A New Love Story

annyeong ~ aku boleh re-publish fanfict ya ?

sebenernya ini fanfict udah pernah dipublish , dulu di obizienka juga . tapi entah kenapa mood-ku lagi pengen publish fanfict ini , pengen nostalgia ceritanya , hehe

buat yang udah pernah baca , jeongmal mianhaeyo ~ baca lagi nggak papa kan ya ? 😉

Casts : Super Junior’s Kim Jong Woon (Yesung) and Song Inhyeong (OC)

Minor cast : Victoria Song

Genre : romance

Length : oneshot

Happy reading~

Jinan High School

June 10

Jong Woon’s pov

“Annyeong, Inhyeong ssi. Choneun Kim Jong Woon iyeyo. Aku kelas 3-5. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu. Bahkan aku tahu kau menyukai Cho seonsaengnim.” Akhirnya kuberanikan diri untuk mengatakan perasaanku padanya. Well, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku akan mengatakannya kan?

Song Inhyeong menatap temannya dengan bingung. Lalu pandangannya kembali padaku. “Dari mana kau tahu?” tanyanya tajam.

“Mianhaeyo, aku selalu mengamatimu selama ini.” Aku lebih memilih untuk berkata jujur.

“Kau… Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya lagi. Nada tidak suka jelas kentara di suaranya.

“Nan neol saranghanikka. Maukah kau menjadi pacarku?” kataku mantap.

Inhyeong mengangakan mulutnya sedangkan temannya mengangkat kedua tangannya ke mulut. Ekspersi mereka kelihatan sangat kaget. “Ne?” seolah sudah salah dengar, Inhyeong ingin memastikan lagi perkataanku.

“Aku mencintaimu, Song Inhyeong ssi. Jeongmal saranghaeyo.”

Ekspresi Inhyeong berubah dari kaget menjadi bingung, lalu curiga. Matanya menyipit. “Jangan bercanda!” desisnya. “Kita belum saling kenal, Kim Jong Woon ssi.” Ia lalu menarik tangan temannya dan segera berlalu dari hadapanku.

Aku menjambak rambutku frustasi. Usaha pertamaku untuk mendekati Inhyeong: gagal total!

Jinan Park

June 15

Kupasang headphone di telinga lalu membaringkan tubuhku di atas rumput hijau. Musim panas sudah mulai terasa. Anginnya yang hangat terasa menenangkan. Karena urusan sekolah dan universitas sudah selesai, aku punya banyak waktu untuk menikmati awal musim panas yang hangat.

Mataku nanar memandangi langit biru yang cerah tak berawan. Pikiranku kembali melayang ke yeoja yang kusuka, Song Inhyeong. bagaimana caranya supaya dia mau melihatku? Mulai memandangku? Yah, aku akui memang caraku kemarin terlalu… ganas? Agresif? Ah, molla. Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkan usaha pertamaku untuk mendekati Inhyeong. Yang pasti karena itu dia tidak mau melihatku lagi ketika kami beberapa kali berpapasan di sekolah.

Sialan! Kalau begini aku harus bagaimana? Bagaimana caranya supaya dia melihatku? Song Inhyeong ssi, ini aku! Lihat aku! Aku yang sangat mencintaimu!

Kuhela nafas panjang dan memejamkan mata, berusaha menghalau pikiran-pikiran bodoh yang mulai merasuk. Ck, sebenarnya menyukai yeoja itu pun sangat aneh. Memang sih dia cantik, tapi masih lebih cantik Im Yoona. Dia juga tidak pintar seperti Seohyun yang selalu mengikuti olimpiade. Dan kalau soal popularitas… tentu saja aku lebih populer dibandingkan dia!

Cis, bahkan dia tidak mengenaliku! Apa-apaan dia itu. Apa belum cukup aku menjadi namja terpopuler nomor empat di sekolah. Well, jangan tanyakan siapa tiga orang sebelumnya. Tentu saja mereka itu Cho Kyuhyun, Lee Donghae, dan Choi Siwon. Aish, kenapa aku malah membahas mereka?

