Somewhere Over the Rainbow

author : Ifaloyshee

main casts: Lee Sungmin, Shin Yoonji.

genre: Romance, fluff

Somewhere over the rainbow Way up high,

And the dreams that you’ve only of

 Once in a lullaby.

 

***

Seoul Global High School. Salah satu sekolah ternama di Seoul, Korea Selatan. Karena dikenal dengan kemegahan desain interior maupun eksteriornya serta  rangkap dengan murid-muridnya yang dikategorikan memilik otak layaknya ‘cucu einstein’.

Sekolah ini selalu unggul dan menang dibanding dengan yang lain. Ya, selalu menang. Tapi bukankah kemenangan itu di capai harus melalu persaingan bukan? Dan yang pasti melibatkan murid-murid didalamnya. Tidak mungkin kalau sekolah itu menang dengan sendirinya tanpa campur tangan murid-murid.

Dan persaingan itu, tidak selamanya mudah. Tidak pernah mudah malah. Sulit. Kadang menjadi kejam, kadang menjadi kecurangan, kadang juga menjadi hal yang lebih daripada itu.

BRAK.

“aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya aku harus menang dalam kompetisi itu. kau harus mengalah padaku!”

Gadis bernama Shin Yoonji yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu mendongak, melihat kim jooyeon, gadis yang tadi melempar buku keatas mejanya. Yoonji menghela nafasnya kemudian berdiri, memandang Jooyeon dengan pandangan muak.

“berapa kali aku harus mengalah padamu?  Kompetisi adala kompetisi, ajang mengadu kemampuan pribadi. Bukan semata-mata untuk mengalah pada lawan sendiri.” Ucapnya tenang, berusaha mengontrol emosinya yang sudah meletup-letup.

“kau tidak tahu balas budi ya? huh? Kau pikir siapa yang dulu membantumu saat keluargamu bangkrut karena perilaku appamu yang memalukan itu. siapa yang membantumu hah? Keluargaku! Ke-lu-ar-ga-ku!”

Yoonji berjalan  dengan tergesa-gesa lalu menutup mulut Jooyeon, “babo. Jangan terlalu keras, walaupun semua murid sudah pulang, bisa saja ada satu atau dua orang yang bisa mendengar perkataanmu barusan!”

“Faktanya, hampir semua murid disekolah ini sudah membencimu. Jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahu tentang rahasia kelam keluargamu.” Ucap gadis bernama Jooyeon itu, denganw ajah yang terlihat begitu menyebalkan.

“aku tahu itu. aku selalu tahu itu.” Yoonji menundukkan kepalanya kemudian berjalan mundur menghampiri ranselnya yang berwarna cokelat muda itu, yang ia dapatkan dari Rusia lewat tangan ibunya. Pemberian terakhir dari ibunya.

Dengan terpaksa Yoonji mengambil tiket yang seharusnya membawa dirinya ke sesi final untuk minggu depan, tapi lagi-lagi ia harus memindahtangankan tiket tersebut ke tangan Jooyeon, dan menyerahkan kemenangan yang seharusnya menjadi miliknya itu ketangan orang lain.

Yoonji menyodorkan tiket tersebut ke tangan Jooyeon. “lakukan kesempatan emas ini dengan baik,” ucapnya sebelum berlari ke luar kelas kosong tadi, dan pergi entah kemana.

***

YOONJI’S DIARY

Pernahkah kau merasa seluruh dunia memusuhimu? Memandangmu seolah-olah kau tidak diinginkan untuk terlahir ke dunia.

Jangan pernah merasa penasaran untuk merasakannya jika kau belum pernah. Aku yakin kau tidak akan sekuat aku, seperti sekarang aku ini.

Aku bahkan merasa tidak ada satupun yang bersyukur dengan kehadiranku disini, di dunia yang setengah mati aku benci ini. Tidak teman-temanku, tidak juga siapapun.

Kenapa mereka semua membenciku? Kenapa?

Selama ini yang aku dengar dari mulut mereka semua itu jawaban yang sama, dan tidak bisa aku pikir masuk akal.

Mereka menjawab, kalau aku hanyalah menjadi penghalang bagi mereka. Mereka bilang aku selalu mahir dalam bidang apapun. Pelajaran, vocal, gitar, dan yang lain-lainnya. Mereka berkata aku selalu unggul dan mengalahkan mereka semua. Itu yang membuat mereka membenciku.

Kalau mereka merasa kalah denganku, bersaing saja denganku! Kenapa sampai harus membenciku ?

Atau juga karena aku tidak memiliki ibu?

Dan hanya memiliki ayah yang saat ini menjadi satu-satunya keluargaku yang bahkan aku tidak tahu bagaimana jelasnya keadaannya sekarang, semenjak tingkah korupsinya tercium hukum dan Appa melarikan diri meninggalkanku disini.

Dan menyisakan aku dengan entah apa yang aku punya. Sampai Kim Jooyeon dan keluarganya menemukanku dan menyelamatkanku. Mereka mengganti semua biaya rugi yang seharusnya Appa bayar pada pihak hukum. Walaupun kenyataannya Appa masih belum kembali juga.

Seandainya saja aku masih memiliki pundak untuk bersandar, minimalnya saja pundak Umma. Agar aku merasa sedikit lebih baik. Tapi akan terdengar sangat konyol kan jika melihat fakta yang jelas mengatakan kalau Umma sudah meninggal.

yoon, kau harus ingat kalau tidak ada satupun hal didunia ini yang perlu kau benci. Yang ada jadikanlah hal itu menjadi pembelajaran untukmu agar kau tidak membencinya.”

