Pray to Love [part 4]

Author : @HareTa_mi

Main casts :

©       Lee Seo Jung (OC)

©       Onew SHINee

©       Key SHINee

©       Ryeowook Super Junior

Support casts:

  • Minho, Taemin, Jonghyun SHINee
  • Leeteuk, Donghae, Eunhyuk Suju
  • Lee Soo Man Presdir SME

Genre : romance, conflict, friendship,tragedy, and Sad ending

Ps : buat para readers mian ya akhir” ceritanya emang biasa” aja. Bolak balik g menentu.. hehehe…. sekali lagi mhon dimaklumi, dan mian juga kalau readers blm nemuin sisi bagus ff ini… yah emang aku akui ff aku biasa aja, *blm mahir merangkai tulisan… ^^

*****

“Happy birthday Seojung, happy birthday Seojung, happy birthday_ happy birthday, happy birthday Seojung”

“Saengil chukha hamnida… saengil chukha hamnida… saengil chukha hamnida”

Suara merdu menyanyikan lagu ulang tahun itu muncul dari belakang. Dua buah lilin tampak terang dan datang ke arahnya. Semakin dekat, ternyata lilin itu bentuknya angka dua dan nol. Happy 20th Seojung. halaman yang tadinya sepi, dan hanya Seojung yang menunggu sendirian dengan ketakutan, Sejurus kemudian diramaikan oleh ucapan- ucapan selamat kepada dirinya. Ia masih terpaku oleh surprise itu. Semua benar- benar tidak terpikir olehnya dari tadi siang. Ia tidak sadar kalau ada yang aneh di hari itu. Di hari peringatan kelahirannya.

Semua pisau yang masih tertancap dihatinya sekarang mampu dikalahkan oleh surprise yang tidak akan pernah dilupakannya. Semua kejadian tadi siang itu palsu. Hanya rencana Wookie cs yang tidak akan ada matinya.

“Semua itu benar- benar surprise yang akan selalu membekas dihatiku. Ryeowook, sahabatku, namjachingu-ku. Kau masih seperti yang dulu.  Masih seperti yang pertama ku kenal 18 tahun yang lalu. Aku tau kau hanya ingin aku bahagia, sekalipun tidak hidup bersamamu. Gomawo” ucap Seojung di dalam hatinya. Saking indahnya, semua perasaan itu hanya bisa diungkapkannya dengan air mata.

“hayo, tiup lilinnya. jangan menangis dulu!” Ryeowook yang membawakan cake kesukaan temannya dan ia langsung di pukuli oleh yeoja itu. Lalu ia meniup lilinnya setelah mengucapkan beberapa permintaan.

Kemudian semuanya diam. karena Seojung juga diam menatap Ryeowook. Diam menatap semuanya. Ryeowook menyerahkan cake itu ke tangan Onew, lalu Seojung langsung memeluk chingu-nya dengan sangat erat. Air matanya berjatuhan lagi.

“gomawo… gomawo.. oppa… “ ucap Seojung yang masih memeluk erat Ryeowook. Ryeowook juga terharu.

“ne. Maafkan aku yang tadi siang. Kau pasti tau itulah caraku membuat mu berkesan!” kata- kata itu semakin mencairkan suasana. Semuanya hanya diam menatap dua sahabat yang berpelukan hangat itu.

“Ryeowook beruntung!” pikir Donghae yang juga ada di situ!

“yak, kalian, nanti saja berpelukannya. Lalu kami yang ada di sini mau diapakan!” celetuk Leeteuk.

Seojung langsung melepaskan pelukannya. Begitu juga Ryeowook. Yeoja itu menundukkan kepala untuk menutupi roman merah di pipinya.

“hm, bagaimana bisa kalian melakukannya?”

Semuanya menunjuk ke arah Ryeowook. Seojung langsung ingin memukuli namja itu. Tapi ia langsung menghindar dan berlari. Alhasil, mereka kejar- kejaran malam itu, padahal rencananya ingin berpesta ria.

“he, jamkkan, jamkkan. Jangan lari kau! Awas ya kalau nanti aku dapatkan kau!” Seojung masih berlari dan Ryeowook malah mempercepat langkahnya.

“Coba saja kalau bisa!” Ryeowook mencibir.

Di sela- sela langkahnya, memori 5 tahun yang lalu kembali terulang. Saat happy sweet seventeen Ryeowook, mereka juga kejar- kejaran tapi situasinya saat mereka pulang sekolah dan masih berseragam. Saat itu Seojung ingin melemparkan cream coklat ke seragam Ryeowook, tapi karena rencananya sudah bocor makanya Ryeowook langsung menghindar waktu itu.

Onew yang jadi kasihan melihat Seojung berlari terengah- engah akhirnya menangkapkan Ryeowook untuk yeoja itu.

“Onew, lepaskan. Lepaskan!”

“anio. Jangan!… nah Sekarang ayo kita hukum raja jail ini. biar dia kualat!” Seojung berkacak pinggang. Yang lainnya memegangi Ryeowook.

“ayo kita lempar ke kolam saja!”

Ide gila Eunhyuk langsung mendapat persetujuan dari yang lain. Mereka berjalan ke halaman belakang. Sampai di depan kolam, bukannya Ryeowook yang di lempar tapi…

“hei, apa- apaan kalian. Lepaskan, lepaskan…” belum selesai Seojung mengakhiri kalimatnya, tapi Ryeowook yang memegangi tubuhnya, Sunny teman dekatnya juga memegangi tangannya, Key bagian kakinya, dan Onew tidak ikut karena seperti biasa hanya dia yang berjiwa nurani. Diayun- ayunkan sebentar dulu, lalu… blammm….

air kolam langsung bergelombang.

