[Half Version – STEP 6] The Pain of This Marriage

Title : The Pain of This Marriage [Step 6 : Goodbye]
Author : VanFlaKets91 (@van_alexasntani)
Genre : AU, angst, romance, friendship, family, sad
Length : chapter (this part is 62 pages)
Rating : PG+
Main cast : Kim Hyunra (OC), Choi Minho & Kim Keybum SHINee
Support cast : Jung Hyorim (@_ECHAimnida_), Ahn Jaekyo (@aajni537), Kim Jonghyun, Lee Taemin SHINee, Ahn Myongri (OC)
Other cast : Lee Jinki SHINee, Jessica Jung SNSD, Kang Eunrin, Cho Hoongki, Kim Richan (OCs), and still hidden…
Disclaimer : the plot and its cover are belong to me as the owner. Please don’t be a copycat.

Author’s Note : Enjoy the 6th part of TPTM! Maaf banget aku ingkar janji yang kataku mau publish januari. Beneran deh aku sibuk banget nget ngettt T,T maafin yaaa~~! Aku pikir kalian akan kecewa dengan step ini. Aku pribadi merasa ceritanya membosankan T.T maafin….
Sekarang kebijakan password (?) berubah. Aku akan password hanya step yang berjumlah lebih dari 45 halaman dan setiap step yang di pw aku akan publish half-versionnya buat narik readers baru ^ ^ 

Background songs :

  • Better , Stranger, One For Me, To Your Heart, Quasimodo – SHINee
  • The Name I Loved – SHINee Onew ft Kim Young Woo
  • Because I’m Stupid – SS501
  • My Immortal – Evanescence 

***

Percuma, mempertahankan pernikahan yang tidak dilandasi cinta dengan hati yang tidak ada pada jalan yang lurus. Selamat tinggal, Love.

***

You are the only one I’ve decided to protect
Stranger – SHINee

HAPPY READING!
***

Suara jam weker terdengar membahana ke setiap sudut ruangan luas itu. Sayangnya meski suara jam weker berwarna hitam itu berteriak sekencangnya tidak mampu membangunkan –ah , lebih tepatnya ia yang ‘tidak mau’ bangun.

Kring… kring…

Lagi, jam weker itu berteriak dengan nyaring berusaha membangunkan lelaki tampan yang terkapar seperti orang mati di atas kasur.

Kring…!

“Ara, ara, aku bangun!” seru lelaki itu kesal tanpa mau membuka matanya sama sekali. Kerutan di dahinya terbentuk dengan spontan saat ia mengucapkannya.

Setengah tidak sadar, dia akhirnya bangkit dari tidurnya. Melamun sebentar yang katanya berguna untuk mengumpulkan nyawa kita yang ‘terbang’ saat kita tidur.

Ia merasa ada sesuatu yang hilang pagi ini. Tapi, apa?

Terus berpikir sambil berdiri, berjalan mendekati cermin di hadapannya. Ia menatap bayangan kedua matanya sendiri untuk menyelami pikirannya dalam-dalam.

“Biasanya ada suara nyaring yang memenuhi telingaku saat aku akan bangun, bukan suara jam weker itu… bahkan suaranya lebih dulu terdengar daripada jam.” Ia bergumam kepada diri sendiri sembari berbalik dan menatap kasurnya yang agak kusut. “Hyunra,” ia bergumam kembali dan mendekati kasur itu.

Rasa kantuk akibat ia baru tidur tiga jam yang lalu tidak lagi menguasainya. Seluruh pikirannya terpusat kepada satu hal. Di mana Hyunra? Di mana yeoja bersuara tinggi itu? Ke mana dia? Astaga, pertanyaan itu terlalu banyak memenuhi otaknya.

Telepon pribadi di kamarnya berdering, mengagetkannya yang baru saja mulai memasuki pikirannya sendiri untuk mengingat kejadian semalam.

