Tear Drop

Annyeong haseyo~ *narihulahula

Ntah lagi kesambet setan apa, aku pengen banget bikin songfiction dari lagunya SuJu K.R.Y yang sangat amat sarat makna ini. Jadi sedih-sedihan deh T^T

Oiya, fanfict ini pernah dipublish di wp-ku (dianeyeye.wordpress.com)

Ps. Translasi berdasarkan video Coagulation English Translation buatan ‘thefamouscookiedough’, oleh  T. Kim

 

@dianeyeye

Casts : Cho Kyuhyun of Super Junior, Choi Soo Young of SNSD

Minor cast : Lee Sun Kyu of SNSD

Length : oneshot

 

“I didn’t realize my eyes were tearing when your cold answer reached my heart

I don’t know why I teared like this, I just know that it really hurts

My previously burning heart is slowly getting cold

I don’t know what I should say, how I should hold on you

How can I, how can I do it?”

 

Aku membeku sesaat. Baru saja aku bersemangat, sangat bersemangat, ketika akan membuka sms darinya. Dari pacarku. Tapi ketika aku membaca isinya, semangatku itu langsung berubah jadi kegundahan. Apa ini? Apa maksudnya ini?

Tanpa sadar, aku langsung menekan tombol speed dial untuknya. Tidak butuh waktu lama karena tepat setelah nada sambung ketiga, dia sudah mengangkat telponnya. Dia diam, aku juga begitu. Aku menunggunya mengatakan sesuatu dan aku tahu dia juga berpikiran sama denganku. Kami sama-sama menunggu hal yang tidak pasti.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk pertama kali berbicara. Menahan segala macam rasa yang sudah bercampur aduk di dalam dadaku dan siap untuk dimuntahkan. Astaga, bahkan aku hanya membaca sms-nya yang hanya berisi sebaris kalimat.

“Apa maksudmu?” Aku sadar nada suaraku dingin, tapi aku menghiraukannya. Dia masih diam. Aku benci kediamannya itu, jadi aku memanggilnya, “Kyuhyun-a?”

“Hm.”

Aku mendesah. “Katakan sesuatu, Kyuhyun-a.”

Terdengar dia menarik nafas panjang lalu, “Aku harus mengatakan apa lagi, sih? Semua sudah jelas kan?”

“Nggak usah bertemu lagi? Apa maksudmu itu sudah jelas? Aku nggak mengerti.” Aku tahu aku bohong. Memang kalimatnya sudah sangat jelas. Hanya saja hatiku tidak mau langsung menerimanya. Aku butuh alasan yang konkrit.

Dia kembali menarik nafas panjang, aku jadi menahan nafasku tanpa sadar. “Urin… keumanhae eo jija, eo (kita… lebih baik putus, oke)?”

Aku terdiam. Nafasku yang tadi tertahan di tenggorokan tiba-tiba berubah menjadi sangat menyakitkan. Rasanya sangat sesak. Aku tidak bisa bernafas. “Wae?” hanya satu kata itu yang keluar dari mulutku yang mendadak bibirnya terasa kering kerontang.

“Aku harus kembali ke Jepang.” Jeda sesaat, kukira dia ingin memberikan kesempatan untukku berbicara. Berhubung aku hanya diam, dia melanjutkan, “Dan tidak akan pernah kembali lagi ke Korea.”

Aku baru menyadari kalau ada kaca-kaca di kelopak bawah mataku. Ketika kukerjapkan mataku, kaca-kaca itu runtuh dan berubah menjadi air yang mengalir bebas di pipiku. “Wae?” lagi-lagi hanya satu kata.

“Memang harus berakhir di sini. Sudah harus berakhir di sini.” Suaranya tersendat. “Kukira kamu mengerti.”

Sebuah kekuatan mendadak merasuk ke dalam diriku, mendorongku untuk berteriak. “Aku nggak mengerti! Kenapa harus berpisah? Kenapa harus mengakhiri semuanya? Kita bisa kan, berhubungan jarak jauh. Oh, atau aku bisa pindah ke Jepang dan memulai hidup di sana. Bagaimana kedengarannya?”

Mungkin kalau aku bisa melihatnya, dia pasti sedang menggeleng lemah sekarang. “Andwae. Kita memang harus mengakhiri ini, Young-a.”