“RYEOWOOK, KALIAN… SEMUA…UGH…”

“HAHA… rasakan itu!” Semuanya malah menertawakan Seojung yang sedikit kedinginan di dalam kolam. Lalu Onew menjulurkan tangannya ke arah kolam dan membungkukkan sedikit badannya. Blammm….

Si jahil wookie lagi- lagi mendorong Onew dan semua pakaiannya basah kuyup.

“sudah, sudah, .. hentikan.. “ teriak Seojung dari dasar kolam. Tapi yang lainnya malah sibuk dengan tertawaan mereka. Lalu dengan tampang licik, Seojung memercikkan air dengan tangannya dan membasahi semua yang berdiri di tepi kolam. Akhirnya namja jail itu basah juga. Sementara serangan air terus berdatangan dari arah kolam oleh Seojung dan Onew.

*****

 Dua hari. Baru saja ia memulai hubungan baiknya* (baca: friendship) lagi dengan Ryeowook, dengan semuanya tapi memang waktu yang menghalangi semuanya. Ia harus berangkat ke Jepang. Tesisnya harus secepatnya di selesaikan.

“kau yakin tidak apa- apa aku tinggal?”

“anio. Kau kan juga harus pergi. Lebih cepat lebih baikkan.”

“ne” jawab Seojung kuyuh.

“check in jam berapa?”

“2 siang!”

“hm, masih setengah jam lagi.”

“ne. Tapi kau balik saja sekarang. Aku tidak apa- apa menunggu sendirian. Aku tahu kau sibuk!”

“andhwe. Aku harus menunggumu sampai benar- benar berangkat dulu!” bantah Ryeowook. Sepertinya namja itu benar- benar ingin Seojung selamat sampai di tujuannya. Padahal hanya ke negara tetangga. Dan ia juga sudah biasa. zzZzz…

“ah anio. Ayo cepat pergi. Tidak boleh menyia- nyiakan pekerjaan!” nasehat Seojung.

“presdir sudah mengizinkanku!”

“tapi janjinya kan hanya mengantarkanku ke bandara. Sekarang kau malah buang- buang waktu di sini. Ayo cepat pergi latihan!”

“baiklah kalau memang itu maumu.”

“hm…”

“ini kopernya. Hati- hati di Jepang. Negara itu beda dengan Korea. disana tidak ada bodyguardmu. Tidak ada aku. Tidak ada presdir. Dan orang- orang disana juga tidak kenal denganmu…” ekk,,hm.. Ryeowook mendehem lalu kembali melanjutkan pesan- pesan panjangnya,

“jangan terlalu banyak berbicara dengan orang yang tidak kau kenal. Termasuk dengan supir taxi. Ketika di hotel jangan berani bilang kalau kau sendirian, bilang saja bersama orang lain. Dan lepaskan perhiasan yang mahal- mahal. Cukup bawa satu ATM dan satu lagi cadangan, *ditinggal saja di hotel. Cari hotel yang biasa saja. Kalau terlalu mahal, pasti kau dicurigai! Jangan pernah naik taxi malam hari, lebih baik naik bus yang ada penumpangnya. Karena supir taxi juga bisa membawamu kabur. Dan satu hal yang paling penting jangan membawa orang asing masuk ke hotel, baik namja maupun yeoja. Ku tekankan untuk namja.”

“siap… “ hati Seojung tertawa girang mendengar perhatian Ryeowook. Dirinya seperti anak kecil yang akan pergi ke negeri tak berarah. Padahal negeri sakura itu sudah familiar dengannya.

“baiklah kalau ada apa- apa telefon aku. Kapan perlu aku akan langsung datang membawa jet suju kalau memang ada masalah yang tidak bisa kau atasi.” Lagi- lagi hati Seojung tambah hangat oleh semua gombalan perhatian dari temannya.

“hm, pasti… sampai di Jepang nanti orang pertama yang ku telefon adalah kau. Setiap 1 jam akan ku kabarkan keadaanku. Dan aku aku berusaha mempergunakan waktu seefektifnya. Aku hanya riset, tidak jalan- jalan di negeri itu. Karena aku tau kau menungguku balik secepatnya!”

Perkataan Seojung akhirnya sudah bisa membuat Ryeowook mempercayainya. Sebelum pergi, namja itu mencium kening temannya. Lalu ia berlalu. Tangan Seojung juga sudah berhenti berdadah- dadah. Namja itupun hilang dari pandangannya.

*****

            Jarak tempuh antara Korea_Jepang memang tidak terlalu jauh. Tidak terasa pesawat sudah Landing. Semua penumpang tergesa- gesa untuk turun. Seojung juga ingin secepatnya sampai di hotel, karena perasaannya tidak enak ketika di pesawat tadi. Perasaannya mengatakan ada sesuatu hal yang tidak di ketahuinya apa itu, dan hatinya menggeram karena keanehan itu.

Seperti janjinya tadi, ia langsung menelfon Ryeowook. Tapi saat ia kembali mengaktifkan handphone, dan ia langsung mendapat panggilan dari Ryeowook. “namja itu benar- benar sudah memperkirakan kapan pesawat akan landing. #Lovely chingu.” Pikir yeoja itu dan ia langsung menerima panggilan tsb.

“Yeoboseyo, Seojung ah!”

“ne. Yeoboseyo. Aku sudah sampai. Sekarang tinggal menunggu koper lalu aku akan langsung ke hotel.”

“baiklah kalau memang begitu. Aku sudah tenang karena tidak ada sesuatu yang terjadi dengan pesawat yang kau tumpangi!”