“Yobosseyo? Ah, Seohyun-ssi. Aku dan Hyunra…” Minho terdiam sejenak menelan ludahnya. “…kami baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Kami tidak masuk hari ini. Tolong handle semua tamuku, ya. Ah, itu, Hyunra sakit jadi yaa aku harus mengantarnya ke dokter. Hehehe.” Minho menyeringai gelisah karena telah berbohong pada karyawan sekaligus salah satu sahabatnya itu.

Minho melirik jam dinding yang tergantung manis di atas pintu kamarnya. Pukul 08.45 KST.

***

Lorong rumah sakit masih dipenuhi para staff maupun orang-orang biasa yang berlalu lalang. Suara merdu Lee Ji Eun, penyanyi soloist kondang Korea terdengar memenuhi lorong rumah sakit dari speaker. Mungkin saja yang memutar lagu ini adalah penggemar IU – Lee Ji Eun – karena daritadi lagu IU yang selalu diputar.

Key baru saja keluar dari ruang bedah. Wajahnya tampak lelah dan sedikit bulir-bulir keringat terlihat di dahinya.

“Chukkae, kau baru saja berhasil menyelamatkan satu nyawa pasien lagi.” Jessica sudah berdiri di sampingnya sembari memasukkan kedua tangannya ke kedua saku jas putih miliknya.

Sedikit terkejut karena Jessica sudah berdiri di dekatnya, Key hanya membalas dengan senyuman khas miliknya sembari melepaskan masker hijau yang ia pakai.

“Tuan Han sudah selamat dan berhasil melawan mautnya,” ujar Key kepada keluarga pasien yang baru saja ia tangani jantungnya bersama beberapa dokter lainnya. Mengabaikan Jessica untuk sejenak.

“Jinjja? Kamsahamnida, Uisa-ya! Kami tidak tahu harus bagaimana membalas jasa anda!” seru seorang perempuan sambil menangis bahagia. Di sebelahnya ada seorang perempuan dan seorang lelaki tersenyum senang.

“Berterimakasihlah pada Tuhan. Tanpa-Nya aku tak mungkin bisa menyelamatkan Tuan Han. Jika anda mau menjenguk silakan. Beliau sudah dipindahkan ke kamar inapnya.” Key tersenyum seramah mungkin dan mengantar kepergian keluarga pasiennya dengan tatapan sendu.

Ia senang bisa menyelamatkan orang lain, tapi ia benci mengingat kenyataan bahwa ia tak mampu menyelamatkan Hyunra kemarin.

Key menghela nafas panjang dan berbalik, “Kau tidak praktek, Noona?”

Jessica yang sedari tadi melipat tangannya di depan dada dan bersandar di tembok meluruskan tubuhnya, “Ini jam istirahat, Key.”

Key membulatkan mata dan melirik jam tangannya, “Baiklah. Aku mau menengok Hyunra, kau mau ikut, Noona?” ajak Key sembari mendekati Jessica. Jessica tersenyum ramah dan mengangguk – mengiyakan ajakan Key.

Hyunra memang selamat dari maut, tapi ia masih berjuang melawannya. Key sendiri yang memeluk Hyunra saat truk itu menabrak Hyunra. Untungnya truk itu telah berhenti saat ia menabrak tubuh Hyunra, sehingga Hyunra tidak mengalami patah tulang atau apa. Untung ia hanya pendarahan kecil di kepalanya. Untung ia selamat. Heran, cedera saja dibilang untung.

“Truk itu, tepat ketika mengerem, ia menabrak Hyunra, benar?” tanya Jessica saat mereka sedang menyusuri koridor.

Key menarik nafas dan mengangguk, “Ya dan bodohnya aku mendorong dia ke samping sehingga kepalanya terbentur trotoar. Aku tidak tahu apakah dia sudah sadar atau belum setelah operasi dadakan semalam untuk menangani pendarahan di kepalanya. Aku khawatir.”

“Khawatir dia amnesia atau nyawanya?”

“Dua-duanya, tapi untuk amnesia sepertinya aku akan mensyukuri itu.” Key mengerlingkan sebelah matanya dengan tatapan nakal. Jessica melongo mendengar jawaban hoobaenya. Key tertawa kecil, “Hanya bercanda.”