“yoon, saat kau membuka matamu dipagi hari, kau tahu bahwa sampai detik itu kau masih bernafas. Maka bersyukurlah Yoon, kau tidak boleh merasa tidak beruntung. Karena kau adalah Shin Yoonji yang pintar, yang masih diberi waktu untuk hidup, Shin Yoonji yang cantik.”

Umma, kalau aku melanggar semua perkataanmu, apakah Umma akan marah padaku? Kalau Yoonji memilih untuk menyusul Umma saja, apakah Umma akan marah?

Yoonji ingin bersyukur, Umma. Tapi segalanya terasa tidak adil untuk Yoonji. Semuanya pergi. Untuk apa Yoonji hidup jika tidak ada satupun yang menginginkan Yoonji hidup?

Tapi, Yoonji takut jika Yoonji memilih untuk menyusul Umma sekarang dan melanggar kata-kata Umma, maka umma akan marah pada Yoonji.

Kalau sudah seperti itu, siapa yang akan menyayangi Yoonji?

Aku memegang dadaku dan merasakan detak jantung yang memburu didalam sana. Ya, detak jantung ini. Milik ibuku. Dan aku tidak boleh menyiakannya.

***

SUNGMIN’S DIARY

Kumpulan anak-anak yang sedang menyebrang taman dengan balon berwarna-warni itu benar-benar menarik perhatianku untuk menangkap gambar mereka. Sedetik kemudian bunyi ‘klik’ dari kamera Nikon ku terdengar, lalu aku bermaksud untuk memotretnya lagi.

Namun niat itu segera aku urungkan ketika melihat gadis dengan seragam sekolahnya yang berjalan ditepi taman, memegang sebuah piala perak ditangan kanannya. Rambut hitam sebahunya dan wajah sendu gadis itu….tentu saja aku mengenalnya.

Dengan langkah sedikit terburu aku menghampirinya lalu segera berdiri didepannya, mengangkat Nikon ku dan memotretnya sekali. Gadis itu berjengit kaget kemudian menghenntikan langkahnya tidak cukup jauh didepanku.

“kau mengagetkanku.” Ucapnya singkat dan hanya aku balas dengan seulas senyuman.

“piala itu, boleh aku melihatnya?”

Yoonji mengangkat dengan ragu tangan kanannya lalu menyerahkan piala perak dengan logo berwarna oranye menyala. “kau baru saja memenangkan lomba….lagi?”

Dia mengangguk.

“lalu, kau akan pergi kemana? Dan…dimana tas sekolahmu?” tanyaku mengernyit bingung elihat tidak ada ransel berwarna putih yang biasanya menggantung dipunggungnya itu.

Yoonji hanya menunduk. Oke aku tahu pasti ada hal yang buruk terjadi padanya kali ini. Aku sudah hapal dengan kebiasaannya yang menundukan wajah seperti itu. “ada apa?”

“lagi-lagi mereka mencemoohku, hampir saja mereka menarik pialaku dan hendak menghancurkannya dan saat itu juga aku langsung berlari menghindari mereka. Bukan maksud apa-apa sebenarnya, hanya saja ini adala piala pertamaku dalam kompetisi  biola. Umma sangat menyukai Vanessa Mae dan dia menginginkan aku bisa memainkan bila dengan baik.”

Lagi-lagi aku harus melihat raut wajahnya yang seperti ini, lagi, dan selalu. Generasi remaja saat ini memang sangat patut dikasihani, mereka cenderung mementingkan ego sendiri. Seharusnya sekolah dengan standar tinggi itu harus menghargai gadis seperti Yoonji. Bukan malah iri dengan kemampuannya kemudian memusuhinya.

Well, begitulah kehidupan. Tidak adil. Jadi harus dibiasakan.

“Chukhae! Kau sadarkah hari ini langit begitu cerah? Itu pertanda mereka turut bahagia untuk kesuksesanmu, Yoon.” Aku mengulurkan tanganku kearahnya, membuat Yoonji mendongak.

Yoonji tersenyum manis kemudian meletakkan telapak tangannya diatas tanganku, aku langsung menariknya pelan membawanya berjalan disampingku.

Aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk  tidak tersenyum juga melihatnya tersenyum seperti ini.

Kami berdua berjalan beriringan mengelilingi taman, dengan Yoonji yang sibuk melihat-lihat hasil potretan ku, sesekali ia berseru kagum terhadap beberapa foto yang ia lihat kemudian menunjukkannya padaku.

Gadis ini begitu menyenangkan.

Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyukainya.

“aku sangat suka yang ini…” ucap Yoonji sambil menunjukanku salah satu foto yang memperlihatkan lampion-lampion yang berterbangan dilangit malam. “kau memotretnya dengan sempurna, Sungmin-ah! Bisa kau mencetaknya satu untukku?”

“tentu saja. Kenapa tidak? Aku akan mengantarkan foto itu besok kerumahmu.”

Yoonji mengangguk senang. “aku akan menunggunya!”

Kami berdua duduk di kursi panjang di bawah pohon maple, dengan daun-daun maple yang satu persatu turun karena terbawa angin. Sehelai daun jatuh mengenai wajah Yoonji yang masih fokus dengan kameraku membuatnya tersentak kaget. Sedetik kemudian kami tertawa bersama-sama.

“bagaimana pameran kemarin Sungmin-ah?”

“berjalan dengan sangat sukses. Banyak yang menyukai hasil fotoku, salah satunya foto dimana kau menjadi modelnya.”

“hah? Aku?”

“aku kan senang mengambil gambarmu diam-diam. Hahahaha.”