Jangan. Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Dia membuatku semakin lemah karenanya. Aku menggeleng pelan walaupun aku tahu dia tidak akan bisa melihatnya. Air mata mulai bergulir lagi. “Kamu jahat, Kyuhyun-a. Kamu bahkan nggak mengatakan ini dari awal.”

Dia diam lagi, menyebalkan sekali. Aku baru akan membuka mulut, karena merasa sudah terlalu lama jeda terbentuk, ketika dia akhirnya membuka suara. “Young-a, jebal. Jangan membuat semuanya semakin sulit, eo? Kita hanya perlu saling berjauhan.”

Aku mendidih mendengar nada kalimatnya yang bernada seolah semuanya akan baik-baik saja. Dia tahu persis aku tidak akan baik-baik saja, tapi dia mengatakannya dengan dingin. Aku benci itu. “Kamu… jahat,” desisku, lalu memutuskan sambungan telpon.

Itulah terakhir kalinya aku mendengar suaranya. Dua hari setelah itu, dia benar-benar pergi ke Jepang dan tidak pernah menghubungiku lagi.

 

“Just like the dewdrops on the window

The dewdrops in my eyes are forming a stream”

 

Jantungku berdegup kencang melihat sosoknya di kejauhan. Well, mungkin bukan dia. Tapi entah kenapa hatiku mengatakan kalau itu dia. Bahkan setelah empat tahun tidak bertemu, setelah aku mati-matian membangun tembok pembatas pikiran supaya pikiranku tidak melanglang buana memikirkannya, tetap saja saraf-saraf otakku bekerja begitu cepat hanya dengan melihat punggungnya yang melenggang menjauhiku di bandara.

Dia tidak melihatku. Dan sebenarnya aku juga berharap tidak akan pernah melihatnya lagi karena dengan melihatnya seperti ini, walaupun hanya sekilas, aku langsung bisa membayangkan kejadian-kejadian di masa lalu yang menyakitkan.

Dan lagi-lagi, tanpa sadar, air mataku sudah mengalir di pipi.

 

“I don’t know why I teared like this, I just know that it really hurts

My previously burning heart is slowly getting cold

I don’t know what I should say, how I should hold on you

How can I, how can I do it?”

 

Aku menghela nafas dan menghapus sisa air mata yang masih tersisa. Bodoh sekali. sudah lama sejak perpisahan itu, tapi aku belum bisa melupakannya. Atau lebih tepatnya SAMA SEKALI belum bisa. Dan beginilah jadinya jika aku melihat hal-hal yang berhubungan dengannya, terduduk tidak berdaya menghadap ke jendela besar apartemenku yang menghadap ke kecemerlangan kota Seoul.

Sudah dua jam aku hanya duduk di sini, memandangi Seoul yang penuh cahaya di malam hari, memikirkannya, dan terhanyut dalam kenangan masa lalu. Dan akhirnya menangis.

Tadi siang memang dia, yang kulihat di bandara itu memang dia. Seorang teman memberitahuku bahwa dia datang ke Korea untuk urusan bisnis. Aku terluka. Dia bilang dia tidak akan datang lagi. Dia bilang semuanya benar-benar akan berakhir setelah dia pergi. Tidak tahukah dia telah melanggar kata-katanya sendiri? Membuatnya terabaikan, tidak berarti, dan terbuang begitu saja dari otakku? Padahal aku sudah berusaha untuk membuangnya dari pikiranku, tapi sebegitu mudahnya dia datang lagi dan bersemayam di sana?

Demi Tuhan, sudah empat tahun berlalu! Aku ingin berubah dan tidak hanya terpaku padanya!

                “Soo Young-a~ aku akan tunangan! Kamu percaya itu?! Ahahaha.” Sahabatku, Lee Sun Kyu, baru saja membagikan kebahagiaannya untukku. Ia adalah anak tunggal seorang konglomerat pemilik sebuah perusahaan mobil dan menjadi salah satu direktur di perusahaan itu. Sedangkan aku kerja di perusahaannya sebagai sekretarisnya. Jadilah kami menjadi sahabat karena Sun Kyu adalah orang yang supel dan menyenangkan.

Aku ikut tersenyum untuknya. “Jinjja? Waa, chukkahae, Sun Kyu-ya. Aku ikut senang loh. Tapi dengan siapa kamu akan tunangan? Kenapa nggak pernah cerita padaku tentang ini sebelumnya?” Aku menyenggol lengan Sun Kyu untuk menggodanya.

