White Winter

 

Main casts : Minho SHINee as Choi Minho and Krystal f(x) as Jung Krystal

Supporting casts : you’ll find it by yourself

Background song : ‘Y’ by Super Junior

 

 

Annyeong! Ini seri ketiga dari songfict empat musimku yang super gaje itu~

Masih inget kan sejarah terbentuknya songfict empat musim? Yep, karena aku sangat terpesona sama novel-novel musimnya Ilana Tan, ehehe.

Maapin aku kalo ceritanya gaje dan nggak sesuai dengan harapan readers T.T

Hope you enjoy this songfiction~ happy reading~

 

The stories before : Summer Sky , Autumn Wind

 

 

When I see you, I only smile- even shy smiles
Your eyes that look at me- are they sad and talking of goodbye baby?

 

“Sudah kau pikirkan dengan matang? Mungkin ini akan membuatnya kaget.”

“Ini demi kebaikannya.”

“Sebenarnya tidak perlu begini. Di sini saja sudah cukup.”

“Tidak. Dia harus dapat yang lebih baik. Kalau hanya di Korea, dia tidak akan bisa berkembang.”

 

“Kau pergi?”

“O.”

“Kapan?”

“Besok.”

Dia menghela nafas panjang dan berat. “Kenapa?”

“Keputusan Appa nggak bisa diubah lagi. Aku harus menerima ini.”

“Begitu?”

“Kau nggak apa kan?”

Dia menengadahkan kepalanya, menatap langit musim dingin yang kelabu. “Aku ingin melihat salju malam ini. Salju terakhir yang akan kulihat bersamamu.”

 

Are you that tired of seeing the same person
and doing the same things every day?
Will you forgive me?
Please think about it one more time
I won’t let you go now

 

Krystal merapatkan lagi jaketnya. Udara dingin akhir musim gugur terasa menusuk tulangnya. Tiba-tiba ponsel di saku jaketnya bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk. Agak tergesa ia merogoh sakunya.

“Yeoboseyo? Ah, Soo Young seonbae. Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Apa acaranya sudah mulai? Belum? Ah, syukurlah kalau begitu… Ne, sampai jumpa Seonbae.”

Senyum manis terkembang di wajahnya begitu telepon diputus. Soo Young seonbae, kakak kelasnya di sekolah yang baru saja meneleponnya, adalah sesama anggota OSIS yang ikut berperan dalam festival sekolah dua hari yang lalu. Festival itu berjalan sukses dan anggota OSIS mendapat banyak pujian.

Karena sudah bekerja keras, hari ini mereka memutuskan untuk mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan mereka. Sudah diputuskan pesta itu dilaksanakan di Flawless Café, sebuah kafe yang lumayan terkenal di kalangan anak muda.

Soo Young melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe yang agak sepi. Sampai di dalam, ia mencari-cari sosok yang dikenalnya. Di pojok kanan kafe, terlihat beberapa orang duduk bergerombol. Seseorang dari gerombolan itu melambaikan tangannya pada Krystal, yang langsung bisa mengenalinya sebagai Choi Soo Young, kakak kelasnya.

Krystal segera menghampiri gerombolan itu. “Annyeong!” sapanya ceria ketika sudah sampai di hadapan mereka.

“Hai, Krystal! Apa kabar?” sapa seorang kakak kelas Krystal.

Krystal tersenyum padanya sambil mendekati Soo Young. Di antara anggota OSIS lainnya, dia memang paling dekat dengan Soo Young. “Annyeong, Soo Young seonbae.”

Soo Young tersenyum. “Annyeong. Kau datang sendiri, Krystal ra?”

“Ne. Aku bingung harus mengajak siapa, hehehe.” Memang dalam pesta ini mereka boleh mengajak seorang teman atau pasangan.

“Kenapa nggak mengajak Kibum? Kau kan tahu dia suka padamu,” goda Soo Young.

Krystal mengangkat alisnya dan berdecak tak percaya, “Seonbae!” Soo Young tertawa. “Seonbae sendiri datang bersama siapa? Sama Kyuhyun seonbae?” tanya Krystal pada kakak kelasnya itu.

“Ani. Kyuhyun sedang ada urusan jadi aku mengajak adikku yang baru pulang dari States.”