Yoonji tertawa renyah. “ahahaha, mungkin lain kali kau harus memakai aku sebagai model fotomu agar pameranmu berjalan lebih sukses lagi.” Ucapnya lalu tertawa lebih keras. “ani~ aku hanya bercanda!”

“aish, kau ini!”

“sudah kubilang aku hanya bercanda hahahaha.”

“ara….ara. ngomong-ngomong Yoonji….”

“ya?”

“uhm….ani. aniyo.”

Tidak Lee Sungmin. Kau tidak boleh mengatakannya sekarang. Kau tega  membuat wajahnya kembali sendu lagi? Tidak kan? Oke, aku harus diam saat ini. Tidak boleh mengatakannya dulu pada Yoonji.

“bagaimana rasanya kehilanganku selama tiga hari?”

Yoonji menghela nafasnya kemudian menoleh kearahku. “aku tidak punya bahu untuk dijadikan bersandar.” Jawabnya singkat. Aku mengelus rambutnya perlahan kemudian mengacaknya.

“cari orang lain yang bisa kau jadikan sandaran.”

“siapa memangnya?” tanyanya pelan. Tapi lebih ke pernyataan bukan pertanyaan.

Kalau sudah begini….apa aku sanggup? Apa aku sanggup untuk….

“Yoonji, apakah ada hal yang sangat ingin kau dapatkan sampai sekarang ini?”

Yoonji mengernyit bingung atas pertanyaanku barusan. Kemudian menjawabnya dengan sekali hembusan nafas. “Umma.”

Aish, Shin Yoonji. Bagaimana bisa aku membawa ummamu kembali?

“yang bisa dijangkau oleh manusia. Sebuah benda atau apa…”

Yoonji menoleh kedepan, bunny eyes nya berbinar penuh harap dan pikirannya seola menerawang. “aku ingin ada seseorang yang membelaku, mengatakan bahwa dia mencintaiku didepan semua orang yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka membenciku.”

“lalu?”

“sepertinya satu hal itu sudah sangat cukup bagiku.”

Aku tersenyum mendengarnya, “pasti ada sebuah rumah impian atau apapun itu yang  kau iinginkan kan? Aku yakin pasti ada..”

“eng….sebenarnya, aku suka dengan segala hal yang berbau klasik. Dan juga musik. Aku tidak terlalu suka dengan hal-hal yang terlampau mewah. Cukup rumah dengan cat berwarna krem dengan gorden-gorden yang berwarna putih, lalu langit-langit yang diukir penuh. Dan yang terpenting…”

“yang terpenting?”

“disitu ada semua alat musik yang aku sukai, apa saja. Piano, biola, gitar,  saxophone dan mungkin alat-alat musik lain yang belum aku ketahui, agar aku bisa mempelajarinya. Karena aku suka mencoba hal-hal baru.”

“dan…bagaimana denganmu?”

“uhm….sebenarnya aku tidak memiliki kriteria khusus untuk hal yang begitu aku inginkan. Mungkin simpel saja, aku hanya ingin ada seorang gadis yang bisa menyanyikan lagu kesukaanku dengan vocal yang baik.”

Yoonji terkekeh. “kalau seperti itu, banyak yang bisa melakukannya Sungmin-ah…”

“oh tentu saja tidak semudah menyanyi seperti biasa. Pokoknya aku tunggu sampai dia bisa membuatku menangis hanya karena mendengar suaranya.”

***

Somewhere over the rainbow

 bluebirds fly

And the dreams that you’ve dare too

Oh why, oh why can’t i?

***

Dengan sedikit terburu-buru Yoonji menyambar ransel sekolahnya kemudian menuruni tangga kecil yang terletak disudut ruangan, ia sampai didepan meja makan kemudian mengambil sepotong roti dan menggigitnya.

Yoonji keluar dari rumah, mengunci pintu kemudian berjalan dengan sedikit tergesa masih dengan sepotong roti yang ia gigit. Ia berjalan terus sampai disebuah halte bus yang akan membawanya ke sekolah.

Yoonji terduduk di bangku halte sambil meminum seboto air yang ia ambil dari balik ranselnya. Kemudian ia menghela nafasnya. Sejujurnya, Yoonji malas berada disekolah. Bukan karena pelajaran yang disuguhkan, melainkan suasana sekolah yang sama sekali tidak bersahabat dengannya.

Tapi toh Yoonji sebentar lagi akan lulus, hanya tinggal menghitung bulan saja. Setelah itu ia akan mencari tempat dimana orang-orang menyukainya dan menerima kehadirannya. Dan jauh dibandingkan itu, Yoonji akan mencari pekerjaan yang sekiranya layak untuknya. Ia tidak bisa terus-terusan hidup mengandalkan uang asuransi ibunya, karena sewaktu-waktu uang itu akan habis juga kan?

Kemudian untuk selanjutnya Yoonji belum memikirkannya. Ia bisa saja menjadi Violinist atau penyanyi, tapi Yoonji tidak begitu menyukai dunia entertain. Mungkin ketertarikannya pada alt musik semata-mata hanya sebuah ketertarikan saja, bukan dijadikan untuk pekerjaan.

Tapi mimpi Yoonji bukanlah semata-mata mimpi biasa. Ia menginginkan banyak pencapaian didalam hidup, banyak terget. Walaupun seluruh dunia mencemoohnya, Yoonji tidak peduli.

bunyi ban berdecit dihadapan Yoonji membuatnya menghentikan lamunan panjangnya sendiri, Yoonji berjalan masuk kedalam bus kemudian duduk manis didalam.