“Inhyeong ah, jeongmal saranghae. Bagaimana caraku membuatmu menyukaiku? Ck.”

Inhyeong’s pov

Aku memicingkan mataku melihat namja yang sedang berbaring di atas rumput, tidak jauh di depanku. Berhenti sejenak dan mengamatinya, aku sedang menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan sekarang. Dia jelas-jelas menghalangi jalanku. Apakah aku harus mencari tempat lain saja atau meneruskan niatku untuk duduk di bawah pohon maple yang –sialnya- letaknya tidak jauh dari namja itu.

Akhirnya aku memilih opsi kedua. Aku sudah sampai di taman ini, taman terindah di kotaku, dan tidak ada alasan untukku pergi dari sini sekarang. Soal namja itu… biarkan saja. Toh urusanku dengannya sudah selesai!

Aku memasang tampang cuek dan mulai berjalan. Entah kenapa, makin dekat dengan namja itu makin membuat jantung berdebar. Sial sekali! Debarannya sekarang bertambah kencang, hanya karena aku melihat wajahnya. Well, dia memang tampan sih. Dan kudengar dia masuk sebagai lima namja paling terkenal di sekolahku. Tapi apa peduliku?

“Inhyeong ah, jeongmal saranghae. Bagaimana caraku membuatmu menyukaiku? Ck.”

Hatiku berdesir mendengar caranya memanggil namaku. Begitu lembut. Tapi di saat yang bersamaan aku juga kaget. Apa dia tahu kalau aku lewat di dekatnya? Kulirik namja yang ternyata masih asyik memejamkan mata itu. Tidak, sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Baguslah, sekarang aku harus cepat-cepat pergi dari sini.

“Song Inhyeong ssi?” sebuah suara menghentikan langkah pertamaku. Aku menoleh dan mendapati namja itu sedang menatapku bingung. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Sejenak aku melupakan rasa sebalku padanya karena bingung. Tapi kesadaranku segera kembali. “Amugeotdo eobseoyo,” kataku agak ketus.

Mata namja itu membulat, membuatnya terlihat cute. “Jinjjayo? Kau tidak sedang mengikutiku kan?”

Ha? Apa yang dia bilang? Sesange~ Aku mencibir, “Buat apa aku mengikutimu? Pede sekali kau.”

“Hahaha, karena aku tampan dan populer. Aku cukup populer kan di sekolah?”

Ish, pede sekali dia bicara begitu. Aku memutar mataku karena sebal lalu menggerutu di dalam hati. Sial sekali aku disukai oleh namja seperti ini. “Well, aku sibuk. Kalau kau hanya ingin membangga-banggakan dirimu saja, aku lebih baik pergi,” ujarku sambil bersiap-siap pergi.

Tiba-tiba tangannya memegang tanganku. “Kajimarayo. Aku tidak akan membanggakan diri sendiri lagi, jadi tetaplah di sini.”

Aku mengerjap-ngerjap bingung dan akhirnya menyadari kesalahan dalam kata-kataku! Sialaaaaan~

“Duduklah di sini,” ia menunjuk tempat di sampingnya, “aku tidak akan menggigitmu kok.”

Aku masih diam.

“Well, kalau memang kau tidak mau menerima cintaku, kita kan masih bisa jadi teman. Iya kan?” bujuknya lagi.

Akhirnya aku menyerah dan duduk di sampingnya. Tunggu, ini bukan karena aku mulai terpesona padanya. Tapi ini karena aku setuju dengan kata-katanya. Kami kan tetap bisa menjadi teman. Apa salahnya?

Dia tersenyum melihatku duduk. “Begitu dong. Jadi teman juga nggak masalah kok buatku.”