Krystal mengangguk-angguk dan duduk di kursi kosong di samping Soo Young. “Lalu ke mana dia sekarang?”

“Sedang ke toilet. Ah, itu dia!” Soo Young menunjuk seorang namja yang sedang berjalan menghampiri mereka.

Ketika jaraknya dengan namja itu makin dekat, Krystal bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dan seketika, ia lupa bagaimana caranya bernafas.

Namja itu sangat familiar. Namja yang berhubungan dengan masa lalunya. Namja yang sangat ingin dilupakannya. Choi Minho.

 

Minho berjalan menghampiri gerombolan kakaknya di pojok kafe. Ia melihat kakaknya melambaikan tangan ke arahnya. Ia juga bisa menangkap sesosok yeoja sedang duduk di samping kakaknya, ikut melihat ke arahnya.

Awalnya tidak ada prasangka apapun pada diri Minho sampai jarak antara dia dan yeoja itu makin dekat. Minho bisa melihat wajah yeoja itu. Dan seketika darahnya seperti berhenti mengalir.

Yeoja itu, yeoja yang hadir di hari-hari di masa lalunya. Yeoja yang sangat dirindukannya. Jung Krystal.

“Minho ya! Cepat ke sini! Ada yang ingin kukenalkan padamu,” seru Soo Young pada adik laki-lakinya itu.

Dengan dada berdebar kencang, Minho mendekati tempat duduk kakaknya. Matanya terus menatap yeoja yang duduk di samping Soo Young. Yeoja itu sedang menunduk, berusaha menghindari tatapan tajam Minho.

“Minho ya, kenalkan ini Jung Krystal, sahabatku di OSIS,” kata Soo Young ceria.

Minho bisa melihat Krystal mengangkat wajahnya begitu mendengar kata sabahat. Tapi ia langsung menunduk lagi begitu tatapannya bertemu dengan Minho.

“Krystal ra, ini adikku Choi Minho. Kurasa kalian seumuran.”

Krystal masih bergeming. Masih menunduk menghindari Minho. Akhirnya karena tidak tahan, Minho berkata, “Krystal ra, apa kabar? Lama nggak berjumpa.”

Dan saat itulah, untuk pertama kalinya Krystal menatap Minho. Menatapnya seolah namja itu sudah gila.

“Ah, kalian sudah saling kenal rupanya!”

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Minho membuat Krystal menoleh ke arahnya dan menatapnya sebentar.

Yeoja itu lalu kembali mengalihkan pandangannya. “Aku baik,” jawabnya pendek.

“Kau nggak ingin tahu keadaanku?”

“Kulihat kau baik-baik saja.”

Minho tersenyum. “Aku nggak menyangka kita akan bertemu lagi.”

“Aku juga nggak pernah menyangka.”

“Bogoshipeo.” Krystal langsung menatap Minho lagi begitu mendengar satu kata dari mulut namja itu.

“Michyeoseo,” katanya kemudian. “Aku nggak pernah merindukanmu.”

Minho tertawa. “Astaga, kau benci padaku ya? Jangan begitu, Krystal ra.”

“O. Aku benci pada namja nggak bertanggung jawab yang meninggalkanku begitu saja ke luar negeri,” sahut Krystal ketus.

“Itu keinginan Appa-ku. Aku nggak bisa menolaknya,” kata Minho.

“Arasseo. Aku nggak menyalahkanmu kok. Aku cuma menyesalinya,” kata Krystal santai. “Lalu kenapa kau kembali?”

“Karena aku merindukanmu.”

Krystal meninju pelan lengan Minho. “Aku serius. Kenapa kau kembali padahal Appa-mu sudah sangat bersemangat menyekolahkanmu di sana?”

“Aku nggak betah. Hanya itu.”

“Michyeoseo! Lalu Appa-mu bagaimana?”

Minho tersenyum sekilas dan menyedot kola-nya. “Appa setuju saja. Tapi tentu saja dengan jaminan aku akan meneruskan perusahaannya di sini.”

“Oh, begitu,” tanggap Krystal pendek.

Minho terdiam sebentar. Ekspresinya lalu berubah serius. “Di atas itu semua, aku ingin mengulanginya lagi. Bersamamu.”