“ternyata dia bukan mencemaskanku. Tapi pesawatnya. Huh, dasar!” pikir Seojung menggeram.

“oh, bagaimana keadaan di Korea? apa terjadi sesuatu?” yeoja itu malah balik bertanya.

“ugh, kenapa Seoul yang ditanyakan. Apa tidak terpikir olehmu menanyakan keadaanku? Belum sampai 3 jam kita berpisah, tapi aku rasa rindu ku sudah menguap- nguap sedari tadi!” pikir Ryeowook.

“anio. Good day here!”

“alright,good bye…”

“bye…”

Tittt…

Setelah diambilnya koper lalu ia segera meninggalkan bandara itu. Seperti pesan Ryeowook, jauh lebih baik naik bus daripada taxi. Tapi barang bawaannya saat itu lumayan banyak, jadi terpaksa ia meniadakan pesan temannya tadi.

Taxi melaju dengan kecepatan konstan. ia dapat melihat pemandangan sekitar kota Tokyo di sore hari. Sudah lama ia tidak ke kota itu. Seingatnya terakhir kali ia pergi adalah 3 tahun yang lalu. Tidak berapa lama, taxi berhenti tanda sudah sampai.

Di tariknya koper memasuki hotel, lalu check in dengan kamar nomor 141. Lagi- lagi semua perasaan aneh langsung menyeruak di dadanya. Perasaan seperti saat ia di atas pesawat tadi. Ia lihat ke belakang tidak ada orang yang mengikutinya ke kamar hotel, bahkan juga tidak seorangpun yang tampak di lorong hotel tersebut.

“mungkin ini memang halusinasiku saja. Lebih baik sekarang itu positive thinking saja!” pikirnya menenangkan hati.

*****

Pagi yang dingin di negeri sakura. Negeri itu tidak seperti biasanya bagi Seojung. Hawanya terlalu dingin, banyak yang telah berubah, benar- benar jauh lebih maju dari yang dulu. Begitu juga dengan perasaan seojung. Sudah dua malam ia menginap di Jepang, tapi selalu saja ada yang mengganjal di hatinya. Di hubunginya orang- orang di korea, katanya tidak terjadi apa- apa. Di hubungi-nya eomma di California, keadaanya masih sama. Tidak ada masalah. Di tanyanya hatinya sendiri, tapi saat itu ia malah tidak bisa mengetahui apa sesungguhnya yang dirasakan hati kecilnya. Biasanya hati kecil akan selalu memberi jawaban atas kegalauan itu, tapi sekarang tidak.

Kemaren ia sudah mulai mengadakan riset di Tokyo, dan kenyataanya memang kemampuan siswa SMA di Tokyo sudah sangat unggul di bandingkan yang dulu. Banyak dari mereka yang sudah menemukan mesin- mesin berteknologi yang bisa menghemat energy listrik, bermacam- macam software dan sampai ke otomotif pun juga sudah. Sejauh itu ia baru meneliti 1 sekolah, rencananya akan ada 5 sekolah yang di datangi yang ia akan membandingkan. Di buatnya laporan lalu pulang. Sebenarnya tugas tesisnya itu tidak terlalu sulit, hanya saja untuk melakukan risetlah, yang memakan banyak waktu.

**

Sampai dengan hari ketiga, ternyata baru dua sekolah yang bisa dirisetnya. Hari keempat sudah tiga sekolah, hari kelima empat sekolah, hari keenam akhirnya semua riset sudah selesai. Memang waktunya tidak terasa. Anehnya saat melakukan semua riset itu, ia tidak lagi merasa aneh dengan kota Tokyo. Tapi saat malam menjelang semua pemikiran buruk langsung berkecamuk di hatinya. Malam itu, malam ketujuhnya di Jepang. Jari- jarinya masih menari di atas keyboard laptop menyalin semua data yang sudah di dapatnya selama enam hari. Ternyata pekerjaan membuat tesis itu benar- benar menguras semua tenaganya. Ia sungguh kelelahan menyusun urutan karya ilmiah itu. Sesaat, handphonenya berdering,

“yeoboseyo”

“ne”

“hei, mana janjimu, katanya akan mengabarkan keadaanmu satu jam sekali. Dan kau tau? dari pagi kau belum menelfonku sekalipun.”

“eh, mianhe… aku benar- benar sibuk di sini. Lagian kau harus yakin aku akan baik- baik saja kan!”

“bukan itu masalahnya. Aku takut kalau seharian kau tidak menelfon jangan- jangan ada hal buruk yang terjadi denganmu! Makanya rasa khawatirku ini tidak bisa di tahan lagi!”

“asal kau yakin, khawatir akan hilang dengan sendirinya.”

“tapi, kalau memang kau sibuk, minimal sms ke hapeku! Agar aku juga tenang disini. Semua juga akan tenang!”

“ku usahakan kalau aku tidak sibuk.”

“hehh, Seojung turuti saja apa kataku. Karena tadi pagi presdir bilang selama di jepang kau hanya 1 kali menelfon ke rumah…”

“ryeowook, mianhe. Sekarang aku benar- benar tidak bisa di ganggu. Pekerjaanku sangat banyak. Aku super sibuk disini. Kalaupun hal buruk terjadi denganku, aku yakin hatimu akan berbicara…”

Titttt…

Seojung terpaksa memutuskan pembicaraan. Karena kalau saja ia lanjutkan, pasti Ryeowook akan terus berkicau dengan pesan- pesannya yang membawa tanda khawatir itu.

Seojung kembali melanjutkan mengetik, tapi sesaat perutnya terasa lapar. Sepertinya ia ingin memakan sesuatu semacam cemilan untuk mengganjal perutnya. Kemudian ia memasang mantel, mengambil kartu ATM lalu pergi ke swalayan terdekat.

