunggu yg bagiannya changmin😀

  9. keren ceritanya author……
    g t’lalu mengumbar arti “cinta”
    simple……namun sangat b;kesan……
    ak sk banget crt seperti ini…g t;lalu dipaksa utk melupakan seseorg… d g memaksa utk cepet2 jth cinta…
    ya… semuax buth proses kann?
    ak yakin Jiyeon dan Eunhyuk oppa akn bahagia…
    bgt pun Kyuhyun…… dan…..
    aku hehehehe…. *senyum malu2 ama KyuPa

  10. Anyyeong…
    awalnya pas baru baca judulnya kirain ini another story untuk siapa, ternyata untuk Jiyeon oenni.
    Hyuk di sini kereeen🙂 thanks untuk namja menyebalkan yang sebenarnya tampan itu sudah mau menjadi ‘teman’ untuk Jiyeon.
    Feelnya dapet, walaupun End nya belum jelas bgmn nasib(?) Hyuk.
    Semoga Jiyeon eonni jg bahagia, Hyuk jg bahagia ^^

    btw, THANKS y ats pw Happiness17 nya. entahlah komenku masuk apa ngga, soalnya komen lwt hp & ga pernah dicek lg. V
    Thanks lg Happiness nya dibikin happy ending🙂

    And Saeng, semoga sukses tanggal 16 april nya. HWAITING!!

    1. maap yaaaa , ending-nya bisa eonni imajinasikan sendiri , ehehe
      yeah , semoga mereka berdua bahagiaaa😀

      komennya masuk kok eonni
      makasih selalu ngikutin Happiness dan selalu ninggalin komen sesudahnya🙂
      dan kalo Happiness nggak dibikin happy end , nanti aku diamuk massa -___-

      maaciiii~~😀

  11. ga kebayang kalo jiyeon sama enhyuk tp bgs penjelasan’a chingu..oiya chingu aku mnta pw part 17 dong tp aku ga pny tweet atw email pnya’a fb nama’a lie cavalera..please chingu aku readers setiamu

    1. bisa lewat fb kok , dikirim lewat pesan aja yaaa ke Dian E. Fitriani😀

      makasih udah komen~~
      eiya baru sadar ! kamu belum baca part terakhir kok udah baca side story-nya ?
      ahaha

  12. Yaaa baikla kl ud ga akn dbuat sekuel jiyeon… Dikira2 aj de sndiri… Smoga ps comeback bneran bkin yg CM story..pgn tw dy dpt pengganti soo ga

  13. yaah sepertinya aku telat baca nie,,,
    pi ga pp deh yang penting tau ceritanya jiyeon gimana
    setelah ditinggal nikah ma kyuoppa

    bagus ceritanya ya wlaupuun akhirnya ngegantung
    ga pp deh yang penting jiyeon dapat penggantinya
    dan bisa nglupain kyuoppa

  14. kyaaa,,,
    Jiyeon eonni ketemu m0nyet,,,
    Plak,,
    Hehehe
    Keren ceritanya eonni,,,
    Terus berkarya ya thor
    Jangan menyerah okay ??
    Fighting !

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s