Ia tersipu. “Kamu akan tahu ketika datang ke pesta pertunanganku.”

Aku tersenyum dan kembali menyenggol lengannya. “Kamu ini. Masa kamu nggak mau memberitahu sahabatmu sendiri?”

Sun Kyu menggeleng. “Lihat saja nanti. Kamu harus melihatnya sendiri, Soo Young-a. dia tampan sekali!”

“Seorang pengusaha?” tebakku.

Dia mengangguk antusias. “Iya.” Wajahnya masih dipenuhi oleh kebahagiaan. “Heran sekali. Biasanya aku menolak semua perjodohan yang dilakukan oleh Abeoji. Tapi namja ini, aku tahu ada yang berbeda dengannya sejak pertama kali melihatnya.”

“Kamu jatuh cinta padanya.” Aku tidak bertanya melainkan memberi sebuah pernyataan.

Sun Kyu langsung menatapku dengan mata besarnya yang indah. “Jeongmal?” tanyanya, masih dengan nada antusias yang sama seperti tadi. Aku mengangguk tanpa ragu, senyumnya makin melebar. “Kurasa juga begitu. Aku memang sudah jatuh cinta padanya. Namja itu.”

Aku melihat senyumnya yang bahagia dan… bayangan Kyuhyun kembali berkelebat dalam otakku. Shit! Kenapa malah dia yang kuingat?

 

“If I close my eyes, my tears may fall, so I try to look up to the sky

But one drop of my tears got heavier and it finally fell”

 

Sebenarnya aku bukan penyuka pesta, tapi demi persahabatan kurelakan datang ke pesta Sun Kyu. Sudah kuperkirakan, pesta ini pasti akan dihadiri oleh para konglomerat atau pengusaha-pengusaha papan atas. Ternyata memang benar. Pesta ini benar-benar pesta yang mewah.

Sun Kyu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putihnya yang berkilau. Malam ini dia benar-benar tampak seperti putri. Putri yang bahagia. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. Yah, siapa yang tidak senang bisa bersanding dengan orang yang kamu suka?

Perasaanku masih datar saja sampai pembawa acara memanggil dua orang yang akan bertunangan. Sun Kyu dan namja yang belum kutahu identitasnya. Pertama Sun Kyu yang keluar, masih dengan senyum aegyeo-nya.

“Dan marilah kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, calon suami dari Lee Sun Kyu ssi, Cho Kyuhyun ssi!” seru si pembawa acara.

Dan saat itulah duniaku terasa berhenti berputar. Senyumku mendadak hilang dan digantikan dengan kebingungan yang amat sangat. Lalu dia pun muncul, berjalan dengan penuh pesona ke hadapan Sun Kyu dan tersenyum padanya. Aku merasa tubuhku lemas tak berdaya.

Nafasku memberat seketika, dadaku sesak. Pandanganku memburam oleh sesuatu yang menutupinya. Aku tahu aku tidak boleh mengerjapkan mata karena jika aku melakukannya, akan ada air yang jatuh dari sana.

 

“How can I, if I cannot see you, how can I do it?

What should I do if I unconsciously pick up the phone to call you in the morning just like I used to?”

 

Kenapa? Kenapa begini? Kenapa dia melakukannya? Bukankah dia bilang dia tidak akan kembali ke Korea lagi? Tapi kenapa dia sekarang ada di depanku? Sedang tersenyum pada yeoja yang juga membalas tersenyum padanya. Dan yeoja itu bukan aku.

Kenapa?

Bagaimana aku bisa melalui ini sekarang?

Bagaimana bisa aku memandang Sun Kyu tanpa mengingat rasa sakit ini?

Bagaimana?

 

“I want to smile as I leave you so I can leave a good memory to you

But when I look at you

I the end, my tears still fell”

 

Dia melihatku. Pandangan mata kali bertemu. Aku harus bagaimana? Ah, menghapus air mataku. Benar sekali. Dia tidak boleh melihat air mataku, tidak boleh. Tapi kenapa air mata ini tidak mau diajak kerja sama? Kenapa dia terus-terusan mengalir?

“Soo Young-a? Kamu nangis?” tiba-tiba saja Sun Kyu sudah berada di sampingku. Ia sedang memandangaiku dengan tatapan bingung.

Buru-buru aku menghapus air mataku dan menggeleng sambil tersenyum. “Nggak, aku nggak nangis kok.”