Tidak perlu naik taxi atau bus, karena memang jarak swalayan itu tidak terlalu jauh. Ia pun juga bisa berjalan- jalan malam di pinggir kota. Ia terus menyusuri jalanan menuju swalayan yang hampir dekat. Tapi sayangnya jalanan itu sangat sepi. Bahkan hanya ia sendiri pejalan kakinya. Bulu- bulu di lehernya berdiri khawatir dan ternyata semua itu terjawab sudah.

“AAA.lepaskan, lepaskan!”

Seseorang dari belakang menutup mulut Seojung dengan sebuah kain. Tapi untungnya kain itu tidak ada biusnya. Seojung menggeliat agar tangannya segera dilepaskan dari cengkraman tajam itu. Tapi semakin ia menolak, cengkraman itu malah semakin dalam. Kuku yang ikut mencengkram itu akhirnya menorehkan darah di bagian tangannya. Ia menjerit kesakitan. Benar- benar pedih rasanya.

Akhirnya tubuh Seojung di seret ke sebuah tempat yang sedikit gelap dan sangat sunyi. Mulutnya sudah di lepaskan. Tapi mulut itu sangat kaku untuk berbicara. Sepertinya Mulut nya juga ikut shock dengan kejadian itu. Semua itu benar- benar baru pertama kali dialaminya, kalaupun pernah mungkin hanya di dalam mimpi, atau permainan Ryeowook dulu. Tapi tidak untuk saat itu, semuanya benar- benar terjadi di depan matanya.

Namja yang menangkapnya itu ternyata tidak menutupi wajahnya. Sehingga Seojung bisa melihat dengan jelas tampang namja itu. Tapi sepertinya ia bukan warga negara Jepang, bahkan wajah Asian saja seperti sangat jauh. Mungkin saja berkebangsaan eropa.

Dugaan itu benar, namja itu berbicara dalam bahasa inggris.

“now, you must give all of your money, jewelry, and all of most thing! Must now!”

“…” Seojung masih belum bisa menangkap kemauan bule itu. Bukan karena tidak mengerti bahasa inggris, tapi ia tidak tau apa jalan keluarnya untuk saat itu.

“oh, I know, you speak in Japanese language? Can’t speak in English??? Oh, alright… “

Namja itu mengulangi kemauannya tadi dengan bahasa Jepang. Seojung tersentak. Seingatnya ia sudah melepaskan perhiasannya berharganya. Kecuali untuk satu kalung yang tidak terlalu mahal harganya.

“mian, aku tidak punya uang. Perhiasan pun juga tidak punya!” mulutnya berbicara refleks. Seojung sendiri masih bingung kenapa ia bisa berbohong dari kenyataan.

“don’t lie to me. Aku tau kau anak orang kaya, bukankah selama satu minggu kau menginap di hotel, aku yakin kau pasti punya banyak uang. Cepat berikan sebelum aku mengambil paksa dari mu!”

“tidak, tidak, aku tidak akan memberikan uangku!” Keringat dingin mengalir deras  dari pelipisnya.

namja itu tidak terima akhirnya, ia segera meraih dompet dari tas seojung dan menemukan banyak uang yang baru saja diambilnya dari ATM.

“hei, bukankah ini uang? HAH?” namja itu menggertak Seojung.

Kemudian dengan paksa ia menarik sebuah kalung dari leher Seojung hingga putus. Akhirnya pencuri jahat itu mendapatkan semua uangnya, kalung, tapi kartu ATM tidak diambilnya. Pencuri itu melesat pergi dan meninggalkan Seojung di tempat senyap itu.

Kejadian pahit itu begitu singkat. Darah dari lehernya terus mengalir tanpa bisa di bendung lagi. Seojung berlarian kearah keramaian kota mencari taxi. Untungnya ia masih punya ATM dan sedikit uang di dalam saku celana. Cengkraman tajam ditangannya tadi ternyata masih membuat darahnya terus mengalir. Luka itu sangat- sangat pedih untuk dirasakannya sendirian. Sayangnya ia juga meninggalkan hp di hotel, sehingga membuat tubuh dan hatinya semakin perih. Ia benar- benar kesakitan dalam kesendirian itu.

*****

            Kejadian itu belum sampai 24 jam yang lalu. Setan- setan ketakutan masih bercokol dalam dirinya. Ia sungguh tidak bisa mengungkapkan ketakutannya itu. Menelfon saja ia tidak berani. Luka perih yang ditorehkan saat ia di Jepang benar- benar mengubah semuanya. Seojung tetap tidak percaya dengan hal terburuk yang menimpanya. Ia sangat kaku dengan situasinya saat itu. Bahkan Ryeowook yang sudah berkali- kali menelfonnya tetap ia reject. Mulut nya tidak mampu mengungkapkan perasaannya.

Di pagi itu juga ia langsung balik ke Korea. Ia cari semua alternative tercepat. Pada Akhirnya ia mendapat satu tiket pesawat, tapi yah, pesawatnya tidak mewah seperti yang biasa dinaikinya. Tapi yang terpenting baginya saat itu adalah sampai di Korea dengan selamat. Seojung pun juga memutuskan untuk membuat laporan risetnya di Korea saja. Negara Jepang itu bagaikan menghantuinya sehingga ia benar- benar ingin segera pergi menjauh.

Perjalanan di atas pesawat sungguh lama dirasakannya. Ia berpikir gerak manusia terlalu lambat dibandingkan cahaya sehingga waktu juga semakin lama. Pikirannya kosong, tidak ada solusi olehnya untuk menghadapi tekanan batinnya saat itu. Di pewasat ia hanya bermenung, bahkan para pramugara tampan yang susah payah mempromosikan parfum di hiraukannya begitu saja.