***

“aku ingin ada seseorang yang membelaku, mengatakan bahwa dia mencintaiku didepan semua orang yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka membenciku.”

***

Lapangan basket Seoul Global Highschool sudah ramai oleh murid-murid yang berdiri riuh disana, beberapa dari mereka protes karena Saem menyuruh mereka berdiri disitu tanpa ada maksud tertentu.  Beberapa diantaranya malah senang karena pelajaran jam pertama dikosongkan.

Suara sepatu kets seorang gadis berderap mendekati area lapangan basket, terdengar dengan intonasi yang cepat menandakan kalau gadis itu berlari. Kemudian temponya melambat begitu hampir sampai ditengah lapangan, dahinya mengkerut bingung melihat lapangan yang ramai akan murid.

Sebuah suara keras yang dihasilkan dari speaker mengalihkan perhatian murid-murid, BoA saem yang berdiri didepan murid-murid tersenyum senang  begitu melihat gadis dengan name tag ‘Shin Yoonji’ masuk kedalam lapangan.

“Shin Yoonji. Murid kebanggan kita dengan banyak talenta ini, kemarin baru saja menempati posisi pertama pada Korea Violin Competition di Busan, chukhahada~!”

Semua murid menoleh kebelakang, melihat kearah Yoonji. Sedangkan Yoonji sendiri berdiri dengan sedikit kaget, lalu tersenyum canggung, ia membungkukkan badannya. “kamsahamnida, Saem.” Ucapnya.

“apa maksudmu hah? kau sengaja berusaha keras memenangkan kompetisi itu kan untuk membuat kami semua iri padamu!” sebuah suara yang cukup keras menginterupsi, Jessica Jung. Gadis populer sekolah yang hobi menggonta-ganti model rambut blondenya.

“Ya!ya! jung jessica, joyonghan! Kau tidak boleh berbicara seenaknya seperti itu!” tegur BoA saem, namun gadis itu hanya memutar kedua bola matanya sambil jari-jarinya memilin rambut blondenya.

“dan kau ingin semua orang memujimu, iya kan?! Begitu menyedihkan kau Shin Yoonji.” Ucap Im Yoonah.

Murid-murid mulai berisik dengan mereka yang sibuk berbisik satu sama lain, membuat Yoonji benar-benar merasa tidak enak hati. Dan juga…….kesal disaat yang bersamaan. Seharusnya sudah ia perkirakan sebelumnya kalau situasinya akan menjadi seperti ini.

“kalian berdua bukanlah aku. Jadi jangan sok tahu tentang apa maksudku mengikuti kompetisi itu.”

“dan jika aku ingin semua orang memujiku, buktinya apa? Aku bahkan tidak pernah menggembork-gemborkan kompetisi apapun yang aku ikuti dan menang ataupun tidak aku tidak pernah ambil pusing akan hal itu. bukankah…kalian berdua yang bersusah payah menjadi stalkerku, mencampuri urusan pribadiku dan membicarakannya pada seluruh penjuru sekolah dengan ‘bahasa’ mu sendiri.”

Yoonji hendak berjalan menuju kelasnya, kalau kalian berpikir Yoonji akan berlari pulang kerumahnya sambil menangis, kau salah besar. Shin Yoonji bukanlah gadis pengecut. Ia akan tetap disekolah sampai bel pulang menyuruhnya pulang.

Maksimalnya, dia akan menangis di kamar mandi sekolah. Tapi bukan semata-mata menangis karena cemooh teman-temannya, dia lebih ke menangisi dirinya sendiri yang tidak bisa meyakinkan tema-temannya kalau Yoonji sungguh tidak suka dibenci seperti ini.

“uhm…ya! Shin Yoonji, tegakkan kepalamu. Jangan menunduk seperti itu.”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara keras yang mengalihkan perhatian Yoonji juga yang lainnya,  Yoonji sangat tahu siapa pemilik suara itu.

Dan benar saja, Lee Sungmin duduk diatas kap mobilnya yang entah kapan datangnya mobil itu sudah terparkir dipinggir lapangan basket. Sungmin memegang microfon, lalu mulai berbicara lagi.

“kalian tahu,  hari ini Shin Yoonji teman kalian yang membuat kalian iri setengah mati sampai membencinya itu belum sarapan. Dia hanya minum satu gelas susu dan mengigit sepotong roti. Dan bahkan Yoonji menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas hariannya.”

Yoonji mengernyit bingung seolah berkata apa-maksudmu-mengatakan-ini-Sungmin?

“karena Yoonji merindukan masakan ibunya yang terakhir kali ia cicipi sekitar tujuh tahun yang lalu. Dan disamping itu tidak ada yang memasakan untuknya. Dan apakah kalian tahu, Yoonji tersenyum sangat manis saat melihat foto ibunya saat ia duduk didalam bus tadi, lalu Yoonji menempelkan foto tersebut ke dadanya. Aku tidak tahu persisnya maksud Yoonji itu apa, mungkin…mungkin saja Yoonji merasakan ada kehadiran ibunya dengan menempelkan wajah ibunya ke jantung ibunya sendiri.”

Yoonji tersenyum tipis. Benar. Apa yang kau katakan ‘mungkin’ itu benar.

“atau bahkan kalian tidak tahu, kalau Yoonji dulu pernah mengalami penyakit Jantung sewaktu kecil dan hampir membawanya menuju kematian sampai akhirnya ibunya yang dengan baik hatinya menyumbangkan jantungnya sendiri untuk anaknya. Kalian tahu bagaimana rasanya ibu kalian meninggal untuk menyelamatkan kalian?”