“Tapi matamu…”

“Aku baik-baik saja,”potongku cepat.

Sun Kyu membuka mulut, seperti hendak membantah, tapi kemudian menutupnya lagi. Ia malah menarik tangan Kyuhyun, yang tidak kusadari, berada di samping Sun Kyu sejak tadi. Kulihat ekspresinya datar-datar saja, jadi aku juga harus bisa kuat. “Soo Young-a, kenalkan. Ini calon suamiku, Cho Kyuhyun.”

Kupandangi wajah Kyuhyun lurus-lurus. Aku harus melakukan ini. Tuhan memang menghendaki aku melupakannya. Dia bukan jodohku. Aku harus bisa melawan perasaanku sendiri hingga akhirnya dia bisa hilang tak berbekas. Hingga akhirnya aku bisa melupakannya. Hingga akhirnya aku merelakannya dengan yoeja lain. Supaya aku bisa melihatnya dan Sun Kyu dengan tatapan yang normal tanpa ada emosi di dalamnya. Aku harus melupakannya.

Aku mengulurkan tangan. “Bangapseumnida (senang berkenalan denganmu). Choneun Choi Soo Young imnida (saya Choi Soo Young),” kataku mantap.

Tepat saat itu, sebulir air mata menuruni pipiku. Jalan yang akan kulalui pasti berliku. Walaupun belum pasti bisa melewatinya, tapi aku akan mencoba. Karena aku pasti bisa melupakannya.

 

 

fin~

ada yang mengerti ceritanya? bikin bingung ya? mianhae ._.v

jadi intinya, songfiction kali ini nyeritain tentang seorang cewek yang putus sama pacarnya, tapi sampai bertahun-tahu kemudian dia belum bisa ngelupain namja itu. sampai di suatu kejadian yang membuat dia harus bisa ngelupain mantannya dan dia harus bisa.

yah, kira-kira begitulah. kalau masih ada yang ngerti juga, aku bener-bener minta maaf. maaaaaaf T_____T

tetep tinggalin komen yaaaa. pembaca yang baik pasti ninggalin komen😀

PS. buat yang nungguin side story-nya Happiness *nggak ada kayaknya ya?*, aku mau minta maaf. karena suatu hal aku belum bisa publish fanfict-nya, jeongmal mianhae~~ tetep tungguin yaaa😀

44 thoughts on “Tear Drop”

  1. chingu..
    Sediih bget ff.a ><
    akku smpe mewek.. T__T*lebay

    chingu buat sequel.a dong?
    Ntar d'sequel kyuyoung blikan lg😉
    cz menurut akku ending.a masie rda gantung.. *reader bnyak bacot

    happiness after story.a d'tunggu chingu🙂

  2. Bguss si ceritany tp aq ga rela kl cm segitu doank.. Pgn tw gmn klanjutanny.. Gmn kyu pas liat soo? Bkal mnta maaf ato gmn? Aaaahhh bnr2 yaaa pgn tw klanjutanny..

  3. huaaa sedih banget kasian sooyoung nyaa, tapi si kyu tunangannya krn perjodohan? kyu nya masih cinta juga kah?? bikin twoshoot kayaknya seru~🙂

  4. Omo..!! Ini critanya sedih ah.. Kasian bgt young~ah.. T^T
    Omo.. Omo.. Happiness after story nya ditunggu lo chingu.. Nyahaha itu utang mu yg udh ditunggu2 khalayak ramaaaaiii.. *Plakk
    Okeh ditunggu ff lainnya..
    Fighting (‘▿^)ง !!

  5. Sdih bgt ni songfic,
    mlang bgt sooyoung.a dtnggal kyu u.u
    tpi msa kyu.a lurus” aj? Ad trusan.a dong thor ya? Dri pov kyu.a tpi ya?*toel2 author*

  6. aish… kenapa ngegantung gt endingnya! seru lho.. aku reader setia happiness! dan nunggu side story-nya. ayo dong di publish…

  7. Ampun deh .. Sad ending😥 .. Tapi keren, chingu :’) disini aku bisa ngerasain gimana sakitnya perasaan soo eonnie saat tau org yg pling dicintai malah mau nikah sama sahabatny sendiri :’), Daebak !! Side story happiness ditunggu😀

  8. ini FFnya unyu bangetT-T tapi kasian Soo Youngnya huhuhuT-T. btw ini kayaknya keren deh kalo dibikin sequelnya?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s