Pesawat yang di tumpangi Seojung akhirnya landing. Ia dengan stamina yang kuyuh menuruni tangga lalu ke tempat pengambilan koper. Kemudian taxi yang ditumpanginya langsung melesat meninggalkan bandara. Ia sedikit lega karena sudah sampai di korea. Pikirannya pun sudah mulai bisa di control lagi. Ia bertekat tidak akan berbicara sedikitpun soal pengalamannya di Jepang. Kepada Ryeowook sekalipun tidak akan. Karena ia sudah bisa menebak, pasti namja itu benar- benar kasihan melihatnya yang teraniaya. Ia pasti juga akan menyesal dan tidak tega mendengar hal itu.

Seojung meraba lehernya yang tadi malam masih diguyur darah- darah segar. Bagian itu sekarang sudah di perban. Tapi tetap saja bila di pegang rasanya masih sakit. Ia menutupi bagian putih perban itu dengan shall warna hijau hadiah dari Onew  waktu itu.  Dengan segala kesiapannya untuk bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa- apa, Seojung menuruni taxi. Ia menghirup udara korea yang saat itu juga masih pagi hari. Para pembantunya berdatangan membawa koper. Ia langsung menaiki tangga dan memasuki kamar yang sudah hampir satu minggu di tinggalinya.

*****

            Ia tertidur lelap di ruangan kesayangannya itu, lalu yeoja itu dibangunkan oleh suara handphone yang terus berbunyi sedari  tadi. 71 missed call from Lovely Wookie

“YEOBOSEYO, YEOBOSEYO…”

Seojung yang masih setengah sadar terbelalak mendengar teriakan namja dari telefon itu.

“ne… “

“yak, kau … sudah lelah jari ku ini menyentuh layar hape tapi baru sekarang kau angkat?”

“wae?” Seojung yang baru bangun langsung di hadang oleh pertanyaan itu, ya jelas saja ia belum nyambung.

“kenapa tidak bilang kalau kau pulang hari ini?”

“mian…”

“seingatku tadi malam kau baru saja bilang sangat sibuk? Memangnya laporannya sudah selesai? Dan apa mungkin kau yang tadi malam bilang tidak bisa di ganggu dan sekarang tiba- tiba muncul di korea?” jelas Ryeowook penuh Tanya.

“…” Seojung teringat lagi akan kejadian malam tadi. Tapi mulutnya benar- benar kaku untuk membicarakan hal itu kepada sahabatnya. Bahkan untuk menjelaskan alasan lainnya saja, ia tidak sanggup. Yeoja itu kembali berurai air mata dengan pengalamannya. Ia dengan terpaksa ia memutuskan telefon itu. Ia pun menonaktifkan hpnya. Pikirannya terus mencari- cari alasan yang tepat agar semuanya tidak curiga.

“yak, yak,yak…” Ryeowook berteriak- teriak di depan handphone.

“SEOJUNG. Berani sekali kau, aku sedang berbicara seenaknya kau memutuskan!” gerutu Ryeowook yang menarik perhatian Leeteuk saat mereka sedang latihan.

“Ryeowookie, waeyo?”

“dia, dia,… “

“nugu?”

“yeoja itu!!!”

“Seojung?”

“ne.”

“ada masalah apa lagi?”

“tadi pagi dia pulang. Dan tidak memberi tahuku sama sekali!”

“hah apa? Cepat sekali! Memangnya mudah ya menyelesaikan tesis itu?”

“entahlah. Aku juga bingung. Makanya ku telfon dia, eh malah di putuskan begitu saja!” jawab Ryeowook nada kecewa.

Leeteuk masih berpikir tentang hal itu.

“tadi malam katanya sangat sibuk, dan tidak boleh di ganggu- ganggu dulu sebelum siap! Tapi sekarang??? Bukankan itu aneh!”

“ne. aku juga bingung. Apa terjadi sesuatu?”

“mwo?” Ryeowook ikutan terkejut dengan dugaan Leeteuk itu.

“anio. Kalau memang ada hal buruk yang melandanya, pasti dia langsung memberi tahuku. Sebelum pergi dia sudah berjanji!”

“owh,, tapi bisa saja kan dia tidak memberi tahumu karena takut merepotkanmu juga!”

“benar juga ya. Tapi apa itu mungkin?”

“entahlah. Itu hanya dugaanku. Siapa tahu memang benar. Tapi besok kau tanyakan saja langsung!!!”

“anio. Sekarang aku akan langsung ke rumahnya!”

Leeteuk menarik tangan Ryeowook yang ingin langsung pergi…

“besok saja. Dia pasti masih lelah!” Ryeowook mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan latihan dengan perasaan yang penuh dengan liputan tanda Tanya.

*****

            Malam itu langit dipenuhi oleh bintang- bintang yang saling menerangi. Cahaya bulan pun ikut bekerja sama menerangi malam yang senyap itu. Onew membuka jendela kamarnya. Ia bertengger di sana sambil menggenggam sebuah diary. Benda itu masih baru, karena tadi pagi ia mendapatkannya dari tukang pos yang mengantarkan barang. Disana tertulis from: Seo Jung Lee To : Jin Ki Lee

Seojung membelikan diary itu saat ia masih di jepang, dan saat disana ia langsung mengirimi benda itu ke alamat onew. Makanya termasuk dalam pengiriman internasional. Diary dengan aksen klasik yang cocok untuk segala usia. Ukuran tidak terlalu besar, mudah di bawa kemana- kama, dan mainan kuncinya yang mungkin tidak mudah hilang. Onew menggoreskan tinta pena di lembar pertama diary itu.