Aku menatapnya sekilas lalu kembali membuang wajah. “Kenapa kau bisa menyukaiku? Bukannya kau punya banyak penggemar di sekolah?” aku penasaran sekali untuk menanyakannya.

“Ng, kenapa ya?” dia berpikir sebentar. “Entahlah. Melihatmu yang sangat bersinar membuatku terpesona. Kau tertawa dengan begitu ceria tanpa memedulikan keadaan sekitar. Agak konyol sih, tapi aku suka.”

Ha? Aku melongo mendengar perkataannya. Kurang ajar sekali dia berani mengatai aku konyol! “Aku konyol? Menurutmu aku konyol?” desisku tajam.

Ia nyengir lebar, agak ngeri melihatku. “Jangan marah dong. Walaupun kau konyol, aku tetap suka kok.”

“Cis, aku tidak butuh rasa sukamu.” Tanpa ampun aku berdiri, hendak meninggalkannya. Duduk di sampingnya lama-lama bisa membuatku gila. “Annyeong, Jong Woon ssi.”

Bagus, dia tidak berusaha menahanku. Aku terus berjalan meninggalkannya. Tapi semakin aku menjauh darinya, aku semakin penasaran. Katanya dia suka padaku, kenapa tidak berusaha mencegahku pergi seperti tadi?

Astaga, Song Inhyeong! Apa yang sedang kau pikirkan? Mengharap namja itu memanggil namamu? Ada apa denganmu sebenarnya?

Inhyeong’s house

June 17

“Inhyeong ah~ kau dapat bingkisan!” teriakan Vic eonni membuatku mengangkat wajah dari novel yang sedang kubaca. Dengan malas aku turun dari ranjang, bermaksud menghampiri eonni-ku itu.

Tapi ternyata Vic eonni sudah ada di depan pintu ketika aku membuka pintu kamarku. “Ini.” Ia menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna orange dan kuning bergambar bunga matahari di bagian atasnya. Ah, bunga matahari mengingatkanku pada Cho seonsaengnim.

“Apa ini?” tanyaku pada Vic eonni.

Vic eonni mengangkat bahu. “Mollaseo. Buka saja sendiri. ngomong-ngomong siapa ya yang mengirimu bingkisan? Ah, aku tahu! Jangan-jangan kau sudah punya pacar ya? Kenapa nggak bilang padaku, hah?” tanya Vic eonni sambil senyum-senyum.

Aku melotot. “Yah, Eonni! Berhenti berpikiran macam-macam! Siapa juga yang sudah punya pacar,” protesku sengit.

“Ahaha, punya juga nggak papa kok. Ya sudah, sana buka kadonya.” Eonni-ku lalu ngeloyor pergi. Dasar.

Dengan penasaran, aku membuka pita berwarna orange yang melingkari kotak. Sesange! Buku ini… buku ini kan buku terbaru karya Lim Min Ah, penulis terkenal yang sangat kukagumi! Aku semakin terbelalak begitu membuka halaman pertama. Tanda tangan asli Lim Min Ah. Wuaa~ aku harus berterima kasih pada pengirimnya. Eh, tapi siapa yang mengirimnya ya? Kenapa tidak ada nama pengirim di sini?

Secarik kertas berwarna kuning cerah yang terselip di buku menarik perhatianku. Kubuka kertas itu perlahan.

      Bagaimana? Kau suka bukunya? Ini kupesan khusus untukmu. Cetakan pertama.

            KJW

KJW? Inisial ini sepertinya sudah tidak asing lagi. K, J, W… ya ampun! Jangan bilang KJW adalah inisial untuk Kim Jong Woon? Seberkas rasa yang asing menyelinap di dalam hatiku. Entahlah, rasanya seperti gabungan antara senang, terharu, dan berterima kasih.