Krystal terkesiap. Kata-kata Minho seolah membiusnya. Kata-kata yang sangat ingin didengarnya setelah Minho pergi.

 

I’m a fool to have made you cry
Letting you go was because I was lacking
Forgive me for trying to erase you
Please- so that I can breathe again

 

Krystal membelalakkan matanya begitu melihat siswa baru masuk ke kelasnya. Choi Minho. Sedangkan namja itu malah nyengir lebar padanya. Krystal langsung membuang muka. Setelah namja itu selesai memperkenalkan diri, langsung terdengar bisikan para yeoja di kelas itu. Bisa Krystal pastikan, bisikan itu membicarakan tampang Minho yang… ehm, lumayan.

“Wah, dia tampan sekali. Sudah punya pacar belum ya?” bisik Lee Ji Eun, teman sebangku Krystal.

Krystal memutar matanya. Yang benar saja, sejak kapan Choi Minho yang aneh itu digandrungi banyak yeoja? Krystal mendapati dirinya agak kesal ketika mendengar pujian yeoja-yeoja di kelasnya  untuk Minho.

 

“Mau ke mana?” Minho menghadang langkah Krystal yang ingin ke ruang OSIS.

Krystal menghela nafas dan memasang tampang terdinginnya. “Bukan urusanmu. Minggirlah.”

Bukannya minggir, Minho malah makin memosisikan tubuhnya di hadapan Krsytal, seolah menghalangi yeoja itu pergi. “Aku serius dengan kata-kataku. Sekarang aku sudah di sini, bisakah kita mulai semuanya dari awal?” suara Minho yang berat terdengar serius.

Krystal mengangkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu. “Sudah kubilang tidak. Tidak semudah itu, Minho,” katanya tegas. “Pergilah. Aku harus ke ruang OSIS.” Ia lalu mendorong lengan kanan Minho agar namja itu memberinya jalan.

Refleks Minho menarik tangan Krystal. “Saranghae.”

Lagi-lagi Minho membuat Krystal terkesiap. Kata-kata itu, kata-kata yang sangat ingin didengarnya dari mulut Minho.

 

“Kau akrab dengan Choi Minho, Krystal ra?” Lee Ji Eun bertanya pada Krystal dengan wajah penasaran.

Krystal agak kaget mendengar pertanyaan yang agak tidak terduga itu dari sahabat sekaligus teman sebangkunya. Ia lalu tersenyum dan berkata, “Lumayan. Kami dulu sekolah di middle school yang sama sebelum dia pindah ke States.” Dia tidak bohong.

Ji Eun menelengkan kepalanya. Matanya masih bersinar penasaran. “Yakin hanya begitu?”

“Maksudmu?”

“Tadi tidak sengaja aku melihat kalian di koridor. Dan aku mendengar semua yang dikatakannya padamu. Mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja, Krystal ra.”

Krystal membulatkan matanya karena kaget. “Lee Ji Eun, apa ada orang yang sedang bersamamu waktu itu?” tanyanya panik.

Ji Eun menggeleng. “Nggak ada. Tapi aku jadi penasaran tentang hubungan kalian. Apa aku boleh tahu?”

Krystal menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Semuanya. Tanpa terkecuali. Termasuk kenyataan bahwa Choi Minho adalah adik kandung Choi Soo Young, kakak kelas yang paling dihormatinya.

“Astaga~ takdir memang hebat. Kalian sudah berpisah selama tiga tahun tanpa ada kabar sama sekali, tapi akhirnya bisa bertemu lagi. Bukankah itu pertanda baik untuk kalian?” tanggap Ji Eun setelah Krystal menceritakan semuanya.

Krystal tersenyum tipis. “Mollaseo. Aku nggak merasa begitu. Entah kenapa aku masih berat untuk memaafkannya,” aku Krystal.

“Jangan begitu. Dia pergi ke States kan bukan karena kemauannya. Aku yakin dia sangat mencintaimu. Buktinya dia sampai kembali lagi ke Korea dan sekolah di sekolah yang sama denganmu.”

“Itu karena kakaknya juga bersekolah di sini. Hanya kebetulan.”

“Bukan kebetulan. Itu semua takdir. Takdir kalian adalah bersama, jadi ke manapun kalian pergi kalian pasti akan bertemu lagi. Aku yakin itu.”