Jessica menghela nafas lega, ia kira Key akan nekat begitu.

“Hei, Hyung!” sapa Key kepada Jinki yang notabene adalah dokter yang menangani Hyunra. Kebetulan ia baru keluar dari kamar inap Hyunra. Suster yang membuntuti Jinki segera pamit pergi melanjutkan tugasnya.

Bisa dibilang Jinki sahabat Minho dan Key karena ketika Minho dan Key masih akur pada jaman mereka masih SD sampai SMP, Jinki sudah menjadi sahabat mereka. Tidak ada rasa canggung lagi di antara mereka.

Jinki menerawang. Sejak orang tua Minho dan Key bercerai, mereka berdua jadi jauh. Minho dibawa ayahnya dan Key dibawa ibunya ke Jepang. Jinki tak menyangka jika Key akan kembali dan jadian dengan Hyunra –musuh yang sekaligus Minho sukai (yah, meski lelaki itu tak sadar). Lalu, Key pergi ke Amerika karena Richan tidak menyetujui Hyunra bersama Key. Entah ada masalah apa.

“Jinki?” Jessica melambai di depan mata Jinki. Segera saja Jinki tersadar dari lamunannya dan tertawa canggung.

“Ah, hahaha. Mianhae. Kalian mau menjenguk Hyunra?” tanya Jinki sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal.

“Aku hanya mengantar, sekalian lewat. Titip salam jika  Hyunra sadar. Aku ada urusan nih. Annyeong!” balas Jessica tersenyum manis dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Sepeninggal Jessica, Key langsung masuk tanpa memedulikan Jinki.

Jinki ikut masuk sembari menatap Key dan Hyunra yang masih terkapar tak berdaya itu dengan pandangan khawatir.

“Kau tak mau makan siang dulu?” tanya Jinki sembari memutar otaknya. Key menoleh sebentar dan kembali menatap Hyunra dengan ‘aksesoris’ rumah sakit menempel di tubuhnya. Dia menggeleng dan itu bisa menjadi satu jawaban untuk Jinki.

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu.” Jinki berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan. Ia mengintip dari balik kaca yang terletak di tengah pintu. Tertegun ketika melihat Key duduk di samping Hyunra, menggenggam tangan lemah itu dan mencium punggung tangan Hyunra.

Jinki menyipitkan matanya – menjadi semakin sipit – untuk melihat kejelasan peristiwa di depannya.

Ia tertegun lagi menyadari setetes air mata menuruni pipi lelaki tampan itu. Dengan perasaan campur aduk, ia merogoh sakunya dengan cepat. Menekan beberapa digit angka.

“Minho harus tahu keadaan Hyunra secepatnya. Aku tak boleh membiarkan Key mengganggu hubungan rumah tangga… ehem, yobosseyo?”

***

Minho PoV

Sudah jam dua belas? Ya, aku tidur lagi saat jarum jam sedang bergerak menuju angka sembilan. Oh, ayolah. Aku lelah dan aku tidak bisa tidur nyenyak.

Aku tidak tahu berapa lama aku terpejam di atas kasur empuk berukuran king size di dalam kamarku ini. Satu yang jelas kutahu, tadi malam aku mabuk dan dibawa oleh Hyorim ke sini. Yah, meski mabuk aku masih bisa mendengar ia meracau kesal karena tingkahku yang senonoh –menciumnya sembarangan.

Bodohnya, aku membayangkan bahwa dia Hyunra. Aish! Kenapa, ya? Bukankah dari dulu aku menginginkan Hyorim? Tapi, kenapa kemarin… aaah! Molla. Membuatku pusing saja.

“Errrgh,” erangku kecil sembari menempelkan tangan kanan di keningku. Pusing sekali, aku hanya meneguk beberapa botol soju ditambah sebotol brandy. Kenapa bisa begini? Bodohnya aku mencium orang lain hahahaha.

Perlahan, aku mulai beranjak dari kasur, berjalan lambat yang mungkin lebih lambat dari siput.