Yoonji masih diam menunggu kata-kata Sungmin.

“bersyukur dan merasa bersalah disaat yang bersamaan. Kalau kalian anak baik sih.”

Sungmin menghela nafasnya lalu melanjutkan. “Yoonji memang sedikit bodoh karena ia hanya mau bercerita padaku saja, atau mungkin karena kalian jahat padanya sehingga Yoonji menjadi segan pada kalian? Dan pasti kalian tidak tahu kan alasan kenapa Yoonji ingin sekali memenangkan kompetisi biola itu? ibunya sangat menyukai vanessa mae dan ingin Yoonji suatu saat bisa memainkan biola dengan baik.”

Semua murid terperangah dengan kata-kata Sungmin barusan.

“dan kenapa Yoonji selalu memenangkan kompetisi vokal? Karena sejak kecil dia dilatih bernyanyi oleh ibunya, entah apa yang menyebabkan ibu Yoonji begitu menyukai seni dan mengajarkannya pada Yoonji. Dan Yoonji bahkan tidak pernah mengira bahwa bakat peninggalan ibunya bisa membawanya ke panggung dan memberikannya banyak piala.”

“kalian iri pada Yoonji? Oh, itu wajar saja. Tapi pikirkan juga kalau setiap manusia pasti memiliki kekurangan kan? Begitu pula dengan Yoonji. Apakah kalian pernah mendengar Yoonji bisa menempuh nilai lebih dari tujuh dalam pelajaran olah raga? Tidak kan? Nah, aku baru saja membicarakan kekurangan Yoonji.”

“dan kalian sepatutnya bersyukur karena masih ada Appa kalian yang bisa mengecup kepala kalian dan duduk diruang makan bersama kalian. Atau Umma kalian yang memeluk kalian sebelum berangkat sekolah. Kenyataannya Yoonji tidak pernah membenci kalian karena iri akan hal itu kan?”

Setetes air mata turun dari pelupuk mata Yoonji.

“benci Yoonji ataupun tidak itu urusan kalian. Hanya aku merasa lucu saja, kenapa kalian membenci Yoonji yang hanya berusaha untuk mewujudkan keinginan ibunya.”

“uhm…kalau aku sendiri, mau seluruh dunia membenci Yoonji pun aku akan tetap menjadi seseorang yang mengusap rambut Yoonji dengan pelan dan mencintainya sampai jantung  yang diberikan ibunya itu berhenti berdetak.”

Tidak bisa ditahan lagi, Yoonji langsung terisak sekali mendengar kaliamt Sungmin barusan. Ia bahkan tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Dan ia sudah tidak peduli lagi mau seluruh dunia membencinya ia sungguh tidak apa-apa selama Sungmin masih bersedia mencintainya.

“jadi…apakah aku akan menjadi satu-satu nya orang yang memberikan Yoonji tepuk tangan karena keberhasilannya?” Sungmin meletakkan mic nya diatas kap mobil lalu mengangkat tangannya untuk bertepuk tangan sebelum sebuah suara tepuk tangan orang lain menghentikan aksinya.

Choi Sooyoung, menjadi orang pertama yang bertepuk tangan untuk Yoonji. Choi Sooyoung yang dikenal satu geng dengan Jessica juga Yoona itu. kemudian disusul oleh Im Jinah, yang berdiri tidak jauh darinya.

Disusul lagi oleh Kim Jooyeon, Krystal Jung, lalu murid-murid yang lain yang satu persatu mulai ikut bertepuk tangan.

Momen yang dibilang sangat jarang.

Bahkan tidak pernah.

Sungmin melihat Yoonji yang berdiri dengan bingung, lalu tersenyum dan ikut bertepuk tangan dengan yang lainnya.

Someday i’ll wish upon a star

 And wake up where the clouds are far

 Behind me.

Where troubles melt like lemon drops

Away above the chimney tops

 That’s where you’ll find me

Dan sungguh keajaiban apa yang datang sampai semua murid kini memandang Yoonji dengan senyuman bahkan suara tepuk tangan masih terdengar riuh selama beberapa menit kedepan.

Tidak tahu persisnya bagaimana yang Yoonji rasakan. Mungkin hari ini akan tercatat di memori Yoonji sebagai hari ter spektakuler yang pernah ada.

***

Incheon Airport, Seoul South Korea.

Dengan langkah seribu Yoonji menerobos bandara Incheon yang kelewat ramai saat ini, ia bahkan sudah tidak peduli dengan beberapa orang yang ia tabrak, tidak peduli pada apapun kecuali Lee Sungmin.

Ia masih berlari-lari, terengah-engah sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara. Kenapa tidak ada Sungmin? Dimana Lee Sungmin ‘malaikat’ Yoonji itu?

Yoonji berhenti untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, ditangannya masih menggenggam sebuah kertas yang bertuliskan kelulusannya dari Seoul Global Highschool. Ia juga masih mengalungi medali kelulusannya.

Dahi Yoonji mengerut melihat sebuah gitar yang tergeletak menyandar di dinding, ia kenal gitar itu. maksudnya, Yoonji tahu gitar tersebut milik siapa. Ya, ia tahu.

Yoonji berjalan cepat menuju gitar itu dan mengambilnya. Gitar dengan inisial LSM di pinggir gitar tersebut. Tentu saja gitar ini milik Sungmin, yang sering Sungmin gunakan, dimana ia yang memainkan gitar dan Yoonji yang menyanyi.

“gitarku…Yoon?”