‘my dream on tonight’

            Tuhan, sungguh indah hidup yang kau berikan selama ini. Bila ku putar lagi dari memori terdahulu, sungguh ku tak dapat menuliskan dan menggambarkan kenikmatan hidup itu.

Kau perkenankan aku untuk mengenal yeoja yang sempurna menurutku. Aku tidak tau kenapa hati ini berani menyebut yeoja yang sempurna. Tidak hanya wajah yang indah, namun perlakuannya terhadapku sungguh menghangatkan. Ia selalu memancarkan perasaan ceria di hadapanku. Ia selalu menentramkan jiwa yang terkadang gunda ini. Semangatnya dalam belajar memotivasi kehidupanku. Pesona cemberutnya membuatku semakin geli. Jujur saja aku suka melihat wajah lucunya ketika marah. Ia berhasil menyengat perasaanku. Sejak kehadirannya, aku tidak berani melirik wanita lain. Dalam banyanganku hanya ada dirinya. Lee Seo Jung.

            Aku tidak dapat membayangkan bila 18 tahun bersama yeoja itu. Setiap hari selalu ada limpahan kebahagiaan yang mewarnai serpihan demi serpihan hidup. Kim Ryeowook, namja yang di pilih tuhan untuk menampung limpahan itu. Sungguh…

Sebenarnya bila dipikirkan, aku bisa saja merebut hati Seojung untuk pindah ke hatiku. Namun, aku terlalu kaku untuk itu. Aku tidak punya kekuatan. Aku tidak cukup baik untuknya. Tuhan telah mengambil kekuatanku untuk mengusai perasaan yeoja impian itu. Tuhan, aku tau maksudmu. Aku tau kau memang sudah mempersiapkan hal itu untukku. Penyakitku, mungkin normalnya di sebut jantungku, ginjal, organ- organ penting tubuhku. Kau tidak menyempurnakan organ itu. Aku sendiri masih tidak tau kenapa sebegitu sulitnya rencanamu menembus nalarku.

            Aku tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan. Bila masih diberi kesempatan, maka aku akan sangat berbahagia. Aku masih menunggu kepastian dari harapan itu. Aku masih menunggu seseorang yang mau berbaik hati untuk mendonorkan ginjal dan jantungnya kepadaku. Namun, harapan itu sungguh tinggi untuk ku raih. Mungkin hanya malaikat atau bidadari khayalan yang rela mati untukku.

“tok,tok,tok” suara ketukan pintu menghentikan jemari onew yang tengah menorehkan harapannya di bawah bintang malam.

“ne, masuk saja. Tidak di kunci!”

Minho masuk, dan menghampiri Onew yang masih bertengger di jendela. Cepat- cepat ia menyembunyikan diary-nya tadi.

“hyung, apa tidak dingin?”

“aaanio. Tadi aku hanya mencari udara segar!” kemudian onew turun dan menutupi jendela.

“apa kau ingin menanyakan pr mu lagi?”

Setiap malam, minho biasanya selalu menanyakan perihal tugas- tugasnya kepada leader itu. Terutama yang berkaitan dengan mata pelajaran matematika. Sepertinya peranan Onew menjadi leader sangat komplit.

“anio. Aku ingin menanyakan soal hadiah yang kau terima hyung!”

“mwo? Hadiah yang mana?”

“kemarin pagi, aku yang menerima kiriman int ,jepang itu dari tukang pos. memangnya ada saudaramu yang di jepang sana ya?”

“tidak. Itu dari Seojung!”

“hah? Putri presdir maksudmu?” minho kelihatan aneh memikirkan hal tersebut.

“ne. memangnya kenapa?”

“tidak, tidak. Ternyata dia sangat baik ya hyung!”

“ye. Sepertinya dia bisa menjadi teman yang baik!”

“chingu? Sekedar itukah? Apa kau tidak mau menjadi namja chingu-nya hyung?”

“mwo?” Onew tergagap mendengar hal itu. Ia canggung sekali kalau ditanyakan soal cinta.

“tidak mungkin.”

Minho pun mulai beralih topik.

“kau tau tidak hyung, waktu itu dia pernah memberi tumpangan kepadaku!”

“benarkah? Dimana?”

“saat itu kau tidak mau menjemputku ke sekolah. Dan kebetulah nonna itu lewat dan katanya juga ingin ke kantor SM. Makanya dia menumpangiku di mobilnya!”

“owh, benarkan. Dia yeoja yang sangat baik kan! Ku pikir dia benar- benar tulus melakukan hal baik itu!”

“ne. dan sepertinya dia sangat ramah. Karena selama di perjalanan waktu itu, aku nyaman sekali berbicara dengannya. Ia bisa menyesuaikan..”

“hm, iya. Itulah dia! Btw, apa kau hanya ingin mengatakan itu?”

“ne.” minho tersenyum simpul setelah mengganggu konsentrasi onew menulis diary. Seperti tadi, onew kembali bertengger di jendela untuk mencari posisi yang nyaman seperti tadi.

            Jika di beri harapan, aku sungguh akan memanfaatkan hidup ini sebaik mungkin. Namun jika tidak, aku tetap yakin ada rencana tuhan yang lebih indah di surge nanti.

Dalam coretan kertas harapan, aku ingin selamanya melihat seojung tersenyum. Melihatnya lulus dari kuliah teknik. Melihatnya menjadi presdir muda berbakat. Melihatnya tumbuh menjadi gadis dewasa. Melihatnya hidup bahagia dengan namja pilihannya. Sekalipun itu bukan diriku. Namun akan kusanggupkan perasaanku untuk melihat yeoja manis itu. Apakah diriku, Key,Ryeowook atau yang lainnya aku pasrah menunggu hal itu.