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar di hadapanku. Terdapat kantung mata di kedua mataku –hasil tidak tidur semalaman. Aku baru berhasil tidur sekitar pukul enam pagi tadi. Aku terpaksa bolos hari ini. Biarlah, sekali-kali direktur melakukan kesalahan. Manusia kan tidak sempurna, ne?

Bagaimana aku bisa tidur sementara istriku di luar sana, entah ada di mana. Ya, Tuhan, bahkan kami belum sebulan menikah. Masalah sudah datang bertubi seperti ini, apa karena faktor pernikahan yang terjadi karena salah paham ini, eoh?

Begitu sampai rumah kemarin, aku tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Sepi. Pelayanku pun pasti sudah tidur. Ada yang mengherankan, Hyunra tidak ada di manapun. Sampai sekarang.

Aigo, Hyunra Kim, kau berhasil membuatku khawatir sekarang. Ke mana aku harus mencarimu?

Untunglah Soo noona belum kembali dari Busan, aku bisa menenangkan diri dan menghindari pertanyaan : ‘ada apa dengan kalian?’Bagaimana bisa aku menceritakan yang sebenarnya kepada yeoja satu itu? Dia akan mengomel karena kebodohanku.

Seharusnya aku tidak sebodoh itu, meninggalkan Hyunra di tengah jalan demi Hyorim. Hei, benarkah demi Hyorim? Apa bukan demi diriku sendiri?

Aish!

Ponselku menyelamatkan pemiliknya ini dari rasa bersalah dengan bunyi nyaringnya. Tanpa kulihat siapa penelponnya, segera saja aku menjawabnya. Kurasa panggilan itu cukup penting untuk mengganggu pemikiranku mengenai keberadaan Hyunra.

“Yobosseyo?” tanyaku sedikit tergesa. Mataku berputar dan terhenti tepat di kaca jendela kamarku. Menatapnya lurus sembari mendengarkan baik-baik suara di seberang sana.

“Yobosseyo, Minho-ya! Sebaiknya kau ke rumah sakit tempatku bekerja karena…”

Astaga, aku hafal betul suaranya. Ini Lee Jinki, si dokter yang sangat baik dan tidak pernah menyerah untuk membuatku berbaikan dengan Hyunra, dulu. Kujauhkan ponselku dari telinga dan membaca namanya. Benar, kan? Lee Jinki.

“Aigo, Jinki-ya! Kau tidak tahu aku sedang ada masalah? Nantilah kita ketemuan. Aku tahu kau kangen padaku, Sobat!” potongku kesal. Bagaimana bisa dia ingin aku datang ke sana sementara aku harus mencari istriku?! Seandainya dia tahu apa masalahnya, kuyakin dia akan berkhotbah sekarang juga.

“Kau ini gede rasa sekali, sih! Aku hanya ingin memberitahu kalau kau harus segera ke sini. Ada sesuatu yang penting dan ini menyangkut Hyunra.”

Tutt… tut…

“Jinki! Jinki! Aish!” keluhku menyadari bahwa lelaki itu sudah memutuskan sambungannya. Aku meletakkan ponselku di meja rias setengah dibanting. Ada apa sih? Kau membuatku semakin gila, Jinki-ssi!

***

“Jadi ini panti asuhannya?” tanya Jongwook sembari mengusap dagunya. Jonghyun mengangguk senang. Ini idenya. Ide untuk menyumbang sembako dan kebutuhan pokok lainnya kepada panti asuhan ini memang idenya. Senang sekali mengetahui bahwa ahjussinya sangat mendukung kebijaksanaan Jonghyun.

“Panti asuhan Sangrok. Kau setuju, kan?” tanya Jonghyun sambil menghadap ahjussinya yang tinggi tegap itu dengan wajah cemas.

Jongwook tertawa, “Wajahmu sudah mirip si Roo saja! Anjingmu semakin besar dan sehat dirawat di rumahku. Kapan mau menengok?”