Yoonji mendongak melihat Sungmin berdiri dihadapannya. Sungmin terlihat sedikit terkejut melihat Yoonji, sedangkan Yoonji…tidak jelas bagaimana persisnya, yang pasti Yoonji ingin menahan Sungmin untuk tidak pergi.

“kenapa kau bisa ada disini Yoon?”

“seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu, Sungmin-ah.”

Sungmin menatap Yoonji sendu kemudian mengambil gitarnya perlahan dari tangan Yoonji. “aku buru-buru Yoon. Sebentar lagi—“

“mwo?! Jadi benar kalau kau akan pindah keluar negeri hah? Kenapa tidak pernah bilang padaku? Wae?! Dan sekarang dengan enaknya kau pergi tanpa berpamitan denganku? Kau anggap aku apa Sungmin-ah!”

Beberapa orang menoleh kearah Sungmin dan Yoonji karena teriakan Yoonji, tapi keduanya bahkan tidak merasa risih akan hal itu. ada hal yang lebih penting yang sedang mereka berdua pikirkan sekarang.

Sungmin memegang pundak Yoonji dan menepuknya perlahan. “aku harus pergi, Yoon. Jangan pikirkan aku. Kau sudah memiliki banyak teman sekarang yang menyayangimu jadi aku pikir tidak apa-apa jika aku meinggalkanmu. Kau harus hidup dengan baik Yoon dan—“

“Anni! Apa artinya semua itu kalau kau pergi? Kau tidak boleh kemanapun Sungmin! Tidak boleh pokoknya.”

Sungmin melirik jam tangannya, lalu menoleh kebelakang dan menoleh lagi ke arah Yoonji. “pesawatnya sebentar lagi berangkat Yoon, mianhae. Jeongmal mianhae. Kalau aku bisa kembali ke Seoul, aku pasti akan kembali untuk menemuimu. Itu pasti Yoon.”

Sungmin tersenyum dan mundur teratur, ia berbalik kemudian berlari menghilang dari pandangan Yoonji.meninggalkan Yoonji yang berdiri layaknya patung, masih tidak percaya dengan Sungmin yang meninggalkannya secara tiba-tiba seperti ini. Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Tidak memeluknya terlebih dahulu.

Perlahan air mata Yoonji pelan, ia kemudian berbalik perlahan lalu berjalan cepat menyisakan berbagai rasa sakit yang membuncah dalam hatinya.

***

Sungmin’s diary

Tidak tahu lagi, pria macam apa aku sekarang?

Meninggalkan Yoonji begitu saja, menangis ditengah keramaian, dan bahkan aku tidak mengelap air matanya dulu.

Aku juga tidak memeluknya atau apa.

Aku benar-benar tidak bermaksud untuk meninggalkannya dengan sengaja. Hanya saja, aku terlalu mencintai  Yoonji. Dan aku rasa perasaanku ini  sudah berlebihan, sampai apapun yang dia inginkan aku ingin mewujudkannya dengan cara apapun.

Setelah kemarin aku mendapat invite dari festival fotografi di Paris. Dengan jaminan biaya yang sangat besar, tapi juga dengan konsekuensi yang besar juga.

Sekali aku menerima tawaran itu, aku harus tinggal di Paris minimal lima tahun.

Bukan, tentu saja bukan karena aku begitu menginginkan hadiah uang itu aku sampai tega meninggalkan Yoonji di Korea.

Sebenarnya iya, aku menginnginkan uang tersebut tapi bukan untuk diriku sendiri. Untuk Yoonji. Tentu saja.

Dan kalau aku mau, aku bisa saja memintanya pada kedua orang tuaku yang bekerja di Tokyo. Tapi, didalam situasi ini, aku yang mencintai Yoonji. Bukan Appa. Bukan juga Umma. Jadi untuk membahagiakan Yoonjipun aku seharusnya menggunakan keringatku sendiri kan? Bukan keringat orang tuaku.

Shin Yoonji, tunggulah aku, Lee Sungmin yang begitu mencintaimu ini.

***

6 YEARS LATER

Sungmin turun dari dalam mobilnya, lalu berdiri didepan bangunan besar dengan banyak wanita berpakaian putih berjalan-jalan disekitar nya. Juga beberapa mobil Ambulan yang terparkir tidak jauh dari sana.

Sungmin memejamkan matanya, merasakan rasa bersalah yang bertubi-tubi menyerangnya. Rasanya tidak kuat untuk masuk kedalam bangunan dihadapannya ini. Tidak. Sungmin belum siap menerima kenyataan itu.

Kalau tahu seperti ini, Sungmin tidak akan pernah meninggalkan Yoonji sendirian di Seoul. Tapi penyesalan memang selalu datang di akhir. Bukankah begitu?

Dengan berat hati, Sungmin melangkahkan kakinya masuk kedalam bangunan Rumah Sakit Jiwa terbesar di Seoul ini. Ia berjalan didalam koridor rumah sakit, beberapa suster menunduk memberi hormat padanya.

Tanpa disadari air mata Sungmin turun perlahan, seiring dengan ketakutan yang ia rasakan. Ia tidak siap melihat Yoonji-nya. Ia sungguh tidak siap.

Sampai di meja resepsionis, seorang suster yang sedang membolak –balik bukunya tersenyum pada Sungmin. Sedikit bingung juga melihat air mata Sungmin yang masih membekas diwajah Sungmin.

“Jeosonghamnida. Ada yang bisa saya bantu?”

“dimana pasien bernama…Shin Yoonji?”

Suster itu mengernyitkan dahinya bingung. “Shin Yoonji?”

Sungmin mengangguk.