            Tuhan, aku tidak meminta lebih. Ku harap harapan- harapanku itu sampai di benakmu. Ku harap kau mengerti harapanku itu. Sekali lagi, aku hanya ingin melihatnya bahagia dengan senyuman simpul itu.

*****

Seojung berbaring di rerumputan hijau memandangi langit biru di taman belakang rumahnya. Ryeowook datang. Namja itu melambai- lambaikan tangannya di depan muka yeoja yang tengah bermenung itu. Seojung pun langsung terduduk.

“segitu pentingkah aku bagimu?” pikirnya.

“seingatku, malam itu saat ku telefon kau, kau bilang sangat sibuk, tidak bisa di ganggu. Karena aku memang tau tesis itu sangat berpengaruh terhadap kelulusan mu nanti. Aku mengerti. Aku kan juga pernah kuliah, makanya aku bisa membayangkan kesibukan mu itu. Tapi, mungkinkah malam itu juga semuanya sudah selesai? Secepat itukah???”

“anio…”

“coba saja bayangkan. Misalnya kemarin kau selesai risetnya. Dan tesis itu besoknya langsung selesai? Mustahil kan. Sehebat apapun kau, semua itu tetap butuh proses. Apa mungkin ada maksud lain? Mmm… coba kau pikirkan lagi, kenapa kau tidak memberi tahuku soal kepulanganmu waktu itu? Aku kan tidak pernah bilang kesulitan bila menjemputmu ke bandara? Tidak mungkin kau lupa! Itu aneh kan?”

“aku tidak ingin berlama- lama di Jepang…”

“apa kau bersama pria lain ke sini? Pria dari jepang kah? Makanya kau pulang diam- diam?”

Ryeoowok menyela. Seojung langsung menabok namja itu.

“yak, sembarangan sekali kau bicara. Mana mungkin aku seperti itu. Hina sekali diriku bila harus menunda tugas demi seorang namja.”

“geuttae…?”

“hm,… “ Seojung mengambil nafas panjang, “aku punya masalah pribadi makanya harus cepat kembali ke Korea!” Jawab Seojung singkat.

Ryeowook terdiam mencerna kalimat itu. Perasaan bersalah menyelinap di sekujur tubuhnya.”maafkan aku yang telah berprasangka buruk kepadamu. Maafkan aku Seojung. aku sungguh keterlaluan mengkhawatirkan mu. Sungguh, aku tidak tau jika kau punya masalah pribadi. Maafkan aku!” batinnya.

“lagian, apa kau tidak senang bila aku cepat pulang?”

“tidak, aku senang kau kembali lagi!”

Mereka berdua duduk di atas rumput dan bersama- sama memandangi cerahnya langit biru. Kemudian Ryeowook mendapat telefon, dan ia terpaksa pergi…

*****

            Tidak tau mengapa, dampak dari kejadian buruk terkadang mengubah pribadi seseorang. Seojung jadi sangat pendiam setelah itu. Setiap hari hanya diam, diam, dan diam dari semua kesenangan. Ia tidak berani buka mulut soal skandalnya di Jepang. Ia berpikir cukup tuhan dan dirinya yang tau, maka itu akan lebih baik. Ketertutupan itu membuat Seojung melupakan kebahagiaan hidupnya di masa datang. Ia sudah mulai tidak percaya dengan yang namanya cinta. Karena cinta itu sudah mati untuk dirinya. Kalau saja di dunia ini ada cinta, maka tidak mungkin kejadian itu tepat sasaran kepada dirinya.

**

Seojung berhasil menyelesaikan kuliahnya di usia yang tergolong muda, 20 tahun. Ia pun segera ditelfon oleh eommanya untuk langsung pergi ke California. Eomma  ternyata sudah menyiapkan pekerjaan untuknya. Ia akan diangkat menjadi ketua pimpinan tim. Dan setelah usianya 23 atau 25 tahun baru diangkat menjadi presdir. Dengan berat hati Seojung meninggalkan Korea setelah beberapa hari ia wisuda. Tapi ia tidak memberi tahu Onew ataupun Key bahkan Ryeowook juga tidak dikasih tau. Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

“Ryeowook ah.” Panggil presdir.

“oh ne presdir.” Jawab Ryeowook membungkukkan badan. Mereka akan melaksanakan meeting selanjutnya dan semua member SM belum berkumpul jadi belum dimulai.

“titipan dari Seojung!” ucap presdir sedih sambil menyodorkan sebuah surat. Ryeowook terdiam menerimanya. Pikirannya berkecamuk. Rasa cinta mulai membara lagi, tapi yang kali ini cinta sebagai sahabat. Ryeowook masih ingin menyenangkan Sahabatnya itu, ia akan senang bila bisa melihat Seojung hidup dengan orang yang dicintainya sekalipun itu bukan dirinya. Yap benar, ia sudah merelakan Seojung tidak menjadi miliknya. 18 tahun lamanya mereka bersama ia relakan demi kebahagiaan yeoja itu.

“kemarin dia berangkat ke California dan langsung bekerja di Pt. Microsoft eomma-nya. Ia terpilih menjadi ketua pimpinan tim.”

“mwo?” semua yang ada diruangan itu terkejut.

“apa Seojung tidak akan kembali lagi?” tanya Donghae yang juga khawatir.

“mungki suatu saat bila ia ingin menemui appa-nya!” jawab Presdir.

“kenapa tidak ada salam perpisahan dulu! Kenapa presdir tidak bilang dari kemarin?” tanya Eunhyuk.