Jonghyun memberengut karena wajahnya disamakan dengan Roo, tapi ia kembali mengumbar senyum mengingat ekspresi lucu Roo, “Ah, nantilah kalau aku dan Hyunra sama-sama cuti. Kami akan berkunjung ke Busan.”

Jongwook mengangguk-angguk dan kembali menatap suasana panti asuhan yang rapi ini sementara Jonghyun sedang sibuk bicara dengan pengurus panti untuk proses pemberian sembako itu.

Matanya yang mulai tua tiba-tiba berbinar melihat seorang gadis dengan rambut dikuncir tinggi dan kaus V-neck datang menghampirinya dengan pandangan bingung.

Jongwook tersenyum senang, entah kenapa ia merasa gadis itu cocok untuk Jonghyun. Barangkali saja Jonghyun sudah bisa melupakan Myongri.

“Ahjussi?” Gadis itu menyapa dengan nada setengah terkejut setengah heran.

“Ahh, Ahn Jaekyo! Kita bertemu lagi!” seru Jongwook riang. Jonghyun yang sedang berbicara serius dengan pengurus panti langsung menoleh dan membelalakkan kedua matanya. Begitupun dengan Jaekyo. Dua pasang jendela penglihatan itu saling bertemu dan pupil masing-masing melebar.

“NEO?!”

***

“Bangunlah, Jagiya…” bisik Key sembari menatap Hyunra miris. Perban melingkar di kepala wanita itu sementara selang oksigen bertengger manis di hidung bangirnya. Wajah Hyunra yang cantik itu pucat sementara ekspresi sedih tergurat jelas di sana.

“Kau ingat? Dulu kita membuat angsa kertas bersama, sampai malam dan akhirnya jatuh tertidur sampai pagi di halaman rumahmu, bukan?”

Key mendekap tangan Hyunra sementara kedua matanya tertuju kepada wajah wanita yang sampai sekarang masih mengisi ruang hatinya itu.

“Seandainya kau tidak menikah dengan Minho… aku akan membawamu jauh dari ummaku dan kita hidup bersama…” Kedua berliannya mulai berkaca-kaca sebelum sedetik kemudian tidak lagi mampu bertahan hingga dua tetes air mata keluar dengan sukses menuruni pipinya. Ia berharap Hyunra akan merespon. “…aku masih ingat janjiku untuk memilikimu. Janji kita.”

Key mengatur nafas dan emosinya yang tak terbendung, “…dan aku berjanji akan melakukannya. Aku akan merebutmu dari Minho, tidak peduli betapa aku menyayanginya. Kau tahu? Dia adikku. Adik seayah. Aku tak dapat membayangkan ekspresimu jika tahu itu.” Key mulai menangis. “Sangat sulit memilih di antara cinta dan adik sendiri, Hyunra-ya. Kumohon sekarang bangunlah, jangan membuatku sedih. Atau jawablah aku…”

Key memejamkan kedua matanya dan mengeratkan kelopak matanya, membiarkan air matanya semakin mengalir deras. Ia benci harus menyadari sisi lemahnya. Sisi lain dari seorang Key yang kuat dan ceria.

“Jeongmal saranghae, Kim Hyunra. Yeongwonhi.” Ia bergumam sambil membuka matanya. Tepat saat itu ia tertegun. Di sudut mata Hyunra yang terpejam, setetes air mata turun dengan mulus meninggalkan jejak di sepanjang sudut mata sampai telinga wanita itu.

“Hyunra…” bisik Key mengeratkan dekapannya terhadap tangan Hyunra. “Aku tak akan melepaskanmu. Aku berjanji.”

Peristiwa itu terjadi begitu cepat di depan dua pasang mata yang sedang melihat mereka dari balik jendela di pintu kayu itu. Tangan salah satu dari mereka terkepal sementara ekspresi putus asa tergambar jelas di wajahnya.

***

Suasana kantin mulai lenggang karena jam istirahat bagi para staff sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Hanya terlihat beberapa staff yang waktunya kosong sedang  menikmati makan siang. Salah satunya Jinki.