Krystal hanya bisa diam melihat sahabatnya ngotot. Sebenarnya yang sedang ada masalah dia atau aku sih. Kenapa dia yang ngotot? Dalam hati Krystal tertawa geli melihat tingkah sahabatnya itu. Tapi tak urung kata-kata Ji Eun terngiang-ngiang di otaknya. Dan itu semakin membuat dirinya bingung.

 

Dua minggu kemudian…

Krystal duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang hanya tinggal dahan dan ranting, tanpa daun. Musim dingin sudah merontokkan semua daun yang dimiliki pohon-pohon di taman itu. Uap putih muncul setiap kali yeoja itu menghembuskan nafas.

Musim dingin. Musim yang sangat disukainya, sekaligus dibencinya. Untung saja butir-butir salju belum turun di musim dingin ini. Butir-butir salju pasti akan menambah kegalauan di hatinya seiring dengan kembalinya namja itu.

Choi Minho. Namja yang sangat disukainya sejak empat tahun lalu, sejak mereka masih duduk di kelas 1 middle school. Tapi baru setahun mereka bersama, Minho harus pergi ke States karena Appa-nya menyuruhnya untuk sekolah di negara adidaya itu.

Sekarang dia kembali dan bilang akan memulai semua dari awal. Krystal sangat senang, tapi tidak mungkin semua bisa kembali begitu saja dengan mudahnya. Jujur Krystal takut Minho akan meninggalkannya lagi. Jadi daripada dia sakit hati lagi, lebih baik tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Minho.

Sebutir airmata jatuh di pipi Krystal. Begitu melihat Minho, yang ingin dilakukan yeoja itu adalah memeluknya. Memeluknya dengan erat. Tapi itu mustahil mengingat hubungan mereka yang sudah berubah.

Selama dua minggu ini Minho begitu gigih meminta Krystal kembali padanya. Jujur Krystal masih menyayangi namja itu. Sangat sayang. Tapi rasa sakit itu terus menghantuinya. Dia tidak tahu harus bagaimana.

 

When I see you, I cry- you make me into a fool
When you have a change of heart, I will be standing there on your way back baby

The breakup that you prepared
Hurts me so bad that I could die, even after time passes
There’s still so much that I have to do for you before I let you go

 

Minho menghentikan langkahnya begitu melihat sosok yeoja yang sedang duduk di bangku taman tak jauh dari tempatnya berdiri. Yeoja itu Jung Krystal. Dan ia sedang menangis.

Tanpa bisa menahan diri, Minho mendekati yeoja itu. “Yah! Kenapa kau duduk sendirian di tengah udara dingin begini? Kau bisa membeku!” ucapnya, mengagetkan Krystal.

Yeoja itu menatapnya dengan mata membulat. “Minho ya…”

“Kenapa kau menangis?” tanya Minho sambil duduk di samping Krystal.

Krystal cepat-cepat menghapus airmatanya dan berkata ketus, “Bukan urusanmu.”

“Kau ini kenapa sih? Setiap kali kutanya, jawabanmu pasti selalu sama, ‘bukan urusanmu’. Memangnya kenapa kalau aku ingin tahu?” Minho mulai sewot.

“Kau itu yang kenapa?! Kenapa tiba-tiba kembali? Kenapa seenaknya mengajakku mengulangi semuanya lagi? Kenapa?!”

Minho terhenyak. “Krystal ra, aku… Mianhae…”

Krystal menatap Minho. Airmatanya sekarang benar-benar mengalir bebas. “Aku harus bagaimana, Minho ya? Aku ingin mengulanginya, tentu saja aku ingin. Tapi rasa sakit itu nggak mau pergi. Aku harus bagaimana?” Krystal terbata-bata. “Aku masih mencintaimu, Minho ya.”

 

Where do I start? Starting at some point, we lost the preciousness

 

Minho menatap Krystal lekat. Hatinya sakit melihat yeoja yang begitu dicintainya menangis. Rasa sakit yang sama dengan yang dirasakannya tiga tahun lalu, ketika dia harus meninggalkan yeoja itu.