Baik sekali Jong Woon mau membelikanku buku ini padahal jelas-jelas buku ini belum beredar di toko-toko buku. Pemesanannya online dan dibatasi. Aku sendiri tidak menadapatkannya ketika memesan secara online. Bagaimana Jong Woon bisa mendapatkannya? Dan bagaimana dia bisa tahu aku sangat mengagumi Lim Min Ah?

Eh, ada kertas satu lagi. Yang ini berwarna orange. Sialan! Ternyata nomor ponsel namja itu. Dia menyuruhku menghubunginya begitu bingkisan ini sampai di tanganku. Argh, dasar kepedean. Dia kira dia itu siapa?!

Tapi aku menghubunginya juga. Ingin berterimakasih, itu saja. Ah, ingin bertanya bagaimana dia bisa tahu aku suka Lim Min Ah, itu juga. Dan juga, dari mana dia tahu alamat rumahku. Well, semua ingin kutanyakan! Aku sangat penasaran.

“Yeoboseyo?” jantungku mencelos begitu mendengar suaranya yang agak berat itu.

“Ehm, yeoboseyo.” Sial! Kenapa suaraku jadi aneh begini? “Na ya, Inhyeong iyeyo.”

“Arasseoyo. Apa kau suka bukunya?” tanyanya langsung.

Aku tergeragap. “Ne. Gomawoyo. Aku sangat ingin buku itu. Tapi dari mana kau tahu aku sangat mengagumi karya-karya Lim Min Ah?”

Namja itu tertawa. “Kan sudah kubilang dulu. Aku ini tahu semua tentang dirimu. Padahal kau tidak tahu aku.”

“Kau stalker ya?”

“Sialan! Buat apa aku menguntitmu? Seperti nggak ada kerjaan saja!” elaknya.

Aku tertawa. Ya, tawa pertama yang kuberikan untuknya. “Siapa tahu kan? Em, sekali lagi terima kasih. Kau baik sekali mau memberikan buku itu padaku.”

“Cheonmaneyo. Nggak masalah buatku.”

Aku tersenyum. Namja ini ternyata begitu baik dan lembut. Walapun sedikit narsis dan terlalu percaya diri, dia adalah orang yang menyenangkan. Pantas saja banyak yeoja yang suka padanya.

Jinan Park

June 20

“Annyeong!” Aku langsung duduk di sampingnya dengan ceria. Hubungan kami langsung berubah setelah kejadian kemarin. Dan selama beberapa hari terakhir, dia rajin menghubungi melalui telepon ataupun sms.

Ia menoleh ke arahku dan nyengir lebar. “Aku nggak percaya akhirnya kau memberikan senyummu untukku.”

Mendengar itu, aku langsung menghilangkan senyumku. “Dasar! Kau kan yang minta supaya kita berteman?”

“Bagaimana? Sudah selesai membacanya?” ia masih menatapku dengan mata sipitnya, membuatku berdebar-debar.

“Sudah, tentu saja sudah. Aku hanya perlu waktu 12 jam untuk menyelesaikannya,” ucapku bangga.

“Kalau begitu ceritakan padaku.”

“Eh? Kenapa nggak kau baca sendiri saja?”

Ia menyeringai. “Malas. Sudah, ceritakan saja,” sahutnya agak sedikit memaksa.

Aku mendelik tapi tetap saja mulai bercerita. Lihat, bahkan aku tidak menolak untuk mengabulkan permintaannya. Entah pertanda apa, aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku setiap aku menatap namja di sampingku ini.

June 30

Aku senang sekali! Akhirnya acara balas dendamku pada Jong Woon bisa terwujud. Setelah dia dengan seenaknya mengajakku ke festival band yang jedam-jedumnya membuat aku pusing setengah mati, hari ini aku membawanya ke perpustakaan! Kenapa aku bilang membawa? Karena memang bukan mengajak, tapi memaksanya menemaniku.