Ia tidak sendiri. Minho dengan sweater hitam dan jins berwarna putih tengah duduk di seberang Jinki sambil menikmati secangkir kopi.

“Kau kurang tidur, yah?”

Minho berhenti memainkan sendok  yang sedang dipakainya mengaduk cairan berkafein di hadapannya dan menatap Jinki dengan sebelah alis terangkat, “Tahu darimana?”

Jinki tertawa kecil, “Aku dokter dan lagipula kedua kantung matamu menjelaskan semuanya,” balas Jinki cuek. Ia kembali menyantap sepiring nasi lengkap dengan ayam goreng di hadapannya. Minho tidak menjawab dan malah melamun. Tidak berniat menanyakan tujuan Jinki menyuruhnya datang ke sana.

“Tumben diam?” Jinki meneguk air mineralnya. Minho melirik piring Jinki yang sudah bersih kemudian menatap Jinki.

“Kenapa memangnya? Hyunra tidak ada di manapun dan aku… er… katakanlah, khawatir.” Jika Jinki tak tahu apa yang menimpa Hyunra, ia akan tertawa terbahak. Tapi, tidak untuk saat ini.

“Memangnya kalian ada masalah apa?” Jinki berusaha menetralkan suaranya agar Minho tidak mendengar sesuatu yang tersembunyi di balik nada suara Jinki. Minho menarik nafas dan mulai menceritakan semuanya. Mulai dari masakan yang ia masakkan untuk Hyunra sampai ia meninggalkan Hyunra di jalanan.

Jinki menatap Minho dengan pandangan yang tak dapat diartikan kemudian menghela nafas, “Habiskan kopimu. Akan kutunjukkan sesuatu.” Minho mengernyitkan dahinya dan mengibaskan tangan sembari menyandar di kursinya.

“Sudah cukup. Aku malas menghabiskannya.”

“Kalau begitu kau harus ikut aku sekarang.”

……………

Tring!

Pintu berwarna perak itu bergerak ke kanan, memberi jalan bagi kedua namja tampan di dalam box yang tidak bisa menampung terlalu banyak orang itu untuk keluar. Minho melirik angka yang tertera di mesin digital di pojok atas lift.

Lantai tiga? Ia bergumam di dalam hati sembari mengikuti Jinki dan menatap punggung sahabatnya itu dengan heran.

“Sebenarnya kau mau membawaku ke mana?” tanya Minho tidak tahan untuk bertanya. Jinki tak menjawab, ia malah berhenti di depan sebuah pintu ruangan dan berbalik menghadap Minho. Ia menunjuk pintu itu dengan jarinya. Minho yang tertinggal beberapa meter itu mempercepat langkahnya.

“Ada apa?”

“Lihat.” Jinki membalas dengan singkat dan menyuruh Minho melihat dari jendela berkaca agak buram yang tertempel di pintu.

…dan Jinki berani bersumpah bahwa saat itu adalah moment paling bersejarah di mana Minho mengepalkan tangannya bersamaan dengan munculnya ekspresi putus asa di wajah tampannya.

***

Key menghapus air matanya dan tersenyum lembut meski ia tahu bahwa Hyunra tidak melihatnya. Diulurkannya tangan kirinya sendiri untuk  menyusut air mata Hyunra. Ia berdiri dari duduknya ketika menyadari bahwa ia harus kembali ke ruangan prakteknya, ia harus profesional dengan pekerjaannya.

“Aku harus bertugas, Jagiya. Aku akan kembali lagi ke sini jika tugasku sudah selesai.” Key membungkuk, mendekatkan bibirnya kepada pipi Hyunra. Mengecup permukaan kulit pipi wanita itu dengan perasaan campur aduk.

Tepat saat Key berbalik hendak berjalan menuju pintu, ia dikejutkan dengan pintu yang terdorong ke dalam. Bukan, bukan itu yang membuatnya terkejut. Tapi kenyataan bahwa orang yang membuka pintu itu adalah orang yang paling ia hindari-lah yang membuatnya kaget.