Tapi demi mendengar kata-kata Krystal, mendengar Krystal mengatakan bahwa yeoja itu mencintainya membuatnya bisa bernafas lega. Setidaknya harapan itu masih ada. Dia masih punya harapan untuk memperbaiki semuanya.

Perlahan direngkuhnya Krystal ke dalam pelukannya. “Mianhae. Jeongmal mianhae, Krystal ra. Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji.”

Sebutir salju jatuh di atas kepala Krystal, tepat ketika airmata yeoja itu mengalir lagi. “Aku ingin melihat salju lagi bersamamu,” ujarnya sambil tersenyum manis. “Ini salju pertama di musim dingin ini. Dan aku ingin melihatnya bersamamu.”

Minho kembali memeluk yeoja itu. “Gomawo.”

 

But I miss each second of each minute
Your beauty, eye-blinding smile
I hope this touches your heart
Will my sad prayer pass this rain and pass on to you?
I’m so in pain right now because you have left
I’m so in pain- why is it so hard?
I think about you every night
Do you know how anxious I get if I don’t think about you for just one day?
You probably don’t know- there’s no way you will know
If you think of me once in a while, then please come back

Saying I love you, saying it to you
Saying I miss you, Saying I want to hug you, and only you
I want to protect you
For you, who will come back to me

 

“Yah, yah, yah! Lepaskan tanganmu dari pundakku! Ppali. Sebelum ada yang melihat kita,” bisik Krystal sambil berusaha menyingkirkan tangan besar Minho yang melingkari pundaknya.

Minho mengangkat alisnya melihat reaksi Krystal ketika mereka sudah hampir tiba di depan gerbang sekolah. “Wae? Biar saja ada yang melihat kita. Memangnya kenapa?” tanyanya pura-pura bodoh.

Krystal berdecak sebal. “Aku nggak mau jadi sasaran kemarahan fans-mu yang berjibun itu. Kau tahu persis berapa banyak flames di sekolah ini kan?” Flames adalah sebutan untuk  yeoja-yeoja yang terbius oleh ketampanan dan kekerenan Minho di sekolah.

Minho tertawa. “Arasseo. Tapi biarkan saja! Memangnya salah kalau aku memeluk pacarku sendiri?”

“Justru itu. Kalau mereka sampai tahu aku jadi pacarmu, aku pasti akan dapat masalah.”

“Tidak akan. Tenang saja, aku pasti akan menjagamu.”

Krystal mencibir. “Cih. Sudahlah, singkirkan tanganmu sekarang!”

Tapi Minho tidak menghiraukan perkataan Krystal. Namja itu malah mengeratkan rangkulannya ketika mereka sudah berada di halaman sekolah yang agak ramai. “Heiii! Ini pacarku! Namanya Jung Krystal! Aku sangat mencintainyaaa!” tiba-tiba namja itu berteriak kencang sambil melambai-lambaikan tangannya.

Orang-orang yang melintas di halaman sekolah langsung menoleh ke arah mereka dan berbisik-bisik. Ada yang tersenyum-senyum, ada juga yang berbisik-bisik tidak suka. Beberapa yeoja bahkan terang-terangan menunjukkan wajah kecewa mereka.

“Yah! Kenapa kau teriak-teriak begitu?! Memalukan!” ujar Krystal geram.

Minho tersenyum lebar. “Supaya mereka tahu kalau kau adalah pacarku. Saranghae.”

“Cis, kau ini!”

“Ehehe.” Minho nyengir gaje. “Ah, lihat! Turun salju lagi. Wah, Natal tahun ini pasti akan jadi White Christmas. Kau ada acara malam Natal nanti?”

Krystal menggeleng. “Nggak ada. Kenapa?”

“Mau kencan denganku?”

“Tentu saja!”

 

 

Finish~

 

 

 

Gimana? gaje ya? hahaha, maap ya kalo mengecewakan~

Thanks udah mau baca, apalagi yang mau komen . Aku kasih hadiah cium buat yang komen deh, ehehe . Atau mau hadiah piring cantik ? #astaga, aku lagi ngomongin apa sih?

Oiya, tunggu cerita selanjutnya ya. Seri terakhir. Musim semi ^^

Udahan ya, saranghaeyo readers  :* bubbye ^^

Summer Sky , Autumn Wind

 

13 tanggapan untuk “White Winter”

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s