Sungmin menunggu dengan tidak sabar, melihat suster tersebut membolak-balik buku yang dipegangnya dengan perlahan. Kemudian  menggeleng pada Sungmin. “tidak ada.”

“maksudnya?”

“tidak ada pasien bernama Shin Yoonji.”

“h-hah?” Sungmin mengernyit bingung, jelas tadi teman lama Yoonji saat di SMA mengatakan kalau Yoonji ada dirumah sakit ini. Tapi bagaimana bisa namanya tidak tercetak dalam daftar pasien?

Sungmin masih terjebak dengan kebingungannya ia meminjam buku milik suster tersebut dan membolak-balikannya, membaca setiap nama pasien jiwa dengan teliti.

“eung…suster, bisakah kau katakan pada dokter Jang kalau aku akan menemuinya sore ini?”

Sungmin tersentak mendengar suara gadis yang berbicara tepat disampingnya itu, perlahan Sungmin menoleh dan menemukan Yoonji lah yang berdiri disampingnya.

“Yoon?”

Yoonji sama kagetnya dengan Sungmin, ia menatap Sungmin dari atas sampai bawah kemudian mulutnya terbuka lebar. “k-kau?” serunya lirih.

Sebenarnya Yoonji sendiri tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan pada Sungmin sekarang. Rindu, atau benci atau cinta juga semuanya bercampur menjadi satu. Yoonji masih mencintainya, tapi ia kembali ingat bagaimana Sungmin meninggalkannya tanpa alasan sewaktu itu.

Sakitnya masih terasa. Luka itu belum juga kering dan masih membekas.

Bohong besar juga kalau Yoonji mengaku tidak merindukan Sungmin. Sial, dia sangat merindukannya. Tapi mengingat Sungmin bahkan tidak menghubunginya selama enam tahun membuat rasa benci kembali mendominasi dirinya.

Yoonji berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Sungmin sementara Sungmin mengejarnya, menarik tangan Yoonji. “eodiya? Yoon, maafkan aku. Aku sudah berjanji akan kembali kan?”

Yoonji menggeleng dan melepaskan tangan Sungmin perlahan, ia tetap berjalan menjauhi Sungmin.

“Yoonji! Kau tahu betapa bersyukurnya aku saat bisa melihatmu lagi dan kau dalam keadaan sehat. Kau tahu apa yang aku pikir saat pertama kali mengetahuimu kau berada disini?”

Yoonji berbalik. “kau berpikir aku gila kan? Kau mengira aku salah satu pasien rumah sakit jiwa ini kan? Aku seorang psikolog, Sungmin-ah. Dan aku tidak gila. Jadi sekarang kau bisa meninggalkanku dengan tenang kan? Kembali saja ke Paris dan tidak usah pikirkan tentang aku lagi.”  Seru Yoonji sebelum hilang dibalik pintu dan menaiki mobilnya.

***

“eng….sebenarnya, aku suka dengan segala hal yang berbau klasik. Dan juga musik. Aku tidak terlalu suka dengan hal-hal yang terlampau mewah. Cukup rumah dengan cat berwarna krem dengan gorden-gorden yang berwarna putih, lalu langit-langit yang diukir penuh. Dan yang terpenting…”

“yang terpenting?”

“disitu ada semua alat musik yang aku sukai, apa saja. Piano, biola, gitar,  saxophone dan mungkin alat-alat musik lain yang belum aku ketahui, agar aku bisa mempelajarinya. Karena aku suka mencoba hal-hal baru.”

***

Message from unknown

Datang ke pekarangan luas dipinggir danau yang biasa kita kunjungi dulu. Avec amour, Lee Sungmin

Yoonji kembali meletakkan handphonenya diatas dashboard mobil, entah bagaimana Sungmin bisa mendapatkan nomor handphonenya. Yoonji agak kesal akan hal itu, dan sekarang dengan enaknya Sungmin menyuruh Yoonji untuk datang ke padang rumput luas itu, yang dulu sering Yoonji dan Sungmin datangi.

Dan entah kenapa juga Yoonji menuruti apa yang Sungmin suruh dan melajukan mobilnya ke tempat tersebut.

Sesampainya, Yoonji memarkirkan mobilnya ditepi pekarangan tersebut dengan perasaan bingung.

Seingatnya tempat ini benar. Ditepi danau dan dulu padang rumput cukup luas terpapar ditempat ini, tapi sekarang…yang Yoonji temukan sebuah rumah dengan model classic Eropa berdiri manis disana.

Tidak begitu besar, namun begitu menarik perhatian Yoonji.

Yoonji turun dari dalam mobil dan berdiri dengan bingung. Seperti merasa terhipnotis, Yoonji malah berjalan mendekati rumah tersebut.

Didepannya terdapat pohon maple besar yang rindang, lalu kursi taman berwarna putih tidak jauh dari pintu masuk. Samar-samar Yoonji mendengar suara piano yang mengalun lembut, dan semakin lama suara tersebut semakin jelas terdengar ditelinga Yoonji.

Yoonji seperti mengenal lagu yang dimainkan oleh piano ini, dan suaranya tentu saja berasal dari dalam rumah yang sedang Yoonji pandangi ini.

Beberapa detik setelahnya Yoonji berjalan cepat memasuki rumah yang ada dihadapannya, masuk saja kedalam tanpa mengucapkan permisi.

Yoonji melongo melihat desain interior rumah ini. Klasik dan benar-benar tipe Yoonji sekali.  Lantainya mengkilap berwarna cokelat, marmer Carrara. sedangkan dindingnya di cat berwarna krem. Segala furniture, dari sofa hingga lemari-lemari dan cermin berwarna soft pink.