“Lama tak berjumpa, Kim Kibum.” Orang itu tersenyum tawar saat mendapati sorotan tajam Key menghujani dirinya.

Key berdesis sambil menyeringai dan berjalan mendekati orang itu – Minho – yang sedang mengamati gerak-geriknya. Mendekatkan mulutnya sehingga jarak mulutnya dan telinga kiri Minho tidak jauh.

“Aku akan mengambilnya, aku janji.”

CUTTT!! 

Buat yang mau baca full partnya yang sepanjang 62 halaman yang dibuat dengan susah payah, angin badai, dan tsunami (?) boleh minta passwordnya.

Lalala~~ kenapa aku protect sih padahal gada NC? Aku gamau ada SIDERS karena step 6 ini menguras hati dan pikiranku sampai aku depresi beneran! -____-”

Klik ini buat full part >> [Full Version – STEP 6] The Pain of This Marriage [Password Protected!!]

Buat yang mau baca full part, bisa minta password dengan format :

  • Username komentar kalian :
  • Blog kamu membaca TPTM :

Kirimkan ke email vania.alexandria@gmail.com. Kirim ke facebook boleh, tapi dibalesnya cuma hari Sabtu-Minggu. Di Twitter? Harus follow dulu supaya bisa kirim DM akunya. 

48 thoughts on “[Half Version – STEP 6] The Pain of This Marriage”

  1. Aaaaaaaahhhhhhhhhh……… (‘.’)
    Cutny bkin q histeris,,,.,
    Pas lg panas2xny kok di cut sich,,T.T
    eonnie bnr2x pandai bgt bikin q makin + penasaran, dn + smangat tuk baca lnjutany ..(‘.’)a (-:

    Eonnie,, nnti email q dbls ya……

  2. ah lg seru…..
    minho n key y lg bersaing nih,,,,, hyunra y masi hidup n takut nanti hyunra y lupa ungatan trus ma key lg…
    q mau minta yg full version,,, minta lewat email ya jgn lupa d blz….

  3. akhirx publish,hohoho
    Q sbnrx biasa baca TPTM bukan d blog ni tpi d blog laen.trnyata d sni lbih cepet publish.hoho
    lanjut yg k full ver, gomawo pwx chingu ^^

  4. akhirnya publish juga, seneng deh …
    persaingan minho dan key buat ngerebutin hyunra makin terasa ya ? gimana reaksi omma key ya ? trus setelah hyunra sadar apa dia bakal hilang ingatan ?? wah kalau gitu kasihan minho dong. tapi gag apa deh biar perasaan minho maikn mantap ke hyunra waduh makin penasaran nih jadinya

  5. akhirnya keluar,😀
    perasaan pernah komen dimana ya? tapi bukan di blog ini.. -,-

    itu minhonya cemburu deh, ciyee.. tapi aku lebih suka sama key, dia lembut, perhatian..

    makin seru! semangat!

  6. whoaaa.. Dpost jg.. Whuhuhu.. Q dah dpet pw v lupa..:'( Perasaan dah dtulis dah dbuku diary ma hp, v gak da..*halusinasi* Whe.. Mdh”an z masi da di email & lom q apus.. Klo gak da mnta pw lg dah..huukzz..
    Jangan sampe Hyunra hilang ingatan y?😦
    Minho tnang bgt masuk kamar inap hyunra.. Tak cmburukah?!:-S

  7. whoaaa.. Dpost jg.. Whuhuhu.. Q dah dpet pw v lupa..:'( Perasaan dah dtulis dah dbuku diary ma hp, v gak da..*halusinasi* Whe.. Mdh”an z masi da di email & lom q apus.. Klo gak da mnta pw lg dah..huukzz…
    Jangan sampe Hyunra hilang ingatan y?😦
    Minho tnang bgt masuk kamar inap hyunra… Tak cmburukah?! :-S

  8. whoaaa.. Dpost jg.. Whuhuhu.. Q dah dpet pw v lupa..😥 Perasaan dah dtulis dah dbuku diary ma hp, v gak da..*halusinasi* Whe.. Mdh”an z masi da di email & lom q apus.. Klo gak da mnta pw lg dah..huukzz…
    Jangan sampe Hyunra hilang ingatan y?😦
    Minho tnang bgt masuk kamar inap hyunra… Tak cmburukah?! :-S

  9. Dear guys..
    Ingin menginformasikan, jika teman-teman ingin melakukan jual / beli barang apa saja dan dari wilayah mana saja, kalian dapat mengiklankannya di keselip.com.