Aku menahan tawa sekuat tenaga melihat ekspresi wajahnya yang sebal ketika sudah sampai di perpustakaan. Dari tadi dia diam saja tanpa melakukan apa-apa. Dia ikut mengambil buku untuk dibaca, tapi matanya menerawang. Sudah pasti tulisan di buku itu tidak dibacanya. Rasakan! Suruh siapa mengajakku ke tempat seperti itu. Hahaha, aku puas sekali.

“Inhyeong ssi,” bisiknya, aku menoleh, “kapan kau selesai?”

Aku terdiam sebentar, pura-pura beripikir. “Entahlah, mungkin sejam lagi,” kataku balas berbisik.

Ia berdecak dan kembali menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. “Michigeutta,” keluhnya agak keras, mengundang lirikan maut dari beberapa pengunjung perpustakaan yang duduk di dekat kami. Aku pura-pura cuek.

Setengah jam kemudian, aku kembali melirik Jong Woon. Ya Tuhan! Ternyata dia sudah tertidur! Kepalanya ditumpangkan di atas tangan dan ditelungkupkan ke meja. Bwahahaha, sepertinya dia sudah benar-benar tidak tahan dengan segala penderitaan yang di alaminya.

Karena iba, aku memutuskan untuk menyudahi saja acara balas dendamku. Toh sepertinya dia sudah jera. Apalagi selama di sini dia tidak pernah protes. “Jong Woon ssi, ireonabwayo.” Kusentuh lengannya, berusaha membangunkannya.

Ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke kanan-kiri. Lalu matanya bertemu pandang denganku. “Sudah?” bisiknya. Hahaha, bahkan dia masih berbisik!

Aku mengangguk. “Sudah. Kaja.”

Ia nyengir lebar dan langsung berdiri dengan semangat. Aku sampai harus menahan tawaku ketika melihatnya. Hahaha.

“Yah! Kau ini sengaja ingin mengerjaiku ya?” protesnya begitu kami sudah di luar.

Aku tertawa. “Memang sengaja. Ini sebagai hukuman karena kau sudah seenaknya mengajakku ke festival band berisik itu. Hahaha.”

“Oh, jadi karena itu? Ck, sial sekali aku!” keluhnya dengan muka masam. Tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah. “Kalau begitu kau harus dihukum!”

Aku meliriknya. “Enak saja! Kenapa aku harus dihukum?”

“Karena aku ingin menghukummu.”

“Yah! Alasan macam apa itu?!” seruku geli.

“Sudah. Pokoknya kau harus melakukannya. Hukumannya adalah pergi bersamaku ke festival musim panas. Kau tidak boleh menolak.”

Aku tersenyum. “Sepertinya aku nggak bisa menolak lagi.”

“Memang!” Ia lalu tertawa, membuatku terhenyak.

Aku tahu. Aku tahu perasaan apa yang sedang kurasakan sekarang. Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar ketika menatapnya. Kenapa rasanya darahku berhenti mengalir sejenak ketika dia tersenyum padaku atau mengacak rambutku. Alasan dibalik itu semua adalah karena aku menyukainya. Ya, tidak salah lagi. Aku menyukainya. Sama seperti ketika aku menyukai Cho seonsaengnim, bahkan terasa lebih kuat.

Jinan Summer Festival

July 10

“Kita mau ke mana?” tanyaku begitu kami tiba di festival musim panas. Sejauh mata memandang terlihat lautan manusia dan lampu-lampu yang dipasang di pepohonan sepanjang jalan. Sangat indah.

“Mau ke panggung musik? Ada pertunjukan di… aw!” Jong Woon mengelus kepalanya yang baru saja kujitak.

“Shirheoyo! Kau mau kuajak ke perpustakaan lagi?” ancamku. Dia hanya nyengir lebar.

“Kalau begitu, kita makan saja. Aku lapar. Kaja!”

Kami duduk di bawah sebuah pohon yang dihiasi banyak lampu warna-warni. Festival musim panas kali ini begitu semarak. Banyak orang yang ikut meramaikannya, jadi lebih terasa menyenangkan.