Ditengah ruangan terdapat perapian yang diatasnya terpajang pigura besar.

Yoonji menutup mulutnya kaget melihat foto diatas perapian tersebut. Ya, foto itu adalah fotonya yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu bus. Yoonji ingat, foto ini salah satu foto yang dikagumi oleh banyak orang dalam pameran yang Sungmin ikuti di Tokyo.

Kemudian Yoonji berjalan lagi masuk kedalam, dia menemukan sebuah ruangan cukup besar dengan warna cat yang sama dengan ruangan utama tadi. Bedanya, terdapat beberapa alat musik disini.

Yang pertama, beberapa buah biola yang terdapat dalam lemari kaca. Yoonji mendekati lemari kaca tersebut dan menemukan dua macam biola.

Lalu terdapat dua buah gitar akustik bermerk Ovation. Yoonji memang tidak begitu mahir bermain gitar, tapi melihat gitar didepannya ini tangannya menjadi gatal untuk mencobanya dan berlatih lalu berlatih lagi.

Disudut ruangan terdapat saxophone juga flute. Masing-masing berjumlah dua. Yoonji sedikit sangsi dengan jumlah alat musik dirumah ini yang selalu berjumlah dua. Tidak kurang dan tidak lebih.

Masih dengan keadaan diam, Yoonji masuk kedalam ruangan lain. Kali ini lebih besar dan lebih luas, hanya terdapat lukisan-lukisan serta karpet bulu dilantai.

Yoonji melihat sebuah grand piano di sudut ruangan, Yoonji mengernyit. Hanya ada satu ? pikir Yoonji, biasanya masing-masing alat musik ada dua buah. Sejauh ini sih, begitu yang Yoonji simpulkan.

Kemudian Yoonji baru menyadari suara piano yang ia dengar tadi, ternyata masih mengalun lembut dan suaranya terdengar makin jelas. Yoonji menoleh ke kanan dan menemukan grand piano berwarna putih ditengah ruangan dengan seseorang yang memainkan tutsnya.

Di dinding samping kanan grand piano itu, terpajang foro lampion dengan ukuran besar.

Yoonji ingat, ia pernah meminta foto lampion pada Sungmin sewaktu itu.

“aku sangat suka yang ini…” ucap Yoonji sambil menunjukanku salah satu foto yang memperlihatkan lampion-lampion yang berterbangan dilangit malam. “kau memotretnya dengan sempurna, Sungmin-ah! Bisa kau mencetaknya satu untukku?”

Ya, Yoonji sangat ingat percakapan mereka berdua ditaman sewaktu itu.

Ia kembali melihat ke arah piano putih itu dan memandang tidak percaya Sungmin duduk sambil memainkan jarinya lihai diatas tuts piano. Yoonji diam ditempat seperti patung, tidak tahu apa yang harus ia ucapkan pada Sungmin. Rasa terimakasih pun rasanya tidak akan cukup.

“Somewhere over the rainbow , way up high and the dreams that you dreaed of once in a lullaby. Somewhere over the rainbow blue birds fly, and the dreams that you dreamed of dreams really do come true….”

Menurut Yoonji, satu-satunya yang harus ia lakukan saat ini adalah menhyanyikan lagu kesukaan Sungmin dengan musik piano yang dimainkan oleh Sungmin sendiri.

Sungmin menghentikan permainan pianonya dan perlaha mendongakkan kepalanya melihat Yoonji. Sungmin sendiri sudah meneteskan air mata, disusul oleh Yoonji yang ikut menangis haru.

Sungmin tersenyum, dan beberapa detik kemudian merasakan Yoonji sudah memeluknya dengan hangat.

“yoon, dengarkan aku. Mungkin terdengar berlebihan atau apa, tapi aku memutuskan pergi ke Paris saat itu untuk menyiapkan rumah ini untukmu….uhm…untuk kita berdua. Aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak, yang jelas sekarang kau ada didalam pelukanku dan aku menganggap hal itu pertanda kalau kau menyukainya. Kau menyukai rumah ini kan? Dan segala hal didalamnya?”

“jika kau ada didalam rumah ini, maka aku menyukai rumah kita dan segala hal didalamnya.” Jawab Yoonji pelan.

***

“uhm….sebenarnya aku tidak memiliki kriteria khusus untuk hal yang begitu aku inginkan. Mungkin simpel saja, aku hanya ingin ada seorang gadis yang bisa menyanyikan lagu kesukaanku dengan vocal yang baik.”

Yoonji terkekeh. “kalau seperti itu, banyak yang bisa melakukannya Sungmin-ah…”

“oh tentu saja tidak semudah menyanyi seperti biasa. Pokoknya aku tunggu sampai dia bisa membuatku menangis hanya karena mendengar suaranya.”

***

And the dreams that you dreamed of really do come true.

***

 

END

yeah, ff ini pernah saya ikut sertakan di SungJi challenge di blognya tikew. dan alhamdulillah masuk Top Imaginator, padahal saya ngerasa ff ini masih fail. saya aja waktu itu sampe gak berani baca ulang wakakakak. Tapi , well jarang2 kan saya bikin ff genre Fluff seperti ini? biasanya angst mulu kkkk~

yaudah, dikomen ajaa kalo udah selese baca.terimakasih :)

- ifasheitte.wordpress.com

About these ads

10 gagasan untuk “Somewhere Over the Rainbow

  1. keereeen bgt chingu..
    Suka bgt pas scene sungmin ngebelaan yoon disekolah..aku ampe nangis,huhuhu
    Feelna dpt bgt..TOP dah..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s