“Seojung tidak ingin kalian bersedih melepas kepergiannya. Ia yakin diantara kalian juga pasti ada yang tidak rela dia tinggal lama di California.”

Onew dan Key yang baru datang juga disodorkan sebuah surat oleh presdir. Ryeowook, Onew dan Key terhanyut oleh isi surat tersebut. Bayangkan saja, Seojung menyuruh ketiganya untuk mencari pacar dan melupakan dirinya, melupakan cinta. Apalagi Seojung juga tidak ingin ditelefon, tidak ingin dikirimi e-mail dan semacamnya. Dan ia menekankan akan fokus pada pekerjaan dan mengubur semua perasaan cinta.

TBC…

Emm, d begin part 4 ini, jjur aku ikut trharu mnulisnya… ck|ck|ck…

Buat para readers, yg udh nunggu”in part 4, mian ya, kelmaan… yg pnting kn skrang udh d publish….biasa__ comments, saran,kritik, all of..  lah…..

37 thoughts on “Pray to Love [part 4]”

      1. hehehe, apa lg yg mo dbantu mi???
        bantuin ngetik sih ok, tpi mna mgkin km mw ngebcorin next partnya… apalg aku trmasuk yg pnsaran kli ini… ckckck

      2. hehe, namanya juga reader,, reader sjati ini…
        tw lah aku gabisa buat fanfic… mksudnya ga pndai merangkai imajinasi itu jd tulisan…. hm,

  1. sesek bacanya… X____x
    onew sakit parah,,, wookie ngorbanin prasaan… seojung ngorbanin prasaan juga,,salah,,, tepatnya ngorbanin “hatinya”,,,
    napa smuanya harus nelen pil pahit,,,, T_____T
    smangat thor buat next chapternya y,,,, i’m waiting….

  2. Kasihan banget mereka ( Seojung, Ryeowook, Onew) mengorbankan perasaan demi orang yang dia sayangi..
    Penasaran banget akhirnya Seojung milih siapa?
    Di tunggu part selanjutnya y…

  3. huwa, begin story-nya sih sukses menjawab prtanyaan aku,,,, haha kasihan onew ikut kecebur kolam…
    tapi, onew sakit? kanker? biasanya brjung pada dead?? owh,, jangan_jangan_jangan, trus klau onew nya **** seojung sama Ryeowook ya? atau key???

    uahh, dtunggu bgt nih next partnya…

  4. gimana ya? kemaren galau, skrang udh trjawb kgalauan itu! dan skrg galau lagi… penasaran tingkat tinggi nih thor!!!ZZZZZZZ
    btw, key kok, g kluar” ya di part 4 ini??
    *ngambek hahaha

  5. chingu aku suka ff mu,,, aku jg g tw chingu > atau < dri aku…
    mmm, biasku ada di main casts smwnya chingu… mknya trtrik bgt bcnya…
    next chap d tunggu ya chingu….

  6. wa, thor please dh, ga tega ngebayangi onew… mnderita…
    dtambah lagi pas leher seojung berdarah- darah…wuuu, pasti lbh pdih dri skit hati….
    mmmm,, Seojung sama onew aja thor, kshan jantungnya… ^,^

  7. onew oppa berbakat merangkai kata” buat nulis diary… ckckc *dgaplar author…
    Ha, onew knp bsa smalang itu nasibnya….
    bkin massa yg indah”nya dong thor…
    n gmana th, biar g ada yg trsakti???

  8. cepat- cepat cepat,, please thor, next partnya di percepat… aku dan para readers jg pnasaran…. next chap-nya gmanaya????
    uahh, ga bsa nebak jg nih, kayak d sekmen galau wktu itu;….5q534yu298ryewiy7yrzzzzz

  9. Aaah knp seojung ky gt… Ga mw share kejadian d jepang.. Ud gt ninggalin 3 namja tanpa pmberitahuan…. Mdh2n next part ga bkin galau.. Hmmm stlh bbrp taun seojung plg k korea mgkn? Hmm prusahaanny pndah k korea ato buka cabang br? Hehehe.. Yaah khayalan aq dee..

  10. hahh,, seojung niru” sikap aku tuh, nggk mw ngsih tw prmasalahan ke orang lain…*plaaakk,,,
    www hebat tuh, tmat kuliah lagsung krja d prssahaan california lgi,,, dan stelah 3 thun bkal jadi presdir… great great great!!!
    btw, onew ryeowook key gmana donk thor?? nsib mereka???
    next chap nya harus cpat ya thorrrrr….

  11. aish,,, mian mian mian thor,telat bacanya…
    ONEW,, jangan sakit dong…
    RYEOwook yg sabar aja…
    Key pasrah,,, emm, kayaknya harapan key yg pling kecil,..😄 thor…
    next part- next part….

  12. hwa, andaikan aku jadi seojung, pasti aku bakal milih onew,,,, dan nyuruh key mendonorkan ginjal, lalu ryeowook sbaiknya mw mndonorkan jantung…😀😀
    hight imagination…
    next chap scpatnya ya thor….

  13. Wah…. Sedih bgt Onew, Key, and Ryeowok😦
    semoga bkan salah satu dari tokoh utama itu yg mendonorkan jantung ama ginjal bwt Onew, alx nnt jdi tragis bgt TT^TT
    Author daebak bgt lah….
    Update soon
    Fighting❤

  14. hwahhh, author trharu bcanya.. apalgi begin storynya….
    tpi, udh nympe akhir jd sedih…onew oppa…. thor jgn smpe onew nya ga bernyawa ya!!!
    mdh, mdhan ini bkan mksd dr sad ending nya!!!
    ^_^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s