    Keselip.com merupakan portal untuk kalian bisa menitipkan barang yang akan kalian jual dengan cara mengiklankannya pada web kami secara GRATIS. Di keselip.com kalian juga bisa mencari barang dari berbagai macam kategori yang ada.

    Ditunggu kiriman iklannya ya….

    Thanks & Regards,

  10. Wah ff yg plg aq tunggu nih.
    Aq smpe bolak balik k blog km jg nunggu ni ff.

    Penasaran beneran.
    Huaa. itu knp di cut lg seru2nya..?!

    Aq suka bgt bhsa km d ff ini. Selalu bs bkn penasaran. btw tamatnya d part brp ya?

    Mau minta pw nya blh ga vania?
    Aq dah follow twitter km..

  11. ini cut-nya disaat yg ga tepat banget -___________________- udah lamaaaaaaa banget nih nungguin ini ff >.< itu hyunra nya udah bangun belum sih? wkwkk :p lanjutannya ditunggu banget nih u,u kemarin aku udah ngirim e-mail, terus dikasi pw, nah pw nya masih berlaku sama kan?😀

  12. Haaaaaa itu penasaran bangettt. Key sama minho lagi memperebutkan aku -_- wkwkwk. Thorr aku bagi pwnya ya. Nanti aku kirim via email hehehe

  13. aakkkkkkkkk… kenapa mesti di cut???
    aku sedih.. ini pasti lebih sedih dr episode sebelumnya nih!!
    aakkkk….
    ini sedih dr berbagai sisi beneran deh, dr key, minho hyunra semua bikin sedih.. karena perasaan mereka yg bimbang..
    tapi beneran perasaan mrk itu bingung kalo kata anak jaman skrg itu labil wkwkwkww…
    jadi galau sendirii😦
    eh ini boleh minta gak si pw nyaa???😦😦😦

  14. astaga, kenapa disaat mreka uda menyadari saling cinta malah kembali mendapat cobaan begini? apa hyunra bakal balik lagi sama key atau tetep bersama minho atau melepas keduanya? sepertinya makin nyesek az bacany..hikz
    btw aku uda ad kirim imel bwt minta pwd fullnya..gamsa..

  15. keren deh ceritanya ^^ wahhh ff nya udh lama aku tunggu eh ternyata udh di publish toh😀
    onnie aku minta pw nya dong

  16. penasaran sma full partnya

    ff ini bsa bkin emosi naik turun pas bacanya

    suka part minhyun couple deh

    harus cpet2 minta pw nya nih

  17. aaaaaaaa seru banget thor semoga hyunra cepet sadar dan ga amnesia, jadi makin penasaran sama cerita full part 6, thor aku udah kirim email, ditunggu ya thor balesannya

  18. halo van, udh lama gak update fanfic kamu yang ini jadi bnyk ktnggalan beritanya..
    Tetep buat penasaran apalagi msh sprh gini. Tapi aku maunya Minsa tetap brsatu.. Selamat menulis van😀

  19. Author buat aku mati penasaran deh.. Lagi seru2nya di cut😦 ini nama blog-nya apa sih?? Soalnya aku buka lewat hp..😀

  20. Annyeong🙂 aku reader baru disini. Maaf kalo aku baru coment di part ini. Soalnya aku bingung mau coment apa.. Habis FF-nya baguss sih.. sampe2 aku bisa ngungkapin dengan kata2😀 oiya, minta pw-nya boleh?? Jebal thor.. Aku kepingin tau kelanjutanya😦

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s