“Capek sekali…” kataku sambil memijat-mijat kakiku yang terasa agak pegal.

Jong Woon menyandar pada bangku, tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam sambil memejamkan mata. Darahku berdesir ketika menatap wajahnya. Dia tampan sekali. Tiba-tiba dia membuka matanya, membuatku kaget dan langsung membuang muka.

“Inhyeong ah, kau nggak menyesal kan kuajak ke sini?” tanyanya dengan mata berbinar.

Aku mendengus. “Walaupun nggak kau ajak pun aku pasti akan ke sini.”

Ia tidak menjawab, hanya tersenyum lalu menengadahkan kepalanya. Hening. Tidak ada yang mulai bicara. Aku masih sibuk memijat kakiku.

“Inhyeong ah,” pangilnya, membuat aku kembali menoleh ke arahnya.

“Waeyo?”

“Kau sudah bisa menyukaiku?”

Deg! Pertanyaan itu… pertanyaan yang sangat ingin kudengar. Tapi tentu saja, sebagai yeoja aku tidak langsung mengiyakannya melainkan pura-pura tidak mengerti dulu. “Museun soriya?” tanyaku (sok) polos.

Ia menatapku lurus, tajam. Seolah tatapan matanya bisa membaca pikiranku. “Kau tahu apa maksudku.”

Aku membuang nafas. “Lalu kau mau mendengar apa dariku?”

“Aku tidak akan memaksamu. Aku sudah berusaha selama sebulan ini untuk membuatmu melihatku sebagai namja.”

Senyumku terkembang. “Arasseoyo.”

“Jadi?”

“Jawabannya akan membuatmu bahagia,” ujarku, mencoba berteka-teki.

Ia menyerngit. “Ne?”

Aku tertawa melihat ekspresi bingungnya yang kelihatan bodoh. “Kubilang, jawabanku pasti akan membuatmu bahagia. Kau tahu kan apa maksudku?”

Awalnya dia masih kebingungan, tapi beberapa menit kemudian –setelah aku melayangkan tatapan membunuhku padanya- senyum cerah mulai muncul di wajahnya. Cis. “Maksudmu… kau juga menyukaiku? Mau jadi pacarku?” tanyanya sumringah.

Aku menjitak kepalanya pelan. “Babo! Aku kan sudah bilang dengan jelas.”

Dia hanya tertawa dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku lalu ikut tertawa bersamanya. Dalam hati masing-masing kami berjanji akan menyongsong hari-hari baru yang akan kami lewati bersama.

Inhyeong’s room

July 06

Aku mengambil buku diary yang kusimpan rapi di laci. Buku diary yang terakhir kali kuisi dengan curahan hati tentang Cho seonsaengnim, cinta pertamaku. Haebaragiku. Haha, mengingatnya membuatku geli sendiri.

Sekarang aku tidak perlu mengingat-ingat Cho seonsaengnim lagi. Sudah ada seorang namja yang menggantikan posisinya di hatiku. Namja yang sangat kucintai dan juga mencintaiku. Kim Jong Woon.

Sudah kuputuskan. Ini akan menjadi tulisan terakhir di diary ini. Tidak akan ada tulisan lagi di buku mungil ini karena aku sudah punya tempat untuk bercerita. Uri saranghaneun Kim Jong Woon.

Dear diary,

It’s a new life! New story! New love!^^

                                               Song Inhyeong

Finish ~

Ps. Aku nggak sempet edit lagi , jadi kalo ada missing typo maaf yaaa

7 tanggapan untuk “A New Love Story”

  1. hoho~ pesona bang yeye memang tak terkalahkan! siapa coba yg bs nolak ahjusshi imut itu uhuuuyyyy banget deh!

    o iy, ni ff bukannya udh pernah dian publish di obi ya? atw di blog lain? cz aq udh pernah baca.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s